Latest Article
Minggu Paskah II

Minggu Paskah II

Kebangkitan dan Misi Allah

Kis. 5:27-32; Mzm. 118:14-29; Why. 1:4-8; Yoh. 20:19-31

Masa Paskah terentang selama tujuh Minggu sama seperti masa Prapaskah. Tujuh Minggu masa Paskah dan Prapaskah hendak menyatakan nilai kegenapan karya sempurna yang telah dikerjakan Allah. Sebagaimana Allah telah menciptakan alam semesta, bumi dan segala isinya selama enam hari lalu berhenti pada hari ketujuh, maka angka “tujuh” menunjuk pada nilai kegenapan (kesempurnaan) dalam seluruh karya-Nya. Peristiwa dalam kematian dan kebangkitan Kristus merupakan wujud penggenapan karya keselamatan Allah yang paripurna. Karena itu gereja merancang kalender liturgi dengan menggunakan rumus Tujuh Minggu Prapaskah dan Tujuh Minggu Paskah.

Pada hari raya Paskah (Minggu Paskah I) gereja fokus pada peristiwa kebangkitan Kristus yang dialami secara personal oleh murid-murid-Nya yaitu Maria Magdalena, Kleopas dan Simon. Mereka mengalami perjumpaan dengan Yesus secara pribadi. Sedangkan pada Minggu Paskah II gereja fokus pada peristiwa kebangkitan Kristus yang dialami secara komunal yaitu keseluruhan para murid-Nya. Melalui kesaksian Yohanes 20, penulis Injil Yohanes menegaskan bahwa kebangkitan Yesus bukan hanya dialami oleh orang per orang, tetapi juga dialami oleh persekutuan umat. Pengalaman iman akan Kristus yang bangkit secara personal tentu penting, tetapi lebih penting lagi bila terjadi dalam persekutuan umat karena melalui persekutuan umat kebangkitan Kristus dihayati sebagai dasar pembentuk dan tiang penopang keberadaan sebagai gereja-Nya. Melalui gereja yang dibentuk melalui kebangkitan-Nya, Kristus menghadirkan dan menawarkan keselamatan bagi seluruh umat manusia dan semesta. Namun kondisi para murid Yesus saat itu sedang ketakutan terhadap para pemimpin agama Yahudi, sehingga mereka berkumpul dalam ruangan tertutup. Yohanes 20:19a menyatakan: “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi.” Di tengah-tengah ketakutan para murid tersebut Yesus yang bangkit menyatakan diri-Nya untuk menghadirkan damai-sejahtera dan kekuatan kepada mereka.

Ketakutan para murid bukanlah ketakutan yang halusinatif, tetapi ketakutan yang nyata. Para murid saat itu merasa terancam sebab Yesus dihukum mati dengan tuduhan menganggap diri-Nya sebagai Kaisar. Tuduhan tersebut dapat menempatkan Yesus dalam posisi sebagai seorang pemberontak. Para pemimpin agama Yahudi mengancam Pontius Pilatus yang hendak membebaskan Yesus dari hukuman, yaitu: “Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar” (Yoh. 19:12). Jika Yesus dituduh sebagai seorang yang makar kepada pemerintah Romawi, maka para murid-Nya juga dianggap sebagai para pemberontak. Dengan tuduhan sebagai makar atau pemberontak, para murid Yesus dapat ditangkap dan dihukum. Dalam situasi yang demikian, siapakah yang dapat melindungi dan menghibur mereka? Tentu Yesus, tetapi saat itu Yesus telah dihukum salib dan wafat. Namun di tengah-tengah situasi kesedihan, ketakutan dan keputusasaan tersebut, Yesus yang wafat menghadirkan diri-Nya sebagai Yesus yang telah bangkit dengan sapaan: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh. 20:19).

Ungkapan “damai sejahtera bagi kamu” bukan hanya dinyatakan dalam bentuk sapaan saja, tetapi diikuti oleh tindakan Yesus, yaitu: “Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka” (Yoh. 20:20). Kesaksian Injil Yohanes tersebut sesuai dengan kesaksian Injil Lukas 24:39, yaitu: “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Pengertian Yesus yang bangkit bukan hanya Dia bangkit secara rohaniah, tetapi juga dengan Tubuh-Nya. Namun makna Tubuh-Nya yang telah bangkit itu tidak lagi terbatas secara fisik, sebab kenyataan-Nya setelah Yesus bangkit, Ia mampu menembus ruang yang tertutup. Dengan kebangkitan-Nya secara rohaniah dan jasmaniah Yesus melampaui batasan ruang, waktu dan fisik. Ia menjadi serba hadir (omnipresence). Realitas kebangkitan Kristus tersebut membongkar pemahaman filsafat Platonisme dan Neo-Platonisme yang menganggap tubuh atau jasmaniah sebagai unsur yang bersifat lebih rendah dan kotor dibandingkan dengan unsur rohaniah. Sebab hanya unsur roh atau yang rohaniah saja bersifat suci, benar, dan kekal. Dalam konteks filsafat Plato dan Neo-Platonisme kebangkitan Kristus hanya akan dipahami sebagai kebangkitan rohaniah saja, dan bukan kebangkitan fisik atau tubuh-Nya. Namun tidaklah demikian dengan realitas kebangkitan Kristus, sebab kebangkitan-Nya adalah kebangkitan yang holistik mencakup keseluruhan dimensi roh dan jasmaniah. Karena itu realitas kebangkitan Kristus tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi dasar pengharapan iman umat bahwa di dalam Kristus, setiap umat percaya kelak akan mengalami kebangkitan secara holistik. Umat percaya pada hari penghakiman atau pada Akhir Zaman saat Kristus datang dalam kemuliaan-Nya sebagai Raja dan Hakim akan dikaruniai tubuh yang baru, yaitu Tubuh Kebangkitan.

Walau para murid Yesus waktu itu telah berkumpul bersama, namun ternyata ada satu orang murid Yesus yang saat itu tidak hadir. Dia adalah Tomas. Setelah berjumpa dengan Tomas, para murid berkata: “Kami telah melihat Tuhan.” Respons Tomas terhadap berita dari sahabat-sahabatnya adalah: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh. 20:25). Sikap Tomas mencerminkan pemahaman umat Israel pada umumnya yang percaya akan kehidupan setelah kematian, namun tidaklah mungkin bangkit dengan tubuh jasmaniah. Kepercayaan akan kehidupan setelah kematian disebut dengan istilah Olam Ha-Ba. Lebih khusus lagi kebangkitan orang mati dipercayai oleh orang-orang Farisi. Namun tidaklah demikian orang-orang Saduki. Mereka tidak percaya akan kebangkitan orang mati (Luk. 20:27-33). Tomas percaya akan kehidupan setelah kematian, tetapi mustahil menerima kabar bahwa Yesus dapat bangkit dengan tubuh-Nya. Sebab tidaklah mungkin tubuh yang telah mati dapat dibangkitkan kembali. Dalam keyakinan agama Yudaisme keberadaan roh tidak dapat dilepaskan dari tubuh. Bila tubuh mati, roh mungkin tetap hidup namun keberadaannya tidaklah terlalu jelas. Karena itu Tomas tidak percaya akan berita kebangkitan Yesus sebelum ia menyentuh dan meraba luka-luka di tubuh Yesus.

Sikap Tomas yang tidak mudah percaya akan kebangkitan Yesus sebelum ia meraba dengan tangannya tubuh Yesus yang bangkit mengingatkan kita akan teori perkembangan iman dari James Fowler. Dalam bukunya yang berjudul Stages of Faith (1981), dalam tahap yang disebut dengan Individuative-Reflective Faith Fowler menyatakan bahwa pada tahap ini seseorang mengalami proses refleksi kritis atas seluruh keyakinan dan nilai-nilai iman sebelumnya. Karena itu pada tahap Individuative-Reflective seseorang tidak lagi bergantung pada pendapat dan otoritas keagamaan sebagaimana tercermin dalam tahap Synthetic-Conventional, yaitu tahap seseorang yang menempatkan identitas dirinya kepada wibawa dengan pemuka agama atau orang lain. Sebaliknya tahap Individuative-Reflective seseorang menyadari bahwa dia yang bertanggungjawab penuh atas keyakinan ataupun perasaannya. Dalam konteks ini Tomas tidak terpengaruh bagaimana keyakinan dan pendapat rekan-rekannya tentang kebangkitan Yesus. Dia ingin membuktikan sendiri kebenaran tersebut. Tomas bersikap kritis secara mandiri. Di Yohanes 20:26 mengisahkan Yesus yang bangkit menampakkan diri di tengah-tengah persekutuan para murid-Nya di mana Tomas hadir. Yesus mengundang Tomas untuk menyentuh setiap luka yang pernah dialaminya seraya berkata: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yoh. 20:27). Kesaksian Injil tentang kebangkitan Yesus bukanlah ilusif, tetapi faktual-eksistensial, sehingga Tomas yang semula ragu-ragu berubah menjadi percaya dengan berkata: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28). Perjumpaan dengan Yesus yang bangkit menghasilkan iman yang otentik.

Iman yang otentik sebagaimana yang dialami oleh para murid Yesus dan Tomas menjadi landasan terbentuknya persekutuan umat yaitu Gereja. Pesan utama dari Minggu Paskah II adalah kebangkitan Kristus menghadirkan persekutuan umat dengan pengalaman iman yang otentik, sehingga mereka mampu melaksanakan pengutusan Allah. Karena itu dalam penyataan-Nya Yesus yang bangkit menyampaikan damai-sejahtera Allah dengan tugas pengutusan. Di Yohanes 20:21 Yesus berkata: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Iman yang otentik bukanlah iman yang bergantung pada kewibawaan dan perspektif teologis pihak lain, tetapi iman yang ditemukan dan dialami dalam perjumpaan secara personal dengan Kristus. Karena itu iman yang otentik menghasilkan suatu kesadaran yang mendalam akan peran dan tanggunjawabnya sebagai utusan-utusan Kristus. Sebaliknya iman yang halusinatif atau ilusif akan mendorong seseorang untuk melakukan pemberitaan firman yang manipulatif dan tidak dilandasi oleh kuasa Allah yang membebaskan. Korelasi iman yang otentik dengan tugas pengutusan dinyatakan dalam Bacaan I, yaitu Kisah Para Rasul 5:27-32. Di Kisah Para Rasul 5:27-32 mengisahkan dua para rasul Yesus yang ditangkap dan dihadapkan kepada Sanhedrin. Mahkamah Agama yaitu Sanhedrin melarang mereka untuk mengajar dalam nama Yesus, yaitu: “Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami” (Kis. 5:28).

Kesaksian kitab Kisah Para Rasul 5:27-32 menggambarkan situasi spiritualitas yang berbeda dengan sikap para murid sebelum dijumpai oleh Yesus yang bangkit. Bilamana sebelumnya para murid hidup dalam perasaan takut, gelisah dan menyembunyikan diri dalam ruang tertutup namun berubah menjadi para pribadi yang percaya diri, diliputi oleh perasaan damai-sejahtera dan keberanian untuk bersaksi di tengah-tengah tekanan situasi. Bahkan ketika berada di tengah-tengah Sanhedrin yang melarang mereka untuk bersaksi dalam nama Yesus, Petrus bersama para rasul berkata: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” (Kis. 5:29). Ketaatan kepada Allah lebih utama daripada ketaatan kepada otoritas dan ancaman manusia. Landasannya adalah pengalaman perjumpaan para murid dengan Yesus yang bangkit dan damai-sejahtera yang dikaruniakan kepada mereka serta tugas pengutusan yang dipercayakan kepada mereka. Dengan melaksanakan tugas pengutusan dari Yesus yang bangkit, para murid telah mengalami perubahan orientasi dan tujuan hidup mereka sebagai para saksi-Nya. Identitas mereka tetap seorang Yahudi dan beragama Yudaisme, tetapi dengan perspektif yang baru yaitu mengikut Yesus yang bangkit. Bagi jemaat perdana, sikap iman kepada Yesus yang bangkit tidak meniadakan keberadaan dan identitas mereka sebagai pemeluk agama Yudaisme. Sebaliknya melalui fakta iman Yesus yang bangkit, jemaat perdana dan para rasul melihat korelasi yang signifikan karya keselamatan Yahweh dalam diri Yesus. Melalui Yesus, Yahweh menyatakan diri-Nya. Dia bersedia masuk ke dalam sejarah dan kehidupan manusia melalui karya-karya, sengsara dan kebangkitan-Nya. Dengan demikian karya keselamatan Allah dinyatakan dalam seluruh aspek kehidupan Yesus mulai kelahiran, baptisan, karya-karya mukjizat, pengajaran, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Namun realitanya agama Yudaisme tidak bersedia menampung perspektif dan orientasi teologis kesaksian iman kepada Kristus yang bangkit. Yudaisme yang diwakili oleh para pemimpin Agama Yahudi (Sanhedrin) menolak perspektif dan sikap iman kepada Yesus sebagai Mesias yang bangkit. Mereka tetap percaya kehidupan setelah kematian, yaitu Olam Ha-Ba, tetapi menolak persekutuan dalam iman kepada Kristus yang wafat dan bangkit. Padahal melalui wafat dan kematian Kristus, sesungguhnya memenuhi nubuat Taurat dan para Nabi tentang penebusan dosa melalui asyam (hewan kurban). Nabi Yesaya menyatakan kematian Mesias menjadi kurban penebus dosa, yaitu: “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes. 53:5). Namun Mesias tidak berakhir dengan kematian-Nya, sebab Ia bangkit. Yesaya 53:11 menyatakan: “Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.” Nubuat tersebut terwujud dalam diri Yesus yang wafat dan bangkit. Penolakan agama Yudaisme menyebabkan secara perlahan umat yang percaya kepada Kristus memisahkan diri dengan membentuk Gereja.

Tugas gereja yang dihidupi oleh kuasa kebangkitan Kristus adalah menghadirkan realitas syalom, yaitu damai-sejahtera dan keselamatan yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Damai-sejahtera dan keselamatan dari Kristus yang bangkit diberitakan dan diwujudkan dalam pelayanan gerejawi adalah agar setiap umat manusia diperdamaikan dengan Allah di dalam penebusan Kristus. Melalui Kristus dan di dalam Kristus, Allah merangkul manusia di dalam cinta-kasih-Nya. Wahyu 1:5 menyatakan melalui kebangkitan Kristus Allah mengasihi umat dan melepaskan mereka dari dosa oleh darah-Nya, yaitu: “dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya.” Dengan demikian melalui karya penebusan Kristus dan kebangkitan-Nya, Allah membangun suatu persekutuan umat beriman secara universal sehingga mereka menjadi imam-imam bagi Allah. Dengan lugas Wahyu 1:6 menegaskan janji keselamatan Allah di dalam kebangkitan Kristus, yaitu: “dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, –bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya.” Misi Allah yang mendasar dalam peristiwa kebangkitan Kristus adalah menjadikan persekutuan umat manusia sebagai wilayah Kerajaan-Nya, sehingga setiap orang menjadi para imam yang melayani Allah dengan kekudusan dan damai-sejahtera.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono