Latest Article
Kamis Putih

Kamis Putih

Kamis, 24 Maret 2016

Teladan Kasih Hingga Di Saat Akhir

Kel. 12:1-14; Mzm. 116:1-2, 12-19; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-17, 31-35

Perayaan hari Kamis Putih adalah hari raya terakhir sebelum Triduum, yaitu Trihari Paskah yang meliputi: Kamis Putih-Jumat Agung-Sabtu Sunyi-Paskah. Dengan demikian liturgi Kamis Putih merupakan penutup masa Prapaskah. Dalam liturgi Kamis Putih gereja merayakan Perjamuan Malam Terakhir yang dilakukan Yesus bersama para murid-Nya dengan terlebih dahulu membasuh kaki para murid-Nya. Perjamuan Malam Terakhir yang dilakukan oleh Yesus tersebut yang menjadi dasar teologis gereja merayakan Sakramen Perjamuan Tuhan. Adolf Adam dalam The Liturgical Year menyatakan: “The liturgy of Holy Thursday evening is above all a commemoration of the Last Supper of Jesus and the institution of the eucharist, as well as of the washing of the feet, which symbolizes the servant aspect oh his love” (Adam 1990, 65). Dengan demikian dalam liturgi Kamis Putih gereja secara utuh menghayati dan mengenang peristiwa Perjamuan Malam Terakhir, penetapan sakramen Perjamuan Tuhan, dan sikap Yesus yang menekankan kasih-Nya sebagai seorang hamba dengan membasuh kaki para murid-Nya.

Narasi Yohanes 13:1 mengisahkan bagaimana Yesus mengawali tindakan membasuh kaki para murid-Nya yaitu: “Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.” Kisah pembasuhan kaki para murid yang kemudian disebut oleh gereja dengan perayaan hari Kamis Putih terjadi sebelum hari raya Paskah dimulai. Lalu Yohanes 13:1 menyatakan bahwa “Yesus telah tahu bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.” Kalimat “Yesus telah tahu bahwa saat-Nya sudah tiba” merupakan pernyataan akan kesadaran Yesus yang mendalam bahwa waktu yang telah ditentukan Allah mencapai puncaknya. Kata “tahu” dari εἰδὼς (eidos) untuk menunjuk pada situasi seseorang yang tahu secara persis atau faktual, bukan sekadar suatu perkiraan. Dengan demikian Injil Yohanes 13:1 menegaskan kesadaran Yesus yang mengetahui dengan tepat apa yang akan terjadi atau menimpa diri-Nya. Sedang kata “saat” berasal dari kata hora. Makna kata hora biasa dipakai dalam konteks karya ilahi yang luar-biasa misalnya penyembuhan Yesus kepada orang sakit. Kata hora juga dipakai dalam karya mukjizat Yesus yang mengubah air menjadi anggur, di Yohanes 2:4 yaitu: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Dengan demikian makna kata hora dalam Yohanes 13:1 ditempatkan dalam konteks peristiwa kematian-Nya dipahami penulis Injil Yohanes sebagai suatu peristiwa luar-biasa yang membawa keselamatan dan pemulihan bagi umat manusia.

Dalam Perjanjian Baru, kata hora lebih sering dipakai dalam kaitan dengan makna waktu kairos daripada waktu kronos. Waktu kronos menunjuk pada kejadian biasa yang sifatnya rutin dan sesuai dengan ritme alamiah. Sebaliknya waktu kairos menunjuk pada situasi yang bermakna dan tepat, penuh arti, tidak bergerak secara otomatis, dan unik. Dengan demikian makna kata hora yang dipakai Yohanes 13:1 untuk menunjuk suatu tindakan ilahi yang luar-biasa terjadi dalam konteks waktu kairos, yaitu waktu yang tepat (the right time). Yesus menyadari bahwa karya teragung Allah yang terjadi dalam diri-Nya melalui peristiwa kematian-Nya telah tiba sebagai suatu kairos. Jadi perisiwa kematian Yesus merupakan waktu yang tepat sesuai rencana Allah yang terjadi dalam sejarah untuk keselamatan umat manusia. Peristiwa luar-biasa yang akan terjadi dalam kematian Yesus merupakan manifestasi kasih-Nya, karena itu setelah pernyataan “Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa” dilanjutkan dengan kalimat: “Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.”

Di tengah-tengah waktu yang tepat (kairos) tersebut, ternyata Iblis juga mulai bertindak. Yohanes 13:2 menyatakan: “Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.” Iblis memengaruhi dan menginspirasi salah seorang murid Yesus, yaitu Yudas Iskariot. Konteks peristiwanya adalah saat mereka makan bersama yang seharusnya merupakan saat menghayati kebersamaan, solidaritas, dan suasana kasih. Namun dalam suasana kebersamaan di antara para murid dan Yesus, di situlah Iblis memulai aksi dan strateginya agar Yesus diserahkan kepada para pemimpin agama Yahudi dan dibunuh. Dari sudut pandangan Yesus, kematian-Nya sebagai media beralih dari dunia kepada Bapa-Nya, tetapi bagi sudut pandangan Iblis, kematian Yesus sebagai media kuasa-Nya sebagai Anak Allah dihancurkan. Bagi Yesus kematian-Nya merupakan peristiwa yang luar-biasa untuk mendatangkan anugerah keselamatan, namun bagi Iblis kematian Yesus merupakan pengakhiran seluruh karya-Nya yang menyelamatkan bagi umat manusia. Walaupun demikian kita harus ingat, bahwa bagaimanapun kesadaran Yesus akan kematian-Nya sebagai manusia bukanlah suatu peristiwa yang mudah diterima. Perasaan manusiawi-Nya yang sedih, takut, gentar dan gelisah tetap terhayati secara intens. Bagaimanakah respons Yesus terhadap perasaan manusiawi-Nya yang sadar akan kematian-Nya?

Respons Yesus yang sadar bahwa kematian-Nya telah dekat adalah: “Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu” (Yoh. 13:4-5). Yesus memutuskan menjelang akhir hayat-Nya sebagai manusia, Ia merendahkan diri dengan membasuh kaki para murid-Nya. Konsep dunia pada umumnya adalah tindakan membasuh kaki dilakukan oleh orang yang berkedudukan lebih rendah kepada orang yang dianggap berkedudukan lebih tinggi, misalnya: para bawahan kepada tuannya, anak-anak kepada orang-tuanya, istri kepada suami, dan murid kepada gurunya. Namun dalam peristiwa yang disebut oleh gereja sebagai perayaan Kamis Putih, Yesus memberi teladan yang sebaliknya. Yesus yang adalah Tuhan dan Guru justru yang membasuh kaki para murid-Nya. Di Yohanes 13:13-14 menyatakan Yesus tiga kali menyebut diri-Nya sebagai “Guru dan Tuhan.” Di Yohanes 13:13, Yesus berkata: “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” Gelar Yesus sebagai “guru” (didaskalos) menunjuk kewibawaan dan kemampuan Yesus dalam mengajar dan menyampaikan firman Tuhan. Sedang gelar Yesus sebagai “Tuhan” (kurios) menunjuk pada kuasa-Nya atas kehidupan dan umat manusia. Kedua gelar yang begitu terhormat, mulia dan berwibawa ini tidak menghalangi Yesus untuk merendahkan diri-Nya.

Tujuan utama Yesus membasuh kaki para murid-Nya adalah memberi keteladanan agar setiap umat yang percaya saling merendahkan diri walau mereka sedang dalam kondisi dilukai dan dikhianati. Di Yohanes 13:14-15 Yesus berkata: “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”  Tindakan Yesus membasuh kaki para murid-Nya merupakan keteladanan yang otentik dan menjadi simbol yang merangkum makna ritual dan spiritualitas secara utuh. Karena itu melalui peristiwa pembasuhan kaki para murid-Nya tersebut, Yesus memberikan perintah baru. Isi perintah baru dari Yesus tersebut adalah: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34). Isi perintah baru dari Yesus tersebut adalah supaya setiap umat saling mengasihi. Namun bukankah perintah dan hukum saling mengasihi bukan sesuatu yang baru? Hukum Taurat telah menyatakan agar umat Israel mengasihi Allah, sesama dan diri sendiri. Imamat 19:18 menyatakan: “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.” Jikalau demikian, mengapa Yesus menyatakan bahwa perintah kasih tersebut merupakan sesuatu yang baru? Perintah Yesus tersebut disebut perintah yang baru sebab terdapat bagian yang paling utama, yaitu: “….sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Para murid mendapat tugas untuk saling mengasihi dengan dilandasi oleh sikap kasih Yesus yang dicurahkan kepada diri mereka. Dimensi “kebaruan” dalam perintah Yesus tersebut terletak pada realitas kasih Yesus yang sudah diberikan kepada para murid-Nya. Karena itu dimensi terdalam dalam peristiwa perayaan hari Kamis Putih terletak pada “perintah baru” dari Yesus. Perintah baru itulah yang disebut dengan mandatum novum yang diekspresikan secara liturgis melalui tindakan saling membasuh kaki di antara para murid dan dimanifestasikan sebagai spiritualitas dalam kehidupan umat sehari-hari.“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”

Tindakan Yesus membasuh kaki para murid-Nya bukanlah suatu momen romantis dan sesaat saja secara emosional, tetapi merupakan suatu spiritualitas yang menjadi pola kehidupan umat percaya. Sebagai suatu spiritualitas, maka keteladanan yang telah Yesus lakukan seharusnya menjadi model dan bentuk kerohanian yang signifikan sehingga menjiwai setiap pola pikir-perasaan-kehendak setiap umat. Dengan demikian tindakan membasuh kaki di antara umat bukan sekadar suatu ritualisme, namun suatu spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu yang utama adalah bagaimanakah umat mempraktikkan makna membasuh kaki dalam kehidupan bersama sehingga spiritualitas tersebut memampukan umat jauh dari sikap angkuh, merasa paling penting, saling menguasai dan memanipulasi kekuasaan. Walaupun demikian makna spiritualitas tersebut tidak perlu dipertentangkan dengan tindakan ritual gerejawi yang dinyatakan dalam liturgi. Beberapa orang sering memiliki anggapan bahwa yang penting adalah spiritualitas, sehingga ekspresi iman dan simbol secara liturgis tidak dibutuhkan. Ekspresi iman dalam liturgi perlu dinyatakan sesuai dengan makna hari raya gerejawi atau konteks perayaan gerejawi tersebut sehingga spiritualitas dan pesan liturgi tersebut menjadi tonggak dan peringatan iman untuk diberlakukan umat dalam kehidupan sehari-hari.

Dimensi mandatum novum yang diekspresikan gereja secara liturgis dan dihayati sebagai spiritualitas bermuara pada penghayatan iman umat dengan menyambut Sakramen Perjamuan Tuhan. Umat percaya akan menyambut makna Tubuh dan Darah Kristus yang dinyatakan dalam simbol roti dan anggur apabila mereka menghayati perintah baru dari Yesus tersebut dengan hidup yang saling mengasihi dan mengampuni. Di Surat 1 Korintus 11:23-26 Rasul Paulus mempersaksikan bagaimana Yesus setelah Ia membasuh kaki para murid-Nya, Yesus mengambil roti dan cawan anggur. Roti yang dipecah-pecahkan adalah Tubuh Kristus, dan anggur yang dicurahkan adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dengan darah-Nya. Tugas mandatum novum yang dihayati umat melalui Sakramen Perjamuan Tuhan tersebut merupakan peringatan akan karya penebusan Kristus dalam kematian-Nya sampai Ia datang kembali (1Kor. 11:26). Konsekuensi etisnya adalah bagaimana setiap umat percaya wajib memperlakukan sesamanya sebagaimana Kristus telah mengasihi mereka. Karena itu di Surat 1 Korintus 11:27 Rasul Paulus memberi nasihat: “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.” Sikap etis-praktis sehingga umat layak menyambut Tubuh dan Darah Kristus adalah: “Karena itu, saudara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain” (1Kor. 11:33). Nasihat Rasul Paulus tersebut menegaskan betapa penting dan berharganya setiap umat menghayati makna mandatum novum dalam kehidupan sehari-hari.

Perjamuan Malam Terakhir yang dilaksanakan oleh Yesus sebelum Ia wafat merupakan perjamuan Paskah sebagaimana dinyatakan dalam Keluaran 12. Dalam Keluaran 12 diatur ketetapan perjamuan Paskah, karena itu disebut dengan Seder Pesach (seder: penetapan, peraturan) yang dilaksanakan setelah matahari terbenam pada hari ke-15 bulan Nisan (Maret/April). Peserta dari Seder Pesach adalah para anggota keluarga yang utamanya menceritakan ulang kisah pembebasan Allah atas umat Israel dari tanah Mesir di Kitab Keluaran. Tujuan pembacaan narasi dari Kitab Keluaran adalah: “Pada hari itu harus kauberitahukan kepada anakmu laki-laki: Ibadah ini adalah karena mengingat apa yang dibuat TUHAN kepadaku pada waktu aku keluar dari Mesir” (Kel. 13:8). Dengan demikian dalam Seder Pesach secara garis besar terdiri: pembacaan Hagadah dari Keluaran 12-13, membahas karya pembebasan Allah, pembasuhan tangan, makan roti yang tidak beragi (matza), makan anak domba (kosher), minum anggur, dan pujian Hallel. Secara khusus Keluaran 12 mengatur tentang anak domba yang dapat dikurbankan sebagai kurban Paskah, yaitu: “Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing” (Kel. 12:5).

Jikalau demikian dalam Perjamuan Malam Terakhir yang dilaksanakan oleh Yesus seharusnya menyediakan anak domba Paskah. Tetapi seluruh kitab Injil hanya mencantumkan Yesus dan para murid makan roti dan minum anggur, tanpa daging anak domba. Kesaksian kitab Injil-injil ini hendak menegaskan bahwa Anak Domba Paskah dalam Perjamuan Malam Terakhir yang sesungguhnya adalah diri Yesus Kristus. Karena itu roti yang dipecah-pecahkan oleh Yesus merupakan Tubuh Kristus, dan cawan yang berisi anggur merupakan Darah Kristus. Tubuh dan Darah Kristus yang dinyatakan dalam simbol roti dan anggur menjadi media yang mempersekutukan kehidupan umat dengan Kristus, sehingga umat mengalami karya pembebasan Allah dari kuasa dosa. Darah Kristus merupakan meterai keselamatan sehingga menjamin umat saat mereka dilewati oleh kuasa maut sebagaimana darah anak domba di ambang pintu umat Israel menjadi penanda sehingga mereka selamat. Tanpa tanda darah di ambang pintu, Allah akan menulahi dan pemusnah akan masuk ke dalam rumah tersebut (bdk. Kel. 12:23).

Perayaan hari Kamis Putih menjadi media pengisahan kembali karya keselamatan Allah yang telah terjadi di dalam Kristus. Pengisahan kembali karya keselamatan Allah tersebut dihayati melalui Liturgi Firman (bdk. Hagadah), Sakramen Perjamuan Tuhan (persekutuan umat dengan Tubuh dan Darah Kristus), dan Keteladanan untuk saling merendahkan diri dalam sikap kasih (saling membasuh kaki). Ketiga aspek spiritualitas dalam perayaan hari Kamis Putih tersebut dihayati sebagai mandatum novum, yaitu perintah baru agar umat saling mengasihi yang bersumber pada Kristus yang mengasihi kita terlebih dahulu. Yesus berkata: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34).

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono