Latest Article

Menguduskan Diri dengan Menaati Firman Tuhan Kel. 20:1-17; Mzm. 19; 1Kor. 1:18-25; Yoh. 2:13-22

Minggu Prapaskah III

Setiap orang menghargai sesuatu yang murni misal: emas murni, madu murni, anggur murni, dan sebagainya. Semakin kehidupan kita murni, semakin kita mampu menghayati dan mempraktikkan kekudusan. Sebab pengudusan hidup berkaitan dengan kemurnian spiritualitas. Semakin kita hidup kudus di hadapan Allah, semakin kita memiliki hati yang murni. Di Matius 5:8, Tuhan Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Namun di sisi lain kenyataan hidup kita adalah “tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa” (Rm. 7:14). Karena itu kita sering mengalami pergumulan melawan dosa yang tiada henti-hentinya. Kita menghendaki yang baik, namun kita tetap melakukan yang jahat. Rasul Paulus berkata: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (Rm. 7:19). Pengudusan menjadi sekedar pemahaman dan harapan, namun realitanya kita tetap hidup dalam kecemaran/kenajisan.

Di tengah-tengah kelemahan dan keterbatasaan kita, Allah berkenan menyatakan diri-Nya dengan mengikat perjanjian melalui “Sepuluh Firman.” Di Keluaran 20:1-2 Allah berfirman: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.” Allah memperkenalkan nama-Nya, yaitu YAHWEH (TUHAN) yang bertindak menyelamatkan umat Israel dari tanah perbudakan. Yahweh, yaitu Tuhan adalah Allah yang berkarya membebaskan umat dari belenggu kuasa perbudakan. Karena itu Sepuluh Firman adalah firman yang diwahyukan Allah dengan tujuan pembebasan dari kuasa dosa. Firman Tuhan bukanlah serangkaian hukum-hukum ilahi yang membelenggu kebebasan manusia. Sebaliknya firman Tuhan adalah hukum-hukum ilahi yang membebaskan manusia agar tidak terbelenggu oleh dorongan duniawi dan kuasa dosa. Firman Tuhan memampukan umat untuk menghayati kebebasannya secara bertanggungjawab, bukan dengan tindakan-tindakan yang amoral dan perilaku yang destruktif. Makna tanggungjawab akan membangun kehidupan bersama bilamana dihayati dalam relasi perjanjian dengan Allah. Tanpa perjanjian dengan Allah, tanggungjawab akan menjadi sekedar kewajiban dan sikap yang legalistis belaka.

Relasi perjanjian Allah adalah jantung spiritualitas dan iman kita kepada Allah. Melalui perjanjian Allah, relasi kita diperdalam melalui cinta-kasih sehingga hukum-hukum Allah akan menyegarkan jiwa (Mzm. 19:8). Firman Tuhan yang dihayati dalam relasi perjanjian kasih Allah akan “lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah” (Mzm. 19:11). Karena itu hukum-hukum Allah tidak lagi dianggap sebagai peraturan yang mengekang, membatasi, dan melumpuhkan kebebasan manusia. Hukum-hukum Allah adalah manifestasi kasih-Nya, dan manifestasi kasih Allah senantiasa memberdayakan, membebaskan, dan meneguhkan, serta memberkati setiap pelaku firman dan orang-orang di sekitarnya. Jika demikian dalam menaati hukum-hukum Allah tidak terjadi manipulasi dan eksploitasi kepada sesama. Sesama tidak boleh dijadikan objek atau alat untuk memeroleh keuntungan tertentu. Di Yohanes 2:13 mempersaksikan peristiwa saat Tuhan Yesus yang datang ke Bait Allah di Yerusalem menjelang hari raya Paskah. Namun di Bait Allah tersebut, Yesus melihat orang-orang yang berdagang dan menukar uang. Respons Yesus adalah mengusir semua pedagang dan penukar uang tersebut.

Tindakan Yesus mengusir para pedagang dan penukar uang di Bait Allah sering dianggap Yesus tidak membolehkan orang-orang berjualan di pelataran Bait Allah. Kepada pedagang-pedagang merpati Yesus berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan” (Yoh. 2:16). Padahal inti persoalannya adalah para pedagang tersebut mengeksploitasi para peziarah/umat yang akan mempersembahkan korban dan memberi persembahan uang. Menurut ketentuan uang yang dipersembahkan di Bait Allah haruslah uang “Shekel Bait Allah,” bukan uang dengan gambar Kaisar Roma. Uang yang ditukar dengan “Shekel Bait Allah” harus dibayar dengan harga yang sangat tinggi. Kemudian binatang korban harus tidak bercacat sesuai hukum Taurat. Karena itu para peziarah atau umat Israel tidak mudah memeroleh binatang korban yang sempurna. Cara yang termudah adalah membeli binatang korban dengan harga yang sangat mahal di Bait Allah. Di tengah-tengah situasi itulah Yesus marah sehingga mengusir para pedagang binatang korban dan penukar uang. Sebab di pelataran Bait Allah tersebut terjadi praktik manipulasi dan eksploitasi kepada umat yang akan beribadah kepada Allah.

Sikap yang manipulatif dan eksploitatif akan dianggap wajar bilamana kita telah kehilangan relasi kasih dalam perjanjian dengan Allah. Sebab Allah hanya dianggap sebagai objek, bukan sebagai subjek. Dari sudut lahiriah para pedagang dan penukar uang di Bait Allah berkata-kata dengan fasih tentang perintah Allah, namun di batin mereka sebenarnya meremehkan otoritas firman Allah. Batin dan bibir serta tingkah-laku mereka saling bertentangan. Sebab mereka belum dikuduskan oleh firman Tuhan. Hidup mereka cemar walau sering berada di area Bait Allah. Kenyataan ini juga menyadarkan setiap umat agar tidak memiliki spiritualitas yang saling kontradiktif. Senang berada di area gereja tidak otomatis menjadikan setiap diri kita menjadi kudus bilamana batin kita menjadikan Allah dan sesama sekedar sebagai objek belaka. Aktivitas pelayanan yang begitu giat tidak berarti kita telah bergaul erat dengan Allah, sebab bisa terjadi justru kita sedang asyik-masyuk bergaul erat dengan egoisme dan kepentingan-kepentingan duniawi.

Pertanyaan untuk direnungkan:

  1. Mengapa pengudusan berkaitan erat dengan kemurnian hidup?
  2. Apakah yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus dengan ungkapan: “aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa” (Rm. 7:14)?
  3. Apa yang menonjol dalam penyataan Allah di Keluaran 20:1-2, yaitu: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan?”
  4. Dengan penyataan Allah, yaitu: “Akulah Yahweh (Tuhan)” maka Sepuluh Firman bukan sekedar kewajiban keagamaan, tetapi diikat dalam relasi perjanjian dengan Allah. Apa pentingnya relasi perjanjian dengan Allah?
  5. Apa alasan utama Tuhan Yesus marah sehingga Ia mengusir para pedagang di Bait Allah?
  6. Berikan masing-masing satu contoh sikap yang memanipulasi dan mengeksploitasi sesama.
  7. Hambatan-hambatan apakah yang menyebabkan kita tidak mampu menaati firman Tuhan?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply