Latest Article

Mempersiapkan Hati dan Bertobat Yes. 11:1-10; Mzm. 72:1-7, 18-19; Rm. 15:4-13; Mat. 3:1-12

Minggu Adven II

 Di Minggu Adven II, bacaan Injil menyoroti pelayanan Yohanes Pembaptis. Dia hadir sebagai bentara yang mempersiapkan kedatangan Kristus. Seruan kenabian Yohanes Pembaptis di padang gurun adalah: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat. 3:2). Kesunyian dan panas terik padang gurun ternyata tidak menghalangi penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan datang kepada Yohanes Pembaptis. Berduyun-duyun orang banyak datang mendengar pengajarannya dan bersedia dibaptis sebagai tanda pertobatan. Padahal teguran dan pengajaran Yohanes Pembaptis sangat keras. Dia menyebut orang-orang Farisi dan Saduki sebagai “ular beludak.” Kita bayangkan seandainya jemaat GKI Perniagaan hadir dalam kebaktian pengajaran Yohanes Pembaptis, lalu kita semua disapa dengan sebutan “ular beludak.” Untuk mengalami pertobatan, kita kadang-kadang harus menerima teguran keras, bukan kata-kata penghiburan yang menyenangkan hati.

Namun teguran keras bukan berarti ucapan yang sembarangan. Teguran keras harus dilandasi oleh fakta dan kebenaran. Suatu ucapan yang tidak dilandasi oleh fakta dan kebenaran merupakan kata-kata yang merusak, memfitnah, dan menimbulkan luka yang sulit disembuhkan. Teguran Yohanes Pembaptis lahir dari pengamatan dan analisisnya sebagai seorang nabi Allah. Karena itu dengan tepat Yohanes Pembaptis berkata: “Janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami!” Dalam konteks kita sekarang, teguran Yohanes Pembaptis juga bergema: “Janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Yesus adalah Juruselamat kami, sementara kita berkanjang dalam dosa dan kejahatan.” Teguran Yohanes memanggil agar setiap umat memiliki integritas, yaitu kesatuan ucapan dan perbuatan, pengakuan iman dan tindakan.

Pengakuan iman bahwa Yesus adalah Juruselamat seharusnya merupakan buah dari pertobatan, bukan kata-kata dogmatis atau pengulangan doktrin. Buah pertobatan ditandai oleh perspektif iman yang baru, cara pandang dan penghayatan yang tidak lagi menggunakan ukuran manusiawi namun ukuran Allah. Perspektif iman dengan ukuran Allah merupakan suatu cara pandang dan spiritualitas dengan wawasan yang luas, yang dilandasi oleh nilai-nilai kasih, keadilan dan kebenaran. Pertobatan mengandung nilai-nilai kebaruan dan keselamatan yang memampukan setiap orang untuk memperlakukan sesama sebagaimana Allah memperlakukan kita. Sikap merendahkan sesama merupakan manifestasi dari “setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api” (Mat. 3:10).

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply