Latest Article

Merayakan Rumah Allah, Merayakan Kehidupan Bersama (1Raj. 8:22-30, 41-43; Mzm. 84; Ef. 6:10-20; Yoh. 6:56-69)

Pengantar

Kebaktian Minggu tanggal 23 Agustus 2015 secara khusus merupakan kebaktian ucapan syukur HUT ke-27 penyatuan GKI. Penyatuan GKI Wilayah Jawa Timur, GKI Wilayah Jawa Tengah, dan GKI Wilayah Jawa Barat mengikrarkan sebagai satu GKI pada tanggal 26 Agustus 1988. Ketiga sinode GKI wilayah yang semula berlatar-belakang pada etnis Tionghoa tersebut sejak awal pembentukannya menegaskan keberadaan dirinya sebagai gereja yang berkiblat pada nasionalisme Indonesia. Karena itu sejak awal tidak pernah menyebut “Gereja Kristen di Indonesia,” tetapi “Gereja Kristen Indonesia.” Sebutan “Gereja Kristen di Indonesia” menyatakan sebagai salah satu Gereja Kristen yang menjadikan Indonesia sekadar sebagai tempat menumpang tetapi tidak terintegrasi dengan keberadaan sebagai bagian dari negara dan bangsa Indonesia. Sebaliknya sebutan “Gereja Kristen Indonesia” merupakan penegasan sebagai salah satu Gereja Kristen yang sungguh-sungguh menjadikan realitas Indonesia dalam kehidupan menghayati peran kehadiran Allah dalam konteks Indonesia yang pluralistis. GKI yaitu Gereja Kristen Indonesia adalah salah satu Gereja Kristen yang menghayati dan melaksanakan panggilan Allah untuk menghadirkan kehadiran Allah di Indonesia dalam konteks keberagaman.

Makna kesatuan ketiga sinode GKI wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat tidak meniadakan keberagaman pada dirinya dan keberagaman dalam lingkup yang lebih luas yaitu Indonesia. Dalam ulang-tahun penyatuannya yang ke-27 GKI menyadari bahwa keberagaman teologis, sejarah, latar-belakang, dan umat tidak menghalangi untuk hidup bersama. Karena itu GKI membangun rumah Allah untuk hidup bersama di tengah-tengah realitas keberagaman insan jemaat GKI agar mampu menghadirkan karya keselamatan Allah di tengah-tengah keberagaman dan keunikan rakyat Indonesia.

Rumah Allah dalam Kehidupan Umat

Setiap agama menyebut tempat ibadahnya sebagai “Rumah Allah.” Karena itu setiap agama memperlakukan tempat ibadahnya sebagai sesuatu yang sakral. Sebagai sesuatu yang sakral, setiap tempat ibadah diperlakukan dengan sikap hormat dan khidmat. Demikian pula setiap jemaat GKI akan memperlakukan tempat ibadah yaitu gedung gerejanya dengan sikap hormat, takzim, dan kudus. Menurut doa Salomo, mata Allah selalu terbuka terhadap Bait-Nya baik siang maupun malam. Sebab nama Tuhan akan berdiam di dalam Bait-Nya. Dalam doanya Salomo berkata: “Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam terhadap tempat yang Kaukatakan: nama-Ku akan tinggal di sana; dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini” (1Raj. 8:29). Demikian pula nama Tuhan berada dalam gedung GKI di tempat ini. Doa-doa umat didengarkan oleh Allah di Bait-Nya di sini. Setiap jemaat GKI seharusnya setia kepada jemaat di mana ia menjadi anggotanya.

Namun di lain pihak iman Kristen menegaskan bahwa makna “Bait Allah” tidak terbatas pada sebuah gedung. Bait Allah adalah persekutuan umat percaya. Gereja bukan hanya gedungnya, tetapi orang-orang yang berada di dalamnya. Di Surat 1 Korintus 6:19 Rasul Paulus menyatakan: “Tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri.” Setiap diri kita adalah gereja Tuhan sehingga setiap umat dipanggil untuk hidup dalam kekudusan, kebenaran, dan keadilan. Setiap kali kita hadir di suatu tempat, kita sedang menghadirkan diri sebagai gereja Tuhan. Dengan demikian keberadaan gereja ditentukan oleh kehadiran dan peran setiap umat percaya di manapun ia berada. Karena itu apakah kehadiran kita di manapun kita berada adalah kehadiran sebagai umat percaya yang menguduskan Kristus dan mempermuliakan Allah? Ataukah sebaliknya kehadiran kita di berbagai tempat merupakan kehadiran yang mempermalukan dan menyangkal Kristus? Kita sering mempercakapkan hal-hal yang rohaniah, berita Injil, dan ajaran tentang kasih Kristus namun tindakan dan perbuatan kita bertolakbelakang. Karena itu selaku gereja Tuhan kita sering gagal menghadirkan tanda dan karya keselamatan Allah secara riel dalam kehidupan sehari-hari. Jemaat GKI dalam kesetiaannya sebagai anggota gereja dipanggil menyatakan Kristus dan kuasa kasih-Nya dalam relasi dengan sesama.

Rumah Allah yang Dirahmati untuk Membawa Rahmat

Tempat ibadah sebagai “Rumah Allah” yang dikuduskan sering menjadi sasaran serangan kebencian oleh umat yang berbeda keyakinan atau kepercayaan. Kita sering menjumpai suatu tempat ibadah tertentu dibakar, dirusak, atau dihancurkan oleh umat yang beragama lain. Penyebabnya adalah sikap yang mendomestikasi (merumahkan) keberadaan suatu rumah Allah pada lingkup yang sempit dan terbatas. Rumah Allah hanya dipahami sebagai area keagamaan tertentu, bahkan aliran dan denominasi tertentu. Di luar keagamaan atau aliran dan denominasi tertentu dianggap bukan rumah Allah. Jumlah gedung gereja GKI sekitar 200 lebih adalah Rumah Allah. Tetapi bukan berarti lingkup “Rumah Allah” hanyalah gedung gereja dari GKI. Sebab GKI mengakui dengan tulus setiap gereja apapun denominasinya adalah Rumah Allah. Bahkan GKI juga mengakui setiap tempat ibadah berbagai agama sebagai Rumah Allah yang harus dihormati dan diperlakukan dengan takzim. Pengakuan tersebut bukan berarti GKI menganggap setiap denominasi dan keragaman berbagai agama adalah sama. Realitas keberagaman gereja dan agama-agama tidak boleh direlatifkan seakan-akan semuanya sama. Mereka saling berbeda, namun yang berbeda bukan berarti saling meniadakan. Sebab Allah merangkul setiap keragaman dan keunikan umat dengan rangkulan kasih-Nya. Dia mencurahkan rahmat-Nya tanpa batas kepada setiap umat dan mahluk. Karena itu sesungguhnya keberadaan GKI adalah manifestasi rahmat Tuhan yang memberi ruang agar mampu hadir dan berperan, namun di lain pihak setiap insan jemaat GKI dipanggil untuk membagi ruang bersama dengan umat yang lain.

Keberadaan GKI di Indonesia bukan untuk merebut ruang hidup umat beragama lain atau tempat tinggal sesama yang berbeda pandangan teologi dan doktrin. Sebaliknya keberadaan GKI untuk menyatakan rahmat Allah di tengah-tengah ruang hidup umat gereja dan umat agama lain. Melalui rahmat Allah tersebut setiap insan jemaat GKI dipanggil untuk memberi inspirasi, motivasi, dan nilai-nilai iman Kristen yang membawa pembaruan dan pembebasan umat dari belenggu dosa. Karena itu diharapkan melalui keberadaan dan peran GKI setiap anggota jemaat memberkati keragaman menjadi kekayaan spiritualitas. Dengan pemahaman teologis yang demikian, GKI bersedia menjadi mitra kerja bagi siapapun yang berkehendak baik menyatakan karya keselamatan Allah. Namun menjadi mitra kerja di tengah-tengah keragaman tidak berarti GKI merelatifkan identitas dirinya. Karena itu setiap insan GKI perlu menggali kekayaan spiritualitas dan warisan yang dikaruniakan Allah dalam tubuh-Nya yaitu jemaat GKI. Untuk itu setiap umat dipanggil mencintai para pendeta GKI, menghidupi Konfesi GKI, menghargai Liturgi, menaati Tata Gereja, dan menghayati latarbelakang sejarah yang membentuknya. Dalam hal ini kita tidak perlu copy paste liturgi atau nyanyian ibadah gereja-gereja lain. Demikian pula kita dipanggil untuk mendukung secara penuh seluruh proses pendidikan teologia bagi umat yang terpanggil untuk menjadi seorang pendeta dan teolog di Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta-Wacana Jogja dan Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.

Rumah Allah yang Melampaui Kehidupan Umat

Mengimani Allah yang Mahakuasa di dalam Yesus Kristus berarti menempatkan setiap insan jemaat GKI menghayati universalitas Allah yang melampaui tempat, bahkan alam semesta dan langit. Keberadaan Allah berada di dalam kehidupan umat percaya, namun juga melampaui seluruh ciptaan termasuk alam semesta yang tidak terukur oleh waktu dan ruang. Di kitab 1 Raja-raja 8:27, Salomo dalam doanya berkata: “Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini.” Keberadaan Allah tidak hanya berada dalam suatu gedung gereja. Keberadaan Allah juga melampaui seluruh gedung gereja dan setiap tempat ibadah manapun di seluruh penjuru bumi. Bahkan keberadaan Allah melampaui alam semesta dan seluruh langit. Allah lebih besar dari seluruh yang diciptakan-Nya. Realitas keberadaan Allah yang melampaui seluruh ciptaan termasuk seluruh alam semesta yang tidak dapat diukur oleh ruang dan waktu seharusnya menyadarkan kita untuk semakin rendah-hati di hadapan-Nya. Misteri keagungan Allah tidak dapat ditempatkan dalam batasan logika dan pengertian kita sebagai insan manusia yang serba terbatas.

Di tengah-tengah keragaman sering kita menghadapi celaan, kritik, dan kesalahpahaman tentang keagungan misteri Allah yang menyatakan diri sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus. Mereka belum mengerti rahasia keagungan Allah Trinitaris dalam iman Kristen. Bahkan kita sendiri juga harus menyadari bahwa keberadaan Allah melampaui seluruh pengetahuan dan pengertian kita tentang doktrin Trinitas. Tidak ada satu tulisan teologis yang memadai tentang misteri Allah Trinitas. Karena itu yang dibutuhkan bukan hanya pengetahuan yang benar tentang Allah Trinitaris, tetapi bagaimana kita merespons dengan penyembahan dan hidup yang benar di hadapan-Nya. Setiap insan jemaat GKI tidak boleh memutlakkan suatu doktrin tentang Trinitas, tetapi dengan rendah-hati belajar kekayaan misteri Allah Trinitas. Selain itu insan jemaat GKI utamanya dipanggil untuk mempermuliakan Allah sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus dengan memperlakukan setiap orang yang beragam dengan kasih-Nya yang tanpa batas. Kesetiaan anggota jemaat yang partikularistis kepada Allah Trinitas tidak menghalangi setiap diri kita untuk berpikir dan memiliki pandangan yang universal tentang Allah. Dengan spiritualitas iman yang demikian, setiap jemaat GKI mampu meniadakan setiap sekat atau pola berpikir yang kompartementalistis. Rasul Paulus berkata: “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu yang dahulu ‘jauh’ sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus” (Ef. 6:13). Melalui karya penebusan Kristus, Allah telah merubuhkan tembok pemisah yaitu perseteruan (Ef. 6:14).

Rumah Allah dalam Partisipasi Persekutuan Kasih Allah Trinitaris

Keagungan keberadaan Allah yang melampaui seluruh pengertian dan akal manusia dalam misteri Allah Trinitas tidak menghalangi Dia untuk mengundang kita dalam persekutuan kasih-Nya. Karena itulah Tuhan Yesus, Sang Firman Allah yang menjadi manusia berkata: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh. 6:56). Berulang-ulang Tuhan Yesus berkata tentang makna “tinggal di dalam Aku” misalnya: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasihku itu” (Yoh. 15:9). Demikian pula: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5). Ini berarti setiap umat percaya dipanggil untuk hidup di dalam persekutuan kasih Allah Trinitaris, yaitu Bapa-Anak-Roh Kudus. Tingkat kedalaman kasih kita kepada sesama ditentukan oleh kedalaman relasi kita dengan Bapa-Anak-Roh Kudus. Semakin kita berpartisipasi dalam kasih Allah, semakin kita diperkaya oleh kedalaman kasih Kristus kepada setiap sesama. Untuk itu kasih yang dipraktikkan oleh setiap jemaat GKI bukanlah manifestasi organisatoris dari program pelayanan, tetapi karena dorongan spiritualitas iman. Program pelayanan yang telah disahkan oleh Majelis Jemaat hanyalah suatu sarana untuk mengekspresikan spiritualitas iman dalam bentuk kasih dan pengharapan.

Spiritualitas kasih jemaat GKI tidak bersumber sekadar pada dimensi kelembagaan keagamaan dan nilai-nilai humanistis belaka, tetapi bersumber pada cinta-kasih ilahi di dalam Kristus. Sebagaimana Tuhan Yesus berkata: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5). Dengan demikian setiap insan jemaat GKI dipanggil untuk memiliki kasih yang murni seperti kasih Tuhan Yesus, yaitu kasih yang tidak bersyarat dan terbuka kepada setiap orang tanpa membedakan ras, suku, etnis, budaya, adat-istiadat, dan tingkat sosial serta pendidikan. Karena itu setiap jemaat GKI menolak setiap bentuk diskriminasi dan berbagai sikap yang tidak adil. Namun kita tahu bahwa dalam praktik kehidupan prinsip dan nilai-nilai spiritualitas kasih Kristus tersebut tidak mudah untuk diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering memandang muka. Kita mudah menghakimi orang lain. Kita mengukur orang lain berdasarkan ukuran diri kita. Kita lebih mengutamakan kerabat, dan teman dkat daripada orang yang kompeten dan dapat dipercaya dalam melaksanakan karya Allah dan pekerjaan. Karena itu kita sekarang dipanggil untuk bertobat dan membarui diri. Perayaan ulang-tahun ke-27 penyatuan GKI harus ditandai dengan kesediaan setiap umat untuk melakukan pembaruan diri.

Rumah Allah dengan Perlengkapan Senjata Rohani

Pembaruan diri saja tidaklah cukup. Karena kita hidup dalam dunia yang penuh ancaman, godaan, kekerasan, ketidakadilan, dan pencobaan. Pembaruan diri harus dilengkapi dengan perlengkapan senjata rohani. Kekuatan rohani saja tidak akan memadai apabila tidak disertai dengan kewaspadaan dan strategi perang rohani yang baik. Di Matius 12:29, Tuhan Yesus memberi perumpamaan bagaimana kuasa gelap mengalahkan orang kuat, yaitu: “Atau bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu? Sesudah diikatnya barulah dapat ia merampok rumah itu.” Untuk menghadapi kehidupan yang terus berubah, semakin kompleks dan kelicikan maka setiap insan jemaat GKI membutuhkan kewaspadaan, ketajaman analitis, dan strategi yang jitu untuk melaksanakan perang rohani agar kuasa si jahat tidak berhasil menguasai rumah Tuhan dalam kehidupan kita. Di Surat Efesus 6:10 Rasul Paulus berkata: “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasan-Nya.” Agar umat percaya menjadi kuat di dalam Tuhan, maka setiap umat wajib mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah sehingga mampu bertahan melawan tipu-muslihat Iblis. Perlengkapan senjata Allah tersebut adalah: ikat pinggang kebenaran, baju ziarah keadilan, memakai kasut untuk memberitakan Injil damai-sejahtera, perisai iman, ketopong keselamatan, dan pedang roh.

Seluruh perlengkapan senjata Allah tersebut dibangun dalam spiritualitas doa. Firman Tuhan berkata: “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus” (Ef. 6:18). Bukankah di sini salah satu titik lemah para insan jemaat GKI pada umumnya? Kita jarang berdoa secara teratur dan disiplin. Kita belum menjadikan doa sebagai suatu spiritualitas yang utama, sebab kita lebih suka berorganisasi dan mengadakan berbagai macam rapat. Mengatur pelayanan gerejawi dalam organisasi dan rapat tentunya sangat penting, tetapi spiritualitas doa harus mendasarinya sehingga kuasa doa dalam kasih Allah mewarnai setiap percakapan dan pembahasan. Tanpa spiritualitas doa, kita tidak akan mampu membangun rumah Allah. Jadi tanpa doa kita hanya berhasil membangun rumah organisasi dari suatu lembaga gerejawi belaka yang serba rapi dan tertata dengan baik tetapi tanpa kuasa Roh Allah.

Panggilan

Di hari ulang tahun ke-27 penyatuan GKI saat ini kita dipanggil oleh Sang Khalik membangun rumah Allah agar mampu merayakan kehidupan bersama yang beragam sekaligus kehidupan yang cenderung impersonal, tidak adil dan penuh kekerasan. Panggilan Allah di dalam Bapa-Anak-Roh Kudus adalah agar kita senantiasa hidup di dalam persekutuan kasih-Nya, sehingga kita mampu berbagi ruang sebagaimana oleh anugerah Kristus GKI diberi ruang dalam sejarah dan kehidupan di negara Indonesia. Untuk itu perkembangan dan perluasan jemaat-jemaat GKI tidak dimaksudkan untuk merebut hak hidup gereja-gereja lain dan umat beragama yang berbeda. Hakikat penyatuan GKI tidak bermaksud hadir untuk menjadi ancaman yang membahayakan eksistensi gereja-gereja lain dan umat beragama yang berbeda. Sebaliknya perayaan penyatuan GKI adalah hadir dan berperan membawa rahmat Allah yang membarui dan membebaskan umat dari belenggu dosa. Hal ini akan terwujud apabila seluruh insan jemaat GKI tidak mengandalkan kepada kekuatan dan kemampuan manusiawinya sendiri. Selaku warga GKI, kita serius menata organisasi dan sistem pelayanan yang lebih baik tetapi upaya itu hanyalah sebagai media dan alat belaka. Sebab yang paling utama adalah bagaimana kita membuka diri dengan rendah-hati agar kuasa dan rahmat Allah yang menguasai seluruh kehidupan jemaat GKI berperan di tengah zaman yang terus berubah.

Jika demikian, bagaimanakah respons iman setiap Saudara pada hari ulang-tahun ke-27 penyatuan GKI pada hari ini? Marilah kita semakin mengasihi keberadaan jemaat GKI, namun di lain pihak kita tetap kritis dan terus-menerus memperbaiki diri sehingga kita semakin dimampukan oleh anugerah Allah serupa dengan Kristus. Dirgahayu GKI. Tuhan memberkati. Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply