Latest Article

Diperbarui oleh Firman yang Berkuasa (Ul. 18:15-20; Mzm. 111; 1Kor. 8:1-13; Mark. 1:21-28)

Takjub adalah ungkapan perasaan terhadap sesuatu yang memesona (mengherankan) dan mengesankan. Demikianlah sikap umat Israel di Sinagoge Kapernaum terhadap pengajaran Yesus, “mereka takjub mendengar pengajaran-Nya” (Mark. 1:22). Sebab pengajaran Yesus penuh kuasa dan tidak seperti ahli-ahli Taurat. Namun sikap terpesona dan terkesan tidak otomatis membawa suatu perubahan hidup. Mereka hanya mampu melihat perbandingan antara pengajaran Yesus yang penuh kuasa dengan ahli-ahli Taurat yang kurang otoritatif. Tetapi mereka tidak mengambil keputusan untuk dibarui dan dikuduskan. Di antara pengunjung di Sinagoge tersebut ternyata ada seorang yang kerasukan roh jahat. Roh jahat itu berkata: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah” (Mark. 1:24).

Kesaksian Injil Markus hendak mempersaksikan bahwa roh jahat bukan sekedar takjub namun ia justru mampu mengidentifikasi kedirian Yesus selaku Anak Allah yang kudus. Roh jahat tersebut juga gentar sebab dia takut Yesus akan membinasakan dia. Menurut Injil Markus manusia hanya takjub dengan cara Yesus mengajar, namun roh-roh jahat justru gentar dan mengenali jati-diri Yesus yang sesungguhnya, yaitu: “Yang Kudus dari Allah.” Bagaimanakah sikap Yesus? Ternyata Yesus segera menghardik roh jahat itu dengan berkata: “Diam, keluarlah dari padanya!” Tuhan Yesus tidak membutuhkan pengakuan roh jahat atas keilahian-Nya. Roh-roh jahat gentar dan mengenali jati-diri Yesus yang sesungguhnya, namun mereka membelenggu manusia dalam ikatan kuasa kegelapan. Namun Yesus lebih peduli dengan keselamatan manusia daripada pengakuan roh-roh jahat. Dengan perkataan-Nya, Yesus mengusir roh jahat yang merasuki orang tersebut. Tindakan Yesus yang mampu membebaskan roh jahat dengan ucapan-Nya, umat semakin takjub akan kuasa-Nya yang begitu besar.

Rasa takjub umat mengalami perubahan dari Markus 1:22 dengan Markus 1:27. Bila di Markus 1:22 umat hanya takjub dengan pengajaran Yesus, maka di Markus 1:27 ketakjuban mereka berkembang menjadi suatu kesadaran yang baru, yaitu: “Siapakah Yesus yang sesungguhnya.” Perhatikan kesaksian Markus 1:27, yaitu: Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: “Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.” Kesadaran iman yang semakin mendalam lahir di hati umat tentang identitas diri Yesus yang sesungguhnya. Yesus datang dengan pengajaran yang baru, Dia dipenuhi kuasa Allah, dan roh-roh jahat berada dalam pengendalian-Nya. Dia bukan sekedar seorang manusia yang dibesarkan di Nazaret, tetapi memiliki kuasa yang melampaui otoritas para ahli Taurat. Jika demikian di dalam hati umat yang takjub mulai timbul kesadaran bahwa kuasa Yesus adalah ilahi, dan membenarkan pengakuan roh jahat bahwa Dia adalah Yang Kudus dari Allah.

Dari uraian di atas, kita dapat melihat tiga aspek penting dalam spiritualitas, yaitu: takjub, pengakuan, dan kesadaran terhadap keilahian Yesus. Namun apakah sikap takjub, pengakuan, dan kesadaran secara otomatis membawa manusia kepada pembaruan diri? Bandingkan sikap kita yang takjub dengan suatu khotbah, terkesan dengan suatu pelayanan, tindakan dalam pengakuan iman setiap kebaktian Minggu dan kesadaran bahwa Yesus adalah Juru-selamat. Namun kita sadar bahwa tidak serta-merta sikap tersebut membawa kita kepada pembaruan hidup. Kita tetap bisa melanjutkan pola kehidupan yang duniawi seperti halnya kita adalah orang yang dirasuk oleh roh jahat tersebut. Hidup kita penuh dengan kecemaran dan dosa, namun tetap mampu mengakui Yesus sebagai Yang Kudus dari Allah. Bukankah pola kehidupan kita sering serba mendua? Di satu pihak dengan “fasih” kita mampu menyatakan pengakuan iman, namun di lain pihak kita “gagap” tidak berdaya untuk hidup kudus di hadapan Allah. Kita membutuhkan hardikan Allah seperti yang Yesus lakukan kepada roh jahat itu, yaitu: “Diam, keluarlah dari padanya.” Namun bukankah hardikan adalah suatu teguran yang tidak mengenakkan? Hardikan adalah suatu teguran keras yang mengganggu rasa aman dan kenyamanan kita. Karena itu siapakah di antara kita yang ikhlas untuk menerima hardikan? Di Surat Ibrani 12:5-6 berkata: Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jikalau kita adalah anak-anak Allah, kita akan menerima hardikan dari Allah sehingga kita tidak putus-asa saat diperingatkan.

Sikap takjub, pengakuan, dan kesadaran terhadap keilahian Yesus harus bermuara kepada pembaruan hidup. Nubuat Allah melalui Musa bahwa seorang nabi dari tengah-tengah umat Israel, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti Musa, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus mereka dengarkan (Ul. 18:15) pada hakikatnya bertujuan, yaitu: “Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di hadapan TUHAN, Allahmu” (Ul. 18:13). Yesus adalah Nabi yang dinubuatkan Allah, sehingga perkataan-Nya harus mereka dengarkan dan taati sehingga hidup mereka tidak bercela di hadapan Allah. Roh-roh jahat yang berbahaya bukanlah dalam manifestasi orang-orang yang kerasukan setan tetapi yang dimanifestasikan dalam pikiran, ideologi, paham (suatu “isme”), doktrin, pemujaan terhadap seorang tokoh (pemuka agama, seniman, pemain olah-raga, dsb), sifat lekat kepada suatu benda/materi, dan pembenaran diri. Roh-roh jahat tersebut bermanifestasi dalam berbagai bentuk idol (berhala) sehingga kita kehilangan akal-sehat dan hati-nurani yang jernih. Semua berhala tersebut menghalangi kita diperbarui oleh Kristus walau kita takjub, mengaku percaya, dan sadar akan keilahian Yesus sebagai Yang Kudus dari Allah.

Pertanyaan:

  1. Apa perbedaan rasa takjub di Markus 1:22 dengan Markus 1:27?
  2. Bagaimanakah sikap roh jahat terhadap diri Yesus?
  3. Apakah tiga aspek penting dalam spiritualitas, yaitu: takjub, pengakuan, dan kesadaran terhadap keilahian Yesus secara otomatis membawa kepada pembaruan hidup, yaitu pertobatan? Mengapa tidak otomatis?
  4. Bagaimanakah proses pembaruan hidup akan terjadi dalam kehidupan kita?
  5. Faktor-faktor penghalang pembaruan dalam spiritualitas kita adalah semua berhala (idol). Silakan menyebutkan beberapa idol tersebut khususnya yang terkait dengan kehidupan Saudara.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply