Latest Article

Merayakan Hidup dalam Anugerah Keselamatan-Nya (Bil. 21:4-9; Mzm. 107:1-3, 17-22; Ef. 2:1-10; Yoh. 3:14-21)

Minggu Prapaskah IV

Apakah Saudara pernah mengamati gambar ular yang melingkari sebuah mangkuk saat pergi ke Apotek? Mangkuk dengan ular melingkar disebut mangkuk Hygeia dengan ular Epidaurus. Hygeia adalah Putri Aesculapius dan Dewi kesehatan. Bagi orang Yunani, ular dipandang sebagai simbol pengobatan. Sangat menarik di Bilangan 21:4-9 mempersaksikan Allah menyuruh Musa untuk membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Siapapun yang dipagut ular, jika ia mau memandang kepada ular tembaga itu, maka ia tetap hidup. Perbedaan kedua kisah tersebut adalah dalam pemahaman kepercayaan Yunani, ular Epidaurus itu adalah sumber kesembuhan, sebaliknya dalam Bilangan 21:4-9 Allah adalah sumber kesembuhan, dan ular tembaga itu hanyalah media yang dipakai oleh Allah untuk menyelamatkan umat Israel yang dipagut oleh ular-ular tedung.

Tindakan Allah yang menyelamatkan umat Israel yang sekarat karena dipagut oleh ular-ular tedung dengan membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang kemudian dipakai oleh Tuhan Yesus menunjuk diri-Nya. Tuhan Yesus berkata: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan” (Yoh. 3:14). Sama seperti umat Israel yang melihat ular tembaga yang ditaruh di atas tiang akan hidup, demikian pula umat manusia yang melihat dan percaya pada diri Yesus yang digantung di atas kayu salib akan memeroleh kehidupan kekal. Salib Kristus dalam Injil Yohanes dipahami sebagai peristiwa pemuliaan diri Yesus Kristus. Salib Kristus bukanlah tragedi dan peristiwa yang memalukan. Sebaliknya Salib Kristus adalah bukti kasih Allah yang teragung kepada umat manusia. Karena itu melalui Salib Kristus, Allah mengaruniakan keselamatan kepada umat yang melihat dan percaya kepada-Nya.

Makna keselamatan berarti pulihnya situasi dan hubungan manusia dengan Allah, sesama, dan diri sendiri. Keselamatan di dalam Kristus merupakan realitas hadirnya anugerah Allah sehingga umat mengalami harapan dan jaminan pendamaian dengan Allah, sehingga memampukan umat untuk berdamai dengan sesama dan diri sendiri. Realitas keselamatan tersebut terjadi karena inisiatif dan rencana Allah. Karena itu keselamatan bukan upaya dan hasil kesalehan manusia, namun anugerah Allah. Disebut sebagai “anugerah Allah” sebab Allah berkenan mengaruniakan Yesus Kristus sebagai Penebus dan Penyelamat melalui peristiwa salib. Umat akan dapat merayakan kehidupan dengan penuh makna apabila senantiasa hidup dalam anugerah keselamatan di dalam pengurbanan Kristus di atas kayu salib. Tanpa menghayati peristiwa salib Kristus, umat akan memiliki pola hidup yang sia-sia. Keagamaan tanpa spiritualitas salib akan menjadi keagamaan yang mendatangkan malapetaka sebab cenderung mengorbankan manusia daripada berkurban untuk keselamatan umat. Salib Kristus adalah peristiwa Allah yang berkenan berkurban bagi keselamatan manusia.

Peristiwa umat Israel yang dipagut ular-ular tedung merupakan peristiwa umat Israel bersungut-sungut sebab di padang gurun tidak tersedia roti dan air. Mereka melupakan penindasan dan kekejaman Firaun namun mengingat makanan berlimpah yang tersedia di Mesir. Demikian pula kita sering melupakan penindasan kuasa dosa yang menyebabkan kita kehilangan kehormatan dan martabat sebagai gambar dan rupa Allah, sebaliknya kita selalu mengingat kenikmatan-kenikmatan yang disediakan dunia. Demi kenikmatan-kenikmatan duniawi yang tidak kita peroleh, kita bersungut-sungut kepada Tuhan. Rasul Paulus menggambarkan situasi perbudakan dosa dalam diri kita, yaitu: “Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka” (Ef. 2:2). Justru melalui salib Kristus, kita dipanggil untuk menyalibkan seluruh kenikmatan-kenikmatan duniawi sekaligus mengingat dengan sungguh-sungguh seluruh penindasan kuasa dosa dalam kehidupan kita. Melalui Salib Kristus, kita dipanggil untuk bersedia menelanjangi diri sendiri tanpa syarat sehingga bersandar penuh kepada kuasa anugerah Allah. Firman Tuhan berkata: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Ef. 2:10).

Makna merayakan kehidupan berarti terbebasnya diri kita dari berbagai belenggu dosa, sehingga tidak ada hawa-nafsu yang mengendalikan diri kita sebagai hamba-hamba dosa. Salib Kristus akan mendatangkan keselamatan, yaitu pembebasan dari belenggu dosa. Namun kita juga menyadari bahwa iman kepada Kristus perlu direspons dalam komitmen dan pola hidup yang baru. Tanpa komitmen dan pola hidup yang baru, iman kepada Kristus akan menjadi sekedar wacana belaka. Kita akan berulang-ulang berbicara tentang anugerah keselamatan Allah di dalam Salib Kristus, tetapi kita tidak pernah menghidupi diri kita dengan Salib Kristus. Merayakan kehidupan berarti pula menghidupi setiap aspek kepribadian kita dengan kuasa Salib Kristus. Saat Salib Kristus menguasai kehidupan kita, maka pada saat itu pula kita terbebas dari perbudakan dosa. Kita tidak akan bersungut-sungut lagi ketika “kenikmatan-kenikmatan duniawi” kita terganggu. Sebaliknya kehidupan kita ditandai dengan ucapan syukur justru di saat kita sedang sakit dan kekurangan.

Bersungut-sungut memiliki makna yang lebih luas. Sebab bersungut-sungut menyatakan bahwa ego kita belum dipuaskan, dan karena itu kita gemar menghakimi orang lain. Umat Israel bersungut-sungut kepada Musa sebab Musa membawa mereka berjalan di padang-gurun. Karena itu hambatan utama bagi kita untuk merayakan kehidupan yang bermakna apabila kita sering bersungut-sungut kepada Allah, sesama, atau gereja di mana kita menjadi anggotanya. Di dalam Salib Kristus, kita akan mengubah sikap bersungut-sungut dengan sikap yang menghargai, mengasihi, mendukung, memberdayakan, dan mengampuni.

Pertanyaan untuk direnungkan

  1. Apakah perbedaan mendasar antara simbol ular Epidaurus dengan ular tembaga yang diperintahkan Allah kepada Musa?
  2. Mengapa Tuhan Yesus memakai gambaran ular tembaga yang dinaikkan di atas tiang dengan peristiwa salib yang akan dialami-Nya?
  3. Bagaimana pemahaman Injil Yohanes tentang peristiwa salib Kristus. Apakah salib Kristus sebagai peristiwa yang memuliakan atau memalukan?
  4. Apa arti keselamatan Allah yang dianugerahkan di dalam salib Kristus?
  5. Apa arti ucapan Rasul Paulus, “karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka?”
  6. Jelaskan arti “merayakan kehidupan” sesuai ungkapan hati Saudara.
  7. Mengapa sikap bersungut-sungut menjadi hambatan utama bagi kita untuk merayakan kehidupan yang lebih bermakna?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply