Latest Article
Renungan Akhir Tahun 2015

Renungan Akhir Tahun 2015

Berhikmat dalam Terang Kristus

(1Raj. 3:5-14; Yoh. 8:12-19)

Berada di ujung tahun tidaklah bijaksana untuk tidak menengok sebentar terhadap rangkaian perjalanan kehidupan yang telah kita lalui. Karena itu di akhir tahun umumnya kita membuat refleksi untuk mengevaluasi semua peristiwa dan langkah perjalanan hidup yang telah kita alami. Refleksi dan evaluasi dilakukan agar melahirkan sikap bijaksana atau arif sehingga di tahun mendatang kehidupan kita menjadi lebih baik dan berkualitas. Karena itu terdapat tiga elemen penting dalam sikap berhikmat yaitu: refleksi, evaluasi dan harapan hidup ke depan yang lebih berkualitas.

Refleksi merupakan perenungan yang mendalam dan utuh terhadap sesuatu atau realitas yang telah dilihat dan dialami sehingga menghasilkan suatu pemahaman yang lebih jelas, utuh dan memberi pencerahan. Melalui refleksi seseorang tidak hanya bicara tentang realitas objektif namun juga realitas subjektif, sehingga mampu memahami realitas secara utuh dan memperkaya khasanah spiritualitas.

Evaluasi merupakan suatu tindakan yang kritis dan objektif terhadap suatu realitas atau pengalaman kehidupan yang telah dijalani dengan menggunakan ukuran yang dianggap tepat sehingga menemukan aspek-aspek yang perlu diperbaiki dan dikembangkan secara kualitatif dan kuantitatif.

Harapan hidup ke depan yang lebih berkualitas merupakan spiritualitas iman yang menempatkan harapan iman kepada Allah sebagai satu-satunya kebenaran dan keselamatan, sehingga di dalam dan melalui Allah sebagaimana dinyatakan di dalam anugerah Kristus ia membangun kehidupan yang lebih berkualitas dan berkenan di hadapan Allah.

Ketiga aspek sikap berhikmat yaitu refleksi, evaluasi dan harapan hidup ke depan yang lebih berkualitas merupakan elemen-elemen rohaniah yang harus diintegrasikan sehingga menghasilkan kearifan dalam perilaku kehidupan. Ketiga aspek tersebut akan dapat menjadi benih-benih yang positif dalam membangun spiritualitas yang bijaksana sehingga ia akan semakin bertumbuh secara sehat sebagai umat Allah yang percaya kepada Kristus.

Namun ketiga aspek berhikmat tersebut perlu dijangkarkan pada penyataan Sang Hikmat Allah yaitu Firman yang tertulis yaitu Alkitab dan Yesus Sang Firman serta Terang Dunia. Refleksi bukan suatu perenungan yang terjadi pada masa kini saja namun telah diterangi oleh pengalaman iman sebelumnya. Evaluasi bukan sekadar tindakan kritis dan objektif namun perlu diukur oleh firman kebenaran. Harapan akan hidup yang berkualitas hanya terjadi dalam sikap ketaatan kepada Allah melalui firman-Nya, sehingga Ia akan menuntun kita kepada jalan keselamatan.

Sikap hikmat adalah keutamaan dalam menghayati kehidupan yang lebih berkualitas dan bermakna, sebab dengan sikap hikmat kita dimampukan untuk menjalani kehidupan ini dengan nilai-nilai keluhuran, adil dan objektif sehingga mampu mempertimbangkan segala sesuatu dengan kedalaman iman dan kearifan rohaniah di hadapan Tuhan dan sesama. Sikap hikmat itulah yang disadari oleh raja Salomo, sehingga ia memilih hikmat di antara beberapa pilihan lainnya. Di 1 Raja-raja 3:9, Salomo menyampaikan permohonan kepada Allah: “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang paham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” Makna “hikmat” dalam konteks jawaban Salomo adalah: “hati yang pahami menimbang perkara untuk menghakimi umat Allah.” Hikmat untuk menghakimi perkara dengan adil sehingga mampu membedakan antara yang baik dan yang jahat dibutuhkan oleh Salomo sebagai raja. Sebab Raja pada era itu juga berfungsi sebagai seorang Hakim. Bukankah keadilan dan kemampuan menimbang secara cermat serta jernih adalah kebutuhan yang utama bagi seorang raja?

Beberapa alasan yang mendasari Salomo memilih hikmat daripada kebutuhan yang lain yaitu:

  1. Jabatan raja yang diembannya disadari Salomo sebagai anugerah Allah dalam kasih-setia-Nya yang begitu besar. Bilamana Allah memilih dan menetapkan dia menjadi raja atas umat Israel, maka Allah yang akan memampukan dia untuk melaksanakan tugas tersebut.
  2. Kesadaran Salomo bahwa ia masih sangat muda dan belum berpengalaman, sehingga hanya hikmat dari Allah saja yang akan memampukan dia untuk melaksanakan tugas sebagai raja di tengah-tengah umat-Nya.
  3. Kesadaran Salomo bahwa umat yang dipimpinnya adalah umat pilihan Allah dan secara kuantitatif telah berkembang menjadi suatu bangsa dalam jumlah yang besar.

Ketiga alasan tersebut di atas yang mendorong Salomo memilih hikmat dari Allah, sehingga dengan hikmat Allah tersebut ia mampu menimbang setiap perkara yang diajukan umat Israel kepada dia dapat diputuskan dengan adil dan bijaksana.

Namun di samping ketiga aspek tersebut di atas yang bersifat positif, kesaksian Kitab 1 Raja-raja 3 terdapat aspek yang negatif dan kontradiktif. Sebab di Kitab 1 Raja-raja 3:1 menyatakan: “Lalu Salomo menjadi menantu Firaun, raja Mesir; ia mengambil anak Firaun, dan membawanya ke kota Daud, sampai ia selesai mendirikan istananya dan rumah TUHAN dan tembok sekeliling Yerusalem.” Salomo menjadi menantu Firaun, raja Mesir. Tindakan Salomo tersebut bertentangan dengan ketetapan Hukum Taurat, yaitu: “Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera” (Ul. 7:3-4). Salomo memilih tindakan politis untuk memperkuat kerajaannya daripada setia dan taat kepada Hukum Tuhan. Dari sudut iman, Salomo telah melakukan kesalahan yang fatal yaitu bersandar kepada kekuatan politis kerajaan Mesir dibandingkan dengan Allah. Selain itu Salomo juga menyembah dewa-dewa bangsa Kanaan: “Ia masih mempersembahkan korban sembelihan dan ukupan di bukit-bukit pengorbanan” (1Raj. 3:3). Sikap Salomo secara rohaniah bersikap mendua (ambivalen) terlihat dengan jelas dalam kesaksian 1 Raja-raja 3:3, yaitu: “Dan Salomo menunjukkan kasihnya kepada TUHAN dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya; hanya, ia masih mempersembahkan korban sembelihan dan ukupan di bukit-bukit pengorbanan.”

Selain itu kondisi rohani umat Israel ternyata tidak sepenuhnya menunjukkan ketaatan umat untuk mengasihi Yahweh sebagai satu-satunya Allah, tetapi mereka masih mempersembahkan korban di bukit-bukit pengorbanan (1Sam. 3:2). Penyebutan umat masih mempersembahkan korban di bukit-bukit pengorbanan menunjuk beberapa tempat sebagai menjadi mezbah untuk menyembah kepada dewa-dewa bangsa Kanaan. Umat Israel di samping menyembah Yahweh juga menyembah dewa-dewa lain. Kehidupan rohani umat Israel dinyatakan dengan sikap mendua sebagaimana Salomo juga mendua, yaitu percaya kepada Yahweh tetapi juga percaya kepada kekuatan para dewa bangsa Kanaan dan mengandalkan kekuatan politis serta perlindungan dari Firaun. Dengan menjadi menantu Firaun, Salomo berharap tidak akan mendapat serangan dari kerajaan Mesir. Jadi jawaban Salomo yang memilih hikmat Allah ditempatkan dalam realitas sikap rohaniah dan kehidupan umat yang mendua. Jawaban dan pilihan Salomo untuk memeroleh hikmat Allah ditempatkan dalam kondisi rohaniah yang tidak ideal, yaitu mengabaikan akan sikap hormat dan takut akan Allah. Sebab Salomo saat itu masih mengandalkan kepada kekuatan politis dan perlindungan dari Firaun daripada perlindungan Allah.

Walau kondisi Firaun dan umat Israel waktu itu berada dalam sikap yang serba mendua, namun yang aneh adalah Allah berkenan menyatakan diri-Nya kepada Salomo. Allah menyatakan diri-Nya kepada Salomo di Gibeon setelah Salomo mempersembahkan korban di bukit pengorbanan yang paling besar sebab seribu korban bakaran dipersembahkan di atas mezbah itu. Penyataan diri Allah di Gibeon tersebut menegaskan bahwa Yahweh lebih berkuasa daripada para dewa bangsa Kanaan, sebab para dewa bangsa Kanaan tidak berdaya dan memiliki kuasa untuk menjawab doa permohonan yang telah dinaikkan di atas mezbah. Para dewa bangsa Kanaan tidak mampu mengokohkan takhta dan kerajaan Israel yang dipimpin oleh Salomo.

Apabila kelak kerajaan Israel yang dipimpin oleh Salomo terpecah menjadi dua menjadi Kerajaan Israel Utara dan Kerajaan Israel Selatan adalah akibat tindakan Salomo yang mendua. Keruntuhan kerajaan Salomo yang terpecah menjadi dua dilatarbelakangi oleh situasi: “Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het, padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka. Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta” (1Raj. 11:1-2). Letak kelemahan yang mendasar pada Salomo adalah pada kerapuhannya sebagai seorang pria yang mudah jatuh cinta, dan cinta tersebut dipakai untuk kepentingan politis sebab ia memiliki tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN (1Raj. 11:3). Jikalau kelemahan yang mendasar pada Salomo adalah hawa-nafsu seks dan kecenderungannya memanfaatkan hubungan cinta dengan cinta seharusnya hikmat yang dia mohonkan kepada Tuhan adalah pengekangan hawa-nafsu seks dan kemampuan rohaniah untuk tidak bersandar pada kekuatan politis dengan bangsa-bangsa di sekitar Israel. Hikmat yang utama adalah pengekangan diri dan kejernihan dalam merespons suatu masalah secara iman, sehingga Salomo tidak terjebak pada hawa-nafsu seks yang liar dan bersandar pada kekuatan politis yang dia miliki.

Problem utama yang dihadapi Salomo bukan karena ia sedang memimpin umat Israel dalam jumlah yang tidak terbilang dan masih muda usia, tetapi hasrat seksuilnya yang begitu besar untuk menikahi begitu banyak wanita, dan kecenderungan untuk memanfaatkan pertalian perkawinan dengan banyak wanita untuk kepentingan politisnya. Raja Salomo sebenarnya membutuhkan hikmat Allah untuk mengendalikan hawa-nafsu seksuil daripada kemampuan untuk menghakimi umat secara adil. Dengan kegagalan Salomo menghakimi dirinya secara adil, maka ia kehilangan keutuhan Kerajaan Israel yang terbentang dari Dan sampai Bersyeba. Hikmat untuk menghakimi umat dengan adil adalah bersifat eksternal, tetapi hikmat untuk menghakimi diri sendiri agar dapat mengendalikan hawa-nafsu seksuil dan kolusi politis adalah bersifat internal. Di antara kedua aspek eksternal dan internal sikap berhikmat tersebut tentunya yang utama adalah aspek internal, yaitu hikmat untuk menghakimi diri sendiri. Dengan hikmat untuk menghakimi diri sendiri, kita dimampukan untuk menghakimi orang lain dengan sikap yang lebih bijaksana. Jadi dasar yang utama dari seluruh kebijaksanaan dan hikmat adalah kehidupan rohaniah yang telah diperbarui dan diterangi oleh hikmat Allah, sehingga kita dimampukan untuk bersikap arif dan adil bagi semua orang.

Pembaruan dan terang hikmat Allah bukan kumpulan ide, kata-kata bijak, filsafat atau ideologi. Tetapi hikmat Allah dinyatakan dalam diri Kristus. Sebab Kristus adalah manifestasi Sang Hikmat Allah. Di Yohanes 8:12, Tuhan Yesus berkata: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Di dalam diri Kristus terangkum seluruh hikmat Allah yang bersifat internal dan eksternal, bahkan mencakup seluruh semesta sehingga Ia berkata “Akulah Terang Dunia.” Karena itu agar kehidupan seseorang diterangi oleh hikmat Allah, Yesus menawarkan jalan hidup yaitu: “Barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Pembaruan dan terang hikmat Allah akan dimiliki bilamana setiap orang secara konsisten mengikuti Kristus. Salomo tidak dapat dijadikan teladan dalam kekudusan sebab hikmatnya tidak mampu mengadili diri sendiri saat ia terseret oleh hawa-nafsu seksuil. Salomo hanya mampu mengadili dalam perannya sebagai seorang raja yang menghakimi umat yang membutuhkan keadilan, tetapi ia gagal menjadikan keadilan dalam kehidupan pribadinya. Keadilan dan kekudusan tidak dapat dipisahkan, sebab keduanya adalah manifestasi karakter Allah. Karena itu Salomo mengakhiri kehidupannya dengan kondisi kerajaan yang rapuh sehingga akhirnya terpecah menjadi dua, yaitu Kerajaan Israel Utara dan Kerajaan Israel Selatan.

Merefleksikan, mengevaluasi dan menaruh harapan hidup ke depan perlu dijangkarkan kepada Tuhan Yesus yang mampu merangkum keadilan dan kekudusan dalam cinta-kasih Allah. Dengan sikap iman kepada Kristus kita dimampukan untuk menghakimi diri sendiri secara adil dan berhikmat sehingga tidak terjebak oleh dorongan hawa-nafsu duniawi dan keserakahan. Kita juga dimampukan untuk menilai dan memperlakukan sesama dengan sikap yang adil dan bijaksana. Harapan dan upaya ini hanya dapat terwujud bilamana kita mau mengikut Yesus secara konsisten dan menjadikan Dia sebagai satu-satunya sumber Hikmat dan Terang dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena itu dalam terang dan hikmat Kristus, kita saat ini dipanggil Allah untuk melakukan refleksi, evaluasi dan harapan hidup ke depan agar berbagai beban dosa yang telah kita lakukan di hari-hari sebelumnya dipulihkan sehingga kita mampu menyambut Tahun Baru dengan hati dan roh yang baru pula.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono