Latest Article

Iman yang Membarui Mata-hati (1 Samuel 15:34-16:13; Mazmur 20; 2 Korintus 5:6-17; Markus 4:26-34)

Dasar Pemikiran

Beberapa orang terpaksa menggunakan kacamata agar mampu melihat dengan jelas. Alat kacamata dibutuhkan untuk melihat khususnya bagi orang-orang yang bermasalah dengan penglihatan inderawi pada jarak dekat atau jarak jauh. Secara rohaniah, kita juga membutuhkan iman yang memiliki mata-hati sehingga mampu memandang, menilai, dan menafsirkan realitas kehidupan secara lebih utuh dan berkualitas. Namun sikap iman tidak secara otomatis mampu membawa pembaruan bagi pemeluknya. Bisa terjadi iman mendorong pemeluknya untuk menjadi seseorang yang fanatik dan membabi-buta, memusuhi orang-orang yang berbeda keyakinan, melakukan tindakan radikal-anarkhis, membenarkan kekerasan dan kekejaman, dan sebagainya. Dalam konteks yang demikian iman kepada Tuhan akan berubah menjadi musuh kemanusiaan. Iman seperti itu meniadakan kejernihan hati-nurani dan akal sehat. Sam Harris dalam bukunya yang berjudul The End of Faith menyatakan bahwa agama dalam konteks yang dangkal dan fanatik akan menjadi “the root of all evil” (akar dari segala kejahatan). Mungkin pernyataan Sam Harris tersebut agak berlebihan, namun bukan berarti tidak faktual. Dia mengamati dalam perjalanan sejarah, bagaimana agama-agama meninggalkan jejak berdarah dan terus memberlakukan kekerasan serta kekejaman.

Dalam menjalin relasi dengan sesama kita sering menilai sesama dengan penilaian yang dilandasi oleh sikap curiga, iri-hati, benci, serakah, dan dendam. Karena itu penilaian kita menjadi sikap yang cenderung menghakimi dan mencari kesalahan orang lain. Penilaian tersebut didasarkan pada besarnya kapasitas rohani yang kita miliki. Apabila kapasitas rohani kita dangkal, maka kita melihat kedalaman rohani orang lain secara dangkal. Sebaliknya apabila kapasitas rohani kita cukup dalam, maka kita akan melihat keterbatasan rohani orang lain dengan sikap empatis dan kerinduan untuk bersama-sama mengalami kekayaan rohani. Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 mengembangkan suatu teori tentang “Jendela Johari.” Melalui pemahaman diri dengan “Jendela Johari” kita diajak untuk mengembangkan kesadaran diri yang lebih tajam (self-awareness). Dengan kesadaran diri yang semakin tajam dan kritis, kita dimampukan untuk menjalin relasi dengan orang lain. Sebab melalui “Jendela Johari” setiap orang diajak memahami: 1). Area Terbuka yaitu kita mengenal diri sendiri dan publik juga mengenal diri kita, 2). Area Buta yaitu kita tidak mengenal sebagian diri kita namun orang lain mengetahuinya, 3). Area Tersembunyi yaitu kita mengenal sebagian diri kita dan sengaja kita berusaha orang lain tidak mengenal bagian kepribadian kita tersebut, 4). Area Rahasia adalah kita tidak mengenal sebagian dari kita dan orang lain juga tidak mengenalnya.

Menurut pendapat penulis, melalui iman kepada Kristus yang wafat dan bangkit memampukan kita untuk memperluas wilayah Area Terbuka sehingga mempersempit Area Buta, Area Tersembunyi, dan Area Rahasia. Sebab iman kepada Kristus bukan sekedar suatu “teori” atau metodologi ilmu psikologi namun sebagai suatu peristiwa perjumpaan personal yang membawa perubahan. Kita membutuhkan Kristus, karena Ia adalah benar-benar manusia dan benar-benar Allah sehingga Ia mampu menyelami seluruh keberadaan kita sebagai manusia yang lemah dan berdosa, sekaligus membawa kita dalam persekutuan cinta-kasih Ilahi.

Hermeneutik Leksionaris

Fokus tafsiran untuk kebaktian Minggu ini adalah surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, yaitu Surat 2 Korintus 5:6-17. Sebab mulai Minggu 7 Juni 2015, siklus Tahun Liturgi berada pada Masa Minggu Biasa. Karena itu pola penafsiran untuk Kebaktian Minggu 14 Juni 2015 menggunakan pola semisinambung. Pola penafsiran semisinambung saat ini memiliki karakter berhubungan erat dengan Bacaan Kedua minggu sebelumnya. Komisi Rancangan Khotbah sengaja memilih untuk Masa Minggu Biasa dari Bacaan Kedua, yaitu Surat Rasuli (Epistel). Bacaan Kedua sebelumnya adalah Surat 2 Korintus 4:13-5:1. Karena itu ulasan penafsiran dari Surat 2 Korintus 5:6-17 berhubungan erat dengan 2 Korintus 4:13-5:1. Karena itu penafsiran Bacaan Kedua untuk Kebaktian Minggu 14 Juni 2015 berhubungan erat dengan penafsiran Kebaktian Bacaan Kedua Minggu 7 Juni 2015. Tema kebaktian Minggu 7 Juni 2015 diambil dari 2 Korintus 4:16, yaitu: “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” Tema yang telah diulas adalah: “Iman, Obat Anti Tawar-hati.” Lalu tema Kebaktian Minggu ini adalah: “Iman yang Membarui Mata-hati.”

Nas yang menjadi dasar tema: “Iman yang Membarui Mata-hati” diambil dari Surat 2 Korintus 5:16, yaitu: “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.” Gagasan utamanya adalah melalui karya pembaruan dari Kristus yang bangkit memampukan umat untuk memiliki pola penilaian yang tidak didasarkan menurut ukuran atau standar manusiawi, namun menurut standar Kristus. Pertanyaan mendasar, apa yang menjadi latar-belakang Rasul Paulus memberi nasihat yaitu agar kita tidak lagi menilai seorang jugapun, demikian pula menilai Kristus menurut ukuran manusia? Apa yang dimaksud dengan menilai menurut ukuran manusia? Apa yang dimaksud dengan penilaian menurut ukuran Kristus?

Beberapa catatan ayat di Surat 2 Korintus dapat memberi petunjuk latar-belakang mengapa Rasul Paulus memberi nasihat agar kita tidak lagi menilai seorang juga dan Kristus menurut ukuran Kristus, yaitu:

  • Di Surat 2 Korintus 2:17, Rasul Paulus menyatakan: “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.” Pernyataan Rasul Paulus menegaskan bahwa pelayanan yang dilakukannya sama sekali bukan didasarkan pada tindakan mencari keuntungan diri sendiri melalui pemberitaan firman. Dalam konteks ini Rasul Paulus memberi pembelaan atas tuduhan bahwa ia mencari “nafkah” dengan pemberitaan Injil. Sebaliknya ia memberitakan firman dengan maksud yang murni atas perintah Allah.
  • Di Surat 2 Korintus 4:2, Rasul Paulus berkata: “Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.” Rasul Paulus memberi pembelaan akan tugas kerasulannya bahwa segala yang dilakukan dalam tugas pelayanannya bukan perbuatan tersembunyi yang memalukan, licik dan memalsukan firman Allah. Sebaliknya ia menyatakan kebenaran dan bersedia mempertanggungjawabkan di hadapan semua orang dan di hadapan Allah.
  • Di Surat 2 Korintus 10:1, 10 Rasul Paulus yang tampak lemah dan tidak berani secara fisik berhadapan dengan mereka. Ini terlihat dari 2 Korintus 10:10, yaitu: “Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti.”

Konteks pembelaan Rasul Paulus adalah serangan dari para lawan yang menuduh dia dengan fitnahan dan kelemahan fisiknya, serta kemampuan berbicara (retorika) dalam pemberitaan firman yang tidak menarik. Para lawan menyerang Rasul Paulus dari segi moral (mencari keuntungan dan memalsukan firman Allah), fisik (kondisi tubuh yang lemah dan sakit), dan kemampuan berbicara (public-speaking) yang kurang baik. Tuduhan para lawan yang menyerang dari sudut moral tidak dapat dibuktikan, sebab Rasul Paulus siap mempertanggungjawabkan di hadapan setiap orang dan di hadapan Allah. Namun Rasul Paulus membenarkan akan kelemahan fisik dan kemampuan pemberitaan firman yang tidak “excellence.” Namun kelemahan fisiknya dan kemampuan firman yang terbatas bukan berarti karya keselamatan Allah terhalang. Di Surat 2 Korintus 4:7, Rasul Paulus berkata: “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Sebaliknya dalam kelemahan tubuh dan keterbatasan kemampuannya untuk berbicara secara lisan, kuasa Allah bekerja dengan berlimpah-limpah dalam kehidupan Rasul Paulus. Kondisi kelemahan tubuhnya yang semakin merosot dinyatakan Rasul Paulus secara terbuka, yaitu: “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari” (2Kor. 4:16). Lalu apa yang menjadi tanda yang menguatkan kerasulan Paulus dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang Rasul Kristus?

Di Surat 2 Korintus 4:10-11, tanda yang dimiliki oleh Rasul Paulus sebagai hamba Yesus Kristus adalah membawa kematian Yesus dalam tubuhnya, yaitu: “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” Menurut Elisabeth Johnson dalam Commentary on 2 Corinthians 5:6-10 [11-13] 14-17 menyatakan bahwa tanda-tanda kematian Kristus dalam tubuh Rasul Paulus adalah bekas luka-luka karena cambukan dan penganiayaan yang dialaminya karena pemberitaan Injil. Padahal menurut budaya Helenisme Yunani kuna, bekas luka-luka yang terlihat pada tubuh seseorang sebagai sesuatu yang memalukan. Sebaliknya bagi Rasul Paulus bekas luka-luka karena cambukan dan penganiayaan yang dialaminya dalam pemberitaan Injil justru merupakan sesuatu yang mulia dan menjadi tanda otentik dalam pelayanannya sebagai seorang Rasul Kristus. Johnson menyatakan: “It is helpful to note that in the ancient Hellenistic world, bodily scars from beatings and lashings were considered a sign of shame and dishonor. Yet Paul argues that these scars authenticate his ministry, for they are a sign of his participation in Christ’s suffering and death in order to bring life to others (4:10-12).” Bekas luka-luka yang terdapat dalam tubuhnya dari sudut pandangan manusia memang memalukan. Sebaliknya bekas luka-luka tersebut dianggap oleh Rasul Paulus sebagai “penderitaan ringan” yang kelak akan menjadi “kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya” (2Kor. 4:17). Bekas luka-luka yang terdapat di tubuhnya bersifat “sementara” sedangkan ada aspek lain suatu dimensi yang jauh lebih luhur, yaitu realitas “yang tidak kelihatan” sebab realitas “yang tidak kelihatan” tersebut adalah “kekal” (2Kor. 4:18).

Pernyataan Rasul Paulus agar umat percaya tidak menilai sesama dengan penilaian lahiriah dan dari sudut pandangan manusiawi di Surat 2 Korintus 4:10 dan 2 Korintus 5:16 memiliki hubungan dengan Bacaan Pertama, yaitu 1 Samuel 15:34-16:13. Walau pada Masa Minggu Biasa umumnya tidak memiliki hubungan yang erat antara Bacaan I dan Bacaan II, namun terbuka kemungkinan memiliki hubungan teologis. Di 1 Samuel 16:7 menyatakan: Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Allah tidak memandang penampilan fisik seseorang, namun Ia melihat hati.

Dasar kekuatan rohani yang menyebabkan Rasul Paulus tabah dan mampu mengubah sesuatu yang sebenarnya secara manusiawi memalukan dan dianggap hina menjadi sesuatu yang luhur adalah sikap imannya. Sikap iman dihayati Rasul Paulus sebagai landasan utama dalam memaknai hidupnya, sehingga ia berkata: “Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2Kor. 5:6-7). Selain sikap iman, landasan utama Rasul Paulus terlihat pada 2 Korintus 5:14, yaitu kasih Kristus yang menguasai dirinya. Rasul Paulus berkata: “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.” Iman adalah respons manusia kepada karya keselamatan Allah, dan kasih Kristus adalah tindakan atau karya Allah yang menyatakan diri dalam kematian Kristus sehingga umat mengalami kerahiman dan pengampunan Allah yang membarui kehidupannya. Wujud kasih Kristus yang dinyatakan dalam kematian dan kebangkitan-Nya bertujuan agar setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka (2Kor. 5:15).

Kalau kita perhatikan dengan saksama, maka pernyataan Rasul Paulus di Surat 2 Korintus 5:15 merupakan premis teologis yang penting dalam memahami maksudnya di 2 Korintus 5:16, yaitu: “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.” Umat percaya tidak akan lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia apabila mereka terlebih dahulu telah mengalami kuasa penebusan dan pendamaian Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Sebab melalui kematian dan kebangkitan Kristus, hidup seseorang diubah secara menyeluruh sehingga memiliki perspektif yang baru. Setiap orang yang telah diperdamaikan oleh kematian dan kebangkitan Kristus tidak akan menilai sesama, diri sendiri, dan Allah dengan standar penilaian manusiawi. Contohnya sebelum Rasul Paulus bertobat, dia menganggap bahwa para pengikut Kristus adalah kelompok para bidaah yang sesat sehingga layak ditangkap dan dibunuh. Namun setelah ia berjumpa dengan Kristus yang wafat dan bangkit, kehidupan Rasul Paulus berubah total dan perspektifnya juga menjadi sama sekali baru. Cara menilai orang lain, diri sendiri, dan menilai diri Yesus juga berubah sama sekali. Itu sebabnya di Surat 2 Korintus 5:17 Rasul Paulus menyatakan: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Kehidupan umat berubah total dan perspektifnya mengalami pembaruan sebab umat yang percaya dan hidup dalam persekutuan dengan Kristus yang wafat dan bangkit menjadi “ciptaan yang baru.” Tanpa transformasi diri menjadi ciptaan yang baru, umat akan tetap menilai orang lain, diri sendiri, dan Allah menurut penilaian manusiawi yang dangkal. Sebaliknya di dalam iman kepada Kristus yang wafat dan bangkit akan menghasilkan mata-hati yang baru sehingga respons yang kita lakukan senantiasa didasarkan pada kehendak Allah.

Refleksi

Ulasan refleksi dapat diawali dengan contoh prinsip penilaian Allah saat Ia mengutus Samuel untuk mengurapi salah seorang anak Isai. Prinsip penilaian Allah adalah: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1Sam. 16:7). Allah melihat kualitas hati seseorang, bukan penampilan lahiriahnya. Namun berbeda dengan kecenderungan sikap kita pada umumnya. Kita justru sering menilai seseorang dari penampilan lahiriahnya, dan bukan hatinya. Di Surat 2 Korintus 5:16, Rasul Paulus berkata: “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.” Jelaskan hubungan teologis sikap Allah di 1 Samuel 16:7 dengan ucapan Rasul Paulus yang menyatakan agar kita tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Setelah itu jelaskan apa sebabnya Rasul Paulus mengutarakan agar umat percaya tidak melakukan penilaian menurut ukuran manusia.

Latar-belakang pernyataan Rasul Paulus di Surat 2 Korintus 5:16 tersebut adalah karena para lawan yang menuduh dia ke lingkup integritasnya sebagai Rasul Kristus yang dianggap memalsukan kebenaran firman Allah demi keuntungan pribadi, serangan kepada kondisi fisiknya yang lemah, dan kemampuan berbicara di depan umum. Serangan kepada integritasnya dapat dipatahkan sebab Rasul Paulus bersedia untuk mempertanggungjawabkan kepada setiap orang dan di depan Allah. Namun dia mengakui akan kelemahan fisik dan keterbatasannya dalam menyampaikan pemberitaan firman. Ternyata kondisi fisik Rasul Paulus dan keterbatasan dalam menyampaikan pemberitaan firman tersebut tidak menghalangi kuasa Allah bekerja secara berlimpah (2Kor. 4:7). Bandingkan pernyataan Rasul Paulus, yaitu: “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor. 12:10).

Setelah itu kepada anggota jemaat dapat disampaikan pertanyaan, jikalau demikian apa yang menjadi tanda kerasulan Paulus sebagai Rasul Kristus? Di Surat 2 Korintus 4:10-11, ternyata tanda yang dimiliki oleh Rasul Paulus sebagai hamba Yesus Kristus adalah membawa kematian Yesus dalam tubuhnya, yaitu: “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” Uraikan makna Surat 2 Korintus 4:10-11 dari sudut pemikiran Elisabeth Johnson agar umat dapat memahami makna “membawa kematian Kristus di dalam tubuh Rasul Paulus.”

Uraian khotbah semakin diperdalam dengan menjelaskan bagaimana dasar kekuatan rohani yang dianugerahkan Allah kepada Rasul Paulus. Dasar kekuatan rohani yang menyebabkan Rasul Paulus tabah dan mampu mengubah sesuatu yang sebenarnya secara manusiawi memalukan dan dianggap hina menjadi sesuatu yang luhur adalah sikap imannya dan anugerah kasih Kristus yang menguasai hidupnya. Makna iman adalah respons manusia kepada karya keselamatan Allah, dan kasih Kristus adalah tindakan atau karya Allah yang menyatakan diri dalam kematian Kristus sehingga umat mengalami kerahiman dan pengampunan Allah yang membarui kehidupannya. Setelah itu pengkhotbah menjelaskan dengan menguraikan bagaimanakah kasih Kristus tersebut dinyatakan Allah, yaitu di dalam wafat dan kebangkitan Kristus. Untuk itu pengkhotbah memperdalam tafsiran dari Surat 2 Korintus 5:15, yaitu: “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” Pernyataan Rasul Paulus di Surat 2 Korintus 5:15 tersebut menjadi premis teologisnya sehingga ia menegaskan agar kita tidak menilai siapapun menurut ukuran manusia, termasuk menilai diri Kristus (2Kor. 5:16).

Khotbah dapat diakhiri dengan salah satu contoh seseorang yang diubahkan oleh Kristus, sehingga kehidupannya menjadi berkat. Misalnya kehidupan seorang dokter yang menjadi misionaris di India, yaitu dr. Paul Brand dan istrinya Margaret. Karya pelayanan Paul Brand dan Margaret merintis pengobatan dan penanganan kepada orang-orang yang sakit kusta. Pengalamannya sebagai dokter yang menangani penderita sakit kusta menyadarkan dia makna “rasa sakit” (pain) sebagai suatu anugerah. Karena itu bersama Philiph Yancey, Paul Brand menulis buku dengan judul: Pain: The Gift Nobody Wants. Kisah hidup dr. Paul Brand dan Margaret dapat dilihat di situs: http://www.leprosymission.org.uk/about-us-and-leprosy/our-history/paul-brand.aspx

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply