Latest Article

Mengapa Melayani? (Yosua 24:1-3, 14-25; Mazmur 78:1-7)

Setiap umat dipanggil melayani Tuhan. Beberapa motif umat melayani Tuhan misalnya menyalurkan minat dan bakat, ingin menjadi berkat, mengisi waktu senggang, dan sebagainya. Namun dalam perikop Yosua 24, umat diajak untuk menghayati tugas melayani bukan sekedar kewajiban, menyalurkan bakat dan minat. Yosua 24 mengajak umat untuk terlebih dahulu menemukan sumber spiritualitas iman yang terdalam, yaitu menghayati seluruh karya keselamatan Allah yang telah dialami. Kita dapat melayani karena Allah terlebih dahulu berkarya menyelamatkan dan melayani, sehingga Dia melayakkan kita dari kecemaran dan dosa para leluhur atau nenek-moyang kita.

Hakikat melayani terjadi karena rahmat Allah yang berkenan mengaruniakan kepada kita suatu kelayakan untuk ambil bagian dalam perjanjian-Nya. Karena itu motivasi kita melayani Tuhan adalah: Pertama, membalas kebaikan dan anugerah Tuhan. Kedua, bertanggungjawab atas ikatan perjanjian yang telah ikrarkan di hadapan Allah. Ketiga, manifestasi kasih yang lahir dari hati kita yang telah dibarui oleh keselamatan Allah. Dengan demikian makna melayani yang utama adalah lahir dari kedalaman batin kita (inside-out), sehingga dimanifestasikan dalam setiap elemen kehidupan kita. Beribadah dan melayani Allah berarti memuliakan nama-Nya dalam seluruh bidang kehidupan. Melayani berarti umat dipanggil untuk menguduskan setiap bidang kehidupan dengan rahmat dan karya keselamatan Allah.

Sebagai suatu ekspresi iman yang lahir dari kedalaman batin (inside-out), maka hakikat pelayanan tidak ditentukan oleh pandangan, opini, dan sikap dari orang-orang di sekitar kita. Dalam konteks ini kita dapat belajar bagaimana sikap Yosua. Pertama, ia meminta umat untuk mengevaluasi dan mengambil sikap beribadah kepada Tuhan ataukah allah lain. Kedua, ia telah menetapkan suatu sikap dan pilihannya sendiri, yaitu: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yos. 24:15). Bandingkan sikap Yosua tersebut dengan kecenderungan beberapa orang yang mundur dari pelayanan karena teman atau kerabatnya tidak ada lagi, atau lingkungan keluarganya bersikap memusuhi. Orientasi hidup dan pelayanan mereka ditentukan oleh sikap orang lain. Mereka tidak dewasa dalam iman, sehingga mudah digoyahkan oleh faktor-faktor eksternal. Di Yosua 24:19, menyatakan: “Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada Tuhan, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu.” Dengan demikian di samping kita melayani karena cinta-kasih Allah, kita juga diingatkan bahwa Allah yang kita layani adalah Allah yang cemburu. Pelayanan dilakukan untuk memuliakan Allah, dan bukan memuliakan diri dengan menggunakan topeng kesalehan.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply