Latest Article
Paskah Pagi

Paskah Pagi

Minggu, 27 Maret 2016

Kuasa Maut Dikalahkan di dalam kebangkitan Kristus

Kis. 10:34-43; Mzm. 118:1-2, 14-24; 1Kor. 15:19-26; Yoh. 20:1-18

Hari raya Paskah adalah pusat seluruh ibadah umat percaya. Karena melalui peristiwa Paskah, Kristus telah melewati kematian melalui kebangkitan-Nya. Narasi dan konfesi iman Kristen tidak berakhir dengan kematian Kristus di atas kayu salib pada hari Jumat Agung, tetapi berpuncak pada kebangkitan-Nya. Dengan demikian iman Kristen tidak meniadakan realitas kematian, sebaliknya menempatkan realitas kematian dalam perspektif jaminan keselamatan di dalam kebangkitan Kristus. Realitas kematian bukan akhir dari segala kehidupan. Sebaliknya di dalam kebangkitan Kristus, Allah menyediakan kehidupan yang melimpah dan penuh dalam kemuliaan-Nya. Karena itu seharusnya setiap umat yang percaya kepada Kristus tidak lagi hidup dalam bayang-bayang kematian yaitu “ketiadaan.” Dalam bukunya yang berjudul Systematic Theology (Volume II), Paul Tillich menyatakan bahwa secara ontologis, manusia berdiri di hadapan realitas “ketiadaan” (non-being). Realitas “ketiadaan” ini terdiri atas dua bagian, yaitu: ouk on yang berarti: “ketiadaan yang absolut” dalam bentuk kematian, dan me on yang berarti: “ketiadaan yang relatif” dalam bentuk hilangnya gairah dan makna akan kehidupan ini. Manusia berhadapan dengan dua realitas ketiadaan tersebut dan tidak bisa menghindarinya (Tillich 1957, 20). Peristiwa kematian adalah ketiadaan yang absolut. Secara manusiawi, Yesus yang telah wafat telah mengalami ketiadaan absolut. Namun ternyata oleh kuasa-Nya, Allah tidak membiarkan Kristus dikalahkan oleh ketiadaan absolut. Inilah inti berita Paskah: “Kuasa maut dikalahkan di dalam kebangkitan Kristus.”

Maria Magdalena mengalami dua kali pengalaman “ketiadaan” dalam waktu yang relatif bersamaan, yaitu: 1). Peristiwa kematian Yesus di atas kayu salib dan dimakamkan, 2). Peristiwa lenyapnya jenasah Yesus di dalam makam. Pengalaman akan “ketiadaan relatif” adalah pengalaman kesedihan yang mendalam karena kita mengalami kehilangan orang yang dekat dan kita kasihi. Kesedihan yang mendalam melalui peristiwa ketiadaan relatif dapat menyebabkan seseorang kehilangan makna dan tujuan hidup sehingga ia putus-asa dan kehilangan semangat untuk hidup. Apabila kegetiran dan hilangnya harapan dalam peristiwa ketiadaan relatif tidak terselesaikan, maka dapat berkembang menjadi peristiwa ketiadaan absolut yaitu kematian dini bagi orang yang mengalaminya.

Kitab Injil Yohanes pasal 20 tidak mengisahkan ungkapan kesedihan Maria Magdalena saat melihat Yesus wafat di atas kayu salib. Bilamana Injil tidak mengisahkan secara eksplisit bukan berarti kesedihan hati para murid termasuk Maria Magdalena tidak terjadi. Kematian yang menimpa orang-orang yang kita kasihi senantiasa menimbulkan perasaan duka yang mendalam. Di lain pihak Injil Yohanes juga mengisahkan bagaimana kesedihan Maria Magdalena saat menjumpai kubur Yesus telah kosong. Di Yohanes 20:11 menyatakan: “Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu.” Maria Magdalena menangis karena menganggap jenasah Yesus telah dicuri seseorang (Yoh. 20:13). Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas mengalami peristiwa “ketiadaan relatif” yaitu kehilangan orang-orang yang kita kasihi, dan “ketiadaan absolut” yaitu peristiwa kematian setiap diri kita. Bagaimanakah kita menyikapi realitas ketiadaan relatif dan ketiadaan absolut dalam kehidupan ini? Jawaban atas pertanyaan ini tentu sangat beragam dan variatif. Spiritualitas yang dipakai sebagai landasan atau pijakan juga memiliki berbagai sudut pandang untuk menawarkan solusi agar hidup tetap bermakna walau sedang mengalami ketiadaan relatif dan ketiadaan absolut. Dalam buku Six Ways of Being Religious, A Framework For Comparative Studies of Religion, 1996, Dale Cannon menawarkan enam jalan hidup religius yaitu: 1). the way of devotion (saleh-bakti), 2). the way of sacred rite (kekudusan), 3). the way of right action (langkah benar), 4). the way of mystical quest (petualangan mistik), 5). the way of reasoned enquiry (penelahan rasional), 6). the way of shamanic meditation (perantaraan roh). Dengan keenam jalan rohani tersebut setiap orang dapat memanfaatkan untuk memperkaya kehidupan spiritualitasnya, sehingga mampu hidup bermakna di tengah-tengah situasi yang tanpa makna. Tetapi bagaimanakah kesaksian Injil Yohanes pasal 20 menyikapi kedua ketiadaan yang terjadi dalam kehidupan manusia baik ketiadaan relatif maupun ketiadaan absolut?

Tentunya Injil Yohanes 20 dan Injil-injil lain juga secara esensial menawarkan jalan spiritualitas dalam menyikapi ketiadaan relatif dan ketiadaan absolut adalah agar umat tetap mengalami kehidupan yang bermakna. Tetapi jalan spiritualitas tersebut didasari pada tindakan dan karya Allah dalam sejarah, yaitu dalam peristiwa kebangkitan Kristus. Inti dari peristiwa kebangkitan Kristus adalah Allah menyatakan keselamatan dan anugerah pengampunan bagi umat manusia dengan mengalahkan kuasa maut, sehingga sejarah umat manusia ditempatkan dalam perspektif eskatologis yaitu realitas Kerajaan Allah di masa mendatang telah dihadirkan dalam realitas di masa kini. Realitas yang menakutkan umat manusia adalah realitas ketiadaan. Realitas ketiadaan menampilkan diri dalam bentuk ketiadaan relatif (hilangnya makna dan harapan akan hidup ini) dan ketiadaan absolut (lenyapnya kedirian manusia secara eksistensial dalam kematian). Kedua realitas ketiadaan tersebut ditempatkan dalam jaminan keselamatan melalui peristiwa Kristus yang mengalahkan kuasa maut dalam kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Dengan demikian realitas ketiadaan relatif dan ketiadaan absolut ditempatkan dalam realitas YANG ADA, yaitu Kristus yang bangkit. Realitas YANG ADA merupakan realitas karya keselamatan Allah yang eskatologis dinyatakan dalam peristiwa kekinian manusia melalui Kristus yang telah mengalahkan kuasa maut pada hari ketiga.

Peristiwa kebangkitan Kristus disebut sebagai “peristiwa eskatologis” tanpa bermaksud menyangkal “historisitas” bahwa Yesus bangkit dari kematian-Nya setelah peristiwa Jumat Agung. Tepatnya dalam peristiwa historis kebangkitan Kristus, Allah menghadirkan tubuh kebangkitan Kristus yang seharusnya dinyatakan kelak pada akhir zaman ke dalam realitas kekinian manusia. Karena itu peristiwa eskatologis yang seharusnya terjadi di Zaman Akhir hadir dalam realitas Masa Kini, sehingga realitas kekinian umat manusia pada hakikatnya diisi dan diresapi oleh kuasa kebangkitan Kristus. Realitas masa kini yang semula dikuasai oleh kuasa maut telah diisi dan diresapi oleh daya kehidupan di dalam kuasa kebangkitan Kristus. Dengan demikian kuasa kebangkitan Kristus membawa kehidupan umat manusia khususnya umat percaya ke dalam daya kehidupan ilahi yang melimpah dan penuh untuk menyongsong kedatangan Kristus dalam kemuliaan-Nya sebagai Raja dan Hakim Zaman Akhir. Karena itu dimensi dan orientasi kehidupan masa kini dalam terang kebangkitan Kristus menghasilkan suatu era baru (new era) yaitu pengharapan dan kepastian jaminan keselamatan Allah melalui persekutuan dengan Kristus yang telah wafat dan bangkit.

Persoalannya adalah bagaimana dalam peristiwa kebangkitan Kristus terjalin hubungan peristiwa eskatologis di masa mendatang pada Zaman Akhir dengan peristiwa kekinian dapat terhubungkan? Bukahkah kedua realitas tersebut tidak mungkin dapat dipertemukan, sebab keduanya memiliki rentang waktu yang panjang dan berada dalam konteksnya masing-masing? Bagaimana mungkin realitas masa kini dapat bertemu secara sinergis dalam realitas Zaman Akhir?

Peristiwa kebangkitan Kristus memiliki dua dimensi, yaitu historisitas dan eskatologis menyatu dalam kedirian Kristus yang telah wafat dan bangkit. Karena itu penghubung utama dari peristiwa eskatologis di Zaman Akhir dengan peristiwa kekinian adalah kehadiran Kristus yang bangkit di tengah-tengah murid-murid-Nya. Dalam konteks Yohanes pasal 20 utamanya adalah kehadiran Kristus yang bangkit dinyatakan dalam situasi diri Maria Magdalena yang saat itu sedang dirundung oleh kesedihan dan perasaan putusasa karena ia tidak menjumpai jenasah Yesus. Kehadiran Kristus yang bangkit dalam konteks historis dan eskatologis tersebut ternyata tidak dikenali oleh Maria Magdalena. Sebaliknya Kristus yang bangkit dalam realitas sejarah dan Zaman Akhir itu hanya dikenal oleh Maria Magdalena sebagai seorang “penunggu taman” dan “pencuri jenasah Yesus” (Yoh. 20:15). Dengan perkataan lain keberadaan Yesus yang bangkit dalam realitas sejarah dan eskatologis di Zaman Akhir tidak dikenali oleh siapapun. Yesus dipahami secara Anonim. Bahkan anonimitas Yesus yang bangkit diberi predikat yang mengandung tuduhan, yaitu sebagai seorang “pencuri jenasah” yang berprofesi sebagai penjaga taman. Jika demikian, bagaimana Kristus yang bangkit dalam realitas sejarah dan Zaman Akhir dapat kenali oleh Maria Magdalena?

Maria Magdalena tidak akan pernah mampu mengenali Yesus yang telah bangkit. Ia lebih cenderung merasakan apa yang ia alami, yaitu perasaan sedih kehilangan Yesus yang wafat dan jenasah-Nya sekarang sirna. Karena itu Maria Magdalena terhalang mengenali kehadiran Kristus yang telah bangkit dalam situasi riilnya. Sebab keberadaan Kristus yang bangkit adalah manifestasi kemuliaan Allah yang secara penuh menghadirkan diri-Nya dalam tubuh kebangkitan Kristus. Faktor penentu yang menghubungkan manifestasi kemuliaan Allah dalam tubuh kebangkitan Kristus dengan Maria Magdalena adalah inisiatif Kristus. Yesus terlebih dahulu yang memanggil namanya, yaitu: “Maria.” Di Yohanes 20:16 menyatakan bahwa Yesus memanggil: “Maria! Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: Rabuni! artinya Guru.” Melalui panggilan dan sapaan Yesus kepada Maria Magdalena, Yesus menyingkapkan keberadaan diri-Nya sebagai YANG BANGKIT secara historis dan mengenakan tubuh kemuliaan yang eskatologis dalam situasi riil di masa kini. Dengan demikian penyingkapan jati-diri Yesus yang bangkit dinyatakan dalam panggilan Allah terhadap nama diri kita. Kristus yang bangkit tidak menyatakan diri-Nya dalam situasi anonimitas kedirian umat. Sebab Yesus terlebih dahulu mengenali seluruh keberadaan diri kita, dan berkehendak memanggil kita untuk terlibat dalam relasi personal dengan kemuliaan-Nya sebagai Anak Allah. Walau keberadaan Yesus yang bangkit tidak dikenali oleh umat, tetapi Dia mengenali setiap diri kita dengan sempurna. Karena itu kita dapat mengenali keberadaan Yesus yang bangkit karena kita terlebih dahulu dikenal dan dipanggil oleh Kristus.

Namun salah satu aspek negatif setelah kita dikenali dan dipanggil oleh Kristus adalah kita cenderung mengikat dan membelenggu Yesus yang telah bangkit untuk kepentingan diri kita sendiri. Kita tidak ingin Kristus yang bangkit berkarya dalam kuasa kedaulatan-Nya yang bebas dan tidak terikat. Di Yohanes 20:17 Yesus berkata kepada Maria Magdalena: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Kata “memegang” dalam Yohanes 17 menggunakan kata ἅπτω (hapto) memiliki arti: mengikat, mengancing, memegang erat-erat. Karena itu Yesus mengingatkan agar Maria Magdalena tidak berusaha memegang erat-erat dengan tujuan tidak ingin melepaskan Dia. Sebab perjumpaan dengan Kristus yang bangkit seharusnya memampukan dan mendorong Maria Magdalena untuk pergi memberitakan kepada murid-murid yang lain. Setelah kita dikenali dan dipanggil oleh Kristus yang bangkit, setiap umat dipanggil melaksanakan tugas pengutusan kepada setiap orang. Dengan demikian pengenalan dan pemanggilan Allah di dalam kebangkitan Kristus seharusnya mengubah orientasi hidup umat percaya menjadi gerak yang sentrifugal, yaitu terarah kepada tanggungjawab memikirkan dan peduli keselamatan sesama di sekitar kita.

Kebangkitan Kristus berfokus pada pemanggilan dan pengutusan setiap orang sebagai pribadi yang telah dipilih Kristus untuk menyampaikan berita keselamatan Allah secara universal. Beverly R. Gaventa dalam Texts for Preaching Year C menyatakan makna tentang bacaan Kisah Para Rasul 10:34-43 sebagai: “The death and resurrection of Christ are viewed by these texts as God’s acts of grace, by which women and men are saved and reconciled to God and to one another.” Atas dasar anugerah Allah dalam kematian dan wafat Kristus, setiap orang tanpa terkecuali diperdamaikan dengan Allah dan sesamanya. Pendamaian dengan Allah dan sesama tersebut membuka pintu rahmat dan keselamatan-Nya secara universal. Karena itu pendamaian dalam peristiwa kebangkitan Kristus terkait erat dengan kerugma (pemberitaan) Injil kepada bangsa-bangsa lain. Konteks Kisah Para Rasul pasal 10:34-43 adalah panggilan Allah kepada Kornelius, seorang perwira pasukan Italia sehingga ia menjadi percaya kepada Kristus. Perjumpaan dengan Kristus yang bangkit tidak boleh membawa seseorang terbelenggu kepada keselamatan untuk dirinya sendiri. Sebab arah dan kecenderungan kepada keselamatan diri sendiri merupakan gerak sentripetal sehingga berupaya mengikat Kristus erat-erat bagi kepentingannya sendiri. Situasi egoistis dengan gerak sentripetal akan membawa seseorang kepada situasi ketiadaan yang relatif, dan akhirnya ia mengalami situasi ketiadaan yang absolut dalam arti yang lebih dalam lagi yaitu “kematian kekal.” Sebaliknya bila seseorang dipersekutukan dengan Kristus yang bangkit, maka ia mengalami hidup kekal. Rasul Paulus berkata: “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor. 15:22).

Hidup kekal di dalam Kristus yang bangkit dinyatakan di dalam tugas pengutusan setiap umat percaya di tengah-tengah dunia yang dikuasai oleh ketiadaan relatif dan ketiadaan absolut. Jika demikian, mengapa banyak umat percaya tidak melaksanakan tugas pengutusannya dengan setia? Karena mereka dikuasai oleh ketiadaan relatif yang membuat mereka kehilangan semangat dan makna akan hidup ini, dan juga dikuasai oleh ketiadaan absolut sebab tidak mengalami karya keselamatan Kristus yang memulihkan seluruh eksistensi mereka di hadapan Allah dan sesama.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono