Latest Article
Sabtu Sunyi

Sabtu Sunyi

Sabtu, 26 Maret 2016

Kematian, Tidak Menghentikan Karya Kristus

Ayb. 14:1-14; Mzm. 31:1-4, 15-16; 1Petr. 4:1-8; Mat. 27:57-66

 Dalam perayaan Sabtu Sunyi, umat percaya menghayati masa transisi dari peristiwa kematian Yesus dan kebangkitan-Nya (Martimort, et all. 1986, 38). Dalam masa transisi tersebut mengandung dua aspek yang saling menyatu, yaitu kedukaan dan harapan. Dimensi kedukaan adalah karena Yesus telah wafat di atas kayu salib yang telah dirayakan pada Jumat Agung, dan dimensi harapan karena Yesus akan bangkit dari kematian-Nya pada hari Paskah. Dalam perayaan Sabtu Sunyi, dimensi kedukaan dan harapan dilabuhkan dalam sikap iman. Seraya merenungkan makna kefanaan manusia di depan jenasah Yesus yang berada di dalam makam, umat menghayati makna Sabtu Sunyi dengan keheningan dan sikap meditative di hadapan Allah.

Perayaan Sabtu Sunyi disebut dengan “Sabat Kedua” yang menggemakan ingatan umat akan karya Allah yang menciptakan langit, bumi dan seisinya selama enam hari dan pada hari ketujuh Allah berhenti menguduskan. Demikian pula pada Sabtu Sunyi, karya keselamatan Allah telah terjadi secara sempurna dalam kematian Kristus sehingga pada hari “Sabat Kedua” jenasah Kristus diam terkubur dalam perut bumi. Melalui kematian Kristus, Allah menciptakan kehidupan baru yang tampak pada hari Paskah, yaitu kebangkitan Kristus. Sabtu Sunyi juga disebut Sabbatum Sanctum, yaitu Sabat yang kudus. Pada awal kekristenan, umat percaya merayakan dengan khidmat Sabbatum Sanctum dan Paskah, sebab melalui Sabbatum Sanctum, umat mempersiapkan diri menyambut misteri Paskah yaitu kebangkitan Kristus. Baru pada abad IV, umat merayakan Triduum (Tri hari Paskah), yaitu Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Paskah. Pada perayaan Sabtu Sunyi umat merenungkan secara mendalam makna kesunyian di depan makam Yesus sebagaimana yang dilakukan oleh Maria, ibu Yesus dan Maria Magdalena (Mat. 27:61).

Seperti sikap Maria, ibu Yesus dan Maria Magdalena yang sedang duduk di depan makam Yesus, apakah yang akan kita renungkan dan maknai jika kita berada di depan makam Yesus? Apakah makna iman peristiwa Sabtu Sunyi dalam kehidupan umat? Apakah perayaan Sabtu Sunyi yang termasuk dalam perayaan Triduum (Tri hari Paskah), yaitu Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Paskah memiliki tempat yang khusus dalam karya keselamatan Allah? Dalam peristiwa Sabtu Sunyi, jenasah Yesus sedang berada dalam makam, apakah kesaksian Alkitab tersebut memiliki arti dalam kehidupan umat pada masa kini? Bukankah makam merupakan realitas ketiadaan, yaitu akhir dari kehidupan seseorang. Yesus telah tiada dalam kehidupan manusiawi-Nya.

Para murid waktu itu belum memahami makna janji Yesus yang akan bangkit. Waktu itu iman Paskah sama sekali tidak dimiliki oleh para murid Yesus yang sedang berdukacita dan trauma dengan kematian Yesus. Di tengah-tengah realitas “ketiadaan yang absolut” (kematian) dan “ketiadaan yang relatif” (keputusasaan, kepedihan, dan ketiadaan makna hidup) umat membutuhkan iman Paskah, yaitu kuasa kebangkitan Kristus. Namun bagaimana umat dapat memiliki iman Paskah ketika mereka sedang berada dalam situasi ketiadaan? Sebab dapatkah iman Paskah lahir dari sesuatu yang tidak ada? Saat Yesus berkata: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan,” maka hati murid-murid-Nya itupun sedih sekali (Mat. 17:22-23). Berita dari Yesus bahwa Ia akan bangkit pada hari ketiga ternyata direspons para murid dengan sikap tidak percaya, yaitu dengan sikap kesedihan. Janji Yesus bahwa Ia akan bangkit dan memberi harapan ternyata terkubur oleh kesedihan hati para murid. Peristiwa salib bagi para murid bukan hanya suatu kesedihan, namun juga suatu trauma yang menggoncangkan iman. Kesedihan dan trauma menutup mata iman, sehingga umat tidak mampu melihat harapan dan kuasa Allah di balik realitas ketiadaan itu. Sama seperti dua orang murid Yesus yang pergi ke Emaus, mereka tidak dapat mengenali Yesus yang telah bangkit dan berdiri di hadapan mereka (Luk. 24:16-17).

Di tengah realitas kematian Yesus di atas kayu salib yang dianggap oleh para murid dan musuh-musuh-Nya bahwa karya Kristus telah berakhir, justru Surat 1 Petrus 4:6 mempersaksikan karya Kristus yang semakin meluas dan menembus dunia orang mati. Surat 1 Petrus 4:6 mempersaksikan: “Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah.” Kematian Kristus tidak meniadakan atau menghentikan karya keselamatan Allah dalam kehidupan umat manusia. Sebaliknya Ia mampu menjangkau manusia yang telah meninggal dan berada dalam hukuman abadi di neraka. Masa transisi antara peristiwa Jumat Agung dan peristiwa Paskah bukanlah masa transisi yang pasif. Di antara kedua momen kematian dan kebangkitan Kristus, Roh Kristus masuk ke dalam penjara maut yaitu neraka.

Surat 1 Petrus 4:6 merupakan bagian dari 1 Petrus 3:19 yang berkata: “Dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara.” Wayne Grudem dalam Tyndale New Testament Commentaries 1 Peter menyatakan bahwa kesaksian Surat 1 Petrus 3:19 tersebut menunjuk pada aktivitas Kristus dalam dunia Roh. Sebagaimana Kristus telah hidup dalam dunia Roh, Dia juga akan melakukan sesuatu dalam dunia Roh (Grudem 1990, 157). Saat Yesus wafat, Roh-Nya tidak berdiam diri. Lingkup karya keselamatan dan penebusan tetap dikerjakan oleh Yesus. Karena itu dengan RohNya Kristus menyatakan karya keselamatan Allah dengan membebaskan roh-roh yang pada zaman Nuh tidak taat kepada Allah (1Petr. 3:20). Wilayah karya keselamatan Kristus tidak hanya melingkupi dimensi waktu kini dan mendatang, namun juga dimensi masa lampau. Dalam keheningan Sabtu Sunyi, Kristus memberitakan kabar baik, yaitu Injil sehingga umat yang telah terpenjarakan oleh kuasa dosa dan hukuman Allah diselamatkan. Karya keselamatan Allah di dalam Kristus merangkum seluruh sejarah dan kehidupan umat manusia. Dengan demikian dalam keheningan Sabtu Sunyi, umat merayakan karya keselamatan Allah di dalam Kristus dengan menembus dimensi waktu dan sejarah kehidupan umat manusia. Keheningan Sabtu Sunyi mengandung keyakinan dan kepastian keselamatan Allah yang berkarya melampaui akal dan pengertian manusia, sehingga karya penebusan Kristus merangkum seluruh eksistensi umat manusia sepanjang abad.

Kesaksian surat 1 Petrus 3:19 ditempatkan konteks “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan” (1Petr. 3:15). Demikian pula Surat 1 Petrus 4:6 ditempatkan dalam konteks “Kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan.” Jadi kesaksian karya keselamatan atau penebusan Kristus di dalam neraka ditempatkan dalam panggilan agar umat di tengah-tengah kehidupan dunia ini senantiasa kudus dan tidak melakukan ketidaksenonohan. Karya penebusan Kristus kepada jiwa-jiwa yang sedang dihukum dalam neraka bukan untuk memperlemah umat secara etis-moral. Artinya karya penebusan Kristus kepada jiwa-jiwa di neraka bukan dimaksudkan menghibur umat, yaitu Kristus kelak pada akhir zaman akan menyelamatkan mereka dari hukuman Allah di neraka walau mereka tetap hidup dalam dosa. Penghiburan yang dangkal seperti ini dapat mendorong umat untuk hidup dalam kubangan dosa dan mereka akan merasa tidak bersalah. Mereka akan merasa tetap aman sebab walau mereka kelak mengalami hukuman Allah di neraka atas perbuatan-perbuatan yang jahat, Kristus akan menyelamatkan. Akibatnya mereka tidak akan pernah bertobat dan hidup dalam pembaruan. Mereka akan hidup secara sembarang dan mengikuti keinginan dan hawa-nafsu duniawi, karena yakin pada akhirnya di dalam Kristus, Allah pasti akan menyelamatkan mereka dari hukuman kekal.

Kesaksian Alkitab tentang karya penyelamatan Kristus kepada jiwa-jiwa di neraka di antara masa transisi peristiwa Jumat Agung dan Paskah adalah hendak menegaskan bahwa karya penebusan Kristus tidak pasif, namun dinamis dan progresif. Kristus yang adalah Juru-selamat manusia bertindak menyelamatkan umat yang tidak lagi memiliki harapan. Sebab umat pada masa kini adalah umat yang telah memeroleh anugerah keselamatan dalam darah-Nya. Dalam baptisan, umat bukan hanya dikuduskan secara jasmaniah namun juga rohaniah, sehingga seharusnya memiliki hati-nurani yang baik kepada Allah (1Petr. 3:21). Karena itu setiap umat percaya seharusnya hidup baru sesuai dengan hati-nurani yang telah dikuduskan Allah. Dengan hati-nurani tersebut umat mampu memutuskan untuk tidak mencemplungkan diri di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama (1Petr. 4:4). Mereka memilih untuk tidak hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta-pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang (1Petr. 3:3). Sebaliknya umat senantiasa hidup menurut kehendak Allah (1Petr. 3:2).

Pada masa Triduum, yaitu Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Paskah umat merayakan karya keselamatan Allah dalam penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Fokus utamanya adalah karya Kristus yang melaksanakan kehendak dan karya Allah. Allah meninggalkan Yesus di atas kayu salib sebab dosa umat manusia ditanggung-Nya sekaligus Allah membangkitkan Yesus dari kematian. Jika demikian, di manakah kehadiran dan karya Roh Kudus? Apakah pada masa Triduum tersebut Roh Kudus absen? Apakah pada masa Triduum tersebut hanya Allah dalam diri Bapa dan Anak yang berkarya? Karya dan kehadiran Roh Kudus umumnya dipahami secara khusus pada hari Pentakosta. Pada hari Pentakosta umat merayakan turunnya Roh Kudus. Bagi umat Israel hari raya Pentakosta merupakan perayaan turunnya Hukum Taurat di Gunung Sinai (Shavuot), dan pengucapan syukur umat. Namun bagaimana karya Roh Kudus pada masa Sabtu Sunyi?

Kehadiran dan karya Roh Kudus dalam masa Triduum tidak dipersaksikan Alkitab secara eksplisit. Namun tidak berarti Roh Kudus absen dalam peristiwa penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Di Roma 8:9 Rasul Paulus berkata: “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Rasul Paulus menyebut Roh Allah paralel dengan Roh Kristus. Dengan perkataan lain, ketika Yesus wafat Roh-Nya tetap berkarya. Roh Yesus adalah juga Roh Allah. Pernyataan teologis ini tidak dimaksudkan untuk mencampurbaurkan antara Roh Kristus dengan Roh Kudus. Kristus dan Roh Kudus tetap esa namun kedua-Nya memiliki kedirian-Nya masing-masing. Namun kehadiran Roh Kristus yang berkarya membebaskan jiwa-jiwa dalam neraka pada hakikatnya tidak pernah terlepas dari relasi yang esa dengan Bapa dan Roh Kudus. Dengan demikian, pada masa Triduum, umat tidak boleh melupakan kehadiran Allah yang Trinitaris, yaitu Bapa-Anak-Roh Kudus. Sebab pada masa Triduum pada hakikatnya merupakan puncak seluruh karya keselamatan Allah dalam inkarnasi dan penebusan Kristus. Karya Kristus adalah juga karya Bapa dan Roh Kudus. Karena itu pada masa Triduum, khususnya pada Sabtu Sunyi Roh Kudus hadir dalam keheningan untuk menguatkan umat menghadapi ketiadaan. Roh Kudus menguatkan iman umat yang sedang menghadapi “ketiadaan yang absolut” (kematian) dan “ketiadaan yang relatif” (keputusasaan, kepedihan, dan ketiadaan makna hidup).

Orientasi iman umat seharusnya tidak tertuju semata-mata pada kematian dan makam Yesus, namun juga pada misteri kebangkitan Kristus pada Paskah Subuh. Peristiwa kematian Yesus pada Jumat Agung menjadi bermakna bilamana ditempatkan dalam perspektif peristiwa Paskah. Sebaliknya peristiwa Paskah tidak akan terjadi bilamana tidak terjadi kisah penyaliban Yesus pada Jumat Agung. Dengan demikian tindakan iman umat yang bersekutu dengan Kristus yang wafat merupakan persekutuan dengan Kristus yang bangkit. Kematian sebagai realitas maut telah ditundukkan dan diubah oleh kebangkitan Kristus sehingga menjadi realitas kehidupan abadi. Robert Gantoy dan Romain Swaeles dalam Missel dominical de l’assemblee, dan Missel de l’assemblee pour la semaine yang diterjemahkan oleh Greg LaNave dalam The Days of the Lord: The Liturgical Year Volume 3 menyatakan bahwa melalui baptisan, umat percaya dari kematian dibawa oleh Kristus menuju kehidupan, yang mana ia dibenamkan dengan Kristus dalam kematian-Nya untuk memeroleh kehidupan baru. Dengan demikian sakramen baptisan disebutnya sebagai “iluminasi” (photismos), yaitu pengalaman umat memeroleh pencerahan hidup karena terang kebangkitan Kristus (LaNave 1993, 39).

Melalui keheningan Sabtu Sunyi setiap umat dapat memeroleh pencerahan hidup sehingga umat mampu mengubah setiap kedukaan, kepahitan, dan penderitaan menjadi sumber kekuatan, semangat, dan daya juang untuk memaknai kehidupan dalam perspektif iman. Di tengah-tengah kegelapan dunia, umat memiliki pengharapan dan jaminan bahwa di dalam persekutuan dengan Kristus yang bangkit, maut tidak akan dapat mengalahkan kita. Rasul Paulus berkata: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (1Kor. 15:54-55). Itu sebabnya di 1 Korintus 15:58, Rasul Paulus menyimpulkan, yaitu: “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” Persekutuan umat dengan Kristus akan memampukan mereka hidup dalam kuasa kebangkitan-Nya.

Kuasa kebangkitan bukan hanya akan diterima umat dengan tubuh kebangkitan pada akhir zaman, namun yang lebih relevan adalah umat dapat mengalami pula pada kehidupan di masa kini. Dengan kuasa kebangkitan Kristus, umat dimampukan untuk berjalan dalam “lembah kekelaman” dunia, dan mentranformasikannya dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Bersama dengan Kristus yang bangkit, umat percaya dipanggil untuk membangun “langit dan bumi yang baru.” Kuasa kebangkitan Kristus perlu direalisasikan dalam sistem dan gaya hidup yang berkaitan dengan setiap dimensi kehidupan umat manusia, yaitu: ekonomi, politik, budaya, ideologi, filosofi, jaringan komunikasi, bentuk-bentuk relasi, kehidupan keluarga, pekerjaan, dialog lintas iman, dan sistem peradilan.

Melalui wafat dan kebangkitan Kristus, Allah berkarya dengan mengangkat martabat dan harkat manusia sehingga setiap orang tanpa terkecuali wajib menghormati setiap sesama sebagai gambar dan rupa-Nya. Karena itu wafat dan kuasa kebangkitan Kristus menentang setiap sistem nilai, ajaran, ideologi, dan falsafah yang menghalalkan kekerasan atas nama Allah ataupun atas nama agama. Ideologi atau pengajaran agama yang menggunakan kekerasan dan kekejaman dalam praktik kehidupan merupakan wujud kuasa kematian yang kelak akan ditundukkan dan dikalahkan oleh kuasa kebangkitan Kristus. Dengan demikian puncak Triduum, yakni Kamis Putih, dan Sabtu Sunyi merupakan perayaan Paskah Subuh pada tengah malam sebagai lambang kuasa kegelapan dikalahkan oleh kuasa kebangkitan Kristus.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono