Latest Article

Siapa Mencintai Nyawanya akan Kehilangan Nyawanya (Yer. 31:31-34; Mzm. 51:3-14; Ibr. 5:5-10; Yoh. 12:20-33)

Minggu Prapaskah V

Ucapan Tuhan Yesus ini sering kita dengar, yaitu: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yoh. 12:25). Terlalu sering kita dengar kata-kata tersebut sampai kita tidak lagi memahami maknanya. Ucapan Yesus ini mengandung makna yang begitu dalam, dan disampaikan dalam bentuk yang agak aneh. Bukankah menurut konsep dunia ini, orang-orang yang mencintai nyawa justru yang akan mencapai keberhasilan. Sebab mereka begitu mencintai diri sehingga tidak membiarkan mengalami kesulitan, kesusahan, dan kerugian apapun terjadi pada diri mereka. Tetapi ternyata Yesus menjungkirbalikkan pemahaman yang umum tersebut. Yesus justru berkata bahwa barangsiapa yang tidak mencintai nyawanya di dunia ini justru dialah yang akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.

Pemahaman dan ajaran filsafat dunia sangat asing dengan makna perkataan Yesus: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya” karena dunia tidak mengenal makna cinta-kasih yang berkurban. Orang-orang dunia lebih akrab dengan semua tindakan yang menguntungkan diri sendiri. Karena itu orang-orang dunia lebih suka mengurbankan siapa dan apapun asal mendatangkan kesejahteraan bagi diri sendiri atau kelompok tertentu. Namun tidaklah demikian sikap Yesus. Ia adalah Sang Anak Allah yang datang dari “atas” yaitu Allah. Yesus adalah manifestasi Sang Firman Allah. Melalui diri Yesus, Allah menyatakan kasih-Nya yang nyata kepada umat manusia. Karena itu ciri utama dari karakter Yesus adalah kasih yang berkurban. Yesus datang ke dalam dunia untuk memberikan nyawa-Nya agar kita memeroleh kehidupan kekal dalam persekutuan Allah Bapa dan Roh Kudus. Di Yohanes 12:24 Yesus menganalogikan diri-Nya dengan biji gandum yang jatuh dan mati, yaitu: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Dengan kematian-Nya umat manusia akan memeroleh keselamatan dan hidup yang berlimpah. Kematian Yesus di atas kayu salib bukanlah tragedi, namun manifestasi kasih Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya.

Makna manifestasi kasih Allah di dalam Kristus senantiasa bersifat universal dan tidak dibatasi oleh suku, bangsa, dan agama tertentu. Karena itu sifat kasih Allah senantiasa merembes, meresapi, membarui, dan menjangkau setiap umat manusia. Penebusan Kristus tidak terbatas pada umat Israel belaka, namun juga bagi seluruh umat manusia. Di Yohanes 12:20 menyatakan bahwa orang-orang Yunani datang dan ingin bertemu dengan Yesus. Sikap Yesus yang mendengar orang-orang Yunani ingin berjumpa dengan Dia adalah: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan” (Yoh. 12:23). Maksud Yesus dengan pernyataan “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan” adalah menunjuk akan kematian-Nya di atas kayu salib. Sebab peristiwa salib adalah peninggian-Nya sama seperti Musa telah meninggikan ular tembaga di padang gurun (Yoh. 3:14). Karena itu saat Yesus ditinggikan dalam peristiwa salib, Ia akan menarik semua orang datang kepada-Nya (Yoh. 12:32). Dengan demikian melalui peristiwa penyaliban Yesus, Allah memulihkan umat manusia dari kuasa dan belenggu dosa, yaitu maut.

Ucapan Yesus: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yoh. 12:25) akan dapat kita pahami secara utuh apabila ditempatkan dalam peristiwa salib di bukit Golgota. Sebab Tuhan Yesus dalam peristiwa salib telah membuktikan ucapan-Nya tersebut dengan pengurbanan diri-Nya. Yesus tidak sekedar memberi pengajaran yang penuh hikmat dan filsafat etis-moral yang memukau, namun Ia membuktikan dengan kehidupan diri-Nya. Karena itu dalam Injil Yohanes mempersaksikan Yesus bukan wafat karena luka-luka dalam penyaliban-Nya, namun melalui peristiwa salib Yesus secara sukarela memberikan nyawa-Nya. Di Yohanes 10:18, Yesus berkata: “Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” Yesus adalah Tuhan, dan karena itu tidak ada kuasa manapun termasuk manusia yang mampu mencabut nyawa-Nya, kecuali karena Ia berkenan memberikan.

Kerelaan umat untuk tidak mencintai nyawa seperti yang dilakukan Yesus akan terjadi apabila firman Tuhan tersebut dimeteraikan dalam batin kita. Selama kita menghayati kekristenan hanya sekedar kewajiban dan upaya memeroleh keselamatan, kita tidak dapat melaksanakan panggilan Tuhan Yesus untuk rela kehilangan nyawa bagi Allah. Karena itu di Yer. 31:33, Allah mengadakan perjanjian baru dengan umat-Nya, yaitu: “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” Arti “menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka” menunjuk firman Allah yang menguasai roh dan segenap kepribadian setiap umat, sehingga umat memperlakukan Allah sebagai Tuhan dan hidup dalam ketaatan sebagai umat Allah. Sebagaimana isi lagu di Nyanyian Rohani 95 bait 1 berkata: “Firman Hu berprintahlah sampai ujung dunia. Oleh-Nya dijadikan kita pun sekalian.” Kita akan dimampukan untuk “tidak mencintai nyawa” sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yesus jikalau hidup kita semata-mata dikendalikan dan diperintah oleh firman Allah. Sebab firman Allah mendorong setiap umat dengan kuasa kasih-Nya, dan bukan dengan pemaksaan, kekerasan, dan ancaman.

Pertanyaan untuk direnungkan:

  1. Mengapa pengajaran Yesus: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” bertentangan dengan pemahaman dan pengajaran dunia?
  2. Bagaimana sikap dan kecenderungan orang-orang dunia? Jelaskan.
  3. Apa arti ucapan Yesus: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah?”
  4. Mengapa penebusan Kristus bersifat universal, dan tidak terbatas pada suatu suku atau bangsa tertentu?
  5. Apakah Yesus wafat di kayu salib karena akibat siksaan-siksaan yang dialami-Nya? Jelaskan makna ucapan Yesus di Yohanes 10:18.
  6. Bagaimanakah sikap spiritualitas yang benar agar kita dapat melaksanakan panggilan Yesus dalam kehidupan kita?
  7. Berikan contoh bahwa Saudara pernah mempraktikkan “tidak mencintai nyawa.”

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply