Latest Article

Trauma and Grace: Theology in a Ruptured World

Penulis: Jones, Serene

Penerbit: Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press

Tahun: 2009

Pengalaman traumatis merupakan fakta eksistensial yang terjadi dalam kehidupan real umat secara personal dan kolektif. Dengan bercermin kepada luka-luka Kristus di salib, umat menemukan anugerah Allah sehingga secara kreatif mampu menerobos lingkaran belenggu dosa dan mengatasi efek-efek trauma yang melumpuhkan.

Perjalanan hidup setiap orang tidak terelakkan mengalami trauma dalam berbagai peristiwa yang dialaminya. Arti “trauma” menunjuk kepada luka yang ditimbulkan oleh kekerasan yang dialami oleh seseorang atau kelompok baik secara fisik, emosional, maupun spiritual. Efek trauma tidak lenyap karena perjalanan waktu, tetapi tetap membekas dan menimbulkan efek jangka panjang. Para korban merasa diri serba terancam dan cemas, namun tak berdaya untuk menghadapinya. Keadaan inilah yang dikenal dengan “post-traumatic stress disorder” (PTSD). Dalam bukunya Serena Jones membagi tulisannya dalam tiga bagian besar yang meliputi: traumatic faith (iman yang traumatis), crucified imaginings (imaginasi-imaginasi yang disalibkan), dan ruptured redeeming (penebusan yang retak).

Di bagian “traumatic faith”, Jones menafsirkan pengalaman traumatis dua orang murid Yesus yang berjalan dari Yerusalem ke Emaus (Luk. 24:13-43). Sementara dalam perjalanan ke Emaus, mereka tidak menyadari kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka. Barulah setelah Yesus singgah di rumah mereka dan memecahkan roti bersama, mereka menyadari bahwa tamu yang berjalan bersama-sama mereka adalah Yesus yang bangkit. Pengalaman traumatis senantiasa menghalangi mata rohani umat untuk melihat kehadiran Kristus, padahal anugerah Allah saat itu sedang terjadi di tengah-tengah mereka. Perjumpaan dengan Kristus yang bangkit menyadarkan umat bahwa Allah peduli dengan pengalaman-pengalaman traumatis mereka.

Di bagian “Crucified Imaginings”, Jones menawarkan pengukiran langkah-langkah baru melalui imaginasi-imaginasi yang lahir dari kesadaran untuk memutuskan rantai kekerasan. Di bagian “the Alluring Cross”, Jones mengajak setiap umat untuk melihat dan memaknai peristiwa penyaliban Kristus. Di balik kekerasan yang dialami Yesus, kita dapat melihat daya tarik cinta-kasih Allah yang menawarkan anugerah dan hidup yang berlimpah. Melalui salib, kita dapat bercermin (“the Mirrored Cross”) bahwa di dalam “ketidakhadiran” Kristus saat Ia wafat, sesungguhnya secara Roh hadir dengan turun ke dalam kerajaan maut. Dengan perspektif salib yang tanpa akhir (“the Unending Cross”), gereja dipanggil untuk melayani para korban traumatis tanpa menimbulkan trauma yang lebih menyakitkan lagi. Jones lalu mengulas bagian akhir dari Injil Markus yang berakhir dengan bentuk “openending”. Para wanita mengalami ketakutan di depan kubur Yesus yang telah bangkit. Injil Markus mengajak umat untuk menghadapi trauma-trauma yang tanpa akhir dengan janji penyertaan dari Kristus yang bangkit.

Di bagian “Sin, Creativity, and the Christian Life”, Jones mengulas bagaimana trauma menghalangi dan melumpuhkan kreativitas. Dosa menyebabkan manusia tidak terarah kepada kasih Allah, sehingga hidup dalam ketidakpercayaan (“unfaithfulness”). Karena itu dosa menghalangi manusia untuk menyambut kepenuhan anugerah Allah. Dalam situasi itu manusia merasa dirinya sendirian, hilang, dan tanpa pertolongan di tengah-tengah dunia yang tanpa Allah. Dunia yang tak peduli apakah kita hidup ataukah mati. Namun di dalam penebusan Kristus, Allah menawarkan kita untuk berpartisipasi secara aktif dalam ciptaan Allah yang baik. Sebagaimana Calvin menyatakan bahwa setiap ciptaan merupakan “teater kemuliaan Allah”. Melalui Kristus, umat dapat mengalami pancaran seluruh kemuliaan Allah dalam keindahan yang tak terperikan. Juga di dalam Kristus, kemuliaan Allah terentang di dalam ciptaan dan penebusan. Dalam perspektif itu umat dapat menggunakan bacaan Alkitab sebagai suatu lensa iman untuk memikirkan secara teologis pengalaman-pengalamannya yang traumatis.

Walaupun Jones menyatakan tidak bertujuan memberi jawaban-jawaban atas relasi kekerasan dan penebusan, tetapi tulisan dan pemikirannya berhasil memberi pencerahan khususnya kepada para korban traumatis. Dengan bercermin kepada salib, umat dimampukan untuk menyadari trauma-trauma mereka seraya dicelikkan akan anugerah kasih Allah. Senada dengan Serena Jones, David Seamand dalam bukunya yang berjudul “Healing for Damaged Emotions” (Seamand, David 2007, 33)[1] menyatakan bahwa para korban traumatis di dalam salib Kristus dapat menemukan “Penyembuh yang terluka” (the Wounded Healer). Melalui luka-luka Kristus, umat dimampukan untuk dipulihkan oleh anugerah kasih Allah. Dengan demikian umat tidak lagi terjebak oleh trauma-trauma yang melumpuhkan. Sebaliknya mereka mampu berkreativitas untuk menghadirkan kemuliaan dan keindahan kasih Allah. Sebab anugerah kasih Allah senantiasa membebaskan dan memampukan umat untuk hidup secara otentik.

[1] Seamands, David. 2007. Healing for Damaged Emotion. Wheaton, Illinois: SP Publications, Inc.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply