Latest Article

Memikirkan Apa yang Dipikirkan Allah Kej. 17:1-7, 15-16; Mzm. 22:23-32; Rm. 4:13-25; Mark. 8:31-38

Minggu Prapaskah II

Mungkinkah kita mampu memikirkan apa yang dipikirkan Allah? Di Roma 11:34, Rasul Paulus mengajukan pertanyaan yang sama, yaitu: “Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” Kita adalah mahluk, dan Allah adalah Pencipta. Di antara Allah dan ciptaan-Nya terbentang jurang yang tidak dapat dijembatani. Kita hanya dapat mengenal kehendak dan pikiran Allah karena Allah berkenan menyatakan diri-Nya kepada umat percaya. Tanpa penyataan (pewahyuan) Allah, mustahil bagi manusia untuk mengenal kehendak dan pikiran Allah. Jika demikian, mengapa Yesus menegur Petrus dengan pernyataan yang keras, yaitu: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mark. 8:33). Petrus menarik dan memarahi Yesus ke samping setelah Ia berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Mark. 8:31). Bukankah yang dilakukan oleh Petrus mencerminkan sikap seorang murid yang membela gurunya? Sikap Petrus mengandung sikap yang heroik (berjiwa pahlawan) dan peduli.

Bila kita mengikuti logika (pemikiran) Petrus, maka peristiwa salib dalam kehidupan Yesus tidak akan terjadi. Karya penebusan dan pendamaian bagi umat manusia melalui pengurbanan Kristus sekedar teori. Tanpa salib, berarti juga tanpa kebangkitan Kristus. Kekristenan akan menjadi sekedar agama yang mengajar tentang kesalehan dan moralitas tanpa pengurbanan Anak Allah. Namun tidaklah demikian pemikiran Allah! Kekristenan bukan sekedar agama untuk kalangan atau kelompok tertentu. Kekristenan adalah wujud kasih Allah kepada umat-Nya dari masa ke masa melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib, sehingga umat percaya dipanggil untuk memberikan dirinya (self-giving) kepada Allah dan sesama. Melalui Kristus, Allah menebus umat manusia secara universal agar dipersekutukan di dalam kasih-Nya yang menyelamatkan. Karena itu kekristenan bersifat universal yang melampaui batas-batas kesukuan, budaya, adat-istiadat, dan keagamaan. Sifat universalitas kekristenan terlihat dari ucapan Yesus: “Kamu adalah garam dunia. Kamu adalah terang dunia” (Mat. 5:13-14). Sebaliknya Petrus berusaha membangun konsep Mesias dari suatu keagamaan tertentu, yaitu Yudaisme yang eksklusif.

Pemikiran Allah yang universal terlihat dari penyataan-Nya kepada Abram, yaitu: “Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa” (Kej. 17:5). Arti “Abram” (bapaku yang luhur) diubah menjadi “Abraham” yang artinya: bapa orang banyak. Identitas nama “Abram” adalah untuk menunjuk kepada suatu umat tertentu, yaitu umat Israel yang lahir dari keturunan Ishak (bersifat eksklusif). Namun nama “Abraham” menunjuk kepada rencana Allah yang menjangkau seluruh umat (bersifat inklusif). Pergantian nama Abram menjadi Abraham seharusnya menjadi spiritualitas seluruh umat percaya yang mau berubah dari sikap eksklusif menjadi sikap yang inklusif. Namun ternyata Petrus berupaya memperkuat eksklusivitas keselamatan Allah dalam bentuk Mesias politis, yaitu Mesias yang tanpa penderitaan dan salib. Padahal melalui salib dan kebangkitan Kristus, Allah menjangkau dan merangkul setiap orang datang kepada-Nya. Di Yohanes 12:32, Yesus berkata: “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.”

Pemikiran Allah memiliki daya kreatif, yaitu penciptaan. Allah menyatakan diri-Nya kepada Abraham yang saat itu telah berusia 99 tahun, dan Sara yang berusia 90 tahun. Secara medis Sara yang mandul mustahil mengandung di usia lanjut. Namun Allah mampu berkarya yang melampaui kapasitas dan ukuran kemampuan manusiawi agar melalui Abraham lahirlah keturunan yang diberkati. Karena itu penyataan Allah kepada Abraham merupakan ikatan perjanjian yang kekal agar kehidupan para keturunan Abraham terpelihara dengan berkat ilahi. Dari situasi nihil (Sara mandul dan lanjut usia) dimungkinkan menjadi ibu bagi banyak bangsa. Penciptaan Allah juga terjadi dari yang tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo). Bukankah melalui peristiwa salib Allah mengubah kematian dan menjadi kehidupan, situasi maut menjadi keselamatan? Salib yang adalah realitas yang “nihil” (lambang realitas kematian) menjadi media kasih Allah yang menyelamatkan. Bagi orang-orang dunia yang tidak mengenal pemikiran Allah, salib adalah berita tentang kebodohan. Rasul Paulus berkata: “tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan” (1Kor. 1:23). Namun bagi umat percaya, salib adalah kekuatan dan hikmat Allah yang menyelamatkan: “tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1Kor. 1:24).

Pemikiran Allah menghargai panggilan kehidupan yang diwujudkan dengan penyangkalan diri. Sebab melalui penyangkalan diri, umat akan menggali dan menemukan kekayaan spiritualitas yaitu buah Roh (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri). Tanpa penyangkalan diri kita akan dikuasai oleh nilai-nilai duniawi sehingga akan terbelenggu oleh cinta diri. Hakikat cinta diri adalah eksklusivisme sebagaimana yang dilakukan oleh Petrus yang seakan-akan menjadi pahlawan bagi Yesus. Cinta diri juga melumpuhkan daya kreatif yang membebaskan, sebab mengukur realitas kehidupan ini berdasarkan sikap yang mengandalkan otak manusiawi. Sebab orang dengan cinta diri tidak percaya dan tidak membuka ruang bagi karya Allah yang melampaui akal. Cinta diri setiap kita perlu disalibkan agar terbuka ruang yang semakin luas bagi karya keselamatan Allah.

Pertanyaan untuk direnungkan

  1. Mungkinkah manusia bisa menyelami pikiran Allah?
  2. Mengapa tanpa penyataan Allah, manusia tidak mungkin dapat menyelami pikiran dan kehendak Allah?
  3. Bagaimana jika seandainya Yesus mengikuti kehendak dan pemikiran Petrus yang mencegah Dia menderita dan mengalami kematian di atas kayu salib?
  4. Mengapa pemikiran Petrus digolongkan sikap yang bersifat eksklusif?
  5. Sebutkan maksud pemikiran Allah yang bersifat inklusif.
  6. Apa artinya corak pemikiran Allah yang memiliki daya kreatif, yaitu penciptaan?
  7. Apa artinya corak pemikiran Allah yang menghargai panggilan kehidupan yang diwujudkan dengan penyangkalan diri?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply