Latest Article

ShangDi Identik dengan Allah Di dalam Kristus? (Kisah Para Rasul 17:16-28)

Kui Shin Voo dan Larry Hovee dalam “The Lamb of God hidden in the ancient Chinese characters” merumuskan sosok “ShangDi” () sebagai Allah yang tertinggi dalam kepercayaan Cina. Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat memastikan bahwa ShangDi (上帝) atau Tian (天) menunjuk kepada Allah yang bernama “Yahweh”? Pertanyaan inilah yang menggelitik Kui Shin Voo dan Larry Hovee untuk mengadakan penelitian terhadap latar-belakang kepercayaan Cina kuno kepada ShangDi (CEN Technical Journal 13(1) 1999, 81-82). Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Dr. Raymond Paul Petzholt pada tahun 2000 dalam China”s Blood Covenant With ShangDi. Hasil penelitiannya adalah mereka menyimpulkan ShangDi (上帝) adalah Pencipta dari alam semesta dan bumi, sehingga para kaisar harus taat kepada ketetapan “Langit” untuk memerintah dengan kasih, belarasa, dan keadilan. Karena itu ShangDi adalah penguasa Langit (Tian, ). Gambaran ShangDi tersebut memiliki kemiripan yang begitu dekat dengan karakter dan penyataan Allah yang bernama “Yahweh” (Allah yang dikenal oleh umat Israel).

Karakter ShangDi yang utama dinyatakan dengan keadilan. Ia menuntut standar moral yang tertinggi dari para kaisar dan umat-Nya. ShangDi bukanlah Allah yang “impersonal”, sebaliknya ShangDi diyakini sebagai Allah yang personal yang berelasi dengan manusia melalui “imam besar”, yaitu kaisar. Karena itu para kaisar senantiasa meminta berkat dari ShangDi agar manusia hidup dalam berkat-Nya. Berkat tersebut diperoleh dengan mempersembahkan kurban. Dalam sejarah kebudayaan Cina ribuan tahun yang silam telah dikenal ritual persembahan kurban kepada Tian Tan (kuil surga). Dalam bahasa Inggris “Tian Tan” diterjemahkan dengan “The Temple of Heaven”. Persembahan kurban yang dikehendaki oleh ShangDi khususnya adalah lembu dan kambing.

Kepercayaan kuno orang Cina tersebut diperkirakan telah ada sejak tahun 2205 s.M. Orang-orang Cina sejak dahulu telah melakukan ritual persembahan pengorbanan kepada ShangDi (上帝) berupa seekor domba atau sapi. Upacara ritual persembahan korban berupa domba atau sapi kepada ShangDi atau dewa langit tersebut dilakukan di Gunung Tai, Provinsi Shandong (Voo dan Larry Hovee 1999, 81). Orang Cina yang mempersembahkan kurban berupa domba atau sapi kepada ShangDi didasari oleh perasaan “malu” (perasaan bersalah). Karena itu melalui persembahan hewan kurban tersebut, orang Cina mengharapkan penebusan akan kesalahan mereka karena telah melawan ShangDi. Aksara Yi () mempersaksikan bagaimana prinsip keadilan dan kebenaran dinyatakan, yaitu melalui sikap manusia (“diriku”) yang menempatkan penebusan anak domba untuk menggantikan kesalahannya.

Kung Fu Tse memercayai Allah yang disebutnya sebagai “Tian” (天), atau juga disebut dengan nama “ShangDi” (上帝). Bagi Kung Fu Tse, “Tian” (天) menghadirkan diri-Nya dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kung Fu Tse berkata, “Apakah Tian pernah bicara? Lihat saja, empat musim selalu berlangsung silih berganti, semua ciptaannya hidup berkembang bebas. Apakah Tian pernah bicara?” (Wang 2011, 197). Karena itu, respons manusia kepada “Tian” (天) seharusnya tidak bersungut-sungut dan menyalahkan orang lain. Kung Fu Tse memberi nasihat, yaitu: “Tidak mengeluh kepada yang berkuasa di atas Langit, dan tidak pernah menyalahkan orang lain. Aku belajar dari bawah, setingkat demi setingkat merangkak naik. Oh, yang mengerti aku hanyalah yang berkuasa di langit” (Wang 2011, 160).

Dalam kontekstualisasi Injil tidaklah salah secara teologis untuk menerima ShangDi identik dengan “Yahweh”, yaitu Allah yang menyatakan diri di dalam Yesus Kristus. Dasarnya teologisnya dapat dibandingkan dengan pengalaman rasul Paulus saat ia berada di sidang Areopagus, Athena. Rasul Paulus menyebut “Allah yang tidak dikenal” – itulah yang diberitakan kepada mereka. Hakikat “Allah yang tidak dikenal” di Athena itu dijabarkan rasul Paulus dengan: “Allah yang menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia” (Kis. 17:24). Demikian pula kita juga dapat menunjukkan segi-segi kesamaan ShangDi dengan Yahweh yang menuntut hidup “suci” (standar moral yang tertinggi), dan karya Kristus dalam penebusan dosa (perhatikan konsep “Yi” yang menghendaki kebenaran dan keadilan dari pihak Allah). Kalau seandainya kita tidak setuju untuk menghubungkan ShangDi dengan “Yahweh” (dan “Yesus”), minimal kita dapat menggunakan konsepsi tentang “ShangDi” sebagai jembatan teologis agar orang-orang Cina (Tionghoa) dapat mengenal Allah di dalam diri Yesus Kristus. Jembatan teologis ini sangat penting, karena melalui konsep “ShangDi” kita dapat masuk ke dalam hati sanubari orang Cina (Tionghoa) melalui tradisi dan budaya yang telah melekat ribuan tahun dalam kehidupan mereka. Karena itu mereka tidak akan terlalu asing untuk menerima penyataan Yahweh di dalam Tuhan kita Yesus Kristus.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply