Latest Article
Minggu Transfigurasi

Minggu Transfigurasi

Minggu, 7 Februari 2016

Menjadi Ciptaan Baru dalam Kemuliaan Kristus

(Kel. 34:29-35; Mzm. 99; 2Kor. 3:12-4:2; Luk. 9:28-43)

Kisah transfigurasi di Injil Lukas diawali dengan pernyataan: “Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, Yesus membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa” (Luk. 9:28). James Nolland dalam Word Biblical Commentary Luke 9:21–18:34 melihat hubungan yang erat antara Lukas 9:28 dan Yohanes 20:26, yaitu: “Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka.” Frase “hari kedelapan” ini dipahami untuk menunjuk satu hari sesudah hari Sabat, yaitu hari Minggu. Dengan demikian, Injil Lukas mempersaksikan bahwa transfigurasi Yesus terjadi pada hari Minggu sebagaimana Kristus bangkit menampakkan diri-Nya di Yohanes 20:26 yang juga terjadi pada hari Minggu.

Hari ke delapan secara khusus disebut Kitab Wahyu 1:10 sebagai “hari Tuhan” yaitu: “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suatu yang nyaring, seperti bunyi sangkakala.” Istilah “hari Tuhan” berasal dari kata kuriake hemera (κυριακῇ ἡμέρᾳ). Karena itu makna “hari Tuhan” menunjuk bahwa ada suatu hari yang dikaitkan dengan Kristus sebagai Tuhan (Kyrios), yaitu kebangkitan Kristus yang terjadi pada hari pertama minggu itu

Dengan demikian, peristiwa transfigurasi Yesus sangatlah tepat dirayakan oleh gereja pada hari Minggu dibandingkan pada 6 Agustus sebagaimana dilakukan oleh gereja Roma Katolik. Penetapan perayaan Transfigurasi Yesus pada 6 Agustus oleh Paus Callistus III pada tahun1457 didasari oleh pengucapan syukur kemenangan atas Turki pada tahun 1456 dekat Belgrade oleh John Hunyadi dan St. John Capistrano (Puthiadam 2003, 169). Padahal, tradisi kuno gereja merayakan transfigurasi Yesus pada empat puluh hari sebelum penyaliban-Nya.

Penggunaan makna “hari ke delapan” dalam Perjanjian Baru selain dipakai untuk menunjuk hari Minggu sebagai hari kebangkitan Kristus, juga ditempatkan dalam konteks makna upacara sunat (Luk. 2:21), delapan orang yang selamat pada zaman Nuh (1Ptr. 3:20), dan penciptaan baru dalam Kristus (2Kor. 5:17).

Makna hari ke delapan dipakai oleh Injil Lukas untuk mempersaksikan peristiwa Yesus disunat di Yerusalem. Lukas 2:21 menyatakan: “Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.” Yesus disunat pada hari ke delapan sesuai dengan ketentuan Hukum Taurat yaitu Kitab Imamat 12:2, yaitu: “Dan pada hari yang ke delapan haruslah dikerat daging kulit khatan anak itu.” Melalui sunat, anak laki-laki Israel pada hari ke delapan diberi nama dan mulai saat itu mereka diikat dengan perjanjian kasih-karunia Allah sehingga mereka diharapkan hidup sebagai anak-anak perjanjian yang kudus dan mempermuliakan Allah. Sunat tersebut kelak menjadi landasan teologis bagi gereja untuk memberlakukan Sakramen Baptis Anak. Di dalam baptisan anak, Allah menyatakan kasih-karunia-Nya sebelum anak itu memahami dan melakukan berbagai kebajikan. Baptisan anak menegaskan kedaulatan Allah dalam perjanjian keselamatan-Nya. Dalam konteks ini peristiwa transfigurasi Yesus pada hari kedelapan berkaitan dengan makna teologis dalam upacara sunat, yaitu melalui transfigurasi Yesus umat akan memeroleh kasih-karunia Allah untuk mengalami kemuliaan ilahi sebagai anak-anak perjanjian Allah.

Makna hari ke delapan juga dikaitkannya dengan delapan orang yang selamat dari bahtera Nuh (1Ptr. 3:20). Dalam Kejadian 8:18 menyatakan: “Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya.” Keluarga Nuh berhasil selamat dari air bah karena mereka percaya kepada Tuhan dengan masuk ke dalam bahtera. Makna “bahtera” merupakan media keselamatan yang dikaruniakan Allah sehingga keluarga Nuh tidak binasa. Kristus adalah bahtera keselamatan yang sesungguhnya sehingga barangsiapa tinggal di dalam Dia akan selamat. Di Yohanes 15:5 Yesus berkata: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Peristiwa transfigurasi Yesus menegaskan bahwa Yesus adalah bahtera keselamatan yang mampu membawa umat ke dalam kemuliaan Allah.

Makna “hari ke delapan” dipakai untuk menunjuk karya ciptaan Allah yang pertama dan yang menandai permulaan ciptaan yang baru. Karena itu, Rasul Paulus berkata, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2Kor. 5:17). Pemahaman teologis ini sesuai dengan makna utama perayaan Minggu Transfigurasi, yaitu di dalam persekutuan dengan Kristus, kehidupan umat percaya akan diubah dan diperbarui agar semakin serupa dengan Dia. Karena itu, kehidupan umat akan dibarui dalam kuasa kebangkitan-Nya; dan melalui kebangkitan-Nya, Kristus mengaruniakan Roh Kudus yang menerangi dan menyingkapkan selubung mata rohani umat.

Pembaruan dalam kuasa kebangkitan Kristus akan terwujud bilamana umat senantiasa hidup dalam persekutuan dengan Allah Bapa di dalam Kristus dan Roh Kudus. Teladan persekutuan Yesus yang intim dengan Allah tersebut dipersaksikan oleh Injil Lukas melalui doa. Yesus senantiasa berdoa. Sebelum peristiwa transfigurasi-Nya, Yesus berdoa kepada Allah Bapa-Nya.

John Nolland dalam Word Biblical Commentary Luke 9:21–18:34 menunjukkan kekhasan Injil Lukas dalam kisah transfigurasi Yesus, yaitu terdapat hubungan yang erat antara doa dengan “menjadi” (ἐγένετο). Saat Yesus berdoa, terjadilah perubahan di dalam diri-Nya (Nolland 1993, 498). Tranfigurasi Yesus tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dialami Yesus saat Ia berdoa. Nolland menyatakan, “The reference to prayer is repeated to make the link between transformation and prayer explicit” (Nolland 1993, 498). Injil Lukas sebelumnya mempersaksikan Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman kepada Allah (Luk. 6:12). Injil Lukas melihat hubungan tindakan Yesus ini dengan peristiwa Musa yang naik ke atas Gunung Sinai guna bertemu dengan Yahweh (Kel. 24:15-16). Transfigurasi Yesus yang diawali dengan doa mempersaksikan bahwa makna kemuliaan Kristus pada hakikatnya merupakan manifestasi dari relasi yang intim dan personal dengan Allah.

Makna doa dalam konteks ini bukan dipahami sekadar rangkaian Doa Permohonan, tetapi utamanya sebagai Doa Doksologis yang mempermuliakan Allah dalam realitas kehidupan umat. Karena itu, persekutuan umat yang mempermuliakan Allah tersebut dinyatakan dalam kehidupan doa. Kita mempermuliakan Allah karena karya penebusan Kristus, sebab kasih-karunia dan janji keselamatan Allah telah dinyatakan kepada seluruh umat manusia. Untuk itu makna doa sebagai persekutuan dengan Allah yang hidup harus merupakan doa yang otentik dan lahir dari kedalaman hati umat. Esensi doa umat merupakan komunikasi yang hidup dengan Allah yang melampaui teks doa, sehingga terjalin relasi personal antara hati Allah dengan hati umat melalui Kristus, Sang Pengantara Allah.

Pada saat Yesus mengalami transfigurasi dalam kemuliaan-Nya, Injil Lukas mempersaksikan dua orang yang mendatangi Yesus yaitu Musa dan Elia, yaitu: “Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (Luk. 9:31). Musa dan Elia berbicara dengan Yesus tentang kepergian-Nya, yang menunjuk kepada kematian Yesus di Yerusalem. Kata “kepergian” dalam Injil Lukas di sini mempergunakan kata eksodos (ἔξοδος). Jikalau demikian apa makna “kepergian” yang dinyatakan dalam Injil Lukas? Menurut Leon Morris dalam Tyndale New Testament Commentaries: Luke menyatakan bahwa kata eksodos berkaitan dengan peristiwa Allah yang melepaskan dan membawa umat Israel ke luar dari tanah Mesir. Dengan demikian, Injil Lukas mempersaksikan bahwa dalam peristiwa transfigurasi, makna “kepergian” Yesus, yaitu kematian-Nya di Yerusalem, bertujuan untuk membebaskan umat dari perbudakan dosa. Peristiwa transfigurasi bukanlah suatu peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan terkait dengan kematian Yesus untuk menggenapi rencana Allah. Dengan demikian, peristiwa transfigurasi merupakan suatu peneguhan, bahwa Yesus yang penuh dengan kemuliaan Allah datang untuk menyelamatkan umat manusia melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Peristiwa transfigurasi yang dialami oleh Yesus merupakan bagian awal dari tubuh kebangkitan-Nya.

Konteks kisah transfigurasi Yesus di Injil Lukas tidak mengisahkan sikap Petrus yang menegur Yesus ketika berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Mrk. 8:31; Mat. 16:21). Menurut Injil Markus dan Matius, Petrus menolak pernyataan Yesus yang akan menderita dan wafat. Sebaliknya Injil Lukas lebih menekankan tentang syarat mengikuti Yesus, yaitu: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk. 9:23). Pernyataan Yesus tersebut menyatakan bahwa Ia datang untuk memberikan nyawa-Nya sebagai karya penyelamatan Allah. Karena itu, para murid dipanggil untuk merespons dengan kesediaan menyangkal diri. Kemudian, Yesus menasihati agar para murid tidak malu mengakui Yesus: “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus” (Luk. 9:26). Dengan demikian, teologi Injil Lukas hendak menekankan bahwa kematian Kristus di atas kayu salib bukanlah sesuatu yang memalukan bagi umat percaya. Sebab jika para umat percaya malu kepada Kristus yang tersalib, maka mereka tidak akan diperkenankan untuk melihat dan mengalami kemuliaan Kristus bersama Allah Bapa-Nya. Pengakuan iman kepada Kristus bukan sekadar pengakuan personal dan komunal, tetapi juga bersifat publik yaitu di hadapan masyarakat umum. Namun sejauh mana bentuk dan ekspresi pengakuan iman kepada Yesus secara publik tersebut menjadi suatu kesaksian iman dan bukan sekadar suatu sikap memamerkan iman di hadapan orang banyak (show-off). Kesaksian iman di hadapan publik akan bermakna apabila dilandasi oleh sikap penyangkalan diri.

Kemuliaan Allah yang terpancar pada diri Kristus bersifat kekal sebab kemuliaan Kristus pada hakikatnya berasal dari Roh Allah yang hidup (2Kor. 3:3). Di Surat 2 Korintus 3:10, Rasul Paulus mendefinisikan kemuliaan Kristus sebagai kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu, sehingga tidak pernah pudar (2Kor. 3:11). Dengan demikian, peristiwa kemuliaan Allah yang terpancar pada diri Musa di Gunung Sinai (Kel. 34:29-30) merupakan suatu tipologi untuk menunjuk kepada kemuliaan Allah yang kelak terpancar pada diri Kristus. Kesaksian Surat 2 Korintus 3:1-11 memperlihatkan hubungan yang sangat erat sekaligus perbedaan antara Musa dengan Kristus. Keduanya memancarkan kemuliaan Allah dan pembawa perjanjian Allah kepada umat-Nya. Namun, juga terdapat perbedaan yang begitu esensial antara Musa dan Kristus. Pertama, Musa membawa firman Allah pada loh-loh batu, sedang Kristus menuliskan di dalam loh-loh daging yaitu di dalam hati manusia (2Kor. 3:3). Kedua, Musa mengenakan selubung pada mukanya agar mata umat Israel yang tidak mampu melihat cahaya kemuliaan Allah dapat berkomunikasi dengan Musa (Kel. 34:30). Namun, tidaklah demikian halnya dengan Kristus sebab Kristus adalah Roh Allah, dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan (2Kor. 3:17).

Kata “selubung” (κάλυμμα) yang dikenakan Musa tersebut digunakan Rasul Paulus untuk menunjuk pada sikap rohani umat Israel. Secara figuratif, selubung Musa tersebut dimaknai Rasul Paulus sebagai penghalang bagi umat Israel dalam memahami isi Alkitab khususnya kitab Musa. Di Surat 2 Korintus 3:15, Rasul Paulus berkata, “Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka.” Selubung di ayat 15 yang menutupi hati umat Israel tersebut dikaitkan dengan “pikiran yang telah menjadi tumpul” (2Kor. 3:14). Kata “tumpul” di sini berasal dari kata pōroō (πωρόω) yang sebenarnya bisa berarti “mengeraskan” dalam pengertian sikap yang “mengeraskan hati.” Hati mereka tidak terbuka akan adanya pencerahan Roh Kudus, sebab selubung yang menghalangi pengertian dan hati mereka belum disingkapkan. Namun bilamana mereka percaya kepada Kristus, selubung tersebut akan disingkapkan sehingga mereka dapat melihat kemuliaan Allah yang melampaui segala sesuatu (2Kor. 3:14). Dengan demikian, Rasul Paulus menegaskan bahwa makna hukum Taurat akan dapat dipahami apabila ditempatkan dalam terang Kristus, perspektif perjanjian baru, dan Roh Allah.

Problem utama dalam kehidupan gereja dan masyarakat adalah mata rohani yang tertutup selubung dalam berbagai bentuk, misalnya: selubung rasialisme, selubung doktriner, selubung fanatisme keagamaan, selubung egoisme, selubung pembenaran diri, selubung kebodohan, selubung kultus-individu, dan sebagainya. Kita sering menjadi orang-orang buta secara rohani walau praktik beragama dilakukan dengan rajin. Makna ibadah sebagai media perjumpaan Allah melalui sesama tidak terjadi sebab ibadah sekadar suatu ritual yang mekanis atau kewajiban keagamaan belaka. Pembacaan Alkitab tidak membuka mata iman umat, tetapi sebaliknya membutakan hati sebab kita tidak membaca firman Tuhan dalam terang Roh Kudus. Selubung yang menutupi mata rohani kita tersebut menghalangi kepekaan spiritualitas kita untuk menyaksikan dan mengalami kemuliaan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Doa yang diharapkan menjadi persekutuan personal yang intim dengan Allah berubah menjadi doa yang egoistis (bersifat “ke-aku-an”) dan egosentralistis (memusat kepada kedirian sendiri). Karena itu kita lebih menyukai doa permohonan, sebab kita akan menghadap kepada Allah apabila kita mengharapkan pertolongan, berkat dan rezeki. Tetapi setelah doa permohonan kita dikabulkan Tuhan, kita akan segera melupakan dan mengabaikan Allah. Jenis doa yang demikian tidaklah akan membawa kehidupan kita ke dalam perubahan dan pembaruan hidup. Sebaliknya Doa Doksologis merupakan doa yang mengutamakan suatu penyembahan yang mempermuliakan Allah, mengucap syukur atas karya keselamatan yang telah dianugerahkan-Nya, dan pemeliharaan Allah yang setia di tengah-tengah situasi keberdosaan serta kelemahan kita.

Kehidupan manusia lama kita perlu dikerat seperti kulit khatan yang dikerat dalam ucapara sunat sehingga kita mengalami kelahiran baru dalam kemuliaan Kristus. Kita perlu mengerat manusia lama dengan penyangkalan diri sebagaimana Tuhan Yesus mengajar, yaitu: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk. 9:23). Namun saat kita mengerat manusia lama dengan menyangkal diri, di situlah kita akan mengalami kemuliaan bersama dengan Kristus.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono