Latest Article

Jalan Baru dalam Pertobatan (Yesaya 43:16-21; Mazmur 126; Filipi 3:4-14; Yohanes 12:1-8)

Dasar Pemikiran

Pembaruan hidup merupakan proses spiritualitas yang tidak boleh berhenti atau selesai. Pertobatan bukan sekadar peristiwa pembaruan yang merespons anugerah keselamatan Allah di masa lampau, namun juga di masa kini. Saat pertobatan berhenti, maka iman kita terputus sehingga tidak mampu menyambut karya Allah di masa kini. Iman seharusnya bergerak secara sinambung dari masa lampau ke masa kini dan menggapai janji Allah di masa mendatang. Kesinambungan sikap iman tersebut akan memampukan umat untuk bertahan dalam kesetiaan, konsistensi etis, dan ketabahan dalam menghadapi godaan dunia. Namun betapa sering kita terjebak pada romantisme iman di masa lampau, sehingga tidak peka dan jeli dengan kehadiran dan karya Allah yang terjadi pada situasi kini. Di Yesaya 43:18 Allah berfirman: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!” Allah memanggil setiap umat untuk peka dan jeli dengan karya keselamatan-Nya di masa kini. Karena itu kita membutuhkan spiritualitas yang semakin tajam untuk membaca dan merespons pekerjaan Tuhan yang tersembunyi dalam berbagai peristiwa yang sedang terjadi.

Melalui hukum Taurat dan firman yang telah diwahyukan kita dipandu bagaimana seharusnya merespons keselamatan Allah dengan sikap iman dan kasih. Karena itu gereja membuat aturan-aturan ritual ibadah agar setiap umat dapat mengungkapkan sikap iman dan kasihnya kepada Allah secara tertib. Namun pola yang tertib sering membuat kita tidak mampu mengungkapkan iman dan kasih secara otentik. Kita hanya mengulang-ulang pola ritual yang tertib tanpa sikap iman dan kasih, sehingga kita terjebak secara mekanistis dan rutinistis. Maria dari Betania mengungkapkan kasihnya kepada Kristus dengan cara yang otentik dan tidak terduga. Ia mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu dan menyekanya dengan rambutnya. Sebaliknya tokoh Yudas Iskariot menilai sikap Maria dari Betania sebagai tindakan pemborosan belaka. Yudas Iskariot mempersoalkan ungkapan iman dan kasih Maria dari Betania dari persepsi subjektifnya. Dari penggalian tafsir ternyata Yudas Iskariot bukan sekadar memiliki persepsi yang berbeda, namun dia juga mempunyai motif yang tersembunyi, yaitu tidak jujur dalam keuangan.

Jalan baru dalam pertobatan dalam konteks ini secara khusus ditujukan kepada Yudas Iskariot. Selain karena Yudas Iskariot tidak jujur dan manipulatif, dia juga mengkhianati Yesus. Dalam konteks ini seharusnya Yudas Iskariot mau belajar dengan rendah-hati spiritualitas yang dimiliki Maria dan Betania. Bukankah perilaku dan karakter kita dalam kehidupan sehari-hari lebih cenderung seperti Yudas Iskariot daripada seperti Maria dari Betania? Pada Minggu Prapaskah V kita perlu menguji diri semakin kritis agar kehidupan kita mengalami proses pembaruan yang signifikan. Dengan kerahiman-Nya kita berharap agar mampu menyatakan sikap iman dan kasih yang lebih otentik, berkenan, dan menyentuh hati Tuhan.

Hermeneutik Leksionaris

 Narasi Yohanes 12:1-8 paralel dengan Matius 26:6-13, Markus 14:3-9; Lukas 7:36-40. Kesamaan kisah dari keempat Injil adalah Yesus diurapi oleh seorang wanita dan menjelang peristiwa penderitaan serta kematian Yesus. Perbedaannya adalah pemilik rumah di Betania. Injil Yohanes 12:1 menyebut tempat tinggal Lazarus, Injil Matius 26:6 dan Markus 14:3 menyebut tempat tinggal Simon si kusta, dan Injil Lukas 7:36 terjadi di rumah seorang Farisi. Apabila kita memerhatikan konteks narasi Yohanes 12:1-8 dalam struktur Injil Yohanes, maka kita dapat melihat bahwa narasi tersebut ditempatkan di antara dua kisah, yaitu kisah Lazarus dibangkitkan dan peristiwa kematian Yesus.

Selain itu kisah Maria dari Betania yang membasuh kaki Yesus di Yohanes 12:1-8 berdekatan dengan peristiwa Yesus mencuci kaki para murid-Nya di Yohanes 13:1-11. Yesus memaknai tindakan Maria dari Betania yang mengurapi kaki-Nya dengan minyak narwastu yang mahal sebagai peringatan akan hari pemakaman-Nya. Di Yohanes 12:7, Yesus berkata: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.” Di pihak lain makna Yesus mencuci kaki para murid-Nya ditempatkan dalam konteks kesadaran Yesus bahwa Dia akan pergi meninggalkan para murid dalam kematian-Nya. Di Yohanes 13:1 menyatakan: “Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.” Jadi di Yohanes 12:1-8 dengan Yohanes 13 terdapat kesejajaran makna pembasuhan kaki yang dilakukan Maria dari Betania dan Yesus dalam konteks menjelang kematian Yesus.

Makna peristiwa Maria dari Betania mengurapi kaki Yesus yang diartikan sebagai tindakan peringatan akan kematian Yesus sesungguhnya telah dinyatakan dalam Yohanes 12:1, yaitu: “Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.” Pernyataan “enam hari sebelum Paskah” berkaitan dengan ayat sebelumnya, yaitu Yohanes 11:57. Di Yohanes 11:57 menyatakan para imam kepala dan orang-orang Farisi memerintahkan untuk menangkap Yesus, yaitu: “Sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu di mana Dia berada memberitahukannya, agar mereka dapat menangkap Dia.” Tujuan penangkapan Yesus terlihat di Yohanes 11:53 yaitu untuk membunuh Dia: “Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.” Dengan demikian Maria dari Betania ditampilkan sebagai seseorang yang secara rohani begitu jeli menangkap situasi krusial yang akan dialami oleh Yesus, sehingga ia memutuskan untuk mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal harganya. Menurut kesaksian Yohanes 12:5 harga minyak narwastu tersebut adalah tiga ratus dinar. Matius 20:2 memberi informasi yaitu upah satu hari adalah satu dinar, sehingga harga minyak narwastu tersebut adalah upah yang ditabung Maria dari Betania selama satu tahun lamanya. Maria dari Betania memberikan seluruh tabungannya dalam bentuk minyak narwastu untuk mengurapi kaki Yesus.

Namun di lain pihak apabila kita memerhatikan konteks Yohanes 11 tentang karya Yesus yang membangkitkan Lazarus dari kematian, maka makna tindakan Maria dari Betania sebagai ucapan syukurnya yang begitu dalam karena Yesus telah membangkitkan Lazarus saudaranya dari kematian. Dengan demikian makna tindakan Maria dan Betania mengandung dua motif, yaitu: mengucap syukur atas karya Yesus yang membangkitkan Lazarus saudaranya dari kematian dan kejelian rohaninya untuk mengingat akan kematian dan pemakaman Yesus.

Tindakan Maria dari Betania yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal di Yohanes 12 paralel dengan Lukas 7:37-38. Dalam kedua kisah tersebut seorang wanita meminyaki kaki Yesus dan menyeka dengan rambutnya. Perbedaannya adalah di Lukas 7:37 menyatakan: “Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.” Tetapi di Yohanes 12:1-3 tidak menyebut Maria dari Betania sebagai orang yang berdosa. Makna tindakan perempuan di Lukas 7:37 yang meminyaki kaki Yesus dan menyeka dengan rambutnya adalah untuk menyatakan penyesalan dan pertobatannya. Karena itu di Lukas 7:41-43 Yesus memberi perumpamaan tentang jumlah orang berhutang yang lebih besar dan orang yang berhutang lebih kecil. Di Lukas 7:47 Yesus berkata: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”

Namun tidaklah demikian makna tindakan Maria dari Betania di Yohanes 12:1-8. Sebab Maria dari Betania meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu dan menyeka dengan rambutnya merupakan ucapan syukur dan kejelian rohaninya untuk mengingat akan kematian yang sebentar lagi dialami oleh Yesus. Kedua kisah di Yohanes 12:1-8 dan Lukas 7:36-40 tersebut dalam sudut ilmu tafsir tidaklah tepat dipakai untuk saling melengkapi walau paralel. Tindakan Maria dari Betania di Yohanes 12:1-8 yang meminyaki kaki Yesus dan menyeka dengan rambutnya tidak boleh ditafsirkan sebagai penyesalan akan dosa-dosanya. Pengkhotbah cukup menafsirkan dari teks yang dinyatakan secara eksplisit dan tidak mencampurbaurkan kedua kisah dengan konteks dan motif yang berbeda. Dengan demikian adalah suatu kekeliruan tafsir bila tema “Jalan Baru dalam Pertobatan” dikaitkan dengan tokoh Maria dari Betania. Tema “Jalan Baru dalam Pertobatan” seharusnya dikaitkan dengan tokoh Yudas Iskariot.

Sikap Yudas Iskariot saat melihat tindakan Maria dari Betania adalah menegur dia yang dianggap telah menghambur-hamburkan uang secara sia-sia. Uang dari penjualan minyak narwastu dianggap Yudas Iskariot akan lebih bermanfaat bilamana uang tersebut dipakai untuk menolong orang-orang miskin. Di Yohanes 12:5, Yudas Iskariot berkata: “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Penjelasan dari narator di Yohanes 12:6 membantu kita sebagai pembaca masa kini untuk mengetahui motif tersembunyi yang melatarbelakangi teguran Yudas Iskariot kepada Maria dari Betania. Di Yohanes 12:6 motif Yudas Iskariot adalah: “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.” Motif Yudas Iskariot adalah agar Maria dari Betania mempersembahkan uang tabungannya selama setahun agar tidak dibelikan minyak narwastu, sehingga ia dapat mengambil uang Maria dari Betania untuk kepentingannya sendiri. Sikap Yudas Iskariot yang cinta uang terlihat dari tindakannya yang kelak menjual Yesus dengan harga 30 keping perak (Mat. 26:15). Yudas Iskariot mengutamakan nilai uang sedemikian rupa sehingga ia tidak peduli dengan keselamatan Yesus dan ketulusan Maria dari Betania. Perbuatan Yudas Iskariot tersebut merupakan cermin karakter dan jati-diri yang sesungguhnya, yaitu seorang pencuri uang sehingga ia menghalalkan apapun demi mencapai tujuannya yang duniawi.

Teguran Yesus terhadap sikap Yudas Iskariot adalah: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu” (Yoh. 12:7-8). Makna teguran Yesus mengandung dua hal yaitu: Pertama, Maria dari Betania memperlakukan Yesus dengan penuh kasih dan mengabaikan pandangan orang banyak terhadap harga dirinya sebagai wanita yang mau menyeka kaki Yesus dengan rambutnya, namun Yudas Iskariot tega menjual Dia sehingga disalibkan. Kedua, keberadaan orang miskin bersifat tetap sehingga umat percaya senantiasa memiliki kesempatan yang luas dibandingkan dengan keberadaan Yesus yang saat itu sudah dekat dengan kematian. Dari kedua teguran Yesus tersebut, Yesus mengingatkan kepada Yudas Iskariot dan umat percaya untuk mengutamakan prioritas, yaitu kasih kepada diri-Nya. Apakah kita telah mengasihi Kristus sebagaimana yang telah dilakukan Maria dari Betania? Maria dari Betania mampu membuat prioritas yang tepat, sedang Yudas Iskariot bersikap bias. Yudas Iskariot sepertinya membela orang miskin namun sesungguhnya mencari keuntungannya sendiri. Dia tampak berjiwa murah-hati dan memikirkan orang-orang yang menderita namun sesungguhnya dia berjiwa licik dan tega menjual Yesus ke tangan orang-orang Farisi dan imam-imam kepala. Jati diri Yudas Iskariot bukanlah hati yang lurus tetapi mendua, licik, dan materalistik.

Melalui narasi tentang kedua tokoh di Yohanes 12:1-8 yaitu Maria dari Betania dan Yudas Iskariot, setiap umat diajak untuk merenungkan jati-dirinya. Apakah kita telah menjadi sosok Maria dari Betania yang mengasihi Yesus dengan segenap hati sehingga bersedia mempersembahkan yang paling berharga dan tidak mempedulikan penilaian dan hormat dari manusia asalkan kita mengutamakan Yesus, ataukah kita bersikap seperti Yudas Iskariot? Kedua tokoh ini menjadi cermin bagi spiritualitas yang hendak kita kembangkan pada Minggu Prapaskah V, yaitu apakah kita mempermuliakan Kristus dengan spiritualitas Maria dari Betania yang mengasihi Yesus dengan cara yang begitu menyentuh, ataukah kita menjual dan memperlakukan Kristus dengan cara yang licik dan jahat dengan polesan kata-kata yang saleh atau rohani.

Sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari kita lebih cenderung bersikap seperti Yudas Iskariot. Kita sering berkata-kata dengan penuh kesalehan dan berpihak kepada orang-orang yang menderita, namun sesungguhnya kita sedang mencari keuntungan bagi di sendiri. Kita sering menggunakan ungkapan, misalnya kepentingan jemaat, kepentingan Kerajaan Sorga, dan kepentingan orang-orang miskin. Namun kita memanipulasinya untuk kepentingan diri dan ambisi kita. Sikap kita tidak lurus di hadapan Allah dan sesama. Kita membutuhkan pemulihan dan pertobatan. Tanpa pembaruan, maka hidup kita akan seperti Yudas Iskariot.

Berita tentang karya Allah yang membarui itu dinyatakan dalam Bacaan I, yaitu dari Yesaya 43:16-21. Inti berita Yesaya 43:16-21 adalah agar orientasi iman umat tidak hanya terarah kepada karya Allah di masa lalu, namun juga perlu terarah kepada karya Allah di masa kini. Berita di Yesaya 43:16-17 menyatakan bagaimana Yahweh berkarya melepaskan umat Israel dari perbudakan di Mesir. Di saat yang genting, Yahweh menyelamatkan umat Israel dengan membuat jalan ke laut saat tentara Mesir mengejar dan ingin membunuh mereka. Karena itu umat Israel dapat berjalan dengan selamat sebab Laut Teberau dibelah menjadi suatu jalan yang aman. Sebaliknya isi berita di Yesaya 43:18 kontras dengan Yesaya 43:16-17, sebab Allah berfirman: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!” Makna pernyataan Allah yang kontras tersebut adalah agar iman umat dibangun di atas dasar karya keselamatan Allah di masa lampau, namun juga perlu senantiasa peka dan terbuka dengan karya keselamatan Allah di masa kini. Karena itu di Yesaya 43:19, Allah berfirman: “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”

Sikap iman perlu seimbang dengan menempatkan peringatan akan karya Allah di masa lampau dan menghidupi secara eksistensial dalam kehidupan di masa kini. Maria dari Betania telah melihat karya keselamatan Kristus dengan membangkitkan Lazarus dari kematian di waktu yang lampau, namun ia juga merespons dengan ucapan syukur dan penuh kasih kepada Kristus di masa kini. Namun tidaklah demikian yang terjadi pada diri Yudas Iskariot. Pada awal perjumpaannya dengan Kristus, pastilah Yudas Iskariot digetarkan oleh sikap iman dan kasih kepada Yesus. Namun dalam perjalanan berikutnya, iman dan kasihnya tidak lagi berperan mengendalikan hidupnya. Yudas Iskariot membiarkan diri dikuasai oleh keserakahan dan nafsu duniawinya. Jika demikian makna “pertobatan” tidak boleh berhenti pada peristiwa di masa lampau tetapi juga harus dihayati dalam kehidupan kita di masa kini. Allah tidak hanya hadir di masa lampau namun juga dalam pergumulan kita di masa sekarang. Aktualisasi iman berarti kita mamapu merespons dan mengambil keputusan etis dengan sikap iman situasi dan peristiwa masa kini, sehingga karya keselamatan Allah di masa lampau menjadi pengalaman umat yang eksistensial pada masa sekarang.

Sikap senada juga dikemukakan oleh Rasul Paulus, yaitu makna sikap imannya di masa kini sebagai suatu interpretasi dalam perspektif baru dalam karya penebusan Kristus. Di Filipi 3:13-14 Rasul Paulus berkata: “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Dengan perspektif iman yang baru tersebut Rasul Paulus mampu menghayati makna “jalan baru dalam pertobatan” secara eksistensial sehingga ia tidak terjebak pada romantisme iman di masa lampau. Melalui Kristus, Rasul Paulus menemukan kekayaan iman sehingga ia melupakan apa yang ada di belakangnya dan mendorong dia untuk secara progresif bertumbuh dan semakin serupa dengan Kristus (Flp. 3:10). Dalam hubungan teologis dengan berita Yohanes 12:1-8, progresivitas iman Rasul Paulus tersebut menghasilkan sikap iman yang otentik sebagaimana sikap Maria dari Betania yang menyatakan sikap iman dan kasihnya yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu dan menyeka dengan rambutnya. Sikap Maria dari Betania bukan sekadar mengungkapkan kasihnya kepada Kristus menurut pola hukum Taurat, tetapi mengungkapkan secara otentik, tidak terduga, dan sangat menyentuh hati.

Refleksi

  1. Khotbah dapat diawali dengan pertanyaan: “Apakah yang menjadi motif utama Maria dari Betania mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu dan menyeka dengan rambutnya?” Mungkin di antara anggota jemaat menjawab karena Maria dari Betania menyatakan penyesalan dan pertobatannya dengan segenap hati. Pengkhotbah dengan sikap bijaksana memberi penjelasan bahwa jawaban tersebut dipengaruhi dari kisah Injil Lukas 7:36-50 yaitu tentang seorang wanita berdosa datang kepada Yesus dengan mengurapi kaki-Nya dan menyeka dengan rambutnya. Namun tidaklah demikian pengisahan Injil Yohanes 12:1-8 tentang Maria dari Betania. Pengkhotbah memanfaatkan tafsiran tentang motif Maria dari Betania yang mengucap syukur karena Yesus telah membangkitkan Lazarus saudaranya dan juga penilaian Yesus bahwa dia melakukan sebagai peringatan akan pemakaman-Nya.
  1. Karena itu tema “Jalan Baru dalam Pertobatan” bukan ditujukan kepada Maria dari Betania, tetapi kepada sosok Yudas Iskariot. Spiritualitas Yudas Iskariot perlu diulas berdasarkan tafsiran, sehingga umat dapat memahami orientasi motif dan karakter yang sesungguhnya. Agar lebih jelas buatlah kontras antara spiritualitas Maria dan Betania dengan Yudas Iskariot, misalnya: 1). Maria dari Betania menyisihkan uang selama satu tahun untuk dipersembahkan kepada Yesus dalam bentuk minyak narwastu tapi Yudas Iskariot justru memiliki motif agar dapat memakai uang yang dipegangnya. 2). Maria dari Betania merendahkan diri dengan menyeka kaki Yesus dengan rambutnya namun Yudas Iskariot menyerahkan Yesus dengan harga 30 keping perak. 3). Maria dari Betania menyatakan sikap kasihnya secara otentik namun Yudas Iskariot berlaku licik dan materialistis.
  1. Umumnya umat lebih bersimpati kepada Maria dari Betania yang mengasihi Yesus dengan cara yang tidak terduga dan sangat menyentuh. Namun sejauh mana kita selaku umat dalam kehidupan sehari-hari berlaku seperti Maria dari Betania? Bukankah kita lebih cenderung berlaku seperti Yudas Iskariot? Mungkin di awal perjalanan iman kita digetarkan oleh sikap iman dan kasih yang begitu besar kepada Kristus. Tetapi lambat-laun sikap iman dan kasih kita tersebut semakin pudar. Demikian pula awal perjumpaan Yudas Iskariot dengan Kristus, pastilah saat itu ia digetarkan oleh sikap iman dan kasih kepada Yesus. Namun dalam perjalanan berikutnya, iman dan kasihnya tidak lagi berperan mengendalikan hidupnya. Yudas Iskariot membiarkan diri dikuasai oleh keserakahan dan nafsu duniawinya. Pengkhotbah dapat menjelaskan alasan atau latarbelakang yang menyebabkan iman dan kasih yang mula-mula umat juga tidak dapat terus bertahan. Penyebabnya karena makna pembaruan hidup tidak dihayati secara konsisten dan sinambung, sehingga iman kita terjebak pada romantisme di masa lampau dan tidak responsif di masa kini.
  1. Pengkhotbah menguraikan dan menafsirkan Yesaya 43:16-21 dalam hubungan teologis dengan sikap Yudas Iskariot dan Maria dari Betania di Yohanes 12:1-8. Yudas Iskariot hanya berorientasi pada karya keselamatan Allah di masa lampau, namun Maria dari Betania mampu secara seimbang dan sinambung menghayati secara utuh karya keselamatan Allah di masa lalu, kini, dan mendatang. Karena itu Maria dari Betania memiliki kepekaan rohani yang tajam sehingga tindakannya mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu sebagai persiapan pemakaman Yesus saat Ia kelak diserahkan oleh Yudas Iskariot. Untuk memperkuat pesan dan makna teologis tersebut pengkhotbah dapat memanfaatkan tafsiran dari Filipi 3:4-14, khususnya pernyataan Rasul Paulus tentang: “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp. 3:13-14). Iman umat perlu terarah ke depan secara progresif dan eskatologis, bukan romantisme di masa lampau. Iman yang progresif dan eskatologis justru akan menjadi sikap iman yang jeli dan tajam merespons karya Allah yang terjadi di masa kini.
  1. Iman yang progresif dan eskatologis pada hakikatnya menghargai kekayaan warisan karya keselamatan Allah di masa lampau, namun juga mampu memiliki ketajaman rohani membaca dan merespons karya keselamatan Allah di masa kini. Karena itu iman yang progresif dan eskatologis tidak terjebak secara mekanistis dan rutinistis, namun kreatif dan menyentuh hati sebagaimana yang dilakukan oleh Maria dari Betania. Pengkhotbah dapat memperjelas makna teologis tersebut dengan beberapa contoh, misalnya: umat beribadah setiap hari Minggu sebagai suatu kegiatan iman yang rutin dan mekanis namun tidak didasari oleh hati yang dibarui. Akibatnya umat tidak mampu mengekspresikan iman dan kasih yang lahir dari hatinya. Umat sering merasa cukup saleh dan baik dengan kondisi tersebut. Padahal tanpa pembaruan dan pertobatan, kita akan bersikap seperti Yudas Iskariot yang akan mudah menghakimi sesama yang mengungkapkan kasih secara berbeda. Kita akan sering menggunakan kata-kata saleh atau rohani, padahal dilatarbelakangi oleh motif yang duniawi yaitu mencari keuntungan diri sendiri.
  1. Khotbah dapat diakhiri dengan tantangan kepada umat untuk secara serius memikirkan ziarah imannya kepada Tuhan. Apakah umat mau meneladan sikap Maria dan Betania ataukah Yudas Iskariot? Setiap umat membutuhkan pertobatan dengan jalan yang selalu baru, sehingga kita akan seperti doa dan harapan Rasul Paulus, yaitu: “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Flp. 3:10-11).

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply