Latest Article
Makna dan Refleksi Sabtu Sunyi

Makna dan Refleksi Sabtu Sunyi

Sabtu Sunyi merupakan satu-satunya perayaan gerejawi tanpa liturgi, sebab dalam perayaan Sabtu Sunyi umat melakukan perenungan yang sifatnya meditatif. Dalam perenungan tersebut umat berpuasa menantikan kebangkitan Kristus yang terjadi pada Paskah Subuh (Easter Vigil). Karena itu puasa yang dilakukan umat pada hari Sabtu Sunyi merupakan kesatuan dengan puasa yangn dilakukan umat pada hari Jumat Agung, yaitu perayaan akan kematian Kristus di atas kayu salib. Tema perenungan pada hari Jumat Agung dan Sabtu Sunyi adalah karya keselamatan Allah yang telah terjadi dalam penderitaan dan kematian Kristus (Hickman, et all. 1986, 190). Hiasan di daerah mimbar pada Sabtu Sunyi biasanya memakai ranting-ranting kering, atau tanpa hiasan sama sekali. Ciri utama selama Sabtu Sunyi adalah keheningan agar umat secara intensif berdoa, membaca firman, dan merenungkan untuk menghayati makna kematian Kristus dan menantikan kebangkitan Kristus dengan harapan iman.

Keheningan berdoa dan merefleksikan karya keselamatan Allah yang terjadi dalam kematian Kristus pada Sabtu Sunyi paralel dengan perintah Allah kepada umat Israel untuk menguduskan hari Sabat (Kel. 20:8-11). Melalui kematian Kristus, Allah mengingatkan kita akan karya penciptaan yang baru, yaitu melalui penebusan-Nya di atas kayu salib; dan melalui Firman keempat, Allah mengingatkan manusia akan karya penciptaan-Nya yang telah terjadi selama enam hari lamanya. Keduanya merupakan tema yang hakiki dalam sejarah kehidupan umat manusia. Allah telah berkarya dan menciptakan kehidupan namun telah dirusak oleh dosa, dan di dalam Kristus Allah kembali menciptakan kebaruan sehingga manusia hidup dalam anugerah-Nya. Perenungan pada Sabtu Sunyi merupakan tindakan retreat agar umat menemukan kembali sumber dan kekayaan rohaninya yang bersumber pada karya keselamatan Allah di dalam inkarnasi dan penebusan Kristus.

Merayakan Sabtu Sunyi merupakan bagian dari perayaan Triduum (Tri Hari Suci), yaitu: Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Paskah. Perayaan Triduum merupakan perayaan gerejawi yang menjadi jantung keselamatan iman Kristen, karena melalui peristiwa-peristiwa Kristus tersebut karya keselamatan Allah mencapai puncaknya. Karya keselamatan Allah tersebut merupakan kebutuhan dan harapan manusia yang paling utama. Karena itu perayaan Triduum bukanlah suatu perayaan gerejawi yang terlepas dari konteks riil kehidupan umat. Kita hidup di tengah-tengah budaya kematian yang menyebarkan sengat maut dalam berbagai manifestasinya. Karena itu melalui perenungan iman (refleksi teologis) tentang kematian Kristus dan kebangkitan-Nya, kita akan memeroleh kekuatan rohani sehingga memampukan kita untuk memaknai realita hidup dengan perspektif harapan iman kepada Kristus yang telah bangkit.

Tulisan singkat tentang “Makna dan Refleksi Sabtu Sunyi” bertujuan membantu umat memahami misteri kematian Kristus sehingga dimampukan untuk merespons realita “ketiadaan” (kematian, keputusasaan, kepedihan, dan ketiadaan makna hidup) dengan kuasa kebangkitan Kristus. Kuasa kebangkitan Kristus menjadi kuasa yang terus-menerus hadir menyingkirkan “ketiadaan” yaitu kuasa dan sengat maut dalam berbagai dimensi kehidupan.

Pendahuluan

Pada perayaan Sabtu Sunyi, umat percaya menghayati masa transisi dari peristiwa kematian Yesus dan kebangkitan-Nya (Martimort, et all. 1986, 38). Dalam masa transisi tersebut mengandung dua aspek yang saling menyatu, yaitu kedukaan dan harapan. Dimensi kedukaan adalah karena Yesus telah wafat di atas kayu salib yang telah dirayakan pada Jumat Agung, dan dimensi harapan karena Yesus akan bangkit dari kematian-Nya pada hari Paskah. Dalam perayaan Sabtu Sunyi, dimensi kedukaan dan harapan dilabuhkan dalam sikap iman. Seraya merenungkan makna kefanaan manusia di depan jenasah Yesus yang berada di dalam makam, umat menghayati makna Sabtu Sunyi dengan keheningan dan sikap meditatif.

Perayaan Sabtu Sunyi disebut dengan “Sabat Kedua” yang menggemakan ingatan umat akan karya Allah yang menciptakan langit, bumi dan seisinya selama enam hari dan pada hari ketujuh Allah berhenti menguduskan. Demikian pula pada Sabtu Sunyi, karya keselamatan Allah telah terjadi secara sempurna dalam kematian Kristus sehingga pada hari “Sabat Kedua” jenasah Kristus diam terkubur dalam perut bumi. Melalui kematian Kristus, Allah menciptakan kehidupan baru yang tampak pada hari Paskah, yaitu kebangkitan Kristus. Sabtu Sunyi juga disebut Sabbatum Sanctum, yaitu Sabat yang kudus. Pada awal kekristenan, umat percaya merayakan dengan khidmat Sabbatum Sanctum dan Paskah, sebab melalui Sabbatum Sanctum, umat mempersiapkan diri menyambut misteri Paskah yaitu kebangkitan Kristus. Baru pada abad IV, umat merayakan Triduum, yaitu Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Paskah. Kekhususan perayaan Sabtu Sunyi dibandingkan dengan Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah adalah dalam perayaan Sabtu Sunyi tidak ada perayaan secara liturgis. Pada perayaan Sabtu Sunyi umat merenungkan secara mendalam kesunyian di depan makam Yesus sebagaimana yang dilakukan oleh Maria, ibu Yesus dan Maria Magdalena (Mat. 27:61).

Bacaan leksionaris versi the Revised Common Lectionary untuk Tahun A, Tahun B, dan Tahun C diambil dari: Ayub 14:1-14; Mazmur 31:1-4, 15-16; 1 Petrus 4:1-8; Matius 27:57-66. Tema atau inti Ayub 14:1-14 adalah menyadarkan kefanaan keberadaan manusia dengan membandingkan dengan kehidupan pohon yang tetap hidup walau ditebang. Kitab Mazmur 31:1-4, 15-16 mempersaksikan harapan umat percaya akan pertolongan Allah sebab Tuhan adalah gunung batu dan perlindungan yang kokoh. Surat 1 Petrus 4:1-8 mempersaksikan Kristus sebagai model pribadi yang taat kepada kehendak Allah dan menjadi Penyelamat pula bagi jiwa-jiwa yang dihukum dalam neraka. Injil Matius 27:57-66 mempersaksikan jenasah Yesus dikuburkan di makam milik Yusuf dari Arimatea dan di depan makam Yesus tersebut duduk Maria, ibunya dan Maria Magdalena.

Seperti Maria, ibu Yesus dan Maria Magdalena yang sedang duduk di depan makam Yesus, apakah yang akan kita renungkan dan maknai jika kita berada di depan makam Yesus? Apakah makna Sabtu Sunyi dalam kehidupan umat? Apakah perayaan Sabtu Sunyi yang termasuk dalam perayaan Triduum (Tri hari Suci), yaitu Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Paskah memiliki tempat yang khusus dalam karya keselamatan Allah? Jenasah Kristus sedang berada dalam makam, apakah kesaksian Alkitab tersebut memiliki arti dalam kehidupan umat pada masa kini? Bukankah makam merupakan realitas ketiadaan, yaitu akhir dari kehidupan seseorang. Dia telah tiada.

Makam: Realitas Ketiadaan

Dalam bukunya yang berjudul Systematic theology (Volume II), Paul Tillich menyatakan bahwa secara ontologis, manusia berdiri di hadapan realitas “ketiadaan” (non-being). Realitas “ketiadaan” ini terdiri atas dua bagian, yaitu: ouk on (yang berarti: “ketiadaan yang absolut”), dan me on (yang berarti: “ketiadaan yang relatif”). Manusia berhadapan dengan dua realitas ketiadaan tersebut dan tidak bisa menghindarinya (Tillich 1957, 20). Peristiwa kematian adalah ketiadaan yang absolut. Sebagai manusia, Yesus yang telah wafat telah mengalami ketiadaan absolut. Maria, ibu Yesus, Maria Magdalena, dan para murid Yesus yang lain sebagai umat Israel menyadari bahwa kini tidak ada lagi harapan. Semua telah berakhir sebagaimana dinyatakan oleh Ayub, yaitu: “Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan” (Ayb. 14:2). Ungkapan Ayub menggambarkan manusia seperti bunga yang berkembang lalu layu dan hilang lenyap. Keberadaan manusia begitu singkat dan fana. Bahkan dibandingkan dengan pohon, keberadaan manusia tidak dapat menandingi daya hidup sebuah pohon. Ayub 14:7 berkata: “Karena bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh.” Namun kalau manusia telah ditebang, ia tidak dapat hidup kembali. Karena itu saat para murid melihat Yesus wafat dan dimakamkan, di dalam hati mereka bertanya: “Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia?” (Ayb. 14:10). Umat Israel tidak memiliki gambaran kehidupan setelah kematian. Sebab roh dan tubuh merupakan suatu entitas kedirian yang utuh. Kisah kematian seseorang diungkapkan dengan pernyataan: “Kemudian Daud mendapat perhentian bersama-sama nenek-moyangnya” (1Raj. 2:10; bdk. 1Raj. 11:43). David J.A. Clines dalam Word Bibliical Commentary Job 1-20 menyatakan bahwa makna “Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia?” menunjuk pada makna metaforis tentang kematian. Artinya konsep Sheol atau Hades bukan dibayangkan sebagai tempat kehidupan setelah kematian. Karena kehidupan setelah kematian merupakan masa depan yang tidak mungkin (Clines 1989, 331-332). Roh tidak dapat dibayangkan tanpa tubuh.

Para murid waktu itu belum memahami makna janji Yesus yang akan bangkit. Waktu itu iman Paskah sama sekali tidak dimiliki oleh para murid Yesus yang sedang berdukacita dan trauma dengan kematian Yesus. Di tengah-tengah realitas “ketiadaan yang absolut” (kematian) dan “ketiadaan yang relatif” (keputusasaan, kepedihan, dan ketiadaan makna hidup) umat membutuhkan iman Paskah, yaitu kuasa kebangkitan Kristus. Namun bagaimana umat dapat memiliki iman Paskah ketika mereka sedang berada dalam situasi ketiadaan? Sebab dapatkah iman Paskah dapat lahir dari sesuatu yang tidak ada? Saat Yesus berkata: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan,” maka hati murid-murid-Nya itupun sedih sekali (Mat. 17:22-23). Berita dari Yesus bahwa Ia akan bangkit pada hari ketiga ternyata direspons dengan sikap tidak percaya, yaitu dengan sikap kesedihan. Janji Yesus bahwa Ia akan bangkit yang memberi harapan ternyata terkubur oleh kesedihan hati para murid. Peristiwa salib bagi para murid bukan hanya suatu kesedihan, namun juga suatu trauma yang menggoncangkan iman. Kesedihan dan trauma menutup mata iman, sehingga umat tidak mampu melihat harapan dan kuasa Allah di balik realitas ketiadaan itu. Sama seperti dua orang murid Yesus yang pergi ke Emaus, mereka tidak dapat mengenali Yesus yang telah bangkit dan berdiri di hadapan mereka (Luk. 24:16-17).

Orientasi iman yang seringkali dihidupi oleh umat adalah iman yang terarah pada “trauma kisah Jumat Agung,” sehingga umat membiarkan kuasa kematian mencabik-cabik realitas kehidupan mereka. Karena itu tidaklah mengherankan jikalau beberapa umat dikuasai oleh pengalaman-pengalaman traumatis sepanjang hidupnya. Kita dapat menjumpai orang-orang yang kehilangan makna hidupnya secara tragis karena kehilangan seseorang yang mereka kasihi sehingga memilih mengakhiri hidupnya atau menghancurkan kehidupan orang lain. Mereka telah kehilangan arti dan tujuan hidup serta harapan. Iman Paskah bukan hanya mampu menyikapi realitas ketiadaan dengan penuh makna, namun juga mengubah ketiadaan ke dalam hidup abadi bersama Kristus yang bangkit. Dengan iman Paskah, umat diperbarui dari situasi ketiadaan menjadi ciptaan baru di dalam Kristus.

Karya Keselamatan Allah di tengah-tengah Ketiadaan

Di tengah realitas kematian Yesus di atas kayu salib yang semula dianggap oleh para murid dan musuh-musuh-Nya bahwa karya Kristus telah berakhir, justru Surat          1 Petrus 4:6 mempersaksikan karya Kristus yang semakin meluas dan menembus dunia orang mati. Surat 1 Petrus 4:6 mempersaksikan: “Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah.” Kematian Kristus tidak meniadakan atau menghentikan karya keselamatan Allah dalam kehidupan umat manusia, bahkan mampu menjangkau manusia yang telah meninggal dan berada dalam hukuman abadi di neraka. Masa transisi antara peristiwa Jumat Agung dan peristiwa Paskah bukanlah masa transisi yang pasif. Di antara kedua momen kematian dan kebangkitan Kristus, sebab Roh Kristus masuk ke dalam penjara maut, yaitu neraka.

Surat 1 Petrus 4:6 merupakan bagian dari 1 Petrus 3:19 yang berkata: “dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara.” Wayne Grudem dalam Tyndale New Testament Commentaries 1 Peter menyatakan bahwa kesaksian 1 Petrus 3:19 tersebut menunjuk pada aktivitas Kristus dalam dunia Roh. Sebagaimana Kristus telah hidup dalam dunia Roh, dia juga akan melakukan sesuatu dalam dunia Roh (Grudem 1990, 157). Saat Yesus wafat, Roh-Nya tidak berdiam diri tanpa karya keselamatan dan penebusan. Sebaliknya Roh Kristus menyatakan karya keselamatan Allah dengan membebaskan roh-roh yang pada zaman Nuh tidak taat kepada Allah (1Petr. 3:20). Karya keselamatan Kristus tidak hanya melingkupi dimensi waktu kini dan mendatang, namun juga dimensi masa lampau. Dalam keheningan Sabtu Sunyi, Kristus memberitakan kabar baik, yaitu Injil sehingga umat yang telah terpenjarakan oleh kuasa dosa dan hukuman Allah diselamatkan. Karya keselamatan Allah di dalam Kristus merangkum seluruh sejarah dan kehidupan umat manusia. Dengan demikian dalam keheningan Sabtu Sunyi, umat merayakan karya keselamatan Allah di dalam Kristus yang menembus dimensi waktu dan sejarah kehidupan umat manusia. Keheningan Sabtu Sunyi mengandung keyakinan dan kepastian keselamatan Allah yang berkarya melampaui akal dan pengertian manusia, sehingga karya penebusan Kristus merangkum seluruh eksistensi umat manusia sepanjang abad tanpa terkecuali.

Kesaksian surat 1 Petrus 3:19 ditempatkan konteks “kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan” (1Petr. 3:15). Demikian pula Surat 1 Petrus 4:6 ditempatkan dalam konteks “kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan.” Jadi kesaksian karya keselamatan atau penebusan Kristus di dalam neraka ditempatkan dalam panggilan agar umat dalam kehidupan di tengah dunia ini senantiasa kudus dan tidak melakukan ketidak-senonohan. Karya penebusan Kristus kepada jiwa-jiwa yang sedang dihukum dalam neraka bukan untuk memperlemah umat. Artinya karya penebusan Kristus kepada jiwa-jiwa di neraka bukan dimaksudkan menghibur umat, yaitu Kristus kelak pada akhir zaman akan menyelamatkan mereka dari hukuman Allah di neraka. Penghiburan yang dangkal seperti ini dapat mendorong umat untuk hidup dalam kubangan dosa dan mereka akan tetap merasa aman. Mereka akan merasa tetap aman sebab walau mereka kelak mengalami hukuman Allah di neraka atas perbuatan-perbuatan yang jahat, Kristus akan menyelamatkan. Akibatnya mereka tidak akan pernah bertobat dan hidup dalam pembaruan. Mereka akan hidup secara sembarang dan mengikuti keinginan dan hawa-nafsu duniawi, karena yakin pada akhirnya di dalam Kristus, Allah pasti akan menyelamatkan mereka dari hukuman kekal.

Kesaksian Alkitab tentang karya penyelamatan Kristus kepada jiwa-jiwa di neraka di antara masa transisi peristiwa Jumat Agung dan Paskah adalah hendak menegaskan bahwa karya penebusan Kristus tidak pasif. Kristus yang adalah Juru-selamat manusia bertindak menyelamatkan umat yang tidak lagi memiliki harapan. Namun umat pada masa kini adalah umat yang telah memeroleh anugerah keselamatan dalam darah-Nya. Dalam baptisan, umat bukan hanya dikuduskan secara jasmaniah namun juga rohaniah, sehingga seharusnya memiliki hati-nurani yang baik kepada Allah (1Petr. 3:21). Karena itu setiap umat percaya seharusnya hidup baru sesuai dengan hati-nurani yang telah dikuduskan Allah. Dengan hati-nurani tersebut umat mampu memutuskan untuk tidak mencemplungkan diri di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama (1Petr. 4:4). Mereka tidak hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta-pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang (1Petr. 3:3). Sebaliknya umat senantiasa hidup menurut kehendak Allah (1Petr. 3:2).

Pilihan etis untuk hidup kudus menaati kehendak Allah akan menyebabkan umat harus menderita dalam penderitaan badani sebagaimana Kristus telah menderita dalam penderitaan badani karena Ia menaati kehendak Allah. Dalam konteks ini Kristus menjadi model spiritualitas dan iman umat yang mengutamakan ketaatan kepada kehendak Allah walau harus menderita. Penderitaan bukan sebagai tujuan hidup umat percaya, namun sebagai konsekuensi ketaatan umat kepada Allah. Karena itu ketaatan kepada Allah yang lahir dari hati-nurani yang telah dikuduskan merupakan wujud nyata dari kehidupan yang telah ditebus oleh darah Kristus. Pada hari Sabtu Sunyi umat berpuasa dengan bertarak.Melalui puasa tersebut, umat berlatih menguasai keinginan daging dan mengendalikan hawa-nafsu. Dengan demikian umat tidak lagi hidup menurut keinginan duniawi, dan beranggapan bahwa Kristus akan menyelamatkan mereka bila kelak dihukum Allah di neraka. Karya keselamatan Allah di tengah-tengah ketiadaan, yaitu kematian dan hukuman kekal justru memampukan umat untuk meniadakan keinginan hawa-nafsu dengan hidup kudus.

Karya Roh di tengah-tengah Ketiadaan Makna Hidup

Pada masa Triduum, yaitu Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Paskah umat merayakan karya keselamatan Allah dalam penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Fokus utamanya adalah karya Kristus yang melaksanakan kehendak dan karya Allah, sehingga Allah yang meninggalkan Yesus di atas kayu salib (Jumat Agung) adalah juga Allah yang membangkitkan Kristus (Paskah). Allah meninggalkan Yesus di atas kayu salib sebab dosa umat manusia ditanggung-Nya. Allah membangkitkan Yesus dari kematian adalah karena Ia adalah Anak Allah yang kekal dan telah mengosongkan diri-Nya dengan taat sampai mati. Jika demikian, di manakah kehadiran dan karya Roh Kudus? Apakah pada masa Triduum tersebut Roh Kudus absen? Apakah pada masa Triduum tersebut hanya Allah dalam diri Bapa dan Anak yang berkarya? Karya dan kehadiran Roh Kudus umumnya dipahami secara khusus pada hari Pentakosta. Pada hari Pentakosta umat merayakan turunnya Roh Kudus. Bagi umat Israel hari raya Pentakosta merupakan perayaan turunnya Hukum Taurat di Gunung Sinai (Shavuot), dan pengucapan syukur umat. Kitab Keluaran (Kel. 19:14-15) mempersaksikan bahwa di bulan ketiga, yaitu dalam perayaan Shavuot, Musa naik ke atas gunung. Karena itu bagi umat Israel, perayaan Shavuot merupakan perayaan untuk memperingati turunnya Hukum Taurat (Pesachim 68b dalam Talmud Babilonia). Kesaksian yang mengisahkan saat seluruh umat Israel berkumpul di kaki Gunung Sinai dalam Keluaran 19 terkait dengan gambaran kesaksian orang-orang dari berbagai penjuru bumi yang berkumpul di Yerusalem pada hari Pentakosta sebagaimana kesaksian Kisah Para Rasul pasal 2. Jadi, terdapat kesejajaran makna antara turunnya Roh dengan turunnya Hukum Taurat.

Kehadiran dan karya Roh Kudus dalam masa Triduum tidak dipersaksikan Alkitab secara eksplisit. Namun tidak berarti Roh Kudus absen dalam peristiwa penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Di Roma 8:9 Rasul Paulus berkata: “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Rasul Paulus menyebut Roh Allah paralel dengan Roh Kristus. Dengan perkataan lain, ketika Yesus wafat Roh-Nya tetap berkarya. Roh Yesus adalah juga Roh Allah. Pernyataan ini tidak dimaksudkan untuk mencampurbaurkan antara Roh Kristus dengan Roh Kudus. Kristus dan Roh Kudus tetap esa namun kedua-Nya memiliki kedirian-Nya masing-masing. Namun kehadiran Roh Kristus yang berkarya membebaskan jiwa-jiwa dalam neraka pada hakikatnya tidak pernah terlepas dari relasi yang esa dengan Bapa dan Roh Kudus. Dengan demikian, pada masa Triduum, umat tidak boleh melupakan kehadiran Allah yang Trinitaris, yaitu Bapa-Anak-Roh Kudus. Sebab pada masa Triduum pada hakikatnya merupakan puncak seluruh karya keselamatan Allah dalam inkarnasi dan penebusan Kristus. Karya Kristus adalah juga karya Bapa dan Roh Kudus. Karena itu pada masa Triduum, khususnya pada Sabtu Sunyi Roh Kudus hadir dalam keheningan untuk menguatkan umat menghadapi ketiadaan. Roh Kudus menguatkan iman umat yang sedang menghadapi “ketiadaan yang absolut” (kematian) dan “ketiadaan yang relatif” (keputusasaan, kepedihan, dan ketiadaan makna hidup).

Dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah realitas ketiadaan, Tuhan Yesus tidak meninggalkan kita sebagai yatim-piatu. Di Yohanes 14:18, Yesus berkata: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.” Untuk itu Tuhan Yesus berjanji akan mengutus Roh Kebenaran: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran” (Yoh.14:16). Di Surat 1Yohanes 2:1, Yesus disebut sebagai Parakletos, yaitu: “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.” Kata “pengantara” di sini terjemahan dari kata parakletos. Konteks pemikiran Surat 1Yohanes 2:1 adalah Yesus yang telah naik ke surga sebagai seorang pengantara (parakletos) dalam persidangan ilahi di surga. Karena itu Yesus sebagai Parakletos membela umat di hadapan Allah. Jadi makna Parakletos di Injil Yohanes 14:16, dan 16:7-14 menunjuk kepada diri Kristus sendiri, yaitu Kristus yang telah bangkit dan naik ke surga. Dengan demikian di tengah-tengah keheningan Sabtu Sunyi, Roh Kudus mendampingi dan menguatkan umat sehingga mereka tidak menjadi para yatim-piatu khususnya saat menghadapi realitas ketiadaan arti. Dalam Sabtu Sunyi, Roh Kudus hadir dalam keheningan yang memulihkan, bukan dalam wujud suasana yang gegap-gempita seperti yang dialami oleh Nabi Elia. Di Kitab 1 Raja-raja 19:11-12 mempersaksikan Allah tidak hadir dalam angin besar, gempa, dan api. Namun Allah hadir dalam “bunyi angin sepoi-sepoi basa.” Makna “bunyi angin sepoi-sepoi basa” menunjuk pada situasi yang hening, sehingga menenangkan hati Elia yang saat itu sedang mengalami depresi dan ingin mati. Dalam keheningan, Elia mengalami “bisikan lembut” (a gentle whisper) dari Allah. Dengan Roh Kudus-Nya Allah hadir dalam keheningan yang memulihkan.

Keheningan yang Memulihkan

Saat para murid Yesus diterpa oleh angin ribut di danau Genesaret, mereka panik ketakutan. Di tengah-tengah situasi krisis tersebut Tuhan Yesus bertindak dengan kuasa-Nya. Ia bangun menghardik angik dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali (Mat. 8:24-26). Para murid kembali menjadi tenang dan dipulihkan dari ketakutannya. Namun bagaimana umat mampu mengalami keheningan yang memulihkan di hadapan jenasah Yesus? Bukankah di hadapan jenasah seorang yang telah mati justru membuat setiap umat dan para murid menjadi berduka dan gelisah? Selain itu Yesus yang telah wafat tidak dapat lagi menyatakan kuasa-Nya untuk meneduhkan hati umat yang sedang dterpa oleh badai dalam kehidupan ini. Jenasah dan makam merupakan representasi dari tiadanya kehidupan dan kerapuhan manusia. Namun jenasah dan makam Yesus juga merepresentasikan bahwa di dalam Kristus, Allah mengidentifikasikan diri-Nya dengan kerapuhan dan kefanaan kita. Jenasah dan makam Yesus menunjuk pada pengosongan diri Kristus yang total, yaitu tindakan Kristus yang merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp. 2:8). Pengosongan diri Kristus yang total tersebut menghadirkan keheningan yang meneduhkan di tengah-tengah kehidupan umat yang sedang menderita dan mengalami tragedi, penganiayaan dan kekejaman.

Di Filipi 2:6-7 rasul Paulus mempersaksikan Kristus yang mengosongkan diri-Nya, yaitu: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Hakikat diri Kristus dinyatakan sebagai frasa “dalam rupa Allah” (ἐν μορφῇ θεοῦ) dan “setara dengan Allah” (εἶναι ἴσα θεῷ). Di depan kata einai menggunakan definite article to. Kata “to” + infinite adalah bertujuan untuk mengaitkan frasa ini dengan sesuatu yang lebih dulu disebutkan, yaitu “di dalam rupa Allah.” Makna dari kesaksian ini hendak menyatakan bahwa dalam rupa Allah, Kristus setara dengan Allah. Artinya rupa dan kesetaraan dengan Allah telah dimiliki Kristus sejak kekal. Namun kedudukan Kristus yang mulia itu ternyata tidak menghalangi Dia untuk melepaskan hak dan milik-Nya.

Dalam tulisannya yang berjudul Reconstructing Honor in Roman Philippi – Carmen Christi as Cursus Udorum, Joseph H. Hellerman menginterpretasikan surat Filipi 2:7 sebagai cursus pudorum. Maksud dari cursus pudorum adalah: Pertama, Yesus turun dari kesetaraan dengan Allah. Kedua, Kristus berinkarnasi menjadi manusia dengan berstatus sebagai “hamba” (doulos). Ketiga, Kristus bersedia mati di kayu salib. Dengan pola ini rasul Paulus menunjukkan sikap yang berbeda antara Kristus dan pemerintah Romawi. Pemerintah Romawi senantiasa lebih cenderung memeroleh kehormatan dan kemuliaan dengan meningkatkan kedudukan dan status seseorang (cursus honorum). Sebaliknya Kristus bersikap sebaliknya. Ia memilih turun dari kedudukan dan statusnya sampai ke titik terendah bahkan sampai pada status yang paling hina dengan mati di kayu salib, dengan tujuan mati bagi yang lain (cursus pudorum) (Hellerman 2005, 130). Kesediaan Kristus mengosongkan diri adalah agar Ia dapat memberikan hidup-Nya sehingga umat memperoleh hidup yang berlimpah. Prinsip teologis ini dikemukakan oleh Injil Yohanes tentang tujuan utama kedatangan Tuhan Yesus di dunia yaitu: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10b). Berhadapan dengan jenasah dan makam Yesus, umat diteguhkan bahwa mereka tidak sendirian menempuh realitas kematian. Sebaliknya dalam pengosongan diri Kristus yang tampak rapuh dan tidak berdaya, Kristus mengaruniakan kekuatan dan penghiburan bagi setiap umat. Pengosongan diri Kristus tersebut menentramkan hati setiap umat sebagai keheningan yang memulihkan. Dalam pengosongan diri dan kematian-Nya, umat mengalami hidup yang penuh dan berlimpah. Bersama dengan Kristus yang wafat, kita akan dibangkitkan dalam kehidupan abadi. Sabtu Sunyi sebagai persiapan umat menyambut misteri kebangkitan Kristus pada Paskah Subuh.

Siap Menyambut Misteri Paskah Subuh

Orientasi iman umat tidak tertuju semata-mata pada kematian dan makam Yesus, namun juga pada misteri kebangkitan Kristus pada Paskah Subuh. Peristiwa kematian Yesus pada Jumat Agung menjadi bermakna bilamana ditempatkan dalam perspektif peristiwa Paskah. Sebaliknya peristiwa Paskah tidak akan terjadi bilamana tidak terjadi kisah penyaliban Yesus pada Jumat Agung. Dengan demikian tindakan iman umat yang bersekutu dengan Kristus yang wafat merupakan persekutuan dengan Kristus yang bangkit. Kematian sebagai realitas maut ditundukkan dan diubah menjadi realitas kehidupan abadi. Robert Gantoy dan Romain Swaeles dalam Missel dominical de l’assemblee, dan Missel de l’assemblee pour la semaine yang diterjemahkan oleh Greg LaNave dalam The Days of the Lord: The Liturgical Year Volume 3 menyatakan bahwa melalui baptisan, umat percaya dari kematian dibawa oleh Kristus menuju kehidupan, yang mana ia dibenamkan dengan Kristus dalam kematian-Nya untuk memeroleh kehidupan baru. Dengan demikian baptisan disebutnya sebagai “iluminasi” (photismos), yaitu pengalaman umat memeroleh pencerahan hidup karena terang kebangkitan Kristus (LaNave 1993, 39).

Keheningan Sabtu Sunyi menghantar umat untuk memeroleh pencerahan hidup sehingga umat mampu mengubah setiap kedukaan, kepahitan, dan penderitaan menjadi sumber kekuatan, semangat, dan daya juang untuk memaknai kehidupan dalam perspektif iman. Di tengah-tengah kegelapan dunia, umat memiliki pengharapan dan jaminan bahwa di dalam persekutuan dengan Kristus yang bangkit, maut tidak akan dapat mengalahkan kita. Rasul Paulus berkata: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (1Kor. 15:54-55). Itu sebabnya di 1 Korintus 15:58, Rasul Paulus menyimpulkan, yaitu: “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” Persekutuan umat dengan Kristus akan memampukan mereka hidup dalam kuasa kebangkitan-Nya. Kuasa kebangkitan bukan hanya akan diterima umat dengan tubuh kebangkitan pada akhir zaman, namun yang lebih relevan adalah dialami umat pada kehidupan di masa kini. Dengan kuasa kebangkitan Kristus, umat dimampukan untuk berjalan dalam “lembah kekelaman” dunia, dan mentranformasikannya dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Bersama dengan Kristus yang bangkit, umat percaya dipanggil untuk membangun “langit dan bumi yang baru.” Kuasa kebangkitan Kristus perlu direalisasikan dalam sistem dan gaya hidup yang berkaitan dengan setiap dimensi kehidupan umat manusia, yaitu: ekonomi, politik, budaya, ideologi, filosofi, jaringan komunikasi, bentuk-bentuk relasi, kehidupan keluarga, pekerjaan, dialog lintas iman, dan sistem peradilan. Melalui kuasa kebangkitan Kristus, Allah berkarya dengan mengangkat martabat dan harkat manusia sehingga setiap orang tanpa terkecuali wajib menghormati setiap sesama sebagai gambar dan rupa-Nya. Karena itu kuasa kebangkitan Kristus menentang setiap sistem nilai, ajaran, ideologi, dan falsafah yang menghalalkan kekerasan atas nama Allah ataupun atas nama agama. Ideologi atau pengajaran agama yang menggunakan kekerasan dan kekejaman dalam praktik kehidupan merupakan wujud kuasa kematian yang kelak akan ditundukkan dan dikalahkan oleh kuasa kebangkitan Kristus. Karena itulah puncak Triduum, yakni Kamis Putih, dan Sabtu Sunyi adalah perayaan Paskah Subuh pada tengah malam sebagai lambang kuasa kegelapan dikalahkan oleh kuasa kebangkitan Kristus.

Daftar Acuan

 

Clines, David J.A. 1989. Word Biblical Commentary Job 1-20. Dallas, Texas:Word Books, Publisher.

Grudem, Wayne. 1990. Tyndale New Testament Commentaries 1 Peter. Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company.

LaNave, Greg and Donald Molly. 1993. The Days of the Lord: The Liturgical Year Volume 3. Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press.

Hickman, Hoyt L. et al. 1992. The New handbook of the Christian year. Nashville: Abingdon Press.

Martimort, A.G., et all. 1986. The Church Prayer: The Liturgy and Time. Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press.

Tillich, Paul. 1957. Systematic theology. Volume II. Chicago, Illinois: The University of Chicago Press.

Hellerman, Joseph H. 2005. Reconstructing honor in Roman Philippi – Carmen Christi as Cursus Pudorum. Cambridge: Cambrige University Press.

Website

https://www.catholicculture.org/culture/liturgicalyear/calendar/day.cfm?date=2014-04-19

http://catholicism.about.com/od/Holy-Week/p/Holy-Saturday.htm

http://www.churchyear.net/holysaturday.html

http://usatoday30.usatoday.com/news/religion/story/2012-04-02/jesus-saturday-hell-good-friday-easter-sunday/53955912/1

 

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

 

 

 

Leave a Reply