Latest Article
Jumat Agung

Jumat Agung

Jumat, 25 Maret 2016

Makna Yesus Menyerahkan Nyawa-Nya

Yes. 52:13-53:12; Mzm. 22; Ibr. 10:16-26; Yoh. 18:1-19:42

 Pada perayaan Jumat Agung semua gereja Tuhan di atas muka bumi merayakan sengsara dan wafat Kristus. Kisah Injil tentang kematian Kristus memberi banyak inspirasi buku dan film. Di tahun 2004, Mel Gibson selaku sutradara membuat film Passion of the Christ. Kisah dan adegan yang ditampilkan dalam film Mel Gibson tersebut menyentuh hati, tetapi sayang sekali mengeksploitasi kekerasan dan kekejaman yang dialami oleh Yesus. Padahal menurut hukum Taurat, pukulan cambuk yang diperkenankan hanyalah 39-40 kali. Ulangan 25:3 Allah menyatakan: “Empat puluh kali harus orang itu dipukuli, jangan lebih; supaya jangan saudaramu menjadi rendah di matamu, apabila ia dipukul lebih banyak lagi.” Tetapi mungkin cambukan terhadap tubuh Kristus pada waktu itu disertai besi pengait, sehingga membuka kulit dan melukai daging-Nya. Dalam peristiwa Jumat Agung kita menyaksikan kisah Via Dolorosa yang suram, sedih dan berduka. Jika demikian, mengapa gereja menyebut kisah Via Dolorosa dan kematian Kristus dengan istilah “Jumat Agung?” Bukankah seharusnya lebih tepat kita sebut kisah Via Dolorosa dan penyaliban yang dialami oleh Yesus dengan istilah, misalnya: “Jumat Suram,” “Jumat Berduka,” “Jumat Sedih,” “Jumat Berkabung?” Mengapa tradisi gereja umumnya menyebut kisah Via Dolorosa Yesus dengan istilah “Jumat Agung” atau Good Friday? Apakah gereja dengan istilah “Jumat Agung” berupaya untuk memoles kisah Via Dolorosa dan kematian Kristus akan menjadi lebih “lunak” (soft) agar tidak tampak kekerasan dan kekejamannya?

Dalam iman dan teologi Kristen peristiwa kematian Kristus bersifat istimewa karena membawa efek kosmis. Kematian Kristus membawa dampak bagi semesta dan kehidupan umat manusia. Sebab saat kematian Kristus, kitab Injil mempersaksikan bagaimana tabir Bait Allah robek dari atas ke bawah, gempa dan langit yang ditutupi oleh awan yang gelap. Semua fenomena alam hendak menyatakan kematian Kristus kelak akan membawa perubahan dan pembaruan dalam sejarah manusia. Secara teologis peristiwa kematian Kristus bisa dipahami sebagai hasil suatu pertempuran antara Allah dan Iblis. Kematian Kristus bukan sekadar karena Dia disalibkan sesuai vonis hukuman yang dijatuhkan oleh Pontius Pilatus. Karena itu sebelum Yesus disalibkan, Iblis merasuki Yudas Iskariot, sehingga Yudas Iskariot menyerahkan Yesus kepada Imam Besar. Lalu Imam Besar menyerahkan Yesus kepada Pilatus. Jika demikian, sejauh manakah Iblis berperan dalam kematian Kristus? Apakah Iblis memiliki peran yang begitu besar dan menentukan dalam peristiwa kematian Kristus? Bila benar Iblis berhasil mengalahkan dan membunuh Kristus, maka seharusnya gereja tidak boleh menyebut hari kematian Kristus sebagai “Jumat Agung.” Lebih tepat kisah Via Dolorosa dan kematian Kristus karena dikalahkan oleh Iblis sebagai “Jumat Tragedi.”

Pandangan yang pertama menganggap bahwa Iblis memeroleh kemenangan dengan keberhasilannya membawa Yesus disalibkan. Tepatnya Iblis memeroleh kemenangan pada hari Jumat Agung, karena dia berhasil memengaruhi dan mengendalikan semua pihak khususnya Sanhedrin, Herodes Antipas, dan Pontius Pilatus. Karena itu mereka sepakat untuk menghukum Kristus dengan hukuman salib. Apakah benar Iblis pada hari Jumat Agung berhasil mengalahkan Yesus, namun akhirnya Iblis dapat dikalahkan pada hari kebangkitan Kristus di hari Paskah? Dengan pemahaman teologis ini Iblis dianggap masuk perangkap Allah seperti seekor ikan yang terkecoh makan umpan kail yang dipasang oleh seorang yang memancing. Iblis memangsa umpan kemanusiaan Yesus, tetapi ternyata Iblis terkecoh. Sebab dengan memangsa kemanusiaan Yesus, Iblis juga memangsa keilahian Yesus. Karena itu pada hari Paskah, Iblis akhirnya dapat dikalahkan oleh Kristus yang bangkit. Dengan peristiwa kebangkitan-Nya Kristus tampil sebagai pemenang pada hari Paskah setelah Dia dikalahkan Iblis pada hari Jumat Agung. Tetapi pandangan teologis ini bukanlah tanpa masalah. Kalau benar Kristus pernah dikalahkan oleh Iblis, berarti kita mengakui bahwa Iblis dapat mengalahkan dan membunuh Yesus.

Tentunya keberhasilan Iblis tersebut akan berakibat buruk bagi jaminan keselamatan umat manusia. Bilamana Iblis mampu mengambil nyawa Kristus, berarti Iblis juga dapat mengambil nyawa dan kehidupan umat manusia. Padahal iman Kristen mengimani bahwa penguasa, pemilik dan yang berhak mencabut nyawa manusia hanyalah Allah. Iman Kristen menegaskan bahwa Iblis tidak memiliki wewenang mengambil nyawa dan kehidupan manusia. Lebih utama lagi adalah ketidakmungkinan Kristus dapat dikalahkan oleh Iblis. Kesaksian Alkitab khususnya Injil-injil menegaskan bahwa Kristus selaku Anak Allah justru yang mengalahkan Iblis. Di Markus 3:11-12 menyatakan: “Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: Engkaulah Anak Allah. Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.” Di hadapan Yesus roh-roh jahat dan Iblis tidak mampu menghadapi Yesus secara langsung. Namun di sisi lain kita diingatkan bahwa Iblis mencari kesempatan yang baik untuk menjebak Yesus. Di Lukas 4:13 menyatakan: “Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.” Makna waktu yang baik menunjuk pada situasi yang kondusif untuk membawa Yesus dalam kondisi yang melemahkan Dia sehingga tidak berdaya untuk dicobai. Tetapi Injil tidak pernah menyebutkan bahwa Iblis berhasil membunuh Yesus. Sebab Kristus tidak dapat dikalahkan oleh Iblis atau dibunuh oleh iblis. Kristus adalah Tuhan yang memiliki segala kuasa baik di sorga maupun di bumi.

Pandangan yang kedua adalah Kristus disalibkan untuk membayar hutang dosa manusia. Manusia berhutang kepada Allah karena manusia merampas kemuliaan Allah. Kristus wafat karena manusia tidak mampu membayar hutang dosa dengan perbuatan baik atau amal ibadahnya. Dengan kematian-Nya di atas kayu salib, Yesus dapat melunasi seluruh hutang dosa manusia. Pandangan yang kedua ini sekilas lebih mendekati prinsip keselamatan iman Kristen, yaitu Kristus sebagai penebus dosa. Bukankah pemahaman teologis ini sesuai dengan perkataan Yesus di Markus 10:45, yaitu: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Namun perlu diingat dalam pemahaman teologis Kristus sebagai pembayar hutang dosa disebabkan karena Dia sebenarnya tidak memiliki pilihan lain. Tepatnya Yesus wafat disalibkan untuk membayar hutang dosa belum tentu didasarkan karena manifestasi kasih-Nya, tetapi sebagai solidaritas-Nya dengan umat manusia. Pandangan kedua ini hanya menekankan Kristus yang bersedia membayar hutang dosa umat manusia, tetapi sesungguhnya bukan didasari oleh motif kerelaan dan kesediaan untuk berkurban.

Kedua pandangan tersebut di atas belum mampu menunjukkan alasan utama dari kematian Kristus secara Alkitabiah. Pandangan yang pertama menjelaskan kematian Yesus sebagai hasil dari Iblis yang berhasil mengalahkan dan menyalibkan Dia. Pandangan yang kedua menjelaskan tentang Kristus yang tidak memiliki pilihan lain untuk membayar hutang dosa umat manusia. Karena itu muncul pandangan yang ketiga, yaitu kematian Kristus disebabkan karena masalah kekuasaan para pemimpin agama Yahudi yang terancam.

Pandangan yang ketiga adalah Yesus dibunuh dengan disalibkan karena Ia dianggap berbahaya bagi para penguasa atau pemimpin agama umat Israel waktu itu. Para pemimpin agama (Sanhedrin) melihat Yesus sebagai pesaing dan lawan yang membahayakan kedudukan mereka sebagai pihak yang memiliki otoritas. Sebab Yesus mampu memikat orang banyak dengan kemampuan-Nya membuat mukjizat dan pengajaran yang penuh wibawa. Selain Yesus dianggap menyampaikan pengajaran yang tidak lazim, yaitu menganggap diri-Nya sebagai seorang Mesias Allah. Dalam konteks ini Sanhedrin berhasil memengaruhi Pontius Pilatus untuk mengeksekusi Yesus dengan hukuman salib. Karena itu yang menyebabkan Yesus wafat di atas kayu salib disebabkan oleh faktor-faktor manusiawi, misalnya: Dia wafat karena kehabisan darah dengan tangan dan kaki-Nya yang terpaku serta penderitaan fisik dan mental yang begitu menyakitkan. Dalam pandangan yang ketiga ini tampaknya lebih realistis, yaitu Yesus disalibkan karena para pemimpin agama Yahudi terancam dan Dia wafat karena kehilangan banyak darah. Tetapi dalam pandangan yang ketiga ini hanya sebatas menjelaskan tentang penyebab Yesus disalibkan oleh para pemimpin agama Yahudi tetapi tidak menjelaskan apakah tujuan kematian Yesus membawa dampak dalam keselamatan umat manusia. Pandangan yang ketiga ini juga hanya menjelaskan tentang penyebab Yesus mengalami kematian secara medis.

Pandangan yang keempat menegaskan bahwa Yesus wafat karena Ia yang memberikan nyawa-Nya menurut kuasa-Nya. Sebab tidak ada seorangpun yang memiliki kuasa untuk mencabut atau mengambil nyawa-Nya. Di Yohanes 10:17-18, Yesus berkata: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” Dengan perkataan ini, Yesus menegaskan bahwa Dia memiliki kuasa untuk memberikan nyawa-Nya dan berkuasa pula untuk mengambil-Nya kembali. Yesus wafat di atas kayu salib bukan karena keberhasilan Iblis yang mencabut nyawa-Nya. Yesus wafat di atas kayu salib juga bukan karena Dia tidak memiliki pilihan lain untuk membayar hutang-hutang dosa manusia. Yesus wafat di atas kayu salib juga bukan karena hasil rekayasa dan keberhasilan para pemimpin agama Yahudi. Yesus wafat juga bukan karena Dia kehilangan banyak darah dan tidak tahan menanggung penderitaan. Tetapi Yesus wafat di atas kayu salib karena Dia dengan kasih-Nya yang berinisiatif dan rela memberikan nyawa-Nya. Itu sebabnya di Yohanes 19:30, Injil Yohanes menyaksikan: “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: Sudah selesai. Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.”

Perhatikan dengan saksama kalimat yang digunakan oleh Injil Yohanes, yaitu: “Yesus menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya.” Makna ayat di Yohanes 19:30 tersebut sesuai dengan perkataan Tuhan Yesus di Yohanes 10:17-18, yaitu Kristus yang berkuasa memberikan nyawa-Nya dan juga Dia berkuasa mengambil-Nya kembali. Dengan demikian dalam kesaksian iman Kristen Yesus wafat bukan karena dibunuh oleh Iblis atau manusia. Kristus wafat karena Dia menyerahkan nyawa-Nya. Dia menyerahkan nyawa-Nya untuk suatu tujuan yang utama yaitu penebusan dosa bagi umat manusia. Karya penebusan Kristus menjadi sempurna, karena Kristus secara proaktif dan kasih memberikan nyawa-Nya bagi kita, sehingga seluruh hutang dosa kita dibayar lunas. Karena itu kematian Yesus di atas kayu salib merupakan karya pendamaian sebab Ia menggantikan hukuman dan kutukan Allah atas dosa manusia. Sebagai karya pendamaian, Yesus wafat dilandasi oleh cinta-kasih Allah yang begitu besar sehingga kematian Yesus bukan sebagai korban (victim), tetapi pengurbanan (sacrifice). Perbedaan makna “korban” (victim) dengan kurban (sacrifice) adalah korban senantiasa berada dalam posisi lemah dan tidak berdaya. Seorang yang menjadi korban tidak pernah menghendaki penderitaan dan kematian yang dialaminya; sebaliknya kurban senantiasa dilandasi oleh kerelaan, cinta-kasih dan kesediaan memberikan diri untuk keselamatan orang lain. Jikalau Yesus wafat sebagai seseorang yang menjadi korban, maka kematian-Nya tidak akan membawa dampak keselamatan bagi manusia.

Di Surat Ibrani 10 menghubungkan makna karya penebusan Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya dengan darah-Nya yang ditumpahkan sebagai kurban. Karena itu umat yang telah ditebus oleh Kristus dengan darah-Nya akan dipulihkan dalam kebaruan. Ibrani 10:19-20 menyatakan: “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri.” Pertanyaan yang utama adalah untuk mengungkapkan kasih-Nya yang begitu besar, mengapa Allah harus mengurbankan Yesus dengan kekerasan melalui penumpahan darah-Nya sebagai kurban (sacrifice)? Pada pihak lain, apabila penderitaan dan kematian Yesus merupakan kehendak-Nya, mengapa untuk penebusan dosa harus melalui jalan kekerasan yaitu kematian di atas kayu salib?

Kesaksian Surat Ibrani 10:19 yang menyatakan: “Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus” memiliki akar teologis dari Kitab Imamat 3:2 yaitu: “Jikalau persembahannya merupakan korban keselamatan, maka jikalau yang dipersembahkannya itu dari lembu, seekor jantan atau seekor betina, haruslah ia membawa yang tidak bercela ke hadapan TUHAN.” Yesus adalah kurban yang tidak bercela dan sempurna. Sebagai kurban yang tidak bercela dan sempurna Yesus adalah benar-benar Allah, benar-benar manusia, dan benar-benar orang yang benar. Dia benar-benar Allah agar dapat mendamaikan manusia dengan diri-Nya. Dia benar-benar manusia agar Ia membawa manusia ke dalam persekutuan dengan Allah. Dia benar-benar orang benar agar kebenaran-Nya membenarkan manusia di hadapan Allah. Hewan kurban pada hakikatnya tidak dapat mengganti dan menebus dosa atau kesalahan manusia di hadapan Allah. Karena itu dengan kerelaan-Nya sendiri Yesus menyerahkan nyawa-Nya sebagai kurban pendamaian di hadapan Allah. Kurban Pendamaian disebut dengan syelamim yang akar katanya dari kata “syalom” yang berarti damai-sejahtera dan selamat. Selain dari kata “syalom” kurban pendamaian memiliki akar kata “syilem” yang artinya: melunasi hutang atau membayar nazar.

Kurban Pendamaian bertujuan untuk memelihara dan memperbaiki hubungan antara umat dengan Allah, sebab keselamatan dan kesejahteraan akan terjadi bilamana terjadi hubungan yang baik dengan Allah. Pelaksanaan dalam kurban Pendamaian adalah darah korban dicurahkan kepada kaki mezbah, sedangkan lemak dibakar di atas mezbah (Im. 3:2). Sebagian dari daging korban menjadi hak para Imam, sebagian lagi dimakan oleh umat bersama keluarga karena itu kurban Pendamaian sering disebut sebagai “persembahan persaudaraan” atau “persembahan pembagian.” Inti dari seluruh kurban Pendamaian adalah umat mengalami pendamaian dengan Tuhan, karena itu disebut dengan zebbah-syelamim. Kata “zebhah” artinya: menyembelih. Jadi makna zebhah-syelamim adalah suatu perjamuan umat dengan Tuhan sebab umat telah berdamai dengan Allah dengan kurban sembelihan. Melalui kurban penebusan Kristus yang menyerahkan nyawa melalui darah-Nya, umat mengalami pendamaian yang menyeluruh dengan Allah. Sebab melalui kematian-Nya, Yesus telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri. Karena itu peristiwa kematian Yesus disebut sebagai Jumat Agung, sebab dalam peristiwa Jumat Agung di Bukit Golgota Allah telah mendamaikan manusia dengan penebusan Kristus, dan Kristus mengaruniakan jalan baru yaitu keselamatan.

Respons iman umat terhadap karya penebusan dan pendamaian Allah di dalam Kristus adalah sikap percaya kepada Kristus dengan menerima Dia sebagai penebus dan penyelamat yang memulihkan kita dari kuasa dosa. Dengan demikian setiap umat dipanggil untuk memberlakukan karya pendamaian Allah dalam penebusan Kristus dengan berdamai dengan diri sendiri dan sesama serta lawan. Makna kematian Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya seharusnya memampukan umat untuk mengalami rekonsiliasi yang menyeluruh sehingga mengalami proses pembaruan. Rekonsiliasi akan terjadi apabila kita memandang dan memperlakukan setiap sesama sebagai umat yang telah ditebus dan dikasihi Allah di dalam penebusan Kristus. Dengan demikian sesama dengan segala keberadaannya yang unik dan latar-belakang yang berbeda diterima secara utuh. Kita mengasihi sesama sebagai Kristus mengasihi mereka.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono