Latest Article

Preaching the Revised Common Lectionary ( A Guide)

Penulis           : Gail R. O’Day and Charles Hackett

Penerbit         : Abingdon Press, Nashville

Tahun             : 2007

Tebal              : 161 halaman + xiv 

Pengantar

Pola pemberitaan firman di kalangan gereja-gereja Protestan di Indonesia selama ini menggunakan metode eksposisi dari suatu perikop Alkitab. Yang mana pendeta atau pengkhotbah menentukan perikop atau ayat-ayat tertentu sebagai dasar untuk pemberitaan firmannya. Pola tersebut sepintas sangat baik dan tidak menimbulkan masalah. Tetapi bila dikritisi secara menyeluruh, maka akan terlihat beberapa kelemahan yang mendasar. Karena perikop-perikop yang dipilih dan dipakai oleh pendeta/pengkhotbah umumnya bersifat subyektif. Dengan pola demikian tanpa disadari jemaat sering diarahkan hanya memperhatikan perikop-perikop “kesukaan” (favorit) dari para pendeta/pengkhotbah. Pemahaman teologis umat dibangun dalam suatu “kanon” di dalam kanon. Karena itu umat tidak diajak untuk memahami seluruh kitab dalam kanon Alkitab. Selain itu yang tidak kalah buruknya adalah umat tidak pernah diajak untuk memahami makna tahun gerejawi dalam ziarah imannya. Pemberitaan firman yang ditentukan oleh pendeta/pengkhotbah dengan perikop atau ayat-ayat pilihan tertentu tidak akan pernah memperhatikan kalender gerejawi secara utuh. Umat Kristen kemudian hanya mengenal hari raya gerejawi tertentu saja, misalnya: Natal, Jumat Agung, Paskah dan Kenaikan Tuhan ke sorga. Itupun didasarkan kepada perikop atau bahan-bahan bacaan yang disukai oleh pendeta/pengkhotbah. Jelas dengan cara yang demikian, umat tidak dibimbing untuk mengenal secara utuh kehidupan dan peristiwa Kristus. Dalam konteks inilah gereja membutuhkan pola pembacaan leksionari. Sebab melalui pola pembacaan leksionari, umat dimampukan untuk mengenal seluruh pembacaan Alkitab secara utuh. Dengan menggunakan leksionari, umat tidak akan diarahkan untuk membentuk “kanon” di dalam kanon. Selain itu melalui pola pembacaaan leksionari, umat akan mengenal kehidupan dan peristiwa Kristus secara utuh. Itu sebabnya melalui pola pembacaan leksionari, umat dimampukan untuk merayakan seluruh kalender gerejawi, sehingga spiritualitas umat semakin diperdalam dengan perspektif teologis yang kaya dan mendalam.

Gail R. O’Day and Charles Hackett dalam bukunya yang berjudul “Preaching the Revised Common Lectionary” (A Guide) mengulas bagaimanakah sejarah, latar-belakang, pola dan prinsip hermeneutik dari pola pembacaan leksionari. Dalam hal ini Gail R. O’Day and Charles Hackett menggunakan “The Revised Common Lectionary” (RCL) yang telah disusun oleh Consultation on Common Text [1]. Gail R.O’Day yang menjadi Dekan Fakultas di Candler School of Theology, Emory University dan Charles Hackett sebagai seorang Profesor emeritus di Candler School of Theology, Emory University mengulas dengan tajam dan mendalam bagaimana pemberitaan firman yang menggunakan leksionari. Lebih jauh, Gail R. O’Day and Charles Hackett menunjukkan bagaimana sebenarnya leksionari telah digunakan oleh umat Kristen dalam rentang waktu yang begitu panjang. Dengan kata lain, leksionari bukanlah pola pembacaan yang baru pertama kali muncul pada abad ini, tetapi sesungguhnya sudah digunakan oleh umat Kristen perdana dan Yudaisme ratusan tahun sebelumnya. Apa yang dikemukakan oleh Gail R. O’Day and Charles Hackett juga didukung oleh Leon Morris. Lihat Leon Morris. 1964. The New Testament and the Jewish Lectionaries. London: The Tyndale Press[2]. Umat Israel telah menggunakan leksionari sejak mereka berada dalam pembuangan di Babel[3]. Itu sebabnya pada zaman Tuhan Yesus, institusi dan pola ibadah sinogoge dibawa dan diterapkan saat umat Israel kembali dari Babilonia ke Yehuda. Prinsip-prinsip ibadah di sinogoge dari Babilonia tersebut dijadikan praktek ibadah di sinagoge Palestina. Ibadah sinogoge kemudian mengembangkan dirinya dalam bentuk ibadah harian dengan mengkhususkan dari bentuk doa kepada pengajaran. Bahkan dalam perkembangannya, sinagoge menggunakan “leksionari” dalam berbagai bentuk. Karena itu ketika umat Kristen yang awalnya umat Yahudi, mereka tetap menggunakan pola pembacaan Alkitab secara “leksionari” untuk memahami memahami Yesus selaku Mesias yang telah bangkit dari kematian dan akan kembali untuk menyatakan pemerintahan Allah di atas bumi. Mereka belajar tentang nubuat dari Torah, kitab nabi-nabi (Nebiim) dan kitab-kitab (Ketubim) serta pendarasan kitab umat Mazmur. Untuk itu umat Kristen perdana berkumpul di Bait Allah secara teratur dan makan perjamuan, serta menghadiri ibadah di sinagoge (G. R. O’Day and C. Hackett, 4).

Reformasi Liturgis

Gail R. O’Day and Charles Hackett menjelaskan bagaimana gereja-gereja di lingkungan Protestan kemudian dipengaruhi oleh reformasi liturgis dalam gereja Katolik. Sebagaimana diketahui bahwa melalui konsili Vatikan II, gereja Roma Katolik telah melakukan reformasi liturgis. Karena itu pada tahun 1969, gereja Roma Katolik membuat leksionari baru dengan “the Ordo Lectionum Missae”. Gereja-gereja Protestan di Amerika Utara begitu tertarik dengan reformasi yang dilakukan oleh gereja Roma Katolik, sehingga pada tahun 1970 mengadopsi “the Ordo Lectionum Missae” dalam liturgi mereka (G. R. O’Day and C. Hackett, 50). Gereja-gereja Protestan pada prinsipnya juga rindu untuk menciptakan suatu “a common lectionary”. Kerinduan tersebut yang mendorong mereka untuk membentuk “the Consultation on Common Texts”. Karena itu pada tahun 1983, “the Consultation on Common Texts” menyusun konsep uji coba dalam bentuk “the Revised of Common Texts”. Dengan demikian melalui the RCL terbentuklah suatu bacaan ekumenis. Lalu pada tahun 1992, “the RCL” tersebut mengalami revisi, sehingga menjadi “the Revised Common Lectionary”. [4] Sejak itu gereja-gereja arus utama memiliki bacaan Alkitab yang sifatnya ekumenis. Sebab melalui the RCL, berbagai denominasi yang semula terpisah dapat menyatukan diri dengan pola bacaan yang sama. Setiap gereja dengan latar-belakang sejarah dan denominasi melalui pembacaan leksionaris dapat saling membagikan kisah rohani yang sama dan hidup dalam waktu tahun liturgis yang sama pula. Dengan demikian melalui leksionari, gereja-gereja Tuhan dimampukan untuk menghayati makna keesaannya secara riel dengan seluruh umat dari berbagai denominasi, geografi dan sejarah yang berbeda-beda. Jadi melalui leksionari, setiap gereja diharapkan semakin mampu menghayati “points of unity” (G. R. O’Day and C. Hackett, 50). Namun tidak berarti leksonari yang digunakan pada dirinya mampu membawa pengenalan dan pengalaman umat akan keesaan gereja[5]. Keesaan gereja hanya dapat terwujud melalui kehidupan umat sehari-hari. Dengan demikian, harapan akan keesaan gereja sebagai suatu panggilan bagi setiap umat seharusnya diwujudkan melalui berbagai bidang kehidupan. Yang mana melalui pengalaman umat di suatu lokasi atau tempat dan waktu tertentu, umat dapat memperluasnya dalam konteks yang lebih luas. Dalam konteks inilah Gail R.O’Day dan Charles Hackett menyatakan: “….. Preaching the lectionary can move congregations to place their local experience in a broader context of what is means to be church” (G. R. O’Day and C. Hackett, 52). Jadi leksionari saat ini telah diadaptasi oleh “The Revised Common Lectionary” dari pola lama dengan pola 3 bacaan ditambah dengan Mazmur sebagai antar bacaan. Pola ini didesain dengan menggunakan ketiga Injil sebagai bagian yang paling dominan. Injil Matius untuk tahun A, Injil Markus untuk tahun B, dan Injil Lukas untuk tahun C. Sedangkan Injil Yohanes digunakan selama masa hari raya gerejawi seperti Adven, Natal, Epifani, Masa Pra-Paskah dan Paskah.

Hermeneutik Leksionaris

Hermeneutik sebagai ilmu terlihat sekitar 50 tahun terakhir. Namun tentunya pendekatan hermeneutik (penafsiran) terhadap Kitab Suci telah dilakukan sejak dulu. Selama berabad-abad, gereja telah melakukan penafsiran untuk memahami arti Alkitab. Penafsiran aliran Aleksandria yang yang dipelopori oleh Origenes telah melakukan penafsiran dengan mencari “makna rohaniah” dari pembacaan Alkitab. Karena itu Origenes menggunakan makna alegoris dalam menafsirkan ayat-ayat Alkitab. Sebaliknya pola penafsiran aliran Antiokia melakukan penafsiran dengan memperhatikan kejadian historis (historical events). Pada abad pertengahan, gereja memahami bahwa Alkitab memiliki 4 arti (G. R. O’Day and C. Hackett, 29), yaitu:

  • Arti Harafiah (literer)
  • Arti Moral
  • Arti Doktrinal
  • Arti Mistis (eskatologis).

Sejak abad XIX, hermeneutik telah digunakan sebagai proses dan preposisi untuk memperoleh pemahaman yang logis ketika umat membaca dan mencari arti ayat atau perikop Alkitab. Arti “preposisi” muncul sebagai hasil dari asumsi-asumsi yang diperoleh dari berbagai komunitas yang melatar-belakanginya. Misalnya seseorang yang hidup dari suatu komunitas yang menyukai hal-hal yang supernatural akan lebih cenderung memahami makna ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dengan mukjizat atau sesuatu yang luar-biasa. Berbeda dengan umat yang hidup dari latar-belakang “akademis” akan melihat Yesus sebagai seorang guru agung yang mengajar sistem moral. Mukjizat yang dilakukan oleh Yesus akan dipahami sebagai suatu inspirasi medis bagi orang-orang yang memiliki latar-belakang akademis dalam dunia medis. Karena itu dari suatu hermeneutik akan menghasilkan berbagai preposisi teologis, tepatnya pemahaman teologis tergantung dari asumsi yang dimiliki oleh umat.

Pengertian “Narratives Time” dalam penafsiran leksionari menunjuk kepada kesaksian bagaimana Allah berkarya dan menyatakan diriNya di tengah-tengah sejarah umatNya. Pola dari masa “Narrative Times” tersebut dilaksanakan selama masa Adven – Pentakosta. Lalu pada masa Minggu Biasa, umat dipanggil untuk memberi respon terhadap karya keselamatan Allah tersebut. Jadi dengan memahami “narrative time”, umat diharapkan mampu untuk menghayati sejarah keselamatan yang dilakukan Allah (G. R. O’Day and C. Hackett, 32). Melalui pembacaan leksionari pada masa “Narrative Time” tersebut umat percaya menghidupkan kembali kisah dari pengalaman iman mereka. Untuk itu ulasan Alkitab pada masa “Narrative Time” dapat dibuat suatu tema tertentu (G. R. O’Day and C. Hackett, 37). Misalnya pada Minggu Adven pertama dapat ditekankan kepada suatu tema khusus, misalnya: penghakiman terakhir.

Sedang penafsiran pada masa Minggu Biasa, umat memiliki kesempatan untuk mendalami suatu teks dari ketiga bacaan leksionari. Misalnya umat pada masa Minggu Biasa dapat mengeksplorasi bacaan pertama dari salah satu kitab Perjanjian Lama, atau bacaan ketiga dari surat-surat Rasuli. Setiap bagian Alkitab memiliki latar-belakang historis tertentu. Dari penafsiran dari ayat atau perikop suatu teks baik pada masa “Narrative Time” maupun pada masa Minggu Biasa, gereja juga dapat menggunakan untuk menjelaskan suatu “doktrin” tertentu (G. R. O’Day and C. Hackett, 39). Dengan demikian melalui leksionari, gereja bukan hanya memotivasi umat untuk menghayati karya keselamatan Allah melalui makna tahun gerejawi, tetapi juga dapat memampukan umat untuk memahami suatu pengajaran gereja. Dalam hal ini leksionari berfungsi untuk mengakomodasi kedua perspektif tersebut, yaitu tahun liturgis dan pengajaran gereja (G. R. O’Day and C. Hackett, 42)

Sejarah perkembangan tahun liturgi (liturgical year) dan leksionari sejak awal disadari memiliki suatu hubungan yang tak terpisahkan antara “kisah dan waktu” (story and time). Kesadaran ini dihayati oleh Yudaisme dan kekristenan bahwa suatu momen khusus dalam sejarah dapat menjadi pengulangan, yang mana momen khusus tersebut dapat terus diulang dalam pengalaman generasi selanjutnya. Sebab pengalaman religius tidak hanya dibatasi pada segelintir orang di masa lampau tentang karya keselamatan Allah, misalnya kisah Keluaran atau kisah penderitaan dan kematian Kristus. Jadi melalui kisah iman yang disaksikan dalam Alkitab, umat pada masa lalu, sekarang dan mendatang dapat mengalami kembali karya keselamatan Allah, sehingga terbentuklah “bangunan kehidupan suatu komunitas” (the corporate life of the community). Dengan pemahaman demikian, kita dapat menyusun dan menata kehidupan di masa kini dengan belajar dari kesaksian dan pengalaman umat di masa lalu (G. R. O’Day and C. Hackett, 43). Dalam hal ini umat dapat belajar kekayaan rohani saat mereka membaca dan merenungkan kehidupan, penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus. Jadi jelaslah bahwa melalui pola pembacaan leksionari, gereja dapat menghayati setiap momen kehidupan dan peristiwa hidup mereka dari perspektif karya keselamatan Allah, khususnya karya keselamatan yang telah dilakukan oleh Kristus. Karena itu Gail R. O’Day dan Charles Hackett berkata:

“……… the repetition of the the lectionary allows the church’s story to be available at all the moments of a human life. Worshipers are able to place their own story and time the cycle of the church’ story and time” (G. R. O’Day and C. Hackett, 48)

Tepatnya melalui leksionari, umat dapat mengalami kesinambungan kisah keselamatan Allah sepanjang 52 minggu. Karena itu Gail R. O’Day dan Charles Hackett menyatakan bahwa melalui leksionari tidak ada satu hari Minggu yang terpisah atau terlepas dari hari Minggu-hari Minggu lainnya. Bahkan pada masa Minggu Biasa yang diawali dengan Minggu Trinitas sampai Kristus Raja (satu minggu sebelum Adven) juga memiliki jalinan yang sinambung. Walaupun harus disadari bahwa setiap hari Minggu atau perayaan gerejawi memiliki kekhasan dan kekhususannya sendiri. Dengan kesadaran akan kesinambungan kisah dalam seluruh kalender gerejawi, maka pengkhotbah dapat mempersiapkan materi khotbah secara lebih khusus dan mendalam. Dengan demikian, “preaching ministry” dapat menjadi “a continuum of sermons”. Gail R.O’Day dan Charles Hackett berkata: “…………… An awareness of the continuity of the church’ story through and across time can also inform the way the preacher approaches sermon preparation and preaching….” (G. R. O’Day and C. Hackett, 49).

Identitas dan Wibawa Pastoral dalam Leksionari

Sebagaimana telah disinggung dalam Kata Pengantar, otoritas pengkhotbah di kalangan gereja-gereja Protestan sering begitu menonjol dan menentukan dalam pemberitaan firman. Namun tidaklah demikian bila umat secara konsisten menggunakan pola pembacaan leksionari. Sebab melalui leksionari, yang menonjol dan menentukan bukan lagi kharisma pribadi seorang pengkhotbah, tetapi pola dan pesan dari pemberitaan firman tersebut (G. R. O’Day and C. Hackett, 54). Sebab pemilihan teks Alkitab yang akan dikhotbahkan bukan lagi ditentukan oleh pengkhotbah, tetapi melalui pembacaan Alkitab yang telah tersedia sesuai dengan tahun atau kalender gerejawi. Dalam hal ini baik pengkhotbah maupun umat memiliki kedudukan yang setara dalam penggunaan teks Alkitab yang telah disusun secara leksionaris. Pemilihan teks Alkitab bukan lagi merupakan hasil dari tindakan individual dengan otoritas tertentu, tetapi terkait secara publik. Melalui leksionari, bahan-bahan pembacaan Alkitab terbuka bagi setiap umat, sehingga umat dapat menggunakan untuk: ibadah, program pembinaan umat, dan Pemahaman Alkitab. Sebab dengan pola pembacaan leksionari, umat dapat memiliki akses dan kemampuan untuk menyiapkan diri terlebih dahulu, sehingga umat dapat lebih intensif berpartisipasi dalam kegiatan ibadah. Untuk tujuan itu setiap jemaat/gereja lokal dapat membuat suatu kurikulum tentang pembinaan rohani berupa program pelatihan dan pendalaman Alkitab melalui daftar pembacaan leksonari. Selain itu karena umat dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu, maka umat dapat lebih kritis terhadap pemberitaan firman yang akan mereka dengarkan. Dalam hal ini umat dapat diarahkan kepada sikap disiplin rohani (G. R. O’Day and C. Hackett, 18). Sebaliknya para pengkhotbah dapat menyajikan lebih bermutu dan mendalam. Dengan demikian melalui pola leksionari yang dilakukan secara konsisten, pengkhotbah dan umat dapat mengalami pertumbuhan rohani dan wawasan iman yang semakin mendalam (G. R. O’Day and C. Hackett, 55).

Siklus Natal

Pengajaran dan pengakuan iman gereja bahwa Yesus adalah Tuhan telah mendorong gereja untuk menyaksikan peristiwa inkarnasiNya di dalam dunia. Pada abad IV dan V, gereja lebih intensif untuk merayakan kelahiran Kristus. Sikap gereja tersebut dilatar-belakangi oleh pergumulan gereja dalam menghadapi serangan Arianisme (G. R. O’Day and C. Hackett, 21). Karena itulah melalui inkarnasi Kristus, gereja menetapkan hari kelahiran Kristus sebagai suatu dogma dan menjadi salah satu pusat ibadah. Lebih jauh lagi, gereja menegaskan bahwa karya keselamatan Allah diawali dari peristiwa inkarnasi Kristus. Melalui inkarnasi Kristus, Allah berkarya untuk mendamaikan umat manusia yang berdosa dengan diriNya. Peristiwa Natal bukan sekedar suatu berita kelahiran Kristus, tetapi yang lebih utama bermakna sebagai peristiwa inkarnasi sang Firman Allah menjadi manusia. Karena itu melalui peristiwa Natal, gereja menggunakannya sebagai media untuk menyaksikan pusat misteri dari keselamatan Kristus.

Ibadah inkarnasi Kristus sebenarnya juga dirayakan pada Minggu Epifani tanggal 6 Januari. Sebelum gereja merayakan Natal tanggal 25 Desember, gereja telah merayakan peristiwa inkarnasi Kristus pada tanggal 6 Januari. Karena itu setiap Minggu Epifani pada tanggal 6 Januari, gereja bukan sekedar merayakan kunjungan orang-orang Majus ke Betlehem, tetapi juga sebagai kisah kelahiran Kristus. Namun kemudian gereja menetapkan hari Natal jatuh pada tanggal 25 Desember. Dokumen gerejawi mencatat bahwa perayaan Natal tanggal 25 Desember telah dirayakan di Roma tahun 336. Sedang di Timur, perayaan Natal tanggal 25 Desember dimulai pada abad V. Dengan pola pembagian tersebut, gereja membagi siklus Natal menjadi 2 bagian, yaitu: kisah kelahiran Kristus yang dirayakan pada hari Natal, dan kisah manifestasiNya sebagai sang Firman atau Kristus pada Minggu Epifani tanggal 6 Januari. Kalau kita cermati dengan baik, maka terdapat kesamaan pola dalam siklus Natal dan siklus Paskah. Dalam siklus Natal sebagaimana kita ketahui terbagi antara hari Natal dan Minggu Epifani. Sedang dalam siklus Paskah, juga terbagi menjadi hari Paskah di mana Kristus bangkit dan hari Kenaikan Kristus ke sorga. Dalam pemahaman teologis ini ada kesamaan makna, yaitu Natal sebagai peristiwa “historis” Kristus lahir di atas bumi. Demikian pula pada hari Paskah, dihayati sebagai peristiwa historis dan rohani Kristus bangkit dari kematian. Lalu pada Minggu Epifani, Kristus menyatakan keilahian dan kemulianNya. Jadi ada kesamaan pula dengan kenaikan Kristus ke sorga, di mana Kristus yang telah bangkit kini kembali dalam kemuliaanNya sebagai Anak Allah.

Pola Penafsiran Hari Raya Gerejawi

Pola penafsiran untuk pembacaan leksionari pada hari raya gerejawi yang diajukan oleh Gail R.O’Day dan Charles Hackett dalam hal ini siklus Natal dan Paskah pada prinsipnya terdiri dari 4 langkah (G. R. O’Day and C. Hackett, 59), yaitu:

  • Langkah pertama: Kesan pertama (First Impressions).

Penafsir dalam langkah pertama ini menangkap kesan umum dari keempat bacaan Alkitab yang tersedia. Tepatnya penafsir mampu melihat bagaimana hubungan ide (benang merah) teologis yang terdapat pada keempat bacaan leksionari untuk memperoleh pandangan atau gambaran umum. Dalam hal ini pengkhotbah secara sekilas dapat memahami kedudukan dan pesan dari tiap-tiap teks Alkitab yang tersedia.

  • Langkah kedua: Mengidentifikasi Tema-Tema (Identifying Themes)

Penafsir mampu menemukan gagasan dan tema-tema utama dari tiap-tiap perikop yang tersedia, sehingga memiliki gambaran dan pesan teologis yang lebih khusus. Penafsir mulai mengamati dengan teliti tiap-tiap bacaan yang tersedia. Dengan identifikasi tema-tema tersebut, maka penafsir semakin mampu melihat hubungan atau benang merah teologis antara bacaan Injil dengan bacaan Perjanjian Lama dan surat Rasuli.

  • Langkah ketiga: Memetakan Kisah-Kisah Dalam Suatu Siklus (Mapping the Narratives of the Cycle)

Dalam langkah ketiga ini, penafsir mampu melihat apakah dari tema-tema dan pesan khusus dari tiap-tiap perikop tersebut terdapat suatu hubungan gagasan atau benang merah teologis secara eksegetis, ataukah sama sekali tidak menemukan hubungan gagasan teologis. Untuk itu pengkajian tafsir yang lebih cermat dan kritis perlu dilakukan terhadap makna teks dari tiap-tiap perikop. Karena itu penafsir harus membuat tafsiran dari ketiga bacaan Alkitab, mulai dari Injil kemudian bacaan dari Perjanjian Lama dan surat Rasuli. Yang mana tafsiran tersebut harus sesuai prinsip-prinsip eksegese, yaitu mendalami suatu teks secara cermat sehingga penafsir mampu menggali makna dari teks tersebut. Setelah itu dari hasil tafsir yang dilakukan dari ketiga bacaan tersebut, penafsir membuat hubungan atau benang merah teologis.

  • Langkah keempat: Khotbah yang Diinspirasi dari Leksionari (Lectionary – Informed Preaching)

Penafsir membuat teks khotbah yang berhasil diperolehnya dari hubungan gagasan teologis dalam langkah ketiga, sebab dia telah menemukan suatu tema khusus dan ide-ide teologis yang akan diulas sesuai dengan konteks tahun liturgi. Inspirasi teologis tersebut juga menghasilkan suatu perspektif yang lebih luas, kaya dan kritis. Setelah itu penafsir menemukan pula bagaimana konteks hidup umat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan langkah keempat ini diharapkan penafsir dapat menyiapkan suatu khotbah yang utuh, mendalam dan kritis yang sesuai dengan tahun liturgi.

Keempat langkah penafsiran tersebut dapat digunakan untuk setiap hari raya gerejawi, yaitu hari raya gerejawi dalam siklus Natal maupun dalam siklus Paskah. Sedang untuk masa Minggu Biasa, keempat langkah penafsiran tersebut tidak berlaku. Untuk penafsiran pada masa Minggu Biasa akan dijelaskan secara khusus. Untuk itu baiklah kita kembali untuk melakukan pola penafsiran hari raya gerejawi. Kita mulai dengan pola penafsiran di siklus Natal.

Pola Penafsiran Siklus Natal

Siklus Natal diawali dengan masa Adven yang terdiri dari 4 Minggu. Adven pertama merupakan permulaan tahun gerejawi. Yang mana Minggu Adven pertama diawali dengan Minggu Kristus Raja. Liturgi Minggu Kristus Raja dirancang untuk mengakhiri masa Minggu Biasa sekaligus sebagai persiapan bagi umat untuk menyambut masa Adven. Melalui ibadah Minggu Kristus Raja, umat menghayati kedudukan dan martabat Kristus sebagai Raja yang bukan berasal dari dunia ini, tetapi berkuasa atas dunia dan alam semesta. Untuk jelasnya, Gail R. O’Day dan Charles Hackett membuat bagan leksionaris pada Minggu Kristus Raja, yaitu:

Kristus Raja (Tahun B)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
II Sam. 23:1-7 Mzm. 132:1-13, (14-19) Why. 1:4b-8 Yoh. 18:13-37
Kata-kata terakhir raja Daud.

Roh Allah berbicara melalui Daud.

Sebab Daud diurapi Allah, dan mazmur-mazmurnya disukai umat.

Telah terjalin kokoh perjanjian Allah dengan Daud.

Hukuman bagi orang-orang yang hidup dursila.

Janji Allah kepada Daud bahwa seorang anaknya akan duduk menjadi raja.

Untuk itu Allah telah memilih Sion sebagai tempat kedudukanNya.

Ucapan berkat, yaitu kasih-karunia dari Allah yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya,

dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi.

Kristus yang menjadikan umatNya suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya.

Yesus berdiri di hadapan Pilatus. Dia bertanya kepada Yesus, “Apakah Dia raja orang Yahudi?” Pernyataan Yesus bahwa kerajaanNya bukan berasal dari dunia ini. Pilatus bertanya yang kedua kali, “Apakah Yesus adalah raja?” Yesus menjawab bahwa Dia lahir dan datang ke dalam dunia untuk menyatakan kebenaran.
Tema: Tema: Tema: Tema:
1.     Tipologi Daud yang kelak akan menurunkan Yesus.

2.     Perjanjian kekal Allah dengan Daud akan keturunannya yang menjadi raja.

3.     Hukuman dan kebinasaan bagi orang-orang yang fasik dan melakukan kejahatan.

1.     Tipologi Daud sebagai raja.

2.     Kediaman Allah di tengah-tengah umatNya.

3.     Janji Allah bahwa keturunan Daud sebagai raja yang mana kerajaanNya akan kekal.

4.     Orang-orang yang memusuhi Dia akan dikenakan pakaian yang memalukan.

1.     Allah yang maha-kuasa telah menjadikan Kristus sebagai penguasa segala sesuatu.

2.     Kristus menjadi umatNya sebagai kerajaan para imam.

1.     Sifat paradoks dari kerajaan Kristus, sebab bukan berasal dari dunia atau kuasa manusia.

2.     Kristus sebagai Raja datang untuk menyatakan kebenaran.

Pemahaman Makna Adven

Di Eropa pada abad V, masa Adven menjadi periode masa penyesalan dan pertobatan untuk menyambut hari Natal. Pada abad VI, Adven menjadi masa persiapan khususnya di Gaul dan Spanyol. Namun kenyataannya karakter masa persiapan tersebut sering tercampur, sebab tergantung tempat geografinya. Karena itu ada beberapa dokumen yang menyatakan masa berpuasa selama 40-50 hari sebelum Natal, tetapi juga ada bukti sebaliknya masa Adven sebagai masa sukacita, khususnya di Roma. Namun sekitar abad VII, tema “Parousia” menjadi tema Adven. Masa Adven dipahami sebagai “Dies Irae” (Day of Wrath). Dari catatan-catatan tersebut di atas, terlihat bahwa ada upaya untuk menyeimbangkan (countervailing) pemahaman-pemahaman teologis di masa Adven. Pertama, umat Kristen menghormati hari Natal dengan persiapan melalui puasa sebagaimana mereka juga menghormati hari Paskah dan Pentakosta. Kedua, persiapan Natal dicirikan dengan suasana sukacita untuk menyambut inkarnasi Kristus. Dalam hal ini gagasan teologis tentang penghakiman dan keselamatan menjadi penghayatan umat dalam menyambut Natal. Karena itu pada masa Adven, 2 gagasan teologis tersebut terlihat, yaitu: Adven pertama ditandai dengan pembacaan Alkitab tentang penghakiman Allah dengan kedatangan Kristus kelak. Kemudian pada Adven IV, umat diajak untuk mempersiapkan diri menyambut kelahiran Kristus dengan penuh sukacita (G. R. O’Day and C. Hackett, 25-26).

Untuk jelasnya Gail R. O’Day dan Charles Hackett melakukan proses penafsiran pada masa Adven melalui bagan di bawah ini:

 

Minggu Adven I (Tahun C)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Yer. 33:14-16 Mzm. 25:1-9 I Tes. 3:9-13 Luk. 21:25-36
Pernyataan firman Allah, bahwa “waktunya akan datang”. Allah akan memenuhi janjiNya.

Dari keturunan Daud, Allah berjanji akan menumbuhkan sang Tunas Keadilan, sehingga akan melaksanakan kebenaran.

Ungkapan iman pemazmur yang mengangkat jiwanya kepada Allah.

Permohonan kepada Allah agar mengingat segala rahmat dan kasih-setiaNya. Karena itu pemazmur memohon agar Allah tidak mengingat akan dosa dan kesalahannya.

Tuhan menjadikan umat semakin bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang.

Umat dipanggil untuk tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah sampai pada waktu kedatangan Yesus, dengan semua orang kudus-Nya.

 

Kuasa dan benda-benda angkasa akan hancur.

Anak Manusia akan datang dalam awan-awan.

Tanda-tanda itu menyatakan bahwa kedatangan Kristus telah dekat.

Perumpamaan tentang pohon ara.

Langit dan bumi akan berlalu, tetapi firman Kristus akan kekal.

Umat dipanggil untuk berjaga-jaga dan tidak mengikuti keinginan duniawi.

Tema: Tema: Tema: Tema:
1.Nubuat akan datangnya pemerintahan dari keturunan Daud.

2. Dia akan memerin-tah dengan adil dan kebenaran

1.     Sikap percaya kepada Allah yang penuh rahmat.

2.     Kasih Allah kepada orang-orang yang berdosa, sehingga tersedia pengampun-an.

1.   Kristus akan datang dalam kemuliaanNya.

2.   Umat dipanggil hidup kudus dan tanpa cacat-cela.

3.   Sikap kasih sebagai wujud dari kekudusan.

1. Penghakiman dan penghukuman bagi seluruh bumi dan semesta.

2. Perlu selalu waspada dan tidak tergoda dengan tawaran dunia.

3. Firman Kristus akan kekal selama-lamanya.

Siklus Paskah

Pusat seluruh ibadah gereja adalah kebangkitan Kristus yang dirayakan pada hari raya Paskah. Karena itu siklus Paskah berpusat kepada kisah kematian dan kebangkitan Kristus. Yang mana wafat dan kebangkitan Kristus menjadi pusat dan jantung iman gereja. Seluruh ibadah pada hakikatnya berpusat kepada peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus. Ibadah hari Minggu dihayati sebagai “replika” ibadah Paskah. Sejak abad III, gereja telah melaksanakan suatu persiapan yang cukup panjang bagi calon baptis yang berpuncak pada Paskah subuh, sehingga mereka dibaptis pada hari Paskah. Selama masa Pra-Paskah, gereja menetapkan masa 40 hari agar umat berpuasa dan bertobat. Untuk itu umat melakukan: puasa, mengaku dosa, berdoa, memberi derma dan pemulihan hubungan dengan sesama. Dengan demikian di masa Pra-Paskah yang dimulai pada hari Rabu Abu, tekanan penafsiran leksionari adalah pada tindakan berpuasa, penyangkalan diri, mengaku dosa untuk memperoleh pengampunan dosa. Karena itu di masa Pra-Paskah selama 40 hari, umat berpartisipasi dan dibentuk rohaninya melalui kisah wafat dan kebangkitan Kristus. Karena itu masa Pra-Paskah sering disebut dengan istilah “Lent”. Arti kata “Lent” berasal dari bahasa Inggris Anglo-Saxon, yaitu: “lengthen” untuk menunjuk masa selama 40 hari bagi umat untuk mempersiapkan diri untuk menyambut peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus (G. R. O’Day and C. Hackett, 94). Tema dan ulasan pemberitaan firman pada masa ini dapat diperluas lingkupnya, misalnya: pendamaian tidak terbatas hanya kepada individu, tetapi juga kepada dunia (umat manusia). Artinya pada masa Pra-Paskah, umat diajak untuk merespon agar bagaimana dunia dalam setiap bidang membutuhkan pendamaian dengan Allah (G. R. O’Day and C. Hackett, 35).

Selain itu di masa Pra-Paskah, gereja merayakan Kristus yang masuk ke kota Yerusalem (Minggu Pra-Paskah VI). Puncak ibadah pada masa Pra-Paskah adalah Kamis Putih, sedang puncak seluruh ibadah gereja jatuh pada hari Paskah. Perayaan Kamis Putih sampai Paskah itu disebut dengan “Triduum” (“tiga hari”), yang terdiri dari: Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi (G. R. O’Day and C. Hackett, 121). Bacaan surat Rasuli pada hari Kamis Putih diambil dari I Kor. 11:23-26 di mana rasul Paulus memberi suatu instruksi yang berkenaan dengan ucapan atau perkataan Tuhan Yesus saat Perjamuan Malam Terakhir. Dari kesaksian rasul Paulus ini gereja diingatkan bahwa dasar pelaksanaan Ekaristi atau Perjamuan Kudus dimulai pada hari Kamis Putih. Sedang bacaan Injil pada hari Kamis Putih diambil dari Yoh. 13 juga berlatar-belakang Perjamuan Malam Terakhir (Yoh. 13:2), tetapi difokuskan kepada tindakan Tuhan Yesus yang membasuh kaki para muridNya. Dengan demikian, melalui ibadah Kamis Putih, gereja memiliki dasar teologis hal mengapa umat percaya melaksanakan sakramen Perjamuan Kudus dan melaksanakan pengajaran Kristus untuk saling membasuh kaki sesamanya (G. R. O’Day and C. Hackett, 95).

Masa hari Paskah sampai Pentakosta terdiri 50 hari. Masa 50 hari tersebut sesuai dengan masa perayaan umat Israel selama 7 minggu. Selama masa pasca Paskah (hari-hari Minggu sesudah Paskah), bacaan Alkitab Perjanjian Lama (bacaan pertama) diganti dengan kitab Kisah Para Rasul. Sebab kitab Perjanjian Lama secara prinsip tidak mengenal konsep kebangkitan. Selain itu bacaan leksionari pada masa sesudah Paskah mengajak umat untuk lebih khusus mendalami makna peristiwa kebangkitan Kristus. Pada akhir abad IV, hari Kenaikan Tuhan ditetapkan oleh gereja yaitu 40 hari setelah Paskah. Penetapan gereja ini untuk menanggapi kesaksian Injil Lukas tentang kenaikan Tuhan Yesus (Luk. 24:50). Dengan ibadah kenaikan Tuhan Yesus, semakin terlihat bahwa makna peristiwa Paskah tidak boleh dicampur dengan makna peristiwa Pentakosta. Yang mana Pentakosta menjadi puncak dari seluruh kisah historis tahun gerejawi. Karena itulah sebelum Pentakosta, umat mempersiapkan diri selama 40 hari yang dimulai sejak Kristus naik ke sorga. Dengan demikian, kita dapat melihat pola 40 hari sebelum Paskah yang dimulai dengan hari Rabu Abu, dan 40 hari sebelum Pentakosta yang dimulai dengan hari Kenaikan Tuhan Yesus.

Pola Penafsiran Siklus Paskah

Untuk menafsir dengan pola leksionari selama siklus Paskah, Gail R. O’Day dan Charles Hackett menyarankan para pembaca untuk melakukan pola penafsiran seperti pada siklus Natal (lihat halaman 8-9). Untuk itu Gail R. O’Day dan Charles Hackett menggunakan “bagan” untuk memudahkan dalam memahami setiap bacaan yang akan ditafsirkan. Fungsi bagan yang berisi keempat bacaan Alkitab adalah untuk membantu mengidentifikasi makna atau pesan teologis yang hendak disampaikan (G. R. O’Day and C. Hackett, 97) Identifikasi makna dari setiap bacaan tersebut kemudian dapat ditarik tema-tema tertentu. Contoh penafsiran pada hari Rabu Abu tahun A, Gail R. O’Day dan Charles Hackett dengan membuat dan menggunakan bagan sebagai berikut:

Rabu Abu (Tahun A)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Yl. 2:1-2, 12-17 Mzm. 51:1-17 II Kor. 5:20b – 6:10 Mat. 6:1-6, 16-21
Hari Tuhan akan datang”.

 

“Ciptakanlah dalam diriku suatu hati yang bersih”.

 

“Didamaikan dengan Allah”.

 

 

Waspada dengan sikap demonstratif saat melakukan kesalehan”.

 

Kedatangan Tuhan segera tiba. Tuhan akan menghakimi umat manusia dalam bentuk kegelapan yang dahsyat dan api yang memusnahkan. Untuk itu umat dipanggil mengoyakkan hati sebagai wujud sikap pertobatan, bukan pertobatan yang ritualistik seperti mengoyakkan baju. Ungkapan penyesalan dan pertobatan Daud yang jatuh dalam perzinahan dengan Batsyeba.

Daud memohon rahmat Allah yang lebih besar dari pada dosanya, sehingga dosanya menjadi tahir. Karena itu Daud memohon agar Allah tidak menghukumnya, tetapi menganugerahkan pengampunanNya.

Pendamaian dengan Allah terjadi karena karya penebusan Kristus.

Untuk rasul Paulus menasihati umat agar tidak menyia-nyiakan kasih-karunia Allah. Sebaliknya umat dipanggil untuk mewujudkan karya pendamaian Allah tersebut dengan sabar saat menghadapi penderitaan, kesukaran dan kesesakan.

Salah satu bagian dari khotbah Yesus di atas bukit.

Umat percaya diingatkan bagaimana saat mereka memberi sedekah, berdosa dan berpuasa. Mereka telah mendapat upah saat mereka mempertontonkan di hadapan orang banyak untuk memperoleh pujian.

Tema: Tema: Tema: Tema:
1.   Pertobatan komunal dalam ibadah dibutuhkan untuk menghadapi penghakiman yang mendekat.

2.   Penyesalan dari dalam hati kepada Allah, bukan sekedar sikap ritualistik.

3.   Allah adalah pemurah dan akan mengampuni umatNya.

1. Pertobatan dan pengakuan dosa sebagai dasar yang mengawali umat untuk memohon pengampunan.

2. Allah mendengar doa-doa umatNya.

3. Allah adalah pemurah dan mengaruniakan pengampunan dan kemungkinan hidup baru.

1.     Kasih-karunia Allah membuat mungkin pelayanan pendamaian.

2.     Waktu yang tepat bagi umat untuk menanggapi kasih-karunia Allah.

1.     Tindakan yang lahir dari hati secara tersembunyidan bukan sikap yang demonstratif.

2.     Allah yang pemurah akan menganugerah-kan berkatNya atas orang-orang yang benar.

Setelah melakukan langkah penafsiran tersebut di atas, Gail R. O’Day dan Charles Hackett menjelaskan proses pemahaman teologis yang lebih mendalam. Misalnya tema Rabu Abu pada bacaan pertama tentang: “Hari Tuhan akan datang” menunjuk kepada kehidupan komunitas umat (Yl. 2:16), bukan sekedar kehidupan umat secara personal. Karena itu pertobatan yang diharapkan Allah adalah suatu pertobatan yang struktural dalam kehidupan persekutuan umat. Pertobatan secara struktural tersebut bukan suatu pertobatan yang dangkal di permukaan luar saja, tetapi suatu sikap pertobatan yang lahir dari hati yang hancur. Dengan sikap demikian, maka anugerah pengampunan Allah akan dinyatakan.

Bagan tafsiran pada masa Minggu Pra-Paskah, terlihat dari contoh bagan di bawah ini:

Minggu Pra-Paskah I (Tahun A)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Kej. 2:15-17, 3:1-7 Mzm. 32 Rom. 5:12-19 Mat. 4:1-11
“Perintah untuk tidak makan buah pengetahuan baik dan jahat”

 

“Berbahagialah orang yang diampuni dosanya”

 

“Kasih-karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran manusia”.

 

“Yesus dibawa oleh Roh untuk dicobai oleh Iblis”

 

Allah menempatkan manusia pertama di taman Eden dengan satu perintah untuk tidak makan buah pengetahuan baik dan jahat.

Tetapi ular membujuk Hawa untuk melanggar firman Allah.

Pemazmur mengalami penderitaan karena dosanya. Untuk itu pemazmur mengakui dosanya di hadapan Allah. Pengampunan Allah mendatangkan sukacita. Rasul Paulus memberi penjelasan terhadap makna kitab Kej. 3, di mana dosa Adam membawa kematian bagi seluruh umat manusia. Tetapi kasih-karunia Allah di dalam Kristus mendatang keselamatan bagi seluruh umat. Yesus mengalami pencobaan dari: keinginan makan, kemuliaan diri sendiri dan kuasa politis atas kerajaan dunia.

Namun Yesus menolak seluruh pencobaan Iblis tersebut dengan bersandar penuh kepada ketaatan akan firman Tuhan.

Tema: Tema: Tema: Tema:
1.    Seberapa taat manusia kepada firman Tuhan saat mengalami pencobaan dan godaan.

2.    Ketaatan kepada firman Allah akan meneguhkan relasi umat dengan Allah.

3.    Firman Tuhan akan memberi kehidupan, bukan kematian.

1.   Pengampun-an Allah hanya tertuju kepada umat yang hidupnya jujur dan tulus.

2.   Kasih yang tidak berkesudahan akan menaungi umat yang percaya kepada Allah.

1.Berbagai bentuk ketidaktaat-an manusia merupakan tanda dari kuasa dosa.

2. Kasih-karunia Allah dinyatakan di tengah-tengah realita umat yang tidak taat dan berada dalam kuasa dosa.

3. Ketaatan umat dimungkin-kan melalui ketaatan Kristus.

1. Melalui pencobaan dan godaan akan terlihat seberapa jauh kita taat dan mengasihi Allah.

2.Sikap taat merupakan cermin kualitas dari hubungan kita dengan Allah.

3.Firman Tuhan memberi kehidupan, bukan kematian.

Pola Penafsiran Pada Masa Minggu Biasa

Setelah Pentakosta, kalender gerejawi masih berlanjut. Sebab setelah Pentakosta, gereja merayakan Minggu Biasa sekitar 6 bulan sampai menjelang minggu Adven. Tepatnya setelah Pentakosta, gereja merayakan Minggu Trinitas sebagai awal Masa Biasa dan akan berakhir pada Minggu Kristus Raja, yaitu satu minggu sebelum Minggu Adven. Warna yang digunakan selama Masa Biasa adalah Hijau. Warna hijau untuk menunjuk makna kehidupan yang tercermin dalam warna daun tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian, pada Masa Minggu Biasa[6], gereja bergerak dari fokus sejarah keselamatan ke arah masa ketaatan umat terhadap firmanNya. Umat diajak untuk memaknai dalam kehidupan sehari-hari dalam menyongsong kedatangan Kristus yang kedua dengan ketaatan. Namun harus diingat bahwa pada Masa Minggu Biasa bukan dimaksudkan agar umat semata-mata terarah kepada kedatangan Kristus. Karena pada kedatangan Kristus yang kedua, Kristus akan menghakimi orang yang hidup dan mati, serta akan membawa kepada perubahan kosmik. Jadi kedatangan Kristus pada hakikatnya untuk membawa pemerintahan Allah yang penuh damai, kasih dan hidup yang abadi. Sebab sejarah dan kehidupan yang diciptakan Allah bergerak secara linear, di mana Kristus datang, mati dan bangkit, serta akan datang yang kedua kalinya. Sebagaimana Pengakuan Iman Nicea menyatakan: “dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati”.

Ada 2 periode di masa Minggu Biasa, yaitu:

  • Minggu Biasa yang terjadi di antara Epifani dan Rabu Abu (transisi dari siklus Natal ke Minggu Pra-Paskah). Dalam hal ini minggu-minggu setelah Epifani sampai Rabu Abu disebut dengan “Minggu-Minggu sesudah Epifani”.
  • Minggu Biasa yang terjadi setelah Pentakosta (transisi dari siklus Paskah ke masa Adven).

Kalau kita memperhatikan dengan cermat, maka masa biasa selalu jatuh pada hari Minggu. Sebab hari Minggu dihayati sebagai jantung ibadah iman Kristen. Dalam hal ini gereja merayakan kebaktian hari Minggu karena mengingat dan mengenang peristiwa kebangkitan Kristus. Karena itu pada hari Minggu atau masa Biasa, gereja dapat menggunakan untuk merefleksikan imannya kepada Kristus yang bangkit di tengah-tengah pergumulan kehidupan sehari-hari.

Apabila pembacaan leksionari di siklus Natal dan siklus Paskah merupakan pembacaan yang dipilih (lectio selecta) sesuai dengan tema “perayaan gerejawi”, maka tidaklah demikian pada Masa atau Minggu Biasa. Pilihan bacaan pada Minggu Biasa difokuskan kepada kesinambungan suatu perikop ke perikop dalam satu kitab yang sama. Karena itu pada Minggu atau Masa Biasa, secara sengaja dipilih daftar pembacaan dari suatu perikop yang sinambung dengan perikop berikutnya. Pola pembacaan pada Minggu atau Masa Biasa menjadi pembacaan perikop yang sinambung (lectio continua). Sebenarnya pola pembacaan sinambung tersebut telah dilakukan dalam ibadah sinagoge. Struktur pembacaan leksionari dalam agama Yudaisme cukup sederhana. Pembacaan di sinogoge umumnya menggunakan 2 pembacaan, yaitu pembacaan dari Torah (hukum Taurat) dan pembacaan dari kitab Nabi-nabi (Nebiim), yang disebut dengan “haphtarah” (konklusi/kesimpulan) sebab dibacakan pada akhir ibadah. Dalam hal ini Torah dibacakan secara sinambung, yaitu dari satu kitab ke kitab berikutnya. Dari satu kitab tersebut dibagi menjadi beberapa unit, sehingga berakhir pada bagian Alkitab tertentu.

Pola yang dilakukan di sinagoge tersebut juga dilakukan oleh gereja perdana. Origenes dan Johanes Chrysostomos juga menggunakan pembacaan secara sinambung untuk pemberitaan firmannya, yaitu dari Injil Yohanes. Tujuan utama dari pembacaan secara sinambung dalam ibadah untuk pemberitaan firman umumnya adalah untuk memberi pengajaran, dan katekesasi. Melalui pembacaan sinambung tersebut, pengkhotbah dapat memberi pengajaran beribadah khususnya pengajaran firman. Kisah-kisah yang disaksikan oleh Alkitab dapat menjadi lensa untuk memahami ibadah. Sebab melalui pembacaan Alkitab secara sinambung, umat dimampukan untuk memahami hubungan inkarnasi Kristus dan karya penebusanNya dalam hari raya gerejawi serta respon umat pada masa Minggu Biasa.

Gail R. O’Day dan Charles Hackett menjelaskan tentang bagaimana “The Revised Common Lectionary” (RCL) menggunakan 2 pola untuk bacaan dari Perjanjian Lama. Untuk hari Minggu antara Epifani dan Rabu Abu, The RCL memilih bacaan Perjanjian Lama yang memiliki arti yang dekat dengan Injil. Hubungan ide teologis yang dekat tersebut dapat kita lihat pada Minggu Yesus dibaptis, yaitu:

Minggu Yesus Dibaptis

Perjanjian Lama Antar Bacaan Surat Rasuli Injil
Yes. 42:1-9 Mzm. 29 Kis. 10:34-43 Mat. 3:13-17

Kalau kita memperhatikan dengan teliti, maka keempat bacaan pada Minggu Yesus Dibaptis yang dirayakan setelah Minggu Epifani, maka kita akan menjumpai benang merah atau hubungan makna yang sangat berkaitan satu dengan yang lain. Bagan tersebut di atas, dapat kita buat dengan gambaran sebagai berikut.

Minggu Yesus Dibaptis

Bacaan

Tema

Yes. 42:1-9 Hamba Tuhan yang membawa keadilan
Mzm. 29 Suara Allah di atas air
Kis. 10:34-43 Pelayanan Yesus setelah baptisanNya
Mat. 3:13-17 Kristus dilantik sebagai hamba Allah

Sedang untuk hari Minggu sesudah Pentakosta, bacaan Perjanjian Lama lebih ditekankan kepada hubungan konteks yang lebih luas. Karena itu hubungan bacaan Perjanjian Lama dengan Injil tidak memiliki hubungan makna dan benang merah teologis. Dengan kata lain, antara bacaan Perjanjian Lama, surat Rasuli dan Injil pada masa Minggu Biasa umumnya bersifat mandiri dan tidak saling memiliki hubungan makna teologis. Karena itu penafsir tidak perlu memaksakan untuk mencari hubungan teologis di antara ketiga bacaan tersebut. Sebab ketiga bacaan tersebut memiliki perspektif teologis yang berbeda-beda sesuai dengan konteksnya. Dengan demikian pada masa Minggu Biasa, umat dapat melakukan suatu eksplorasi dan pendalaman penafsiran terhadap suatu teks di bacaan Perjanjian Lama, atau di bacaan Surat Rasuli, atau juga di bacaan Injil.

Perhatikanlah bagan pembacaan Leksionari yang diambil dari Minggu setelah Pentakosta, yaitu Proper 6 tahun B, sebagai berikut.

Perjanjian Lama

Antar Bacaan Surat Rasuli

Injil

I Sam. 15:34 – 16:13 Mzm. 20 II Kor. 5:6-10, (11-13), 14-17 Mark. 4:26-34

Keempat bacaan tersebut di atas jelas tidak memiliki hubungan benang merah teologis. Dalam hal ini perikop di Perjanjian Lama hanya memiliki hubungan dengan Mzm. 20 karena keduanya diatur sebagai bagian yang saling melengkapi. Sedang ide teologis dari Perjanjian Lama sama sekali tidak terkait dengan Surat Rasuli dan kitab Injil. Perhatikanlah bagan penjelasan tema sebagai berikut.

Minggu Biasa, Proper 6 Tahun B

Bacaan Tema
I Sam. 15:34 – 16:13 Daud diurapi oleh Samuel
Mzm. 20 Kemenangan bagi orang yang diurapi Allah
II Kor. 5:6-10, (11-13), 14-17 Dalam Kristus, terciptalah ciptaan baru
Mark. 4:26-34 Perumpamaan tentang biji sesawi

Untuk itu sebaiknya agar umat dapat memahami hubungan yang sinambung antara suatu perikop dengan perikop berikutnya di masa Minggu Biasa. Misalnya umat menginginkan pendalaman penafsiran dari Perjanjian Lama, maka janganlah pada hari Minggu berikutnya menggunakan bacaan dari Surat Rasuli atau Injil. Hubungan semisinambung pada masa Minggu Biasa terlihat dalam bagan di bawah ini, yang diambil dari Minggu setelah Pentakosta, yaitu mulai Minggu Proper 6 – 10 sebagai contoh:

Perjanjian Lama

Antar Bacaan Surat Rasuli

Injil

ISam. 15:34 – 16:13 Mzm. 20 2Kor. 5:6-10, (11-13), 14-17 Mark. 4:26-34
ISam. 17:(1a, 4-11, 19-23), 32-49 Mzm. 9:9-20 2Kor. 6:1-13 Mark. 4:35-41
2Sam. 1:1, 17-27 Mzm. 130 2Kor. 8:7-15 Mark. 5:21-43
2Sam. 5:1-5, 9-10 Mzm. 48 2Kor. 12:2-10 Mark. 6:1-13
II Sam. 6:1-5, 12b-19 Mzm. 24 Ef. 1:3-14 Mark. 6:14-29

 

Hubungan makna teologis dari daftar bacaan tersebut bukan secara horisontal, tetapi secara vertikal. Kita dapat melihat bahwa bacaan dari Perjanjian Lama dari Minggu ke Minggu berhubungan erat, misalnya perikop I Sam. 15:34 – 16:13 dengan I Sam. 17:(1a, 4-11, 19-23), 32-49, II Sam. 1:1, 17-27, dan seterusnya. Demikian pula surat Rasuli, yaitu dari perikop II Kor. 5:6-10, (11-13), 14-17 terdapat benang merah dengan Minggu berikutnya dengan perikop II Kor. 6:1-13, dan seterusnya. Hubungan benang merah teologis tersebut juga terdapat dalam bacaan Injil, yaitu dari perikop Mark. 4:26-34 berhubungan erat dengan hari Minggu berikutnya dengan perikop Mark. 4:35-41, dan seterusnya. Jadi kalau bacaan dari Perjanjian Lama diambil dari suatu perikop di kitab I Samuel, sebaiknya secara konsisten pada hari Minggu selanjutnya juga menggunakan dari kitab I Samuel dengan perikop berikutnya sampai menjelang masa Adven. Sebaliknya bila umat menginginkan pendalaman penafsiran dari Surat Rasuli, sebaiknya juga konsisten menggunakan Surat Rasuli sampai menjelang masa Adven. Dengan pola penafsiran yang demikian, umat akan memperoleh kekayaan makna dan pendalaman teologis dari suatu konteks Alkitab tertentu, yaitu dari konteks kitab di Perjanjian Lama, atau suatu konteks yang lebih luas dari salah satu Surat Rasuli, atau suatu konteks yang lebih luas dari salah satu kitab Injil.

Tanggapan kritis terhadap buku “Preaching the Revised Common Lectionary”

Kita telah melihat bagaimana Gail R. O’Day dan Charles Hackett berhasil menyajikan suatu ulasan yang komprehensif, sehingga pembaca dimampukan untuk memahami leksionari secara utuh dan ekumenis. Gail R. O’Day dan Charles Hackett juga berhasil membuka mata bahwa melalui leksionari, umat menemukan identitas dirinya dalam arus tradisi kekristenan yang telah terjalin berabad-abad lamanya. Karena itu melalui leksionari, umat dimampukan untuk menghayati firman Tuhan secara utuh dengan memperhatikan kalender tahun gerejawi. Namun perlu diakui bahwa buku Gail R. O’Day dan Charles Hackett sebagai buku panduan belum memperhatikan aspek-aspek berikut, yaitu:

  1. Belum memperlihatkan hubungan atau benang merah teologis:

Gail R. O’Day dan Charles Hackett secara umum telah membantu para penafsir atau pengkhotbah untuk menerapkan pola penafsiran secara leksionaris. Melalui “bagan tafsir”, Gail R. O’Day dan Charles Hackett membantu para penafsir untuk melihat secara cepat gambaran arti dari tiap-tiap perikop yang berasal dari Perjanjian Lama, Mazmur Antar Bacaan, surat Rasuli dan Injil. Namun sayangnya, Gail R. O’Day dan Charles Hackett tidak menunjukkan secara rinci bagaimana hubungan teologis atau benang merah tafsir dari tiap-tiap perikop dalam bagan tafsir yang disajikan. Gail R. O’Day dan Charles Hackett hanya membuat bagan dengan pola sebagai berikut:

  • Penjelasan singkat tentang ide atau pesan teologis dari tiap-tiap perikop
  • Pengajuan tema yang berisi pendalaman makna.

Tetapi tentang bagaimana hubungan dari hasil pendalaman makna tiap-tiap perikop sepenuhnya diserahkan kepada para pembaca. Padahal dalam pola pembacaan leksionari hari raya gerejawi sangatlah penting suatu buku pedoman (a guide) mampu memperlihatkan hubungan makna dari tiap-tiap perikop. Khususnya bacaan leksionari pada hari raya gerejawi yang telah disusun oleh the RCL, sehingga pembaca dapat melihat hubungan teologis yang kuat antara bacaan Injil dengan bacaan dari Perjanjian Lama. Sebab pusat atau fokus dari pembacaan leksionari pada hari raya gerejawi adalah kitab Injil, dan pada sisi lain telah dirancang dalam hubungan teologis antara Injil dengan bacaan dari Perjanjian Lama. Barulah setelah itu, hasil tafsiran yang merangkai hubungan antara kitab Injil dengan bacaan Perjanjian Lama dilihat dalam hubungannya dengan hasil tafsiran dari surat Rasuli.

Untuk memenuhi “kekurangan” tersebut, perkenankanlah saya membantu untuk membuat benang merah teologis dari tiap-tiap bagan hari raya gerejawi. Karena itu pada bagian lampiran yang terpisah saya akan membuat tafsiran ringkas dari ketiga bacaan, berupa hubungan makna teologis yang memperlihatkan benang merah tafsiran. Yang mana melalui hubungan benang merah teologis tersebut akan terlihat seperti susunan suatu “mosaic”, sehingga dapat membentuk suatu gambar yang utuh dan indah [7] (Lihat: Lampiran).

  1. Pola penafsiran pada masa Minggu Biasa dengan pola semisinambung saja:
    Gail R. O’Day dan Charles Hackett telah mengulas penafsiran leksionari pada Minggu Biasa dengan pola semisinambung. Namun tampaknya Gail R. O’Day dan Charles Hackett sedikitpun tidak mengulas penafsiran leksionari pada Minggu Biasa setelah Pentakosta dengan pola komplementer. Padahal dalam buku Consultation on Common Texts. 2005. Revised Common Lectionary, Daily Readings. Minneapollis: Fortress Press memiliki 2 format pada masa Minggu Biasa, yaitu pola “semicontinous” (semisinambung) dan pola “complementary” (komplementer). Artinya pembacaan leksionari pada masa Minggu Biasa setelah Pentakosta senantiasa menawarkan 2 pola yang dapat dipilih, yaitu pola semisinambung ataukah pola kompementer. Hubungan semisinambung pada masa Minggu Biasa tahun B terlihat dalam bagan di bawah ini, yang diambil dari Minggu setelah Pentakosta, yaitu mulai Minggu Proper 6 – 10 sebagai contoh:

Pola Semisinambung Proper 6-10 Tahun B

Perjanjian Lama Antar Bacaan Surat Rasuli Injil
1Sam. 15:34 – 16:13 Mzm. 20 II Kor. 5:6-10, (11-13), 14-17 Mark. 4:26-34
1Sam. 17:(1a, 4-11, 19-23), 32-49 Mzm. 9:9-20 2Kor. 6:1-13 Mark. 4:35-41
2Sam. 1:1, 17-27 Mzm. 130 2Kor. 8:7-15 Mark. 5:21-43
2Sam. 5:1-5, 9-10 Mzm. 48 2Kor. 12:2-10 Mark. 6:1-13
2Sam. 6:1-5, 12b-19 Mzm. 24 Ef. 1:3-14 Mark. 6:14-29

Hubungan makna teologis dari daftar bacaan tersebut bukan secara horisontal, tetapi secara vertikal. Artinya dalam pola semisinambung bacaan pertama dari Perjanjian Lama memiliki urutan perikop dari suatu kitab tertentu. Yang mana urutan perikop tersebut selama masa Minggu Biasa relatif konsisten dalam suatu kitab Perjanjian Lama. Karena itu hubungan antara bacaan pertama (Perjanjian Lama) dengan Injil selama masa Minggu Biasa cenderung longgar dan tidak selalu memiliki hubungan atau benang merah teologis. Tetapi tidaklah demikian halnya dengan pola komplementer. Sebab pola komplementer yang telah disusun the RCL justru memperlihatkan hubungan horisontal, yaitu antara bacaan kitab Injil dengan bacaan dari Perjanjian Lama. Pola penafsiran di Minggu Biasa dengan komplementer pada prinsipnya sama seperti pola penafsiran pada hari raya gerejawi, di mana Injil sebagai pusat pemberitaan firman. Lalu hasil tafsiran Injil tersebut ditempatkan dalam hubungannya dengan hasil tafsir Perjanjian Lama.

Untuk itu saya akan membuat bagan bacaan leksionari dengan pola komplementer untuk Minggu Proper 6 – 10 tahun B dari The RCL, sebagai berikut.

Perjanjian Lama

Antar Bacaan Surat Rasuli

Injil

Yeh. 17:22-24 Mzm. 92:1-4, 12-15 II Kor. 5:6-10, (11-13), 14-17 Mark. 4:26-34
Ayb. 38:1-11 Mzm. 107:1-3, 23-32 2Kor. 6:1-13 Mark. 4:35-41
Rat. 3:23-33 Mzm. 30 2Kor. 8:7-15 Mark. 5:21-43
Yeh. 2:1-5 Mzm. 123 2Kor. 12:2-10 Mark. 6:1-13
Am. 7:7-15 Mzm. 85:8-13 Ef. 1:3-14 Mark. 6:14-29

Kalau kita perhatikan bagan bacaan tersebut di atas, maka bagian bacaan Perjanjian Lama yang mengalami perubahan. Bacaan dari Perjanjian Lama dari Minggu ke Minggu dalam bagan ini sama sekali tidak sinambung. Misalnya Minggu Proper 6, bacaan diambil dari Yeh. 17:22-24. Minggu Proper 7, bacaan diambil dari Ayb. 38:1-11. Minggu Proper 8, bacaan diambil dari Rat. 3:23-33. Minggu Proper 9, bacaan diambil dari Yeh. 2:1-5. Minggu Proper 10, bacaan diambil dari Am. 7:7-15, dan seterusnya. Karena itu kitab Mazmur sebagai antar bacaan yang menanggapi bacaan dari Perjanjian Lama secara otomatis mengalami perubahan atau penyesuaian. Sedangkan bacaan Injil dan surat Rasuli tidak berubah. Bacaan Injil dan surat Rasuli selalu sama, baik dalam pola semisinambung maupun dalam pola komplementer.

Dari uraian di atas, kita dapat melihat “The Revised Common Lectionary” untuk masa Minggu Biasa (Ordinary Times) memiliki 2 pola, yaitu: pola semisinambung dan pola komplementer. Dari bacaan Minggu Proper 6 tahun B dapat dibuat bagan sebagai berikut.

I Samuel 15:34 – 16:13à semisinambung Yehezkiel 17:22-24à komplementer
Mazmur 20 Mazmur 92:1-4, 12-15

 2 Korintus 5:6-10, (11-13), 14-17

Markus 4:26-34

Alasan the RCL membuat perubahan di bagian Perjanjian Lama dan Mazmur pada Minggu Biasa dengan pola komplementer adalah karena Injil ditempatkan sebagai pusat, sehingga bacaan Perjanjian Lama secara sengaja dicari hubungan makna teologis yang sesuai dengan pesan dari kitab Injil.

Dengan menawarkan 2 pola pada masa Minggu Biasa, maka melalui pembacaan leksionari, the RCL telah memberikan alternatif yang kaya bagi jemaat untuk merespon masa “the Narrative Times” yaitu masa pengisahan tentang sejarah keselamatan Allah yang disaksikan secara khusus pada hari raya Gerejawi. Umat dapat memilih suatu pola misalnya pola semisinambung dalam suatu kurun tertentu ataukah memilih pola komplementer dalam suatu kurun waktu yang lain. Kedua pola tersebut memiliki struktur 4 bacaan dari Alkitab dan saling terkait. Jadi jelaslah apapun pilihannya yaitu pola semisinambung ataukah pola komplementer, umat diajak memahami pada masa Minggu Biasa suatu pembacaan Alkitab yang utuh, sinambung dan memiliki suatu fokus yang jelas. Prinsip pembacaan yang utuh, sinambung, dan memiliki fokus yang jelas tersebut juga terjadi untuk pembacaan pada hari raya gerejawi. Karena itu sangatlah bijaksana jikalau gereja untuk pembangunan spiritualitas senantiasa menggunakan pembacaan leksionari secara konsisten untuk pemberitaan firmannya.

  1. Fungsi keempat bacaan di Minggu Biasa dengan pola semisinambung:

Sebagaimana telah dinyatakan dalam poin 2, yaitu bahwa dalam pola semisinambung, bacaan pertama dari Perjanjian Lama memiliki urutan perikop dari suatu kitab tertentu. Yang mana urutan perikop tersebut selama masa Minggu Biasa setelah Pentakosta relatif konsisten dalam suatu kitab Perjanjian Lama. Karena itu hubungan antara bacaan pertama (Perjanjian Lama) dengan Injil selama masa Minggu Biasa cenderung longgar dan tidak selalu memiliki hubungan atau benang merah teologis. Karena itu pertanyaan yang muncul adalah: jikalau hubungan antara bacaan pertama (Perjanjian Lama) dengan Injil selama masa Minggu Biasa dalam pola semisinambung longgar dan tidak selalu terkait, mengapa gereja setiap hari Minggu harus membacakan keempat bacaan sesuai pola leksionari? Pola pembacaan leksionari pada masa Minggu Biasa setelah Pentakosta secara semisinambung dianggap sia-sia. Artinya dari keempat bacaan yang tersedia, hanya 1 bacaan saja yang diuraikan secara eksegetis. Jadi ketiga bacaan yang lain tidak diuraikan dan dijelaskan. Padahal jemaat secara umum beranggapan bahwa perikop yang dibaca seharusnya ditafsirkan atau dijelaskan. Atas pertanyaan tersebut, saya berpendapat bahwa ketiga bacaan Alkitab yang tidak ditafsirkan pada Minggu Biasa setelah Pentakosta dengan pola semisinambung karena liturgi Minggu yang menggunakan leksionari pada prinsipnya ingin konsisten dengan struktur leksionari, yaitu: bacaan pertama dari Perjanjian Lama, Antar Bacaan, Surat Rasuli dan Injil. Selain itu ketiga bacaan yang tidak ditafsirkan tersebut dapat menjadi “penguatan memori” bagi jemaat tentang kesaksian karya keselamatan Allah. Makna pemberitaan firman tidak harus hanya berupa khotbah, tetapi juga melalui pembacaan Alkitab. Karena itu pembacaan Alkitab perlu dilakukan oleh para lektor yang terlatih atau disiapkan terlebih dahulu dengan sungguh-sungguh.

  1. Pola Leksionari belum mengakomodasi beberapa pergumulan jemaat lokal

Beberapa jemaat menolak menggunakan pola pembacaan leksionari karena mereka menganggap pola pembacaan leksionari menutup kemungkinan varian atau kreasi yang lain, seperti: bulan keluarga dan bulan Pekabaran Injil. Padahal jemaat-jemaat tersebut beranggapan bahwa di tengah-tengah kompleksitias masalah, kita perlu memberi tempat yang khusus untuk membahas soal pergumulan dan permasalahan dalam keluarga seperti: pendidikan anak, hubungan suami-istri, karier, persaingan di dunia kerja, pengelolaan keuangan, dan sebagainya. Demikian pula bagi beberapa jemaat menganggap perlu gereja memberi perhatian khusus kepada pemberitaan Injil terhadap suku-suku yang terasing dan hubungan antar agama. Karena itu diharapkan melalui bulan Pekabaran Injil, jemaat dapat dimotivasi dan diberdayakan untuk memberi perhatian khusus kepada pemberdayaan suku-suku terasing dan jalinan kerja sama yang baik dengan agama-agama lain. Jadi dengan pola pembacaan leksionari, buku Gail R. O’Day dan Charles Hackett pada satu pihak dianggap berhasil membawa umat dalam perspektif teologis yang ekumenis, tetapi pada pihak lain secara lokal belum berhasil menawarkan suatu varian lain sesuai kebutuhan jemaat lokal. Hal ini terjadi karena Gail R. O’Day dan Charles Hackett ingin konsisten dengan pola pembacaan leksionari yang telah disusun oleh “The Consultation on Common Texts” dalam “The Revised of Common Lectionary”.

 

Daftar Acuan

Consultation on Common Texts. Revised Common Lectionary, Daily Readings. 2005, Minneapollis: Fortress Press

 

Bergant, Dianne dan Richard Fragomeni. Preaching the New Lectionary (Year C). 2000. Collegeville, Minnesota: the Order of Saint Benedict, Inc.

 

O’Day, Gail R. dan Charles Hackett. Preaching the Revised Common Lectionary (A Guide). 2007. Nashville: Abingdon Press

Morris, Leon. The New Testament and the Jewish Lectionaries. 1964. London: The Tyndale Press

 

Bonneau, Normand. Sunday Lectionary (Ritual Word = Paschal Shape). 1998. Collegeville, Minnesota: The Order of St. Benedict, Inc.

 

Bower¸ Peter C. (peny.). Handbook for the Revised Common Lectionary. 1996. Louisville, Kentucy: Westminster John Knox Press

Artikel:
Thomas A. Dipko. 2007. “An Overview of Revised Common Lectionary Daily Readings”. Consultation on Common Texts: Fortress Press May 2007

Website:
Consultation on Common Texts. http://www.commontexts.org/rcl/index.html (diakses 6 September 2011)

 

LAMPIRAN:

Kristus Raja (tahun B)

 

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
2Sam. 23:1-7 Mzm. 132:1-13, (14-19) Why. 1:4b-8 Yoh. 18:13-37
Kata-kata terakhir raja Daud.

Roh Allah berbicara melalui Daud.

Sebab Daud diurapi Allah, dan mazmur-mazmurnya disukai umat.

Telah terjalin kokoh perjanjian Allah dengan Daud.

Hukuman bagi orang-orang yang hidup dursila.

Janji Allah kepada Daud bahwa seorang anaknya akan duduk menjadi raja.

Untuk itu Allah telah memilih Sion sebagai tempat kedudukanNya.

Ucapan berkat, yaitu kasih-karunia dari Allah yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya,

dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi.

Kristus yang menjadikan umatNya suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya.

Yesus berdiri di hadapan Pilatus. Dia bertanya kepada Yesus, “Apakah Dia raja orang Yahudi?” Pernyataan Yesus bahwa kerajaanNya bukan berasal dari dunia ini. Pilatus bertanya yang kedua kali, “Apakah Yesus adalah raja?” Yesus menjawab bahwa Dia lahir dan datang ke dalam dunia untuk menyatakan kebenaran.
Tema: Tema: Tema: Tema:
1.   Tipologi Daud yang kelak akan menurunkan Yesus.

2.   Perjanjian kekal Allah dengan Daud akan keturunannya yang menjadi raja.

3.   Hukuman dan kebinasaan bagi orang-orang yang fasik dan melakukan kejahatan.

1.   Tipologi Daud sebagai raja.

2.   Kediaman Allah di tengah-tengah umatNya.

3.   Janji Allah bahwa keturunan Daud sebagai raja yang mana kerajaanNya akan kekal.

4.   Orang-orang yang memusuhi Dia akan dikenakan pakaian yang memalukan.

1.  Allah yang maha-kuasa telah menjadikan Kristus sebagai penguasa segala sesuatu.

2.  Kristus menjadi umatNya sebagai kerajaan para imam.

1.   Sifat paradoks dari kerajaan Kristus, sebab bukan berasal dari dunia atau kuasa manusia.

2.   Kristus sebagai Raja datang untuk menyata-kan kebenaran.

Benang Merah Tafsir:

Yesus mengakui bahwa Dia memiliki kerajaan. Ini berarti Yesus Kristus memiliki kuasa, bahkan berkuasa atas segala sesuatu. Karena Dia adalah Raja. Namun pada sisi lain, kerajaan dan kekuasaanNya sebagai Raja tidaklah sama dengan pola dunia. Bahkan Kristus dan kerajaanNya tidak sama dengan Daud, bapa leluhurNya. Dalam hal ini Daud dijadikan sebagai tipologi Kristus, tetapi Kristus memiliki keluhuran dan martabat yang tak tertandingi. Bilamana kerajaan Daud atau kerajaan dunia ini bersifat temporal, maka kerajaan Kristus yang berasal dari Allah adalah kerajaan yang kekal. Karena itu seharusnya setiap umat hidup menurut Kristus. Tipologi yang sejati adalah bilamana setiap umat bersedia hidup seperti Kristus (imitatio Christi). Dengan pola spiritualitas yang demikian, setiap umat percaya akan hidup sebagai kerajaan imam-imam Allah, yang menjunjung kekudusan, dan menjauhkan diri dari segala kejahatan.

Selanjutnya saya akan melakukan proses penafsiran dan hubungan makna teologis (benang merah tafsir) pada masa Adven dan Natal serta Minggu pertama setelah Natal melalui bagan tafsir di bawah ini:

 

Minggu Adven I (Tahun C)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Yer. 33:14-16 Mzm. 25:1-9 I Tes. 3:9-13 Luk. 21:25-36
Pernyataan firman Allah, bahwa “waktunya akan datang”. Allah akan memenuhi janjiNya.

Dari keturunan Daud, Allah berjanji akan menumbuhkan sang Tunas Keadilan, sehingga akan melaksanakan kebenaran.

Ungkapan iman pemazmur yang mengangkat jiwanya kepada Allah.

Permohonan kepada Allah agar mengingat segala rahmat dan kasih-setiaNya. Karena itu pemazmur memohon agar Allah tidak mengingat akan dosa dan kesalahannya.

Tuhan menjadikan umat semakin bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang.

Umat dipanggil untuk tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah sampai pada waktu kedatangan Yesus, dengan semua orang kudus-Nya.

 

Kuasa dan benda-benda angkasa akan hancur.

Anak Manusia akan datang dalam awan-awan.

Tanda-tanda itu menyatakan bahwa kedatangan Kristus telah dekat.

Perumpamaan tentang pohon ara.

Langit dan bumi akan berlalu, tetapi firman Kristus akan kekal.

Umat dipanggil untuk berjaga-jaga dan tidak mengikuti keinginan duniawi.

Tema: Tema: Tema: Tema:
1. Nubuat akan datangnya pemerintahan dari keturunan Daud.

2. Dia akan memerin-tah dengan adil dan kebenaran

1.   Sikap percaya kepada Allah yang penuh rahmat.

2.   Kasih Allah kepada orang-orang yang berdosa, sehingga tersedia pengampun-an.

1.     Kristus akan datang dalam kemuliaanNya.

2.     Umat dipanggil hidup kudus dan tanpa cacat-cela.

3.     Sikap kasih sebagai wujud dari kekudusan.

1.     Penghakiman dan penghukuman bagi seluruh bumi dan semesta.

2.     Perlu selalu waspada dan tidak tergoda dengan tawaran dunia.

3.     Firman Kristus akan kekal selama-lamanya.

Benang Merah Tafsir:

Kedatangan Kristus telah dinubuatkan. Kristus akan lahir dari keturunan Daud. Nubuat tersebut tergenapi. Demikian pula kedatangan Kristus yang kedua juga telah dinubuatkan. KedatanganNya yang kedua akan ditandai dengan kehancuran kosmis. Untuk itu umat dipanggil untuk senantiasa waspada dengan hidup kudus. Umat dipanggil untuk memberlakukan kasih kepada sesama sebagaimana kasih Allah dalam Kristus berkenan mengampuni setiap umat yang bersalah dan berdosa. Dengan demikian kedatangan Kristus yang dinantikan oleh umat harus senantiasa direspon dengan sikap yang pro-aktif dalam sikap kasih yaitu memberlakukan kebenaran dan keadilan.

Minggu Adven II (Tahun C)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Mal. 3:1-4 Luk. 1:68-79 Fil. 1:3-11 Luk. 3:1-6
Allah mengutus utusanNya untuk mempersiapkan jalan bagiNya.

Siapakah yang mampu bertahan di hadapanNya?

Dia akan datang untuk memurnikan umat seperti orang memurnikan perak dan emas.

Nyanyian Zakharia.

Terpujilah Tuhan, Allah Israel, yang telah melawat umat-Nya. Allah datang untuk membawa kelepasan.

Allah menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan melalui keturunan Daud.

Dia datang melepaskan umat dari musuh-musuhnya.

Yohanes Pembaptis akan menjadi nabi Allah yang maha-tinggi.

Dia akan menyinari umat yang hidup dalam kegelapan.

 

Allah yang telah memulai pekerjaan yang baik di antara umat, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.

Permohonan doa agar kasih umat semakin melimpah dan pengetahuan yang benar, sehingga umat dapat memilih yang baik dan hidup suci sampai menjelang kedatangan Kristus.

 

Firman Allah datang kepada Yohanes. Karena itu Yohanes Pembaptis datang untuk memberitakan pertobatan melalui baptisan.

Misi Yohanes Pembaptis: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”.

 

Tema: Tema: Tema: Tema:
1.     Allah mengutus utusanNya untuk mempersiap-kan kedatanganNya.

2.     Kedatangan sang Mesias akan memurnikan, seperti orang memurnikan emas atau perak.

1.     Kedatangan Yohanes untuk membawa umat dalam pertobatan.

2.     Dengan pertobatan, umat dimampukan untuk menyambut Kristus.

1.     Kualitas pertumbuhan rohani umat akan nyata saat menghadapi penghakiman.

2.     Kasih merupakan wujud dari hidup yang tanpa cacat.

1.     Yohanes Pembaptis merupakan Bentara yang mendahului Kristus.

2.     Sikap pertobatan merupakan kunci utama untuk menyambut Kristus.

Benang Merah Tafsir:

Kedatangan Yesus selaku Mesias Allah merupakan karya keselamatan Allah yang paripurna. Karena itu selain Allah mempersiapkan umat melalui nubuat para nabi, maka Allah juga mengutus Yohanes Pembaptis. Dalam hal ini Allah menjadikan Yohanes Pembaptis sebagai Bentara Kristus. Melalui pelayanan Yohanes Pembaptis, Allah bersabda agar setiap umat hidup dalam pertobatan. Sebab kedatangan Kristus akan memurnikan seperti orang yang sedang memurnikan emas atau perak. Dengan demikian, sikap memaknai kedatangan Kristus yang utama adalah spiritualitas yang bersedia memurnikan diri sehingga umat memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi dengan sikap kasih.

Minggu Adven III (Tahun C)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Zef. 3:14-20 Yes. 12:2-6 Fil. 4:4-7 Luk. 3:7-18
TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atas umat. Dia telah menebas binasa para musuh. Raja Israel, yakni TUHAN. Dia hadir

sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia membaharui umat dalam kasih-Nya. Dia juga akan mengangkat malapetaka sehingga umat tidak lagi menanggung cela.

Allah juga akan menyelamatkan yang orang-orang yang pincang, mengumpulkan yang terpencar dan membawa mereka pulang.

 

Sungguh, Allah itu keselamatan bagi umatNya.

“Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur!”

Allah Israel, agung di tengah-tengah umatNya.

 

Bersukacita senantiasa dalam Tuhan! Hendaklah kebaikan hati kita diketahui semua orang. Sebab Tuhan sudah dekat!

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus.

Seruan Yohanes Pembaptis agar umat menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan jangan berpikir dalam hati,bahwa Abraham adalah bapa mereka.   Yohanes membaptis mereka dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa akan datang dan membuka tali kasut-Nya Yohanes tidak merasa layak layak. Sang Mesias akan membaptis mereka dengan Roh Kudus dan dengan api.

 

Tema Tema: Tema: Tema:
1.     Allah akan datang dan bertindak membarui umatNya dengan kasih.

2.     Allah akan menyingkirkan hukuman dan menghadirkan keselamatan.

1.    Hari Tuhan merupakan waktu yang penuh sukacita.

2.    Umat merespon dengan ucapan syukur dan meninggi-kan nama Allah.

1.   Kedatangan Tuhan sudah dekat.

2.   Respon umat bukan dengan kekuatiran, tetapi seharusnya dengan bersukacita dan menyatakan kebaikan kepada semua orang.

1.                 Yohanes sebagai Bentara Kristus.

2.                 Waktu penghakiman telah dekat.

3.                 Orang yang berdosa harus segera bertobat.

4.                 Mesias akan menampi. Dia membersih-kan dan mengum-pulkan kelompok “gandum” dalam lumbungNya

Benang Merah Tafsir:

Kedatangan Kristus adalah menghadirkan keselamatan Allah. Namun makna keselamatan Allah tersebut ditentukan pula oleh respon manusia. Bagi umat yang hidup benar dan menyambut Kristus, maka kedatanganNya akan membawa suatu sukacita dan ucapan syukur. Dalam hal ini kedatangan Kristus akan disambut dengan doksologi yang mempermuliakan Allah dan karya keselamatanNya. Umat menyambut kedatangan Kristus bukan dengan sikap kuatir, tetapi dengan kebaikan kepada semua orang. Tetapi bagi umat yang hidup fasik, kedatangan Kristus akan menjadi hari Tuhan yang dahsyat dan menakutkan. Sebab kedatangan Kristus bagi orang fasik akan menjadi penghakiman dan penghukuman. Dalam hal ini orang-orang fasik akan senantiasa hidup dalam kekuatiran dan ketakutan. Mereka mungkin tampak berhasil dalam kehidupan ini, tetapi tidak dapat memiliki damai-sejahtera.

Minggu Adven IV (Tahun C)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Mikh. 5:2-5 Luk. 1:46-55 Ibr. 10:5-10 Luk. 1:39-45, (46-55)
Orang yang kelak akan memerintah Israel akan datang dari Betlehem.

Dia akan menggembalakan dalam kekuatan TUHAN,

dan dia menjadi damai sejahtera.

Magnifikat Maria.

“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku”,

Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar dan nama-Nya adalah kudus.

Allah mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya.

Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;

Allah juga melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar.

 

“Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya” –meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat.

Umat telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya, yaitu melalui persembahan tubuh Yesus Kristus.

 

Maria melawat Elisabet yang sedang mengandung Yohanes. Ketika mendengar sapaan Maria, janin Yohanes melonjak kegirangan. Elisabet menyebut Maria: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu”. Untuk itu Maria disapa dengan sebutan “ibu Tuhanku datang mengunjungi aku”.

 

Tema: Tema: Tema: Tema:
1.     Mesias akan datang dari Betlehem.

2.     Hanya Dia yang dapat menghadir-kan damai-sejahtera.

3.     Sebab Mesias akan membuat umat hidup dalam perasaan aman dan damai.

1.     Maria mengucap syukur bahwa Allah berkenan memilih-nya.

2.     Allah telah mengingat dan memenuhi janjiNya.

3.     Keselamatan Allah dinyatakan dalam pembaruan struktur sosial dan menghadirkan keadilan.

1.   Yang dikehendaki Allah bukanlah korban persembahan manusia.

2.   Kristus datang untuk memenuhi kehendak Allah.

3.   Kedatangan Kristus telah dinubuatkan sesuai dengan rencana Allah.

4.   Persembah-an yang dikorbankan Kristus adalah tubuhNya sendiri, sekali untuk selama-lamanya.

1.     Sejak dalam kandungan, Yohanes telah mengenali identitas diri Yesus selaku Mesias.

2.     Kehormatan dikaruniakan kepada Maria sebagai ibu Kristus.

 

Benang Merah Tafsir:

Kristus adalah Yang Kudus, yaitu sang diri Allah sendiri. Dia adalah penyataan diri Allah, yaitu sang Firman yang menjadi manusia. Namun penyataan Allah tersebut dimungkinkan bilamana dalam inkarnasi Kristus menjadi manusia lahir dari kandungan seorang wanita. Itu sebabnya Allah memilih Maria. Dengan demikian, peran Maria bukan sekedar pelengkap saja. Maria juga berperan penuh dalam sejarah keselamatan Allah. Itu sebabnya saat Maria menengok Elisabet yang sedang mengandung Yohanes Pembaptis, dia dapat mengenali dan menyebut Maria sebagai “ibu Tuhanku”. Setelah janin Yohanes Pembaptis melonjak kegirangan saat Maria datang dengan membawa janin Yesus. Dengan demikian, Maria merupakan wakil atau representasi umat manusia yang dipilih Allah. Kehidupan umat percaya seharusnya meneladani sikap iman Maria, sehingga umat dapat berperan penuh dalam sejarah keselamatan Allah di masa kini.

Malam Natal (Proper 1)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Yes. 9:2-7 Mzm. 96 Tit. 2:11-14 Luk. 2:1-14, (15-20)
Umat yang hidup dalam kegelapan melihat terang, yang tertindas mendapat   pembebasan.

Seorang anak dilahirkan untuk kita, namaNya: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.

Dia akan menduduki takhta Daud dalam damai-sejahtera, adil, dan benar sampai selama-lamanya.

 

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi!

Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya

Kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.

Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi.

Sambil menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.

 

 

Sensus penduduk yang dilakukan oleh kaisar Agustus. Yesus lahir di palungan kota Betlhem. Yusuf adalah keturunan raja Daud. Malaikat menyatakan dan memberitakan kabar baik kepada para gembala. Para gembala datang melihat bayi Yesus. Maria menyimpan segala perkara di dalam hatinya.
Tema: Tema: Tema: Tema:
1.       Kegelapan dan penindasan akan ditiadakan.

2.       Mesias lahiar dalam wujud seorang anak.

1.       Allah adalah raja.

2.       Allah menghakimi dengan keadilan dan kebenaran.

1.   Kasih-karunia Allah telah nyata.

2.   Kasih-karunia Allah dimanifestasi-kan dalam kedatangan Kristus.

3.   Hidup benar sambil menantikan kedatangan-Nya yang mulia.

1.   Yesus lahir dalam kesederha-naan dan kemiskinan.

2.   Yesus berasal dari keturunan Daud, dan lahir di kota Daud.

3.   Orang-orang yang tersingkir dan lemah mendapat prioritas untuk menyaksikan kelahiran Kristus.

4.   Maria menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya.

Benang Merah Tafsir:

Karya keselamatan Allah terjadi di suatu konteks historis tertentu, yaitu   kerajaan Romawi yang menjajah umat Israel. Lebih khusus lagi saat kaisar Agustus melakukan sensus penduduk, sehingga Maria dan Yusuf mendaftarkan diri ke Betlehem. Di situlah Kristus yang adalah keturunan raja Daud lahir di kota Daud sesuai dengan nubuat para nabi. Namun Dia lahir dalam kesederhanaan dan kemiskinan sebagai wujud solidaritasNya kepada umat yang lemah dan hidup dalam kegelapan. Melalui kedatangan Kristus, kasih-karunia Allah sudah menjadi nyata. Di dalam diriNya, umat manusia kelak akan melihat penggenapan nubuat nabi Yesaya, yaitu bahwa Kristus adalah Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, dan Raja Damai.

Hari Natal (Proper II)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Yes. 62:6-12 Mzm. 97 Tit. 3:4-7 Luk. 2:(1-7), 8-20
Mengingatkan Allah akan Yerusalem.

Allah bersumpah untuk memberi kemakmuran dan kesejahteraan kepada Yerusalem.

Keselamatan Allah telah datang. Orang akan menyebutkan mereka “bangsa kudus”, “orang-orang tebusan TUHAN”, dan engkau akan disebutkan “yang dicari”, “kota yang tidak ditinggalkan”.

 

Tuhan adalah raja.

Pujian umat akan kekuasaan Allah yang menakjubkan.

Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati.

 

Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia.

Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,

supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal.

Kabar baik yang disampaikan para malaikat kepada para gembala.

Dalam masyarakat, para gembala tidak memiliki status. Tetapi mereka diberi anugerah untuk mendengar berita kelahiran Kristus.

Tema: Tema: Tema: Tema:
1.     Mengingatkan Allah akan janjiNya.

2.     Keselamatan Allah hadir dalam sejarah hidup manusia.

3.     Dia menebus, sehingga kita menjadi umat tebusanNya.

1.     Kuasa Allah yang maha dahsyat dinyatakan dalam karya ciptaanNya.

2.     Terang dari Allah telah terbit bagi umat yang benar.

1. Juru-selamat datang karena kasih Allah.

2. Kita adalah umat milikNya untuk mewarisi kehidupan yang abadi.

1.   Kasih-karunia Allah dinyatakan kepada umat yang diabaikan dan ditolak oleh dunia.

2.   Para gembala menyaksikan bayi Kristus, dan menjadi saksi.

Benang Merah Tafsir:

Yesus lahir di sebuah tempat yang sangat sederhana. Berita Injil tersebut menyatakan bahwa di dalam Kristus, Allah yang maha-kuasa dan mulia “menyembunyikan” diriNya. Namun pada sisi lain, Allah berkenan “menyingkapkan” diriNya kepada orang-orang yang sederhana dan lemah. Penerima berita kelahiran Kristus yang pertama adalah para gembala yang sedang menggembalakan ternak di padang. Jadi Allah menyelamatkan dan menebus umat manusia bukan dengan pola pendekatan kekuasaan, tetapi dengan kuasa kasih. Dengan demikian, di dalam dan melalui Kristus, Allah menyelamatkan manusia berdasarkan kasih-karuniaNya, bukan karena perbuatan baik manusia. Karena itu hanya orang-orang yang hidup benar dan tulus yang mampu melihat terang Kristus.

Hari Natal (Proper III)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Yes. 52:7-10 Mzm. 98 Ibr. 1:1-4, (5-12) Yoh. 1:1-14
Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja!”

TUHAN kembali ke Sion.

Sebab TUHAN telah menghibur umat-Nya, telah menebus Yerusalem.

 

 

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan olehNya. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan. Dia menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa.

 

Pada zaman akhir ini Allah telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.

Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, Dia jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

 

Inkarnasi sang Firman menjadi manusia. Yohanes memberi kesaksian tentang Kristus.

Dia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi milik kepunyaanNya tidak mengenalNya.

Namun setiap orang yang menerima dan percaya akan dijadikan anak-anak Allah.

Tema: Tema: Tema: Tema:
1.     Penebusan dari Allah telah datang, dan karena itu semua umat dipanggil untuk percaya.

2.     Allah adalah raja, sehingga seharusnya umat menyambut kabar baik tentang keselamatan.

1.     Menyatakan dengan ucapan syukur berupa nyanyian baru.

2.     Keselamatan dari Allah telah dinyatakan melalui kebenaran dan keadilanNya.

1. Zaman ini adalah zaman akhir.

2. Allah berbicara kepada kita melalui AnakNya.

3. Kristus yang menciptakan segala sesuatu dan menopang segala sesuatu.

4. Kristus menyuci-kan dosa dan menghadirkan pemerin-tahan Allah.

1.     Sang Firman yang kekal menciptakan segala sesuatu.

2.     Dia menjadi manusia.

3.     Dunia yang diciptakan tidak mengenal diriNya.

4.     Umat yang percaya dikaruniakan menjadi anak-anak Allah.

5.     Melihat diri Yesus berarti melihat kemuliaan Allah.

6.     Yohanes Pembaptis menyaksikan kebenaran itu.

 

Benang Merah Tafsir:

Diri Allah yang disembah umat manusia pada umumnya sering berupa identitas ilahi yang abstrak. Namun pada zaman akhir ini, Allah yang tersembunyi dan tak terjangkau pemikiran manusia berkenan menyatakan diriNya. Melalui Kristus, sang Firman Allah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Dengan demikian, sang Firman Allah yang berasal dari Allah menjadi bagian dari realitas sejarah manusia. Karena itu melalui Kristus, umat manusia dapat melihat karakter dan kemuliaan Allah. Di dalam Kristus, hadirlah pemerintahan Allah dalam kehidupan umat. Allah tidak hanya menghibur umatNya dengan firmanNya yang disampaikan para nabi, tetapi kini di dalam Kristus, sang Firman Allah hadir dan bersentuhan langsung dengan persoalan hidup manusia.

Minggu sesudah Natal

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Yes. 61:10 – 62:3 Mzm. 147 Gal. 3:23-25; 4:4-7 Yoh. 1:1-18
Bersukaria di dalam TUHAN: “jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran”.

Nabi tidak dapat berdiam diri, dan oleh karena Yerusalem dia tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyala seperti suluh.

 

Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.

TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai;

Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.

 

Hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.

Sebab setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.

Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.

 

 

 

Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.

Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.

Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

 

Tema: Tema: Tema: Tema:
1.    Ungkapan pengalaman iman akan keselamatan Allah.

2.    Nabi merindukan keselamatan Allah secara menyeluruh sampai kebenarannya bersinar seperti suluh.

1. Allah menunjukkan bela-rasa sehingga Dia peduli kepada umat yang tercerai-berai, patah-hati dan terluka.

2. Merespon dengan nyanyian baru.

1. Hukum Taurat berfungsi sebagai penuntun sampai Kristus datang.

2. Dia lahir dari seorang wanita, dan takluk kepada hukum Taurat.

3. Inkarnasi Kristus memampu-kan kita untuk menjadi anak-anak Allah.

1.   Kebenaran hukum Taurat datang melalui Musa. Tetapi kasih-karunia Allah datang melalui inkarnasi Kristus.

2.   Allah yang tak nampak menjadi nyata dalam diri Kristus.

Benang Merah Tafsir:

Semula Allah menyatakan firmanNya melalui hukum Taurat. Namun dari keterbatasannya, manusia cenderung terpaku kepada hukum-hukum firman Allah secara legalistis. Umat manusia sering tidak mampu melihat roh di dalam hukum firman Allah tersebut. Karena itulah di dalam inkarnasi Kristus, Allah menyatakan kasih-karuniaNya. Kristus adalah sang Firman Allah yang hidup. Dialah sang Firman yang berada di pangkuan Allah. Pernyataan figuratif ini menegaskan bagaimana kualitas hubungan Yesus yang intim, akrab dan esa dengan Allah. Agar melalui dan di dalam Kristus, umat percaya memiliki persekutuan dengan Allah dan menerima kasih-karuniaNya yang menyelamatkan. Dengan demikian melalui inkarnasi Kristus, Allah menyatakan bela-rasaNya kepada umat yang lemah, tercerai-berai, patah-hati dan terluka.

Pola Penafsiran Siklus Paskah

Untuk menafsir dengan pola penafsiran selama siklus Paskah, Gail R. O’Day dan Charles Hackett mengajukan pola atau bagan yang sama seperti saat melakukan penafsiran pada siklus Natal. Pola penafsiran dan benang merah tafsir pada hari Rabu Abu tahun A, dapat menggunakan bagan tafsir, setelah itu saya akan membuat benang merah tafsir atau mosaik tafsir .

Rabu Abu (tahun A)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Yl. 2:1-2, 12-17 Mzm. 51:1-17 II Kor. 5:20b – 6:10 Mat. 6:1-6, 16-21
Hari Tuhan akan datang”.

 

“Ciptakanlah dalam diriku suatu hati yang bersih”.

 

“Didamaikan dengan Allah”.

 

 

Waspada dengan sikap demonstratif saat melakukan kesalehan”.

 

Kedatangan Tuhan segera tiba. Tuhan akan menghakimi umat manusia dalam bentuk kegelapan yang dahsyat dan api yang memusnahkan. Untuk itu umat dipanggil mengoyakkan hati sebagai wujud sikap pertobatan, bukan pertobatan yang ritualistik seperti mengoyakkan baju. Ungkapan penyesalan dan pertobatan Daud yang jatuh dalam perzinahan dengan Batsyeba.

Daud memohon rahmat Allah yang lebih besar dari pada dosanya, sehingga dosanya menjadi tahir. Karena itu Daud memohon agar Allah tidak menghukumnya, tetapi menganugerahkan pengampunanNya.

Pendamaian dengan Allah terjadi karena karya penebusan Kristus.

Untuk rasul Paulus menasihati umat agar tidak menyia-nyiakan kasih-karunia Allah. Sebaliknya umat dipanggil untuk mewujudkan karya pendamaian Allah tersebut dengan sabar saat menghadapi penderitaan, kesukaran dan kesesakan.

Salah satu bagian dari khotbah Yesus di atas bukit.

Umat percaya diingatkan bagaimana saat mereka memberi sedekah, berdosa dan berpuasa. Mereka telah mendapat upah saat mereka mempertontonkan di hadapan orang banyak untuk memperoleh pujian.

Tema: Tema: Tema: Tema:
1. Pertobatan komunal dalam ibadah dibutuhkan untuk menghadapi penghakiman yang mendekat.

2. Penyesalan dari dalam hati kepada Allah, bukan sekedar sikap ritualistic.

3. Allah adalah pemurah dan akan mengampuni umatNya.

1.     Pertobatan dan pengakuan dosa sebagai dasar yang mengawali umat untuk memohon pengampunan.

2.     Allah mendengar doa-doa umatNya.

3.     Allah adalah pemurah dan mengarunia-kan pengampunan dan kemungkinan hidup baru.

1.     Kasih-karunia Allah membuat mungkin pelayanan pendamaian.

2.     Waktu yang tepat bagi umat untuk menanggapi kasih-karunia Allah.

1.    Tindakan yang lahir dari hati secara tersembunyidan bukan sikap yang demonstratif.

2.    Allah yang pemurah akan menganuge-rahkan berkatNya atas orang-orang yang benar.

Benang Merah Tafsir:

Berpuasa merupakan sikap spiritualitas yang ingin menyangkal diri dan proses melatih serta mengendalikan diri. Karena itu melalui ibadah puasa, sebenarnya umat menginginkan suatu kualitas rohani dan pribadi yang lebih tinggi. Namun tujuan tersebut sering tidak terwujud. Sebab motivasi puasa sering dibelokkan menjadi media untuk mempertontonkan kesalehan. Berpuasa dipakai untuk mencari pujian. Dengan pola puasa yang demikian, umat tidak akan mengalami pertumbuhan rohani yang berkualitas. Bahkan puasa yang demikian menjadi suatu ibadah yang tidak berkenan kepada Allah. Sebab yang dikehendaki Allah adalah puasa yang lahir dari hati yang hancur dan bertobat. Allah tidak pernah menghendaki suatu puasa atau kesalehan secara artifisial belaka. Lebih khusus lagi, umat percaya telah menerima karya pendamaian Kristus. Karena itu setiap umat percaya akan menyikapi puasa dan doa yang dilakukan dengan bersandar kepada anugerah pendamaian Kristus. Jadi bilamana umat berpuasa seharusnya didasari oleh hati yang terkoyak dan bersandar kepada anugerah pendamaian Kristus, maka damai-sejahtera Kristus akan dinyatakan.

Pada bagian berikut, saya akan membuat bagan penafsiran pada masa Minggu Pra-Paskah I – VI tahun A dan benang merah teologis yang terjalin sebagai berikut:

Minggu Pra-Paskah I (Tahun A)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Kej. 2:15-17, 3:1-7 Mzm. 32 Rom. 5:12-19 Mat. 4:1-11
“Perintah untuk tidak makan buah pengetahuan baik dan jahat”

 

“Berbahagialah orang yang diampuni dosanya”

 

“Kasih-karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran manusia”.

 

“Yesus dibawa oleh Roh untuk dicobai oleh Iblis”

 

Allah menempatkan manusia pertama di taman Eden dengan satu perintah untuk tidak makan buah pengetahuan baik dan jahat.

Tetapi ular membujuk Hawa untuk melanggar firman Allah.

Pemazmur mengalami penderitaan karena dosanya. Untuk itu pemazmur mengakui dosanya di hadapan Allah. Pengampunan Allah mendatangkan sukacita. Rasul Paulus memberi penjelasan terhadap makna kitab Kej. 3, di mana dosa Adam membawa kematian bagi seluruh umat manusia. Tetapi kasih-karunia Allah di dalam Kristus mendatang keselamatan bagi seluruh umat. Yesus mengalami pencobaan dari: keinginan makan, kemuliaan diri sendiri dan kuasa politis atas kerajaan dunia.

Namun Yesus menolak seluruh pencobaan Iblis tersebut dengan bersandar penuh kepada ketaatan akan firman Tuhan.

Tema: Tema: Tema: Tema:
1.     Seberapa taat manusia kepada firman Tuhan saat mengalami pencobaan dan godaan.

2.     Ketaatan kepada firman Allah akan meneguhkan relasi umat dengan Allah.

3.     Firman Tuhan akan memberi kehidupan, bukan kematian.

1.              Pengampun-an Allah hanya tertuju kepada umat yang hidupnya jujur dan tulus.

2.              Kasih yang tidak berkesudahan akan menaungi umat yang percaya kepada Allah.

1.   Berbagai bentuk ketidaktaat-an manusia merupakan tanda dari kuasa dosa.

2.   Kasih-karunia Allah dinyatakan di tengah-tengah realita umat yang tidak taat dan berada dalam kuasa dosa.

3.   Ketaatan umat dimungkin-kan melalui ketaatan Kristus.

1.             Melalui pencobaan dan godaan akan terlihat seberapa jauh kita taat dan mengasihi Allah.

2.             Sikap taat merupakan cermin kualitas dari hubungan kita dengan Allah.

3.             Firman Tuhan memberi kehidupan, bukan kematian.

Benang Merah Tafsir:

Melalui baptisanNya di sungai Yordan, tersingkaplah jati-diri Yesus selaku Anak Allah yang dipenuhi dan diurapi oleh Roh Kudus. Untuk itu Roh Kudus juga membawa Yesus ke padang gurun untuk dicobai oleh Iblis. Gelar Yesus selaku Anak Allah haruslah diuji secara riel melalui situasi yang sulit. Yesus berpuasa di padang gurun. Ujian dari Roh Kudus dan pencobaan Iblis terhadap diri Yesus bukanlah sekedar suatu sandiwara. Dalam hal ini Yesus memiliki kemungkinan untuk gagal, sebab walaupun Dia adalah sang Firman Allah, Yesus dalam inkarnasiNya mengenakan tubuh manusia. Yesus dapat membuat pilihan bebas. Itu sebabnya saat Yesus lapar, di situlah Iblis datang menggodaNya untuk membuat roti dari batu. Saat Yesus jauh dari keramaian publik, Iblis datang menggoda agar Yesus mau menarik perhatian orang banyak melihat Dia jatuh dari bubungan Bait Allah tanpa terluka. Dan juga saat Yesus berada di atas gunung yang tinggi, Iblis menggoda agar Yesus memiliki seluruh kuasa dan kemuliaan dunia. Ternyata Yesus mampu menolak seluruh godaan Iblis tersebut. Sikap Yesus tersebut berbeda dengan sikap manusia pertama (Adam dan Hawa) yang mudah tergoda mengikuti keinginan ular. Karena itu umat percaya dipanggil untuk menempatkan ketaatan kepada firman Allah di atas segala sesuatu, sehingga menjadi pemenang terhadap seluruh godaan Iblis.

Minggu Pra-Paskah II (Tahun A)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Kej. 12:1-4 Mzm. 121 Rom. 4:1-5, 13-17 Yoh. 3:1-17
“Allah akan membuat Abram menjadi bangsa yang besar”. “Allah akan menjaga kehidupan umatNya”.

 

“Kebenaran Allah berdasarkan iman”.

 

“Tak seorangpun yang dapat melihat Kerajaan Allah tanpa dilahirkan dari atas”.

 

Allah memanggil Abram untuk meninggalkan rumah ayah dan tanah kelahirannya.

Abraham percaya dan taat. Karena itu Allah mengaruniakan berkat kepada Abraham dan keturunannya.

Mazmur yang mengungkapkan sikap iman kepada kuasa pemeliharaan dan pertolongan Allah.   Karena itu Allah akan menjaga umat dari mara-bahaya. Rasul Paulus menjelaskan sikap Abraham yang percaya kepada Allah, karena itu Allah memberkati. Sikap iman Abraham menjadi model bagi umat percaya. Melalui iman, kasih-karunia Allah dinyatakan. Perjumpaan Nikodemus dengan Yesus di waktu malam. Nikodemus mendiskusikan arti hidup baru dan kelahiran baru. Yesus menjelaskan bahwa untuk lahir baru, umat harus percaya kepada Dia selaku Anak Allah.
Tema: Tema: Tema: Tema:
1.   Abram dipanggil untuk meninggalkan segala hal yang ada di masa lalunya. Dia dipanggil untuk merespon janji Allah ke depan.

2.   Allah memanggil umat untuk mendahulu-kan janji firmanNya.

3.   Umat dipanggil untuk percaya kepada janji keselamatan Allah yang akan membawa berkat dan kehidupan yang baru.

1.   Kepedulian dan kasih Allah sungguh dapat dipercaya.

2.   Umat mempercaya-kan hidupnya secara penuh, sehingga Allah menjadi dasar dari seluruh keputusan dan sandaran hidupnya.

1.     Sikap iman selalu bersikap “ya” kepada firman Tuhan.

2.     Abraham menjadi model dari kehidupan baru yang didasari oleh sikap iman.

3.     Janji keselamatan Allah didasari oleh jaminan anugerah-Nya, bukan karena perbuatan baik manusia.

1.   Yesus memberi pencerahan kepada Nikodemus untuk memahami rahasia keselamatan Allah.

2.   Kehidupan baru hanya datang melalui kasih-karunia Allah yang dinyatakan oleh Kristus.

3.   Umat membutuh-kan pandangan yang melampaui harapan manusiawi, sehingga terbuka terhadap keselamatan yang dinyatakan oleh Kristus.

Benang Merah Tafsir:

Respon manusia yang otentik adalah bilamana lahir dari hati yang telah dikuduskan. Berbagai upaya transformasi diri sering menjadi gagal karena perubahan tersebut tidak lahir dari hati yang dibarui. Menyimak dan mempelajari hukum dan firman Allah tidak secara otomatis mengubah hidup manusia. Sikap itulah yang semula dipahami oleh Nikodemus. Tetapi dalam perjumpaannya dengan Yesus, Nikodemus dibuka pemahaman imannya. Yesus menantang Nikodemus untuk dilahirkan kembali. Hasil dari kelahiran baru bukan hanya membuka perspektif manusia terhadap kebenaran hukum dan firman Tuhan, tetapi juga membuka mata rohaninya untuk percaya dan menerima Kristus selaku Mesias Allah. Karena itu untuk lahir baru membutuhkan keberanian untuk diubah dan dituntun Allah ke wilayah hidup baru. Keberanian iman tersebut seperti sikap Abraham yang berani meninggalkan rumah ayah dan tempat kelahirannya menuju tempat yang dijanjikan Allah. Sebab sikap iman selalu berani secara konsekuen untuk berkata “ya”.

Minggu Pra-Paskah III (Tahun A)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Kel. 17:1-7 Mzm. 95 Rom. 5:1-11 Yoh. 4:5-42
“Mengapa mencobai Allah?”

 

“Bersorak-sorai untuk TUHAN yang adalah gunung batu keselamatan kita”. “Dibenarkan karena iman, untuk hidup dalam damai sejahtera “.

 

“Berikanlah aku air hidup”.
Umat Israel di padang gurun yang kehausan. Mereka merespon kesulitan dengan bersungut-sungut. Namun Allah mengasihi mereka dan menyuruh Musa untuk mengetok gunung batu, sehingga keluarlah air untuk memenuhi kebutuhan umat. Pujian sukacita dan memuliakan Allah. Sebab Allah adalah keselamatan bagi umatNya. Untuk itu umat dipanggil untuk tidak bersikap seperti nenek moyang mereka ketika berada di Masa dan Meriba. Mereka dipanggil untuk senantiasa mendengarkan firmanNya. Damai-sejahtera Allah akan dialami oleh umat yang hidup karena iman kepada Kristus. Sebab melalui iman kepada Kristus, Allah mendamaikan diriNya dengan umat. Wanita Samaria yang menginginkan air hidup yang dimiliki oleh Kristus. Dia belum memahami sepenuhnya makna air hidup. Namun setelah rahasia kehidupannya yang penuh dosa dibuka oleh Yesus, barulah dia dapat memahami dengan hidup baru.
Tema: Tema: Tema: Tema:
1.   Ketaatan kepada firman Tuhan terlihat saat kita menghadapi pencobaan dan godaan.

2.   Janji keselamatan Allah ditopang oleh kasih-karuniaNya, dan bukan karena perbuatan baik atau amal manusia.

1.     Umat dipanggil untuk percaya kepada janji Allah, sehingga mereka akan memperoleh berkat dan hidup yang baru.

2.     Ketaatan umat kepada Allah merefleksikan kualitas relasinya.

3.     Belajar untuk tidak bersikap seperti yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka.

1.    Melalui karya penebusan Kristus, Allah telah mendamai-kan umat dengan diriNya.

2.    Kristus memberikan hidupNya agar kita hidup dalam kasih-karuniaNya.

3.    Kasih-karunia Allah sebagai sumber pendamaian, kasih dan harapan.

1. Kristus sebagai sumber kehidupan yang baru.

2. Setiap umat dipanggil untuk mengenal Kristus dan diubah dalam kehidupan baru.

3. Umat dimampukan untuk melihat rahasia keselamatan Allah yang tidak nampak oleh mata manusiawi.

Benang Merah Tafsir:

Air merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling fundamental. Kita tidak dapat hidup tanpa air. Kekurangan air sangatlah berbahaya. Rasa haus menunjukkan bahwa tubuh kita sedang membutuhkan air yang perlu segera dipenuhi. Tetapi yang menjadi masalah adalah manusia sering tidak mampu merespon rasa haus dengan cara yang benar. Umat Israel bersungut-sungut dan menunjukkan pemberontakannya kepada Allah. Demikian pula halnya dengan wanita Samaria tersebut. Dia mengalami kehausan seksual, sehingga dia memilih hidup bersama dengan 5 orang laki-laki. Tetapi saat wanita Samaria berjumpa dengan Yesus, dia menemukan air hidup yang selama ini tidak pernah dia peroleh. Air hidup Kristus adalah damai-sejahtera Allah, yang memampukan umat untuk mengalami sukacita yang otentik. Lebih jauh lagi, air hidup Kristus adalah Kristus berkenan memberikan tubuhNya kepada umat percaya.

Minggu Pra-Paskah IV (tahun A)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
I Sam. 16:1-13 Mzm. 23 Ef. 5:8-14 Yoh. 9:1-41
“Allah melihat hati manusia” “Tuhan adalah gembala” Di dalam Tuhan, kita adalah terang” “Akulah terang dunia”
Samuel diutus Allah untuk mengurapi raja yang baru. Orang yang terpilih itu adalah anak Isai, yaitu Daud. Sebelumnya Samuel sempat terpesona dengan kakak-kakak Daud yang memiliki perawakan dan paras yang elok, sehingga berpikir bahwa merekalah yang akan dipilih Allah. Tetapi Allah melihat hati manusia, bukan perawakan jasmaniahnya. Ungkapan iman dari pemazmur yang percaya bahwa Allah adalah gembala yang memelihara kehidupannya.

Jika demikian, setiap umat seharusnya menempatkan dirinya sebagai kawanan domba yang menyambut kebaikan dan kemurahan Allah dengan sikap yang bersyukur.

Umat dipanggil untuk menghayati identitasnya yang baru, yaitu dengan hidup menurut terang Allah.

Umat dipanggil untuk menguji segala sesuatu, apakah telah berkenan kepada Allah.

Hidup menurut terang akan menghasilkan kebenaran dan keadilan.

Yesus menyembuhkan seorang yang seorang buta sejak lahirnya. Murid-murid Yesus menuduh orang buta tersebut mengalami hukuman Allah. Tetapi sebaliknya Yesus menyatakan bahwa melalui kebutaan orang tersebut, Allah akan menyatakan kuasaNya. Dalam kesempatan itu, justru yang buta adalah para pemimpin agama Yahudi.
Tema: Tema: Tema: Tema:
1.    Panggilan untuk tidak menilai dari luar, tetapi perlu melihat dari sudut pandangan Allah.

2.    Gembala yang adalah raja adalah Dia yang diurapi oleh Roh Allah.

3.    Daud yang adalah gembala bagi kambing dombanya dipilih Allah untuk menjadi gembala bagi umatNya.

1.   Kasih dan pemeliharaan Allah yang setia menuntun umatNya.

2.   Dalam naungan penggembalaanNya, umat dimampukan untuk melewati lembah kematian.

1.   Setiap umat yang percaya kepada Kristus adalah anak-anak Allah yang hidup dalam terangNya.

2.   Untuk hidup dalam terang, setiap umat dipanggil untuk   meninggal-kan kegelapan dan menguji apakah sesuai dengan kehendak Allah.

 

1.   Yesus adalah sumber kehidupan baru, sehingga melalui Dia kita dimampukan untuk mengalami kehadiran Allah yang membarui.

2.   Setiap umat dipanggil untuk rendah-hati dan mengenali kebutaannya.

3.   Umat tidak mudah menghakimi sesama dengan penilaian yang sepintas.

Benang Merah Tafsir:

Hukuman Allah dinyatakan dalam bentuk berbagai penderitaan dan kematian. Karena itu manusia sering membuat logika, bahwa orang-orang yang menderita dan mengalami kematian yang tragis disebabkan karena hukuman Allah. Sikap itulah yang terlihat dari sikap para murid Yesus saat mereka melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Para murid menganggap bahwa dia atau orang-tuanya telah berbuat dosa, sehingga Allah menghukum dia dengan kebutaan. Manusia sering menilai dan menghakimi sesama berdasarkan penglihatannya yang terbatas. Karena itu manusia sering terpesona dengan keindahan fisik dan perawakan seseorang atau meremehkan saat melihat keadaan fisik yang cacat. Padahal Allah senantiasa melihat dari hati yang terdalam. Sikap Allah tersebut tercermin dalam sikap Tuhan Yesus. Dia justru menyatakan bahwa pekerjaan Allah yang menyelamatkan akan dinyatakan melalui orang buta sejak lahir. Yesus kemudian mencelikkan mata orang buta tersebut. Untuk itu kita juga perlu dicelikkan mata-rohani kita sehingga mampu melihat kebenaran Allah yang membebaskan. Tanpa mata-rohani yang dicelikkan, kita tidak akan mampu hidup dalam identitas yang baru sebagai anak-anak Allah.

Minggu Pra-Paskah V (Tahun A)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
Yeh. 37:1-14 Mzm. 130 Rom. 8:6-11 Yoh. 11:1-45
“Dapatkah tulang-tulang kering ini hidup?” “Jiwaku menantikan Allah” “Roh Allah diam di dalam kita” “Akulah kebangkitan dan hidup”
Lembah yang penuh dengan tulang-tulang kering.

Penglihatan nabi Yehezkiel tersebut menyimbolkan umat Israel dalam pembuangan.

Namun Allah memberi janji dan pengharapan untuk memulihkan mereka, sehingga mereka akan mengalami kehidupan yang baru.

Ungkapan iman yang penuh pengharapan di tengah-tengah penderitaan yang sedang dialami oleh pemazmur.

Harapan imannya lebih besar dari pada kesusahan yang dialaminya, karena kasih-setia Allah yang membebaskan.

Setiap umat percaya seharusnya hidup menurut Roh dengan meninggalkan keinginan daging. Sebab keinginan daging adalah maut.

Dengan anugerah Roh Allah, umat dimampukan mengalami kebebasan dari kuasa dosa.

Kisah Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian merupakan janji dan jaminan bagi setiap umat.

Di dalam Kristus, setiap umat akan mengalami kehidupan yang baru.

Di dalam Kristus, kuasa maut dikalahkan.

Tema: Tema: Tema: Tema:
1. Allah sumber kehidupan, karena itu di dalam anugerah kasihNya, umat akan mengalami kehidupan yang baru walaupun mereka telah mati secara rohaniah.

2. Saat umat berada di titik nadir, ternyata masih tersedia harapan yang memberi kekuatan bagi umat. Karena itu umat tidak boleh terpuruk dan putus-asa ketika mereka diterpa oleh malapetaka dan musibah.

1.       Anugerah pengampunan Allah tersedia bagi setiap umat yang datang dan bersandar kepada Allah.

2.       Sikap iman umat perlu dinyatakan dalam sikap yang jujur dan tulus untuk mengakui kasih-setia Allah.

3.       Sebab kasih-setia Allah tetap teguh bagi umat yang bersandar kepadaNya.

1.     Roh Allah yang diam di antara umat akan membebas-kan mereka dari kuasa maut.

2.     Melalui Kristus, kita dimampukan untuk hidup menurut Roh sehingga kita mengalami kepenuhan dari kuasa kebangkitanNya.

1.    Yesus adalah sumber hidup dan keselamatan.

2.    Maut tidak berkuasa atas Yesus, sehingga iman kepadaNya menjamin umat untuk hidup abadi bersamaNya.

3.    Di dalam Kristus, setiap umat akan mengalami kepenuhan dari kuasa kebangkitanNya.

Benang Merah Tafsir:

Kematian merupakan akhir dalam kehidupan manusia. Tak seorangpun yang mampu membebaskan diri dari realita kematian. Selain itu kematian merupakan simbol kengerian dan kebinasaan. Di dalam kematian tidak ada lagi pengharapan dan sukacita. Tetapi tidaklah demikian karya Kristus. Dia datang untuk memberi kehidupan dan mengalahkan kematian. Melalui kisah Lazarus yang dibangkitkan, Kristus memberi janji dan jaminan bahwa barangsiapa berada di dalam Dia, maka mereka akan memperoleh hidup yang kekal. Karena itu umat yang telah percaya kepada Kristus dipanggil untuk hidup menurut Roh, yaitu mampu menolak keinginan hawa-nafsu dan bersikap pro-aktif mengikuti kehendak Roh. Jadi hidup menurut Roh berarti hidup yang bersandar penuh kepada kasih-karunia Kristus, sehingga umat yang semula berada dalam kondisi seperti tulang-tulang kering dibangkitkan oleh Kristus. Umat yang dibangkitkan itu akan menjadi komunitas yang melayani Allah dengan kuasa kasihNya. Kehidupan umat yang demikian akan menghasilkan buah Roh.

Minggu Palem: Pra-Paskah VI (Tahun A)

Bacaan I Antar Bacaan Bacaan II Bacaan III
  Mzm. 118:1-2, 19-29   Mat. 21:1-11
  “Diberkatilah mereka yang datang dalam nama Tuhan”   “Diberkatilah mereka yang datang dalam nama Tuhan”
  Nyanyian ziarah di mana masuk ke kota Yerusalem dengan ucapan syukur. Umat menyanyikan dengan sukacita karena Allah adalah keselamatan yang kokoh. Dengan kasihNya yang teguh, Allah menopang umat, sehingga umat bersyukur dan mempersembahkan korban. Tuhan Yesus masuk ke kota Yerusalem seperti seorang pahlawan yang menang perang. Tetapi Dia sama sekali tidak pernah menaklukkan musuhNya dengan pedang dan kekerasan, tetapi dengan kasihNya. Secara simbolik, Tuhan Yesus masuk ke kota Yerusalem dengan menunggang seekor keledai sebagai tanda karakterNya yang penuh dengan kasih.
Tema: Tema: Tema: Tema:
1.       Kehadiran Allah di dalam dunia senantiasa membawa berkat keselamatan.

2.       Dia menerangi kehidupan umat yang berada dalam kegelapan dosa.

3.       Umat dipanggil untuk beribadah kepadaNya dengan nyanyian syukur.

1.   Di dalam Kristus, Allah datang melawat umatNya untuk menyatakan kemurahan dan kasihNya yang menyelamatkan.

2.   Walau Allah maha-mulia, tetapi di dalam Kristus, Dia senantiasa lemah-lembut dan rendah-hati.

Benang Merah Tafsir:

Minggu Pra-Paskah VI secara khusus merayakan Kristus masuk ke kota Yerusalem. Dia disambut dengan penuh antusias dan sukacita. Semua penduduk Yerusalem mengelu-elukan Kristus. Mereka mengelu-elukan Kristus karena mereka telah mendengar dan menyaksikan bagaimana kuasa mukjizat dan pengajaranNya. Peristiwa masuknya Kristus ke kota Yerusalem juga untuk menggenapkan nubuat nabi Zakharia (Zakh. 9:9). Dalam hal ini Kristus datang sebagai seorang raja, dan Dia secara sengaja menunggangi seekor keledai. Sikap Kristus tersebut tentu bertolak-belakang dengan kebiasaan bangsa Romawi. Bagi bangsa Romawi, seorang pahlawan atau yang terkemuka akan menunggangi seekor kuda perang, bukan seekor keledai. Karena seekor keledai tidak memungkinkan untuk lari cepat dan juga tidak cukup tangkas dalam menghadapi suatu pertempuran. Namun pilihan Yesus menunggangi seekor keledai bukan tanpa alasan. Secara simbolis Yesus menyatakan bahwa Dia datang untuk menghadirkan damai-sejahtera, dan bukan kekerasan. Selain itu seekor keledai mencerminkan sikap lemah-lembut, dan bukan sikap yang garang. Dengan demikian melalui kehadiran Kristus, kita dapat melihat karakter Allah yang sesungguhnya. Walaupun Dia maha-kuasa dan tidak ada yang dapat menandingiNya, tetapi Allah di dalam Kristus adalah Allah yang rendah-hati.

[1] “The Consultation on Common Texts” (CCT) merupakan suatu konsultasi ekumenis dari para ahli liturgi dan berbagai denominasi yang mewakili gereja-gereja di Amerika Serikat dan Kanada. Badan ini muncul dari hasil pertemuan ekumenis yang diselenggarakan pertengahan tahun 1960. Kemudian dari tahun 1969, badan ini menyebut diri sebagai “The Consultation on Common Texts,” yang merefleksikan fokus dan perkembangan berbagai versi liturgis yang disepakati oleh gereja-gereja: (www.commontexts.org).

[2] Dalam konteks ini Leon Morris menyatakan bahwa ibadah sinagoge telah menggunakan beberapa varian leksionari. Leon membuat hipotesis tentang perbedaan penggunaan leksionari di sinagoge dalam kalangan orang Yahudi dan Palestina: “The importance of establishing the date of the synagogue in Palestine itself is that it is known that different cycles of lectionary readings were in use among the Jews, and the Palestinian cycle is the one to which New Testament scholars usually appeal. This was a three-year cycle, whereas among the Babylonian Jews the Law was read through completely in one year. Guilding, Finch, and others base their work on the triennial cycle which is thus the important one. But if we are to demonstrate that the Palestinian triennial lectionary lies behind any part of the New Testament it would seem a necessary pre-condition to show that synagogues had been in existence in that land prior to New Testament days for long enough for such a lectionary to develop” (Morris, 78).

[3] Studi yang dilakukan oleh Normand Bonneau dalam “Sunday Lectionary” (Ritual Word = Paschal Shape), menunjukkan sejarah leksionari iman Kristen tidak lepas dari sejarah leksionari dalam tradisi Yahudi khususnya dalam masa Pembuangan tahun 587 – 535 sM. Untuk itu umat Yahudi di pembuangan Babel membangun sinagoge yang mana “Liturgi Firman” menjadi pola ibadah yang utama. Lihat: Normand Bonneau dalam “Sunday Lectionary” (Ritual Word = Paschal Shape) by The Order of St. Benedict, Inc. (Minnesota: Collegeville,1998).

[4]The Revised Common Lectionary (1992), based on the Ordo Lectionem Missae of the Roman Catholic Church (1969) and on The Common Lectionary of the Consultation on Common Texts (1983), is a response to diverse voices in the ecumenical church for a comprehensive lectionary” dalam: “An Overview of Revised Common Lectionary Daily Readings “, Consultation on Common Texts (published by Fortress Press, 2005) by Thomas A. Dipko, May 2007.

[5] Lihat: “The Consultation on Common Texts” di: http://www.commontexts.org/rcl/index.html. Yang mana Consultation on Common Texts menyatakan, yaitu: “This lectionary system is the work of two ecumenical bodies who provide resources for the churches that send representatives to them, namely, the North American Consultation on Common Texts (CCT) and, later, the International English Language Liturgical Consultation (ELLC)”. Responding to widespread interest in the Roman Lectionary for Mass of 1969, many North American churches undertook adaptations and revisions of it for their own use during the ’70s. CCT produced a harmonization and reworking of these in 1983 on a trial basis and then revised that for publication in 1992 as the Revised Common Lectionary.

[6] Periode 6 bulan di luar siklus Natal dan siklus Paskah disebut dengan masa Minggu Biasa (“Ordinary Times”). Arti “masa biasa” berasal dari kata “Ordinary”, yaitu dari kata “ordinal” yang artinya: “dihitung”.

[7] Dianne Bergant with Richard Fragomeni menyebut hubungan teologis atau “benang merah tafsir” dengan istilah “mosaic of readings”. Lihat: Dianne Bergant with Richard Fragomeni. Preaching the New Lectionary. (Year C). 2000. Collegeville Minnesota: the Order of Saint Benedict, Inc. Istilah yang diajukan oleh Dianne Bergant with Richard Fragomeni dapat digunakan dalam pengertian bahwa tafsir leksionari seperti seseorang yang sedang menyusun sebuah mosaik dari puluhan atau ratusan kepingan yang saling terpisah. Namun setiap kepingan tersebut memiliki tempat dan fungsinya yang khusus.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply