Latest Article

Nubuat yang Digenapi Yesaya 7:10-16; Mazmur 80:1-7, 17-19; Roma 1:1-7; Matius 1:18-25

Adven IV

Kelahiran dan kedatangan Kristus dipersaksikan oleh kitab Injil sebagai peristiwa yang dinubuatkan Allah melalui para nabi. Makna “nubuat” (prophecy) menunjuk pada pewahyuan Allah untuk menyatakan peristiwa yang akan terjadi. Dalam konteks ini kesaksian Injil Matius 1:22-23 menegaskan bahwa nubuat Yesaya 7:14 telah tergenapi: “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” Beberapa ahli tafsir Kitab Suci menyarankan bahwa nubuat nabi Yesaya ini menunjuk kepada anak raja Ahaz. Tetapi kenyataannya tidak ada seorang anak dari Ahaz yang bernama Imanuel. Juga anak yang bernama “Imanuel” ini bukan menunjuk kepada penerus takhta raja Ahaz, yaitu raja Hizkia.  Nubuat nabi Yesaya ini juga tidak menunjuk kepada anak nabi Yesaya. Sebab anak nabi Yesaya memiliki nama, yaitu: Maher-Syalal Hasy-Bas (Yes. 8:3-4). Perkataan Yesaya 7:14 tentang Imanuel menunjuk pada diri Yesus yang oleh malaikat disebut dengan “Imanuel.”

Namun yang utama adalah apa relevansi nubuat nabi Yesaya yang telah tergenapi dalam diri Yesus dengan kehidupan kita? Bila Yesus adalah Sang Imanuel: “Allah beserta kita” apakah kita yang mengaku percaya juga mengalami penyertaan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita? Apakah dalam menghadapi berbagai persoalan dan kesulitan hidup kita membuka diri terhadap penyertaan Allah, ataukah mengandalkan pada kemampuan dan pengertian kita sendiri? Konteks Yesaya 7:14 adalah Raja Ahaz yang mencari pertolongan kepada raja Asyur dan ternyata kemudian raja Asyur berbalik menyerang raja Ahaz dan kerajaan Yehuda. Demikian pula umat manusia juga tidak dapat mencari pertolongan dengan usaha dan kemampuannya sendiri. Umat manusia membutuhkan karya pemulihan dan keselamatan Allah melalui karya penebusan Mesias, yaitu Kristus. Karena itu bila kita tidak mengandalkan penyertaan Tuhan, maka pada hakikatnya kita bersikap seperti Raja Ahaz. Menolak penyertaan Allah berarti kita menolak karya keselamatan dan penebusan Kristus.

Bagaimanakah sikap Saudara? Beberapa hari lagi kita akan merayakan Malam Natal, lalu hari raya Natal. Apakah yang menjadi komitmen iman Saudara dalam peristiwa kelahiran Sang Imanuel?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply