Latest Article

Memahami Kristus melalui Sang Naga: Kontekstualisasi Injil di Tengah-tengah Budaya Cina-Indonesia

 

Abstrak:

Bagi orang Cina, simbol “Lung” atau Naga merupakan representasi dari jati-diri mereka. Naga dipahami sebagai yang ilahi untuk membawa kelimpahan, kemakmuran, dan berkat. Melalui spirit Naga, orang-orang Cina dimampukan mengatasi setiap halangan dan kesukaran untuk mencapai kesuksesan. Sebaliknya dalam pemahaman umat Israel, Naga dipahami sebagai representasi dari Iblis dan simbol dari kuasa kegelapan. Melalui paper ini kelompok akan memaparkan makna Naga bagi orang Cina dan makna Naga menurut Alkitab. Melalui pemaparan ini kelompok akan memperlihatkan bahwa Naga di dalam budaya Cina akan menjadi jalan bagi memperkenalkan Kristus dan tidak akan bertentangan sama sekali dengan pemahaman Alkitab tentang Naga.

 Naga sebagai Simbol Jati-diri dan Penyelamat

Orang-orang Cina di seluruh dunia pada umumnya menghayati jati-diri mereka sebagai (baca: “Lung Ti Chuan Ren”)[1] yang artinya: keturunan sang naga. Naga atau yang disebut dengan “Lung” melambangkan kekuasaan, keunggulan, keberanian, kepahlawanan, ketekunan, kebangsawanan, dan keilahian. Sosok naga dihayati sebagai suatu spirit dalam mengatasi setiap hambatan untuk meraih kesuksesan, hidup yang makmur dan berlimpah. Dengan spirit “Lung”, orang-orang Cina terdorong untuk hidup secara energik, tegas, optimis, cerdas dan ambisius. Latarbelakang keyakinan dan kepercayaan orang-orang Cina kepada “Lung” adalah karena “Lung” atau Naga dipahami sebagai esensi kehidupan yang membawa nafas surgawi. Orang-orang Cina menyebut “nafas surgawi” dengan istilah “Sheng Chi”.Sheng Chi atau yang disebut dengan “Feng Shui” merupakan suatu energi yang menghasilkan manfaat bagi kesehatan, pancaran hidup yang cerah dan kesejahteraan. Nafas sang Naga yang membawa “Sheng Chi” tersebut bagi alam terwujud dalam bentuk musim, mendatangkan air dari hujan, kesejukan dari angin, kehangatan dari sinar matahari di tanah, laut, dan udara (Yang, Lihui and Deming An 2005, 100-109).

Simbol naga merupakan representasi utama dari kekuatan alam sekaligus sebagai kekuatan ilahi yang termanifestasikan dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, bagi orang-orang Cina, Naga dipandang sebagai simbol perlindungan ilahi. Naga adalah pribadi yang utama di antara seluruh mahluk. Kehadirannya tidak terbatas di suatu wilayah tertentu. Naga dapat hidup di laut, terbang di langit, dan di darat. Ia berperan untuk menjaga, melindungi, dan memelihara kehidupan manusia. Kekuatan sang Naga mampu menangkal roh jahat yang berkeliaran dan mengganggu manusia. Selain itu Naga dipandang sebagai sosok yang bijaksana, melindungi orang yang tidak bersalah, dan mengaruniakan keselamatan kepada semua orang (Birrell, Anne 1993, 232).

Begitu dalam penghayatan orang-orang Cina terhadap peran sang Naga, sehingga Naga tidak dapat dilepaskan dari pemerintahan politis para kaisar. Kaisar-kaisar Cina dipandang sebagai representasi dari sang Naga. Seluruh kehidupan kaisar senantiasa dijiwai oleh sang Naga. Singgasana sang kaisar disebut dengan “takhta Naga”. Langkah kaki kaisar yang berjalan disebut sebagai langkah Naga. Wajah kaisar disebut dengan wajah Naga. Kata-kata yang diucapkan oleh sang kaisar disebut sebagai mutiara-mutiara Naga. Apabila kaisar wafat maka ia akan disebut naik ke surga dengan menunggangi Naga. Pengaruh kepercayaan kepada sang Naga juga terlihat dalam siklus kalender Cina yang setiap dua belas tahun terkait dengan tahun Naga. Contoh siklus tahun Naga dalam kalender Cina, yaitu:

1904 – Naga kayu
1916 – Naga api
1928 – Naga bumi
1940 – Naga besi
1952 – Naga air
1964 – Naga kayu
1976 – Naga api
1988 – Naga bumi
2000 – Naga besi
2012 – Naga air

Pengaruh Naga juga terlihat dalam zodiak bulan kelahiran orang-orang Cina. Seorang anak yang lahir pada tahun naga dipercaya memiliki karakter yang istimewa misalnya berwibawa, kepribadian yang agung, pandai dan berkharisma. Setiap zodiak bulan kelahiran orang-orang Cina disebut “shio”. Setiap “shio” memiliki karakter yang khusus dan berbeda-beda. Nama-nama “shio” dilambangkan dengan nama hewan, yaitu: tikus, kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, kera, ayam, anjing, dan babi. Karena itu setiap orang-orang Cina memiliki “shio” yaitu zodiak bulan kelahiran, misalnya: shio Tikus, shio Kerbau, shio Harimau, shio Kelinci, shi Naga, dan sebagainya[2]. Dengan demikian tiap-tiap “shio” mencerminkan watak, nasib, dan keberuntungan bagi yang memilikinya. Nama-nama hewan untuk menunjuk “shio” tersebut umumnya adalah hewan-hewan yang real, tetapi hanya binatang kelima yaitu Naga bukan hewan yang sehari-hari dapat dilihat dan dijumpai. Ini menunjukkan penghormatan orang-orang Cina yang begitu tinggi terhadap sosok sang Naga.

Akan tetapi mungkin timbul pertanyaan, mengapa “Lung” atau Naga yang dipandang sebagai sosok yang mulia dan ilahi tersebut hanya berada di posisi yang kelima dalam zodiak Cina? Posisi shio yang pertama adalah tikus, kedua adalah kerbau, ketiga adalah harimau, keempat adalah kelinci, dan yang kelima adalah naga, dan sebagainya. Nama-nama hewan dalam shio tersebut dijelaskan dalam mitologi tentang kisah kaisar langit (Shang-ti) yang mengadakan perlombaan kepada para hewan. Perlombaan dari kaisar langit tersebut bertujuan untuk menentukan siapa yang paling cepat datang dan melapor kepadanya. Kepada dua belas hewan yang paling cepat dan cerdas akan dimasukkan ke dalam zodiak kalender Cina. Tikus yang tidak pandai berenang, tetapi ternyata sangat cerdas. Ia menunggangi sapi sehingga sampai lebih dahulu kepada kaisar Cina. Mengapa bukan Naga? Naga mampu datang lebih awal dengan terbang ke langit tetapi ternyata ia datang terlambat. Keterlambatan naga disebabkan karena ia harus berhenti di tengah jalan dan membuat hujan untuk membantu semua orang dan mahluk di bumi. Naga menahan ambisinya untuk menjadi yang nomor satu. Saat naga mendekati garis finish, ia melihat kelinci yang tidak berdaya menempel di balok kayu. Karena itu naga membantu kelinci dengan memberikan hembusan dari nafasnya berupa angin yang mendorong balok kayu tersebut agar dapat mendarat di darat. Itu sebabnya naga datang terlambat karena memilih untuk memberi pertolongan lebih dahulu. Melalui kisah tersebut tampak bahwa sang Naga dalam pemahaman orang Cina memiliki karakter yang mulia, murah hati, suka menolong manusia yang lemah dan tidak berdaya. Naga bersedia mengorbankan dirinya untuk tidak menjadi mahluk yang nomor satu asalkan kehadirannya membawa kesejahteraan dan keselamatan bagi banyak orang. Karena itu doa orang-tua Cina pada umumnya adalah: “wàng zǐ chéng long” (望子成龍), artinya: “semoga anak-anak mereka dapat seperti naga”.

 Naga Menurut Alkitab

Naga dalam Alkitab adalah “tannin” (Ibrani), atau “drakon” (Yunani). Kata “tannin” diterjemahkan dengan ular. Konteks kata “tannin” dalam Keluaran 7:9-12 adalah perintah Allah kepada Musa dan Harun menghadap Firaun untuk menyatakan kuasa Allah dengan melemparkan tongkat Harun. Ketika tongkat Harun dilemparkan maka segera berubah menjadi ular. Kata “tannin” digunakan dalam hubungannya dengan racun ular di Ulangan 32:33.LAI menterjemahkan “tannin” di Mazmur 91:13 dengan “ular naga”. Binatang-binatang laut yang besar dalam teks Ibrani, Kejadian 1:21, menunjuk kepada ular raksasa. Lalu, dalam Mazmur 74:13-14, kata “tannin” menunjuk kepada ular raksasa atau ular naga: “Engkaulah yang membelah laut dengan kekuatan-Mu, yang memecahkan kepala ular-ular naga di atas muka air. Engkaulah yang meremukkan kepala-kepala Lewiatan, yang memberikannya menjadi makanan penghuni-penghuni padang belantara”. Ular raksasa tersebut dikaitkan dengan mahluk yang bernama “Lewiatan”(לויתן). Dalam pemahaman mitologi umat Israel, Lewiatan adalah seekor binatang laut yang sangat besar. Lewiatan sebagai representasi dari semua kekuatan bencana, karena itu Yahweh yang mengalahkan dengan menghancurkan kepala Lewiatan. Ayub 3:8 menunjuk kepada seekor naga di langit yang menelan matahari dan bulan.

Kitab Wahyu 12:3 mempersaksikan kehadiran seekor naga merah padam raksasa, yaitu: “Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota”. Mahluk seekor naga merah padam yang besar (δράκων μέγας πυρρός) dengan kepala tujuh, bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota tersebut terbang di langit. Lalu di Wahyu 12:4 menyatakan: “Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya”. Identitas sang naga merah padam raksasa tersebut dijelaskan oleh penulis kitab Wahyu, yaitu: “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya(Why. 12:9).

Dengan demikian gambaran naga merah padam raksasa tersebut jelas menunjuk kepada sang Iblis. Dia memiliki kuasa demonik terhadap kekuatan alam di angkasa dan menyesatkan seluruh dunia. Tujuh mahkota di atas kepala naga merah padam raksasa tersebut untuk menunjuk kekuasaan dan kemuliaannya (bdk.Ams.12:4; Rat. 5:16; 1 Petr. 5:4), tetapi didasari oleh suatu kesombongan. Warna merah di tubuhnya menunjuk kepada sifatnya untuk membinasakan. Jumlah tujuh kepala untuk menunjuk kekuasaan yang universal dan lengkap. Sedang sepuluh tanduk di atas kepalanya untuk menunjuk kemampuannya yang luar-biasa dan mempesona (Mounce, Robert H. 1980, 237). Dengan demikian gambaran naga merah padam dalam kitab Wahyu bersifat demonik. Ia merepresentasikan Iblis dengan segala kuasanya.

Naga merah padam raksasa di Wahyu 12:4 berupaya memburu seorang wanita yang akan melahirkan dan menelan anaknya. Apabila kita memperhatikan Wahyu 12:5, maka kita menjumpai bahwa anak tersebut akan menggembalakan semua bangsa: “Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi”.   Gambaran tersebut menunjuk kepada diri Kristus, dan wanita yang diburu oleh sang naga merah padam tersebut menunjuk kepada Maria. Dalam konteks ini Wahyu pasal 12 mempersaksikan Kristus versus sang Naga. Atau: “Kristus versus sang Iblis”. Tetapi menurut J. Massyingberde Ford, gambaran wanita dalam kitab Wahyu tersebut bisa bersifat individual, tetapi juga bersifat kolektif (Ford, J. Massyingberde, 195). Dalam pengertian kolektif, gambaran wanita tersebut menunjuk kepada Yerusalem dan Israel (bdk. Yes. 54:1, 5, 6; Yer.3:20; Yeh.16:8-14, Hos. 2:19-20) yang adalah seorang ibu (Yes. 49:21; 50:1; 66:7-11; Hos. 4:5), dan yang berjuang mati-matian dalam melahirkan (Mikh. 4:9-10; Yes. 26:16-18; Yer. 4:31, 13:21).

Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Robert H. Mounce, bahwa gambaran wanita dalam kitab Wahyu pasal 12 tersebut bukanlah tokoh Maria, tetapi menunjuk kepada “komunitas mesianik” yaitu Israel sejati (Mounce 1980, 236). Dengan demikian gambaran kitab Wahyu bukan hanya sang Naga versus dengan Kristus, tetapi juga “Iblis versus umat percaya”. Iblis yang disimbolkan dengan sang naga tersebut memiliki para agen yang menjadi kaki-tangannnya. Di Wahyu 13:1 agen Iblis tersebut keluar dari laut, yaitu: “seekor binatang keluar dari dalam laut, bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh; di atas tanduk-tanduknya terdapat sepuluh mahkota dan pada kepalanya tertulis nama-nama hujat.” Selain itu agen Iblis juga keluar dari dalam bumi, yaitu: “binatang lain keluar dari dalam bumi dan bertanduk dua sama seperti anak domba dan ia berbicara seperti seekor naga” (Why. 13:11).

Kristus versus sang “Naga”

Pandangan Alkitab tentang gambaran dan simbol Naga sangatlah negatif. Naga dianggap sebagai representasi dari sang Iblis, padahal orang Cina memiliki pandangan yang sebaliknya. Naga bagi orang Cina adalah representasi dari yang ilahi, lambang pemeliharaan yang ilahi, penghadir keselamatan, dan yang mengaruniakan nafas surgawi, yaitu “Sheng Chi”. Sheng Chi atau yang disebut dengan “Feng Shui”. Latar-belakang makna dan pengertian “naga” yang disebut dengan Lewiatan dijelaskan oleh “the Jewish Study Bible” sebagai berikut: “Leviathan, the forces of chaos represented as sea-monster in the myths from Ugarit” (the Jewish Study Bible, 1364). Mitologi tersebut bersumber dari kebudayaan Kanaan (the Jewish Study Bible 1999, 835). Dengan demikian konsep naga atau Lewiatan yang dipahami oleh umat Israel tidaklah sama dengan konsep naga dalam budaya dan kepercayaan orang Cina.

Nama dan bentuk “naga” dari budaya Kanaan dan Cina memiliki kemiripan, tetapi memiliki esensi dan karakter yang berbeda. Oleh karena itu, tidaklah tepat bila konsep naga menurut pandangan Alkitab yang dipengaruhi oleh budaya Kanaan digunakan untuk memahami konsep naga dalam pemahaman budaya orang Cina. Demikian pula sebaliknya, tidaklah tepat jika konsep naga orang Cina dipakai untuk memahami konsep naga menurut budaya Kanaan. Upaya kontekstualisasi di kalangan orang Cina akan terwujud apabila kita menghargai konsep tentang naga menurut budaya dan kepercayaan mereka. Naga orang Cina tidak boleh kita identikkan dengan Iblis. Sebaliknya, naga orang Cina dapat digunakan sebagai analogi atau pintu masuk untuk menjelaskan inkarnasi Kristus. Sebagaimana naga orang Cina yang melambangkan hikmat, pemeliharaan ilahi, sosok yang rendah-hati, dan penyelamat manusia – demikian pula sosok Kristus. Dalam inkarnasi Kristus, Allah menghadirkan hikmat-Nya, pemeliharaan-Nya, sosok yang rendah-hati dan pemurah, serta penyelamat manusia. Kristus bukanlah lawan sang Naga orang Cina.

Apabila makna wanita yang diburu oleh sang naga dalam kitab Wahyu menunjuk kepada komunitas umat percaya, maka dalam perspektif kontekstual orang Cina, Wahyu 12:4 dapat dipakai menunjuk kepada (baca: “Lung Ti Chuan Ren”) yaitu: keturunan sang naga. Makna keturunan sang naga adalah orang Cina yang telah percaya dan mengikut Kristus. Mereka sering diburu, dimusuhi, dan dianiaya oleh kuasa kegelapan karena sikap imannya kepada Kristus. Kondisi ini bukan sekedar suatu pengandaian, tetapi suatu pengalaman sejarah khususnya saat orang-orang Kristen Cinahidup pada era “Revolusi Budaya” (1966-1969) di bawah diktator Komunis Cina Mao Tse Tung. Lebih jauh lagi Richard Wurmbrand dalam bukunya yang berjudul “If That Were Christ, Would You Give Him Your Blanket?” mengisahkan bagaimana orang-orang Cina Kristen yang dianiaya dan dibunuh secara kejam (Wurmbrand, Richard 1970, 8-9). Penderitaan umat Kristen tidak berakhir dengan kematian Mao Tse Tung. Walaupun frekuensinya telah berkurang banyak, tetapi umat Kristen Cina tetap dianiaya sampai hari ini. Namun sangat mengherankan pertumbuhan umat Kristen di Cina saat ini begitu pesat.[3]

Pada pihak lain perlu disadari bahwa identitas orang Cina bukan hanya di RRC, tetapi tersebar ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Orang Cina di Indonesia terdiri dari Cina-totok dan Cina-peranakan.[4] Secara umum mereka tetap mewarisi budaya Cina khususnya dalam menghayati jati-diri sebagai “keturunan sang naga”. Itu sebabnya simbol naga mendominasi kehidupan orang Cina, misalnya: motif naga di pakaian, desain bangunan rumah, bentuk perkakas, jenis tari-tarian (barongsay), nyanyian, kepercayaan, doa, harapan, dan adat-istiadat sehari-hari. Naga bukan sekedar simbol dan identitas orang Cina, tetapi juga sebagai spirit dalam menghadapi kesulitan, tantangan, dan tekanan dalam kehidupan ini.

Kontekstualisasi Kristus sang Naga

Kontekstualisasi Kristus di tengah-tengah etnis dan budaya Cina tidak terlepas dari kepercayaan orang Cina yang terangkum dalam ungkapan “Han San Wei Yi” atau dapat disebut: “Sam Kauw It Kauw” yaitu tiga agama yang hakikatnya satu. Perpaduan tiga agama tersebut adalah: agama Khong Hu Cu, agama Tao, dan agama Budha. Ketiga agama tersebut saling berhubungan, saling mempengaruhi, saling memberi, dan saling menerima.Oleh karena itu tidak terelakkan manakalaketiga agama tersebut kadang-kadang cenderung sinkretis dan saling memengaruhi. Misalnya kecenderungan sikap sinkretis tersebut juga dipraktekkan oleh orang-orang Cina di Indonesia dengan penekanan kepada: moralitas (kesusilaan), ketertiban atau keteraturan, materialistis, sikap hormat yang menjunjung orang-tua (konsep “hau”), dan pemujaan kepada nenek-moyang serta berbagai dewa. Orang Cina kurang peduli dengan Allah yang dianggap abstrak dan jauh.Oleh karena pengaruh agama Tao, orang Cina menghayati “Allah” sebagai bagian dari alam untuk melengkapi berbagai kebutuhan manusia. Orang Cina lebih cenderung menghayati suatu agama agar dapat menjadi manusia yang baik (chun-tse). Jadi pusat perhatian utama orang Cina bukanlah Allah, tetapi manusia. Mereka beribadah dan beragama pada prinsipnya dilakukan agar dapat memperoleh berkat-berkat duniawi. Spirit “Lung” atau naga adalah agar mereka memiliki kekuatan dan ketangguhan dalam menghadapi rintangan dan kesulitan, sehingga mereka dapat hidup sejahtera dan makmur secara ekonomis.

Tujuan memberitakan Kristus dengan berpijak pada “Lung” atau naga bukanlah untuk memperkuat orientasi hidup orang Cina yang terarah kepada materialisme dan kepentingan duniawi. Sebaliknya memberitakan Kristus melalui “Lung” atau naga bertujuan menolong orang Cina untuk mengenal diri Allah secara pribadi dalam inkarnasi Kristus. Pengenalan diri kepada pribadi Allah tersebut diharapkan dapat memampukan orang Cina untuk mempercayai “Allah” bukan sekedar kuasa ilahi untuk melengkapi berbagai kebutuhan duniawi. Akan tetapi melalui analogi sang Naga, sangat diharapkan agar mereka sungguh-sungguh bertemu dengan Kristus dan menyembah dan memuliakan Allah selaku Pencipta dan Penyelamat. Dengan kontekstualisasi tersebut, orang Cina tidak lagi menjadikan manusia sebagai pusat kehidupan. Seharusnya Allah yang menjadi pusat kehidupan manusia yang sesungguhnya. Kontekstualisasi tersebut juga akan menyingkirkan kecenderungan orang Cina untuk melakukan sikap yang sinkretis. Iman kepada Kristus akan memampukan mereka berjumpa dengan Allah yang esa. Dengan demikian, kontekstualisasi Kristus dalam kehidupan orang Cina akan menyingkirkan setiap bentuk kepercayaan yang sifatnya takhayul dan sinkretis.

Dari uraian di atas kita dapat melihat bahwa kontekstualisasi Kristus di tengah-tengah budaya Cina dengan spirit sang Naga adalah agar melalui karya penebusan Kristus, orang Cina di seluruh penjuru dunia khususnya Indonesia adalah: pertama, diresapi oleh nilai-nilai Injil yang membebaskan dari kepercayaan takhayul dan sinkretis. Kedua, orientasi hidup tertuju kepada Allah, dan bukan kepada manusia. Ketiga, mereka mengalami perjumpaan yang personal dengan Allah yang hidup. Keempat, melalui iman kepada Kristus, kepercayaan kepada “Lung” diisi dengan kepercayaan yang benar sesuai dengan pengajaran Alkitab.Kelima, makna kesejahteraan dan kemakmuran tidak bersifat ekonomis atau materialistik belaka tetapi bersifat holistik yaitu anugerah keselamatan yang menyeluruh.

Menembus Rintangan Kontekstualisasi

Kontekstualisasi Injil dengan menggunakan Naga untuk memberikan penjelasan awal akan siapa Kristus itu membutuhkan pemahaman budaya yang tepat. Apabila pemahaman budaya tentang Cina diabaikan, maka yang terjadi adalah suatu penolakan dan sikap curiga. Bagi orang Cina, keluarga merupakan tempat yang istimewa, terhormat, dan otoritatif. Khususnya peran orang-tua dalam kehidupan keluarga. Ajaran Khong Hu Cu tentang peran orang-tua dan sikap anak begitu meresap dalam kehidupan orang Cina. Seorang anak diperintahkan untuk “u-hau” yang artinya: berbakti dan mengandung makna “mengagungkan” (memuliakan) orang-tua. Karena itu anak yang disebut dengan “put-hao” bukan sekedar berarti anak yang tidak berbakti, tetapi mengandung di dalam kata itu suatu ungkapan “anak durhaka” (Lan, Nio Joe 1961, 97). Dengan demikian, pola pendekatan kontekstualisasi Injil akan efektif apabila orang-tua Cina terlebih dahulu mengenal Kristus melalui sang Naga. Apabila orang-tua Cina telah mengenal Kristus, maka dengan mudah anak-anak mereka mau belajar untuk mengenal Kristus lebih dalam.

Sebaliknya untuk memperkenalkan Kristus melalui sang Naga kepada anak-anak, adalah baik apabila anak-anak Cina diajar terlebih dahulu tentang tata-susila yang baik dan terpuji, maka orang-tua akan menghargai anak-anaknya untuk mengimani Kristus. Hal ini adalah penting karena bagi orang Cina suatu agama yang tidak mampu menghadirkan tata-susila yang baik akan dianggap omong-kosong belaka. Dengan demikian pemahaman teologis mengenai Kristus melalui sang Naga harus dinyatakan dalam tingkah-laku etis-moral dan sistem nilai yang mampu dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu kontekstualisasi Kristus melalui sang Naga dapat dimulai dengan pengajaran Yesus dalam “Khotbah di atas Bukit”. Barulah setelah itu dikembangkan pemahaman iman Kristen tentang karya penebusan Kristus dan jati-diri-Nya selaku Anak Allah yang berinkarnasi menjadi manusia.

Pemahaman teologis akan Kristus melalui sang Naga akan mudah mengena dalam kehidupan orang Cina, sebab orang Cina mudah mengimani sesuatu yang nyata dan kelihatan. Hal ini dapat diperbandingkan dengan Allah orang Cina yaitu dewa langit bernama “Shang-ti” () yang tidak populer dan tidak terlalu berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Penyebabnya karena Shang-ti (dewa langit) dianggap terlalu jauh, tidak terjangkau, dan kurang nyata peranannya. Orang Cina justru memuja dewi Kuan Yin karena peranan dan pertolongannya dianggap lebih nyata. Jadi pengajaran tentang penyataan Allah di dalam Kristus akan memiliki peluang yang begitu besar dalam kehidupan orang Cina. Kristus yang adalah Allah sekaligus sebagai manusia yang berkarya, menderita, wafat, dan bangkit akan dianggap sebagai Allah yang dekat dengan kehidupan orang Cina sehari-hari. Jadi intinya orang Cina akan menghargai dan menyembah Allah yang transenden sekaligus Allah yang imanen.

Bukankah berita Injil sangat nyata bahwa di dalam Yesus Kristus, Allah yang tak terjangkau dan maha-mulia menjadi “Imanuel” yaitu: Allah yang beserta dengan kita. Kristus selaku sang Naga adalah sang Imanuel. Dalam inkarnasi-Nya, Kristus mengosongkan diri menjadi manusia dan bersedia berkorban untuk menyelamatkan manusia. Karakter Kristus yang demikian sesuai dengan gambaran dan karakter orang Cina tentang “Lung” (Naga).

Daftar Acuan

Berlin, Adele and Marc Zvi Brettler, ed. 1999. The Jewish Study Bible. Oxford: The Jewish Publication Society.

Birrel, Anne. 1993. Chinese Mythology: An Introduction. Baltimore, Maryland: The John               Hopkins University Press.

Ford, J. Massyngberde. 1975. Revelation. Garden City, New York: Doubleday and Company, Inc.

Hartono, Chris. Ketionghoaan dan Kekristenan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Lan, Nio Joe. 1961. Peradaban Tionghoa Selajang Pandang. Djakarta: Penerbit Keng Po.

Mounce, Robert. H. 1980. The New International Commentary on the New Testament. Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co.

Richard Wurmbrand. 1970. If That Were Christ Would You Give Him Your Blanket? London: Hodder and Stoughton Limited St. Paul’s House Warwick Lane

 

Yang, Lihui and Deming An. 2005.Handbook of Chinese Mythology. Santa Barbara, California: ABC-CLIO, Inc.

Website:

Celestial Chinese Dragon:
http://www.cdot.org/history/dragon_articles.htm

Chinese Dragons. Link defunct: http://www.tyshadragon.co.uk/dracopedia/chinese_dragons.html

Fiery debate over China’s dragon:
http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/6171963.stm

[1]Ucapan “Lung Ti Chuan Ren”dapat ditulis dalam bentuk huruf yang disederhanakan, yaitu: , dengan arti yang sama, yaitu: keturunan dari sang naga.

[2]Shio dalam kalender Cina digunakan untuk menunjuk kapan seseorang dilahirkan.Dengan demikian ketika seseorang diketahui “shio-nya”, maka anggota keluarga dengan segera mengetahui usianya pada saat sekarang. Menurut filosofi Cina, umur seseorang dihitung sejak dari dalam kandungan. Kehidupan seorang manusia telah dihormati sejak awal di dalam kandungan. Hal itulah yang menyebabkan usia sekarang dari seseorang selalu ditambah satu tahun.

[3]Radio BBC tanggal 23 Agustus 2010 menyampaikan pernyataan kepada Wang Zuo An yang menjabat sebagai Direktur Jenderal Administrasi Negara untuk keagamaan di Cina, yaitu: “Such growth is unprecedented in the history of Christianity in China. Christianity is enjoying its best period of growth in China” (http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-pacific-11020947).

[4]Orang Cina yang datang ke Indonesia meliputi suku-suku sebagai berikut: Hokkian, Hakka, Kwongfu, Hoklo, dan Hainan. Kelompok suku-suku ini membentuk dua golongan, yaitu golongan Hoakiao (orang-orang Cina di perantauan), dan golongan Kiauwseng (orang-orang Cina peranakan). Lihat Christ Hartono, “Ketionghoaan dan Kekristenan” hal. 21 – 25.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply