Latest Article

Leksionari dalam Lintasan Sejarah

Georges-Rouault-Krist-i-apostoli-800x450

Pengantar

Leksionari berasal dari kata Latin lēctiōnārium yang secara harfiah berarti “sebuah buku atau daftar bacaan yang harus dibaca dalam ibadah gereja selama tahun berjalan” (a book or list of lections to be read at church services during the year). Saat ini, gereja-gereja arus utama[1]menggunakan leksionari yang diterbitkan The Consultation on Common Text (CCT). Menurut David R. Holeton, gereja-gereja yang semula tidak menggunakan leksionari berubah drastis sehingga mereka kini begitu antusias menggunakan leksionari untuk ibadah mereka (Holeton 2006, 240). Semula, pengguna leksionari hanya sekitar 15% dari gereja-gereja di Amerika dan Canada. Namun, tahun 2006 gereja-gereja pengguna leksionari telah mencapai 80%. Alasan gereja-gereja yang mau menggunakan leksionari dikemukakan oleh Holeton, yaitu: “Ketika ditanya mengapa, jawaban umum adalah karena RCL mampu menjual dirinya sendiri, sebab RCL menyediakan sistem pembacaan Alkitab yang lebih baik dari sistem lain yang tersedia dan secara umum diakui lebih baik dari sistem ‘pilihan pengkhotbah’ yang membuat umat menjadi subjek bagi kemauan pengkhotbah” (Holeton 2006, 240).

Kini gereja-gereja pengguna leksionari semakin meluas ke berbagai penjuru dunia. Di Indonesia, beberapa gereja yang mulai menggunakan leksionari adalah Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan (GKSBS), dan tentu saja Gereja Roma Katolik. Kemungkinan ke depan, gereja-gereja yang belum menggunakan leksionari perlahan-lahan akan menggunakan dalam ibadahnya, sebab salah satu ciri yang menonjol dalam pola pembacaan leksionari yang kini disebut dengan The Revised Common Lectionary (RCL) bersifat ekumenis. Dengan sifat ekumenis tersebut, gereja-gereja dimampukan untuk menghayati makna keesaan melalui pembacaan dan pemberitaan firman setiap hari Minggu dan setiap tahun gerejawi. Namun, pertanyaan mendasar adalah bagaimana proses terbentuknya leksionari. Hal itu disebabkan karena latar belakang dan sejarah yang membentuk leksionari menentukan penilaian kita, apakah leksionari menurut RCL layak dijadikan landasan dalam kehidupan gereja; juga seberapa kokoh RCL di masa depan menjawab perkembangan liturgi di tengah-tengah perubahan zaman. Untuk itu, kita perlu memahami latar belakang dan perjalanan sejarah leksionari yang kemudian disebut The Revised Common Lectionary (RCL).

Leksionari dalam Ibadah Sinagoge

Nebukadnezar menghancurkan Bait Allah di Yerusalem pada 587 s.M., dan kemudian membawa sebagian besar umat Israel ke Babel sekitar pada 586-538 s.M. Selama kurun waktu tersebut, umat Israel di Babel membuat tempat ibadah pengganti, yaitu “sinagoge”.[2] Karena itu tidaklah terlalu jelas, awal ibadah di sinagoge (O’Day and Hacket 2007, 3). Namun yang jelas, ibadah di sinagoge tidak seperti ibadah di Bait Allah tempat umat mempersembahkan korban menurut Hukum Taurat. Dalam ibadah di sinagoge, umat beribadah dengan berdoa, membaca, dan mempelajari Hukum Taurat. Melalui ibadah di sinagoge, selain bertujuan agar memuliakan Allah, umat Israel juga diharapkan mampu menjaga identitas diri mereka selaku umat Allah. Tujuan utama raja Nebukadnezar menghancurkan Bait Allah adalah agar umat Israel kehilangan identitas diri dan kepercayaan agamanya kepada Yahweh. Karena itu, dengan dibawa ke Babel, Raja Nebukadnezar mengharapkan identitas dan iman umat Israel dapat larut dalam budaya bangsa Babel. Namun ternyata, umat Israel selama pembuangan Babel mampu mempertahankan iman dan identitas diri mereka selaku umat Allah. Salah satu cara untuk mempertahankan iman kepada Yahweh adalah dengan ibadah di sinagoge. Selain itu selama pembuangan di Babel, umat Israel melakukan proses penulisan Taurat Musa yang selama ini mereka hafalkan dari satu generasi ke generasi dengan setia. Kemudian, tulisan-tulisan suci tersebut dikumpulkan, diredaksikan, dan dijadikan pegangan dalam kehidupan iman mereka.

Untuk memudahkan pengajaran, disusunlah daftar pembacaan di sinagoge. Pada prinsipnya, terdapat dua pembacaan, yaitu dari Kitab Taurat (Torah) dan dari Kitab Para Nabi (nebiim) dalam ibadah sinagoge. Kitab Taurat mendapat tempat khusus dan menjadi bacaan utama. Karena itu, Kitab Taurat dibaca secara sinambung dari satu Sabat ke Sabat lain. Untuk tujuan itu, Kitab Taurat dibagi-bagi dalam beberapa bagian seperti perikop dan ayat, sehingga umat dapat membaca secara keseluruhan. Persoalannya adalah bagaimana pola dan siklus pembacaan Taurat di sinagoge? Apakah leksionari yang digunakan dalam ibadah di sinagoge telah mengenal siklus 3 tahun?

Leon Morris menyatakan bahwa ibadah sinagoge telah menggunakan beberapa varian leksionari. Leon membuat hipotesis tentang perbedaan penggunaan leksionari di sinagoge dalam kalangan orang Yahudi dan Palestina:

Pentingnya penetapan waktu sinagoge di Palestina sendiri karena diketahui bahwa ada siklus pembacaan leksionari yang berbeda-beda di antara umat Israel, dan siklus Palestina adalah suatu siklus yang biasanya dipakai sebagai rujukan para ahli Perjanjian Baru. Siklus Palestina memiliki siklus tiga tahun, sedangkan umat Israel di Babilonia, membaca Hukum Taurat secara lengkap selama satu tahun. Guilding, Finch, dan yang lain-lain mendasarkan karya mereka pada siklus tiga tahunan yang memang merupakan siklus yang penting. Namun, jika kita ingin menunjukkan bahwa leksionari Palestina yang memiliki siklus tiga tahun merupakan latar belakang Perjanjian Baru, tampaknya kita membutuhkan suatu prasyarat bahwa sinagoge telah ada sebelum era Perjanjian Baru sehingga cukup waktu panjang bagi suatu leksionari untuk berkembang (Morris 1964, 78).

Dari apa yang dikatakan Leon Morris tersebut sangat jelas bahwa sinagoge di Palestina menggunakan siklus pembacaan tiga tahun, sedang di Babel menggunakan siklus pembacaan 1 tahun. Hipotesis Leon Morris tersebut didukung Everett Ferguson yang menulis Backgrounds of Early Christianity. [3]

Leksionari pada Zaman Kristus dan Jemaat Perdana

Pada zaman Tuhan Yesus, praktek pembacaan leksionari dilakukan tampaknya dalam ibadah di sinagoge. Lukas 4:16-17 menyaksikan saat Tuhan Yesus pergi ke sinagoge di Nazaret, lalu kepada-Nya diberikan Kitab Nabi Yesaya dan setelah dibuka, Dia menemukan nas dari Kitab Nabi Yesaya 61:1-2. Persoalan yang muncul di sini adalah kata heuren dari kata kerja heuriskein yang artinya “menemukan”. Maksud dari kata heuren adalah ketika Tuhan Yesus menerima gulungan Kitab Nabi Yesaya dari kepala sinagoge (archisynagoge), Dia menemukan teks tersebut. Pertanyaan yang muncul adalah nas Yesaya 61:1-2 yang ditemukan Tuhan Yesus tersebut adalah apakah karena kepala sinagoge telah memberi tanda, ataukah Tuhan Yesus yang mencari-cari perikop sehingga Dia menemukan Yesaya 61:1-2. Apabila nas tersebut ditemukan Tuhan Yesus dari kepala sinagoge, berarti itu merupakan bagian dari leksionari. Namun apabila Tuhan Yesus yang mencari nas tersebut, berarti Dia mencari landasan teologis bagi karya Mesianis-Nya. Hipotesis yang kedua ini tampak janggal karena faktualnya, Tuhan Yesus pada Sabat itu disodori Kitab Nabi Yesaya karena bagian dari Kitab Nabi Yesaya pada hari itu merupakan bacaan yang telah ditentukan sebagai bagian dari leksionari setelah umat membaca Kitab Taurat.

Atas dasar teks Yesaya 61:1-2 tersebut Tuhan Yesus menyampaikan pengajaran-Nya. Karena itu setelah Dia mengajar, Tuhan Yesus berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya(Luk. 4:21). Hipotesis ini menunjukkan bahwa leksionari sejak awal telah memainkan peranan besar dalam kehidupan umat Israel maupun Tuhan Yesus. Penelitian Adolf Büchler dalam The Reading of the Law and Prophets in a Triennial Cycle menunjukkan bagaimana pola pembacaan di Palestina memiliki siklus selama tiga tahun dan membagi Kitab Pentateukh menjadi 153 sampai 167 pembacaan. Kemudian, siklus Babilonia selama satu tahun membagi Kitab Pentateukh menjadi 54 päräshoth (pembagian) yang dimulai dari bulan Nisan atau sekitar bulan Maret – April (Bucher 1895, 56). Melalui siklus pembacaan leksionari tersebut, umat Israel membaca Kitab Pentateukh secara sinambung (lectio continua).

Pengaruh leksionari tetap berlanjut setelah Tuhan Yesus wafat dan bangkit. Para murid dan gereja perdana mewarisi pola penggunaan leksionari dalam ibadah mereka. Dengan warisan dari pola ibadah di sinagoge, tidak tertutup kemungkinan bahwa Kitab Injil ditulis dalam rangka memenuhi kebutuhan ibadah gereja perdana. Philip Carrington pada 1952 membuat suatu teori yang menyatakan bahwa Injil Markus merupakan suatu koleksi dari 48 (atau 49) bagian yang disesuaikan dengan tahun liturgi, dan 14 bagian untuk perayaan Paskah (Carrington 1960, 100-103). Dasar teori Carrington adalah struktur dari Codex Vaticanus yang membagi Injil Markus ke dalam 62 subbagian, yaitu 48 + 14. Demikian pula halnya dengan Injil Matius sebagai Injil yang diduga disusun secara liturgis dan mengikuti pola pembacaan tahun Yahudi. Teori Carrington tersebut didukung Goulder dalam tulisannya yang berjudul: Midrash and Lection in Matthew bahwa Injil Matius ditulis menurut siklus di sinagoge. Karena itu, menurut Goulder, M.D. (Goulder 1974, 172), kesaksian Injil Matius berkaitan dengan perayaan Pentakosta (pasal 5-7), Tahun Baru (pasal 10), Pondok Daun (pasal 13), Hanukkah Menorah atau perayaan Cahaya (pasal 17-18), dan Paskah (pasal 23-25). Goulder berkata:

Kitab Injil bukanlah sekadar suatu genre sastrawi, studi terhadap Injil Matius memperlihatkan: Injil adalah suatu genre liturgis. Kitab Injil merupakan sebuah buku leksionari, suatu rangkaian “Injil-Injil” yang digunakan dalam ibadah mingguan dengan pola lectio continua. Kesimpulan seperti ini selaras dengan pandangan dari penulis Injil …. Injil ditetapkan dari minggu ke minggu, tahun ke tahun, untuk ibadah yang berakar pada ibadah Yahudi dan utamanya ibadah Yahudi dalam berbagai bentuk. Injil menguraikan bacaan umat Yahudi dengan tradisi Kristen sesuai dengan pola kebiasaan orang Yahudi: dan sebagaimana umat Yahudi membaca Taurat dengan pola lectio continua sepanjang tahun (Goulder 1969, 172). [4]

Sejauh ini belum dilakukan penelitian tentang struktur dan pola Injil Lukas sebagaimana yang telah ditempuh Carrington dan Goulder. Namun, tentang Injil Yohanes telah dilakukan suatu penelitian. Menurut Aileen Guilding, struktur Injil Yohanes memiliki pola sinagoge Palestina dengan siklus tiga tahun yaitu dari Kitab Pentateukh dan Nabi-Nabi. Dengan kata lain, Injil Yohanes memiliki sistematika dan secara eksplisit menggunakan leksionari Perjanjian Lama. Itu sebabnya tidak berlebihan bilamana John Reumann dalam A History of Lectionaries: From the Synagogue at Nazareth to Post-Vatican II menyatakan:

Pembacaan tulisan-tulisan suci dalam ibadah umat Kristen merupakan warisan dari sinagoge. Tradisi Yahudi melacak praktik itu sampai ke Musa (Ul. 31:10-12; bdk. 2Raj. 22:8-13; 23:1-3) dan Ezra (bdk. Neh. 8). Kemungkinan besar sinagoge adalah tempat asal-usul pembacaan mingguan, sebagian sebagai pengganti bagi persembahan kurban di bait suci (Reumann 1977, 118).

Apabila disebutkan bahwa para penulis Kitab Injil dan jemaat perdana mewarisi tradisi dan pengaruh leksionari dari umat Israel dalam ibadah di sinagoge, itu tidak berarti mereka menerima secara mentah-mentah atau tanpa seleksi. Warisan tradisi dan pengaruh leksionari dari pola sinagoge kepada gereja perdana memang terlihat dari pola pembacaan kitab-kitab Perjanjian Baru secara leksionaris. Namun, isi kesaksian dari seluruh Kitab Injil dan Surat-Surat Rasuli merupakan kesaksian iman yang otentik, khususnya setelah mereka mengalami perjumpaan dengan Kristus yang wafat dan bangkit. Dengan demikian, para rasul dan gereja perdana bukan sekadar mengadopsi seluruh elemen yang dikembangkan dalam ibadah sinagoge. Gereja mewarisi sistematika, struktur, dan pola ibadah sinagoge. Namun, substansi dan kekayaan kesaksian iman mereka ditentukan oleh kehidupan dan karya Kristus. Karena itu, pengaruh pola ibadah sinagoge dalam kehidupan umat Kristen sebagian masih berlanjut (kontinuitas), dan pada pihak lain terputus (diskontinuitas) sebab mereka mengalami perjumpaan dengan Allah melalui Kristus.

Leksionari pada Zaman Patristik Sampai Abad VIII

Sebutan “leksionarium” tidak kita jumpai pada zaman Patristik. Namun, penggunaan pola leksionari dapat kita lihat dari “Konstitusi Apostolik” (Latin: constitutio apostolic) pada abad IV. Penetapan Konstitusi Apostolik sangat penting karena di dalamnya, kita dapat menjumpai peraturan gereja yang mencakup berbagai masalah baik kehidupan seorang uskup, diaken, imam dan umat. Di samping itu, Konstitusi Apostolik menunjukkan ciri kehidupan rohani seorang uskup dan perannya untuk menafsirkan isi Alkitab. Di bagian karakter dan pengajaran seorang Uskup, Konstitusi Apostolik menyatakan:

“… dengan demikian ia mungkin dimampukan untuk menafsirkan Kitab Suci dengan hati-hati, menguraikan Injil dalam kaitannya dengan kitab nabi-nabi dan dengan kitab-kitab Taurat; dan memungkinkan uraian dari kitab-kitab Taurat dan kitab nabi-nabi berkaitan dengan kitab Injil ….” (Apostolic Contitutions Book II section 2, V.A).

Dalam hal ini, Konstitusi Apostolik dengan jelas menyatakan bahwa pembacaan Alkitab dalam kehidupan gereja menggunakan kitab para Nabi dan hukum Taurat yang berkaitan dengan Injil. Kemudian di Konstitusi Apostolik bagian 8.5.5 menyatakan: “reading of the law and the prophets, of our epistles and Acts, as well as the Gospels.” Dengan demikian gereja pada abad IV telah menggunakan pola leksionari dengan lima bacaan Alkitab, yaitu Hukum Taurat, Kitab Para Nabi, Surat-Surat Rasuli, Kisah Para Rasul, dan Injil (Brokhoff 1993, 5). Karena itu, tidak mengherankan bilamana khotbah-khotbah St. Agustinus dari Hippo (13 November 354 – 28 Agustus 430) menggunakan pola leksionaris dengan dua bacaan dalam ibadah yang salah satunya menggunakan Perjanjian Lama. Kadang-kadang, St. Agustinus menggunakan lectio-continua (Lengeling 1962, 132b-133b). Pola leksionari yang dibuat St. Agustinus dapat dilihat dari tulisan G.G. Willis dalam St. Augustine’s Lectionary (Willis 1962, 22-57).

Pada masa kekaisaran Charlemagne atau Karel yang Agung, seluruh gereja di wilayah kerajaannya diwajibkan untuk menggunakan leksionari sebab para uskup dan imam pada waktu itu hanya cenderung menyampaikan khotbah pada hari raya gerejawi saja, sehingga mereka tidak merasa bertanggungjawab menyampaikan khotbah pada masa Minggu Biasa. Namun, tidak demikian sikap Charlemagne atau Karel Agung (742-814). Ia menghendaki seluruh gereja di wilayah kerajaannya menyampaikan pemberitaan firman bukan hanya pada hari raya gerejawi, melainkan juga pada masa Minggu Biasa. Untuk itu, Charlemagne memerintahkan setiap gereja menggunakan leksionari sebagai dasar pemberitaan firman. Dasar pemikiran Charlemagne adalah bahwa tanpa leksionari tidak akan tersedia suatu homili, dan tanpa suatu homili tidak akan akan pemberitaan firman (Old 1999, 192). Melalui pembacaan Alkitab secara leksionaris, Charlemagne menghendaki suatu pemberitaan firman yang bersifat tetap sebab pemberitaan firman dipandang sebagai sesuatu yang esensial.

Di samping gereja Barat, kita juga dapat melihat penggunaan leksionari di kalangan gereja Timur, yaitu Gereja Orthodoks Yunani. Pola leksionari di kalangan Gereja Orthodoks Yunani terdiri dari Injil, Surat Rasuli, dan Prophetologion. Makna prophetologion menunjuk pada daftar bacaan dari Perjanjian Lama yang disusun menurut siklus harian (Vespers) dalam tahun gerejawi. Susunan leksionari gereja Orthodoks meliputi:

  • Injil Yohanes dibaca mulai hari Paskah sampai hari Pentakosta.
  • Injil Matius dibagi menjadi 17 minggu yang dimulai hari Senin setelah hari Pentakosta.
  • Injil Lukas dibagi menjadi 19 minggu yang dimulai hari Senin sesudah peninggian salib suci (Elevation of the Holy Cross).
  • Injil Markus dibaca selama masa Pra-Paskah.

Leksionari pada Masa Reformasi

Reformasi yang dicanangkan Martin Luther pada 1517 merupakan tindakan pembaruan dalam kehidupan gereja. Namun di tengah-tengah upaya pembaruan dalam kehidupan gereja tersebut, Martin Luther tidak pernah bermaksud meniadakan leksionari yang telah digunakan Gereja Roma Katolik. Prinsip pembaruan Martin Luther terhadap kehidupan gereja yang utama adalah apakah ajaran dan pola ibadah yang dilakukan gereja menyatakan Kristus secara jelas dan benar, dan bukan mengaburkan-Nya. Karena itu, apabila dijumpai beberapa hal yang mengaburkan Kristus dan mengajarkan suatu ajaran palsu, hal itu harus diperbarui atau dirombak. Dalam hal ini, leksionari tidak pernah dianggap untuk dibuang, tetapi perlu direvisi. Revisi yang diajukan Martin Luther terhadap leksionari, misalnya perayaan Tranfigurasi Kristus, dari yang semula dilaksanakan setiap tanggal 6 Agustus dipindahkan ke Minggu terakhir sesudah Epifani (Ring 1998, The Development of Lectionaries and their Use in the Lutheran Church).

Dengan demikian, sikap Martin Luther yang dilanjutkan Gereja Lutheran menempatkan hari Minggu dan perayaan gerejawi sebagai sesuatu yang berguna bagi kehidupan spiritualitas umat. Motivasi perayaan hari raya gerejawi tersebut dilakukan bukan untuk memperoleh keselamatan sebab segala upaya manusiawi untuk memperoleh keselamatan merupakan upaya yang bertentangan dengan Injil Kristus. Prinsip teologis Martin Luther tersebut kemudian dinyatakan oleh Konfesi Augsburg (Confessio Augustana) pada 25 Juni 1530. Pernyataan konfesi Augsburg adalah “Many traditions are kept on our part, for they lead to good order in the Church, such as the Order of Lessons in the Mass [i.e., the lectionary] and the chief festivals” (Article XXVI). Artinya, berbagai tradisi gerejawi yang ada merupakan bagian dari kehidupan gereja reformatoris, sebab tradisi-tradisi gerejawi tersebut dapat membawa umat kepada ketertiban dalam kehidupan gereja seperti halnya pembacaan Alkitab saat Misa (leksionari) dan perayaan-perayaan gerejawi.

Johanes Calvin memiliki prinsip bahwa yang paling utama adalah pemberitaan firman, bukan perayaan gerejawi. Umat diwajibkan untuk mengenal seluruh bagian Alkitab. Karena itu setiap hari Minggu, umat dianjurkan untuk membaca setiap pasal dari kitab-kitab dalam kanon Alkitab. Namun untuk mendukung tahun liturgis, Calvin menyarankan umat untuk menggunakan Injil dan Surat Rasuli. Secara tersirat, Calvin menyetujui pola leksionari yaitu dengan menggunakan Injil dan Surat Rasuli. Pada sisi lain, Calvin jelas lebih menyukai pembacaan Alkitab dengan pola lectio continua. Dengan prinsip teologis Calvin tersebut, Westminster Directory pada 6 Februari 1645 di Ediburgh menyatakan, “Semua kitab-kitab kanonik dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (dan tak satu pun kitab Apokrifa) harus dibaca di depan umum dalam bahasa biasa, sesuai dengan terjemahan yang terbaik, dengan jelas, sehingga semua orang dapat mendengar dan mengerti. Berapa banyak suatu bagian harus dibaca, itu tergantung kebijaksanaan sang pendeta, tetapi untuk nyamannya, biasanya satu pasal dari tiap-tiap Perjanjian dibaca di setiap ibadah; dan kadang-kadang boleh lebih jika pasal tersebut pendek, atau sesuai kebutuhan” (The Encyclopedia of Christianity, Volume 4).

Sebaliknya, Zwingli dan Thomas Müntzer menolak penggunaan leksionari sepanjang tahun gerejawi. Mereka lebih menyukai pola pembacaan secara lectio continua. Dalam hal ini, Zwingli lebih mengutamakan Injil, sebab melalui Injil umat dapat mengenal Kristus secara langsung. Penolakan Zwingli bukan hanya sebatas pada pola pembacaan leksionari, melainkan juga menolak seluruh otoritas dan pengajaran gereja abad pertengahan. Bahkan pada tahun 1516, Zwingli mempertanyakan sumber-sumber yang digunakan gereja, seperti pengajaran dari para bapa gereja, konsili-konsili, dan dekrit yang pernah dikeluarkan para paus. Bagi Zwingli, hanya firman Allah saja yang boleh diperhatikan dan bukan kata-kata manusia. Apa yang difirmankan dalam Alkitab adalah jelas bagi setiap orang asalkan direspons manusia dengan sikap rendah hati dan kerinduan untuk diajar Allah (McKim 1998, 250). Zwingli menegaskan bahwa Alkitab yang menafsirkan Alkitab, dan bukan para bapa gereja yang menafsirkan Alkitab (the Scriptures interpreted the Scriptures not the fathers interpreted the Scriptures). Pertanyaan yang muncul terhadap sikap Zwingli tersebut adalah apakah saat membaca Alkitab seseorang bebas dari pemahaman teologis atau perspektif tertentu? Secara positif setiap orang dapat memiliki prapaham tertentu dalam membaca Alkitab, dan secara negatif setiap orang juga kemungkinan besar memiliki prasangka tertentu dalam membaca Alkitab.

Maksud sikap prapaham adalah bahwa seseorang memiliki suatu pemahaman teologis, tetapi ia bersedia untuk terbuka dan menerima apa yang dimaksudkan oleh teks perikop atau ayat Alkitab yang dibacanya. Karena itu dengan sikap prapaham, seseorang dimungkinkan untuk diperbarui oleh firman Tuhan. Sikap prasangka adalah bahwa seseorang telah memiliki suatu penilaian dan pemikiran tertentu yang sifatnya tertutup, sehingga ia memaksakan kehendak atau pemikirannya sendiri saat membaca perikop atau ayat Alkitab. Jadi bagaimanakah seseorang yang membaca Alkitab mampu menafsirkan Alkitab manakala ia dipengaruhi prasangka atau persepsi yang salah? Tidak ada jaminan bahwa seseorang yang membaca dan menafsirkan Alkitab menurut “Alkitab” akan menghasilkan ajaran yang alkitabiah.

Di tengah-tengah pergolakan reformasi, Gereja Roma Katolik menyelenggarakan Konsili Trente pada 1545–1563. Salah satu ketetapan yang dihasilkan Konsili Trente adalah mengesahkan kalender liturgi dan penggunaan pola leksionari dengan siklus satu tahun. Ketetapan konsili Trente tersebut memiliki pengaruh yang begitu besar dalam kehidupan Gereja Roma Katolik. Model leksionari hasil Konsili Trente dengan ciri dua pola pembacaan, yaitu Surat Rasuli dan Injil. Kadang-kadang dalam suatu momen hari raya tertentu, leksionari model Konsili Trente menggunakan Perjanjian Lama untuk mengganti Surat Rasuli. Bagian Perjanjian Lama yang digunakan setiap hari Minggu hanyalah Mazmur. Bagian dari suatu kitab dari Perjanjian Lama hanya dibaca saat Epifani dan selama Minggu Suci, yaitu ibadah yang dilaksanakan di antara Minggu Palem dengan Kamis Putih (Allen Jr. 2007, 2). Leksionari model Trente mengikuti siklus tahunan, yaitu digunakan dari tahun ke tahun selama 400 tahun lebih sampai Konsili Vatikan II.

Penetapan Leksionari di Konsili Vatikan II

Konsili Vatikan II merupakan persidangan yang dimulai pada 11 Oktober 1962 oleh Paus Yohanes XXIII, dan ditutup oleh Paus Paulus VI pada 8 Desember 1965. Suasana, arah pemikiran teologi, dan isi pembahasan materi dalam Konsili Vatikan II tersebut dipengaruhi oleh sikap Paus Yohanes XXIII yang terbuka dan kerinduannya untuk memulai suatu era yang baru dalam kehidupan gereja. Menurut Paus Yohanes XXIII, tiba saatnya Gereja Roma Katolik membuka jendela sehingga umat dapat hidup dalam suasana yang lebih segar. Karena itu dalam konsili Vatikan II ini, Paus Yohanes XXIII mengundang umat Kristen di luar Katolik. Atas undangan ini, denominasi gereja Protestan dan Orthodoks Timur hadir dalam konsili Vatikan II. Pelaksanaan konsili Vatikan II berlangsung selama tiga tahun. Namun karena Paus Yohanes XXIII wafat pada 3 Juni 1963, maka Paus Paulus VI pada 21 Juni 1963 memimpin Konsili Vatikan II. Salah satu ketetapan dari Konsili Vatikan II adalah menegaskan bahwa ada tiga aspek utama tentang pengajaran firman Allah, yaitu: Alkitab, tradisi gereja, dan kewenangan gereja dalam mengajar. Ketiga aspek tersebut saling terjalin dan saling mendukung di bawah pimpinan Roh Kudus (Dei Verbum, chapter II). Konsili Vatikan II berpandangan bahwa kesaksian dan penafsiran Alkitab tidak dapat terlepas dari tradisi dan pengajaran gereja. Sebaliknya, tradisi gereja dan pengajaran gereja tidak dapat terlepas dari otoritas Alkitab sebagai firman Tuhan. Demikian pula, isi pengajaran gereja harus bersumber kepada Alkitab dan tradisi gereja.

Konstitusi Liturgi yang disebut dengan The Constitution on the Sacred Liturgy (Sacrosanctum Concilium) sebagai bagian dari Konsili Vatikan II menyatakan bahwa Alkitab merupakan bagian terpenting dalam melaksanakan liturgi. Melalui Alkitab, umat dapat membaca dan memperoleh penjelasan dalam khotbah, menyanyikan Mazmur, menaikkan doa, dan menyanyikan nyanyian-nyanyian liturgis yang diinspirasi dari Alkitab (Sacrosanctum Concilium, Artikel XXIV). Karena itu, the Constitution on the Sacred Liturgy menyatakan:

Pusaka di dalam Alkitab harus dibuka dengan kelimpahannya, sehingga makanan yang lebih bergizi tersedia bagi umat percaya di meja Firman Allah. Dengan cara demikian suatu bagian yang lebih representatif dari kitab-kitab suci akan dibaca oleh umat sesuai dengan siklus tahun gerejawi (Sacrosanctum Concilium, artikel 51).

Dalam hal ini, Konsili Vatikan II menegaskan sikap gereja untuk membuka kekayaan Alkitab dengan kelimpahannya, sehingga memperkaya setiap umat untuk memperoleh makanan rohani dari firman Allah, dan perlunya suatu bagian dari Alkitab yang representatif dapat dibaca oleh umat dalam suatu siklus tahunan. Dengan sikap gereja yang demikian, Konsili Vatikan II memberi perhatian besar kepada perkembangan liturgi. Melalui Sacrosanctum Concilium, Konsili Vatikan menyatakan, “The study of sacred liturgy is to be ranked among the compulsory and major courses in seminaries and religions houses of studies; in theological faculties it is to rank among the principal courses. It is to be taught under its theological, historical, spiritual, pastoral, and juridical aspects.Liturgi kini menjadi suatu program wajib dan utama di seminari-seminari dan lembaga gereja seperti fakultas teologi. Karena dalam liturgi, Allah bersabda kepada umat-Nya, dan umat merespons Allah melalui nyanyian dan doa.

Sacrosanctum Concilium artikel 52 menyatakan, “Melalui khotbah, misteri iman dan kaidah-kaidah hidup Kristen diuraikan dari teks Alkitab selama tahun liturgis; karena itu, khotbah harus dihargai sebagai bagian dari liturgi, bahkan pada saat Misa dirayakan yang dilakukan oleh umat pada hari Minggu dan perayaan-perayaan yang diwajibkan, khotbah tidaklah boleh dihilangkan kecuali dengan alasan yang serius”. Dalam hal ini, Konsili Vatikan II menegaskan bahwa melalui khotbah, misteri iman dan pedoman iman Kristen diuraikan berdasarkan kesaksian Alkitab selama tahun liturgi. Karena itu, khotbah harus dihargai sebagai bagian dari liturgi. Penyelenggaraan Misa atau ibadah dan perayaan gerejawi wajib dilaksanakan dan tidak boleh ditiadakan kecuali dengan alasan yang sangat serius.

Kelompok Kerja Leksionari Selama Konsili Vatikan II

Sacrosanctum Concilium Artikel 35.1 menyatakan, “In sacred celebrations there is to be more reading from holy scripture, and it is to be more varied and suitable.” Konsili Vatikan II menyatakan bahwa dalam menyelenggarakan ibadah haruslah lebih banyak membaca Alkitab dengan pola pembacaan yang lebih cocok dan variatif. Mandat konsili Vatikan II tersebut membawa pengaruh yang luar biasa dalam pola pembacaan Alkitab. Coetus XI sebagai suatu kelompok kerja yang dibentuk Konsili Vatikan di bidang daftar pembacaan Alkitab (leksionari) mulai bekerja di awal tahun 1964. Kelompok kerja tersebut dipandu Fr. Godfrey Diekmann, seorang dari ordo Benediktus dari biara Collegeville Minnesota. Untuk memperjelas tentang pengertian leksionari, maka Fr. Godfrey Diekmann membuat presentasi tentang konsep pembaruan leksionari dalam pertemuan Sacrosanctum Concilium bulan April 1964. Prinsip utama dari pembaruan leksionari didasarkan pada misteri Kristus dan sejarah keselamatan-Nya tidak dapat dilepaskan dari pembacaan Alkitab. Karena itu, pola pembacaan Alkitab (leksionari) yang akan diperbarui nanti harus mengandung:

  • Keberadaan gereja lahir dari misteri keselamatan Allah yang menyeluruh di dalam Kristus, dan karena itu umat dipanggil untuk mewujudkan misteri keselamatan tersebut.
  • Misteri iman yang menjiwai seluruh kehidupan umat harus dijelaskan dalam khotbah.
  • Seluruh berita Perjanjian Lama telah digenapi dalam khotbah dan karya Kristus.
  • Perhatian akan pusat iman kepada misteri Paskah tidak boleh melupakan tema-tema yang lain seperti kedatangan Kerajaan Allah.
  • Tahun liturgi perlu menyediakan suatu tempat yang ideal untuk memproklamasikan berita keselamatan secara setia dan tersusun secara rapi.

Kelompok kerja tersebut dibantu oleh Fr. Gaston Fontaine. Ia menyajikan hasil-hasil survei yang analitis tentang leksionari mulai dari beberapa abad sebelum Kristus sampai abad modern, termasuk leksionari dari gereja-gereja Latin (Roma, Galilea, Ambrosian, dan sebagainya), juga dari Gereja Orthodoks, Gereja Reformasi, Lutheran di Eropa dan Amerika Utara. Demikian pula, Fontaine menyajikan pola dan sejarah leksionari dari Gereja Anglikan dan Gereja Roma Katolik kuno. Dengan materi yang disajikan secara komprehensif, para peserta memperoleh informasi yang berlimpah tentang leksionari dalam berbagai variasi dan latar belakang. Lalu, 31 ahli teologi menyeleksi perikop-perikop Alkitab dan membuat daftar bacaan untuk dibaca selama tahun liturgi. Hasil daftar bacaan yang telah dibuat 31 ahli tersebut kemudian dikirim kepada sekitar 100 ahli dalam bidang katekisasi dan para pastor agar mendapat masukan dan tanggapan. Setelah itu, materi tersebut didistribusikan kepada 2.500 orang untuk memperoleh saran dan kritik (Holeton 2006, 225-226).

Semua masukan, tanggapan, kritik dan saran dari berbagai kalangan kemudian dikumpulkan untuk dibahas. Tim ahli teologi diberi kesempatan untuk memberi tanggapan terhadap seluruh masukan dan kritik tersebut. Pada 1966, kelompok kerja tersebut telah siap dengan draf terakhir tentang bentuk leksionari yang baru. Pergumulan kelompok kerja tersebut adalah apakah model leksionari yang baru itu memiliki siklus dua tahun ataukah tiga tahun. Akhirnya, mereka sepakat untuk menggunakan leksionari dengan siklus tiga tahun. Para ahli dalam kelompok kerja tersebut sepakat bahwa siklus tiga tahun itu didasarkan kepada jumlah Injil-injil sinoptis (Matius, Markus, dan Lukas). Namun sebelum disahkan, konsep leksionari baru tersebut harus diuji coba oleh berbagai gereja selama dua siklus yaitu enam tahun. Proposal tentang konsep leksionari yaitu Ordo lectionum pro doministicis, feriis et festis sanctorum pertama kali dipublikasikan pada 1 Juli 1967. Konsep yang diterbitkan itu kemudian diedarkan kepada konferensi episkopal, sidang para uskup setelah Konsili Vatikan II, dan 800 para ahli di bidang: biblika, liturgi, katekisasi, dan pastoral. Ada 6.500 orang yang memberikan tanggapan. Berdasarkan tanggapan dan kritik tersebut akhirnya, konsep leksionari yang ada diperbaiki dan siap dipublikasikan sebagai proposal terakhir pada musim semi 1969. Paus Paulus VI kemudian menetapkan leksionari yang baru itu dengan sebutan Ordo Lectionarium Missae (the Lectionary for the Mass) pada hari Pentakosta 1969. Dengan demikian, sejak hari Pentakosta 1969 seluruh umat Katolik di muka bumi mulai menggunakan Ordo Lectionarium Missae (Holeton 2006, 228).

Ordo Lectionarium Missae (OLM)

Sesuai dengan prinsip teologis Konsili Vatikan II, hendaknya setiap umat menghormati Alkitab sebagai sumber kehidupan rohani, karena Alkitab merupakan fondasi kehidupan umat percaya dan inti dari seluruh studi teologi. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa tujuan pembentukan leksionari yang baru tersebut pada hakikatnya didasarkan kepada kerinduan umat akan firman Tuhan sebab Alkitab merupakan pondasi utama bagi spiritualitas umat dan sumber seluruh studi teologi. Namun pertanyaannya adalah umat yang mana? Apakah umat dari Gereja Roma Katolik saja?

Dengan hati yang diterangi Roh Kudus, kita dapat melihat bahwa keputusan-keputusan Konsili Vatikan II merupakan cara kerja Allah bagi gereja-Nya di tengah-tengah tantangan zaman dan perpecahan gereja. Namun ternyata, kita lebih suka membawa luka-luka sejarah, sehingga tidak mampu melihat dengan mata rohani yang jernih. Hal ini seakan-akan proses pembaruan dalam kehidupan Gereja Roma Katolik tidak memiliki sangkut-paut dalam kehidupan gereja kita. Padahal melalui Konsili Vatikan II, Gereja Roma Katolik telah melakukan reformasi yang begitu luar biasa. Dasar dari reformasi dalam gereja Roma Katolik tersebut menunjukkan adanya kesediaan diri untuk membuka diri, membaca tanda-tanda zaman, dan menawarkan air sejuk perdamaian kepada semua pihak. Dalam dekrit Unitatis Redintegratio, Konsili Vatikan II menyatakan, “Pulihnya kesatuan seluruh umat Kristen merupakan salah satu kepedulian utama dari Konsili Vatikan II. Kristus Tuhan mendirikan satu gereja dan hanya satu gereja. Namun, banyak persekutuan umat Kristen menyatakan diri mereka sebagai orang-orang yang menjadi pewaris sejati dari Yesus Kristus; mereka semua mengaku sebagai pengikut-pengikut Tuhan tetapi saling berbeda dalam pemikiran dan menempuh jalan yang berbeda, seakan-akan Kristus sendiri terbagi-bagi. Perpecahan yang demikian itu bertentangan dengan kehendak Kristus, menjadi batu sandungan bagi dunia, dan merugikan pemberitaan Injil kepada setiap makhluk” (Unitatis Redintegratio, artikel 1). Pemulihan akan kesatuan dalam kehidupan seluruh umat Kristen merupakan salah satu perhatian utama di dalam Konsili Vatikan II karena Kristus Tuhan adalah pendiri gereja yang satu, dan satu-satunya gereja. Namun, harus diakui bahwa umat yang mengikut Kristus memiliki pemahaman dan cara pandang yang berbeda. Seluruh umat Kristen dari berbagai denominasi adalah pewaris Kristus. Pada sisi lain, Konsili Vatikan II menyadari bahwa perpecahan pada hakikatnya bertentangan dengan kehendak Kristus, menjadi batu sandungan bagi dunia dan menjadi penghalang bagi gereja menyaksikan berita Injil kepada segala mahluk.

Jiwa ekumenis tersebut juga tercermin dalam prinsip dasar penyusunan Ordo Lectionarium Missae (OLM). Karena itu, tidak berlebihan jika Massey Shepherd, seorang imam dari Gereja Episkopal dan profesor liturgi dari the Church Divinity School of the Pacific, Berkeley, California menyatakan bahwa tidak ada gereja yang mampu menghimpun berbagai sumber daya manusia seperti para ahli biblika, liturgi, ahli di bidang katekisasi, dan pastoral sebagaimana yang telah dilakukan Gereja Roma Katolik dalam Konsili Vatikan II karena konsili tersebut mampu menghasilkan suatu keputusan gerejawi yang begitu komprehensif, progresif, dan siap menghadapi tantangan zaman.

David R. Holeton dalam Reading the Word of God Together menyatakan, Jelas, bahwa apa yang sedang berkembang tersebut menangkap imajinasi banyak orang yang melihat bahwa leksionari baru itu bukan semata-mata melayani kebutuhan pascakonsili Gereja Katolik Roma, melainkan melayani kebutuhan “gereja-gereja leksionari” secara keseluruhan(Holeton 2006, 229). Ordo Lectionarium Missae membantu gereja-gereja yang selama ini masih menggunakan leksionari lama warisan Konsili Trente. Ciri khas Ordo Lectionarium Missae (OLM) dibandingkan dengan leksionari di Trente yang pernah ditetapkan dan digunakan selama 400 tahun lebih, yaitu:

  1. Siklus selama tiga tahun;
  2. Terdiri dari tiga bacaan untuk setiap Minggu dan hari raya gerejawi;
  3. Untuk hari raya gerejawi secara khusus akan menggunakan Injil Yohanes;
  4. Selama masa pasca-Paskah akan menggunakan Kitab Kisah Para Rasul sebagai pengganti Kitab Perjanjian Lama;
  5. Pada minggu biasa setelah Pentakosta dan juga sesudah Minggu Epifani menggunakan pola pembacaan yang semisinambung;
  6. Bagian perikop dari Injil Yohanes yang tidak digunakan selama hari raya gerejawi akan dipakai pada tahun B untuk melengkapi Injil Markus, karena Injil Markus relatif lebih pendek yaitu memiliki 16 pasal saja.

 Proses Revisi terhadap Ordo Lectionarium Missae

Apa yang dikatakan David R. Holeton bahwa OLM tidak terbatas pada lingkungan Gereja Roma Katolik saja akhirnya terbukti. Sejak 1969, berbagai denominasi di luar gereja Roma Katolik begitu antusias menggunakan Ordo Lectionarium Missae. Namun, penggandaan OLM menjadi tidak terkendali sebab setiap denominasi atau pengguna OLM membuat perubahan-perubahan menurut kehendak mereka sendiri. Mereka mengganti dengan menambah jumlah ayat-ayat yang dianggap terlalu pendek, atau sebaliknya perikop yang dianggap pendek kemudian diperpanjang. Mereka mengganti suatu bacaan pada suatu hari Minggu tertentu dengan bacaan lain lain. Selain itu mereka juga mengubah bacaan pada hari Minggu sesudah Pentakosta, sehingga versi dari OLM semakin membingungkan. Di tengah-tengah kekacauan tersebut, suatu organisasi ekumenis dalam bidang liturgi, yaitu The Consultation on Common Texts mengambil inisiatif.

The Consultation on Common Texts (CCT) kemudian mengadakan pertemuan di Washington, D.C. pada 29–31 Maret 1978 untuk membahas masalah ini. Pertemuan tersebut dihadiri oleh wakil dari 13 gereja di Amerika Utara bersama dengan Fr. Gaston Fontaine yang pernah memainkan peran yang penting dalam proses penyusunan Ordo Lectionarium Missae. Pertemuan tersebut dipimpin Profesor Massey Shepherd dengan agenda mengatasi kebingungan dari berbagai gereja dalam penggunaan Ordo Lectionarium Missae. Tampaknya penggunaan Ordo Lectionarium Missae terjadi karena dijumpai masih ada berbagai kekurangan dan kelemahan, sehingga setiap pengguna berusaha untuk memperbaiki menurut pandangan dan persepsi mereka masing-masing. Dalam konteks ini, CCT tidak memiliki wewenang untuk melakukan revisi terhadap Ordo Lectionarium Missae. CCT sebagai suatu grup ekumenis berupaya membantu mengakomodasi masukan dan tanggapan kritis dari berbagai gereja terhadap Ordo Lectionarium Missae.

Langkah yang ditempuh the Consultation on Common Text adalah dengan membentuk suatu tim dengan nama “the North American Committee on Calendar and Lectionary” (NACCL). Tim dari NACCL tersebut diketuai Rev. Dr. Louis Brinner, seorang dari Gereja Presbiterian. Sedangkan, anggota NACCL terdiri ahli biblika dan liturgi dengan latar belakang dari Gereja Roma Katolik, Episkopal, Presbiterian, Lutheran, dan gereja-gereja United Methodist (Holeton 2006, 232). Revisi dan koreksi yang dilakukan terhadap Ordo Lectionarium Missae untuk daftar bacaan di siklus Natal dan siklus Paskah hampir tidak ada. Namun, masukan dan tanggpan kritis dari berbagai gereja muncul berkenaan dengan daftar bacaan setelah Pentakosta, yaitu masa Minggu Biasa, khususnya bacaan dari Perjanjian Lama. Semula bahan bacaan dari Perjanjian Lama di Ordo Lectionarium Missae masih menggunakan tipologi yang masih sempit untuk menunjukkan nubuat yang telah digenapi oleh Kristus dalam Kitab Injil. Karena itu, prinsip tugas NACCL adalah “in order to provide readings that are more completely representative of the Hebrew Bible and not simply prophetic or typological” (Consultation on Common Texts 1978). NACCL kemudian merevisi tipologi yang sempit tetapi menciptakan suatu skema yang lebih luas dalam memperlihatkan hubungan tipologi antara Perjanjian Lama dengan Kitab Injil. Untuk Tahun A, yaitu Injil Matius secara khusus dikaitkan dengan para tokoh bapa leluhur dan kisah Musa. Untuk Tahun B, yaitu Injil Markus secara khusus dikaitkan dengan tokoh Daud. Sedang untuk Tahun C, yaitu Injil Lukas dikaitkan dengan tokoh Nabi Elia dan Elisa.

Tahun A Tahun B Tahun C
Matius Markus Lukas
Para bapa leluhur, dan Musa Raja Daud Nabi Elia, Elisa, dan kitab nabi-nabi

Selain itu, ada masukan agar peran wanita dalam sejarah umat Israel juga diberi tempat yang wajar seperti Rut dan Ester. Mungkin selama ini, leksionari yang disusun gereja kurang memerhatikan peran wanita dalam sejarah keselamatan Allah. Dengan masukan dan tanggapan kritis tersebut, NACCL kemudian melakukan koreksi terhadap Ordo Lectionarium Missae. Setelah tugas koreksi selesai, materi tersebut diterbitkan oleh the Consultation on Common Texts pada 1983 dengan sebutan “the Common Lectionary” (CL). Karena itu, sejak 1983, the Common Lectionary beredar secara luas di kalangan berbagai gereja. Mereka tertarik dengan pola, isi dan struktur dari the Common Lectionary (CL). Namun dengan pemahaman bahwa materi the Common Lectionary (CL) harus melalui pengujian di lapangan yaitu gereja-gereja yang menjadi anggota CCT selama dua siklus, yaitu: 2 x 3 tahun. Selama enam tahun, CTT bersikap terbuka untuk menerima masukan, kritik dan tanggapan dari berbagai pihak terhadap materi the Common Lectionary (CL).

Dalam perjalanan berikutnya, the Common Lectionary (CL) semakin memasuki suatu dimensi yang lebih luas di dunia internasional. Gereja-gereja Anglikan menggunakan CL merevisi Book of Common Prayer, dan Gereja Lutheran menggunakan CL untuk merevisi Lutheran Book of Worship. Sedangkan, Gereja-Gereja Presbiterian menggunakan CL untuk merevisi The Worshipbook—Services. Lalu dua tahun kemudian, mereka menerbitkan The Worshipbook—Services and Hymns. Untuk langkah selanjutnya, CCT kemudian membentuk suatu konsultasi liturgi berbahasa Inggris, yaitu English Language Liturgical Consultation”(ELLC). Pada 1985, anggota organisasi dari ELLC diminta untuk mengundang anggota-anggota gereja mereka untuk mengevaluasi the Common Lectionary (CL). Lalu pada 1987, ELLC menjadi anggota dari Dewan Gereja se-Dunia (the World Council of Churches) dan konggregasi Vatikan di bidang ibadah. Dengan keanggotaan tersebut, ELLC semakin berperan dalam lingkup yang lebih luas dalam konteks gerakan ekumenis.

Leksionari dalam Versi the Revised Common Lectionary

Leksionari versi the Common Lectionary (CL) telah diterbitkan CCT pada 1983 dengan pengertian untuk mendapat masukan dan tanggapan selama dua siklus, yaitu enam tahun. Selama periode tersebut muncul beberapa tanggapan dan masukan agar the Common Lectionary (CL) semakin representatif dan mencerminkan pemahaman teologis yang lebih menyeluruh. Karena itu, muncul kritik dari suatu kelompok ahli liturgi Gereja Lutheran yang mengusulkan suatu skema baru, khususnya bacaan dari Perjanjian Lama setelah Pentakosta. Mereka menghendaki agar setelah Pentakosta, yaitu masa Minggu Biasa terdapat hubungan yang erat antara pembacaan dari Perjanjian Lama dengan Kitab Injil. Sebagaimana dipahami bahwa CL pada Minggu setelah Pentakosta hanya membuat daftar pembacaan Alkitab Perjanjian Lama secara semisinambung. Karena itu, bacaan dari Perjanjian Lama dengan Kitab Injil tidak memiliki hubungan atau benang merah teologis. Konsep penyusunan CL dilatarbelakangi oleh gereja-gereja yang mengutamakan pemberitaan firman daripada penyelenggaraan Ekaristi. Karena itu, yang mereka utamakan adalah pemberitaan firman yang didasari eksegesis suatu perikop secara utuh dan menyeluruh. Namun tidak demikian leksionari versi OLM, sebab OLM lebih didasarkan kepada prinsip liturgi ekaristi, sedangkan pemberitaan firman menjadi bagian pelengkap. Leksionari versi OLM menganggap perlunya hubungan atau benang merah teologis dalam bacaan kitab Injil dan Surat Rasuli.

Untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut di atas, maka CCT mengambil kebijaksanaan dengan menyusun dua skema untuk Minggu sesudah Pentakosta, yaitu:

  1. Pola semisinambung (semicontinous) di mana bacaan Perjanjian Lama di setiap hari Minggu tidak memiliki hubungan atau benang merah teologis dengan Kitab Injil dan Surat Rasuli, tetapi memiliki hubungan atau benang merah teologis dengan bacaan Perjanjian Lama pada hari Minggu berikutnya. Dengan pola tersebut, pengkhotbah dapat menafsirkan setiap perikop secara independen dan sesuai dengan konteks yang melatarbelakanginya.
  2. Pola komplementer (complementary) di mana bacaan Perjanjian Lama di setiap hari Minggu memiliki hubungan atau benang merah teologis dengan Kitab Injil dan Surat Rasuli. Dengan pola komplementer tersebut, pengkhotbah menafsirkan perikop Perjanjian Lama bukan sebagai perikop yang bersifat independen, melainkan mempunyai hubungan yang erat. Pola komplementer tersebut seperti leksionari dalam siklus hari raya gerejawi yaitu siklus Natal dan Paskah.

Jadi ciri-ciri the Common of Lectionary adalah Pembacaan Injil masih mendominasi dan memiliki hubungan ide teologis de­ngan Perjanjian Lama dan Surat Rasuli pada hari raya gerejawi. Namun setelah Pentakosta, yaitu pada Minggu Biasa dilakukan revisi, sehingga bacaan dari Per­jan­jian Lama dan Surat Rasuli tidak senantiasa terkait dengan pembacaan Injil. Pembacaan dari Perjanjian Lama dan Mazmur dikembangkan lebih leluasa pada masa Minggu Biasa, sehingga umat dapat mendengar dan belajar lebih dalam lagi tentang ayat-ayat dan perikop dari suatu kitab yang dibacakan.

Dengan kedua pola tersebut, gereja-gereja pengguna revisi the Common Lectionary dapat memilih sesuai kebutuhan mereka. Apabila mereka memilih pola semisinambung sesudah Pentakosta, maka mereka harus konsisten sampai satu minggu sebelum Adven. Dengan perkataan lain, pola semisinambung dilakukan mulai minggu pertama sesudah Pentakosta sampai Adven. Sebaliknya, bagi gereja-gereja yang memilih untuk menggunakan pola komplementer, sebaiknya mereka juga konsisten sampai satu minggu sebelum Adven. Namun, tidak disarankan kedua pola tersebut (semisinambung dan komplementer) digabung menjadi satu selama Minggu pertama sesudah Pentakosta sampai satu minggu sebelum Adven, karena keduanya memiliki keunikannya masing-masing. Kedua alternataif pola tersebut pada masa Minggu Biasa akan memperkaya kehidupan rohani umat. Dengan pola semisinambung, umat diperkaya dengan eksegesis yang mendalam dari suatu perikop; dan dengan pola komplementer, umat akan diperkaya dengan ulasan penafsiran yang memperlihatkan hubungan antara bacaan Perjanjian Lama dengan Injil.

Sebagaimana rencana semula, yaitu hasil revisi terhadap the Common Lectionary harus melalui pengujian di tengah-tengah lapangan selama dua siklus yaitu enam tahun. Akhirnya pada 1992, hasil revisi terhadap the Common Lectionary tersebut dipublikasikan dengan nama The Revised Common Lectionary (RCL). Suatu badan bernama The English Language Liturgical Consultation (ELLC) diberi tugas untuk mempromosikan RCL dalam berbagai bahasa. ELLC juga bertanggungjawab untuk menerima saran, kritik dan tanggapan agar terjadi perubahan yang lebih baik terhadap RCL. Pada Agustus 2005, ELLC mengadakan sidang di Prague dengan keputusan mengadopsi “suatu daftar pembacaan alternatif dari Alkitab Ibrani untuk siklus Paskah yang mungkin digunakan periode tiga tahunan” (www.englishtexts.org). Bentuk daftar bacaan alternatif dari Alkitab Ibrani tersebut adalah sebagai berikut:

Tahun A

Hari Paskah Yeremia 31:1-6* Kisah Para Rasul 10:34-43
Paskah II Keluaran 15:1-11 Kisah Para Rasul 2:14a, 22-32
Paskah III Yesaya 51:1-6 Kisah Para Rasul 2:14a, 36-41
Paskah IV Yehezkiel 34:7-15 Kisah Para Rasul 2:42-47
Paskah V Amsal 4:10-18 Kisah Para Rasul 7:55-60
Paskah VI Yehezkiel 34:1-7a Kisah Para Rasul 17:22-31
Kenaikan Tuhan Daniel 7:9-14 Kisah Para Rasul 1:1-11
Paskah VII Yesaya 45:1-7 Kisah Para Rasul 1:6-14
Pentakosta Bilangan 11:24 -30* Kisah Para Rasul 2:1-21

 Tahun B

Hari Paskah Yesaya 25:6-9* Kisah Para Rasul 10:34-43
Paskah II Yesaya 65:17-25 Kisah Para Rasul 4:32-35
Paskah III Yesaya 6:1-9a Kisah Para Rasul 3:12-19
Paskah IV Zakharia 10 Kisah Para Rasul 4:5-12
Paskah V Keluargan 19:1-6 Kisah Para Rasul8:26-40
Paskah VI Kejadian 35:9-15 Kisah Para Rasul 10:44-48
Kenaikan Tuhan Daniel 7:9-14 Kisah Para Rasul 1:1-11
Paskah VII Yeremia 10:1-10a Kisah Para Rasul 1:15-17, 21-26
Pentakosta Yehezkiel 37:1-14* Kisah Para Rasul 2:1-21

 Tahun C

Hari Paskah Yesaya 65:17-25* Kisah Para Rasul 10:34-43
Paskah II 2 Raja-raja 7:1-16 Kisah Para Rasul 5:27-32
Paskah III Yesaya 61:1-3 Kisah Para Rasul 9:1-6 (7-20)
Paskah IV Yesaya 53:1-6 Kisah Para Rasul 9:36-43
Paskah V Imamat 19:9-18 Kisah Para Rasul 11:1-18
Paskah VI Ulangan 34:1-12 Kisah Para Rasul 16:9-15
Kenaikan Tuhan Daniel 7:9-14 Kisah Para Rasul 1:1-11
Paskah VII 2 Raja-raja 2:1-15 Kisah Para Rasul 16:16-34
Pentakosta Kejadian 11:1-9* Kisah Para Rasul 2:1-21

Dasar penyusunan dari Alkitab Ibrani tersebut adalah karena RCL selama masa Paskah sampai Pentakosta tidak menggunakan bacaan pertama dari Perjanjian Lama, tetapi menggunakan Kitab Kisah Para Rasul. Padahal dengan menggunakan Kitab Kisah Para Rasul selama masa Paskah sampai Pentakosta, gereja telah mengeluarkan bahan-bahan dari Perjanjian Lama. Sikap gereja tersebut sepertinya mencerminkan sikap Marcion (85–160 M) yang menolak menggunakan Alkitab Perjanjian Lama, sebab isi Alkitab Perjanjian Lama menyaksikan tentang Yahweh yang dianggap bukan sebagai Allah yang dinyatakan di dalam Kristus. Yahweh adalah Allah yang diperkenalkan agama Yudaisme. Menurut Marcion, Yahweh adalah Allah suku umat Israel yang menghukum manusia dengan penderitaan. Namun, tidak demikian dengan Yesus Kristus. Dia diutus Bapa Surgawi sebab Bapa Surgawi adalah Allah yang universal bagi seluruh umat manusia dengan memiliki tabiat ilahi yang pengasih dan penyayang. Selain itu, RCL juga menyadari bahwa peniadaan Perjanjian Lama dapat dianggap sebagai sikap yang antisemitisme. Karena itu, di samping RCL menggunakan Kitab Kisah Para Rasul mulai dari Paskah sampai Pentakosta, RCL juga memberi bacaan alternatif dari Perjanjian Lama.

Setelah mengalami proses yang panjang, akhirnya RCL dapat memperoleh bentuk yang sesuai dengan harapan bagi banyak gereja. Model dan substansi RCL dianggap mampu mengakomodasikan berbagai pemahaman teologis dengan tetap memperhatikan kekayaan tradisi iman Kristen. Karena itu, tujuan publikasi the Revised Common Lectionary (Consultation on Common Texts 1992, 9-10) adalah:

  1. Untuk menyediakan suatu pola umum (common pattern) dan keseragaman (uniform) dari kesaksian Alkitab bagi gereja-gereja dan denominasi yang terwujud dalam kalender gerejawi.
  2. Menyediakan pedoman dalam penggunaan teks Alkitab yang dibaca setiap hari Minggu bagi penyelenggara ibadah (pengkhotbah, pemusik, pelayan liturgi lainnya) dan umat.
  3. Sebagai petunjuk dan sumber bagi penyelenggara ibadah dari berbagai jemaat untuk berbagi sumber-sumber inspirasi dan ide-ide teologis dalam menyiapkan ibadah.
  4. Sebagai sumber bagi mereka yang menerbitkan buku panduan khotbah-khotbah ekumenis dan berbagai buku liturgi.
  5. Sebagai pembimbing untuk individu dan kelompok dalam membaca dan mempelajari Alkitab serta berdoa. Hal ini bisa dilakukan dengan mencantumkan daftar bacaan Alkitab untuk minggu berikutnya dalam warta jemaat, sehingga umat dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu.
  6. Dengan menggunakan leksionari, pembacaan Alkitab dari minggu ke minggu berkaitan dan berkesinambungan sesuai dengan kalender gerejawi.

Leksionari dalam Keesaan Gereja

Prinsip dasar RCL bersifat ekumenis, maka umat menunjuk kepada keseluruhan umat percaya yang berada di atas muka bumi ini. Melalui RCL, seluruh umat dari berbagai latarbelakang denominasi, suku, agama, bahasa, dan lokasi dapat bersama-sama menghayati bacaan Alkitab yang sama. Tepatnya, melalui komitmen bersama dengan menggunakan RCL, terjalinlah suatu hubungan ekumenis di dalam kehidupan umat. Firman yang satu akan memampukan umat dari berbagai penjuru menghayati keesaannya sebagai gereja Tuhan Yesus. RCL telah merelatifkan batas dan tembok pemisah di dalam kehidupan umat yang tercabik-cabik oleh perpecahan.

Dengan bacaan Alkitab yang sama, umat dari berbagai denominasi dan tempat bukan hanya dapat mendengar pembacaan Alkitab yang sama, tetapi juga memiliki kemungkinan untuk mendiskusikan dan membahasnya bersama-sama. RCL membuka ruang komunikasi di antara umat, sehingga perlahan-lahan umat tidak lagi memikirkan batasan secara denominasional. Namun melalui RCL, umat dimotivasi untuk memikirkan kekayaan firman Tuhan dalam relasi dengan sesama umat. Dengan demikian yang menjadi fokus perhatian umat bukan lagi masalah perbedaan denominasinya, melainkan kesatuan firman yang digeluti dan direnungkan bersama-sama. Karena itu, solidaritas umat bukan lagi solidaritas karena kesamaan gereja dan denominasi, melainkan solidaritas karena firman yang satu dan sama. Sebagaimana doa Tuhan Yesus, yaitu: “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku(Yoh. 17:21). Dalam konteks inilah Gail R.O’Day dan Charles Hackett menyatakan, “… Preaching the lectionary can move congregations to place their local experience in a broader context of what is means to be church” (G.R. O’Day and C. Hackett, 52).

Melalui leksionari, bahan-bahan pembacaan Alkitab terbuka bagi setiap umat, sehingga umat dapat menggunakannya untuk ibadah, program pembinaan umat, dan Pemahaman Alkitab. Dengan pola pembacaan leksionari tersebut, umat dapat memiliki akses dan kemampuan untuk menyiapkan diri terlebih dahulu, sehingga umat dapat lebih intensif berpartisipasi dalam kegiatan ibadah. Untuk tujuan itu, setiap jemaat lokal dapat membuat suatu kurikulum tentang pembinaan rohani berupa program pelatihan dan pendalaman Alkitab melalui daftar pembacaan leksonari. Selain itu karena umat dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu, umat juga dapat lebih kritis terhadap pemberitaan firman yang akan mereka dengarkan. Dalam hal ini, umat dapat diarahkan kepada sikap disiplin rohani (G. R. O’Day and C. Hackett, 18). Sebaliknya, para pengkhotbah dapat menyajikan paparan yang lebih bermutu dan mendalam. Dengan demikian, melalui pola leksionari yang dilakukan secara konsisten, pengkhotbah dan umat dapat mengalami pertumbuhan rohani dan wawasan iman yang semakin mendalam (G.R. O’Day and C. Hackett, 55).

DAFTAR ACUAN

Ensiklopedia

Brill. 2005. The Encyclopedia of Christianity. Volume IV. Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans.

Adolf Büchler, “The Reading of the Law and Prophets in a Triennial Cycle,” JQR, O.S. 5: 420-68 (1893); 6: 1-73 (1894); summarized in Werner, Sacred Bridge, p. 56. Cf. also Acts 13:15-41.

 Buku

Allen, O. Wesley. 2007. Preaching & Reading the Lectionary, “A Three-Dimensional Approach to the Liturgical Year. Missouri: Chalice Press, St. Louis.

Brokhoff, John R. 1993. Lectionary Preaching Workbook. Series IV, Cycle B. Ohio: The CSS Publishing Company.

O’Day, Gail R. dan Charles Hackett. Preaching the Revised Common Lectionary (A Guide). 2007. Nashville: Abingdon Press.

Ferguson, Everett. 2003. Backgrounds of Early Christianity. Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co, edition III.

Goulder, M. D. 1974. Midrash and Lection in Matthew. London: S.P.C.K.

Guilding, Aileen. 1960. The Fourth Gospel and Jewish Worship: A Study of the Relation of St. John’s Gospel to the Ancient Jewish Lectionary System. Oxford: Clarendon Press.

Lengeling. 1962. New Catholic Encyclopedia, XI, 132b, 133b. Cf. G. G. Willis, St. Augustine’s Lectionary (Alcuin Club Collection, 44). London: S.P.C.K.

McKim, Donald K. 1998. Historical Handbook of Major Biblical Interpreters. USA: InterVarsity Christian Fellowship.

Morris, Leon. 1964. The New Testament and the Jewish Lectionaries. London: The Tyndale Press.

Old, Hughes Oliphant. 1999. The reading and preaching of the Scriptures in the Worship of Christian Church, Volume 3, The Medieval Church. Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co.

Artikel

Apostolic Contitutions Translated by James Donaldson. From Ante-Nicene Fathers, Vol. 7. Edited by Alexander Roberts, James Donaldson, and A. Cleveland Coxe. (Buffalo, NY: Christian Literature Publishing Co., 1886.) Revised and edited for New Advent by Kevin Knight. <http://www.newadvent.org/fathers/0715.htm>.

Holeton, David R. 2006. Reading the Word of God Together: the Revised Common Lectionary and the Unity of Christians. Communio viatorum, 48 no 3: 223-243.

Reumann, John. 1977. A History of Lectionaries: From the Synagogue at Nazareth to Post-Vatican II. Interpretation, 31 no 2 (April 1977), 116-130.

Ring, Alexander. 1998. The Development of Lectionaries and their use in the Lutheran Church. the Evangelical Lutheran Synod General Pastoral Conference (January 68).

Willis, G. G., St. Augustine’s Lectionary, Alcuin Club Collection no. 44; London: SPCK
[=Society for the Preservation of Christian Knowledge], 1962. hlm. 22-57.

Website:

http://www.truthortradition.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1242

http://www.reformed.org/documents/wcf_standards/index.html (Westminster Directory 1645)

 

[1] Gereja-gereja dari berbagai denominasi yang menggunakan leksionari adalah The Anglican Church of Canada, Christian Church (Disciples of Christ), Christian Reformed Church in North America, The Episcopal Church, Evangelical Lutheran Church in America, Evangelical Lutheran Church in Canada, Free Methodist Church in Canada, International Commission on English in the Liturgy (an agency of 26 Roman Catholic national or international conferences of bishop), The Lutheran Church – Missouri Synod, Polish National Catholic Church, Presbyterian Church (U.S.A), The Presbyterian Church in Canada, Reformed Church in America, Roman Catholic Church in the United States, Roman Catholic Church in Canada, Unitarian Universalist Christian Fellowship, The United Church of Canada, United Church of Christ, dan The United Methodist Church (the Consultation on Common Texts 1992, 7).

[2] Kata “sinagoge” berasal dari bahasa Yunani “sunagoge” yang berarti “bringing together” (membawa bersama-sama) atau “to gather together” (mengumpulkan bersama-sama). Pada awalnya, sinagoge tidak menunjuk kepada suatu bangunan atau tempat yang khusus untuk beribadah. Namun, sinagoge menunjuk suatu tempat di mana sekurang-kurangnya 10 orang yang berkumpul. Dalam perkembangan selanjutnya, sinagoge menjadi tempat ibadah bagi umat Israel.

[3] Everett Ferguson menyatakan, “There were two readings, one from the Torah (parashah or seder) and one from the Prophets (haftarah), in the first century service; there is a lack of evidence for a separate reading from the writings. The cycle of readings apparently was not yet fixed in the first century, but soon there was establish a cycle whereby the Torah was read through in three years in Palestine an d in one year in Babylon” (Ferguson 2003, 580).

[4] Dalam Midrash and Lection in Matthew, The Speaker’s Lectures in Biblical Studies 1969-71, London, SPCK, Goulder menulis, “Teori yang hendak saya usulkan adalah suatu teori leksionari, bahwa Injil dikembangkan secara leksionari, dan dimaksudkan untuk digunakan secara liturgis, dan dirancang secara liturgis, dengan mengikuti pola pembacaan tahun Yahudi. Saya yakin Matius menulis injilnya untuk dibaca di jemaat dalam suatu putaran tahun. ia menempatkannya dalam perayaan tahun Yahudi, dan pola dari pembacaan ditentukan sebagai dasar pijakannya” (Goulder 1969, 172).

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply