Latest Article
Minggu Prapaskah VI (Palma dan Sengsara)

Minggu Prapaskah VI (Palma dan Sengsara)

Minggu, 20 Maret 2016

Kasih yang Konsisten, Bukan Ambigu

(Palma: Mzm. 118:1-2, 19-29; Luk. 19:28-40;

Sengsara: Yes. 50:4-9; Mzm. 31:9-16; Flp. 2:5-11; Luk. 23:1-49).

 Minggu Prapaskah VI merupakan Minggu terakhir masa Prapaskah. Umat semakin dekat dengan puncak perayaan karya keselamatan Allah yang dinyatakan dalam penderitaan, wafat, dan kebangkitan Kristus. Setelah Minggu Prapaskah VI umat akan merayakan misteri kasih Allah dalam Triduum (Tiga hari Suci), yaitu: Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi dan Minggu Paskah. Karena itu karakter Minggu Prapaskah VI mengandung situasi yang paradoks, yaitu sukacita penduduk Yerusalem menyambut kedatangan Kristus dengan daun-daun palem dan dukacita Kristus menyambut caci-maki, penyiksaan dan eksekusi kematian di atas kayu salib. Melalui perayaan Minggu Prapaskah VI umat diajak bercermin melihat dirinya apakah mereka memiliki kasih yang konsisten, yaitu kasih yang tidak berubah walau situasi kehidupan sedang berubah. Kasih yang konsisten adalah tindakan mengasihi yang tidak mendua (ambigu). Sebaliknya sikap yang ambigu adalah kadang sikap kita penuh antusias memuji dan melayani Tuhan, namun kadang bersikap menolak dan mengabaikan Dia. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering bersikap mendua di antara sikap empati dan antipati. Sikap kita seperti penduduk Yerusalem yang begitu cepat berubah dari sikap menyambut dan memuji Yesus menjadi sikap menolak dan ingin membunuh-Nya. Perasaan kita juga mudah berubah dari pujian Hosana menjadi teriakan kebencian Salibkanlah Dia. Karena itu melalui Minggu Prapaskah VI kita diajak menyadari betapa labil dan lemahnya diri kita, namun sebaliknya kasih Allah di dalam Kristus tidak pernah berubah.

Situasi paradoks tersebut dipahami Yesus dengan seluruh kesadaran-Nya. Lukas 19:28 menyatakan: “Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.” Pernyataan “Yesus mendahului” menunjuk pada sikap dan tindakan Yesus yang dengan sengaja mengarahkan diri-Nya untuk masuk ke kota Yerusalem, kota yang akan menyanjung dengan meriah sekaligus membunuh Dia dengan kejam. Sebab kata “mendahului” dalam teks ini memakai eporeueto dari kata poreuo yang artinya: “berjalan mendahului di depan.” Yesus berjalan di depan dan para murid-Nya mengikuti Dia di belakang-Nya. Dengan demikian kata poreuo menegaskan sikap Yesus yang mantap, tidak ragu-ragu melangkah ke dalam realitas yang pahit dan membahayakan hidup-Nya. Yesus berjalan mendahului para murid di depan saat Ia disambut dengan pujian Hosana dan pekikan kebencian Salibkanlah Dia. Dalam hal ini Yesus tidak menghindar dan melarikan diri dari realitas yang telah ditentukan Allah sebagai misi utama kedatangan-Nya di dunia, yaitu karya keselamatan Allah. Makna situasi paradoks dalam konteks ini tidak dipahami Injil Lukas sebagai situasi yang kabur dan tanpa makna, melainkan ditempatkan dalam karya keselamatan Allah melalui wafat dan penebusan Kristus. Sanjungan dan penghinaan/penolakan penduduk Yerusalem kepada diri Yesus dirangkai dalam misi Allah yaitu Allah melawat umat-Nya dalam karya penebusan Kristus (bdk. Luk. 19:44).

Umat percaya juga hidup di tengah-tengah realitas yang paradoks yaitu di antara kenyataan yang memberi dukungan dan melemahkan semangat hidup, sanjungan dan penghinaan, persahabatan dan permusuhan, penghargaan dan caci-maki. Namun realitas yang paradoks tersebut perlu ditempatkan dalam sikap iman yang mengutamakan ketaatan umat kepada agenda dan karya Allah. Situasi paradoksal dapat menimbulkan kebingungan dan kekecewaan apabila tidak ditempatkan dalam “kerangka makna” (meaning framework). Tanpa kerangka makna, umat akan terseret dalam arus bahagia saat ia disanjung dan dipuji karena keberhasilan yang telah ia capai, dan arus perasaan depresif saat ia dihina dan dicaci-maki karena kebencian dan sikap antipati. Kedirian kita sering terpecah-pecah oleh tarikan arus emosi cinta dan benci, bahagia dan dukacita, persahabatan dan pengkhianatan sehingga kita kehilangan otentisitas diri kita yang seharusnya. Tarikan arus emosi paradoks tersebut tidak akan membuat kedirian kita terpecah-pecah apabila kita memiliki kerangka makna, yaitu tujuan hidup yang seutuhnya terarah kepada kehendak dan rencana Allah. Yesus menempatkan situasi paradoksal yang akan dialami-Nya dalam perspektif sikap taat kepada agenda rencana Allah, yaitu keselamatan umat manusia.

Di Lukas 19:29 mengisahkan ketika Yesus telah dekat Betfage dan Betania, yang terletak di gunung yang bernama Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya untuk pergi ke suatu kampung. Pesan Yesus kepada dua orang murid-Nya adalah: “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu: Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan mendapati seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah ke mari” (Luk. 19:30). Yesus menempatkan situasi paradoksal yang akan dialami di Yerusalem dengan kesadaran-Nya yang mampu mengetahui sesuatu terjadi di masa mendatang. Kerangka makna akan kehendak Allah ditempatkan oleh Injil Lukas dalam konteks pengetahuan Yesus yang mampu menembus batasan ruang dan waktu, sehingga Ia berkata: “Dan jika ada orang bertanya kepadamu: Mengapa kamu melepaskannya? jawablah begini: Tuhan memerlukannya” (Luk. 19:31). Yesus mampu mengetahui apa yang akan terjadi, dan reaksi orang saat kedua orang murid-Nya melepaskan tali yang mengikat keledai muda yang sedang tertambat. Kesaksian yang dikemukakan oleh Injil Lukas tersebut hendak menegaskan bahwa kedatangan Yesus ke Yerusalem bukanlah suatu tragedi, tetapi suatu peristiwa yang telah dipahami dengan penuh kesadaran oleh Yesus. Yesus menyadari seluruh konsekuensi kedatangan-Nya saat itu ke Yerusalem. Pilihan Yesus untuk memakai keledai saat masuk ke kota Yerusalem tentunya bukan pilihan tanpa perencanaan. Yesus memilih untuk memakai keledai karena Ia hendak menggenapi nubuat Nabi Zakharia yang berkata: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda” (Zakh. 9:9). Yesus menggenapi bahwa isi nubuat Nabi Zakharia terwujud dalam diri-Nya.

Kedatangan Yesus yang naik keledai disambut dengan meriah oleh penduduk Yerusalem. Lukas 19:37 menjelaskan alasan para penduduk Yerusalem menyambut Yesus dengan gegap-gempita yaitu mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring oleh karena segala mujizat yang telah mereka lihat. Karya mukjizat-mukjizat yang telah Yesus lakukan begitu memesona orang banyak sebab setiap penyakit, orang-orang yang kerasukan setan, dan penggandaan roti terjadi di depan mereka. Karena itu mereka berkata: “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Luk. 19:38). Penduduk Yerusalem menyebut Yesus sebagai Raja dalam nama Tuhan, dan damai-sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi. Kesaksian Lukas 19:38 tersebut mengesankan bahwa karya mukjizat yang telah dikerjakan Yesus membuka mata-hati penduduk Yerusalem bahwa Yesus adalah Raja, dan karya-karya Yesus menghadirkan damai-sejahtera dalam lingkup yang holistik yaitu di sorga dan kemuliaan Allah yang mahatinggi. Dalam konteks ini makna karya mukjizat yang telah dikerjakan Yesus tampaknya bersifat iluminatif sehingga membuka kesadaran penduduk Yerusalem bahwa Yesus adalah Mesias, yaitu Raja ilahi yang diutus dalam kehidupan umat manusia. Sanjungan dan pujian kepada Allah atas karya mukjizat-mukjizat Yesus tersebut tidak dapat dibungkam oleh manusia, sebab “Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak” (Luk.19:40). Tetapi benarkah penduduk kota Yerusalem mengalami suatu pencerahan iman yang membawa mereka secara tulus percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang mereka nantikan?

Di tengah-tengah suasana kemeriahan dan gegap-gempita penduduk Yerusalem yang menyambut Yesus, Lukas 19:41 justru mempersaksikan situasi dukacita yang dialami oleh Yesus, yaitu: “Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya.” Yesus menangisi kota Yerusalem saat Ia disambut bagaikan seorang pahlawan yang menang perang. Sebab Ia melihat ke depan bahwa kelak kota Yerusalem akan diserang para musuh dari segala penjuru sehingga “mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain” dan seluruh penduduk Yerusalem akan dibinasakan oleh musuh. Nubuat Yesus tersebut akan terjadi pada tahun 70 M. Menurut sejarahwan Flavius Josephus yang hidup sekitar tahun 37-100 M menyatakan bahwa serangan tentara Romawi terjadi pada hari Paskah yang saat itu penduduk Yerusalem berjumlah sekitar tiga juta orang. Dengan demikian Yesus saat itu melihat peristiwa penghancuran dan pembinasaan penduduk kota Yerusalem yang akan terjadi 40 tahun kemudian. Di Lukas 19:43-44 Yesus berkata: “Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.” Menurut Injil Lukas serangan dan pembinasaan penduduk kota Yerusalem terjadi karena mereka mengeraskan hati saat Allah melawat mereka dalam inkarnasi Yesus, sehingga mereka tidak mengerti apa yang perlu untuk damai-sejahteranya (Luk. 19:42, 44). Pujian dan sanjungan penduduk Yerusalem kepada diri Yesus hanya sesaat, sebab setelah itu mereka menyatakan sikap bermusuhan dan menuntut hukuman mati kepada diri Yesus. Pengalaman iman yang iluminatif dan terpesona terhadap karya mukjizat Yesus tidak membawa pembaruan hidup bagi penduduk kota Yerusalem. Karena itu Lukas 23:1-49 mengisahkan proses penangkapan, penyiksaan, cemooh, dan penyaliban atas diri Yesus, serta kematian-Nya.

Melalui liturgi Minggu Prapaskah VI gereja mengajak umat untuk mengalami secara eksistensial situasi yang dialami oleh Yesus dengan empat sikap spiritualitas, yaitu:

  1. Sikap Yesus yang mantap melaksanakan misi karya keselamatan Allah di dalam diri-Nya. Ia tidak ragu-ragu sehingga berjalan mendahului para murid memasuki kota Allah, yaitu Yerusalem.
  2. Misi Allah dilakukan oleh Yesus dalam kerangka makna ketaatan kepada Allah sehingga kepribadian-Nya tidak terpecah-pecah oleh tarikan arus perasaan disanjung dan dibenci oleh orang-orang di sekitar-Nya.
  3. Misi Allah tersebut ditempatkan Yesus oleh visi-Nya yang jauh ke depan sehingga mampu menembus ruang dan waktu. Yesus juga menggenapi nubuat Nabi Zakharia dalam diri-Nya di masa lampau. Yesus menghayati seluruh misi kedatangan-Nya dalam rangkaian waktu yang lampau, kini dan mendatang secara utuh.
  4. Keprihatinan Yesus yang menangisi sikap penduduk kota Yerusalem yang mudah berubah dari sanjungan menjadi kebencian dan tuntutan atas kematian-Nya sehingga mereka tidak menyadari makna perlawatan Allah. Akibat penolakan mereka, penduduk kota Yerusalem kelak akan dibinasakan oleh para musuhnya karena mereka memilih menegarkan hati.

Pengalaman pencerahan batin yang mereka alami saat menyaksikan karya mukjizat Yesus tidak selalu menjamin dapat membawa pembaruan hidup. Mereka hanya terkesan dan terpesona secara periodik dengan tindakan Yesus yang menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan menggandakan roti tetapi mereka menolak Dia sebagai Mesias Allah. Pernyataan dan pengakuan penduduk Yerusalem bahwa Yesus adalah Raja dalam nama Tuhan hanya sebatas pengakuan di bibir mereka. Sikap iman tidak secara otomatis dibangkitkan oleh pengalaman akan mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan. Karya mukjizat yang dilakukan oleh Yesus dimaksudkan sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah dalam kehidupan umat manusia. Sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah, peristiwa mukjizat harus direspons dengan sikap hati yang bersedia membuka diri terhadap karya keselamatan Allah. Perikop Yesaya 50:4-9 merupakan bacaan yang mengajak umat untuk mengalami empat pertumbuhan spiritualitas yang berpusat pada sikap iman, yaitu:

  1. Lidah seorang murid untuk memberi semangat yang baru kepada orang-orang yang letih-lesu.
  2. Mempertajam pendengaran untuk mendengar seperti seorang murid.
  3. Membuka telinga
  4. Memberikan punggung dan pipi kepada orang-orang yang menganiaya serta membiarkan diri dihina.

Pernyataan dan pengakuan iman umat melalui lidah hanya bermakna apabila umat terlebih dahulu bersedia mempertajam pendengaran dan membuka telinganya terhadap kehendak dan firman Tuhan. Konteks Yesaya 50 adalah berita Nabi Yesaya kepada umat Israel di pembuangan Babel. Saat itu mereka berada dalam kondisi yang pesimistis. Karena itu berita Yesaya 50 bertujuan untuk membangkitkan harapan kepada umat agar mereka percaya kepada janji dan rencana Allah. Namun dalam realita ternyata umat tidak mudah untuk menerima janji dan penyertaan Allah. Mereka menolak berita nubuat yang disampaikan oleh Nabi Yesaya sebagai berita yang otopis, bahkan mereka kemudian menganiaya dia. Ungkapan Yesaya 50:6 yaitu: “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi” adalah menunjuk situasi umat yang menolak dan menganiaya Nabi Yesaya. Mereka menolak dan menganiaya Nabi Yesaya sebab mereka tidak bersedia mempertajam dan membuka telinganya dengan sungguh-sungguh terhadap firman Allah. Pada pihak lain Nabi Yesaya senantiasa mempertajam pendengaran dan membuka telinganya terhadap kehendak Allah, sehingga ia menyampaikan berita yang senantiasa membangkitkan semangat hidup yang baru dan dimampukan untuk menanggung derita serta penghinaan.

Jikalau demikian sanjungan dan pujian penduduk kota Yerusalem kepada Yesus saat Ia masuk ke kota Yerusalem bukan didasari oleh spiritualitas yang bersedia mempertajam pendengaran dan membuka telinga mereka. Mereka masih terpengaruh oleh situasi dan pendapat orang-orang di sekitar yang menolak dan membenci Yesus. Sebagaimana umat Israel yang menolak dan menganiaya Nabi Yesaya, demikian pula penduduk kota Yerusalem menganiaya Yesus. Kualitas iman kita diuji melalui reaksi atau respons kita saat menghadapi kesulitan dan tekanan dalam kehidupan ini. Apabila sikap iman kita bersumber pada kejernihan hati yang bersedia terus-menerus mempertajam pendengaran dan ketaatan kepada kehendak Allah, maka sikap kasih kita tidak ambigu (mendua) melainkan tetap konsisten. Makna sikap konsisten adalah seluruh perilaku kita didasarkan kepada pembaruan batin yang menyeluruh sehingga kita tidak mendua hati dengan memuji Allah saat kita bahagia, tetapi meninggalkan Dia saat harapan kita tidak terpenuhi. Tanpa sikap iman yang konsisten, kita menjadi para pribadi yang paradoks dan disintegratif yaitu mudah berubah sesuai dengan situasi hati dan sikap orang-orang di sekitar kita. Sebaliknya sikap iman yang konsisten tidak ditentukan oleh situasi tetapi oleh relasi kasih kepada Allah dan sesama.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono