Latest Article

Mengusahakan Kesejahteraan Kota (Yer. 29:1-7, Mzm. 66:1-12, 2Tim. 2:8-15, Luk. 17:11-19)

Peristiwa eksodus merupakan peristiwa yang begitu bersejarah sebab melalui peristiwa itu umat Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir. Dengan eksodus dari Mesir, berarti pula Israel mengalami pembebasan dan menjadi mereka menjadi umat Allah. Tetapi dalam serangan Babel oleh raja Nebukadnezar tahun 597 s.M dan 586 s.M menyebabkan umat Israel juga mengalami eksodus. Bedanya umat Israel harus eksodus dari kota Yerusalem menuju tanah Babel. Apabila eksodus dari Mesir merupakan karya pembebasan, maka “eksodus” dari Yerusalem ke tanah Babel merupakan peristiwa kekalahan dan pembuangan. Eksodus dari Mesir menuju tanah Kanaan merupakan wujud berkat Allah, sedangkan “eksodus” dari Yerusalem ke Babel merupakan wujud dari hukuman Allah atas dosa-dosa yang telah diperbuat oleh umat Israel. Eksodus dari Mesir disambut dengan sorak-sorai kemenangan; tetapi “eksodus” dari Yerusalem ke Babel ditandai oleh dukacita yang mendalam, kesedihan, rasa putus-asa, depresi massal dan lenyapnya masa depan. Seluruh kebanggaan sebagai bangsa dan umat Allah kini telah lenyap. Bait Allah diruntuhkan dan dibakar. Kini mereka harus berada tinggal di tanah asing dalam jangka waktu yang tidak menentu. Dalam situasi yang demikian, beberapa orang yang menyebut nabi, di antaranya Ahab bin Kolaya dan Zedekia bin Maaseya menubuatkan bahwa umat Israel akan segera kembali ke Yerusalem. Nubuat tersebut tentunya akan membangkitkan pengharapan semu, sebab berulang-kali Allah telah menyatakan bahwa mereka akan berada di pembuangan Babel dalam kurun waktu yang cukup lama. Sehingga dengan nubuat palsu tersebut dapat membuat umat Israel tidak mampu bersikap realistis. Misalnya mereka dapat terdorong untuk memberontak kepada raja Nebukadnezar dengan akibat yang lebih fatal, melalaikan pekerjaan dan mengabaikan upaya-upaya yang konstruktif seperti menata kembali keluarga yang tercerai-berai, serta upaya membangun masa depan yang lebih baik.

Itu sebabnya nabi Yeremia segera mengirim surat kepada tua-tua, imam-imam, nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan di Babel. Surat nabi Yeremia tersebut dikirim dengan perantaraan Elasa bin Safan dan Gemarya bin Hilkia yang diutus oleh raja Zedekia. Isi surat nabi Yeremia tersebut (Yer. 29:5-7) pada prinsipnya merupakan himbauan dan nasihat kepada seluruh umat Israel yang kini tinggal di pembuangan Babel, yaitu:

  1. Agar seluruh umat mendirikan rumah untuk mereka diami.
  2. Membuat dan mengelola kebun untuk dinikmati hasilnya.
  3. Mengambil isteri untuk anak-anak laki-laki dan mencarikan suami untuk anak perempuan mereka agar mereka melahirkan anak-anak sehingga mereka bertambah banyak.
  4. Mengusahakan kesejahteraan kota di mana mereka tinggal dan mendoakan kota tersebut agar kesejahteraan kota tersebut menjadi kesejahteraan umat Israel.

Keunikan isi surat nabi Yeremia tersebut adalah mampu memberikan solusi yang lebih kongkrit, lebih realistis dan lebih positif dibandingkan dengan nubuat palsu yang menyatakan bahwa Allah segera membawa umat Israel kembali ke Yerusalem. Sebab nubuat palsu tersebut hanya akan membangkitkan harapan-harapan semu yang tidak mungkin dapat terwujud. Sebab pada waktu itu raja Nebukadnezar sedang mencapai puncak kejayaannya. Umat Israel telah dikalahkan secara telak. Sehingga apabila umat Israel terpancing untuk melawan atau memberontak, maka pastilah raja Nebukadnezar akan segera membinasakan seluruh umat Israel. Sebaliknya surat nabi Yeremia tersebut mengajak umat Israel untuk segera belajar menyesuaikan diri dengan situasi yang baru. Umat Israel diajak untuk memaknai kehidupan mereka di negeri asing dengan mendirikan rumah untuk didiami, menanam dan mengelola kebun, membangun keluarga yang baru, dan mengusahakan kesejahteraan kota serta mendoakan kota tersebut. Di tengah-tengah situasi umat Israel yang waktu itu sedang putus-asa dan depresi, nabi Yeremia berhasil membangun harapan yang baru agar umat Israel tidak makin terpuruk dan hancur. Sebaliknya umat Israel dapat menata kembali masa depan yang telah disediakan oleh Allah. Di Yer. 29:11, Allah berfirman: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai-sejahera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.

Ketika kita sedang mengalami kegagalan total seperti bisnis yang bangkrut, kehilangan pekerjaan, dan orang-orang yang kita kasihi telah pergi secara tiba-tiba; maka kita segera terperangkap dalam situasi yang depresif. Kita merasa tidak mampu lagi melangkah sedikitpun ke masa depan. Seluruh tenaga atau kekuatan kita menjadi sirna. Masa depan yang semula cerah, kini berubah menjadi gelap. Dalam kondisi yang demikian kita sebenarnya sangat rentan dengan berbagai ajakan atau godaan untuk membangun suatu masa depan yang semu misalnya ajakan untuk cepat kaya dengan mencoba berjudi, menjual obat-obat terlarang, bisnis ilegal, melakukan kejahatan, dan sebagainya. Namun kenyataan membuktikan sebaliknya. Segala upaya tersebut akan senantiasa berakibat fatal dan destruktif. Para pelaku yang terkecoh untuk membangun masa depan yang palsu itu justru akan membuat mereka makin terpuruk. Jadi dalam hal ini kita tidak mungkin membangun masa depan yang lebih baik dengan cara yang salah dan tidak berkenan kepada Tuhan. Kehendak Tuhan justru mengajak kita untuk bersikap lebih realistis dan bijaksana agar keadaan kita yang telah terpuruk tersebut sedikit demi sedikit dapat berubah menjadi masa depan yang penuh harapan. Kita diajak untuk kembali bekerja mulai dari nol. Sebenarnya lebih tepat bukan mulai dari nol, sebab kita mulai kembali berusaha dan bekerja dengan pelajaran yang sangat berharga dari kegagalan di masa yang lampau. Jadi kita diajak untuk kembali bekerja/berkarya dengan roh yang berhikmat, menjadi lebih sabar, lebih terampil dan lebih waspada serta lebih komunikatif. Manakala kita pernah mengalami tragedi karena kehilangan orang-orang yang kita sayangi, kita diajak kembali memaknai hidup ini lebih positif. Kita dapat terlibat secara intensif dalam pelayanan gerejawi untuk menolong orang-orang yang menderita dan kekurangan. Artinya di tengah-tengah situasi yang paling buruk sekalipun, kita selaku umat percaya dipanggil oleh Tuhan untuk ambil bagian secara bersengaja mewujudkan kesejahteraan dan keselamatan bagi orang-orang di sekitar kita.

Dalam suratnya kepada Timotius, yaitu di Surat 2 Timotius 2:8-15 kita dapat melihat keadaan dari rasul Paulus yang saat itu sedang berada dalam penjara di Roma sekitar tahun 65. Saat itu dia sangat menderita, sebab selain di penjara; rasul Paulus juga sedang dibelenggu seperti seorang penjahat ke manapun dia pergi. Tetapi sangat menarik di 2 Timotius 2:9-10, rasul Paulus dapat mengungkapkan kesaksikan imannya, yaitu: “Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.” Di tengah-tengah penderitaannya rasul Paulus tetap mampu memiliki iman yang kokoh kepada Kristus bahwa firman Allah tidak dapat terbelenggu, meskipun saat itu kaki dan tangannya sedang terbelenggu oleh rantai. Dia menghayati penderitaannya tetap bermakna bahkan dia berdoa agar orang-orang yang sudah ditentukan oleh Allah dapat memperoleh keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal. Di tengah-tengah situasi yang sulit dan kritis, ternyata rasul Paulus tetap mampu mengusahakan kesejahteraan dan keselamatan Allah bagi orang-orang yang berada di luar penjara. Lebih dari pada itu rasul Paulus dengan kesaksian imannya mampu mewariskan dari satu generasi ke generasi yang lain selama berabad-abad suatu kesaksikan firman Tuhan yang menyelamatkan banyak orang kepada Kristus. Belenggu dan penderitaan yang ia alami dalam penjara, justru menjadi media dari karya pembebasan Allah yang mampu menyelamatkan banyak umat manusia kepada kuasa kasih Kristus.

Spiritualitas yang disebarkan oleh nabi Yeremia dan rasul Paulus adalah tetap mampu menjadi berkat di tengah-tengah himpitan dan krisis. Padahal pola berpikir kita justru sebaliknya yaitu mau menjadi berkat bagi banyak orang manakala kita diberkati oleh Tuhan dan sukses. Sehingga manakala kita sedang mengalami himpitan dan krisis, kita kehilangan vitalitas dan enersi untuk membangun masa depan bagi diri kita dan berkat bagi banyak orang. Pada saat itu kita cenderung mengharapkan belas-kasihan dan pengertian dari sesama. Apabila ternyata sesama tidak terlalu peduli dengan situasi kita, maka kita membuat tuntutan agar mereka mau peduli, mengerti, berbelas-kasihan dan mendukung kita. Dalam hal ini kita tidak belajar dari “filosofi” kerang mutiara. Kerang tersebut mengeluarkan serat-serat mutiara yang indah karena sebenarnya dia sangat menderita karena sebutir batu yang masuk di dalam tubuhnya. Untuk itu dia mengeluarkan cairan pembungkus agar butiran batu tersebut tidak terus-menerus melukai dirinya, sehingga terbentuklah sebutir mutiara. Demikian pula dengan spiritualitas iman Kristen, seharusnya kehidupan kita seperti kerang mutiara. Ketika kita dilukai dan disakiti, seharusnya kehidupan kita menghasilkan butir-butir mutiara yang indah dan bernilai tinggi; bukan menghasilkan luka-luka batin dalam bentuk rasa putus-asa, kecil-hati dan kehilangan daya hidup. Orang yang fasik bukan hanya ditandai oleh ketidakpercayaan kepada Allah; tetapi juga hidupnya ditandai oleh kebencian, kemarahan dan dendam karena dia merasa Allah telah berlaku tidak adil, memberi nasib malang sehingga dia sering mengalami kegagalan dan penderitaan. Itu sebabnya orang fasik tidak mungkin mampu bersyukur kepada Tuhan atas segala karunia dan berkat yang telah diterimanya.

Di Lukas 17:11-19 menyaksikan karya Kristus yang menyembuhkan sepuluh orang yang menderita sakit kusta. Ketika mereka melihat kehadiran Tuhan Yesus, mereka semua segera berseru: “Yesus, guru, kasihanilah kami!” Selama ini tidak ada orang yang mau berbelas-kasihan terhadap mereka. Sebaliknya semua orang selalu menghindar dan tidak ingin berpapasan apalagi bersentuhan dengan orang yang sakit kusta. Seorang yang berpenyakit kusta dianggap najis dan dihukum oleh Allah. Namun Tuhan Yesus mau peduli dan mengasihani mereka. Untuk itu Tuhan Yesus menyuruh kesepuluh orang kusta tersebut pergi menghadap imam, sebab hanya imam-imam saja yang berhak menentukan apakah seseorang yang sakit kusta telah menjadi tahir dan sembuh. Kesepuluh orang yang sakit kusta tersebut percaya akan perkataan Tuhan Yesus dan terbukti mereka menjadi sembuh dalam perjalanan ke rumah imam. Setelah mereka mengetahui bahwa mereka telah sembuh dari sakit kustanya, maka sembilan orang yang telah sembuh itu segera pergi dengan urusannya masing-masing; dan hanya seorang saja mau pergi kembali kepada Tuhan Yesus untuk mengucapkan terima-kasih. Sembilan orang yang sembuh dari sakit kustanya itu adalah orang-orang Israel, dan yang seorang yang mau kembali mengucapkan terima-kasih kepada Tuhan adalah seorang Samaria. Bukankah keadaan tersebut sungguh mengherankan? Sebab seharusnya sembilan orang yang telah sembuh dari sakit kustanya lebih mengerti makna mengucap syukur kepada Allah karena mereka adalah umat Allah yang beriman; tetapi justru orang Samaria yang dianggap kafir yang lebih tanggap untuk kembali datang mengucapkan terima-kasih atas pertolongan Tuhan Yesus. Dalam hal ini orang Samaria tersebut tetap mampu menghasilkan mutiara kasih setelah lama dia menderita, putus-asa dan dihina oleh banyak orang. Dia memperoleh belas-kasihan dan kemurahan hati dari Tuhan Yesus, sehingga kini dia dapat sembuh dan pulih kembali dari penyakitnya.

Melalui Kristus, Allah menyatakan diriNya dan karyaNya yang menyelamatkan. Sehingga ke manapun Kristus hadir, di situlah karya pemulihan Allah terjadi. Karya Kristus senantiasa menciptakan keselamatan dan kesejahteraan bagi umat manusia, walaupun mungkin para pemimpin agama Yahudi sering menolak, mengecam dan memusuhiNya. Seharusnya kita selaku gereja atau umat Allah hidup seperti Kristus. Ke manapun kita pergi dan hadir, seharusnya kita menciptakan keselamatan dan kesejahteraan bagi banyak orang. Ketika kita hadir, seharusnya orang-orang di sekitar kita merasa tenang, teduh dan sejahtera. Pada sisi yang lain ketika mereka mendengar ucapan, pemikiran dan nasihat-nasihat kita, seharusnya menimbulkan pengharapan dan inspirasi baru yang membuat sesama kita makin bertumbuh dan berkualitas. Tetapi dalam realita hidup kita ternyata tidak demikian. Di mana kita hadir justru sering menimbulkan persoalan bagi orang-orang di sekitar kita. Ketika kita hadir, mereka menjadi ketakutan dan gelisah. Ketika kita berbicara, mereka merasa diri tidak berharga sebab perkataan kita sering mengandung sikap yang sinis dan jauh dari kasih. Ketika kita melayani, mereka melihat bahwa kehidupan kita tidak ditandai oleh sikap pertobatan dan kasih yang tulus. Dengan perkataan lain, kehidupan kita sering menjadi batu sandungan bagi sesama dan tidak dapat menjadi berkat. Itu sebabnya kita gagal melakukan panggilan Tuhan sebagaimana yang telah dibuktikan oleh nabi Yeremia dan rasul Paulus, yaitu mengusahakan keselamatan Allah dan kesejahteraan di manapun kita tinggal dan hidup.

Kegagalan kita untuk mengusahakan keselamatan Allah dan kesejahteraan bagi banyak orang oleh karena hidup kita lebih terarah kepada diri sendiri (sikap egosentrisme). Kita sering lebih mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri sendiri, serta mencoba membangun berbagai harapan semu menurut pola pemikiran dunia ini. Harapan-harapan semu dari dunia ini umumnya mempesona, memikat, dan tampaknya mudah dicapai. Tetapi pada akhirnya, hasil dari harapan semu senantiasa mengecewakan dan kegagalan yang kita alami lebih parah. Sebaliknya Allah menghendaki kita mengenali kehendak dan firmanNya. Kehendak dan firman Allah senantiasa bersikap realistis dan nyata walau tidak mudah dilakukan, tetapi hasilnya selalu membangun dan memberikan keselamatan serta kesejahteraan bagi setiap orang yang melakukannya. Untuk itu kita dipanggil untuk tidak mencari atau minta pertolongan lain seperti paranormal/dukun dan berbagai kuasa dunia yang memberi janji atau jaminan keselamatan, selain bersandar kepada Allah sendiri. Khususnya ketika kita sedang mengalami kesulitan, krisis, kebingungan dan gelisah maka kita akan sangat rentan, dan mudah tergoda untuk mencari pertolongan di luar Allah. Padahal kuasa-kuasa dunia ini hanya akan memberikan pengharapan palsu dan kesejahteraan yang semu. Jadi marilah kita seperti sepuluh orang kusta yang berseru dan meminta pertolongan hanya kepada Tuhan Yesus. Tetapi lebih dari pada itu marilah kita teladani sikap orang Samaria yang telah disembuhkan dari sakit kustanya dengan datang mengucap syukur kepada Tuhan Yesus atas pertolonganNya. Saat itu kita juga mendengar gema perkataan Tuhan Yesus: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk. 17:19). Bagaimana sikap saudara sekarang? Allah telah memulihkan kita, karena itu marilah kita kini terus-menerus mengusahakan kesejahteraan dan keselamatan Allah di setiap tempat di mana kita hadir dan berkarya. Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply