Latest Article

Mempengaruhi, bukan Dipengaruhi (1Tesalonika 2:1-12)

Tidak setiap tindakan “mempengaruhi” lebih baik dari pada “dipengaruhi” oleh orang lain. Kita akan lebih memilih dipengaruhi oleh hal-hal yang baik, dan membangun daripada mampu mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal-hal yang buruk dan merusak. Karena itu makna tema “mempengaruhi, bukan dipengaruhi” dalam konteks ini harus dilihat dari perspektif nilai-nilai Injil Kerajaan Allah. Kita dipanggil untuk mempengaruhi dunia dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh firman Tuhan, dan sebaliknya kita harus mampu menolak pengaruh dunia untuk berpaling dari kebenaran Kristus. Tindakan mempengaruhi dengan nilai-nilai Injil Kerajaan Allah, dan kemampuan menolak pengaruh dunia tidaklah mudah. Ini merupakan jalan yang panjang, sulit, dan berliku. Kita harus mengakui bahwa tidak setiap langkah dan keputusan kita senantiasa dapat dipertanggungjawabkan secara etis-iman. Kita sering membiarkan diri dipengaruhi oleh dunia, dan mengikuti kehendak daging. Tanpa memiliki integritas, dan kesetiaan kepada Kristus, kita akan mudah berpaling dari kebenaran-Nya dan mengikuti jalan dunia.

Di Surat 1Tesalonika 2:2 Rasul Paulus mempersaksikan sikap imannya untuk berani memberitakan Injil Allah dalam perjuangan yang berat. Rasul Paulus berkata: “Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat.” Keberanian Rasul Paulus tersebut dilandasi oleh integritas dan kesetiaan imannya kepada Kristus. Karena itu penderitaan, aniaya, dan penghinaan yang ia alami di Filipi tidak menyurutkan semangatnya untuk memberitakan Injil. Makna tugas pemberitaan Injil dihayati oleh Rasul Paulus bukan sekedar suatu “profesi” namun suatu panggilan. Secara etimologis, makna profesi sebenarnya suatu panggilan (vocation). Artinya hanya orang-orang yang terpanggil untuk menekuni suatu bidang dan berhasil menguasai bidang tersebut dan mengembangkan dengan segenap hatinya saja yang layak disebut sebagai kaum profesional. Perhatikan pernyataan Rasul Paulus di 1Tesalonika 2:4, yaitu: “Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita.” Dalam ayat ini Rasul Paulus menyatakan: “Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil.” Ini berarti pemberitaan Injil bukan sekedar suatu “profesi” dalam pengertian sekedar suatu pekerjaan, namun suatu panggilan mulia yang harus dilakukan baik dalam situasi yang kondusif, maupun kurang kondusif.

Secara khusus makna “mempengaruhi” sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul Paulus adalah “bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita” (1Tes. 2:4). Pemberitaan Injil yang dilakukan sekedar suatu pekerjaan atau kewajiban belaka akan cenderung untuk menyukakan hati manusia, dan tidak mampu menyukakan hati Allah. Kita akan dimampukan mempengaruhi dunia akan kebenaran Allah yang membebaskan jikalau kita lebih menyukakan hati Allah daripada menyukakan hati manusia. Sikap hidup tersebut membawa konsekuensi yang tidak senantiasa menyenangkan. Kemungkinan yang terjadi adalah kita akan mendapat perlawanan dan tidak memperoleh dukungan. Dengan demikian tindakan kita yang menyukakan hati Allah berarti kita harus bersedia untuk keluar dari zona aman kita. Di Surat 1Tesalonika 2:5 Rasul Paulus berkata: “Karena kami tidak pernah bermulut manis–hal itu kamu ketahui–dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi–Allah adalah saksi.” Jadi makna mempengaruhi nilai-nilai Kerajaan Allah bukan mengutamakan ucapan yang lahir dari mulut manis, tetapi fokus kepada kehendak Allah dan misi-Nya.

Fokus kepada kehendak Allah dan misi-Nya berarti kita memberlakukan karakter kasih Allah dalam hubungan kita dengan sesama. Makna melakukan kehendak Allah dan misi-Nya tidak berarti kita harus menjadi para pribadi yang “fanatik” dan kaku. Setiap orang yang menghargai martabat manusia akan menolak sikap orang-orang yang fanatik, arogan, dan memaksakan kebenaran tertentu. Karena itu sikap yang “fanatik” dan kaku justru akan menjauhkan kita dari kebenaran. Sebaliknya untuk melakukan kehendak Allah dan misi Allah, kita dipanggil untuk serupa dengan Allah yang berlaku seperti ibu yang mengasuh dan merawati anaknya. Semakin kita mampu bersikap seperti Kristus, kita akan dimampukan untuk mempengaruhi dunia dengan kuasa kasih-Nya. Kasih yang tulus dan lahir dari hati-nurani yang murni akan menghasilkan transformasi bagi sesama di sekitarnya. Karena itu marilah kita mempengaruhi dunia dengan nilai-nilai kasih Allah yang berlaku seperti ibu yang merawat anak-anaknya, dan seperti seorang bapa (1Tes. 2:7, 11).

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply