Latest Article

Mewujudnyatakan Ibadah yang Berkenan kepada Allah (Kel. 1:8-2:10; Mzm. 124; Rm. 12:1-8; Mat. 16:13-20)

Umumnya umat di kalangan Kristen Protestan menempatkan pusat kebaktian adalah pada pemberitaan firman (khotbah), umat Katolik pada Ekaristi, umat di kalangan gereja Bethany pada pujian-pujian penyembahan, umat di kalangan gereja Pentakostal pada pengalaman kehadiran Roh Kudus, dan sebagainya. Semua aspek penekanan teologis tersebut benar. Namun semua aspek teologis tersebut hanya berada dalam lingkup ritual. Melalui ibadah umat diharapkan dapat mengalami perjumpaan dengan Allah yang hidup. Perjumpaan Allah dalam ibadah dianalogikan dengan latihan jasmaniah agar otot-otot dan tulang manusia menjadi semakin kuat. Di 1 Timotius 4:8 Rasul Paulus berkata: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” Makna kata “ibadah” di sini berasal dari kata eusebeia, yang artinya: “hidup yang saleh di hadapan Tuhan.” Karena itu tujuan setiap ibadah seharusnya menghasilkan kehidupan yang saleh, dan kudus sehingga menghasilkan perilaku hidup yang benar di hadapan Allah dan sesama.

Ibadah dan kesalehan merupakan dua dimensi spiritualitas yang menyatu dan meresapi. Ini hanya mungkin terwujud bilamana umat menghayati kehidupan ini sebagai persembahan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan di hadapan Allah (Rm. 12:1). Kata “tubuh” yang dimaksud oleh Rasul Paulus bukan sekedar raga jasmaniah kita, sebab kata “tubuh” (sooma) menunjuk kepada keseluruhan kemanusiaan kita. Dengan demikian mempersembahkan tubuh berarti mempersembahkan keseluruhan diri kita. Dalam praktik kita belum seutuhnya mempersembahkan diri kita, sebab masih berupa serpihan atau potongan-potongan kecil dari kedirian kita. Sebaliknya makna eusebeia menunjuk keutuhan diri yang hidup saleh (integritas iman). Karena itu ibadah tidak pernah berhenti pada aspek ritual, namun diwujudnyatakan dalam pengutusan, yaitu peran umat di tengah dunia. Seharusnya penekanan seluruh ibadah yang Alkitabiah bukan pada khotbah, ekaristi, pujian penyembahan, dan kehadiran Roh Kudus tetapi pada pengutusan dan peran umat di tengah dunia. Gereja Orthodoks Timur menyebut ordo Pengutusan dengan “the liturgy after the liturgy.” Maksudnya seluruh ibadah pada hakikatnya berpuncak pada panggilan Allah sejauh mana umat berperan sebagai media transformasi dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah tanpa peran umat yang membawa pembaruan di tengah kehidupan sehari-hari adalah kemunafikan.

Kemunafikan terjadi karena kita tidak hidup jujur kepada diri sendiri, di hadapan Allah, dan sesama. Akibatnya ibadah dan peran umat dalam kehidupan sehari-hari ditandai oleh kemunafikan, yaitu motif yang duniawi namun mengenakan simbol-simbol keagamaan. Karena itulah pembaruan harus dimulai dari diri sendiri, yaitu penguasaan diri menurut ukuran iman (Rm. 12:3). Kita berubah, maka dunia sekitar juga akan berubah.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply