Latest Article

Minggu Trinitas (Yesaya 6:1-8; Mazmur 29; Roma 8:12-17; Yohanes 3:1-17)

thd_trinity1

Dasar Pemikiran

 Saat ini gereja merayakan Minggu Trinitas yaitu satu minggu sesudah hari raya Pentakosta. Setelah itu gereja akan merayakan Masa Minggu Biasa. Dengan demikian Minggu Trinitas merupakan awal dari Masa Minggu Biasa. Seluruh perayaan pada Masa Minggu Trinitas sampai Minggu Kristus Raja diresapi oleh misteri dan keagungan Allah Trinitas yang menyatakan diri-Nya sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus. Karena itu kehidupan umat setiap hari secara etis-moral dan spiritualitas seharusnya diresapi oleh misteri keagungan Allah Trinitas. Secara khusus Minggu Trinitas yang dirayakan gereja saat ini merupakan konteks bagi umat untuk memahami penyataan Allah di dalam Kristus dan Roh Kudus. Melalui Minggu Trinitas, gereja menegaskan kesaksian imannya bahwa seluruh karya Allah yang menciptakan, memelihara, menyelamatkan, dan membarui didasarkan pada tindakan Allah yang menyatakan diri-Nya sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus. Karya penciptaan alam semesta, bumi dan segala isinya bukan hanya karya Yahweh, Sang Allah Bapa, tetapi juga karya Bapa-Anak-Roh Kudus. Demikian pula karya keselamatan dan penebusan bukan hanya karya Kristus, Sang Anak Allah, namun juga karya Allah Trinitas. Pembaruan oleh Roh Kudus adalah juga karya Allah Trinitas.

Pemahaman Trinitas kerapkali menjadi pengajaran yang membingungkan karena kerapkali didasarkan pada pola pendekatan filosofis yang spekulatif. Melalui penyataan Allah yang khusus di dalam Kristus, misteri Allah sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus dinyatakan dalam karya keselamatan-Nya di tengah-tengah kehidupan umat. Dalam hal ini Alkitab tidak mendekati misteri Allah Trinitas secara spekulatif, namun mempersaksikan Allah secara ekonomis, yaitu melalui tindakan dan karya penciptaan, pemeliharaan, penebusan, dan pembaruan/pengudusan Allah yang menyatakan diri-Nya sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus. Di Yohanes 14:9-10, Yesus berkata: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.”

Bila penyataan Allah secara trinitaris terjadi dalam kehidupan umat seharusnya pengajaran Allah Trinitas menjadi landasan etis-moral dan spiritualitas umat dalam kehidupan konkret. Relasi Allah sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus yang saling mengasihi menjadi landasan relasi umat dengan sesama yang berbeda dan beragam. Perbedaan dan keragaman dalam kehidupan bersama harus disikapi melalui model relasi kasih Allah Trinitaris, sehingga di dalam iman kepada Bapa-Anak-Roh Kudus setiap umat menghadirkan keselamatan, damai-sejahtera, keadilan, dan keutuhan ciptaan.

Penafsiran

Tafsir Yesaya 6:1-8

Nabi Yesaya mengalami penyataan Allah pada masa wafatnya Raja Uzia (783 – 742). Kisah Raja Uzia dipersaksikan di Kitab 2 Tawarikh 26. Di 2Tawarikh 26:1-15 mengisahkan Raja Uzia yang senantiasa mencari Allah dan hidup benar, sehingga Allah memberkati dan memampukan dia menjadi raja yang begitu berpengaruh. Berbagai keberhasilan dicapai oleh Raja Uzia. Namun di 2 Tawarikh 25:16, Raja Uzia setelah kuat berubah menjadi tinggi hati dan melakukan tindakan-tindakan yang merusak. Raja Uzia secara lancang membakar ukupan kepada Tuhan yang seharusnya merupakan tugas para Imam keturunan Harun. Allah menghukum Raja Uzia dengan sakit kusta saat ia membakar ukupan. Ia wafat dalam keadaan sakit kusta di pengasingan. Setelah kematian Raja Uzia, Nabi Yesaya mendapat penyataan Allah. Ia melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Lalu Nabi Yesaya melihat para Serafim yang memiliki enam sayap (dua sayap dipakai untuk menutupi muka, dua sayap untuk menutupi kaki, dan dua sayap dipakai untuk terbang). Para Serafim menyanyikan trishagion, yaitu: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya” (Yes. 6:3). Repons Nabi Yesaya adalah ia terkejut dan takut, sehingga berkata: “Celakalah, aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” (Yes. 6:5). Untuk itu Allah menguduskan Nabi Yesaya. Allah menguduskan Nabi Yesaya dan kesalahannya telah diampuni sebelum ia melaksanakan tugas pengutusan.

Makna pengalaman iman Nabi Yesaya akan penyataan Allah di Bait Allah adalah:

  1. Di tengah krisis kematian Raja Uzia, Allah menghadirkan kemuliaan-Nya bagi umat Israel.
  2. Penyataan Allah adalah bukan hasil upaya pencarian manusia, tetapi semata-mata merupakan inisiatif Allah yang berkenan menyingkapkan diri-Nya.
  3. Bahasa manusia tidak dapat mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah, apalagi situasi keberdosaan manusia yang najis sehingga kekudusan Allah seharusnya membinasakan.
  4. Tanpa kekudusan mustahil manusia dapat melihat Allah (bdk. Mat. 5:8).
  5. Hakikat Allah adalah misteri, sehingga penyataan Allah menyadarkan keberadaan kita yang berdosa dan terbatas. Kita hanya dapat menangkap sebagian kecil dari rahasia penyataan Allah yang maha-agung. Para Serafim juga tidak berani menatap wajah Allah, sehingga mereka menudungi wajah dengan kedua sayapnya.

Tafsir Mazmur 29

Mazmur 29 dipakai juga pada Minggu Yesus dibaptis. Pemazmur mengajak seluruh penghuni sorga untuk sujud kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan. Pemazmur mempersaksikan suara Tuhan di atas air, penuh kekuatan, mampu mematahkan pohon aras, menyemburkan api, membuat padang gurun gemetar, dan suara Tuhan membuat beranak rusa betina (Mzm. 29:3-9). Pada puncaknya pemazmur mempersaksikan: “Tuhan bersemayam di atas air bah, Tuhan bersemayam sebagai Raja untuk selama-lamanya” (Mzm. 29:10). Makna air bah untuk menunjuk situasi kekacauan dan kematian. Sebagai Raja yang bersemayam di atas air bah, Allah mengaruniakan kekuatan, berkat dan damai-sejahtera kepada umat-Nya (Mzm. 29:11).

Penyataan Allah dihadirkan melalui suara-Nya yang penuh kuasa. Dia menyatakan diri-Nya sebagai Raja yang berkuasa atas kekacauan dan kuasa maut. Karena itu kehadiran-Nya membawa keselamatan dan damai-sejahtera bagi umat percaya.

Tafsir Roma 8:12-17

Rasul Paulus menegaskan bahwa setiap umat percaya kepada Kristus adalah umat yang telah dimerdekakan oleh Kristus dari hukum dosa dan hukum maut, sehingga dipanggil untuk hidup menurut Roh. Konsekuensinya umat percaya tidak berhutang kepada keinginan daging, sebab keinginan daging adalah kematian. Umat yang telah dimerdekakan dari hutang keinginan daging akan diangkat (diadopsi) oleh Allah di dalam Kristus. Setiap umat diangkat menjadi anak-anak Allah. Karena itu di dalam Kristus, umat percaya tidak berada dalam roh perbudakan. Sebaliknya mereka adalah anak-anak Allah sehingga setiap umat diperkenankan memanggil Allah sebagai: “Ya Abba, ya Bapa” (Rm. 8:15).

Penyataan Allah terjadi di dalam penebusan Kristus yang telah membebaskan umat dari kuasa dosa yaitu keinginan daging sehingga umat dimampukan untuk hidup menurut keinginan Roh. Lalu Roh Kudus meneguhkan status umat percaya sebagai anak-anak Allah. Sebab Roh Kudus telah memeteraikan umat percaya di dalam Kristus menjadi anak-anak Allah, sehingga kita diperkenankan memanggil Allah sebagai “Abba, Bapa.” Dengan demikian panggilan Allah sebagai Bapa adalah hasil dari penyataan-Nya, sehingga relasi umat yang sebelumnya sama sekali tidak layak kini dipulihkan dalam hubungan yang akrab dan intim, yaitu hubungan Bapa dengan anak-anaknya. Hubungan kita dengan Allah di dalam Kristus bukan lagi hubungan sebagai “Tuan dan hamba.” Umat percaya memeroleh anugerah sebagai ahli waris dan janji keselamatan Allah, sehingga kita dipermuliakan bersama dengan Kristus (Rm. 8:17).

Tafsir Yohanes 3:1-17

Nikodemus menjumpai Yesus di waktu malam. Paradigma teologis Nikodemus adalah ia melihat Yesus sebagai guru yang diutus Allah melalui tanda-tanda mukjizat yang dikerjakan-Nya. Nikodemus melihat “keilahian” Yesus melalui pekerjaan mukjizat-Nya. Namun Yesus membantah pemahaman Nikodemus tersebut. Sebab untuk melihat penyataan Allah dan kerajaan-Nya seseorang harus dilahirkan kembali. Makna dilahirkan kembali adalah mengalami pembaruan hidup, yaitu melalui baptisan air dan pencurahan Roh Kudus. Baptisan air dan pencurahan Roh Kudus akan terjadi manakala manusia menyambut dan percaya kepada Sang Anak Manusia, yaitu Kristus khususnya saat Ia ditinggikan melalui peristiwa salib. Dengan demikian penyataan Allah pada puncaknya dinyatakan dalam peristiwa salib di bukit Golgota. Saat itulah Sang Anak Manusia akan ditinggikan seperti peristiwa Musa yang meninggikan ular di padang-gurun. Barangsiapa yang memandang ular tembaga yang ditinggikan Musa tersebut, dia akan sembuh (Bil. 21:9), demikian pula umat yang percaya kepada penebusan Kristus di kayu salib akan memeroleh hidup yang kekal.

Makna kesaksian Yohanes 3:1-17 menegaskan bahwa peristiwa salib yang menyelamatkan akan dialami umat sebagai peristiwa penyataan Allah manakala umat menerima Roh Kudus. Peristiwa salib tersebut akan membarui umat melalui baptisan air dan pencurahan Roh Kudus, sehingga mereka mengalami kelahiran kembali. Dengan demikian karya Roh Kudus dalam konteks ini mempunyai peranan yang sangat menentukan. Tanpa karya Roh Kudus, peristiwa salib hanyalah suatu tragedi yang menyedihkan sehingga tidak mampu membawa pengaruh apapun dalam kehidupan umat. Sebaliknya melalui karya Roh Kudus, umat akan mengalami peristiwa salib sebagai tindakan Allah yang mengasihi dan menyelamatkan. Melalui peristiwa salib, umat mengalami kelahiran baru sebagai anak-anak Allah.

Hermeneutika Leksionaris

Pergulatan gereja untuk merumuskan dan menjelaskan makna Allah Trinitas merupakan jalan panjang yang tidak berujung. Letak permasalahannya adalah gereja menyadari sedang berhadapan dengan misteri Allah yang begitu dalam dan melampaui pengertian serta akal-budi manusia. Misteri Allah tersebut tidak dapat direngkuh dalam bahasa manusia yang serba terbatas. Karena itu menjelaskan misteri Allah Trinitas senantiasa memakai analogi atau bahasa metafor. Tertullianus mengilustrasikan hubungan Bapa-Anak-Roh Kudus seperti matahari-sinar-panas. Namun analogi tersebut tidak mampu menjelaskan kedalaman misteri Allah Trinitas. Demikian pula rumusan Tertullianus tentang Allah Trinitas, yaitu: “una substantia, tres personae” (satu Zat, tiga Pribadi) belum sepenuhnya mampu menjawab bagaimanakah Allah Trinitaris tersebut. Pemahaman teologis Sabellius yang menegaskan keesaan Allah secara nominal dalam kedirian Bapa-Anak-Roh Kudus secara modalitas juga menimbulkan permasalahan teologis yang semakin parah. Sabellius mengubah Trinitarianisme (keesaan Allah secara relasional) menjadi Unitarianisme (keesaan Allah secara nominal). Gereja menolak pemahaman Allah secara Unitarianisme. Sebab di dalam Kristus, gereja menerima penyataan Allah sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus secara trinitarianisme, yaitu Allah yang tetap esa sekalipun memiliki keberadaan-Nya masing-masing, sebab ketiga-Nya dipersatukan dalam relasi kasih ilahi yang intim tiada-taranya.

Untuk memahami makna Minggu Trinitas, kita perlu menempatkan dalam dua dimensi teologis, yaitu:

  1. Ad-interna: persekutuan Allah pada diri-Nya sendiri sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus merupakan persekutuan kasih yang memiliki keintiman tiada taranya. Bapa mengasihi Anak dan Roh Kudus, Anak mengasihi Bapa dan Roh Kudus, dan Roh Kudus mengasihi Bapa dan Anak. Hakikat kasih Allah secara trinitaris pada hakikatnya tidak meniadakan keesaan-Nya. Di Ulangan 6:4 menyatakan: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa” (Syema Israel, Adonai Elehenu, Adonai Ekhad). Makna ekhad untuk menunjuk keesaan Allah yang relasional. Sebaliknya kata yakhid menunjuk makna keesaan secara nominal. Bila hakikat keesaan Allah dipahami secara yakhid, maka Allah tidak mampu mengasihi “keberlainan-Nya.” Kasih Allah dalam pengertian yakhid tersebut akan menjadi cinta diri (self-love). Sebaliknya makna Adonai Ekhad menunjuk keesaan Allah secara relasional sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus. Allah mengasihi keberlainan dalam diri-Nya. Relasi kasih yang tiada taranya antara Bapa-Anak-Roh Kudus oleh Gregorius Nazianzen (329-390) disebut dengan istilah perikhoresis, yang artinya: saling saling mendiami dan saling berkelindan. Bapa-Anak-Roh Kudus menyatu dalam relasi kasih ilahi, namun tidak melebur dan tidak tercampur. Bapa-Anak-Roh Kudus saling tidak terpisahkan namun memiliki keberadaan-Nya masing-masing. Walaupun demikian setiap keberadaan dari Bapa-Anak-Roh Kudus memiliki tindakan yang satu dan menyeluruh, sehingga Bapa adalah Allah, Anak (Firman) adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah. Bapa-Anak-Roh Kudus bukan tiga Allah (tritheis), namun Allah yang esa.
  1. Ad-externa: Allah sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus menyatakan diri-Nya dalam sejarah umat manusia. Relasi kasih yang intim tiada tara-Nya antara Bapa-Anak-Roh Kudus dengan kehendak-Nya yang berdaulat diperluas sehingga berkenan melibatkan umat manusia yang fana dan berdosa agar mereka mengalami persekutuan kasih. Dimensi ad-externa merupakan karya ekonomi Disebut sebagai karya ekonomi Allah dimaksudkan bahwa Allah Trinitaris bertindak dalam sejarah kehidupan umat manusia. Allah Trinitaris sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus menyatakan karya-Nya secara paripurna dalam penebusan Kristus dan pembaruan Roh Kudus. Tujuan umum karya ekonomi Allah Trinitas adalah: “supaya Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor. 15:28b). Tujuan khususnya adalah umat manusia menjadi serupa dengan Kristus, yaitu: “yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya” (Flp. 3:21). Melalui kasih Allah Trinitaris yang mengasihi “yang lain” umat dimampukan untuk mengasihi sesama yang berbeda dengan dirinya. Realita keberagaman umat manusia menjadi kemungkinan untuk dinyatakan dalam hidup bersama, yaitu kasih yang menyatukan dan membebaskan. Karena itu karya keselamatan Allah Trinitaris adalah menghadirkan perdamaian dan keadilan, sehingga keberagaman umat manusia menjadi media pancaran kasih ilahi.

Kesaksian teks dalam keempat bacaan leksionaris lebih berfokus pada karya ekonomis Allah, yaitu dimensi ad-externa. Sebab dimensi ad-interna merupakan misteri ilahi yang melampaui pengertian manusia. Dimensi ad-interna dapat diketahui melalui penyataan Yesus selaku Anak Allah, yaitu: “Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya” (Yoh. 14:10). Dengan demikian dimensi ad-interna merupakan persekutuan intim yang tiada taranya antara Bapa-Anak-Roh Kudus dalam waktu kekekalan Allah. Selaku umat kita hanya dapat melihat dan mengalami dimensi ad-externa, sebab Allah Trinitas berkarya dalam sejarah kehidupan umat secara riil.

Dalam kehidupan Nabi Yesaya, Allah menyatakan diri-Nya pada masa sesudah wafatnya Raja Uzia. Di tengah-tengah situasi krisis dan kehidupan moral yang buruk sebagaimana telah dilakukan oleh Raja Uzia, Allah menyatakan diri-Nya sebagai Yang Kudus. Di Mazmur 29, Allah menyatakan diri-Nya di tengah-tengah kekacauan dan kuasa maut dengan suara-Nya yang penuh kuasa. Suara Allah yang penuh kuasa adalah suara Allah sebagai Raja atas seluruh ciptaan-Nya. Karena itu di tengah-tengah kekacauan dan kuasa maut, Allah hadir untuk menyatakan keselamatan dan damai-sejahtera-Nya. Pada puncaknya melalui kehidupan dan kematian Kristus, Allah menyatakan diri-Nya secara paripurna. Melalui peristiwa salib Kristus, Allah menyatakan cinta-kasih-Nya yang menyeluruh dan total kepada manusia. Untuk itu umat membutuhkan anugerah Roh Kudus, sehingga umat dengan sikap iman mampu melihat dan mengalami peristiwa salib Kristus sebagai media penyataan Allah yang menyelamatkan. Pengenalan akan Kristus pada hakikatnya bukan hasil upaya dan pencarian akal budi manusia. Iman kepada Kristus merupakan anugerah Allah yang berkenan memilih sesuai kasih-karunia-Nya. Di dalam iman kepada Kristus, umat percaya dimampukan untuk memiliki jalinan relasi kasih dengan Allah sebagai Bapa. Pada sisi lain melalui karya Roh Kudus, umat dimampukan untuk mengalami proses pembaruan dan pengudusan yang terus terus-menerus sehingga umat semakin memiliki kemurnian dalam relasinya dengan Allah sebagai Bapa. Umat percaya akan dibebaskan dari situasi perhambaan, dan dipulihkan dalam relasi kasih Allah yang membebaskan. Pemahaman misteri Allah Trinitas memiliki tujuan utama yaitu agar setiap umat hidup dalam pengudusan Allah.

Refleksi

Ulasan refleksi dapat diawali dengan mengajukan pertanyaan kepada umat, yaitu: “sifat Allah apakah yang berulang-ulang dipersaksikan oleh Injil Yohanes?” Sifat Allah yang berulang-ulang dipersaksikan oleh Injil Yohanes adalah Allah yang mengasihi umat-Nya, misalnya “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini” (Yoh. 3:16). Di Surat 1 Yohanes 4:8 menyatakan: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” Sifat Allah yang utama adalah kasih. Suatu tindakan disebut “kasih” jikalau kasih tersebut terarah keluar dari dirinya sendiri kepada yang sama atau setara. Jikalau demikian kepada siapakah kasih Allah ditujukan sejak kekal? Jawabnya adalah sejak kekal Allah mengasihi “yang lain” dalam diri-Nya. Ini mengandaikan Allah pada diri-Nya bersifat plural. Iman Kristen menegaskan Allah yang esa menyatakan diri-Nya sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus. Jadi Allah adalah kasih untuk menyatakan Bapa mengasihi Anak dan Roh Kudus, Anak mengasihi Bapa dan Roh Kudus, dan Roh Kudus mengasihi Bapa dan Anak. Hubungan kasih Allah sejak kekal dengan keintiman yang tiada-taranya itu disebut relasi ad-interna, yaitu relasi kasih Allah di dalam diri-Nya.

Relasi Bapa-Anak-Roh Kudus dengan kasih yang tiada taranya tersebut sesuai dengan anugerah dan rencana agung-Nya diperluas dengan melibatkan umat manusia dan seluruh ciptaan. Allah sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus berkarya dalam sejarah dan kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Karya Allah Trinitas dalam sejarah dan kehidupan manusia disebut dengan karya ekonomi Allah. Melalui inkarnasi Yesus Kristus, Allah menyatakan karya keselamatan-Nya yang paripurna. Melalui penderitaan-wafat-kebangkitan Kristus, Allah menebus umat manusia dari kuasa dosa. Teologi Injil Yohanes menegaskan bahwa peristiwa salib bukanlah suatu tragedi atau kisah yang memalukan. Sebaliknya menurut Injil Yohanes, peristiwa salib merupakan peristiwa peninggian Kristus selaku Anak Domba yang menebus dosa dunia (bdk. Yoh. 1:29). Karena itu peristiwa salib di bukit Golgota dianalogikan dengan peristiwa Musa meninggikan ular tembaga di padang gurun. Barangsiapa yang memandang ular tembaga yang ditinggikan Musa tersebut, dia akan sembuh (Bil. 21:9), demikian pula umat yang percaya kepada penebusan Kristus di kayu salib akan memeroleh hidup yang kekal. Dalam hal ini karya penebusan Kristus bertujuan untuk melibatkan umat manusia dalam misteri kasih Allah, sebab kasih Allah senantiasa tertuju keluar dan merangkul ke dalam umat dalam rangkulan kasih-Nya. Inilah dimensi kasih Allah yang bersifat keluar, sehingga disebut “ad-externa.”

Kepada umat dapat dikemukakan bahwa untuk terlibat dalam kasih Allah yang keluar (ad-externa) umat perlu membuka diri untuk senantiasa diperbarui oleh karya Roh Kudus. Tanpa karya Roh Kudus, umat tidak akan mampu mengalami kelahiran baru walau mereka memiliki pengetahuan yang banyak tentang Alkitab. Pemahaman teologis umat yang kaya dan luas juga tidak menjamin merekat untuk hidup berkenan di hadapan Allah. Setiap umat membutuhkan penyataan Allah yang membarui dan menguduskan agar tidak hidup seperti Raja Uzia. Semula Raja Uzia senantiasa hidup mencari Allah. Namun setelah ia menjadi kuat, Raja Uzia menjadi sombong dan berpaling meninggalkan Allah. Raja Uzia akhirnya meninggal dalam kepahitan, penderitaan, sakit kusta, dan dalam pengasingan. Tidak seorangpun di antara kita yang kebal dari dosa walau kita telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru-selamat. Untuk itu kita membutuhkan kehadiran dan karya Roh Kudus yang senantiasa membarui batin dan pikiran kita. Pada bagian ini, pengkhotbah dapat menyampaikan kepada umat bahwa segala dosa diawali dari pikiran. Pikiran kita perlu dikuduskan oleh Kristus dan diterangi oleh Roh Kudus.

Di bagian akhir, pengkhotbah dapat menguraikan tentang perlunya pikiran setiap umat dikuduskan oleh Kristus dan diterangi Roh Kudus. Pikiran yang dikuduskan Kristus dan diterangi oleh Roh Kudus akan memampukan umat untuk memahami isi hati Allah dalam mempraktikkan kasih kepada sesama yang berbeda. Relasi kita dengan sesama yang berbeda dalam ras, etnis, suku, agama, dan ideologi harus berlandaskan pada model relasi kasih Allah sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus. Untuk itu setiap kita dipanggil dan berjuang untuk menolak segala bentuk sikap diskriminasi, kekerasan dalam berbagai bentuk, pornografi dan tindakan perzinahan, memutarbalikkan keadilan, kemunafikan, dusta dan penipuan, dan sebagainya. Dengan demikian pengudusan memiliki makna yang luas dan komprehensif, sebab menyangkut tindakan kasih yang tidak memandang muka, keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Tujuan akhir dari pengenalan Allah Trinitas adalah pengudusan, sehingga setiap umat mampu memuji Allah bersama dengan para Serafim, yaitu: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya” (Yes. 6:3). Karena itulah Rasul Paulus menasihati umat untuk tidak hidup menurut keinginan daging. Hanya umat yang hidup menurut keinginan Roh yang dapat menjalin relasi Allah sebagai Bapa, yaitu: “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Rm. 8:15).

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply