Latest Article

Ulasan Wahyu 19:1-10

Pengantar

Pada saat umat sedang mengalami aniaya dari para musuh, umat berseru dan berdoa kepada Allah untuk menolong dan menyelamatkan mereka. Umat terpanggil tidak membalas dendam namun menyerahkan kepada keadilan Allah, sebab pembalasan adalah hak Allah (Rm. 12:19). Pada saat yang telah ditentukan, Allah akan menyatakan keadilan-Nya. Ia bertindak menghukum para pelaku kejahatan dan melepaskan umat percaya yang tertindas. Kesaksian Wahyu 19 merupakan puncak kemenangan Allah atas para musuh-Nya. Karena itu umat menaikkan pujian atas karya kemuliaan dan kemenangan Allah tersebut. Prinsip teologis tersebut seharusnya menjadi landasan etis bagi setiap umat dalam menyingkapi makna kemenangan Allah. Umat tidak memilih sikap etis yang mengolok-olok para musuh dengan nyanyian kemenangan. Apabila umat mengolok-olok musuh yang telah dikalahkan oleh Allah, maka secara spiritualitas umat sebenarnya dijiwai oleh hati pendendam dan masih sarat dengan kebencian. Dengan tingkat spiritualitas tersebut umat tidak layak untuk menerima keselamatan yang paripurna dari Allah. Umat juga tidak layak menjadi mempelai wanita untuk menyambut Kristus, Sang Mempelai Pria. Mereka seumpama para mempelai wanita yang ditolak oleh Kristus sebab tidak membawa minyak dalam buli-buli mereka (Mat. 25:1-13). Karena itu gereja dipanggil oleh Allah untuk menjadi para mempelai wanita yang layak dalam menyambut Kristus, Sang Mempelai Pria.

Umat akan layak menjadi para mempelai Kristus apabila hidup mereka senantiasa fokus hanya kepada Allah. Kehidupan umat senantiasa ditandai oleh pujian yang lahir dari sikap iman, kasih dan pengharapan kepada Allah. Inilah makna doksologi umat! Umat mempermuliakan Allah dalam segenap hidupnya. Puji-pujian umat sebagai manifestasi iman yang tidak gentar menghadapi penderitaan dan kematian, sekaligus mempermuliakan kemenangan Allah dengan keadilan-Nya.

Tafsiran

Kesaksian Wahyu 19:1-10 merupakan puncak pujian para mahluk sorgawi setelah kekuasaan “Babel” dikalahkan dan dihakimi Allah pada Wahyu 18:1-24. Pujian para mahluk sorgawi telah diawali pada Wahyu 4:8, yaitu: “Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.” Lalu di antara pujian para mahluk sorgawi di Wahyu 4:8 dengan Wahyu 19:1-8 terdapat pujian para mahluk sorgawi di Wahyu 7:10, Wahyu 11:15-18 dan Wahyu 15:3.

 

Pembuka Pujian Umat Pujian 24 Tua-tua Pujian orang-orang yang menang Penghakiman

Atas Babel

Penutup
Wahyu 14:8 Wahyu 7:10 Wahyu 11:15-18 Wahyu 15:3 Wahyu 18:1-24 Wahyu 19:1-8

Bagian Penutup di Wahyu 19:1-8 merupakan respons ucapan syukur atas tindakan Allah yang menyatakan keadilan-Nya kepada kuasa Babel, sehingga kuasa Babel yang melambangkan kuasa kejahatan dan penyesatan tidak ada lagi. Selama ini mereka melakukan kejahatan dengan membunuh para nabi, orang-orang kudus, dan darah semua orang ditumpahkan (Why. 18:24). Wahyu 18 menyatakan bahwa kekalahan kuasa Babel bersifat final, sehingga tidak ada lagi suara para pemain kecapi, seruling, dan sangkakala (Why. 18:22) dan tidak ada lagi cahaya lampu yang menyinari kehidupan kota Babel dan lenyapnya mempelai laki-laki serta perempuan (Why. 18:23). Kondisi binasa dinyatakan dalam Wahyu 18:19, yaitu: “Dan mereka menghamburkan debu ke atas kepala mereka dan berseru, sambil menangis dan meratap, katanya: Celaka, celaka, kota besar, yang olehnya semua orang, yang mempunyai kapal di laut, telah menjadi kaya oleh barangnya yang mahal, sebab dalam satu jam saja ia sudah binasa.”

Dengan penghakiman final tersebut, maka Allah telah menghadirkan pemerintahan-Nya yang paripurna. Di Wahyu 19:1-2 isi pujian dari para mahluk sorgawi adalah keselamatan, kemulian dan kekuasaan Allah yang dihadirkan dalam penghakiman-Nya yang adil dan kudus. Dengan demikian isi pujian dari para mahluk sorgawi adalah suatu doksologi kepada Allah, dan bukan nyanyian ejekan atau cemoohan kepada kuasa Babel. Sebagai suatu doksologi maka isi pujian yang dinyanyikan merupakan ungkapan iman yang mempermuliakan Allah. Karena itu kurang tepat judul dari Lembaga Alkitab Indonesia untuk perikop Wahyu 19 adalah: “Nyanyian atas jatuhnya Babel.” Lebih tepat Wahyu 19 diberi judul: “Pujian Kemuliaan atas Kemenangan Allah.” Penekanan pada tema nyanyian atas jatuhnya Babel dengan nada mencemooh bukanlah sikap iman. Sebab sikap iman bukan untuk memperolok-olok musuh yang kalah, sebaliknya sikap iman senantiasa memuji kemuliaan dan kemenangan Allah atas kuasa yang jahat. Dengan demikian sikap iman senantiasa berfokus kepada Allah, dan bukan kepada kekalahan musuh. Fokus kepada kekalahan musuh menghasilkan kebencian, balas-dendam yang terpuaskan, dan lenyapnya kasih untuk mengampuni. Sebaliknya fokus kepada pujian atas kemuliaan dan kemenangan Allah menghasilkan spiritualitas kerendahan hati, iman yang meninggikan Allah, dan melayani-Nya. Itu sebabnya di Wahyu 19:5 para mahluk sorgawi menyanyikan: “Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu: “Pujilah Allah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar!”

Doksologi kepada Allah yang mengundang setiap umat manusia baik kecil maupun besar bertujuan agar mereka takut kepada-Nya. Konteks yang melatarbelakangi adalah penguasa kerajaan Babel yang merupakan simbol kuasa kegelapan bertindak menganiaya dan membunuh umat Allah baik mereka yang kecil maupun yang besar. Dalam situasi yang mengancam tersebut kepada siapakah umat percaya takut, apakah takut kepada Allah ataukah takut kepada manusia? Di Matius 10:28, Tuhan Yesus berkata: “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Nyanyian Doksologi merupakan penegasan iman bahwa umat tidak takut menghadapi penganiayaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh para penguasa terhadap diri mereka. Umat lebih takut kepada Allah yang berkuasa untuk membinasakan jiwa dan tubuh di dalam neraka.

Puncak doksologi kepada Allah dinarasikan dalam Wahyu 19:6-8, yaitu dalam peristiwa perjamuan kawin Anak Domba Allah. Narasi perjamuan kawin Anak Domba Allah berulangkali dipakai oleh Yesus untuk menjelaskan kedatangan Kerajaan Allah (Mat. 9:15; Mark. 2:19, 20; Luk. 3:34; Yoh. 3:29). Di Matius 25:1-13 mengisahkan tentang sepuluh gadis yang menjadi mempelai wanita menyongsong kedatangan mempelai pria. Namun hanya lima gadis yang siap menjadi mempelai wanita untuk menyambut kedatangan mempelai pria. Makna mempelai pria adalah penggambaran tentang Kristus, sedang mempelai wanita adalah penggambaran tentang gereja-Nya. Dengan demikian puncak doksologi umat kepada Allah akan terjadi pada akhir zaman, yaitu umat bersekutu dengan Kristus, Sang Mempelai Pria. Doksologi kepada Allah berpuncak pada relasi kasih yang intim antara Kristus dengan jemaat-Nya.

Relasi kasih yang intim antara Kristus dengan jemaat-Nya di Wahyu 19:6-8 bertolak-belakang antara relasi Babel sebagai Pelacur besar dengan para raja di bumi (Why. 17:1-6). Hubungan Pelacur Besar dengan para raja bumi didasari oleh hawa-nafsu, percabulan, perzinahan dan hujat (Why. 17:1-3). Selain itu Pelacur Besar tersebut mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus (Why. 17:6). Sebaliknya relasi kasih yang intim antara Kristus dengan jemaat-Nya adalah relasi suami-istri untuk menggambarkan kekudusan, kesetiaan, dan relasi kasih yang tidak terputuskan. Karena itu dalam hubungan kasih yang intim antara Kristus dengan jemaat-Nya, mempelai wanita yaitu gereja tidak akan menjalin relasi kasih dengan pihak lain. Jalinan kasih yang demikian adalah perselingkuhan rohani. Di Wahyu 19:10 menyatakan bahwa penulis Kitab Wahyu dengan kata “aku” tersungkur menyembah di depan kaki malaikat, tetapi jawab malaikat itu kepadanya:

“Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.” Umat percaya dipanggil untuk menyembah Allah di dalam Kristus dan Roh Kudus, bukan kuasa yang lain. Untuk itu umat mampu mengambil sikap tegas agar tidak memberhalakan sesuatu atau mengidolakan seseorang sehingga merebut hak kemuliaan Allah. Berhala dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk: hubungan kasih antara pria dan wanita, orang-tua, anak-anak, anggota keluarga, teman, hobi, materi, peralatan teknologi, alat-alat telekomunikasi, kekuasaan, kenikmatan, adat-istiadat, budaya, ideologi, dan sebagainya.

Pertanyaan

  1. Apakah faktor yang melatarbelakangi pujian atau doksologi umat dalam Wahyu 19:1-10? Lihat konteks dalam Wahyu 18.
  2. Apa makna puji-pujian umat dalam Wahyu 19 sebagai doksologi yang mempermuliakan Allah ataukah nyanyian syukur atas para musuh yang dikalahkan?
  3. Siapakah yang dimaksudkan dengan Pelacur Besar, yaitu Babel? Apakah pada masa kini kuasa Babel juga hadir? Berikan beberapa contoh.
  4. Apa arti takut kepada Allah dalam Wahyu 19:5? Bandingkan dengan Matius 10:28.
  5. Apa perbedaan makna dalam relasi kasih antara Kristus dengan jemaat-Nya (Why. 19) dengan relasi kasih antara Pelacur Besar dengan para raja di bumi?
  6. Bagaimanakah kita selaku gereja-Nya dapat layak menyambut kedatangan Kristus, Sang Mempelai Pria.
  7. Apa arti Wahyu 19:10 tentang teguran malaikat agar Rasul Yohanes tidak menyembah dia? Bagaimanakah dengan situasi yang terjadi dengan orang-orang yang menyembah kuasa-kuasa alam, tokoh-tokoh yang dianggap suci dan sakti dalam kehidupan masyarakat, materi dan kuasa serta kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply