Latest Article

Mata Dicelikkan, Hidup Dipulihkan Yeremia 31:7-9; Mazmur 126; Ibrani 7:23-28; Markus 10:46-52

Keberadaan Allah yang tersembunyi merupakan fakta iman. Allah yang ilahi adalah Allah yang tidak tampak terlihat bagaimana peran-Nya dalam suatu peristiwa. Dalam kondisi yang demikian umat sering merasa Allah tidak lagi peduli dengan setiap persoalan dan pergumulan atau penderitaan mereka. Apalagi jika kita sering terbelenggu oleh beberapa “ideologi” seperti pandangan sekulerisme yang menisbikan seluruh peran Allah dalam sejarah dan kehidupan manusia. Sikap tersebut dapat mendorong umat untuk menutup setiap ruang diskusi tentang makna iman dalam kehidupan sehari-hari. Sebab mereka merasa tidak berhasil memperoleh berkat dan pemeliharaan Allah yang konkret. Bagi mereka, doa permohonan tidak lagi menjadi sesuatu yang bermakna. Apabila Allah itu sungguh-sungguh hidup dan berkuasa, apakah Dia  masih mau peduli dengan setiap kesulitan dan permasalahan kita? Ataukah Dia adalah Allah yang telah pensiun (deus otiosus) dan tidak lagi mampu memelihara serta menyelamatkan umatNya?

Mata jasmaniah kita seringkali buta untuk membaca tanda-tanda zaman di mana Allah berkarya dalam sejarah dan kehidupan umat manusia. Tetapi di Mark. 10:46-47 mempersaksikan seorang buta bernama Bartimeus anak Timeus memiliki sikap yang berbeda. Walaupun dia buta namun dengan indra telinganya, Bartimeus mampu melihat kehadiran Yesus Kristus selaku Mesias yang dijanjikan oleh Allah. Itu sebabnya Bartimeus berseru: “Yesus, anak Daud, kasihanilah aku!” (Mark. 10:47, 48). Dia terus berseru memanggil Tuhan Yesus walaupun banyak orang yang menegornya supaya dia diam. Bartimeus memiliki mata iman yang memampukan dia untuk melihat kehadiran Allah yang tersembunyi di dalam diri Kristus, sehingga dia berseru memohon belas-kasihan agar Kristus berkenan peduli dan menolong serta menyembuhkan matanya.

Sikap Bartimeus tersebut tentu sangat kontras dengan sikap orang banyak khususnya para pemuka agama Yahudi. Mereka sering melihat begitu banyak karya mukjizat dan pengajaran Tuhan Yesus. Mungkin mereka sangat kagum akan kuasa ilahi yang hadir dalam diri Tuhan Yesus. Tetapi tidak berarti sikap mereka tersebut memperlihatkan sikap iman kepada Tuhan Yesus. Dengan demikian sikap iman merupakan suatu karunia yang dianugerahkan Allah kepada seseorang, sehingga dia mampu melihat dengan jeli sesuatu yang tidak terlihat oleh mata indrawi. Karena itu dengan mata imannya seseorang dimampukan untuk membaca tanda-tanda kehadiran Allah dalam suatu peristiwa yang mungkin secara indrawi hanya sekedar suatu kejadian sehari-hari. Bukankah yang didengar oleh Bartimeus saat itu sesuatu yang serba biasa? Bartimeus hanya mendengar seseorang bernama Yesus dari Nazaret sedang lewat. Pada zaman itu orang banyak  telah biasa mendengar dan melihat Yesus dari Nazaret berjalan-jalan di dekat jalan atau rumah mereka. Tetapi mereka tidak begitu mudah untuk percaya bahwa Yesus adalah sang Mesias.

Dalam kisah Injil tidak setiap orang yang sakit dan menderita mau memohon agar mereka disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Jikalau mereka berusaha datang kepada Tuhan Yesus untuk disembuhkan tidak berarti karena mereka percaya dan mengakui Dia selaku Juru-selamatnya. Mereka hanya butuh kuasa-Nya untuk menyembuhkan, namun tidak secara otomatis mereka bersedia menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan Yesus. Tetapi tidaklah demikian sikap Bartimeus. Setelah dia disembuhkan matanya oleh Tuhan Yesus, Bartimeus disebutkan “mengikut Tuhan Yesus dalam perjalananNya” (Mark. 10:52). Seruan Bartimeus yang memohon belas-kasihan dan kemurahan hati Tuhan Yesus tidak berakhir setelah dia disembuhkan, namun dilanjutkan dengan keputusannya untuk mengikut Tuhan Yesus.

Sebagaimana kita ketahui sikap sekulerisme mendorong sebagian orang untuk menjadi “atheistis” (tidak percaya kepada keberadaan Allah), dan sebagian mendorong orang untuk menjadi “deistis” (hanya percaya kepada Allah pencipta tetapi Dia bukan pemelihara). Karena itu umat percaya sering mengecam orang-orang yang menjadi atheistis dan deistis. Namun anehnya di balik kehausan dan antusiasme kerohaniannya, umat percaya justru sering memperlihatkan kehausan dan keserakahannya akan hal-hal yang duniawi. Dengan demikian mata hati yang buta bukan semata-mata dimiliki oleh orang-orang yang atheis dan deistis, tetapi juga umat yang menganggap dirinya percaya kepada Allah. Karena itu tidaklah mengherankan jikalau orang-orang atheistis dan deistis menuduh orang-orang beragama sebagai kelompok orang-orang munafik. Kepercayaan kepada Allah justru dianggap membuat mereka buta terhadap hati-nurani, akal sehat, dan hidup yang bermoral. Kita perlu berjiwa besar dengan kritik mereka. Sebab kritik mereka mengandung sebagian kebenaran. Karena itu cara yang bijaksana bukanlah memberi bantahan dan membela diri. Tetapi lebih baik kita membuktikan secara nyata kepada dunia bahwa iman kepada Kristus membawa perubahan hidup, yaitu hidup yang dicelikkan dan dibarui. Saat hidup kita telah dicelikkan dan dibarui, maka akan membawa efek yang sama kepada orang-orang di sekitar kita. Marilah kita bersikap seperti Bartimeus yang berseru dengan rendah hati kepada Tuhan Yesus agar Ia mencelikkan mata rohani kita yang buta.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply