Latest Article

Abraham, Sahabat Allah (Kejadian 22: 1-19, 2 Tawarikh 20:7)

Persahabatan adalah relasi yang akrab, terbuka, saling mempercayai dan menguatkan. Kita tidak dapat membayangkan kehidupan tanpa seorang sahabat. Kehidupan menjadi dingin, kehilangan makna, dan rawan konflik. Dalam Alkitab mempersaksikan bahwa Allah berkenan menjadi sahabat. Surat Yakobus menyatakan: karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah” (Yak. 2:23). Melalui kehidupan Abraham kita belajar bagaimana Allah menjadikan Abraham sebagai sahabat-Nya, walau Abraham beberapa kali berjalan mengikuti kehendaknya sendiri. Namun dengan kesetiaan-Nya, Allah membentuk Abraham untuk setia dan taat kepada kehendak-Nya. Di Kejadian 22:1-19, Abraham membuktikan kesetiaan dan sikap imannya kepada Allah dengan kesediaannya untuk mengorbankan Ishak, anak yang sangat dikasihi.

Kita mengetahui bahwa Abraham telah begitu lama sampai usia lanjut mengharapkan kehadiran seorang anak dari benihnya di rahim Sara. Namun setelah Ishak lahir dan tumbuh menjadi remaja, Allah menyuruh Abraham untuk mengorbankan di atas mezbah. Makna utama dari kesaksian Kejadian 22:1-19 adalah Abraham sebagai sahabat Allah memberikan persembahan yang terbaik. Allah dihayati sebagai yang paling utama, sehingga Abraham tidak segan untuk mempersembahkan Ishak. Abraham sangat mencintai Ishak, namun ia tidak mau melekat kepada Ishak. Hanya kepada Allah saja Abraham mau melekat. Dengan demikian makna Abraham sebagai sahabat Allah sangatlah dalam dan luhur. Abraham taat kepada Allah sebagai sahabat, dan bukan taat kepada Allah yang menakutkan sehingga ia tidak memiliki pilihan yang lain. Makna persahabatan yang tulus tidak boleh mengandung intimidasi, ancaman, pemaksaan, dan teror. Sebaliknya makna persahabatan yang sejati selalu mengandung penghargaan, kepercayaan, kasih yang tidak bersyarat, dan pengorbanan yang tulus.

Kegagalan kita memeroleh sahabat disebabkan sikap kita yang mementingkan diri sendiri, tidak dapat dipercaya, memiliki potensi untuk mengkhianati, suka menyakiti perasaan, tidak mampu mengendalikan perkataan, dan menyalahgunakan keakraban. Kita akan bahagia apabila kita memiliki sahabat yang setia dalam suka dan duka, peduli, berempati, dan tidak pernah mengkhianati kita. Kitab Amsal 17:17 berkata, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Karena itu sahabat yang baik akan selalu mengingatkan dan menegur agar kita tidak jatuh. Hargailah sikap kritis orang lain yang disampaikan secara langsung kepada kita, siapa tahu dia adalah sahabat yang dapat dipercaya. Sebaliknya kita harus waspada bila kita menjumpai orang yang menyebut kita sebagai sahabatnya, namun saat berada di belakang kita dia menggosipkan hal-hal yang buruk. Nasihat praktis: “segera tinggalkan orang yang suka menggosipkan saudara walau di depan kita dia sering bersikap ramah dan baik.”

Gereja membutuhkan anggota jemaat yang mampu memperlakukan orang lain, para pendeta dan para penatua (atau sebaliknya) sebagai sahabat-sahabat Allah. Tanpa persahabatan yang tulus sebagai landasan hidup persekutuan, gereja akan menjadi sarang para pengkhianat dan orang-orang munafik.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply