Latest Article
Minggu Prapaskah 1

Minggu Prapaskah 1

Minggu, 14 Februari 2016

Taat Di Tengah Pencobaan

(Ul. 26:1-11; Mzm. 91:1-2, 9-16; Rm. 10:8-13; Luk. 4:1-13)

 Masa berpuasa telah dilakukan umat mulai Rabu Abu. Di Minggu Prapaskah I bacaan Alkitab untuk Kitab Injil diambil dari Lukas 4:1-13 tentang narasi pencobaan yang dialami Yesus di padang gurun. Pencobaan Yesus di padang gurun tersebut merupakan pencobaan yang terjadi setelah Ia dibaptis. Dalam baptisan Yesus di Sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis merupakan peristiwa pelantikan Yesus sebagai Mesias, yaitu Kristus, artinya: “yang diurapi.” Dengan demikian Yesus dicobai oleh Iblis dalam status-Nya sebagai Mesias. Kita dapat menyimpulkan bahwa pencobaan yang dialami oleh Yesus di padang gurun merupakan “pencobaan Mesianis.” Makna “pencobaan Mesianis” artinya pencobaan yang dialami oleh Yesus bersifat khas dan unik dalam status-Nya sebagai Mesias Allah. Iblis mencobai dengan tujuan menjatuhkan Yesus agar kehilangan kedudukan-Nya sebagai Mesias. Karena itu isi dan bentuk pencobaan Iblis terhadap diri Yesus mengandung jebakan agar Yesus menunjukkan kuasa-Nya membuat mukjizat atau kemampuan Dia melakukan sesuatu yang supernatural.

Di Lukas 4:1 menyatakan: “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.” Setelah pelantikan-Nya sebagai Mesias, Ia penuh dengan Roh Kudus. Kata “penuh” dengan Roh Kudus dalam ayat 1 dipakai kata pleres, yang artinya: ditutupi di setiap bagiannya, seluruhnya diresapi. Jadi makna “Yesus yang penuh dengan Roh Kudus” adalah kehidupan pribadi dan seluruh batin dan Roh-Nya diresapi oleh Roh Kudus. Makna kesaksian ini bukan berarti bahwa sejak Yesus dibaptis dan dilantik sebagai Mesias, kehidupan-Nya dipenuhi oleh Roh Kudus. Lebih tepat pernyataan “Yesus yang penuh dengan Roh Kudus” setelah Ia dibaptis merupakan penegasan ulang bahwa Ia sejak lahir sebagai manusia telah dipenuhi oleh Roh Kudus. Di Lukas 1:35 Malaikat Gabriel berkata kepada Maria, yaitu: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Secara esensial Yesus dan Roh Kudus telah ada sejak kekal bersama Allah. Sebab dalam waktu kekekalan Yesus adalah Sang Firman Allah, sehingga Ia esa dengan Allah dan Roh Kudus. Walau Yesus penuh dengan Roh Kudus, Ia dibawa oleh Roh Kudus untuk dicobai oleh Iblis.

Makna Roh Kudus membawa Yesus untuk dicobai oleh Iblis merupakan peristiwa pencobaan Mesianis yang menegaskan bahwa pencobaan Yesus tersebut sepenuhnya berada dalam kendali Allah. Iblis tidak memiliki kuasa membawa Yesus untuk dicobai. Walau sebagai manusia, Yesus tidak berada di bawah kekuasaan dan kehendak Iblis. Inkarnasi Yesus sebagai manusia tidak menempatkan Dia di bawah kuasa Iblis. Sebaliknya Yesus sebagai manusia memiliki otoritas penuh terhadap Iblis sehingga Ia mampu mengusir setan. Dengan demikian peristiwa pencobaan yang dialami Yesus di padang gurun merupakan rencana Allah yang menghendaki agar Yesus dalam keadaan tubuh yang lemah dicobai oleh Iblis. Yesus dicobai oleh Iblis setelah Ia berpuasa tidak makan apapun selama empat puluh dan empat puluh malam. Dari sudut keilahian-Nya Yesus tidak dapat ditundukkan dan dikalahkan oleh Iblis, tetapi dari sudut kemanusian-Nya yang lemah setelah berpuasa selama empat puluh dan empat puluh malam Ia memiliki peluang untuk dijebak oleh Iblis. Karena itu makna “kemanusiaan” Yesus dalam konteks ini bukan berarti kemanusiaan Yesus berada dalam kuasa dosa sebagaimana kemanusiaan manusia pada umumnya. Tetapi yang dimaksud dengan “kemanusiaan” Yesus yang dapat dicobai dan mengikuti godaan Iblis adalah kemanusiaan-Nya menjadi lemah setelah Ia berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam.

Kemanusiaan Yesus pada hakikatnya adalah kemanusiaan yang tidak berada dalam kuasa dosa. Ibrani 4:15 menyatakan: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Kemanusiaan Yesus dalam hal ini tubuh manusiawi-Nya adalah kudus, tanpa dosa. Tetapi saat tubuh-Nya lemah karena tidak makan selama empat puluh hari dan empat puluh malam akan terbuka peluang untuk dicobai dan mengikuti godaan Iblis. Karena itu setelah Yesus tidak makan selama empat puluh hari dan empat puluh malam, Ia menjadi lapar.

Lalu datanglah Iblis kepada Yesus dengan berkata: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti” (Luk. 4:3). Makna kata “lapar” dalam konteks ini adalah Yesus saat itu benar-benar dalam kondisi fisik yang benar-benar lapar sehingga sangat lemah tanpa asupan makanan yang dibutuhkan oleh tubuh. Di padang gurun tidak ada tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang dapat dimakan. Tetapi Iblis tahu bahwa Yesus sanggup mengubah apapun menjadi makanan. Di padang gurun tersedia berbagai macam bentuk batu. Dengan kuasa sebagai Mesias, Yesus mampu mengubah batu-batu itu menjadi roti. Bukankah tawaran Iblis tersebut sangat realistis? Saat itu Yesus sangat membutuhkan makanan. Sebab siapa yang sanggup tidak makan selama empat puluh hari dan empat puluh malam? Karena itu makanan dalam situasi tersebut merupakan kebutuhan Yesus yang paling utama. Tanpa makanan yang dibutuhkan secara manusiawi Yesus akan berada dalam kondisi kritis. Dia bukan saja sedang kelaparan, tetapi bisa membunuh-Nya. Sadhu Sundar Singh penginjil dari India pernah mencoba untuk berpuasa seperti Yesus tanpa makan selama empat puluh hari dan empat puluh malam, ternyata belum sampai 40 hari Sundar Singh pingsan dan harus menjalani perawatan medis.

Setelah Iblis gagal mencobai Yesus untuk mengubah batu menjadi roti, Iblis membawa Yesus ke tempat yang tinggi. Lukas 4:5 menyatakan: “Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia.” Tempat yang tinggi kemungkinan adalah gunung yang tinggi. Yesus dalam kondisi sangat lapar mampu pergi ke tempat yang tinggi. Dengan kondisi tubuh-Nya yang lapar, Yesus tetap mampu berada di atas puncak gunung. Di atas puncak gunung tersebut, Iblis memperlihatkan “semua kerajaan dunia” dan menawarkan akan menyerahkan kepada Yesus jikalau Yesus bersedia menyembah dia. Dalam konteks ini Iblis mengklaim memiliki kuasa dan kemuliaan atas semua kerajaan dunia. Padahal penguasa dan kerajaan di dalam dunia pada hakikatnya berada dalam kedaulatan Allah. Dalam Kitab Daniel mempersaksikan kuasa dan kedaulatan Allah untuk mengangkat dan meruntuhkan seluruh kekuasaan dunia. Di Roma 13:4 Rasul Paulus menyatakan bahwa pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikan kita. Jikalau demikian apa maksud Iblis menyatakan “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki?” (Luk. 4:6). Penulis menafsirkan pernyataan Iblis tersebut tidak kredibel seperti halnya ia telah memutarbalikkan perkataan Allah saat bicara dengan Hawa di Taman Eden (lihat Kej. 3:4-5). Demikian pula Iblis memutarbalikkan wewenang Allah atas kerajaan-kerajaan dunia. Semua kerajaan-kerajaan dunia adalah wewenang dalam kuasa Allah. Para penguasa dan pemerintah dalam kerajaan-kerajaan dunia hanyalah hamba-hamba Allah. Tetapi Iblis memiliki hak untuk memengaruhi para penguasa sehingga mereka tidak setia dan melawan Allah. Saul dipilih oleh Allah, tetapi Saul memilih bersikap tidak taat kepada firman-Nya (1Sam. 15:26). Nebukadnezar adalah raja dari Kerajaan Babel yang waktu itu telah menguasai sebagian besar kerajaan dunia, tetapi direndahkan Allah karena ia bersikap sombong sehingga makan rumput seperti lembu dan rambutnya panjang seperti bulu burung rajawali serta kukunya seperti kuku burung (Dan. 4:28-33). Seandainya Iblis mengklaim memiliki kuasa dan kemuliaan kerajaan-kerajaan dunia, maka yang dimaksudkannya adalah kuasa dan kemuliaan yang sifatnya duniawi. Kekuasaan dan kemuliaan yang direbut oleh kerajaan dunia dengan cara kekerasan, ketidakadilan, darah, penderitaan, dan kematian banyak orang.

Setelah Iblis gagal mencobai yang kedua kali, Iblis kemudian mencobai Yesus untuk memamerkan kekuatan-Nya turun dari bubungan Bait Allah sehingga Ia dapat selamat tanpa cedera. Di Lukas 4:9 menyatakan: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Bagi umat Israel, Bait Allah adalah tempat kediaman Allah di tengah-tengah umat-Nya. Di ruang Mahakudus Allah bertahta di atas kerubim. Karena itu jika Yesus berada di atas bubungan Bait Allah dan kemudian dapat turun dengan selamat setelah menjatuhkan diri-Nya, maka seluruh umat Israel akan percaya bahwa Ia adalah Mesias, Anak Allah. Apabila umat Israel dapat kagum dan percaya, maka Yesus tidak perlu dalam menjalankan misi Allah melalui peristiwa salib. Strategi dan taktik Iblis tersebut sangat logis dan meyakinkan. Tanggapan Yesus terhadap ajakan Iblis adalah: “Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Luk. 4:12). Jawaban Yesus tersebut secara eksplisit mengingatkan Iblis tentang identitas diri Yesus yang sesungguhnya, yaitu Iblis telah mencobai Yesus sebagai Tuhan dan Allahnya. Karena itu Iblis kemudian mengakhiri upayanya untuk mencobai Yesus. Iblis mundur dari hadapan Yesus dan menunggu waktu yang baik (Luk. 4:13).

Dari ketiga bentuk pencobaan Iblis di saat Yesus dalam kondisi tubuh yang sangat lemah pada intinya Yesus diperhadapkan pada satu tantangan yaitu kepada siapa Yesus mau mendengar. Apakah Yesus mendengar dan taat kepada Allah ataukah kepada Iblis. Dalam setiap strategi Iblis saat mencobai Yesus senantiasa diawali dengan pernyataan: “Jika Engkau Anak Allah.” Dengan pernyataan tersebut Iblis ingin menjebak Yesus agar Dia mau bertindak sebagai Anak Allah yang berkuasa dalam pengertian Yesus tergoda untuk melakukan apa yang disampaikan oleh Iblis. Iblis menjebak Yesus memamerkan kuasa-Nya untuk menyelamatkan atau memuliakan diri-Nya. Dalam konteks ini Iblis menyatakan pengakuannya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa, namun motif pengakuan Iblis yang sesungguhnya adalah berupaya membuat Yesus takabur sehingga Ia kehilangan kendali atas diri-Nya. Bila Yesus telah kehilangan kendali atas diri-Nya, maka Yesus akan cenderung mengikuti semua instruksinya. Sebab setelah pernyataan Iblis kepada Yesus, yaitu “Jika Engkau Anak Allah,” diikuti dengan instruksi Iblis kepada Yesus: “suruhlah batu ini menjadi roti” dan “jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah.” Pengakuan dan pujian Iblis kepada Yesus sebagai Anak Allah bukan sebagai pengakuan iman, tetapi upaya menjebak Yesus untuk melakukan apa yang dikatakannya.

Selaku umat percaya kita akan berhasil atau gagal dalam menyikapi pencobaan Iblis atau kuasa duniawi ditentukan oleh sikap/keputusan kita, yaitu sejauh mana kita bersedia dan taat mendengar firman Tuhan secara konsisten ataukah godaan Iblis. Yesus berhasil mematahkan godaan dan strategi Iblis dengan sikap dan keputusan-Nya yang selalu taat mendengarkan kehendak Allah. Karena itu keberhasilan mengatasi pencobaan dan godaan bukan hanya ditentukan oleh tawaran isi/bentuk dalam pencobaan tersebut, tetapi sejauh mana kita tetap taat dan mengasihi Allah apapun isi/bentuk pencobaan tersebut. Spiritualitas taat dan mengasihi Allah menentukan kualitas penafsiran dan reaksi kita terhadap isi/bentuk pencobaan yang ditawarkan oleh Iblis dan kuasa dunia. Jikalau kita memiliki karakter dan spiritualitas tidak taat dan mengasihi Allah, maka isi/bentuk godaan yang paling sederhana pun akan menggoda dan dapat menjatuhkan kredibilitas kita. Tetapi sebaliknya apabila kita memiliki karakter dan spiritualitas yang taat dan mengasihi Allah, maka kita tidak akan tergoda sedikitpun walau nyawa kita harus melayang. Dalam sikap taat dan mengasihi Allah, kita akan fokus dan jernih untuk senantiasa mendengarkan suara Allah dengan segenap hati dan jiwa kita.

Narasi pencobaan yang dialami oleh Yesus dikaitkan dengan bacaan pertama dari Ulangan 26:1-11. Padahal Ulangan 26:1-11 mempersaksikan ketentuan Allah yang disampaikan Musa kepada umat Israel bilamana mereka telah masuk ke tanah Kanaan, yaitu: “Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, dan engkau telah mendudukinya dan diam di sana” (Ul. 26:1). Bagaimanakah benang merah teologis antara kisah pencobaan Yesus dengan Ulangan 26:1-11? James D. Newsome dalam Texts for Preaching Year C menyatakan bahwa kaitan teologis Lukas 4:1-13 dan Ulangan 26:1-11 adalah bagaimanakah sikap umat dalam merespons panggilan/ketentuan Allah (Newsome 1994, 189). Di Ulangan 26:6-7 menyatakan saat umat Israel ditindas oleh Mesir mereka berseru kepada Tuhan, maka Tuhan mendengar dan menyelamatkan mereka. Demikian pula isi Mazmur 91:15, yaitu: “Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” Prinsip teologis yang sama juga dikemukakan oleh Roma 10:13, yaitu: “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Keempat bacaan leksionaris menekankan aspek bagaimanakah sikap umat percaya dalam merespons panggilan Allah dengan sikap iman dan ketaatan. Setiap umat percaya dipanggil untuk taat pada panggilan Allah sebagaimana yang dilakukan Yesus saat Ia dicobai. Yesus hanya mau fokus pada panggilan dan firman Allah saja, dan tidak membuka hati untuk mendengarkan suara Iblis.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak akan mengalami pencobaan Mesianis sebagaimana dialami oleh Yesus. Tetapi kita pasti akan mengalami pencobaan dan godaan duniawi dalam berbagai bentuk. Di tengah-tengah pencobaan dan godaan duniawi tersebut apakah kita bersedia fokus dan taat kepada suara panggilan/firman Tuhan? Jikalau kita memiliki spiritualitas yang taat dan mengasihi Allah, maka kita tidak akan mau mendengarkan dan memberi peluang kepada nasihat Iblis. Pencobaan Iblis yang begitu menarik dan sangat menggoda tidak akan dapat memengaruhi arah dan keputusan kita untuk taat dan setia kepada-Nya. Di tengah-tengah pencobaan yang kita alami, surat Rasul Paulus memberi nasihat kepada kita, yaitu: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1Kor. 10:13). Jika Allah itu setia, sejauh mana kita juga setia kepada-Nya?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono