Latest Article

Beribadah dan Melayani Allah dengan Segenap Hati  (Yosua 24:1-3, 14-25; Mazmur 78:1-7; 1Tesalonika 4:13-18; Matius 25:1-13)

Dasar Pemikiran

Pola bacaan leksionaris versi the Revised Common Lectionary pada Minggu ini masih menggunakan pola semisinambung dengan fokus pada bacaan I, yaitu Yosua 24:1-3, 14-25 dan secara otomatis terkait dengan Antarbacaan dari Mazmur 78:1-7. Karena itu ulasan yang mendalam akan dilakukan dalam penafsiran Yosua 24. Dari sudut etimologis narasi Yosua 24 tidak dijumpai kata “pelayanan” atau tindakan melayani. Namun kata yang muncul sebanyak sebelas kali adalah kata “beribadah” (Ul. 24:2, 14, 15, 16, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24). Kata “beribadah” berasal dari terjemahan kata abd yang artinya: bekerja, bekerja bagi yang lain, dan melayani. Karena itu kata abd dapat kita jumpai di Keluaran 20:9, yaitu: “enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu.” Dalam bentuk hophal, kata abd berarti: untuk dipimpin, atau tertarik untuk melayani. Penggunaan kata abd dapat kita jumpai di Kejadian 2:5, 13, 3:23, 4:2, 12, 14:4, dsb. Dengan demikian makna kata abd pada hakikat bukan sekedar suatu tindakan ritual keagamaan, namun juga berkaitan dengan perilaku dan etos kerja umat dalam kehidupan sehari-hari. Kerja adalah bagian dari ibadah, dan ibadah memampukan umat untuk bertanggungjawab bekerja dan melayani Tuhan. Dengan demikian tujuan utama kehidupan umat adalah memuliakan dan melayani Allah dengan melaksanakan tanggungjawab yang telah dipercayakan kepada mereka.

Keempat bacaan leksionaris dengan penafsiran pola semisinambung sebenarnya tidak terdapat hubungan/benang merah teologis antara Injil dengan Bacaan I. Demikian pula dalam keempat bacaan pada Minggu ini tidak memiliki hubungan antara Matius 25:1-13 dengan Yosua 24:1-3, 14-25. Walaupun demikian keempat bacaan pada Minggu ini memberikan perspektif yang kreatif antara karya keselamatan Allah di masa lampau dengan di masa mendatang. Umat dipanggil untuk beribadah dan melayani dengan mengingat segala perbuatan Allah yang pernah dialami oleh para leluhur Israel, dan kedatangan Kristus kelak di akhir zaman. Dengan demikian makna beribadah dan melayani ditempatkan dalam refleksi teologis ke masa lampau dan peringatan kepada umat untuk berjaga-jaga menantikan kedatangan Kristus kembali (parousia). Umat diajak memahami makna melayani jikalau mereka menempatkan seluruh hakikat melayani Allah dan sesama dengan pengakuan iman (kredo) yang merangkum mengingat perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan Allah dan spiritualitas yang berjaga-jaga menantikan kedatangan Sang Mempelai, yaitu Kristus. Sebab makna “melayani” bukan sekedar melakukan perbuatan baik, tindakan kebajikan, mengamalkan kemurahan, sikap peduli, dan tindakan kasih; namun sebagai tindakan iman yang berpusat kepada Allah yang adalah Sang Penyelamat. Karena itulah umat dipanggil untuk beribadah dan melayani berdasarkan keputusan yang bebas namun dilandasi oleh sikap iman.

Tafsiran

Tafsiran Yosua 24:1-3, 14-25

Narasi Yosua 24 dilatarbelakangi oleh saat-saat terakhir Yosua. Ia sudah lanjut usia (Yos. 23:1-2). Karena Yosua menyadari bahwa tak lama lagi ia akan meninggal, maka ia memanggil seluruh umat Israel, para tua-tuanya, para kepalanya, para hakim dan para pengatur pasukannya (Yos. 23:2). Lalu di Yosua 24 tindakan Yosua memanggil seluruh umat tersebut diulang. Di Yosua 24, Yosua memanggil umat Israel di Sikhem (Yos. 24). Perbedaan tindakan Yosua memanggil umat Israel di Yosua 23 dan Yosua 24 adalah pemanggilan umat Israel di Yosua 23 bersifat informal, sedang pemanggilan umat Israel di Yosua 24 bersifat formal. Sebab kisah pemanggilan umat Israel di Yosua 24 ditempatkan dalam konteks Yosua mengikat umat Israel dengan perjanjian. Ini terlihat dari Yosua 24:25, yaitu: “Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem.” Perjanjian (berith) di Yosua 24 merupakan pembaruan perjanjian dengan Allah di gunung Sinai (Kel. 20). Perjanjian dengan Allah di gunung Sinai telah termeterai dalam kehidupan umat Israel, namun perjanjian dengan Allah tersebut perlu dibarui sebagai peneguhan, khususnya karena Yosua akan pergi selama-lamanya meninggalkan umat Israel. Perjanjian dengan Allah tersebut perlu diteguhkan sehingga umat Israel mampu hidup setia dan mengasihi Allah di tengah-tengah realitas yang menyembah berbagai allah. Karena identitas, makna dan tujuan hidup umat Israel ditentukan oleh kesetiaan mereka kepada perjanjian dengan Allah. Perjanjian dengan Allah adalah inti kehidupan dan keselamatan mereka.

Menurut Louis Berkhof dalam Systematic Theology (Grand Rapids 1949, 262), makna kata berith (perjanjian) berasal dari kata barah, yang artinya “memotong.” Kata barah tersebut terlihat dari Kejadian 15:10, yaitu: “Diambilnyalah semuanya itu bagi Tuhan, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain.” Lalu tindakan memotong tersebut ditempatkan oleh penulis Kitab Kejadian dalam konteks perjanjian (Kej. 15:18). Tindakan barah yang berarti memotong menjadi dua tersebut sekaligus berfungsi untuk mengikat. Berkhof merujuk kata berith dari bahasa Asyria, yaitu beritu yang artinya “mengikat.” Untuk itu kedua belah pihak yang terikat dalam perjanjian didasari oleh kesepakatan sukarela, sehingga tidak ada yang menempatkan diri lebih tinggi atau lebih rendah kepada pihak yang lain. Dengan demikian makna perjanjian yang dilakukan Yosua di Sikhem sebagaimana juga pernah dilakukan Musa di Gunung Sinai adalah menempatkan hubungan Allah dan umat-Nya dalam hubungan yang setara. Keduanya menjadi subyek, yaitu: “Aku-engkau.” Yosua dan Musa hanya sekedar fasilitator, namun pelaku perjanjian yang sesungguhnya adalah Allah dengan umat-Nya. Allah mengikat umat-Nya dalam suatu relasi personal dan menghisapkan umat-Nya dalam persekutuan dengan diri-Nya. Namun perjanjian dengan Allah tersebut bukan karena perbuatan baik, jasa, dan kesalehan serta kelayakan umat (bdk. Ul. 9:4-5). Sama sekali tidak! Perjanjian tersebut terjadi karena inisiatif dan rahmat Allah, sehingga Allah berkenan menghisapkan umat ke dalam persekutuan dengan diri-Nya.

Dengan rahmat-Nya, Allah membangun persekutuan dan perjanjian dengan umat-Nya. Itu sebabnya dalam perjanjian di Sikhem, Yosua mengawali dengan kredo (pengkuan iman) yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain. Tetapi Aku mengambil Abraham, bapamu itu, dari seberang sungai Efrat, dan menyuruh dia menjelajahi seluruh tanah Kanaan. Aku membuat banyak keturunannya dan memberikan Ishak kepadanya” (Yos. 24:2-3) Pengakuan iman tersebut didasari pada karya keselamatan Allah yang mengawali seluruh sejarah umat Israel, yaitu kisah pemanggilan leluhur Abraham. Dari pemanggilan Abraham tersebut, Allah berkarya membentuk sejarah umat Israel dan keselamatan bagi umat manusia. Pemanggilan Allah kepada Abraham tersebut mengingatkan umat Israel bahwa leluhur mereka sebelumnya beribadah kepada allah lain. Karena itu dari status dan situasi mereka, para leluhur dan umat Israel tidak layak di hadapan-Nya. Dengan pernyataan Allah tersebut hendak menegaskan bahwa Yahweh adalah Tuhan yang berdaulat penuh dan bertindak berdasarkan kebebasan serta kerahiman-Nya. Ia memilih dan menetapkan sesuai dengan kedaulatan-Nya. Perhatikan kata kerja yang dipakai dalam pengakuan iman tersebut, yaitu: “Aku mengambil,” “menyuruh,” “membuat banyak keturunannya,” dan “memberikan Ishak kepadanya.” Kata kerja tersebut hendak menyatakan tindakan inisiatif dan rencana Allah dalam kehidupan umat Israel. Karena itu seluruh keberadaan dan kehidupan umat Israel sebagai bangsa terjadi karena karya keselamatan Allah, bukan ditentukan oleh kehebatan dan kemampuan, keahlian, kedigjayaan mereka, dan juga bukan ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan sekelilingnya.

Di Yosua 24:14 diawali dengan pernyataan: “oleh sebab itu.” Dalam teks Ibrani sebenarnya terdapat kata “sekarang” (attah) dan “karena itu” (yare). Karena itu makna kata “oleh sebab itu” dalam Yosua 24 menyatakan: kini (sekarang) tibalah umat Israel harus mengambil sikap sebagai respons iman terhadap karya keselamatan yang telah dilakukan Allah. Respons iman yang diharapkan adalah: “Takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.” Menurut James Newsome dalam Texts for Preaching Year A, pernyataan Yosua 24 hendak menegaskan: “Since Yahweh has done thus and so, Israel is now obligated to respond” (Newsome 1995, 553). Sebagaimana Allah telah melakukan hal-hal yang demikian, maka Israel sekarang berkewajiban untuk menyatakan tanggapannya. Karena itu tindakan dan karya keselamatan Allah yang telah mereka alami menjadi satu-satunya alasan sikap umat Israel untuk beribadah kepada Allah dengan takut, tulus-ikhlas, dan setia. Karya keselamatan Allah yang telah mereka alami bukanlah hasil pertolongan para allah yang disembah oleh nenek-moyang mereka di seberang sungai Efrat dn Mesir. Karena itu dalam beribadah dan menyembah Allah yaitu Yahweh tidak ada ruang sedikitpun untuk mendua kepada para allah tersebut. Umat Israel dalam beriman kepada Yahweh tidak dapat berada dalam wilayah “abu-abu.” Mereka harus berada pada posisi yang jelas. Karena itu di Yosua 24:15, Yosua berkata: ‘Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Umat Israel diberikan suatu pilihan tanpa paksaan, apakah mereka pada hari itu mau beribadah kepada para allah nenek-moyang, ataukah kepada Yahweh. Mereka diberi kesempatan oleh Yosua untuk mengevaluasi seluruh pengalaman dan tindakan Yahweh, apakah ada yang tidak baik bagi mereka. Jika tidak baik, janganlah beribadah kepada Yahweh. Iman kepada Yahweh dibuktikan dalam pengalaman dan kehidupan sehari-hari. Namun apapun pilihan umat Israel, Yosua sebagai pemimpin dan keluarganya telah mengalami dan membuktikan kebaikan dan pemeliharaan Yahweh. Karena itu Yosua terlebih dahulu menegaskan sikapnya, yaitu: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”

Sikap Yosua tersebut mengekspresikan suatu sikap seorang pemimpin yang tidak mudah terpengaruh oleh pandangan, opini, dan sikap umat yang dipimpinnya bila menyangkut soal iman. Yosua dengan jernih telah memberi wawasan dan refleksi teologis karya keselamatan yang telah dilakukan Yahweh. Karena itu logis bila dia telah menetapkan pilihan sikapnya untuk beribadah dan menyembah kepada Yahweh belaka. Namun sebagai pemimpin yang bersikap “demokratis” Yosua memberi keleluasaan kepada umatnya untuk mengambil pilihan dan sikap iman. Dengan sikap Yosua tersebut justru memampukan umat Israel untuk memilih sikap imannya dengan jernih. Karena itu umat Israel kemudian memberi jawaban di Yosua 24:16-18 memberi jawaban yang intinya adalah: “Jauhlah dari pada kami meninggalkan Tuhan untuk beribadah kepada allah lain.” Umat Israel memilih dan memutuskan untuk beribadah dan menyembah kepada Yahweh saja, dan tidak kepada allah lain. Namun Yosua mengingatkan bahwa sikap umat Israel yang memilih percaya kepada Yahweh bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Yosua mengingatkan umat Israel akan konsekuensinya bila mereka beribadah dan menyembah kepada Yahweh. Di Yosua 24:19, Yosua berkata: “Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada Tuhan, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu.” Semangat dan antusiasme umat Israel untuk menyembah Yahweh dihadapkan oleh Yosua dengan suatu konsekuensi yang berbahaya dan menakutkan. Yahweh yang akan disembah umat Israel adalah Allah yang kudus dan cemburu. Allah yang kudus berarti Dia akan membinasakan semua hal yang cemar, dan berdosa. Allah yang mahabaik bisa menjadi “tidak baik” sehingga akan menghukum umat-Nya yang tidak setia (Yos. 24:20). Ia juga adalah Allah yang cemburu (elqana). Ungkapan Allah yang cemburu di Keluaran 20:4-5 dikaitkan dengan tindakan Allah yang akan membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Allah. Yahweh adalah Allah yang tidak bisa dipersekutukan dengan allah yang lain. Dia adalah Allah yang mahakuasa, satu-satunya Pencipta dan penyelamat bagi seluruh umat manusia. Karena itu beribadah, menyembah, dan melayani Dia membutuhkan keseluruhan (totalitas) diri umat. Yahweh hanya berkehendak dikasihi dan disembah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan umat-Nya. Dia menolak ibadah dan penyembahan yang setengah hati. Memilih dan beribadah kepada Yahweh, atau sama sekali tidak!

Respons umat Israel ternyata tidak berubah. Mereka memilih tetap setia dan melayani Yahweh, sehingga mereka berkata: “Kepada Tuhan, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan” (Yos. 24:24). Mereka dengan sungguh-sungguh mengucapkan ikrar yaitu sumpah setia kepada Yahweh, dan bersedia senantiasa mendengarkan firman-Nya. Atas dasar ikrar umat Israel tersebut, Yosua kemudian mengikat perjanjian dan membuat ketetapan serta peraturan bagi mereka di Sikhem (Yos. 24:25). Dengan perjanjian di Sikhem tersebut, umat kini memasuki tahap kehidupan baru sebagai umat perjanjian yang diperkenankan Allah hidup di tanah perjanjian, yaitu Kanaan.

Tafsiran Mazmur 78:1-7

Mazmur 78 diawali dengan panggilan: “Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku.” Pemazmur berperan sebagai seorang guru, sehingga dia menyebut “pengajaranku.” Pengajaran yang disampaikan oleh pemazmur adalah berasal pengalaman nenek-moyang umat Israel. Pengajaran tersebut adalah pengajaran tentang kisah lama yang pernah dialami oleh para leluhur umat Israel. Karena itu pengajaran itu disampaikan kepada generasi muda yang tidak mengetahui kisah yang dialami oleh nenek-moyang mereka. Di Mazmur 78:4, pemazmur berkata: “Kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada Tuhan dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya.” Generasi muda tidak mengalami secara langsung karya keselamatan Allah yang telah membentuk sejarah dan kehidupan bangsanya. Karena itu pemazmur hendak mengajarkan kepada generasi muda tentang “puji-pujian kepada Tuhan, kekuatan-kekuatan-Nya, dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya. Menurut James Newsome dalam Texts for Preaching Year A, tujuan pengajaran dari pemazmur (Newsome 1995, 557) adalah:

  1. Generasi muda Israel mampu menaruh “harapan kepada Allah.” Tujuannya adalah agar mereka mampu mengatasi perasaan putus-asa (combat despair).
  2. Generasi muda Israel mampu mengingat “karya dan perbuatan Allah.” Tujuan pengajaran ini adalah agar mereka mampu mengatasi lupa/amnesia (combat amnesia).
  3. Generasi muda Israel wajib “memelihara perintah dan ketetapan Allah.” Tujuannya adalah agar mereka mampu taat, dan bertanggungjawab dengan sikap imannya, sehingga mengalami persekutuan dengan Allah. Dengan demikian pengajaran ini bertujuan mereka mampu mengatasi sikap otonomi diri (combat autonomy), yaitu perasaan bahwa mereka mampu melakukan segala sesuatu tanpa penyertaan dan pertolongan Allah. Sikap “otonomi” akan membawa mereka kepada situasi yang destruktif sebab meniadakan yang lain dan hidup dalam kesendirian.

Memerhatikan Mazmur 78:6 yang menyatakan: “supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka,” Newsome menunjuk pada hubungannya dengan Yosua 24:15, yaitu: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Newsome 1995, 557). Ketaatan yang diikrarkan dalam konteks ini adalah ketaatan yang merujuk pada perjanjian secara komunal antara generasi tua dan generasi muda umat Israel. Di Yosua 24:15, generasi tua diwakili oleh Yosua, dan generasi muda diwakili oleh anak-anaknya.

Tafsiran 1Tesalonika 4:13-18

Surat Rasul Paulus di 1 Tesalonika 4:13-18 merupakan surat pastoral yang dikirim untuk menghibur anggota keluarga yang berduka. Mereka diingatkan dan dinasihati oleh Rasul Paulus agar tidak berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Sumber penghiburan yang utama umat percaya adalah Kristus. Sebagaimana Kristus yang wafat dan bangkit, maka demikian pula setiap orang yang percaya kepada-Nya juga akan bangkit, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi (1Tes. 4:16). Problem pastoral yang terjadi dalam kehidupan jemaat Tesalonika ditempatkan dalam pemahaman teologis, yaitu keyakinan dan harapan umat percaya dalam peristiwa parousia (kedatangan Kristus kembali). Saat terjadi parousia, maka Kristus akan turun dari sorga dan Ia akan membangkitkan mereka yang percaya terlebih dahulu (1Tes. 4:16b). Kematian yang dialami oleh umat percaya bukanlah suatu realitas ketiadaan, sebab di dalam Kristus tersedia harapan dan jaminan untuk mengalami kehidupan abadi. Sebab dalam peristiwa kedatangan Kristus kembali, setiap umat percaya akan dikumpulkan bersama-sama dengan mereka yang telah wafat. Konsekuensi pemahaman teologis tersebut adalah: “sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1Tes. 4:17). Logikanya kedatangan Kristus kembali akan terjadi ketika kehidupan ini masih berlangsung, sehingga umat percaya yang hidup pada masa itu tidak mengalami kematian. Mereka akan diangkat (harpazo) dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Kata harpazo berarti: merebut/menangkap dengan paksa, atau membawa dan menangkap ke luar. Umat percaya yang masih hidup dengan kuasa Allah dibawa keluar menyongsong Tuhan.

Pemahaman teologis tentang rapture, yaitu peristiwa pengangkatan umat percaya untuk menyambut kedatangan Kristus dalam kemuliaan-Nya seharusnya ditempatkan dalam konteks penghiburan Rasul Paulus, yaitu agar umat percaya memiliki pengharapan yang tidak tergoyahkan walaupun mereka mengalami kesedihan dan dukacita karena kematian anggota keluarganya. Karena itu pemahaman teologis tentang rapture bukanlah suatu pengajaran iman Kristen yang dominan, sebab utamanya berkaitan dengan peneguhan secara pastoral. Karena itu kita tidak perlu membuat spekulasi tentang proses dan terjadinya peristiwa pengangkatan tersebut. Namun utamanya adalah bagaimana setiap umat merespons keduakaan. Mereka boleh berdukacita namun jangan sampai dukacita mereka seperti orang-orang yang tidak memiliki pengharapan, yaitu orang-orang yang tidak mengenal dan percaya akan Kristus yang bangkit.

Tafsiran Matius 25:1-13

Perumpamaan Tuhan Yesus hal Kerajaan Sorga yang diumpamakan seperti sepuluh gadis dengan pelitanya. Sepuluh gadis tersebut bersiap-siap menyongsong kedatangan mempelai pria. Makna perumpamaan ini merupakan pengajaran tentang kedatangan Kristus kembali (parousia). Ada dua golongan sikap umat dalam merespons kedatangan Kristus kembali, yaitu seperti lima gadis bijaksana yang memiliki persediaan minyak, atau seperti lima gadis bodoh yang tidak memiliki persediaan minyak. Kedatangan mempelai pria ternyata terlambat cukup lama sehingga mengantuklah sepuluh mempelai gadis tersebut. Namun akhirnya mempelai pria tersebut datang pada tengah malam. Kelima gadis yang bijaksana mengambil pelitanya dengan minyak yang tersedia sehingga dapat segera menyambut kedatangan mempelai pria. Sebaliknya kelima gadis yang bodoh menjadi kelabakan. Persediaan minyak mereka habis, sehingga mereka meminta kepada kelima gadis yang bijaksana. Kelima gadis yang bijaksana tidak bersedia sebab kuatir persediaan minyak mereka tidak cukup sehingga menyarankan kelima gadis yang bodoh untuk membeli minyak. Namun di saat itulah mempelai pria datang, sehingga pintu pesta perjamuan telah tertutup. Kelima gadis yang bodoh tersebut tidak dapat masuk dan menemui para mempelai pria yang datang.

Menurut Charles Cousar dalam Texts for Preaching Year A, pengajaran kedatangan Kristus kembali (parousia) sering dihindari oleh gereja-gereja Protestan, bahkan cenderung didemitologisasikan (Cousar 1995, 560). Dengan sikap demikian kita kehilangan dimensi penting dalam teologia Perjanjian Baru. Karena itu kehidupan umat sering seperti sikap kelima gadis yang bodoh, tanpa persediaan minyak sehingga tidak siap menyambut kedatangan mempelai yang datang terlambat. Iman kepada Kristus tidak lagi didasari oleh sikap berjaga-jaga menantikan kedatangan-Nya. Spiritualitas iman umat tidak cukup hanya dibangun di atas dasar perbuatan baik sebagai orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus. Kehidupan umat untuk bertindak benar dan kudus seharusnya ditempatkan dasar kedatangan Kristus yang pertama dan penantian akan kedatangan Kristus yang kedua.

Refleksi

Ulasan renungan dapat diawali dengan pertanyaan, “mengapa kita melayani Tuhan dan sesama?” Beri beberapa alasan, atau bisa juga mengajukan pertanyaan kepada jemaat. Alasan melayani Tuhan dan sesama, misalnya: karena tugas setiap umat percaya, ingin menyatakan kasih Tuhan, mengaktulisasikan diri sesuai talenta, menyalurkan bakat, ingin menjadi berkat, dan sebagainya. Semua jawaban tersebut benar. Namun dalam perikop Yosua 24, umat diajak untuk menghayati tugas melayani bukan sekedar kewajiban, aktualisasi diri, menyalurkan bakat, atau menjadi berkat. Yosua 24 mengajak umat untuk terlebih dahulu menemukan sumber spiritualitas iman yang terdalam, yaitu melayani karena menghayati seluruh karya keselamatan Allah yang telah dialami. Kita dapat melayani karena Allah terlebih dahulu berkarya menyelamatkan dan melayani, sehingga Dia melayakkan kita dari kecemaran dan dosa dari para leluhur atau nenek-moyang kita.

Hakikat melayani terjadi karena rahmat Allah yang berkenan mengaruniakan kepada kita suatu kelayakan untuk ambil bagian dalam perjanjian-Nya. Dari situasi keberadaan kita sebagai manusia sebenarnya kita tidak layak, namun dari anugerah-Nya kita diperkenankan dihisabkan dalam perjanjian-Nya. Karena itu motivasi kita melayani Tuhan adalah: Pertama, membalas kebaikan dan anugerah Tuhan. Kedua, bertanggungjawab atas ikatan perjanjian yang telah ikrarkan di hadapan Allah. Ketiga, manifestasi kasih yang lahir dari hati kita yang telah dibarui oleh keselamatan Allah. Dengan demikian makna melayani yang utama adalah lahir dari kedalaman batin kita (inside-out), sehingga dimanifestasikan dalam setiap elemen kehidupan kita. Pelayanan bersifat holistik (utuh dan menyeluruh), bukan partial (sebagian atau lingkup tertentu). Karena itu melayani adalah tindakan ibadah, dan sebaliknya dalam ibadah mengandung tugas untuk melayani sesama. Tugas pelayanan meliputi seluruh bidang kehidupan, baik rohani maupun jasmani. Beribadah dan melayani Allah berarti memuliakan nama-Nya dalam seluruh bidang kehidupan, sehingga tidak ada pemisahan antara bidang sekuler dan rohaniah. Melayani berarti umat dipanggil untuk menguduskan setiap bidang kehidupan dengan rahmat dan karya keselamatan Allah.

Sebagai suatu ekspresi iman yang lahir dari kedalaman batin (inside-out), maka hakikat pelayanan tidak ditentukan oleh pandangan, opini, dan sikap dari orang-orang di sekitar kita. Dalam konteks ini kita dapat belajar bagaimana sikap Yosua. Pertama, ia meminta umat untuk mengevaluasi dan mengambil sikap beribadah kepada Tuhan ataukah allah lain. Kedua, ia telah menetapkan suatu sikap dan pilihannya sendiri, yaitu: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yos. 24:15). Untuk itu pengkhotbah dapat menunjukkan contoh kecenderungan beberapa orang yang mundur dari pelayanan karena teman-temannya sudah tidak ada lagi, atau lingkungan keluarganya bersikap memusuhi sikap imannya kepada Kristus. Hakikat melayani Tuhan seharusnya tidak mudah dipengaruhi oleh situasi atau pendapat orang lain. Sebab seorang pelayan Tuhan melakukan tugas pelayanannya bukan untuk menyenangkan hati manusia, namun berkenan dan menyenangkan hati Tuhan.

Karena tujuan pelayanan adalah untuk berkenan dan menyenangkan hati Tuhan, maka pelayanan haruslah dilakukan dengan segenap hati atau totalitas diri. Pelayanan bukanlah untuk mengisi waktu senggang, menyalurkan bakat, mencari teman/jodoh, atau takut masuk neraka. Pelayanan adalah persembahan diri yang penuh kepada Allah. Di Yosua 24:19, Yosua mengingatkan umat Israel, yaitu: “Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada Tuhan, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu.” Dengan demikian di samping kita melayani karena cinta-kasih Allah, kita juga diingatkan bahwa Allah yang kita layani adalah Allah yang cemburu. Kita dipanggil untuk tidak menjadikan hal-hal yang dari dunia ini atau kepentingan diri untuk menyaingi kedudukan dan kemuliaan Allah. Pelayanan dilakukan untuk memuliakan Allah, dan bukan memuliakan diri dengan menggunakan topeng kesalehan yang seakan-akan kita memuliakan Allah.

Hakikat pelayanan telah dijangkarkan pada karya keselamatan Allah yang telah dialami oleh umat, namun pada saat yang sama umat melayani Tuhan dan sesamanya perlu menghayati pula dengan sikap berjaga-jaga menantikan kedatangan Kristus kembali (parousia). Kita melayani Allah dengan spiritualitas yang menantikan kedatangan Sang Mempelai, sebab sebagai gereja-Nya kita adalah Mempelai Perempuan-Nya. Kita melayani Tuhan karena relasi hubungan kita dengan Allah sebagai seorang mempelai wanita yang melayani mempelai pria. Pelayanan baru berarti bila didasari oleh cinta-kasih yang suci dan murni seperti sepasang mempelai. Bukankah hubungan mempelai pria dan wanita dilakukan oleh ikatan kasih sehingga mereka hidup dalam perjanjian seumur hidup? Hubungan perjanjian tersebut telah dikemukakan oleh Yosua dalam perjanjian dengan umat Israel di Sikhem.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply