Latest Article

Persembahan Hana dan Elkana (1 Samuel 1:9-28)

Semakin sulit kita mendapatkan sesuatu, semakin sulit kita melepaskan pergi. Namun prinsip ini tidak berlaku bagi Hana dan Elkana. Sebelumnya hati Hana sedih karena ia tidak mendapatkan anak dari perkawinannya dengan Elkana, apalagi dia sering dilukai dan dihina oleh madunya yaitu Penina. Hana disebut mandul. Namun akhirnya Tuhan berkenan mendengarkan doa Hana, sehingga ia dapat mengandung dan melahirkan seorang anak bernama Samuel. Apa yang dilakukan Hana setelah ia memeroleh Samuel? Hana kemudian mempersembahkan Samuel sejak kecil untuk melayani Tuhan di Bait-Nya dalam asuhan Imam Eli. Sikap Hana tersebut mengingatkan kita akan sikap Abraham yang ikhlas mempersembahkan Ishak sebagai korban kepada Tuhan, walaupun Abraham dan Sara memeroleh Ishak setelah puluhan tahun berupaya dan berdoa. Mereka sangat sulit memeroleh anak, namun mereka ikhlas menyerahkan anaknya kepada Tuhan. Lebih daripada itu mereka memberikan anak-anak yang terbaik kepada Tuhan.

Dalam perjalanan sejarah umat Israel dapat dicatat bahwa Samuel kelak menjadi seorang Hakim yang terbesar. Dialah yang menobatkan Saul menjadi raja Israel yang pertama dan Daud sebagai pengganti Saul. Samuel bukan hanya memiliki kemampuan, kepandaian dan kharisma seorang pemimpin, tetapi juga pengabdian yang total kepada Tuhan sehingga melayani Tuhan sampai pada akhirnya. Bila kita menghendaki gereja Tuhan semakin bertumbuh, maka kita membutuhkan anak-anak yang terbaik untuk dipersiapkan menjadi para calon pendeta. Jangan sampai kita mengirim anak-anak yang tidak memiliki komitmen, tidak memiliki karakter untuk melayani Tuhan dan tidak diterima di berbagai perguruan tinggi, lalu terpikir untuk menyuruh mereka mengikuti pendidikan teologi. Sebab pendidikan teologi adalah pendidikan akademis dan spiritualitas yang bersifat khusus sehingga para calon mahasiswa teologi harus memenuhi berbagai persyaratan sebelum ia diterima.

Ke depan kita perlu menyiapkan para calon pendeta secara terencana dan dipersiapkan dengan baik, sebab kebutuhan para calon pendeta semakin tinggi namun dengan tuntutan yang semakin sulit. Sebab tidak setiap orang yang menempuh pendidikan teologi dapat lulus. Seandainya ia lulus belum tentu ia dapat melewati proses bina kader calon pendeta. Kemudian seandainya ia lulus sebagai calon pendeta, belum tentu ia dapat ditahbiskan sebagai pendeta. Situasi dan pergumulan umat manusia semakin kompleks, sehingga pendidikan teologi dan proses bina kader calon pendeta membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang semakin berkualitas tinggi. Kebutuhan SDM ini hanya dapat terwujud apabila setiap anggota jemaat mendidik anak-anaknya dengan disiplin, spiritualitas yang sehat dan lingkungan keluarga yang baik, lalu mendoakan agar salah seorang dari anak-anak mereka dapat menjadi seorang pendeta yang dipakai oleh Tuhan.

Di bulan Keluarga ini kita diajak menghayati peran sebagai anggota Keluarga Allah di dalam Yesus Kristus, dan secara khusus sebagai Keluarga jemaat GKI. Karena itu kecintaan kepada gereja perlu kita pupuk sejak anak-anak kita masih kecil sampai dewasa, sehingga mereka dapat mempersembahkan hidupnya bagi gereja-Nya. Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply