Latest Article

Peran Leksionari dalam Pembangunan Jemaat

RCL-C

Makna Pembangunan Jemaat

Apapun kondisi dan permasalahan yang dihadapi gereja, umat merindukan gereja mampu memenuhi panggilannya dengan setia. Umat mengharapkan gereja mampu berperan sebagai garam dan terang dunia serta menghadirkan keselamatan di dalam Kristus, sebagaimana kata “jemaat” berasal dari kata “ekklesia”, yang berarti: umat yang dipanggil keluar, yaitu dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang keselamatan Allah (I Petr. 2:9). Untuk memenuhi panggilan Allah tersebut, setiap umat percaya seharusnya terlibat dan berpartisipasi dalam pembangunan gereja. Makna kata “pembangunan gereja” berasal dari kata “oikodome”, artinya: a). membangun, b). mendidik, meneguhkan iman, c). tindakan yang mendorong pertumbuhan dalam kesalehan dan kekudusan. Dengan demikian, umat adalah subyek yang melaksanakan pembangunan jemaat. Setiap umat tanpa terkecuali dipanggil untuk saling membangun, mendidik, meneguhkan dan mendorong pertumbuhan iman sehingga mampu hidup kudus dan benar di tengah-tengah dunia ini. Makna pembangunan gereja secara prinsip terarah kepada pertumbuhan internal kehidupan umat. Sangat berbeda dengan makna pertumbuhan gereja yang cenderung kepada pertumbuhan eksternal.

Gereja Kristen Indonesia (GKI) dalam Tata Gereja di Tata Laksana pasal 63 menyatakan “pembangunan gereja” bukan dimaksudkan untuk menjadi gereja yang “introver” yang hanya mengurus kehidupan dan persoalan internalnya saja. Sebab di Mukadimah, GKI menghayati makna gereja sebagai: “persekutuan yang esa dari orang-orang beriman kepada Yesus Kristus – Tuhan dan Juru Selamat dunia – yang dengan kuasa Roh Kudus dipanggil dan diutus Allah untuk berperan serta dalam mengerjakan misi Allah, yaitu karya penyelamatan Allah di dunia” (Tata Gereja GKI 2009, 5). Artinya dalam melaksanakan pembangunan gereja, setiap umat dipanggil untuk mengerjakan misi Allah, yaitu karya penyelamatan Allah di dunia. Dengan demikian teologi pembangunan gereja dan pertumbuhan gereja saling berkaitan dan saling melengkapi [1]. Jemaat yang berhasil dalam pembangunan gereja, pastilah akan menjadi jemaat yang bertumbuh. Pembangunan gereja akan menjadi pertumbuhan gereja.

Untuk melaksanakan pembangunan gereja, secara spesifik rasul Paulus di Efesus 4:12 berkata: “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.” Tugas pembangunan tubuh Kristus (okodome) hanya akan menjadi suatu keniscayaan apabila umat bersedia diperlengkapi oleh Kristus melalui Roh Kudus. Kata “memperlengkapi” yang dipakai oleh rasul Paulus berasal dari kata “katartismon” yang berasal dari kata “katartizein”. Sebenarnya kata “katartizein” pada zaman dahulu dipakai dalam dunia medis, yaitu menyambung tulang yang retak atau menempatkan kembali tulang sendi yang lepas. Di bidang politik, kata “katartizein” dipakai untuk untuk mempersatukan kembali unsur-unsur oposisi yang saling berlawanan, sehingga dapat menjadi suatu negara yang aman dan harmonis [2]. Panggilan untuk membangun gereja hanya akan terjadi apabila gereja menempatkan segala sesuatu sesuai dengan tempat, peran, kasih-karunia dan tanggung jawab setiap umat. Karena itulah gereja Tuhan dipanggil untuk membangun, mendidik, meneguhkan iman, mendorong pertumbuhan setiap umat dalam kesalehan dan kekudusan. Inti pembangunan gereja adalah hubungan yang kualitatif antara umat dengan Kristus, dan hubungan umat dengan sesamanya. Semakin umat memiliki spiritualitas yang berkualitas, maka umat akan dimampukan untuk melaksanakan misi Allah melalui pembangunan gereja dan pertumbuhan gereja. Namun, bagaimanakah kita mengimplementasikan misi Allah khususnya melalui pembangunan gereja? Tentunya metode pembangunan gereja meliputi seluruh dimensi kehidupan umat, karena pembangunan gereja merupakan suatu upaya pemberdayaan setiap umat sesuai dengan talentanya (Tata Laksana GKI 2009, 147). Dalam konteks ini, pertanyaan yang muncul adalah mampukah pola pembacaan secara leksionari setiap kebaktian Minggu mendukung dan menginspirasi pembangunan gereja?

 Pengertian Leksionari

Leksionari didefinisikan oleh “the Consultation on Common Texts” (CCT) [3] yaitu: “suatu kumpulan pembacaan yang diseleksi dari Alkitab, disusun dan dimaksudkan untuk memproklamasikan firman Tuhan selama ibadah umat percaya” (CCT 1992, 8). Definisi dari the Consultation on Common Texts tersebut belum menyinggung hal yang esensial dari ciri khas utama dari leksionari yaitu penyusunan daftar pembacaan Alkitab menurut tahun gerejawi dan memiliki sifat ekumenis. Karena itu saya mendefinisikan leksionari sebagai: “suatu kumpulan daftar bacaan Alkitab yang disusun secara ekumenis dan ditujukan untuk memproklamasikan firman Tuhan dalam kebaktian menurut tahun gerejawi.” Dengan demikian, leksionari merupakan hasil dari upaya gereja Tuhan untuk memproklamasikan firman Tuhan kepada umat dengan cara menyeleksi bagian-bagian dari Alkitab menurut tahun gerejawi yang berlangsung selama 1 tahun dan dapat digunakan secara ekumenis oleh setiap umat yang memiliki latar-belakang denominasi, etnis, budaya, dan geografis yang berbeda-beda.

Dengan melakukan penyeleksian terhadap teks berarti tidak semua bagian kitab dari kanon Alkitab dapat tertampung dalam daftar bacaan leksionari yang ada. Karena yang menjadi fokus dari the Consultation on Common Texts bukanlah segi kuantitatif, yaitu seberapa banyak kitab dalam kanon Alkitab digunakan. Tetapi yang diutamakan oleh the Consultation on Common Texts adalah apakah melalui seleksi bahan-bahan dari Alkitab tersebut umat dapat mengalami suatu pertumbuhan iman. Proses pertumbuhan iman umat tersebut disusun dalam suatu siklus. Setiap siklus terdiri dari 3 tahun, yaitu tahun A, tahun B, dan tahun C. Tahun A berpusat kepada Injil Matius, Tahun B berpusat kepada Injil Markus, dan Tahun C berpusat kepada Injil Lukas. Sedang Injil Yohanes ditempatkan sebagai suplemen di antara tahun A, tahun B, dan tahun C, khususnya pada hari raya gerejawi [4]. Di samping bacaan Injil, the Consultation on Common Texts menempatkan bagian-bagian dari kitab Perjanjian Lama sebagai bacaan pertama, Mazmur sebagai antar-bacaan, dan surat-surat-surat rasuli sebagai bacaan kedua. Dengan kondisi yang demikian, tidaklah mungkin daftar pembacaan leksionari mampu menampung seluruh kanon Alkitab selama siklus 3 tahun. Bila setiap siklus terdapat 52 minggu ditambah dengan 10 hari raya gerejawi [5] yaitu: Malam Natal, Natal, Tutup Tahun, Tahun Baru, Epifani tanggal 6 Januari, Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Kenaikan Tuhan Yesus, maka dalam 1 tahun terdapat 62 kali kebaktian. Sehingga selama siklus 3 tahun terdapat 186 kali kebaktian. Di setiap kebaktian dibacakan 4 bagian bacaan Alkitab, sehingga selama 3 tahun, umat akan membaca Alkitab menurut pola leksionari sebanyak: 186 x 4 = 744 pasal. Padahal Perjanjian Lama terdiri dari 929 pasal, dan Perjanjian Baru terdiri dari 260 pasal. Jadi jumlah pasal dalam Alkitab sebanyak: 1189 pasal. Dengan demikian jumlah pasal dalam Alkitab yang digunakan oleh the Revised Common Lectionary (the RCL) selama 3 tahun hanya 62, 57% saja.

Pertanyaan yang penting di sini adalah apakah dengan daftar pembacaan leksionari selama 1 siklus, yaitu 3 tahun yang menggunakan 744 perikop Alkitab, umat dapat mengalami pembangunan gereja sebagaimana yang diharapkan. Lalu bagaimana dengan sisa bagian perikop atau pasal-pasal Alkitab yang tidak dibacakan dan diuraikan sebanyak 445 pasal (= 37, 43%)? Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita makin disadarkan bahwa daftar pembacaan leksionari pada satu pihak memiliki keterbatasan, dan pada pihak lain the RCL berupaya mengoptimalkan pemahaman dan spiritualitas iman umat melalui bacaan-bacaan yang telah diseleksinya. Karena itu dapat kita simpulkan bahwa leksionari tidaklah identik dengan kanon Alkitab. Leksionari merupakan upaya bagi gereja untuk membangun teologinya secara ekumenis berdasarkan tahun gerejawi yang berpusat kepada kehidupan dan karya keselamatan Kristus. Dengan demikian peran leksionari dalam pembangunan gereja bukanlah satu-satunya, tetapi hanyalah salah satu dari program pembangunan gereja. Walaupun hanya salah satu dari bagian pembangunan gereja, peran leksionari tidak dapat direspon dengan sikap separuh hati. Karena pola leksionari merupakan suatu proses panjang yang terentang sejak abad IV sampai konsili Vatikan II, lalu dari konsili Vatikan II sampai tahun 1992 [6]. Bahkan umat Israel telah menggunakan leksionari sejak mereka berada dalam pembuangan di Babel [7]. Selaku umat percaya, kita tidak boleh mengabaikan warisan dan kekayaan sejarah gereja. Sebaliknya warisan dan kekayaan sejarah gereja tersebut perlu kita respon dengan rasa hormat, sukacita, dan tanggung jawab tanpa melupakan sikap kritis untuk senantiasa melengkapi dan menyempurnakannya. Tepatnya kekurangan dan keterbatasan leksionari bukan dipakai sebagai alasan untuk menolak dan membuangnya, tetapi sebaliknya gereja perlu mendorong dan membantu umat untuk melengkapi dan menyempurnakan kekurangan dan keterbatasan leksionari [8].

Manfaat Leksionari

Seandainya suatu gereja memilih untuk tidak menggunakan leksionari, maka kita selaku pengkhotbah akan melakukan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Memilih dan mengambil suatu teks tertentu menurut penilaian dan kebutuhan kita sendiri. Sikap tersebut jarang dilandasi oleh konsistensi untuk membahas seluruh teks dalam kanon Alkitab. Karena itu kemungkinan besar kita akan menggunakan perikop atau ayat-ayat tertentu yang lebih subyektif dibandingkan daftar pembacaan Alkitab secara leksionaris.
  2. Pemilihan teks ayat atau perikop bukan dilakukan secara sistematis dan jarang memedulikan makna kalender gerejawi sepanjang tahun. Pengertian hari raya gerejawi hanya terbatas pada hari raya sesuai kalender yang disahkan oleh pemerintah. Karena itu ayat atau perikop dari Minggu ke Minggu tidak beraturan dan tidak berkesinambungan. Bahan bacaan dari suatu hari Minggu ke hari Minggu yang lain sering tidak memiliki kaitan atau hubungan teologis yang jelas.
  3. Untuk memenuhi kebutuhan jenis khotbah yang tematis, kita akan cenderung mencari ayat atau perikop yang kita anggap sesuai dengan tema khotbah tersebut. Karena itu kita akan cenderung “memaksakan” pemikiran-pemikiran kita terhadap maksud atau makna dari ayat dan perikop tersebut. Dalam hal ini, kita akan terjebak dalam bahaya dengan pola penafsiran “eisegese”, yaitu memasukkan ide-ide pikiran kita dengan mencari pembenaran dari suatu ayat.
  4. Anggota jemaat tidak dapat dilibatkan secara optimal karena daftar bacaan Alkitab dan tema-tema sesuai tahun gerejawi belum tersedia (CCT 1992, 9) [9]. Sebab umat tidak dapat mengetahui dengan pasti bagaimana siklus tahun gerejawi, sehingga mereka tidak mengetahui bahan dan tema apakah yang akan disampaikan pendeta 3 bulan mendatang. Mereka juga tidak mengetahui alasan, mengapa pendeta tersebut menggunakan suatu perikop tertentu dan tidak menggunakan perikop yang lain.

Tetapi dengan tersedianya leksionari untuk digunakan dalam kehidupan gereja, kita dapat memperoleh banyak manfaat. Lloyd R. Bailey menulis artikel yaitu: The Lectionary in Critical Perspective (Bailey. 1977, 139-153) untuk menunjukkan manfaat penggunaan leksionari, yaitu:

  1. Pengkhotbah dipandu untuk menyiapkan materi khotbahnya berdasarkan daftar bacaan Alkitab yang telah tersusun secara sistematis dan sesuai dengan tahun gerejawi.
  2. Hubungan tradisi antara gereja masa kini dengan gereja awal dan sinagoge tetap terpelihara, sehingga gereja di masa kini dapat belajar kekayaan hikmat dari kehidupan umat di masa lampau.
  3. Ada keseragaman bahan pemberitaan firman yang membebaskan gereja dari batas-batas denominasi, sehingga memungkinkan terjadi dialog ekumenis.
  4. Pendidikan (pedagogi) yang dialami oleh umat selama 3 tahun dalam satu siklus, akan diulang kembali dalam siklus berikutnya. Pengulangan pembacaan tersebut akan memperdalam spiritualitas umat.
  5. Kitab-kitab dalam kanon Alkitab diperlakukan secara lebih seimbang, sebab leksionari terdiri dari kitab-kitab dari Perjanjian Lama, Mazmur, surat Rasuli dan Injil.
  6. Pada hari raya gerejawi, umat belajar bagaimana hubungan antara berita Injil dengan kitab-kitab di Perjanjian Lama dan juga dari surat Rasuli. Lalu pada Minggu biasa, umat belajar hubungan teologis suatu kitab dengan kitab lain yang sejenis dengan pola semi-sinambung, misalnya Minggu I dari I Samuel 15:34 – 16:13; lalu pada Minggu kedua dari I Samuel 17: (1a, 4-11, 19-23), 32-49; Minggu ketiga dari II Samuel 1:1, 17-27, dan seterusnya.

Siklus Hari Raya Gerejawi

Untuk menghayati makna dan spiritualitas umat dalam proses pembangunan gereja, kita dapat menggunakan materi leksionari yang diterbitkan oleh the Consultation on Common Texts. Sebab melalui materi leksionari yang terdiri dari 2 siklus utama hari raya gerejawi, kita dapat menghayati kehidupan dan karya Kristus secara utuh. Melalui the Revised Common Lectionary, terdapat 2 siklus hari raya gerejawi yaitu:

Makna siklus Natal

Pengajaran dan pengakuan iman gereja bahwa Yesus adalah Tuhan telah mendorong gereja untuk menyaksikan peristiwa inkarnasi-Nya di dalam dunia. Pada abad IV dan V, gereja lebih intensif untuk merayakan kelahiran Kristus. Sikap gereja tersebut dilatarbelakangi oleh pergumulan gereja dalam menghadapi serangan Arianisme (G. R. O’Day and C. Hackett, 21). Karena itulah melalui inkarnasi Kristus, gereja menetapkan hari kelahiran Kristus sebagai suatu dogma dan menjadi salah satu pusat ibadah. Lebih jauh lagi, gereja menegaskan bahwa karya keselamatan Allah diawali dari peristiwa inkarnasi Kristus. Melalui inkarnasi Kristus, Allah berkarya untuk mendamaikan umat manusia yang berdosa dengan diri-Nya. Peristiwa Natal bukan sekedar suatu berita kelahiran Kristus, tetapi yang lebih utama bermakna sebagai peristiwa inkarnasi sang Firman Allah menjadi manusia. Karena itu melalui peristiwa Natal, gereja menggunakannya sebagai media untuk menyaksikan pusat misteri dari keselamatan Kristus.

Ibadah inkarnasi Kristus sebenarnya juga dirayakan pada Minggu Epifani (sekitar tanggal 6 Januari). Jauh sebelum gereja merayakan Natal pada tanggal 25 Desember, gereja telah merayakan peristiwa inkarnasi Kristus pada tanggal 6 Januari. Karena itu di setiap Epifani pada tanggal 6 Januari[10], gereja bukan sekedar merayakan kunjungan orang-orang Majus ke Betlehem, tetapi juga merayakannya sebagai kisah kelahiran Kristus. Kemudian gereja menetapkan hari Natal jatuh pada tanggal 25 Desember. Dokumen gerejawi mencatat bahwa perayaan Natal tanggal 25 Desember telah dirayakan di Roma tahun 336. Sedang di Timur, perayaan Natal tanggal 25 Desember dimulai pada abad V. Dengan pola pembagian tersebut, gereja membagi siklus Natal menjadi 2 bagian, yaitu: kisah kelahiran Kristus yang dirayakan pada hari Natal, dan kisah manifestasi-Nya sebagai sang Firman atau Kristus pada Minggu Epifani. Kalau kita cermati dengan baik, maka terdapat kesamaan pola dalam siklus Natal dan siklus Paskah. Siklus Natal, sebagaimana kita ketahui, terbagi antara hari Natal dan Minggu Epifani. Sedangkan siklus Paskah, juga terbagi menjadi hari Paskah di mana Kristus bangkit dan hari Kenaikan Kristus ke surga. Dalam pemahaman teologis ini ada kesamaan makna, yaitu Natal sebagai peristiwa “historis” Kristus lahir di atas bumi, dan demikian pula hari Paskah, dihayati sebagai peristiwa historis dan rohani Kristus bangkit dari kematian. Lalu pada Minggu Epifani, Kristus menyatakan keilahian dan kemuliaan-Nya. Jadi ada kesamaan pula dengan kenaikan Kristus ke surga, di mana Kristus yang telah bangkit kini kembali dalam kemuliaan-Nya sebagai Anak Allah.

Spiritualitas Pembangunan Jemaat

Melalui siklus Natal, spiritualitas umat dapat dibangun berdasarkan makna karya keselamatan Allah melalui inkarnasi-Nya. Allah yang maha-mulia berkenan merendahkan diri-Nya menjadi manusia. Karena itu seharusnya talenta dan karunia-karunia yang dipercayakan Allah kepada kita tidak boleh membuat kita menjadi sombong, arogan dan takabur. Sebaliknya melalui talenta dan keterbatasan-keterbatasan yang ada, kita dipanggil untuk memuliakan Kristus yang adalah Firman yang menjadi manusia. Peran kita yang terbatas ditopang oleh janji Allah, bahwa Dia akan menyertai kita (Imanuel).

Makna siklus Paskah

Pusat seluruh ibadah gereja adalah kebangkitan Kristus yang dirayakan pada hari raya Paskah. Karena itu siklus Paskah berpusat kepada kisah kematian dan kebangkitan Kristus. Wafat dan kebangkitan Kristus menjadi pusat dan jantung iman gereja. Seluruh ibadah pada hakikatnya berpusat kepada peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus. Ibadah hari Minggu dihayati sebagai “replika” ibadah Paskah. Sejak abad III, gereja telah melaksanakan suatu persiapan yang cukup panjang bagi calon baptis yang berpuncak pada Paskah subuh, sehingga mereka dibaptis pada hari Paskah. Selama masa Pra-Paskah, gereja menetapkan masa 40 hari agar umat berpuasa dan bertobat. Untuk itu umat melakukan: puasa, dan mengaku dosa, berdoa, serta memberi derma dan memulihkan hubungan dengan sesama. Dengan demikian di masa Pra-Paskah yang dimulai pada hari Rabu Abu, gereja pada abad III menekankan penafsiran leksionari pada tindakan berpuasa, penyangkalan diri, pengakuan dosa untuk memperoleh pengampunan dosa. Karena itu di masa Pra-Paskah selama 40 hari, umat berpartisipasi dan dibentuk rohaninya melalui kisah wafat dan kebangkitan Kristus. Masa Pra-Paskah sering disebut dengan istilah “Lent”. “Lent” berasal dari bahasa Inggris Anglo-Saxon, yaitu: “lengthen” untuk menunjuk masa selama 40 hari bagi umat untuk mempersiapkan diri untuk menyambut peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus (G. R. O’Day and C. Hackett, 94). Tema dan ulasan pemberitaan firman pada masa ini dapat diperluas lingkupnya, misalnya: makna pendamaian tidak terbatas hanya kepada individu, tetapi juga kepada dunia (umat manusia). Artinya pada masa Pra-Paskah, umat diajak untuk merespon bagaimana dunia dalam setiap bidang membutuhkan pendamaian dengan Allah (G. R. O’Day and C. Hackett, 35).

Selain itu di masa Pra-Paskah, gereja merayakan Kristus yang masuk ke kota Yerusalem (Minggu Pra-Paskah VI). Puncak ibadah pada masa Pra-Paskah adalah Kamis Putih, sedang puncak seluruh ibadah gereja jatuh pada hari Paskah. Perayaan Kamis Putih sampai Paskah itu disebut dengan “Triduum” (“tiga hari”), yang terdiri dari: Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi (G. R. O’Day and C. Hackett, 121). Bacaan surat Rasuli pada hari Kamis Putih diambil dari I Korintus 11:23-26 di mana rasul Paulus memberi suatu instruksi berkenaan dengan ucapan atau perkataan Tuhan Yesus saat Perjamuan Malam Terakhir. Dari kesaksian rasul Paulus ini gereja diingatkan bahwa dasar pelaksanaan Ekaristi atau Perjamuan Kudus dimulai pada hari Kamis Putih. Sedang bacaan Injil pada hari Kamis Putih diambil dari Yohanes 13 yang juga berlatar-belakang Perjamuan Malam Terakhir (Yoh. 13:2), tetapi difokuskan kepada tindakan Tuhan Yesus yang membasuh kaki para murid-Nya. Dengan demikian, melalui ibadah Kamis Putih, gereja memiliki dasar teologis hal mengapa umat percaya melaksanakan sakramen Perjamuan Kudus dan melaksanakan pengajaran Kristus untuk saling membasuh kaki sesamanya (G. R. O’Day and C. Hackett, 95).

Masa hari Paskah sampai Pentakosta terdiri 50 hari. Masa 50 hari tersebut sesuai dengan masa perayaan umat Israel selama 7 minggu. Selama masa pasca Paskah (hari-hari Minggu sesudah Paskah), bacaan Alkitab Perjanjian Lama (bacaan pertama) diganti dengan kitab Kisah Para Rasul. Sebab kitab Perjanjian Lama secara prinsip tidak mengenal konsep kebangkitan. Selain itu bacaan leksionari pada masa sesudah Paskah mengajak umat untuk lebih khusus mendalami makna peristiwa kebangkitan Kristus. Pada akhir abad IV, hari Kenaikan Tuhan ditetapkan oleh gereja yaitu 40 hari setelah Paskah. Penetapan gereja ini untuk menanggapi kesaksian Injil Lukas tentang kenaikan Tuhan Yesus (Luk. 24:50). Dengan ibadah kenaikan Tuhan Yesus, semakin terlihat bahwa makna peristiwa Paskah tidak boleh dicampur dengan makna peristiwa Pentakosta. Pentakosta menjadi puncak dari seluruh kisah historis tahun gerejawi. Karena itulah sebelum Pentakosta, umat mempersiapkan diri selama 40 hari yang dimulai sejak Kristus naik ke surga. Dengan demikian, kita dapat melihat pola 40 hari sebelum Paskah yang dimulai dengan hari Rabu Abu, dan 40 hari sebelum Pentakosta yang dimulai dengan hari Kenaikan Tuhan Yesus.

 Spiritualitas Pembangunan Jemaat

Melalui siklus Paskah, setiap umat diajak untuk merenungkan secara utuh kesediaan diri untuk menyangkal diri. Sikap penyangkalan diri tersebut mengikuti model Kristus yang berkenan mengosongkan diri, sehingga Dia membasuh kaki para murid-Nya. Selain itu umat dapat belajar dari Kristus yang taat kepada kehendak Bapa-Nya, sehingga Dia bersedia memberikan nyawa-Nya. Dalam konteks ini makna pembangunan gereja terkait erat dengan kualitas rohani dari setiap umat yang bersedia mengosongkan diri dan taat kepada kehendak Allah sampai akhir hayat dan tanpa syarat.

Makna Minggu Biasa

Di samping siklus Natal dan siklus Paskah, the Revised Common Lectionary juga menyediakan daftar bacaan untuk Minggu Biasa. Artinya setelah Pentakosta, kalender gerejawi masih berlanjut. Setelah Pentakosta, gereja merayakan Minggu Biasa sekitar 6 bulan sampai menjelang minggu Adven. Tepatnya setelah Pentakosta, gereja merayakan Minggu Trinitas sebagai awal Masa Biasa dan akan berakhir pada Minggu Kristus Raja, yaitu satu minggu sebelum Minggu Adven. Warna yang digunakan selama Masa Biasa adalah Hijau. Warna hijau untuk menunjuk makna kehidupan yang tercermin dalam warna daun tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian, pada Masa Minggu Biasa[11], gereja bergerak dari fokus sejarah keselamatan ke arah masa ketaatan umat terhadap firman-Nya. Umat diajak untuk memaknainya dalam kehidupan sehari-hari dalam menyongsong kedatangan Kristus yang kedua dengan ketaatan. Namun Masa Minggu Biasa bukan dimaksudkan agar umat semata-mata terarah kepada kedatangan Kristus, karena pada kedatangan Kristus yang kedua, Kristus akan menghakimi orang yang hidup dan mati, serta akan membawa kepada perubahan kosmik. Jadi kedatangan Kristus pada hakikatnya untuk membawa pemerintahan Allah yang penuh damai, kasih dan hidup yang abadi, sebab sejarah dan kehidupan yang diciptakan Allah bergerak secara linear, di mana Kristus datang, mati dan bangkit, serta akan datang yang kedua kalinya. Sebagaimana Pengakuan Iman Nicea menyatakan: “dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati”.

Ada 2 periode di masa Minggu Biasa, yaitu:

  • Minggu Biasa yang terjadi di antara Epifani dan Rabu Abu (transisi dari siklus Natal ke Minggu Pra-Paskah). Minggu-minggu setelah Epifani sampai Rabu Abu disebut dengan “Minggu-Minggu sesudah Epifani”.
  • Minggu Biasa yang terjadi setelah Pentakosta (transisi dari siklus Paskah ke masa Adven).

Masa biasa selalu jatuh pada hari Minggu. Sebab hari Minggu dihayati sebagai jantung ibadah iman Kristen. Gereja merayakan kebaktian hari Minggu karena mengingat dan mengenang peristiwa kebangkitan Kristus. Karena itu pada hari Minggu atau masa biasa, gereja dapat menggunakannya untuk merefleksikan imannya kepada Kristus yang bangkit di tengah-tengah pergumulan kehidupan sehari-hari.

Apabila pembacaan leksionari di siklus Natal dan siklus Paskah merupakan pembacaan yang dipilih (lectio selecta) sesuai dengan tema “perayaan gerejawi”, maka tidaklah demikian pada Masa atau Minggu Biasa. Pilihan bacaan pada Minggu Biasa difokuskan kepada kesinambungan suatu perikop ke perikop dalam satu kitab yang sama. Karena itu pada Minggu atau Masa Biasa, secara sengaja dipilih daftar pembacaan dari suatu perikop yang sinambung dengan perikop berikutnya. Pola pembacaan pada Minggu atau Masa Biasa menjadi pembacaan perikop yang sinambung (lectio continua). Sebenarnya pola pembacaan sinambung tersebut telah dilakukan dalam ibadah sinagoge. Struktur pembacaan leksionari dalam agama Yudaisme cukup sederhana. Pembacaan di sinogoge umumnya menggunakan 2 pembacaan, yaitu pembacaan dari Torah (hukum Taurat) dan pembacaan dari kitab Nabi-nabi (Nebiim), yang disebut dengan “haphtarah” (konklusi/kesimpulan) sebab dibacakan pada akhir ibadah. Dalam hal ini Torah dibacakan secara sinambung, yaitu dari satu kitab ke kitab berikutnya. Satu kitab tersebut dibagi menjadi beberapa unit, sehingga berakhir pada bagian Alkitab tertentu.

Pola yang dilakukan di sinagoge tersebut juga dilakukan oleh gereja perdana. Origenes dan Johanes Chrysostomos juga menggunakan pembacaan secara sinambung untuk pemberitaan firmannya, yaitu dari Injil Yohanes. Tujuan utama dari pembacaan secara sinambung dalam ibadah untuk pemberitaan firman umumnya adalah untuk memberi pengajaran, dan katekesasi. Melalui pembacaan sinambung tersebut, pengkhotbah dapat memberi pengajaran beribadah khususnya pengajaran firman. Kisah-kisah yang disaksikan oleh Alkitab dapat menjadi lensa untuk memahami ibadah, sebab melalui pembacaan Alkitab secara sinambung, umat dimampukan untuk memahami hubungan inkarnasi Kristus dan karya penebusan-Nya dalam hari raya gerejawi, serta respon umat pada masa Minggu Biasa.

 Spiritualitas Pembangunan Jemaat

Melalui pembacaan dan ulasan pada masa Minggu Biasa, umat belajar memberi respon iman secara proaktif terhadap karya keselamatan Allah, sehingga mereka dimampukan untuk menjadi agen-agen perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Pada masa Minggu Biasa, umat menyatakan peran yang nyata dalam berbagai bentuk pelayanan kepada sesama dan orang-orang yang membutuhkan sentuhan kasih Allah. Umat menjadi tangan, kaki dan mulut dari Kristus, sehingga kehadiran Kristus dapat dialami oleh sesama dan lingkungan sekitar.

Program Pembangunan Jemaat

Melalui leksionari, kebaktian hari Minggu dan hari raya gerejawi dapat dikemas secara lebih sistematis dan tematis. Umat dapat disiapkan untuk menghayati makna karya keselamatan Allah di dalam Kristus, sehingga mereka dimampukan untuk mengembangkan spiritualitas yang lebih dalam dan kokoh. Karena hakikat penyusunan dan penggunaan leksionari bukanlah untuk menghadirkan suatu ritual yang khidmat dan menyentuh hati, tetapi juga untuk menjadi pedoman bagi umat untuk melaksanakan pengutusan Allah di tengah dunia ini. Hans Boehringer menyatakan:

“….. worship has to do with the diaconal ministry and witness of the church.

When the connection is broken, worship loses its very heart. This connection

between worship and the life of the people is a major issue in the present study

of lectionary by representatives of churches ….” (Boehringer, Hans. 1990, 27)

Pengutusan Allah melibatkan kehidupan kita secara utuh. Setiap umat tanpa terkecuali menjadi agen-agen pembaru melalui setiap profesi, karier, dan peran yang ada, karena setiap profesi, karier, dan peran dari umat tersebut telah dilengkapi dengan berita dari firman Allah yang menyapa keseluruhan hidup mereka. Firman Allah bukan lagi sebagai berita yang inspiratif, tetapi transformatif sehingga hidup mereka diubahkan menjadi kehidupan yang baru. Dengan demikian mereka dimampukan untuk membarui aspek-aspek kehidupan, sehingga kehadiran umat percaya mendatangkan damai-sejahtera bagi sesamanya. Tujuan akhir dari pembangunan gereja adalah terwujudnya pembangunan masyarakat, dan pembangunan seluruh umat manusia.

Tentunya program pembangunan gereja melalui leksionari perlu didukung melalui pembinaan dan pelatihan, misalnya:

  • Bagaimana para lektor mampu membaca Alkitab dengan baik dan benar.
  • Bagaimana menerjemahkan suatu siklus hari raya gerejawi sehingga paduan suara dapat menyanyikan pujian yang sesuai dengan tema dan suasana hari raya gerejawi tersebut.
  • Bagaimana jenis dan warna musik yang sesuai, dan bagaimana membuat dekorasi yang mencerminkan suatu siklus hari raya gerejawi, sehingga    suasana ibadah menjadi suasana yang khidmat dan mendukung tema           ibadah yang akan dilaksanakan.
  • Bagaimana umat mendisiplinkan diri untuk tertib sehingga kehidupan mereka sepenuhnya dikendalikan oleh firman Tuhan.
  • Bagaimana umat mampu hidup secara inklusif, sehingga kasih mereka tidak dibatasi oleh etnis, denominasi, agama, dan kelompok.
  • Bagaimana para pendeta dan pengkhotbah mampu menafsirkannya secara tepat sesuai dengan pola leksionari sehingga mereka mampu         menyampaikan firman Tuhan secara kreatif, inovatif, relevan dan
  • Bagaimana para pendeta dan penatua mampu menyusun bahan Pemahaman Alkitab yang diambil dari leksionari dengan mengikuti       tahun gerejawi, sehingga tercipta kesinambungan antara pemberitaan          firman pada hari Minggu dengan Pemahaman Alkitab.
  • Bagaimana mengajarkan pengertian dan pola leksionari dalam pelajaran katekesasi, sehingga sejak awal umat akrab dengan pembacaan Alkitab   secara teratur dan sistematis.

Jelas bahwa the Revised Common of Lectionary telah menawarkan suatu paradigma baru dalam membaca dan memahami Alkitab. Tentu saja leksionari juga membuka paradigma baru bagi setiap umat untuk menafsirkan realitas kehidupan. Melalui komitmen bersama untuk menggunakan leksionari diharapkan gereja mampu memenuhi doa Tuhan Yesus, yaitu: “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh. 17:21). Pola pembacaan leksionaris yang ekumenis seharusnya memampukan gereja keluar dari sikap eksklusivisme dan denominasi-“isme” untuk menjadi gereja Yesus Kristus yang esa. Paradigma iman yang baru tersebut pada hakikatnya berpusat kepada Kristus, sang Firman Hidup dan yang menggenapi seluruh kitab Taurat serta kitab para nabi. Di dalam Kristus pula, kita dimampukan untuk mewujudkan damai-sejahtera, kasih, keadilan dan pengampunan-Nya bagi sesama di sekitar kita. Jadi leksionari hanyalah suatu alat. Tetapi alat tersebut akan efektif, apabila kita mampu menggunakannya secara tepat dan bijaksana. Karena itu bijaksanakah gereja-gereja yang belum memiliki alasan yang kuat telah menolak pola pembacaan leksionari dalam kebaktian Minggu dan hari raya gerejawi? Bijaksanakah gereja bilamana subyektivisme pendeta dan para pemimpin gereja lebih mendominasi, sehingga setiap gereja memiliki daftar pembacaan Alkitab masing-masing yang tidak memungkinkan umat menghayati keesaan sebagai Tubuh Kristus melalui pemberitaan firman?

Daftar Acuan

Bonneau, Normand. 1998. Sunday Lectionary (Ritual Word = Paschal Shape). Collegeville, Minnesota: The Order of St. Benedict, Inc.

Consultation on Common Texts. Revised Common Lectionary. 2005. Daily Readings. Minneapollis: Fortress Press

Mancini, Will. 2008. Church Unique. San Fransisco: Jossey-Bass A Wiley Imprint

Morris, Leon. 1964. The New Testament and the Jewish Lectionaries. London: The Tyndale Press

Mulyono, Yohanes Bambang. 2010. Pelita Umat (Leksionari untuk Hari Raya Gerejawi). Jakarta: BPK Gunung Mulia.
O’Day, Gail R. dan Charles Hackett. 2007. Preaching the Revised Common Lectionary (A Guide). Nashville: Abingdon Press

Artikel:

Bailey, Lloyd R. The Lectionary in Critical Perspective. 1977. Interpretation 31, no 2 Ap: 139-153

Boehringer, Hans. 1990. The Common Lectionary. Word and World: Volume X, Number 1 (Winter): 27

[1] Hubungan teologi pembangunan gereja dan pertumbuhan gereja dapat dilihat di: Will Mancini, Church Unique (San Fransisco: Jossey-Bass, 2008), 32 menyatakan: “bringing the corrective tone of quality to the impulse toward quantity”.

[2] Bandingkan dengan Mark. 1:19 yang juga menggunakan kata “katartizein” dalam pengertian: menjahit jala yang robek, sehingga jalinan yang terputus di jalan tersebut dapat kembali menyatu. Jala yang sudah dijahit dapat efektif untuk menjala ikan.

[3] The Consultation on Common Texts (CCT) merupakan suatu forum konsultasi ekumenis di kalangan gereja-gereja Amerika dan Kanada yang diberi tugas untuk menyusun daftar pembacaan Alkitab yang kelak diberi nama “the Common Lectionary” tahun 1983. Kemudian “the Common Lectionary” tersebut melakukan revisi terhadap daftar pembacaan Alkitab, sehingga menjadi “The Revised Common Lectionary” pada tahun 1992.

[4] Injil Yohanes juga dimasukkan pada tahun B, sebab pada tahun B digunakan Injil Markus yang jumlah pasalnya relatif lebih singkat daripada Injil Matius dan Lukas. Karena itu pada tahun B, di samping menggunakan Injil Markus, the RCL juga menggunakan Injil Yohanes.

[5] Hari Paskah Subuh, Paskah Sore, dan Pentakosta jatuh pada hari Minggu karena itu dalam konteks ini tidak dihitung untuk menentukan jumlah penggunaan leksionari.

[6] Leon Morris menyatakan bahwa ibadah sinagoge telah menggunakan beberapa varian leksionari. Leon membuat hipotesis tentang perbedaan penggunaan leksionari di sinagoge dalam kalangan orang Yahudi dan Palestina: “The importance of establishing the date of the synagogue in Palestine itself is that it is known that different cycles of lectionary readings were in use among the Jews, and the Palestinian cycle is the one to which New Testament scholars usually appeal. This was a three-year cycle, whereas among the Babylonian Jews the Law was read through completely in one year. Guilding, Finch, and others base their work on the triennial cycle which is thus the important one. But if we are to demonstrate that the Palestinian triennial lectionary lies behind any part of the New Testament it would seem a necessary pre-condition to show that synagogues had been in existence in that land prior to New Testament days for long enough for such a lectionary to develop (Morris, 78).

[7] Studi yang dilakukan oleh Normand Bonneau dalam “Sunday Lectionary” (Ritual Word = Paschal Shape), menunjukkan sejarah leksionari iman Kristen tidak lepas dari sejarah leksionari dalam tradisi Yahudi khususnya dalam masa Pembuangan tahun 587 – 535 sM. Untuk itu umat Yahudi di pembuangan Babel membangun sinagoge di mana “Liturgi Firman” menjadi pola ibadah yang utama. Lihat: Normand Bonneau dalam “Sunday Lectionary” (Ritual Word = Paschal Shape) by The Order of St. Benedict, Inc. (Minnesota: Collegeville,1998).

[8] Misalnya umat didorong untuk membaca leksionari harian (daily readings) di samping mengikuti kebaktian dengan leksionari mingguan (weekly readings). Melalui pembacaan leksionari harian, umat diajak untuk memasuki suatu disiplin rohani yaitu dengan merenungkan dan memahami kekayaan firman Tuhan setiap hari, sehingga spiritualitas mereka semakin diperkaya dan diperdalam. Umat juga dipersiapkan untuk melihat hubungan perikop dan ayat-ayat dalam pemberitaan firman setiap hari Minggu.

[9] The Consultation on Common Texts menguraikan tujuan penggunan leksionari, yaitu:

  1. Untuk menyediakan suatu pola umum (common pattern) dan keseragaman (uniform) dari kesaksian Alkitab bagi gereja-gereja dan denominasi yang terwujud dalam kalender gerejawi.
  2. Menyediakan pedoman dalam penggunaan teks Alkitab yang dibaca setiap hari Minggu bagi penyelenggara ibadah (pengkhotbah, pemusik, pelayan liturgi lainnya) dan umat.
  3. Sebagai petunjuk dan sumber bagi penyelenggara ibadah dari berbagai jemaat untuk berbagi sumber-sumber inspirasi dan ide-ide teologis dalam menyiapkan ibadah.
  4. Sebagai sumber bagi mereka yang menerbitkan buku panduan khotbah-khotbah ekumenis dan berbagai buku liturgi.
  5. Sebagai pembimbing untuk individu dan kelompok dalam membaca dan mempelajari Alkitab serta berdoa. Hal ini bisa dilakukan dengan mencantumkan daftar bacaan Alkitab untuk minggu berikutnya dalam warta jemaat, sehingga umat dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu.

[10] Karena GKI belum memiliki tradisi melaksanakan kebaktian Epifani pada tanggal 6 Januari, maka biasanya diberlakukan pada hari Minggu yang terdekat. Dengan konsekuensi di Minggu yang terdekat itu bertepatan dengan perayaan Minggu Yesus dibaptis.

[11] Periode 6 bulan di luar siklus Natal dan siklus Paskah disebut dengan masa Minggu Biasa (“Ordinary Times”). Arti “masa biasa” berasal dari kata “Ordinary”, yaitu dari kata “ordinal” yang artinya: “dihitung.”

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply