Latest Article

TAHUN-TAHUN YESUS YANG HILANG: Pernahkah Yesus Berkelana di Tanah Tibet? (Kajian Kritis Terhadap “Injil Tibet”)

Pengantar

Kitab Injil pada umumnya menyatakan seluruh waktu kehidupan Yesus dijalani di tanah Israel. Karena itu pada waktu Yesus berumur 13-30 tahun, Ia lebih banyak dibesarkan di kota Nazaret. Dia bertumbuh dan dibesarkan bersama Maria, ibuNya dan Yusuf yang adalah ayah pengasuh-Nya. Karena Yusuf bekerja sebagai tukang kayu, maka seringkali banyak orang menyebut Yesus sebagai anak tukang kayu. Tetapi ternyata anggapan kitab-kitab Injil kini diperhadapkan dengan tantangan. Sebab telah ditemukan suatu dokumen yang diperoleh oleh Nicholas Notovitch di biara Himis, Tibet. Naskah tersebut menyatakan bahwa Yesus pernah tinggal dan mengajar di Tibet. Jadi manakah yang benar Yesus dibesarkan di Nazaret ataukah Dia waktu berumur 13-30 tahun berkelana ke India dan Tibet?

Penemuan Dokumen tentang Yesus di Biara Himis, Tibet

Nicolas Notovitch, seorang jurnalis Rusia pada 1894 menerbitkan dokumen dengan judul The Unknown Life of Jesus Christ. Dalam dokumen tersebut Notovitch mengaku pernah pergi ke Ladakh (Tibet kecil) pada akhir 1887. Waktu itu ia dalam perjalanan untuk mengunjungi biara Budha di Mulbekh. Perlu diketahui bahwa Mulbekh merupakan gerbang menuju dunia Budha di Tibet. Saat itu Notovich diterima oleh seorang Lama (sebutan biksu Tibet) yang mengatakan bahwa di Lhasa terdapat dokumen yang mengisahkan kehidupan Nabi Isa (sebutan Yesus di dunia Timur). Notovitch bertekad menemukan catatan atau dokumen tersebut. Karena itu ia pergi ke Lhasa. Saat ia dalam perjalanan ke Lhasa, Notovitch sampai di biara besar Himis yang terletak sekitar 25 mil dari Leh, ibukota Ladakh. Penganut Budha di Tibet menyebut kota Himis sebagai Sangye chi ku sung thug chi ten (“makna pendukung dari persepsi Budha”).

Di Himis tersebut, terdapat biara Budha yang terbesar di Ladakh yang sangat terkenal dengan festival agama Budha setiap tahun untuk menghormati Padma Sambhava. Sebab dalam acara Padma Sambhava bertujuan untuk memberi pengajaran bagaimana Budha memeroleh kemenangan terhadap kekuatan jahat dan mengusir roh jahat. Biara di Himis terletak di lembah tersembunyi di Himalaya yang tingginya mencapai 11.000 kaki dari permukaan laut. Orang-orang yang mengunjungi biara Himis merasa mendapat kesempatan melihat gambaran dari Shangri La. Karena letaknya yang tersembunyi, maka tempat itu yang selamat dari serangan pasukan Cina. Saat Notovitch mau meninggalkan biara Himis, tiba-tiba dia mengalami kecelakaan. Dia terjatuh dari kuda, sehingga kakinya patah. Saat dia dirawat di biara Himis itulah pemimpin Lama akhirnya menunjukkan kepada Notovitch dua buah naskah yang diselimuti daun yang sudah menguning termakan oleh waktu. Notovitch kemudian menyalin dua naskah yang dibacakan oleh pemimpin Lama dengan dibantu oleh penterjemahnya. Teks tersebut kelak diberi judul The Life of Saint Issa: Best of the Sons of Men. Dalam teks salinan Notovitch terdiri 244 ayat yang dikelompokkan menjadi 14 bab, dan yang paling panjang memiliki 27 ayat. Isi dari teks tersebut utamanya mengisahkan Isa (Yesus) ketika Ia berumur 13 tahun. Isa sering dicari banyak orang tua untuk dikawinkan dengan anak gadisnya. Tetapi Isa selalu menolak. Karena itu Isa kemudian meninggalkan rumah ayah-Nya, dan Ia pergi ke Yerusalem dengan naik kereta kuda pergi ke arah Timur untuk menyempurnakan diri-Nya dalam bidang spiritual dan mempelajari agama Budha.

Tentu saja waktu penerbitannya, buku Notovitch tersebut segera menuai protes keras dari kalangan gereja. Pada tanggal 19 Mei 1894, New York Times menyatakan bahwa kisah Notovitch sangat mustahil dan dianggap sebagai suatu upaya pendekatan teosofis yang mengkait-kaitkan ajaran Budha dengan pengajaran Kristus di kitab Injil. Lalu di majalah North America Review, Edward Everett Hale mempertanyakan keberadaan dari dongeng kumpulan biksu Himis. Everet Hale juga menolak informasi tentang keberadaan biara orang Budha dekat Leh, ibukota Ladakh. Selain itu Everet Hale tidak bisa menerima versi Notovitch tentang bagaimana mungkin pemimpin Lama di Himis mau menunjukkan dokumen tersebut kepada seorang asing. Bulan Oktober 1894, Max Muller seorang profesor ahli bahasa Eropa modern dan perbandingan Filologi di Universitas Oxford menulis kritik terhadap buku Notovitch. Dia menulis buku dengan judul The Alleged Sojourn of Christ in India yang intinya menyatakan bahwa buku yang ditulis oleh Notovitch palsu adanya. Selain itu Muller mengingatkan bahwa dokumen yang menjadi buku The Life of Saint Issa tidak pernah tercatat di Kanjur atau Tanjur. Sebab semua dokumen yang diakui oleh agama Budha akan dimasukkan dalam katalog standar yaitu Kanjur atau Tanjur. Kemudian Archibald Douglas seorang professor di Universitas Negeri di Agra, India menguji kisah Notovitch dengan pergi mengunjungi biara di Himis. Douglas kemudian menunjukkan buku Notovitch kepada pemimpin Lama yang disampaikan melalui seorang penterjemah. Ternyata jawaban pemimpin Lama tersebut adalah:

“Saya telah menjadi Lama selama 42 tahun, dan sudah mengenal dengan baik semua Kitab Budha dan naskah kuno, dan saya tidak pernah mendengar salah satunya menyinggung nama Isa, dan menurut saya dokumen semacam itu tidak pernah ada. Saya telah menghubungi beberapa pemimpin Lama di biara lain, dan mereka juga mengatakan tidak memiliki kitab atau naskah kuno yang menyinggung nama Isa.”

Itu sebabnya Douglas menyatakan bahwa buku Notovitch yang berjudul The Life of Saint Issa: Best of the Sons of Men terbukti palsu. Dalam tulisannya, Douglas menyatakan:

“Saya telah mengunjungi Himis dan telah bersabar dan mengadakan

penyelidikan untuk menemukan kebenaran tentang kisah luar biasa Notovitch.

Dengan hasil, saya tidak menemukan apapun untuk

mendukung tulisannya. Semua buktinya tertelan dalam bayangan

keraguan. Jelas sekali bahwa tidak pernah ada naskah yang

Notovitch mengaku menyalinnya di biara Himis, dan karena itu

adalah mustahil ia dapat “menyalinnya.

Pengukuhan Tulisan Nicolas Notovitch

Dengan tulisan Archibald Douglas tersebut yang menyangkal kebenaran buku Notovitch, maka kredibilitas buku The Unknown Life of Saint Issa benar-benar runtuh. Namun seorang yang bernama Swami Abhedananda menyatakan bahwa tulisan dari Notovitch benar adanya. SiapakahSwami Abhedenanda? Dia lahir pada tanggal 2 Oktober 1866 di Calcutta, India. Ia fasih bahasa Inggris sejak masih muda dan cepat menguasai literatur Timur dan Barat. Karena kecerdasannya, Swami Abhedananda belajar berbagai filsafat dalam berbagai agama. Pada tahun 1884 dia menjadi murid orang suci India yaitu Ramakrishna. Dari tahun 1897 sampai 1921, ia menjelajahi Amerika, Kanada, dan Meksiko untuk memberikan ceramah tentang kekayaan spiritual dari Vendata. Kemudian pada 1922 waktu ia berumur 56 tahun mengadakan perjalanan ke Himis dengan berjalan kaki untuk mempelajari tata karma, adat dan filosofi Budha dan Lamaisme yang berlaku di kalangan Lama di Tibet. Dari perjalanannya itu, Swami Abhedananda kemudian menulis buku yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan judul In Kashmir and Tibet. Pada waktu Swami Abhedananda di Himis, dia mencocokkan kebenaran kisah Notovitch dengan para Lama. Hasilnya adalah segala hal yang dikatakan Notovitch memang benar! Bahkan para Lama di Himis kemudian menunjukkan kepada Swami Abhedananda naskah tentang kisah Isa yang tersimpan di almari mereka. Naskah yang ditunjukkan kepada Swami Abhedananda adalah suatu salinan, sedang naskah aslinya berada di biara Marmour dekat Lhasa. Naskah asli kitab-kitab agama Budha ditulis dalam bahasa Pali, tetapi salinannya ditulis dalam bahasa Tibet. Lebih dari pada itu, sang Lama kemudian membantu Swami Abhedananda untuk menterjemahkan teks tersebut dalam bahasa Inggris, lalu juga diterjemahkan ke dalam bahasa Bengali.

Selain Swami Abhedananda, muncul pula seorang yang bernama Nicholas Roerich. Dia lahir pada 10 Oktober 1847 dan studi di Unversitas St. Petersburg dan Academy of Fine Art. Tahun 1898 ia ditunjuk menjadi anggota persatuan profesor di Imperial Archeological Institute. Dalam biografinya Roerich dicatat sebagai seorang pelukis kelahiran Rusia sekaligus menjadi seorang penyair, arkeologi, filsuf dan mistikus. Selain itu Roerich juga seorang diplomat, penulis, kritikus, pengajar, perancang tata letak dan busana, serta seorang penjelajah. Itu sebabnya Roerich juga ingin pergi ke biara Himis. Dia berusaha berkomunikasi dan menggali memori dalam ingatan penduduk di Tibet, karena dia yakin dapat menemukan kebenaran. Kemudian dalam bukunya yang berjudul Altai-Himalaya, Roerich menyatakan bahwa Isa memang pernah hadir di dunia Timur. Dia menunjukkan awal dari perjalanan Isa sampai ke Kashmir. Dari semua legenda tersebut Prof. Roerich dapat menyimpulkan, yaitu “semua versi setuju pada satu kesimpulan, bahwa dalam kurun waktunya yang hilang, Kristus ada di India dan Asia.” Dalam bukunya yang berjudul Heart of Asia, Roerich menyatakan:

“Di Srinagar adalah pertama kali kami mendengar legenda aneh tentang

Kristus yang mengunjungi tempat tersebut. Kemudian kami melihat

bagaimana begitu luas tersebar di India, Ladakh dan Asia Tengah,

legenda tentang kunjungan Kristus dalam kurun waktunya yang hilang

yang tidak tertera di Injil.”

Selain itu pada tahun 1939, Madam Casparise orang musisi dari Swiss dan profesor ilmu musik dan suaminya Charles melakukan perjalanan ke Gunung Kailas. Lalu mereka mengambil rute yang sama dengan perjalanan Notovich melewati Zoji Pass, menembus Mulbekh dan Lamayuru, ke Himis dalam perjalanan ke Gunung Kailas. Tujuannya agar mereka dapat melihat festival tiga hari di biara Himis yang diadakan setiap tahun untuk merayakan peristiwa Padma Sambhava. Ketika mereka tiba di biara Himis, Madam Caspari dan seorang rohaniawan bernama Clarence Gasque dihampiri oleh seorang pustakawan biara dan 2 orang biksu sambil menunjukkan tiga naskah kuno dengan ucapan: “Buku-buku ini mengatakan Yesus anda pernah ada di sini. Karena tulisannya dalam bahasa Tibet, maka Madam Caspari dan Clarence Gasque tidak dapat membaca tiga naskah kuno yang ditunjukkan kepada mereka. Madam Caspari hanya dapat mengambil foto dari tiga naskah kuno tersebut. Petualang dunia lain yaitu Edward F. Noack dari Sacramento, California sejak tahun 1958, ia dan isterinya, Helen sudah melakukan 18 kali ekspedisi ke Tibet, Nepal, Sikkim, Bhutan, Ladakh, Afganistan, Baltistan, Cina dan Turkestan dan juga telah mengunjui Leh sebanyak empat kali. Noack menyatakan bahwa selama dia tinggal di biara Himis ada sekitar 70 orang Lama pernah bercerita bahwa ada sebuah naskah yang menggambarkan perjalanan Yesus ke Ladakh.

Dari kisah dari Notovich, Abhedananda, Roerich, Caspari dan Noack pada prinsipnya menyatakan tentang kehidupan Yesus ketika Ia berumur 13-29 tahun. Di antara periode waktu itu Yesus pernah mengunjungi beberapa tempat di India dan Tibet. Kesaksian dan ulasan mereka begitu meyakinkan sebab selain upaya untuk menerjemahkan naskah kuno yang berada di biara Himis, para petulang tersebut juga menggali kisah dan legenda tentang Yesus yang diturunkan dari mulut ke mulut. Namun semua kesaksian dan upaya penelitian tersebut masih menyisakan suatu pertanyaan besar, yaitu: “Apakah memang benar Yesus pernah pergi ke India atau Tibet pada saat Dia berumur 13-29 tahun?” Apalagi dalam perjalanan Yesus ke India dan Tibet dikaitkan dengan dugaan bahwa Yesus secara khusus belajar agama Budha dari para Lama. Orang-orang dalam kelompok ini memercayai bahwa Yesus sebenarnya merupakan inkarnasi dari Roh Budha. Bahkan muncul suatu pengakuan dari para Lama, yang dikisahkan oleh Notovich dalam jurnal perjalanannya, yaitu: “Isa adalah nabi besar yang pertama setelah 22 Budha. Dia terbesar dari semua Dalai Lama, karena Ia adalah bagian dari Tuhan kami. Dialah yang telah memberi penerangan terhadap kami, Dia yang telah menyembuhkan kepercayaan yang pudar dan jiwa yang tidak karuan, dan Dia yang telah membuat semua orang tahu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Nama-Nya dan tindakan-Nya tertulis dalam naskah suci kami. Dan keberadaan-Nya yang luar biasa. Ia wafat di tengah orang jahat dan tidak taat. Kami mencucurkan air mata untuk dosa besar para penyembah berhala yang, setelah menyiksa-Nya, kemudian membunuh-Nya.”

Dokumen Himis: “Injil Tibet”

Berbagai pernyataan dari Notovich, Abhedananda, Roerich, Caspari dan Noack menegaskan bahwa Yesus waktu berumur 13 sampai 29 tahun telah berada di India dan belajar dari para Lama tentang pengajaran agama Budha. Bahkan legenda tentang Yesus begitu populer di kalangan rakyat India dan Tibet. Untuk mengetahui kebenaran tentang anggapan dan pernyataan dari Notovich, Abhedananda, Roerich, Caspari dan Noack, maka kita perlu mengulas secara kritis isi dokumen dari Notovich yang kebenarannya dikukuhkan oleh Swami Abhedananda. Semua pihak merasa yakin bahwa Yesus pernah dan tinggal cukup lama di India berdasarkan dokumen-dokumen yang tersimpan di biara Himis. Tetapi sayangnya sampai kini, dokumen tersebut tidak dapat diperiksa untuk diteliti oleh para ahli. Karena itu kita juga tidak mengetahui apakah dokumen tersebut ditulis pada awal Masehi; ataukah ditulis beberapa ratus tahun setelah Kristus wafat.

Karena dokumen dari Notovich dan Swami Abhedananda ditemukan di Tibet, maka untuk memudahkan peristilahan, saya menyebut dokumen tersebut dengan nama “Injil Tibet.” Apabila kita sulit untuk meneliti keakuratan waktu penulisan dokumen dari “Injil Tibet” maka kita akan mencoba mengetahui masa penulisan “Injil Tibet” dari peninjauan isi “Injil Tibet.”.Jadi melalui upaya peninjauan kritis terhadap isi “Injil Tibet” tersebut, kita dapat menguji apakah memang benar bahwa Yesus pernah belajar dan dipengaruhi oleh ajaran agama Budha. Apakah memang benar bahwa Yesus sebagai inkarnasi dari Roh Budha. Apakah memang benar pemikiran “Injil Tibet” menunjuk kepada keberadaan Yesus di India dengan membandingkan dengan pemikiran Alkitab. Ataukah pemikiran “Injil Tibet” sebenarnya merupakan suatu “rekayasa teologis” yang sengaja ditulis dalam bahasa Pali yang merupakan bahasa asli dari kitab-kitab Budhisme, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Sansekerta atau Tibet. Apakah “Injil Tibet” sungguh-sungguh merupakan suatu dokumen yang sahih tentang kehadiran dan pelayanan Yesus pada waktu Dia berumur 13 sampai 29 tahun?

Alasan Yesus Meninggalkan Israel

Menurut terjemahan Notovitch dari naskah kuno yang ditunjukkan oleh seorang Lama di biara Himis tentang alasan Yesus meninggalkan tanah Israel yaitu: Ketika Isa menginjak umur tiga belas, sudah waktunya seorang Israel mengambil istri. Rumah yang dimiliki orang tuaNya hasil dari usaha sederhana mulai penuh dengan orang-orang kaya dan bangsawan, menginginkan Isa muda menjadi menantu mereka mereka, yang sudah terkenal karena membawa nama Yang Kuasa. Karena itu Isa meninggalkan rumah orang tuaNya diam-diam, pergi dari Yerusalem dan bersama seorang pedagang menuju Sind, dengan tujuan menyempurnakan diriNya dalam perkataan Yang Kuasa dan mempelajari hukum Budha” (Injil Tibet IV:10-13).

Tinjaun kritis:

Naskah “Injil Tibet” di bab IV:10-13 tersebut mengandung pemikiran yang kontradiktif, yang pada satu pihak menyatakan bahwa alasan Yesus pergi meninggalkan rumah-Nya adalah karena Dia tidak mau menikah atau menerima lamaran dari banyak orang tua dari kalangan yang kaya dan bangsawan. Tetapi juga pada pihak lain Yesus mempunyai tujuan untuk menyempurnakan diri-Nya dalam perkataan Yang Kuasa dan mempelajari hukum Budha. Artinya alasan yang dikemukan oleh “Injil Tibet” itu saling bertentangan, namun dengan pokok yang sangat bertentangan dengan seluruh pemikiran dan dokumen iman Kristen, yaitu Yesus ingin menyempurnakan diri-Nya dalam perkataan Yang Kuasa dengan mempelajari hukum Budha. Padahal secara historis tidak pernah ada petunjuk agama Budha pernah berkembang di Israel. Pertanyaannya adalah: mengapa Yesus ingin mempelajari agama Budha? Tampaknya penulis “Injil Tibet” telah memiliki suatu asumsi terlebih dahulu, bahwa perkataan yang penuh kuasa dari Yesus dianggap berasal dari hasil belajar-Nya, yaitu menguasai hukum Budha. Jadi si penulis “Injil Tibet” telah memiliki suatu kerangka berpikir bahwa segala hikmat dan pengetahuan yang dimiliki oleh Yesus sebenarnya berasal dari agama Budha. Logikanya, si penulis “Injil Tibet” tampaknya memiliki hubungan atau situasi yang menjadi konteks dengan penganut agama Budha. Tetapi apakah penulis “Injil Tibet” juga cukup memahami pemikiran dan ajaran agama Budha?

Tempat tinggal Yesus menurut dokumen-dokumen resmi termasuk kitab Injil sangatlah jelas bahwa Dia tinggal di Nazaret. Karena itu Tuhan Yesus disebut sebagai orang Nazaret. Tetapi dalam “Injil Tibet” penulis menyatakan bahwa Yesus berangkat dari Yerusalem dan bersama seorang pedagang menuju Sind. Informasi ini sangat bertentangan dengan data-data historis tentang latar-belakang kehidupan Yesus.

Yesus Belajar Pengetahuan dari Agama Budha?

Dari tulisan Notovich kita telah menangkap kesan yang sangat kuat bahwa Yesus meninggalkan Yerusalem dengan tujuan mempelajari tentang perkataan Yang Kuasa dari hukum agama Budha. Karena itu Yesus merasa perlu pergi di Tibet. Yesus kemudian belajar agama dan ajaran Budha dari para Lama. Dorongan untuk belajar dari diri Yesus tersebut karena sesungguhnya Dia merupakan inkarnasi dari Roh Budha. Jadi dalam tulisan “Injil Tibet” yang ditulis oleh Notovich mau menyatakan bahwa seluruh pemikiran, ide, gagasan, pengajaran, kuasa mukjizat dan kehidupan Yesus sepenuhnya dikuasai oleh Roh Budha. Bahkan Yesus dianggap sebagai inkarnasi dari Budha Maetreya. Sebagai inkarnasi dari Roh Budha, Yesus kemudian menentang pengajaran agama Hindu. Sikap Yesus ini terlihat dari “Injil Tibet”, yaitu:

“Isa menyangkal asal muasal Weda dan Puranas. Karena ajar-Nya kepada

pengikut-Nya: suatu hukum telah diberikan sebelumnya kepada manusia

untuk menuntunnya dalam bertindak; takutlah akan Tuhan, berlututlah

hanya di hadapan-Nya, dan bawalah persembahanmu hanya kepadaNya

hasil dari yang engkau dapat. Isa menyangkal Trimurti dan inkarnasi

Para-Brahma dalam Wisnu, Siwa dan dewa lain. Ia mengatakan karena:

Hakim Abadi, Roh Abadi, satu roh alam semesta yang tak terlihat,

yang mana hanya seorang diri menciptakan, mengetahui dan

mengatasi segalanya. Ia seorang diri telah menciptakan,

Ia telah ada dalam keabadian, dan keberadaan-Nya

tidak akan berakhir. Tidak ada yang setara denganNya baik di surga

maupun di bumi. Sang Pencipta tidak berbagi kekuatan dengan

mahluk hidup apapun, juga tidak kepada benda apapun,

seperti yang mereka katakana kepadamu, karena hanya Ia yang

memegang kemahakuasaan. Ia menghendakinya maka terbentuklah dunia.

Ia mengumpulkan air, memisahkannya dari bagian dunia yang kering.

Ia adalah pencipta manusia, yang mana Ia hembuskan nafas kehidupan.

Dan Ia memberikan kepada manusia bumi, air, hewan,

dan semua yang telah Ia ciptakan dan Ia berdiam dalam keabadian,

menentukan jangka waktu untuk segala sesuatu” (“Injil Tibet” V:12-19).

Dari “Injil Tibet” V:12-19 tersebut, kita dapat menarik beberapa pokok pemikiran teologis dari “Injil Tibet” tentang diri Yesus, yaitu:

  • Yesus menyangkal asal muasal Weda dan Puranas, termasuk pula Dia menyangkal pengajaran atau kepercayaan kepada Trimurti dan inkarnasi Para-Brahma dalam Wisnu, Siwa dan dewa lain.
  • Pencipta alam semesta adalah Hakim Abadi, Roh Abadi, satu roh alam semesta yang tak terlihat, yang mana hanya seorang diri menciptakan, mengetahui dan mengatasi segalanya. Ia seorang diri telah menciptakan, Ia telah ada dalam keabadian, dan keberadaan-Nya tidak akan berakhir. Tidak ada yang setara dengan-Nya baik di surga maupun di bumi.
  • Pencipta tersebut adalah Tuhan. Karena itu manusia hanya boleh takut dan berlutut di hadapan Tuhan. Sebagai bentuk penyembahan kepada Tuhan, maka manusia dipanggil untuk membawa persembahan hanya kepada-Nya.
  • Sebagai sang Pencipta, Tuhan tidak berbagi kekuatan dengan siapapun, dan tidak ada yang sebanding dengan dia baik di surga maupun di bumi. Dialah Allah yang mahakuasa.
  • Dalam penciptaan bumi dan langit, Allah yang mengumpulkan air dan memisahkan dengan yang kering; serta Dialah yang menghembuskan nafas kehidupan kepada manusia.

Tinjauan Kritis:

Apabila kita memerhatikan dengan seksama pokok-pokok pemikiran dari “Injil Tibet” tersebut maka sama sekali tidak tampak pengaruh pemikiran ajaran dan agama Budha. Apabila memang benar Yesus pernah belajar dan berguru kepada para Lama atau Mahatma dalam pengajaran agama Budha, maka seharusnya ucapan-ucapan dan pengajaran Yesus akan menggunakan pola pemikiran, peristilahan dan idea tau gagasan dari sang Budha. Untuk itu kita perlu mengetahui garis besar pemikiran dan ajaran agama Budha sebagai berikut:

  • Ajaran tentang Allah atau Tuhan: Agama Budha pada prinsipnya tidak mengenal konsep Allah atau Tuhan. Sebab dalam agama Budha bahwa segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini atau kehidupan ini bersifat tidak kekal. Kehidupan manusia ini termasuk kehidupan “yang ilahi” pada hakikatnya adalah anitya atau anicca. Sebab tidak ada sesuatu yang tetap ada, segala sesuatu menjadi. Hidup adalah suatu rentetan yang terdiri dari hal-hal yang terjadi untuk sesaat dan yang sesudah terjadi segera tiada lagi. Kejadian ini sama seperti sebuah sungai. Kita melihat sungai yang tampak seperti air yang panjang membujur, akan tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Jika kita berdiri di tepi sungai, maka kita akan menyaksikan bahwa setiap saat ada titik air yang baru. Demikian pula hidup ini merupakan suatu arus yang mengalir tanpa awal, tanpa sebab pertama, dan tanpa akhir. Tiada saat yang statis. Karena kehidupan ini adalah anitya, maka “kesadaran-aku” (wijuana) tidak bersumber kepada jiwa yang kekal. Artinya “kesadaran-aku” hanyalah suatu gejala yang kebetulan, gejala yang timbul terjadi karena sebab dan akibat. Karena itu dalam “Injil Tibet” kita sama sekali tidak melihat pengaruh agama Budha dalam diri Yesus. Sebab Yesus mengajarkan tentang pencipta yaitu Tuhan yang kekal dan tidak ada yang menandingi kekuasaanNya. Sebab Dia adalah yang mahakuasa. Padahal sangat jelas agama Budha tidak pernah mengajarkan tentang penciptaan langit dan bumi oleh Allah yang maha-kuasa. Agama Budha tidak pernah mengenal konsep Allah sebagai sang Pencipta, sebab menurut ajaran Budha segala sesuatu terjadi karena proses “menjadi.”
  • Ajaran tentang anatman atau anatta. Arti kata anatman adalah tiada jiwa. Pemahaman ajaran agama Budha adalah jika tiada sesuatu yang tidak berubah, maka juga tiada jiwa yang kekal. Manusia sebenarnya tidak berjiwa. Manusia adalah suatu kelompok yang terdiri dari unsur-unsur jasmaniah dan rohaniah. Di dalamnya tiada suatu pribadi yang tetap. Kelima indra manusia serta perasaannya sebenarnya tidak didiami oleh suatu pribadi. Keadaan mental manusia sebenarnya hanyalah gejala-gejala, sama seperti gejala-gejala yang lain. Jadi di belakang gejala-gejala mental itu tiada tersembunyi suatu pribadi atau ego. Kehidupan manusia terbentuk oleh nama-rupa. Arti dari nama untuk menunjuk tabiat, karakter, sifat manusia; sedang arti rupa adalah untuk menunjuk jasmaniahnya. Manusia adalah suatu kesatuan yang terdiri dari tabiat batin dan lahir, segi batin dan segi lahir. Yang termasuk segi batinnya adalah kesadaran, hati dan budinya; sedang segi lahirnya adalah yang tampaknya pada manusia itu. Di samping “nama-rupa,” kehidupan manusia terdiri dari 5 skandha (skandha berarti: tonggak), yaitu: rupa (tubuh), wedana (perasaan), samjna (pengamatan), samskara (kehendak dan keinginan), dan wijnana (kesadaran). Jadi yang dimaksud dengan pengertian “jiwa” adalah kelima skandha ini bersama-sama, atau satu per satu. Rasa “keakuan” sebenarnya disisipkan oleh orang itu sendiri. Padahal dalam “Injil Tibet” menyatakan bahwa jiwa dari segala yang hidup pada hakikatnya adalah roh yang kekal. Pemikiran ini terlihat dari pernyataan: “Roh yang kekal adalah jiwa dari segala yang hidup. Kau telah melakukan dosa dengan telah membaginya menjadi roh jahat dan roh baik, karena tidak ada Tuhan di luar kebaikan” (“Injil Tibet” bab VIII:17).
  • Jalan kelepasan berupa pemadaman keinginan (nirodha). Dalam bagian Aryasatyani yang keempat diajarkan tentang jalan kelepasan atau marga. Jadi agar manusia dapat lepas dari penderitaan, maka dia harus melalui 8 tingkatan/tahap, yaitu: percaya yang benar, maksud yang benar, kata-kata yang benar, perbuatan yang benar, hidup yang benar, usaha yang benar, ingatan yang benar dan semadi yang benar. Dari 8 tingkatan tersebut dapat dibagi menjadi 3 bagian utama, yaitu: Sraddha (iman) sebagai tingkatan yang pertama; lalu Sila (yang terdiri dari tingkatan kedua sampai tingkat ketujuh), dan akhirnya Semadi yang merupakan tingkatan kedelapan. Apabila manusia berhasil melaksanakan dengan sempurna seluruh tingkatan yang ada, maka manusia akan mengalami kelepasan (nirwana). Maksud dari nirwana adalah pemadaman atau pendinginan dari berbagai keinginan dan api nafsu. Orang yang mengalami nirwana akan hidup damai dan kebahagiaan sebab segala ketidaktenangan hidup sudah berakhir. Tetapi di dalam “Injil Tibet” disebutkan bahwa Yesus justru mengajarkan hal penebusan dosa. Di “Injil Tibet” bab IX:4, menyatakan: “Di hadapan kejahatan ini, Isa mengatakan kepada rakyat Israel untuk tidak putus asa karena hari penebusan dosa sudah dekat, dan Ia mengingatkan kembali kepada mereka kepercayaan terhadap Tuhan leluhur mereka”.

Dipengaruhi oleh Gnostisisme

Pemikiran “Injil Tibet” sebenarnya lebih dominan dipengaruhi oleh pemikiran gnostik dari pada pemikiran dan ajaran agama Budha. Pola pemikiran gnostik sangat jelas dan terlihat dari beberapa ungkapan dari “Injil Tibet” yaitu:

“Tuhan yang kuasa, Bapa alam semesta, berbelas kasihan terhadap orang-orang berdosa, memutuskan untuk lahir ke bumi dengan tubuh manusia. Inkarnasi terjadi sebagai suatu jiwa yang terpisah dari Roh Tertinggi yang tidak memiliki awal, tidak berakhir, dan di atas segala-galanya. Dia turun untuk menunjukkan bagaimana suatu jiwa dapat bersatu dengan Tuhan dan menemukan kebahagiaan abadi, dan mengambil tubuh manusia untuk menunjukkan bahwa dalam kehidupannya seorang manusia dapat mencapai kebajikan dan memisahkan jiwa dari tubuh manusiawi untuk mencapai keabadian dan sampai kepada Bapa Alam Semesta, di mana terletak kebahagiaan abadi. Dia muncul sebagai anak yang tak bernoda di tanah Israel, Anak itu segera menjadi juru bicara untuk Bapa Alam Semesta untuk menjelaskan tubuh alamiah yang tidak kekal dan kemenangan bagi jiwa” (“Injil Tibet” terjemahan dari Swami Abhedananda bab IV:1-5).

Ciri-ciri pemikiran gnostik adalah:

  1. Menempatkan roh atau jiwa sebagai yang paling mulia dan lebih suci dari tubuh jasmaniah manusia. Dalam hal ini roh tidak memiliki awal, tidak berakhir dan di atas segala-galanya. Sedangkan tubuh manusia dianggap sebagai hal yang kotor dan sumber dosa.
  2. Membuat pemisahan yang radikal antara tubuh dengan jiwa dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan.
  3. Roh manusia akan kembali dan bersatu (“melebur”) dengan Allah sebab roh manusia pada hakikatnya berasal dari percikan ilahi. Demikian pula “Injil Tibet” menyatakan bahwa ketika Yesus mati dihukum di atas kayu salib, maka Roh Yesus saja yang bersatu dengan yang ilahi. Di “Injil Tibet” bab XIV:3 menyatakan: Pada senja hari penderitaan Isa semakin berakhir. Ia kehilangan kesadaranNya, dan roh lelaki itu meninggalkan tubuh-Nya untuk bersatu dengan Ilahi”.

Corak pemikiran gnostik berulang-ulang dikemukakan oleh penulis “Injil gnostik” untuk menyatakan bahwa roh manusia sesungguhnya tidak bersalah, sebab roh selalu penuh dengan kebaikan. Di bab IX:14-15, “Injil Tibet” menyatakan: “Karena Tuhan telah menciptakan engkau serupa denganNya – tidak bersalah, dengan roh yang murni dan hati penuh kebaikan, tidak ditakdirkan berada di tengah kejahatan tetapi diciptakan untuk mendapat bagian dari kasih dan keadilan. Karena itu Aku berkata kepadamu, jangan nodai hatimu, karena yang kekal tinggal di dalamnya selamanya.” Dengan pemikiran ini, “Injil Tibet” mau menyatakan bahwa jiwa manusia pada hakikatnya suci sebab dia berasal dari Allah. Pemahaman ini tentu saja bertentangan dengan pemikiran Alkitab, yang menyatakan bahwa manusia secara utuh dan menyeluruh telah jatuh di bawah kuasa dosa (Rm. 3:23). Roh manusia bukanlah bersifat ilahi. Sebab roh manusia hanyalah ciptaan Tuhan belaka (Kej. 2:7). Perhatikan ucapan Yesus di “Injil Tibet” yang berkata: “Dan Isa menjawab mereka bahwa Tuhan tidak melihat bait yang dibangun dengan tangan manusia, tetapi hati manusia adalah bait Allah yang sesungguhnya” (bab IX:11). Ucapan “Injil Tibet” ini menunjukkan pengaruh ucapan dari rasul Paulus yang berkata: “Atau tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus, yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milikmu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (1Kor. 6:19-20). Tetapi perbedaan yang mencolok antara “Injil Tibet” dengan ucapan Rasul Paulus adalah sikapnya terhadap makna “keber-tubuh-an manusia.” Bagi Rasul Paulus, makna tubuh manusia dipandang positif, bahkan tubuh dipandang sebagai sesuatu yang dikuduskan sejauh “makna dan keberadaan tubuh” ditempatkan dalam persekutuan dengan kasih Allah. Itu sebabnya dalam Alkitab, tubuh kita dipandang sebagai bait Allah. Tetapi dalam “Injil Tibet” yang dianggap sebagai bait Allah hanyalah hati atau roh manusia. Tetapi tidak pernah “Injil Tibet” menyatakan tubuh manusia juga merupakan bait Allah.

Kematian Yesus

Peristiwa kematian Yesus dinyatakan dengan tegas oleh “Injil Tibet.” Tetapi tokoh yang agresif untuk menangkap, menawan dan menyiksa Yesus bahkan kemudian menyalibkan di atas kayu salib adalah tokoh Pilatus. Penyebabnya karena Pilatus kuatir akan pengaruh Yesus yang makin meluas. Pilatus kuatir orang-orang banyak dipengaruhi dan dihasut oleh Yesus sehingga Yesus dijadikan sebagai raja mereka. Di “Injil Tibet” bab XIII:3-4 berkata: “Tetapi gubernur Pilatus menjadi waspada karena Isa semakin terkenal, melihat Isa menghasut orang-orang untuk mengakui-Nya sebagai raja, kata salah seorang mata-mata menuduh Isa. Lalu para prajurit diperintahkan untuk menangkap-Nya, dan mereka menaruh-Nya di penjara di mana Ia disiksa dengan memaksa-Nya untuk membuat pengakuan yang akan membuat-Nya dijatuhi hukuman mati.” Setelah Yesus wafat, disebutkan Pilatus menjadi sangat takut akan tindakannya. Di “Injil Tibet” bab XIV:5-6 menyatakan:Sementara itu, Pilatus menjadi takut atas tindakannya dan memberikan tubuh Isa kepada orang-tua-Nya, yang menguburkan-Nya dekat tempat Ia dihukum mati. Banyak orang datang untuk berdoa di makam-Nya dan udara penuh dengan erangan dan ratapan. Tiga hari kemudian, gubernur mengirim prajuritnya untuk mengambil tubuh Isa dan mengubur-Nya di tempat lain, takut bahwa Isa akan bangkit dari kematian.”

Dari kesaksian “Injil Tibet” tersebut tentang kematian Yesus, maka kita dapat menyimpulkan yaitu:

  1. Pilatus dianggap sebagai tokoh yang paling bertanggungjawab atas kematian Yesus; bukan pemimpin agama Yahudi dan Sanhedrin yang bertanggungjawab. Sebab pemimpin agama Yahudi justru ditempatkan sebagai para pembela agar Pilatus membebaskan Yesus (Injil Tibet bab XIII:7, 20).
  2. Yesus wafat di atas kayu salib.
  3. Jenasah Yesus kemudian diserahkan oleh Pilatus kepada orang-tuaNya untuk dikuburkan dekat tempat Ia dihukum mati.
  4. Jenasaah Yesus dipindah ke makam yang lain, karena Pilatus takut kalau Yesus dapat bangkit dari kematian-Nya.

Dengan catatan dari “Injil Tibet” tersebut maka kita dapat melihat bahwa seluruh tulisan yang dipengaruhi oleh pemikiran gnostik termasuk dalam soal kematian Yesus di atas kayu salib. Jadi baik “Injil Tibet” maupun Injil Yudas, dan Injil-Injil gnostik lainnya dalam soal kematian Yesus tetap satu paham (sepakat) dengan Injil-Injil kanonik sebagaimana yang terdapat dalam Alkitab. Ini berarti peristiwa kematian Yesus tidak perlu diragukan atau diperdebatkan lagi. Sebab peristiwa kematian Yesus pada prinsipnya telah dikemukakan oleh semua dokumen-dokumen resmi yang diakui oleh gereja tetapi juga kematian Yesus didukung oleh dokumen-dokumen yang ditolak oleh gereja. Atas keterangan dari seluruh dokumen tersebut, maka sebenarnya versi Quran yang menolak kematian Yesus (S. 4:157-158) dapat diajukan pertanyaan kritis. Walau dalam beberapa ayat di Quran menyatakan bahwa Yesus suatu saat akan mengalami kematian; misalnya di di Surah 19:33 menyatakan: Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.

Selain itu disebutkan dalam “Injil Tibet” gubernur Pilatus takut kalau Yesus dapat bangkit dari kematian, sehingga ia memerintahkan untuk memindahkan jenasah Yesus ke makam lain pada hakikatnya menunjukkan suatu kenyataan bahwa peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus telah merupakan suatu pandangan yang dipercaya begitu kuat dari banyak orang dari waktu ke waktu. Peristiwa kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus merupakan kisah yang dialami secara eksistensial, namun juga mengandung misteri ilahi yang selalu menantang umat manusia untuk merespons dengan sikap iman kepada-Nya.

Catatan Penutup

Apabila dari isinya kita dapat melihat “Injil Tibet” sebenarnya sangat dipengaruhi oleh pandangan gnostik, maka kita dapat memperkirakan penulisannya di atas abad IV Masehi. Tampaknya penulis “Injil Tibet” ingin memberitakan kesaksian tentang Yesus dalam pola pemikiran gnostik (“Yesus Gnostik”) di kalangan orang-orang India yang beragama Hindu dan Budha, tetapi sayangnya dia sendiri sama sekali tidak menguasai dengan baik ajaran agama Hindu dan Budha. Itu sebabnya penulis “Injil Tibet” sama sekali tidak berhasil menunjukkan hubungan diri Yesus sebagai inkarnasi dari sang Budha, dan juga dia tidak berhasil untuk memberitakan pengajaran atau pemikiran Budha melalui ucapan Yesus. Sebaliknya seluruh gagasan dari “Injil Tibet” seluruhnya mengungkapkan pola pemikiran Gnostisisme. Jadi tidaklah benar bahwa naskah tua yang ditemukan di biara Himis oleh Nootovich maupun Swami Abhedananda atau yang sempat dilihat oleh Madam Caspari berumur lebih awal dari pada penulisan kitab-kitab Injil dan kitab-kitab Perjanjian Baru.

Kesaksian tentang Tuhan Yesus pada waktu Dia berumur 12 tahun berdiskusi dengan orang-orang Farisi dan ahliTaurat di Bait Allah sehingga ayah dan ibuNya sempat mencari-Nya, diakhiri oleh Lukas 2:51 dengan penyataan: “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret, dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibuNya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.” Perhatikan pernyataan “Ia tetap hidup dalam asuhan mereka.” Dalam hal ini Injil Lukas menggunakan ên hupotassomenos autois menyiratkan bahwa Yesus tetap bersama orang tuanya. Perhatikan makna hupotassomenos dari kata hupotasso dibentuk dari kata hupo (di bawah), dan tasso yang berarti perintah, didikan, dan “asuhan.” Sebab menurut hukum Taurat semua anak Yahudi sejak usia 12 tahun, mulai menerima ruah (roh hikmat); dan pada usia 20 tahun akan ditambahkan baginya nishama atau reasonable soul (nalar) .

Mulai usia 20 tahun tersebut seseorang anak Yahudi harus memasuki sekolah khusus Yahudi (bet midrash). Tahapan-tahapan pendidikan anak seorang Yahudi pada zaman dahulu, yaitu: periode mikra (membaca Taurat) mulai usia 5 tahun. Lalu tahap mishna mulai usia 10 tahun. Tahap Talmud pada usia 13 tahun (zaman Yesus 12 tahun). Tahap midrash (madarasah) pada usia 20 tahun. Kemudian sejak usia 30 tahun barulah seseorang boleh mengajar di depan umum. Dengan demikian, dari kesaksian Injil Lukas, Tuhan Yesus tidak pergi berkelana ke luar negeri seperti India, Kahsmir, Tibet dan berbagai tempat yang lain; tetapi Dia tetap tinggal dan bertumbuh di Nazaret sampai Dia berusia 30 tahun. Kitab Injil Lukas 2:52 menyatakan: “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Kemudian saat Tuhan Yesus berumur 30 tahun itulah Allah mengutus Dia untuk memberitakan karya keselamatan Allah yang terwujud di dalam diriNya. Karena itu di dalam Tuhan Yesus, umat manusia dapat melihat kehadiran dan karya Allah yang bertindak secara nyata dalam sejarah kehidupan ini.

Kepustakaan

Swami Abhedananda, Swami Abhedananda’s Journey into Kashmir and Tibet. Trans. Ansupati Dasgupta and Kunja Bihari Kundu. Calcutta: Ramakrishna Vedanta Math, 1987.

Elizabeth Clare Prophet, Tahun-Tahun Yesus Yang Hilang, Bina Communio, 2003

Per Beskow, Strange Tales About Jesus. Philadelphia: Fortress Press, 1983.

Janet Bock, The Jesus Mystery: Of Lost Years and Unknown Travels. Los Angeles: Aura Books, 1980.

Edgar J. Goodspeed, Famous “Biblical” Hoaxes. Grand Rapids: Baker Book House, 1956.

Fida Hassnain, A Search for the Historical Jesus from Apocryphal, Buddhist, Islamic, & Sanskrit Sources. Bath: Gateway Books, 1994.

Holger Kersten, Jesus Lived in India. Trans. Teresa Woods-Czisch.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply