Latest Article

Allah Mencipta, Firman Mengubahkan, Roh Menghidupkan (Kej. 1:1-5, 26-31; Mzm. 8; 2Kor. 13:11-13; Mat. 28:16-20)

Minggu Trinitas

 Relasi Trinitas Allah sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus merupakan suatu jalinan kasih. Bapa sebagai subyek yang mengasihi, dan Anak sebagai obyek yang dikasihi. Namun pada sisi lain Anak sebagai subyek yang mengasihi, dan Bapa sebagai yang dikasihi. Dalam diri Allah sejak kekal telah terdapat gerak hidup cinta-kasih (Yoh. 17:24). Allah telah mengasihi Kristus sebelum dunia dijadikan. Kehadiran Roh Kudus secara khusus untuk mencurahkan kasih Allah (Rom. 5:5). Karena itu esensi utama dari diri Allah adalah Kasih. Allah adalah kasih (1Yoh. 4:8). Konsep Trinitas Allah dalam pemahaman ini disebut dengan perikhoresis, yaitu Allah sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus saling mendiami atau saling tinggal dalam keesaan-Nya.

 Istilah perikhoresis berasal pemikiran John Damaskus (675-749), yang berpijak pada ucapan Tuhan Yesus di Yohanes 14:10, yaitu: “Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.” Inti perkataan Kristus tersebut adalah Dia di dalam Bapa, dan Bapa di dalam Yesus. Allah itu esa yang di dalam diri-Nya memiliki tiga pribadi yang saling berbeda, namun yang saling berbeda itu tidak meniadakan Yang Lain. Makna perikhoresis adalah hypostasis (pribadi-pribadi) Allah tersebut saling mendiami satu sama lain tanpa tercampur. Peran Roh Kudus di sini sebagai Roh Allah yang menyelidiki segala sesuatu termasuk pula hal-hal yang tersembunyi di dalam diri Allah (bdk. 1Kor. 2:10).

Manifestasi kuasa Allah yang menyatakan diri sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus memampukan umat untuk menjalin relasi kasih dengan sesama. Melalui penyataan Allah yang Trinitaris tidak terbuka ruang sikap otoriter dan absolutisme. Sangat berbeda bila Allah hadir sebagai Allah yang esa secara absolut, maka akan terbuka ruang bagi umat untuk meneladani Dia dengan bersikap absolut, eksklusif, dan sikap menghakimi setiap orang yang berbeda dengan dirinya. Kita menolak Allah yang esa secara nominal karena doktrin tersebut menjadi landasan etis bagi umat untuk meniadakan kepelbagaian dan perbedaan dalam kehidupan bersama. Allah Trinitaris yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus adalah Allah yang ingin masuk ke dalam persekutuan dengan umat manusia di dalam kasih-Nya. Persekutuan kasih ilahi tersebut terarah kepada seluruh ciptaan secara melimpah dan tanpa syarat melalui karya penciptaan, penyelamatan, dan pemeliharaan-Nya.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply