Latest Article

Injil Kerajaan Allah (Kisah Para Rasul 14:21-28)

Setiap orang mengharapkan mendapat kabar baik. Berita tentang kelahiran seorang anak, kesembuhan dari penyakit, lulus studi, pernikahan, selamat dari maut, dan sebagainya merupakan kabar baik yang mendatangkan sukacita. Injil adalah kabar baik. Secara harafiah, kata “Injil” berasal dari kata euaggelion (eu = baik, aggelion= kabar). Dalam hal ini Injil sebagai kabar baik dari Allah, sebab Allah sendiri yang mendatangkan keselamatan bagi umat manusia yang hidup di tengah-tengah belenggu dosa dan tiadanya damai-sejahtera. Bila gereja mengaitkan “Injil” dengan “Kerajaan Allah” disebabkan Injil bukan sekedar kabar baik yang biasa, namun kabar baik yang tema utamanya tentang “Kerajaan Allah yang telah tiba.” Makna “Kerajaan Allah yang telah tiba” di sini adalah realitas Kerajaan Allah yang telah terwujud dalam diri Yesus Kristus. Jadi Yesus Kristus adalah wujud nyata dari kedatangan Kerajaan Allah. Yesus Kristus adalah Raja dalam Kerajaan Allah yang berkenan datang, sehingga keselamatan dari Allah masuk ke dalam realitas sejarah kehidupan manusia. Di dalam Kristus, realitas Kerajaan Allah menjadi realitas sejarah manusia. Berita Injil yang berpusat kepada Kristus inilah yang diberitakan Rasul Paulus dan Barnabas saat mereka tiba di Derbe.

Pemberitaan Injil di Derbe sebenarnya merupakan rangkaian pemberitaan Injil di Listra, Ikonium, dan Antiokhia (Kis. 14:21). Rasul Paulus dan Barnabas melakukan safari pemberitaan Injil ke berbagai kota karena mereka telah mengalami secara personal bagaimana Allah bekerja dan menyelamatkan mereka. Karena itu pemberitaan Injil pada hakikatnya merupakan buah dari umat yang telah mengalami pembaruan hidup dari karya penebusan Kristus. Sebagaimana suatu kabar baik akan mendorong seseorang untuk menyebarkan kepada setiap saudara atau sesama agar mereka mengalami suatu sukacita, demikian pula halnya dengan pemberitaan Injil. Gereja yang tidak memberitakan Injil adalah gereja yang mengingkari keselamatan imannya di dalam Kristus. Itu sebabnya gereja yang demikian cenderung bersikap pasif dan tidak mengucap syukur kepada Tuhan. Mereka tidak memiliki inisiatif/pro-aktif dan kesediaan menderita untuk menyampaikan kabar keselamatan yang telah terjadi di dalam Kristus. Umat atau gereja yang demikian lebih suka menjadi “jemaat penuai” daripada menjadi “jemaat penabur.” Padahal seharusnya hanya “jemaat penabur” sajalah yang berhak menjadi “jemaat penuai.”

Di Kisah Para Rasul 14:21 mempersaksikan: “Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid.” Perhatikan dengan saksama, yaitu Rasul Paulus dan Barnabas memperoleh banyak murid karena mereka memberitakan Injil. Mereka memperoleh banyak murid setelah bekerja keras memberitakan Injil. Inilah hukum tabur-tuai. Kita seringkali menjumpai gereja-gereja yang mengharap pertumbuhan umat secara kuantitatif dan kualitatif, tetapi enggan melakukan tugas pemberitaan Injil. Mereka lebih suka membuat program-program pelayanan yang sifatnya untuk “kalangan sendiri.” Program-program pelayanan gerejawi tersebut sebenarnya hanya untuk memuaskan hasrat manusiawi daripada upaya menyenangkan hati Allah. Program pelayanan yang memuaskan hasrat manusiawi tentu saja dari luar tampak rohani dan “injili.” Bukankah kita selalu cukup cerdik untuk “merohanikan” sesuatu yang sebenarnya “duniawi” namun rohnya bukanlah Roh Kristus? Dalam hidup sehari-hari, kita terbiasa mengatakan “untuk kemuliaan Allah” namun ujung-ujungnya untuk “kemuliaan diri sendiri.” Karena itu tidak mengherankan jikalau dosa yang paling berbahaya adalah memanipulasi kebenaran. Padahal Injil Kerajaan Allah adalah Injil yang menghadirkan pemerintahan Allah di dalam realitas kehidupan manusia dengan meniadakan ketidakbenaran dan kepalsuan.

Umat yang dikuasai oleh kebenaran Allah akan selalu waspada dengan hasrat memuaskan kepentingan diri dengan nama “Allah atau Kristus.” Mereka selalu kritis dan mengutamakan kepentingan Allah di atas kepentingan pribadi dan golongan. Karena itu mereka tidak mau terjebak oleh zona aman. Orientasi iman mereka selalu bergerak keluar daripada ke dalam. Mereka secara serius mempraktikkan tugas panggilan gereja sebagai “jemaat penabur.” Sikap inilah yang tercermin dalam Kisah Para Rasul 14:27, yaitu: “Lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman.” Kehidupan Rasul Paulus dan Barnabas ditandai oleh kesaksian hidup yang nyata, sehingga Allah berkenan membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman di dalam Kristus. Jadi umat yang dikuasai oleh kebenaran Allah adalah umat yang memiliki kesaksian hidup yang benar. Dan pada pihak lain umat yang memiliki kesaksian hidup yang benar, maka pastilah Allah akan memakai mereka untuk membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada Kristus. Sebaliknya kepada umat yang manipulatif dengan berkata “untuk kemuliaan Allah” padahal untuk kepentingan diri dan golongannya sendiri, Allah akan menutup pintu bagi bangsa-bangsa lain. Lebih daripada itu Allah akan memakai “bangsa-bangsa lain” untuk menghukum setiap umat yang gemar “memelintir” (memanipulasi) kebenaran dan kehendak Allah.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply