Latest Article

Krisis Keuangan Global

Pengantar

Sebenarnya sampai saat ini telah begitu banyak analisa untuk mendianogsis penyebab timbulnya krisis keuangan global.  Seorang pakar managemen, yaitu Peter Drucker menganalisis krisis keuangan global karena disebabkan karena ketidakseimbangan antara arus moneter dan arus barang atau jasa. Kondisi inilah yang disebut Peter Drucker dengan istilah “decopling”. Arti dari “decopling” adalah fenomena keterputusan antara maraknya arus uang (moneter) dengan arus barang dan jasa. Yang mana fenomena ketidakseimbangan tersebut dipicu oleh maraknya bisnis spekulasi. Sebagaimana kita ketahui bahwa sebelum terjadi krisis keuangan global telah terjadi suatu bisnis spekulasi yang semakin tidak realistik baik di dunia pasar modal, pasar valas dan properti.

Akibat dari bisnis spekulasi yang tidak realistik tersebut muncullah potret ekonomi dunia seperti sebuah balon, atau disebut “bubble economy” (ekonomi balon).  Disebut dengan “ekonomi balon” karena secara lahir berbagai bisnis tersebut tampak besar sebab semakin menggelembung, tetapi balon bisnis tersebut ternyata tidak berisi apa-apa kecuali udara. Sehingga ketika balon tersebut ditusuk, maka segera meletus dan kempes. Jadi krisis ekonomi global adalah seperti sebuah balon yang telah ditusuk oleh jarum, sehingga sekarang dunia menghadapi keuangan yang serba nihil bahkan minus.

Hubungan Ketidakseimbangan Dengan Keserakahan

Tetapi sayangnya Peter Drucker tidak menjelaskan alasan yang mendasar, mengapa ketidakseimbangan antara arus moneter dan arus barang atau jasa dapat terputus. Peter Drucker hanya menyebut karena pasar ekonomi selama ini cenderung terlalu spekulatif. Kita harus mengakui bahwa dunia bisnis tidak terlepas dari sikap spekulatif. Namun ketika sikap spekulatif tersebut menjadi sangat tidak realistik dan merongrong di setiap sektor, maka dunia bisnis sepertinya memang tampak semakin menggelembung seperti balon yang sedang dipompa. Selama balon bisnis tersebut tidak terganggu, maka dia sepertinya aman. Namun ketika balon bisnis tersebut tanpa sengaja tertusuk sesuatu, maka dengan segera balon tersebut meletus dan hancur. Contoh bisnisspekulatif yang dilakukan oleh Richard Fuld. Richard Fuld adalah bos dari Lehman Brothers. Selama ini Lehman Brothers bergerak di bidang bank investasi, perdagangan saham dan obligasi, riset pasar, manajemen investasi, ekuitas pribadi dan layanan perbankan personal.  Tetapi kemudian Lehman Brothes berani mengubah strategi dengan cara mengembangkan bisnis di bidang properti yang bukan bidangnya. Tujuannya karena Lehman Brothers menginginkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Akibatnya seluruh bisnisnya runtuh.  Model strategi spekulatif yang gila-gilaan seperti inilah yang menyebabkan terjadinya kerapuhan fundamental ekonomi (fundamental economic fragility).

Padahal kalau kita cermati secara lebih mendalam, ternyata mental di balik ambisi sebuah bisnis spekulatif pada hakikatnya adalah sikap serakah. Benar, penyebab utama krisis keuangan global adalah sikap serakah (greed).  Majalah TIME secara sengaja menuliskan kata “serakah” di sampul depannya dengan judul “The Price of Greed” (Buah dari Keserakahan).  Jadi kerapuhan fundamental ekonomi akan terjadi dan menimpa siapapun yang memiliki mental serakah.  Sebab mereka yang tamak atau loba pada hakikatnya tidak akan pernah puas dengan apa yang telah mereka miliki. Itu sebabnya mereka begitu rakus untuk menguasai berbagai bidang atau sektor ekonomi dengan harapan dapat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.  Contoh American International Groups Inc (AIG). Kita tahu bahwa AIG hanya piawai mengurusi asuransi risiko biasa; tetapi dia malahan berani juga memasuki bisnis penalangan risiko akibat transaksi derivatif –khususnya transaksi swap kredit gagal bayar (CDS), yang mana bukan lahannya.  Akibatnya AIG kemudian harus menalangi risiko kredit-kredit gagal bayar (default) dari perusahan-perusahaan yang “mismanagement” (salah urus dan tidak kredible).

Efek Krisis Keuangan Global

Kita hidup di dunia global dalam arti yang seluas-luasnya, sehingga keruntuhan berbagai bisnis ekonomi di suatu negara akan segera menyebar bagai efek domino.  Itu sebabnya buah ketamakan  (greed) dari para predator pasar keuangan pada masa sekarang ini telah menjalar  melebihi kandangnya. Bagai gerak dari badai tsunami, krisis keuangan tersebut makin meluas dan  memangsa siapapun yang berada di depannya.  Sayangnya yang paling menderita sebagai korban adalah mereka yang hidup miskin di seluruh dunia.  Memang para spekulan bisnis yang bermental serakah di negara yang baru berkembang seperti Indonesia pasti  akan menderita kerugian yang sangat besar. Tetapi kerugian tersebut adalah akibat keputusan dan risiko mereka. Yang menjadi masalah dan keprihatinan adalah rakyat kecil yang tidak tahu menahu atau ikut dengan soal bisnis yang spekulatif justru paling sengsara. Rakyat miskin sebenarnya hanya tahu bagaimana mempertahankan hidup dengan 2 kali makan sehari, tetapi kini mereka terpaksa harus mengurangi makan sehari cukup hanya satu kali saja.  Bahkan begitu banyak orang yang kelaparan dan tidak memiliki dana sedikitpun untuk berobat ketika sakit. Sehingga sangatlah tepat jika Bill Gates, bos dari Microsoft Corporation menyatakan bahwa krisis keuangan global bakal semakin meminggirkan orang miskin.

Dewan Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mengkuatirkan dampak krisis keuangan global tersebut terhaap kehidupan orang-orang miskin khusus di negara berkembang atau negara yang miskin. Sebab dengan naiknya harga pangan setahun saja d tahun 2008 telah membuat jumlah orang miskin bertambah 75 juta orang, sehingga total penduduk miskin dunia mencapai 923 juta orang.  Itu sebabnya tahun 2009 ini penduduk miskin di seluruh dunia diperkirakan akan meningkat 100 juta orang.

Sikap Iman Kristen

Di surat Efesus, rasul Paulus mengingatkan bahwa sikap serakah sejajar dengan hidup yang cemar. Sehingga di Ef. 5:3, rasul Paulus berkata: “Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus”.  Keinginan atau motif sikap serakah bukanlah topik atau fokus orang-orang yang telah ditebus dengan darah Kristus. Sebab topik atau fokus umat percaya adalah menjadi penurut-penurut Allah (Ef. 5:1). Umat percaya pada hakikatnya dipanggil untuk senantiasa mewujudkan kehendak Allah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk pula dalam menjalankan usaha, bisnis dan pengelolaan keuangan. Yang mana sikap mental umat percaya seharusnya selalu ditandai oleh ketekunan, kerajinan, keuletan, piawai dalam mengelola dan mencari strategi yang cerdas agar usaha atau bisnis mereka selalu berkembang. Tetapi secara hakiki mereka akan menolak seluruh bentuk sikap yang loba atau berbagai cara yang licik. Mereka tidak akan pernah mendirikan usaha atau bisnis dengan sikap yang terlalu spekulatif dan haus keuntungan yang tanpa batas. Sebaliknya mereka selalu mengedepankan pencarian kehendak Allah yang selalu kritis, analitis dan bersikap realistik agar setiap langkah mereka menjadi langkah Allah sendiri. Jadi krisis keuangan global pada hakikatnya merupakan wujud dari sikap tamak para pebisnis yang umumnya tidak mau mengandalkan Allah. Para pebisnis tersebut umumnya percaya kepada Allah, tetapi mereka memisahkan Allah dengan usaha bisnisnya. Allah hanya diakui di tempat ibadah, tetapi Allah ditolak untuk hadir dalam usaha bisnisnya.

Fenomena krisis keuangan global seharusnya menjadi media reflektif yang semakin mengasah spiritualitas iman. Krisis yang menyakitkan seharusnya diubah menjadi sumber pencerahan iman yang transformatif, sehingga  manusia makin mengakui Ke-Tuhan-an Allah dalam seluruh peri kehidupannya. Amsal 3:6 berkata: “Akuilah Dia dalam  segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu”. Namun sayangnya dalam kehidupan sehari-hari peristiwa kritis yang sedang terjadi justru sering menjadi sumber kekalutan, kegelisahan dan kebingungan. Di saat situasi yang sedang kritis, mereka malahan semakin mengembangkan sikap yang egoistis, naïf dan bersandar kepada usahanya sendiri. Akibatnya keadaan yang sudah buruk menjadi semakin memburuk. Karena mereka merasa telah mengalami kerugian, maka mereka kadang-kadang semakin nekat untuk berspekulasi dengan modal pinjaman yang lebih besar. Tentu saja hasilnya dapat diperkirakan, yaitu kegagalan yang total dan sulit diperbaiki. Sebenarnya di balik sikap pebisnis yang spekulatif dan mengejar keuntungan sebesar-besarnya tidak berbeda jauh dengan para penjudi. Intinya mereka ingin memperoleh keuntungan secepat-cepatnya dan  juga sebanyak-banyaknya, tetapi tanpa kerja keras yang rasional dan bertanggungjawab. Mereka juga lebih suka untuk menutup pintu hati nurani untuk mendengar suara dan kehendak Allah, sebab yang mereka dengar hanyalah suara keserakahan hati mereka dan orang-orang yang hidup dalam habitat yang sama. Dalam kondisi demikian, mereka sangat sulit dinasihati untuk mau mengendalikan ambisi dan ketamakan yang telah akut.

Di tengah-tengah situasi yang demikian, gereja harus tetap berjalan di jalurnya untuk melawan setiap nafsu loba. Selaku pengejawantahan Tubuh Kristus gereja terpanggil untuk senantiasa memotivasi, memberi pedoman, bimbingan, teguran dan karya pemulihan agar umat dapat hidup seperti Kristus hidup. Dalam hal ini sikap para pemimpin gerejawi dan anggota jemaat harus senantiasa memperlihatkan pola hidup sederhana tetapi tetap berkualitas. Orientasi utama umat percaya bukanlah prestige, tetapi prestasi. Yang kita tonjolkan bukanlah penampilan kosmetik, tetapi mutu yang utuh dalam spiritualitas dan keahlian. Sehingga yang menjadi kebanggaan umat percaya bukanlah kemampuan konsumtif kelas tinggi, tetapi kemampuan untuk menyediakan lapangan kerja dan memberdayakan sesama yang lemah. Jadi tidaklah cukup kita hanya mengkuatirkan efek krisis keuangan global yang diprediksi akan meminggirkan banyak orang miskin. Tetapi yang terpenting adalah apa yang bisa kita lakukan sebagai gereja agar orang-orang miskin tidak makin terpinggirkan sehingga mereka tetap berdaya untuk memaknai hidup secara lebih produktif dan bertanggungjawab. Mereka juga perlu terus diingatkan agar tidak memanipulasi situasi kemiskinan untuk mencari “belas-kasihan” dari orang banyak. Selain itu gereja perlu membimbing dan memampukan orang-orang miskin agar mereka mampu hidup secara sehat dengan cara menjauhkan diri kebiasaan merokok, minuman keras atau berbagai perilaku yang tidak pantas. Dengan demikian gereja mampu memberi perspektif dan pemaknaan hidup yang baru, yaitu: dalam krisis keuangan global umat diberdayakan untuk berjumpa dengan Kristus sehingga mereka dimampukan untuk mengubah krisis menjadi spiritualitas yang penuh buah seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya (Mzm. 1:3a).

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply