Latest Article

The Great Commission or The Great Ommision (Amanat Agung atau Kelalaian terbesar) Matius 28:11-20

Selaku gereja, kita hidup dalam dunia. Bagaimanakah kita menyikapi dunia? Bagaimanakah relasi antara kita sebagai gereja dengan dunia? Apakah dunia yang membutuhkan gereja, ataukah gereja yang membutuhkan dunia? Sesungguhnya gereja yang membutuhkan dunia, karena itu setiap gereja terus-menerus menempatkan panggilannya dalam memahami kebutuhan dan permasalahan dunia. Dengan spiritualitas yang demikian gereja terpanggil melaksanakan perintah Tuhan Yesus yaitu: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19). Jadi justru kesadaran bahwa gereja membutuhkan dunia, gereja semakin terdorong untuk melaksanakan Amanat Agung (the great commission) dari Tuhan Yesus, yaitu memberitakan Injil ke seluruh penjuru dunia.

Dunia yang dibutuhkan oleh gereja bukanlah dunia yang ramah dan menyenangkan, tetapi dunia yang penuh dengan berbagai kepahitan, penderitaan, kekerasan, kekejaman, dan kejahatan. Di Matius 28:11-15 yang menjadi konteks Amanat Agung di Matius 28:19-20 mengisahkan bagaimana Imam-imam kepala berunding dengan para Tua-tua Israel dengan memberikan uang sogokan kepada para prajurit yang menjaga kubur Yesus agar mereka tidak mengatakan bahwa Yesus telah bangkit (Mat. 28:13). Itulah situasi dunia yang mengingkari karya keselamatan Allah di dalam penebusan dan kebangkitan Kristus. Dunia yang dibutuhkan oleh gereja ternyata adalah dunia yang manipulatif, yaitu dunia yang dengan segala cara memutarbalikkan kebenaran menjadi kesalahan, dan kesalahan menjadi kebenaran. Di tengah-tengah ejekan dan cemoohan tersebut, kita dipanggil untuk memberitakan Injil kepada semua mahluk dan bangsa.

Di Matius 28:15 menyatakan para Imam dan Tua-tua Israel menyebarkan berita palsu dan berita tersebut terus tersebar sampai saat ini. Berita palsu tersebut adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja, sistematis dan taktis agar banyak orang mempercayai bahwa Yesus tidak bangkit dari kematian. Di era digital sekarang, kita berulangkali mendengar berita palsu yang disebut hoax. Misalnya mengirim foto yang sudah diedit, padahal realitanya tidaklah demikian. Hoax yang berbahaya adalah apabila menyebarkan foto yang sudah diedit atau diberi keterangan yang menyesatkan khususnya tentang pembunuhan suatu etnis atau kelompok agama tertentu. Tujuan hoax tersebut adalah kerusuhan dan pembalasan dari suatu kelompok massa. Apakah dalam hidup bergereja, kita juga terlibat dengan berita hoax? Umat percaya dipanggil menggunakan setiap sarana komunikasi digital termasuk percakapan personal dan komunal untuk menyebarkan berita Injil Kristus dalam berbagai bentuk, sehingga banyak orang terdorong untuk mengenal dan percaya kepada Tuhan Yesus.

Seluruh tujuan pemberitaan Injil pada hakikatnya adalah agar umat manusia menyembah Kristus (Mat. 28:17-18). Dalam kebaktian, penyembahan (worship) merupakan jantung dari liturgi dan kehidupan iman Kristen. Sebab hanya orang-orang yang menyembah dan mempermuliakan Kristus saja yang diselamatkan. Namun tugas dan panggilan menyembah dan mempermuliakan Kristus utamanya terhambat oleh kecenderungan manusiawi kita untuk menyembah dan mempermuliakan diri sendiri. Kegagalan kita untuk melaksanakan Amanat Agung dari Tuhan adalah keinginan kita untuk dihormati, dikenal, dianggap penting, dan menjadi pusat perhatian.

Pelaksanaan pemberitaan Injil tidak dapat dilepaskan dari peran kelembagaan gereja. Jadi suatu kesalahan berteologi apabila tugas memberitakan Injil untuk mempermuliakan Kristus dilepaskan dari status keanggotaan gereja. Misal suatu pernyataan: “yang penting umat percaya kepada Kristus, sehingga tidak terlalu penting apakah mereka ke gerejanya atau tidak.” Pernyataan tersebut hanya benar sebagian saja. Lalu apa artinya makna ucapan kita dalam Pengakuan Iman Rasuli yang menyatakan gereja yang kudus dan am? Di lingkungan jemat GKI, sakramen baptisan tidak dapat dilaksanakan oleh orang per-orang atau suatu kelompok tertentu. Sakramen baptisan dan Perjamuan Tuhan senantiasa dilaksanakan oleh gereja. Karena gereja adalah tubuh Kristus, dan Kristus adalah Kepala. Jadi berbicara tentang Kristus sebagai Kepala tidak pernah terlepas dari eksistensi tubuh-Nya yaitu gereja. Jika demikian tugas pemberitaan Injil adalah tugas setiap umat yaitu gereja-Nya, yang dalam konteks kita adalah Jemaat GKI Perniagaan. Bagaimanakah peran dan keterlibatan kita dalam tugas melaksanakan Amanat Agung dari Kristus tersebut? Amin.

Pertanyaan untuk Diskusi

  1. Mengapa kita selaku gereja yang membutuhkan dunia, dan bukan mengharap dunia yang membutuhkan gereja?
  2. Bagaimana gambaran dan situasi umum dari kehidupan dunia sebagaimana yang dilukiskan dalam Matius 28:11-15?
  3. Apakah kita pernah menjumpai penyebaran berita bohong (hoax) dalam kehidupan sehari-hari atau dalam persekutuan gereja? (Bisa disharingkan tanpa diizinkan menyebut identitas seseorang).
  4. Tujuan dan panggilan setiap umat percaya termasuk pemberitaan Injil adalah menyembah dan mempermuliakan Kristus. Silakan dengan kalimat sendiri seorang atau dua orang peserta menjelaskan makna ayat dari Matius. 28:17-18.
  5. Amanat Agung dari Tuhan Yesus untuk membaptis setiap orang dalam nama Bapa-Anak-Roh Kudus menunjuk peran gereja sebagai lembaga. Mengapa Pekabaran Injil bukan sekadar tugas perorang atau kelompok tertentu namun juga tugas gereja sebagai lembaga?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply