Latest Article

Rahmat Allah di Tengah-tengah Keragu-raguan Yes. 35:1-10; Mzm. 146:5-10; Yak. 5:7-10; Mat. 11:2-11

Minggu Adven III

Yohanes Pembaptis adalah Nabi zaman akhir. Karena itu di Minggu Adven II dan III, ulasan bacaan menyoroti tokoh Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan kedatangan Kristus. Dari sudut pandangan Yesus, Yohanes Pembaptis disebut: “lebih dari pada nabi” (Mat. 11:9). Di Matius 11:11, Tuhan Yesus berkata: “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis.” Namun pada sisi lain Matius 11:3 mempersaksikan saat di penjara Yohanes Pembaptis ragu-ragu terhadap Kristus. Dia menyuruh para muridnya bertanya kepada Yesus, apakah Yesus adalah Mesias yang akan datang itu. Tuhan Yesus memberi jawaban keragu-raguan Yohanes Pembaptis dengan menunjuk pada seluruh karya mukjizat-Nya untuk menggenapi nubuat Yesaya 35:5-6.

Keragu-raguan dalam jangka panjang dan tidak memperoleh jawaban dapat mendorong seseorang untuk menolak Allah. Namun kehidupan iman yang pasif tanpa ragu-ragu dapat menyebabkan iman menjadi dangkal dan mekanistis. Karena itu yang utama adalah apakah keragu-raguan iman tersebut dilandasi oleh kasih kepada Allah. Tanpa kasih, keragu-raguan akan iman dapat menyebabkan seseorang menjadi ateistis. Sebaliknya dengan kasih kepada Allah, keragu-raguan justru memperdalam dimensi iman. Karena dengan sikap kasih, kita dimampukan untuk setia dan taat walau ragu-ragu. Keragu-raguan Yohanes Pembaptis tetap menjadikan dia seorang yang setia dan taat sampai mati kepada Kristus. Jawaban Yesus meneguhkan Yohanes Pembaptis, bahwa Yesus adalah Kristus (Mesias) yang dijanjikan Allah.

Di tengah-tengah ketidakpastian dunia ini selaku umat percaya kita dijanjikan kepastian kedatangan Allah. Surat Yakobus menjelaskan kepastian kedatangan Tuhan dengan ilustrasi seorang petani yang menantikan hasil dari tanahnya (Yak. 5:7). Benih tanaman yang tumbuh pasti akan tumbuh pada musimnya. Karena itu kedatangan Tuhan juga sesuatu yang pasti, namun kita tidak mengetahui kapan “musim” tersebut akan tiba. Keragu-raguan haruslah berujung pada keyakinan dan kepastian iman. Di dalam Kristus, Allah telah menganugerahkan rahmat-Nya sehingga memampukan kita melewati keragu-raguan menuju kepastian iman. Dengan demikian kepastian iman tidak menjadikan kita takabur dan sombong, sebaliknya sikap yang rendah-hati dan mengasihi Allah dan sesama di sekitar kita.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply