Latest Article

Kaya dalam Kemurahan hati di tengah-tengah Kemiskinan

Pengantar

Wang Gung-wu[1], seorang sarjana ahli Asia Tenggara menyatakan bahwa tidak ada etnis Cina perantauan pasca-Perang Dunia II atau sesudah berakhirnya kolonialisme Barat di Asia yang ada di dunia ini, yang begitu banyak mengalami guncangan seperti di Indonesia (Suryadinata 1984, ix). Kebenaran pernyataan Wang Gung-wu tersebut terlihat dalam peristiwa kerusuhan Mei 1998 yang menimbulkan korban pemerkosaan, pelecehan seksual, penjarahan, pembakaran rumah orang Cina (Tionghoa) Indonesia (Laporan Tim Gabungan Pencari Fakta 13–15 Mei 1998). Namun, apakah yang menjadi akar permasalahannya?

Penelitian Dr. Lukas S. Musianto yang tertuang dalam tulisannya yang berjudul Peran Orang Tionghoa dalam Perdagangan dan Hidup Perekonomian dalam Masyarakat yang disampaikannya di Universitas Kristen Petra Surabaya menyatakan bahwa etnis Cina Indonesia sering dicurigai terlibat dalam masalah yang salah satunya berkaitan dengan dominasi ekonomi. Prasangka negatif terhadap etnis Cina di Indonesia tersebut, menurut Musianto, adalah karena orang Tionghoa sering dianggap mempraktikkan “cukongisme”. Sistem percukongan yang dilakukan orang Cina tersebut didasarkan pada kolaborasi penguasa politik dan militer dengan orang-orang yang kuat secara ekonomis. Dalam konteks ini, sebagian orang Tionghoa dianggap telah membangun “hegemoni cukongisme”, kekuasaan oleh para cukong. Karena itu, para cukong Cina dianggap telah mencari keuntungan pribadi secara tak terbatas melalui sistem monopoli atau oligopoli dalam menjalankan bisnisnya (Musianto 2003, 200). Perilaku orang Tionghoa tersebut dianggap oleh banyak orang berkaitan dengan sistem nilai yang didasarkan kepada kepercayaannya. Salah satu sistem nilai dan kepercayaan yang begitu dominan dalam kehidupan orang Cina dalam wirausaha di Indonesia adalah Konfusianisme (Musianto 2003, 195–199). Apakah memang benar demikian?

Untuk itu, kita akan mengkaji terlebih dahulu pemikiran Konfusius dalam kehidupan orang (Cina) Tionghoa di Indonesia. Bagaimanakah pemikiran Konfusius tentang relasi manusia dengan sesamanya? Xinzhong Yao dalam bukunya yang berjudul Confucianism and Christianity: a Comparative Study of Jen and Agape menyatakan bahwa Jen dalam pemikiran Konfusius merupakan esensi seluruh keberadaan manusia dan alam, dan juga sebagai pembimbing kehidupan manusia, serta kekuatan kreatif bagi alam (Yao 1997, 75). Apakah pemikiran Konfusius tentang Jen tersebut sesuai dengan pemikiran Alkitab tentang perlakuan kepada sesama khususnya dalam makna kemurahan hati? Ataukah pemikiran Konfusius tentang Jen itu bertentangan dengan pemikiran Alkitab sehingga mendorong sebagian orang Tionghoa di Indonesia berlaku serakah secara ekonomis? Padahal secara faktual, tidak semua orang Tionghoa di Indonesia adalah orang kaya. Di antara mereka, cukup banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bagaimana dengan orang-orang Tionghoa yang hidup di bawah garis kemiskinan. Apakah dalam kemiskinannya mereka kehilangan kemurahan hati, dan bertindak tanpa hati nurani? Sejauh mana Konfusiusnisme menawarkan sistem nilai dan etika moral yang luhur dalam menyikapi situasi kemiskinan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita akan membahas pemikiran Konfusius tentang Jen. Setelah itu, kita akan menafsirkan kitab 1 Raja-raja 17:1–24 tentang kemurahan hati janda di Sarfat dan Lukas 21:1–4 tentang persembahan janda miskin. Hasil dari tafsiran kitab 1 Raja-raja 17:1–24 dan Lukas 21:1–4 akan kita gunakan sebagai perspektif kritis terhadap pemikiran Konfusius tentang Jen. Setelah itu, kita akan membuat refleksi teologis tentang korelasi Jen dengan spiritualitas kemurahan hati, dan spiritualitas kemurahan hati dengan etos kerja.

Jalan Jen Sebagai Wujud Kemanusiaan

Pengajaran Konfusiusnisme tentang kemanusiaan merupakan tema sentral. Bagi Kung Fu Tse, humanisme menjadi mungkin ketika kemanusiaan (humanitas) dipandang sebagai sumber tertinggi bagi nilai-nilai ketimbang alam dan dunia adikodrati (Koller 2010, 537). Humanitas dalam pemikiran Konfusiusnisme dinyatakan dengan pemahaman Jen (). Jen adalah kriteria utama yang menjadikan manusia itu khas manusia yaitu bersifat manusiawi. Jen secara harfiah berarti kebajikan, kemanusiaan, kemurahan hati, sosok manusia yang benar, karakter moral, cinta kasih, kebaikan manusiawi, dan welas asih. Arti yang terkandung dalam Jen () begitu luas dan dalam. Di dalam Jen, terangkum seluruh nilai martabat kemanusiaan. Dalam bahasa Inggris, Jen diterjemahkan menjadi human-heartedness untuk menyatakan nilai dan pemahaman seluruh makna kemanusiaan yang berpijak pada hati daripada akal (Oriental Philosophy dalam: philosophy.lander.edu). Kung Fu Tse berkata:

“Jika seorang unggul (Jun Zi)[2] terputus dari kemanusiaannya (Jen), bagaimana ia bisa mewujudkan nama itu? Seorang manusia unggul tidak pernah mengabaikan kemanusiaan (Jen), bahkan ketika ia kekurangan makanan sekalipun. Dalam saat-saat yang gawat itu, ia perlu bertindak menurut kemanusiaan (Jen) itu. Dalam saat-saat kesulitan atau kebingungan, ia juga bertindak menurutnya” (Wang 2012, 38).

Kung Fu Tse memaknai Jen () sebagai prinsip tertinggi dalam perbuatan manusia. Seorang manusia sejati tidak pernah terpisah dari jalan Jen. Tanpa Jen manusia tidak dapat mencapai kepenuhan kemanusiaannya. Jen merupakan basis semua nilai dan harkat yang terdalam dalam kemanusiaan manusia. Karena itu, makna Jen tidak terlepas dari sikap welas asih. Jen dinyatakan dalam tindakan cinta dan kasih kepada sesamanya.

Jalan Jen ()menurut Konfusiusnisme ditempuh melalui tiga jalan, yaitu: tata-cara hidup (Li), kasih filial (Hao atau Hsiao), keadilan (Yi). Tata cara hidup (Li) mengatur bagaimanakah hubungan yang seharusnya antara orangtua dengan anak-anak, saudara tua dengan saudara muda, suami dan istri, teman yang lebih tua dan lebih muda, dan pemerintah dengan rakyat. Karena itu, Li bisa bermakna agama, prinsip umum, tata tertib sosial, dan moral keagamaan. Makna Li selalu dinyatakan dalam pernyataan dan perintah yang bersifat positif daripada negatif (“lakukanlah” daripada “jangan melakukan”). Pelaksanaan Li hanya terwujud apabila manusia melakukan Hao (Hsiao) yaitu cinta filial atau kasih persaudaraan, khususnya sikap seorang anak kepada orangtua. Namun makna Hao (Hsiao) tidak terbatas pada kehidupan keluarga saja, tetapi juga memengaruhi tindakan-tindakan di luar lingkungan keluarga, yaitu relasi sosial masyarakat dan negara. Hubungan cinta kasih filial tersebut akan terwujud apabila diberlakukan keadilan (Yi). Makna Yi merupakan suatu disposisi moral untuk melakukan apa yang adil dan kemampuan untuk mengenal yang benar. Sikap Yi akan membuat seseorang berani mengurbankan hidupnya untuk orang lain yang berada dalam bahaya. Jadi, sikap Yi merupakan prinsip nilai etis yang harus dilaksanakan hanya dengan alasan bahwa tindakan itu benar dan adil (Koller 2010, 547).

Di dalam kitab Su Si (kitab yang empat), Konfusius berkata, “Kebajikan (Jen) itulah yang pokok, dan kekayaan itulah yang ujung” (Ajaran Besar bab X:6). Status kekayaan bukanlah yang utama, melainkan kebajikan (Jen). Di Ajaran Besar bab X:9 Konfusius menyatakan, “Penimbunan kekayaan itu akan menimbulkan perpecahan di antara rakyat; sebaliknya tersebarnya kekayaan akan menyatukan rakyat.” Kemudian di bagian Sabda Suci jilid IV:5, Konfusius berkata, “Kaya dan berkedudukan mulia ialah keinginan tiap orang, tetapi tidak dapat dicapai dengan jalan suci, janganlah ditempati.” Dengan demikian, dapatlah kita simpulkan bahwa sikap “cukongisme” dan sikap serakah sebagian orang Cina di Indonesia itu bukanlah pengaruh ajaran Konfusius. Lebih tepatnya, perilaku beberapa orang Cina tersebut merupakan kecenderungan umum dari setiap orang yang menganggap dirinya memiliki banyak kekayaan dan berkuasa. Orang yang demikian cenderung untuk berkuasa dan menguasai segala sesuatu yang bisa dikuasainya.

Penafsiran 1 Raja-raja 17:1–24

Konteks Narasi

Narasi  di 1 Raja-raja 17 mengisahkan tampilnya Nabi Elia untuk pertama kalinya. Secara keseluruhan, Kitab 1 Raja-raja memang tidak menginformasikan secara utuh tentang latar belakang kehidupan Nabi Elia. Elia hanya disebut sebagai seorang yang berasal dari Tisbe, dari wilayah Gilead. Timbul suatu kesan bahwa Elia secara tiba-tiba mengucapkan hukuman Allah kepada Raja Ahab: “Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan” (1Raj. 17:1). Pernyataan hukuman Allah yang disampaikan oleh Elia tersebut bukanlah tanpa dasar. Kitab 1 Raja-raja 16:31-33 mempersaksikan bahwa Ahab hidup dalam dosa-dosa Yerobeam bin Nebat dan mengambil Izebel, anak Etbaal, raja Sidon menjadi isterinya. [3] Atas pengaruh Izebel, Ahab beribadah kepada Baal dan sujud menyembah kepadanya. Ahab juga membuat mezbah untuk Baal di kuil Baal yang didirikannya di Samaria. Selain itu, Ahab juga membuat patung Asyera sehingga umat tergoda untuk mengikuti jejaknya. Tindakan-tindakan Ahab tersebut dipersaksikan oleh kitab 1 Raja-raja 16:33, dengan pernyataan: “Menimbulkan sakit hati TUHAN, Allah Israel, lebih dari semua raja-raja Israel yang mendahuluinya.” Karena itulah, Elia menyatakan hukuman Allah dengan menghentikan semua embun dan hujan di Israel sampai Allah berkenan mengampuni dosa-dosa Ahab dan Izebel.

Bentuk hukuman Allah berupa penghentian semua embun dan hujan dalam waktu yang panjang adalah untuk melawan kepercayaan kepada Baal. Saat itu, Baal dipercaya sebagai dewa badai yang mampu memberi hujan yang memberi kehidupan bagi bumi. Hujan dipercaya sebagai manifestasi dari Baal yang hidup. Karena itu ketika Elia mampu menghentikan embun dan hujan dalam kurun waktu yang lama, kitab 1 Raja-raja 17 hendak menyatakan bahwa Baal telah dikalahkan (Keck 1999, 126). Hukuman Allah dengan menghentikan embun dan hujan selama sekian waktu hendak menyatakan bahwa hanya Yahweh saja yang hidup dan berkuasa memelihara kehidupan umat manusia. Baal dan Asyera, atau dewa-dewa lain adalah dewa kesia-siaan. Mereka tidak berdaya menolong, memelihara, dan melindungi umat (bdk. 1Raj. 18:27–29).

Dengan tindakannya itu, Elia juga menyatakan perlawanannya kepada Ahab dan Izebel. Walaupun kitab 1 Raja-raja 17 tidak menyebut reaksi Ahab, dapat diduga bahwa Ahab tidak akan tinggal diam. Ahab akan berusaha untuk mencari dan membunuh Elia. Dalam situasi yang demikian, Allah memerintahkan Elia untuk bersembunyi di tepi Sungai Kerit, di sebelah timur Sungai Yordan (1Raj. 17:3). Elia dapat minum dari air Sungai Kerit, dan Allah menyuruh burung-burung gagak untuk memberi makan. Padahal menurut Hukum Taurat, burung gagak termasuk hewan yang haram (Im. 11:15; Ul. 14:14). Selain itu, burung gagak merupakan burung pemangsa (Ayb. 38:41; Ams. 30:17). Namun, Allah justru memerintahkan burung gagak untuk memberi makan Elia. Status burung gagak yang haram dan pemangsa ternyata tidak menghalangi Allah untuk menjadikannya media karya keselamatan-Nya bagi Elia. Konteks inilah yang mengantar pembaca untuk memahami makna perintah Allah yang menyuruh Elia pergi ke Sarfat, wilayah Sidon dan diberi makan oleh seorang janda miskin (1Raj. 17:9).

Elia Diberi Makan oleh Janda Miskin di Sarfat

Sarfat berada di wilayah Sidon. Kitab 1 Raja-raja 16:3 menyatakan bahwa Izebel, istri Ahab berasal dari Sidon. Kota Sidon merupakan pusat penyembahan Baal. Karena itu, wilayah Sidon sebagai wilayah para penyembah Baal seharusnya senantiasa memperoleh air yang cukup dan tidak pernah kering karena Baal adalah dewa kesuburan dan dipercaya mampu memberi hujan. Namun kenyataannya, wilayah Sidon waktu itu juga menderita kekeringan akibat hukuman Yahweh. Dengan kondisi kekeringan yang menimpa wilayah itu, kisah ini menegaskan bahwa hanya Allah saja yang berkuasa memberi kesuburan dan hujan, dan bukan Baal (Keck 1999, 128).

Allah memerintahkan Elia pergi ke Sidon untuk menjumpai seorang janda miskin. Allah tidak memerintahkan Elia agar memberi pertolongan kepada janda miskin tersebut. Sebaliknya, janda miskin tersebut justru akan memelihara kehidupan Elia. Padahal di Perjanjian Lama, janda dianggap sebagai seseorang yang tergolong miskin dan yatim-piatu (Ayb. 24:3–4; 31:16–17; Yes. 10:2; Zak. 7:10). Bencana kekeringan yang dahsyat menyebabkan janda miskin tersebut menjadi lebih miskin dan sangat menderita. Saat dijumpai oleh Elia, janda tersebut sedang mengumpulkan kayu api. Kayu api tersebut berasal dari ranting-ranting tanaman yang patah dari suatu pohon. Hal ini menyatakan situasi kemelaratan ekstrem yang dialami oleh janda tersebut (Jones 1984, 306). Janda itu hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak dalam buli-buli (1Raj. 17:12). Tepung dan minyak tersebut hanya cukup baginya dan anaknya dalam satu kali makan. Setelah itu, mereka berdua akan kelaparan dan mati. Namun ternyata, janda miskin di Sarfat tersebut memperlihatkan kemurahan hatinya di tengah-tengah kemiskinannya. Janda miskin tersebut terlebih dahulu mengolah tepung dan minyak yang ia miliki untuk menjadi roti bagi Elia, barulah sisanya untuk dia dan anaknya.

Kemurahan hati dan sikap iman janda di Sarfat tersebut bertolak belakang dengan sikap Izebel walau mereka berdua berasal dari wilayah yang sama, yaitu Sidon. Izebel bersikap serakah, sehingga menghasut Ahab untuk merebut kebun anggur Nabot dan membunuh Nabot dengan hukuman rajam (1Raj. 21:7–15). Walaupun Ahab dan Izebel berlimpah harta dan kuasa sebagai raja dan ratu Israel, mereka tidak kaya dalam kemurahan hati. Ahab dan Izebel bersikap tamak. Selain itu, Izebel dan janda miskin juga memeluk agama Baal. Namun, janda di Sarfat tersebut justru memperlihatkan sikap iman kepada Yahweh dengan mempercayai ucapan Elia (1Raj. 17:15). Ia terlebih dahulu memberi “hartanya” yang terakhir, yaitu segenggam tepung kepada Elia yang sebenarnya hanyalah seorang asing. Saat anaknya mati dan dibangkitkan oleh Elia, janda di Sarfat itu bahkan menyatakan pengakuan imannya, “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar” (1Raj. 17:24). Janda di Sarfat itu mengimani firman Yahweh, dan mengakui Elia sebagai abdi-Nya.

Makna Teologis Kemurahan Hati

Kitab 1 Raja-raja 17 mempersaksikan karya keselamatan Allah yang melampaui ketetapan Hukum Taurat dan ukuran manusia. Seharusnya menurut Hukum Taurat, burung gagak adalah jenis binatang haram. Namun ternyata dalam 1 Raja-raja 17:4–6, burung gagak tersebut memberi makan Elia berupa roti dan daging. Sebagai hewan pemangsa, burung gagak tidak akan memedulikan kriteria daging haram dan halal sebagaimana diatur oleh Hukum Taurat. Walaupun demikian, burung gagak tersebut memperlihatkan kemurahan hatinya. Demikian pula sikap janda miskin di Sarfat. Status sosial ekonominya yang lemah sebagai seorang janda, orang asing, dan penyembah Baal tidak menghalanginya untuk menunjukkan kemurahan hati. Dia menyambut dan memberi makan Elia walaupun dengan risiko akan segera mati bersama anaknya. Janda miskin di Sarfat tersebut menunjukkan sikap yang mau berkurban bagi orang lain, walaupun nabi Elia adalah seorang asing, yang berbeda agama dan suku.

Penafsiran Lukas 21:1–4

Tafsiran

Dari tuturan Lukas 21:14, secara finansial, persembahan orang kaya itu lebih besar dari pada persembahan dari seorang janda miskin. Janda miskin itu hanya mampu mempersembahkan dua peser ke dalam peti persembahan. Mata uang Romawi kala itu ditempa dari tiga logam utama yaitu emas, perak dan tembaga, serta perunggu atau kuningan. Uang yang dipersembahkan janda miskin tersebut terbuat dari perunggu (yang dalam bahasa Yunani disebut khalkon) (Nolland 1993, 978). Namun, uang yang dipersembahkan oleh janda miskin tersebut begitu kecil, sehingga disebut dengan nama assarion (Yunani), dan lepton (Yahudi). Walaupun dari sudut nominal jumlah uang janda tersebut sangat kecil, menurut pandangan Tuhan Yesus, nilai persembahan janda tersebut lebih besar sebab ia telah mempersembahkan seluruh nafkahnya. Dengan pernyataan tersebut, Injil Lukas menyatakan bahwa betapa miskinnya kondisi janda tersebut sehingga hanya berpenghasilan sekitar dua peser saja. Karena itu, Injil Lukas sengaja menyebut janda tersebut dengan istilah “janda miskin”. Demikian pula Injil Markus (12:42) juga menyebut janda tersebut dengan predikat “miskin”.[4]

Kata “miskin” yang digunakan oleh Lukas 21:2 adalah kata penikhros (πενιχρός)[5]. Kata penikhros dipakai untuk menunjuk kepada seorang yang sangat miskin dan tetap bekerja mencari nafkah. Namun, nafkah yang diperolehnya dipergunakan untuk sesuatu yang mulia dan kudus. Dengan demikian, kata penichros dipakai untuk menunjuk seorang miskin yang begitu miskin bekerja mencari nafkah (miserably poor and needy) (Zodhiates 1993, 1138), tetapi nafkah tersebut bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, melainkan dipersembahkan kepada Allah. Situasi kemiskinannya tidak menghalanginya untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Allah. Aspek yang menonjol dari diri janda tersebut adalah kemurahan hati dan cinta kasihnya yang berkobar-kobar kepada Allah. Itu sebabnya Yesus memuji sikap janda tersebut karena memiliki hati yang kaya dalam kemurahan di tengah-tengah kemelaratannya.

Bertentangan dengan janda miskin yang memiliki hati kaya dalam kemurahan itu, kesaksian Lukas 21:14 ditempatkan dalam konteks teguran Yesus terhadap perilaku para para ahli Taurat yang tidak terpuji. Di Lukas 20:46, Yesus memberi nasihat agar para murid bersikap waspada terhadap para ahli Taurat yang gemar memamerkan diri dengan pakaian keagamaan dan mencari kehormatan dari publik. Lebih dari pada itu, Yesus juga menasihati banyak orang agar waspada terhadap para ahli Taurat yang suka menelan rumah janda-janda dan yang mengelabuhi mata orang dengan doa yang panjang-panjang (Luk. 20:47).

Jadi ada dua aspek yang dikontraskan Yesus, janda yang murah hati dalam kemelaratannya dan para ahli Taurat yang justru memanfaatkan kedudukannya untuk menyesengsarakan rakyat.

Spiritualitas Kemurahan Hati

Dengan memerhatikan konteks tersebut, terlihat jelas kontras spiritualitas janda miskin dengan para ahli Taurat. Janda miskin itu kaya dalam kemurahan hati, sedangkan para ahli Taurat justru suka mencari kehormatan dan menelan harta milik para janda, serta mengelabui umat dengan doa-doa yang tampaknya saleh. Para ahli Taurat tersebut tidak memiliki kekayaan rohani walaupun mereka umumnya cukup kaya secara materi dan terpelajar. Pada dasarnya, mereka tidak peduli dengan pergumulan dan kesusahan umat (Morris 1992, 321). Sebaliknya, janda yang miskin (mungkin dia juga pernah menjadi korban para ahli Taurat tersebut) memperlihatkan sikap rohani yang kaya dalam kemurahan hati. Jika demikian, apakah spiritualitas janda miskin yang murah hati tersebut merupakan manifestasi dari pengajaran Yesus tentang “miskin di hadapan Allah”? Di Matius 5:3, Yesus berkata “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”

Kata “miskin di hadapan Allah” di Matius 5:3 merupakan suatu terjemahan bebas dari hoi ptochoi toi pneumatic (οἱ πτωχοὶ τῷ πνεύματι), yaitu orang-orang yang miskin dalam roh. Bila dilihat secara harfiah, terdapat perbedaan besar makna “miskin dalam roh” dengan kondisi janda miskin tersebut. Janda miskin tersebut benar-benar miskin (melarat) secara sosial dan ekonomis. Namun, “miskin dalam roh” yang dimaksudkan oleh Yesus menunjuk kepada pemaknaan yang lebih luhur. Makna “miskin dalam roh” tidak menunjuk secara signifikan kepada setiap orang miskin sebab sikap “miskin dalam roh” bisa dimiliki oleh orang yang miskin secara ekonomis maupun orang yang kaya secara ekonomis. Dalam konteks Lukas 21:2, janda miskin terbukti tidak terikat dengan kemiskinan dan kekurangannya, sehingga ia tetap mampu memberikan yang terbaik bagi Allah.[6] Seorang yang miskin secara materi dapat menjadi seorang yang tidak miskin secara rohani karena terikat dengan kondisi kemiskinannya. Jika demikian, apa yang menjadi ukuran dan kriteria bagi Yesus untuk menentukan seseorang “miskin secara roh” atau “miskin di hadapan Allah” (TB-LAI)?

Perbandingan Narasi Kemurahan Hati

Lukas 7:36 mempersaksikan seorang Farisi yang mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Kemudian, “Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.” Pola kesaksian ini bukanlah pertama kali terjadi. Berulang-ulang, Injil mempersaksikan Yesus menerima undangan untuk makan di rumah seorang yang kaya (Mrk. 2:1415 dan par.; Luk. 11:37; 14:24; 19:59). Logikanya, bila tuan rumah dalam acara makan tersebut adalah seorang yang kaya, Yesus dan para murid-Nya akan dijamu dengan makanan yang mewah. Namun dalam acara makan di Lukas 7:36, terjadi suatu hal yang di luar dugaan. Saat Yesus makan bersama dengan para tamu, tiba-tiba datanglah seorang perempuan yang membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Injil Lukas menyebut perempuan tersebut dengan istilah “seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa” (Luk. 7:37).[7] Perempuan tersebut bukan hanya menyeka kaki Yesus dengan minyak wangi yang sangat mahal, melainkan juga sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya. Ia lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyeka dengan rambutnya, kemudian mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Simon, orang Farisi yang menjadi tuan rumah tersebut gusar melihat sikap Yesus sambil berkata di dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa” (Luk. 7:39). Simon gusar karena Yesus membiarkan perempuan tersebut menyentuh diri-Nya.

Respons Yesus terhadap sikap Simon orang Farisi tersebut adalah dengan mengingatkannya bahwa saat Yesus masuk ke dalam rumahnya, ia tidak membasuh kaki Yesus sesuai kebiasaan dan adat isitiadat Yahudi. Orang Yahudi sangat menghormati seorang tamu (bdk. sikap Abraham di Kej. 18:1-9). Namun perempuan yang dianggap berdosa tersebut telah membasahi kaki Yesus dengan air mata, menyekanya dengan rambutnya, dan meminyaki dengan minyak yang sangat mahal. Dari sudut kemampuan finansial, Simon sebagai orang Farisi memiliki harta yang lebih banyak daripada perempuan tersebut. Namun, Simon hanya menjamu Yesus dengan makanan yang mewah, tanpa hati yang kaya dalam kemurahan rohani dan cinta kasih.

Lebih daripada itu, perempuan yang meminyaki kaki Yesus tersebut juga menyatakan kasih dan penyesalan yang mendalam akan dosa-dosanya. Dari Injil Lukas 7:3647, kita dapat melihat kesejajaran spiritualitas “miskin dalam roh” dengan Lukas 21:14. Kedua wanita tersebut menyatakan kasihnya kepada Tuhan dengan sepenuh hati walaupun secara ekonomis mereka sangat miskin. Mereka dapat disebut sebagai “miskin dalam roh” dalam pengertian kaya dalam kemurahan hati dan tidak menganggap diri sebagai orang yang layak di hadapan Tuhan. Namun apakah orang-orang yang memiliki spiritualitas “miskin dalam roh” hanyalah orang-orang miskin?

Perumpamaan Yesus di Lukas 10:2937 mengisahkan tentang orang Samaria yang murah hati. Secara ekonomis, tampaknya orang Samaria tersebut kaya. Namun saat orang Samaria melihat seorang Israel yang baru saja dirampok dan dianiaya, ia terdorong oleh belas kasihan. Orang Samaria itu menunjukkan kemurahan hati yang dalam. Ia segeramembalut luka-lukanya, dan menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian, ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya, ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya,Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali” (Luk. 10:35).

Persamaan spiritualitas orang Samaria yang murah hati dengan janda miskin dan perempuan yang berdosa itu adalah mereka memiliki hati yang mengasihi dan tidak terikat dengan kondisi sosial dan ekonomi mereka. Orang Samaria yang murah hati tersebut tidak terikat dengan harta dan status etnis yang seharusnya mencegah dia untuk menolong orang Israel yang dianggap musuhnya. Demikian pula, janda miskin tersebut tidak terikat dengan kemiskinannya secara ekonomis, dan perempuan yang berdosa itu juga tidak terikat dengan ketegaran hati dan keterbatasan ekonomisnya.

Korelasi Jen dengan Spiritualitas Kemurahan Hati

Jalan Jen merupakan tindakan etis-moral yang dilandasi oleh kebajikan, kemurahan hati, dan cinta kasih. Muara jalan Jen yang terdalam adalah human-heartedness (belas kasihan) yang bersumber dari dalam hati. Manusia akan mengalami kepenuhan kemanusiaannya atau menjadi manusia sejati apabila hidupnya dikendalikan oleh Jen. Tanpa dilandasi oleh jalan Jen, manusia akan kehilangan kemanusiaannya. Konfusius menyatakan,Seorang manusia unggul tidak pernah mengabaikan kemanusiaan (Jen), malah ketika ia kekurangan makanan sekalipun. Dalam saat-saat yang gawat itu, ia perlu bertindak menurut kemanusiaan itu. Dalam saat-saat kesulitan atau kebingungan, ia juga bertindak menurutnya” (Koller 2010, 539). Jalan Jen ini di Lukas 21:14 dipraktikkan oleh seorang janda miskin. Di tengah-tengah kemelaratannya, ia tetap mempersembahkan yang terbaik bagi Allah. Kemiskinannya tidak menghalangi dia untuk tetap bertindak luhur dan mempermuliakan Allah. Karena itu, hidup menurut Jen menuntut pertumbuhan rasa belas kasih seorang dan perwujudan rasa belas kasih itu pada orang lain. Dengan demikian, Jen merupakan wujud dari penyadaran hati nurani (chung) dan altruisme (shu) (Koller 2010, 540).

            The Holy Bible Chinese Union (Ho Ho) Version menerjemahkan buah Roh “kasih” di Galatia 5:22 dengan kata Jen. Penerjemahan tersebut pada hakikatnya menyatakan bahwa jalan Jen diwujudkan dalam tindakan kasih ilahi yang tanpa syarat, yaitu agape. Jalan Jen bukanlah sekadar suatu ungkapan kasih yang sifatnya humanistik belaka, tetapi juga ilahi. Xinzhong Yao dalam bukunya yang berjudul Confucianism and Christianity: a Comparative Study of Jen and Agape menyatakan Jen memiliki tiga dimensi, yaitu: Jen sebagai kemanusiaan, Jen sebagai kebajikan, dan Jen sebagai cinta-kasih (Yao 1997, 75). Ketiga dimensi Jen tersebut merupakan pemberian dari “Langit”. Karena itu, dalam Jen terdapat korelasi antara Allah (“ShangDi” atau “Tian”) dengan kehidupan manusia: “Heaven, when it constituted man’s nature, commanded him to practice love (Jen) and righteousness” (Langit, ketika membentuk kedirian manusia, memerintahkannya untuk mempraktikkan kasih dan kebenaran) (Yao 1997, 76). Dengan demikian jalan Jen tidak berbeda jauh maknanya dari Agape, yaitu kasih ilahi yang memberi diri tanpa syarat. Karena itu, seorang yang memberlakukan Jen akan menyatakan kemurahan hati dan belas kasihannya, walaupun saat itu, ia sedang mengalami kekurangan dan kemiskinan. Ia akan didorong oleh kasih Allah yang memberi diri, sehingga selalu mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan sesamanya. Apalagi saat seseorang memperoleh kekayaan dan rezeki, ia akan mempraktikkan jalan Jen dengan memberi kemurahan hati kepada sesama yang menderita. Ia tidak merasa sayang untuk membagikan setiap berkat dan rezeki yang dimilikinya. Jadi, hidup menurut jalan Jen atau spiritualitas kemurahan hati tidak menghalangi setiap orang kaya dan miskin untuk menyatakan bela rasa kepada sesama.[8]

Dalam konteks ini jalan Jen identik dengan spiritualitas “miskin secara rohani”. Makna spiritualitas miskin secara rohani pada hakikatnya menunjuk kepada setiap orang yang memiliki banyak hal tetapi tidak terikat dengan segala hal. Demikian pula makna spiritualitas miskin secara rohani berlaku bagi setiap orang yang tidak memiliki banyak hal, tetapi juga tidak terikat dengan segala hal yang tidak mereka miliki. Mereka mampu mengambil “jarak rohani” terhadap segala yang mereka miliki dan yang tidak dimiliki. Karena itu, mereka hidup dalam suatu ruang spiritualitas yang luas dan dipenuhi oleh kemurahan hati untuk menolong setiap sesama yang membutuhkan. Sangat menarik bahwa ternyata spiritualitas “miskin secara rohani” juga tidak terbatas kepada suatu umat tertentu. Spiritualitas “miskin secara rohani” yang dipersaksikan oleh kitab 1 Raja-raja 17 berasal dari seorang janda miskin yang berasal dari Sidon. Janda miskin tersebut bukan orang Israel. Demikian pula, kebijaksanaan yang luhur dan pemberlakuan spiritualitas “miskin secara rohani” tidak semata-mata lahir dari lingkungan umat Allah. Kita dapat melihat kehidupan Konfusius yang mengajar dan mempraktikkan jalan Jen. Nilai-nilai pengajaran Konfusius tentang Jen menggemakan teologi dan spiritualitas iman Kristen tentang kasih agape. Sebagaimana Allah berkarya menyatakan keselamatannya melalui janda miskin dari Sarfat, demikian pula Allah berkarya dan mewahyukan kebenaran kasih-Nya melalui Konfusius. Konfusius berkata, “Jangan lakukan sesuatu yang dirimu tidak mau diperlakukan seperti itu oleh orang lain” (己所不欲勿施于人). Prinsip yang sama juga dikemukakan oleh Yesus dalam Golden Rule, yaitu: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat. 7:12).

Spiritualitas Kemurahan Hati dan Etos Kerja

Spiritualitas kemurahan hati sebagaimana dipraktikkan oleh janda miskin di Sarfat (1Raj. 17:46) dan janda miskin yang memberi persembahan (Luk. 21:14) adalah ungkapan yang memberi kepada sesama dan Tuhan dengan sepenuh hati. Mereka memberi karena mengasihi dan sama sekali tidak mengharapkan balasan. Namun, kemurahan hati akan lebih efektif apabila pada saat yang sama, kita memiliki etos kerja yang baik. Pemeliharaan Allah kepada janda miskin di Sarfat dengan pemberian tepung dan minyak yang tidak makin berkurang (1 Raj. 17:14-16) bukan dimaksudkan sebagai anjuran untuk bersikap pasif. Demikian pula, janda miskin yang memberi persembahan dengan seluruh yang dimilikinya bukan dimaksudkan sebagai pengajaran agar umat memilih hidup serba kekurangan dan kemiskinan. Yesus lebih menekankan sikap hidup yang rajin bekerja dan senantiasa siap melakukan pekerjaannya. Di Lukas 12:35, Yesus berkata, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.” Frase “hendaklah pinggangmu tetap berikat” menunjuk kepada arti siap sedia untuk bekerja, dan “pelita tetap menyala” menunjuk kepada upaya menerangi ruangan agar umat tetap dapat bekerja di waktu malam. Karena itu, Yesus berkata, “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka” (Luk. 12:37). Dengan demikian, Yesus menghargai sikap rajin, ulet, dan bertanggungjawab dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Sikap yang rajin, ulet, dan bertanggungjawab pasti akan membawa seseorang kepada kesejahteraan ekonomi. Dengan spiritualitas kemurahan hati, kesejahteraan ekonomi dapat menjadi media yang efektif bagi seseorang untuk menyatakan kepedulian dan bela rasa kepada sesama yang menderita.

Demikian pula, Konfusius menekankan makna martabat manusia yang utuh dalam arti yang seluas-luasnya. Jen yang menjadi basis semua nilai dan harkat yang menentukan keseluruhan kemanusiaan dimaknai dengan melakukan kebenaran dan keadilan (Yi). Kebenaran dan keadilan (Yi) diwujudkan dengan sikap yang bertanggungjawab terhadap kewajiban dan tugas. Konfusius berkata, “Seorang Kuncu, makan tidak mengutamakan kenyangnya; bertempat tinggal tidak mengutamakan enaknya, ia tangkas di dalam tugasnya dan hati-hati di dalam kata-katanya” (Sabda Suci jilid I:14). Sikap Yi diwujudkan dengan mampu mengendalikan nafsu, dan kenyamanan lahiriah. Karena itu, sikap Yi lebih mengutamakan ketangkasan dalam bekerja (skill dan kompetensi) dan pengendalian dirinya. Dengan pola hidup yang demikian, seseorang layak sebagai Jun Zi atau Chun-Tsu (Kuncu), yaitu apabila ia unggul dalam moral dan etika melalui kebajikan (virtue). Karena itu, Konfusius menekankan pola hidup yang hemat.[9] Etos kerja Konfusius bagi seorang Jun Zi adalah mengutamakan kerja keras, hemat, dan bersusila tinggi dalam memberlakukan keadilan dan kebenaran (Yi), yaitu mewujudkan Jen (kebajikan dan kemurahan hati) kepada sesamanya. Orientasi hidup seorang Jun Zi tersebut terjadi dalam kehidupan di masa kini. Konfusius tidak pernah membayangkan konsep “keselamatan” setelah kematian. Pemikiran Konfusius tersebut dapat dibandingkan dengan pemikiran Max Weber tentang asketisme yang terarah ke dalam dunia (inner-worldly asceticism).[10] Dengan demikian, spiritualitas “kemurahan hati” ditempatkan dalam konteks etos kerja yang wajib dilakukan setiap umat dengan serius, tekun, hemat, dan tangkas dalam kehidupan riil di masa kini.

Etos kerja dalam konteks kitab 1 Raja-raja 17 dilakukan oleh Elia dalam ketaatannya kepada Allah, dan perannya sebagai seorang nabi yang memberitakan kebenaran sekaligus hukuman Allah. Bagi janda miskin di Sarfat, etos kerjanya didasari oleh kemurahan hati dan keyakinannya bahwa Elia adalah seorang Nabi Allah. Sedangkan, etos kerja dalam konteks Lukas 21:14 didasari oleh dorongan kasih yang tulus dari seorang janda miskin, sehingga ia ingin mempermuliakan Allah dengan apa yang dimilikinya. Karena itu dengan rela, janda miskin tersebut mempersembahkan seluruh nafkahnya kepada Allah. Ia bekerja bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk pekerjaan dan kemuliaan Allah. Dalam konteks yang lebih luas, etos kerja Kristus dilakukan dalam relasi dan ketaatan-Nya kepada Allah. Di Yohanes 5:17, Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” Walaupun Kristus hidup dalam kemuliaan Allah, Ia bersedia menjadi miskin agar umat manusia dapat memperoleh hidup yang berlimpah.[11] Kristus menyatakan kemurahan hati dengan memberikan seluruh hidup-Nya di tengah-tengah kemiskinan-Nya.[12]

Kesimpulan

Kaya dalam kemurahan hati bersifat universal dan tidak terbatas pada suatu lingkungan dan umat tertentu. Sikap janda di Sarfat, janda miskin yang memberi persembahan, dan teladan Konfusius serta nilai-nilai pengajarannya yang luhur tentang Jen menyatakan bahwa spiritualitas kemurahan hati bukanlah suatu eksklusivisme seperti agama, etnis, dan kepercayaan tertentu. Kenyataan ini menyatakan bahwa Allah dapat bekerja secara bebas, dan berdaulat dalam kehidupan seluruh umat manusia. Allah mewahyukan dan menetapkan hukum-hukum-Nya, dan pada pihak lain Allah bebas berkarya melampaui hukum dan ketetapan-ketetapan-Nya. Imanensi Allah ternyata tidak menghalangi transendensi-Nya.

Kaya dalam kemurahan hati menjadi suatu kemungkinan ketika seseorang mampu melepaskan dari keterikatan dengan yang ia miliki dan juga dengan yang tidak ia miliki. Seorang yang kaya akan menjadi miskin dalam kemurahan hati ketika ia lekat dengan yang ia miliki, dan seorang miskin akan menjadi kikir ketika ia lekat dengan yang tidak ia miliki. Karena itu, kemurahan hati tidak terbatas pada orang kaya secara ekonomis, melainkan juga terbuka bagi orang miskin. Asalkan setiap orang baik kaya maupun miskin dikendalikan oleh kekuatan kasih dan bela rasa. Ahab dan Izebel miskin dalam kemurahan hati karena dikendalikan oleh keserakahan dan kekejamannya. Sebaliknya, janda di Sarfat dan janda miskin yang memberi persembahan digerakkan oleh cinta kasih yang berkobar-kobar dan tidak memedulikan kondisi kemiskinan dan penderitaannya. Melalui Jen, Konfusius menginspirasi banyak orang untuk dikendalikan oleh sikap kasih dan bela rasa (welas asih) sebagai ciri humanitas yang paling fundamental dalam kehidupan manusia. Beberapa orang Tionghoa mempraktikkan “hegemoni cukongisme” bukan karena pengaruh pemikiran filsafat Konfusiusnisme, melainkan karena kecenderungan setiap orang yang merasa dirinya berkuasa dan memiliki kekuatan ekonomis.

            Makna jalan Jen yang dinyatakan dalam kebajikan dan cinta kasih yang tanpa pamrih sejajar dengan makna Agape, yaitu kasih ilahi yang memberi diri tanpa syarat. Jen dan Agape adalah wujud dari spiritualitas “miskin di dalam roh” (sikap miskin di hadapan Allah). Jen bukan sekadar kasih yang humanitas belaka karena di dalamnya mengandung sikap iman kepada “Tian” atau “ShangDi” (Allah). Sebaliknya, Agape bukan sekadar kasih ilahi (divinitas), melainkan di dalamnya juga mengandung sikap kasih kepada sesama (humanitas). Sikap kasih agape dari Allah tersebut dinyatakan secara konkret dalam seluruh kehidupan dan karya Kristus yang bersedia miskin walaupun Ia kaya agar setiap umat manusia menjadi kaya karena kemiskinan-Nya (2Kor. 8:9). Kristus menyatakan kemurahan hati-Nya dengan memberikan hidup-Nya agar umat menerima hidup yang berlimpah (Yoh. 10:10b). Untuk melaksanakan misi-Nya tersebut, melalui inkarnasi-Nya, Kristus memilih untuk menjadi miskin, yaitu bahwa “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk. 9:58).

Nilai-nilai Jen dan Agape mendorong setiap orang untuk senantiasa meningkatkan etos kerja yang baik. Kemurahan hati yang peduli dan berbela rasa kepada sesama perlu diimbangi dengan sikap etos kerja yang didasari oleh sikap yang tekun, hemat, dan tangkas dalam kehidupan riil di masa kini. Dengan etos kerja tersebut, setiap orang layak untuk hidup sejahtera dan makmur secara ekonomis, sehingga mereka dimampukan untuk menyatakan kemurahan hatinya dalam lingkup yang lebih luas. Sejauh mereka hidup dalam spiritualitas “miskin dalam roh”, mereka dimampukan untuk tidak jatuh dalam jerat cinta uang (bdk. 1Tim. 6:10; bdk. 2Tim. 3:2; Ibr. 13:5). Dengan demikian, spiritualitas kemurahan hati umat terkait erat dengan kompetensinya untuk senantiasa mengembangkan diri, sehingga ia sukses dalam bekerja dan menjalankan tanggung jawab kemanusiaannya di tengah-tengah dunia ini, sebab Allah akan mengaruniakan anugerah-Nya sehingga umat dimampukan untuk kaya dalam kemurahan hati di tengah-tengah situasi riilnya.

           

Daftar Acuan

Blomberg, Craig L. 2011. Tidak Miskin, Tetapi juga Tidak Kaya: Teologi Alkitab tentang Kepemilikan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Jones, G.H. 1984. The New Century Bible Commentary: 1 and 2 Kings, Volume II. Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company.

Keck, Leander E. 1999. The New Interpreter’s Bible Volume III. Nashville: Abingdon Press.

Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia. 1970. Su-Si (Kitab yang Empat)

Morris, Leon. 1992. Tyndale New Testament Commentaries: Luke. Grand Rapids, Michigan. William B. Eerdmans Publishing Company.

Musianto, Lukas. 2003. Peran Orang Tionghoa dalam Perdagangan dan Hidup.

Perekekonomian dalam Masyarakat, Jurnal Managemen dan Kewirausahaan Volume V, Nomor 2, September 2003: 193-2006. Surabaya: Universitas Kristen Petra

Nolland, John. 1993. Word Biblical Commentary: Luke 18:35-24:53. Dallas, Texas: Word Books Publishers.

Stott, John. 1984. Issues Facing Christians Today: A Major Appraisal of Contemporary Social and Moral Quenstions. Singapore: Marshall Morgan and Scott.

Yao, Xinzhong. 1997. Confucianism and Christianity: a Comparative Study of Jen and Agape. Brighton, United Kingdom: Sussex Academic Press.

Zodhiates, Spiros. 1993. The Complete Word Study Dictionary New Testament. Chattanooga, AMG Publishers.

Situs-situs:

Clarke’s Commentary on the Bible: http://clarke.biblecommenter.com/matthew/5.htm (diunduh 15 Mei 2012)

Koinchi Shinohara: “Adjustment and Tension in Max Weber’s Interpretation of Confucianism” https://ojs.lib.byu.edu/spc/index.php/CCR/article/viewFile/12920/12784 (diunduh 15 Mei 2012).

[1]Tesis Wang Gung-wu berjudul The Structure of Power in North China during the Five Dynasties (Struktur Kekuasaan di Tiongkok Utara selama Lima Dinasti) telah diuji di Universitas London (1957). Ia pernah mengajar di Universitas Malaya (baik di Singapura maupun Kuala Lumpur).

[2] Istilah Jun Zi atau juga sering disebut Chun-Tsu menunjuk kepada seorang yang memiliki keunggulan moral dan etika melalui kebajikan (virtue), sehingga mengalami kedamaian batiniah. Keunggulan moral dan etika tersebut terjadi karena seseorang senantiasa memperbaiki dirinya sendiri menjadi orang yang benar.

[3] Elia hidup dalam periode pemerintahan Raja Ahab (875–854 s.M.) dan penggantinya Raja Ahaziah (854–853). Nama Elia berarti “Yahweh itu Allah”. Ia berperan sebagai pembela Yahwisme dengan melawan semua kultus kepada Baal dan kejahatan yang telah dilakukan oleh Raja Ahab (Jones 1984, 301).

[4] Injil Markus 12:42 tidak menggunakan kata penikhros (πενιχρός) sebagaimana Lukas 21:2, tetapi Markus menggunakan kata ptōchos (πτωχὸς). Kata ptōchos menunjuk kepada seorang yang miskin, tetapi tidak memiliki daya juang dan karena itu mereka umumnya menjadi pengemis (Luk. 14:13; 16:20; Yoh. 9:8). Dengan penggunaan kata ini, Injil Markus mempersaksikan bahwa perempuan yang memberi persembahan sebesar dua peser kemungkinan besar berasal dari hasil meminta-minta (mengemis).

[5] Lawan kata dari penichros”adalah plērēs (πληρης) yang berarti: berlimpah (Luk. 4:1; Yoh. 1:14; Kis. 6:3, 5, 8; 7:55), atau lengkap, sempurna (Mark. 4:28).

[6] Makna “miskin dalam roh” dalam Matius 5:3 menunjuk kepada “Not under the influence of fate or chance, but is governed by an all-wise providence, having every step directed to the attainment of immortal glory, being transformed by the power into the likeness of the ever-blessed God” (tidak di bawah pengaruh nasib atau kebetulan, tetapi dikendalikan oleh pemeliharaan Allah yang bijaksana, memiliki setiap langkah yang diarahkan kepada pencapaian kemuliaan abadi, dan ditransformasikan oleh kuasa untuk menjadi serupa dengan Allah (Clarke’s Commentary on the Bible: http://clarke.biblecommenter.com/matthew/5.htm). Seorang yang “miskin dalam roh” memiliki orientasi hidup yang tertuju kepada kemuliaan abadi dengan mengerjakan setiap pekerjaan sehari-hari dengan rajin, berdedikasi tinggi, dan menggunakan talenta yang dikaruniakan Allah.

[7] Lukas menyebut dengan istilah “seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa.Ungkapan Lukas tersebut merupakan gaya bahasa eufemisme. Dengan gaya eufemisme tersebut Lukas bermaksud menghaluskan status perempuan tersebut yang sebenarnya seorang pelacur (Blomberg 2011, 109).

[8] John Stott dalam bukunya yang berjudul Issues Facing Christians Today membagi kemiskinan dalam tiga kelompok yaitu: Pertama, kaum fakir miskin, yaitu orang-orang miskin mutlak yang kekurangan kebutuhan pokok. Kedua, orang-orang miskin yang tertindas. Ini bukanlah orang-orang yang malas, dan tidak ulet bekerja, melainkan karena situasi ketidakadilan. Ketiga, orang miskin secara rohani, yaitu setiap orang baik kaya dan miskin secara ekonomis, tetapi mereka menyatakan kebenaran kasih Allah dan hidup dengan rendah hati (Stott 1984, 216220).

[9] Di Sabda Suci jilid IV:9, Konfusius berkata, “Seorang siswa yang benar-benar hidup di dalam Jalan Suci, tetapi masih malu berpakaian buruk dan makan tidak enak, sesungguhnya ia belum masuk hitungan.

[10] Koinchi Shinohara dalam tulisannya yang berjudul Adjustment and Tension in Max Weber’s Interpretation of Confucianism menyatakan bahwa pemikiran Max Weber yang berjudul The Protestans Ethic and the Spirit of Capitalism memiliki benang merah dengan pemikiran Konfusius. Menurut Weber, Protestanisme khususnya Calvinisme berhasil mengubah orientasi spiritualitas gereja yang semula berkiblat kepada “asketisme yang terarah ke luar dunia” (other-worldly asceticism) menjadi suatu “asketisme yang terarah ke dalam dunia” (inner-worldly asceticism). Prinsip spiritualitas asketisme yang terarah ke dalam dunia hidup bertarak adalah: tekun, serius, penuh disiplin diri, dan mampu menolak godaan kenikmatan. Dalam hal ini, Konfusius sejak awal telah menekankan hidup bertarak dengan mengutamakan kebajikan, yaitu Jen (kemurahan hati dan cinta kasih kepada sesama) dengan menolak godaan kenikmatan, tetapi tekun bekerja, hemat, adil, dan menjaga kesusilaan (https://ojs.lib.byu.edu/spc/index.php/CCR/article/viewFile/12920/12784).

[11] Kata ptōcheia (πτωχεία) digunakan di 2 Korintus 8:9 yang dikaitkan dengan sikap Kristus yang bersedia miskin sekalipun Ia kaya. Tujuan Kristus yang bersedia menjadi miskin adalah agar umat menjadi kaya, yaitu mengalami hidup yang berlimpah dalam keselamatan dan anugerah Allah. Dengan demikian kata ptōcheia digunakan dalam surat 2 Korintus 8:9 untuk menunjuk makna kemiskinan secara positif. Situasi kemiskinan bukan disebabkan karena kemalasan dan pemborosan, melainkan sebagai pilihan dengan suatu tujuan yang luhur.

[12] Yesus hidup miskin dalam pengertian Ia tidak kekurangan, tetapi juga tidak hidup dalam kelimpahan materi. Makna kesaksian Injil tersebut adalah agar dalam inkarnasi dan karya-Nya, Kristus dapat berbela rasa dengan setiap umat yang menderita, lemah, dan miskin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply