Latest Article
Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga

Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga

Kamis, 5 Mei 2016

Diperlengkapi Kristus sebagai Saksi-saksi-Nya

(Kis. 1:1-11; Mzm. 47; Ef. 1:15-23; Luk. 24:44-53)

Perayaan Kenaikan Yesus ke sorga berada di antara Minggu Paskah VI dan Minggu Paskah VII. Karena itu perisiwa Kenaikan Yesus ke sorga dirayakan gereja menjelang peristiwa pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Yesus yang bangkit menampakkan diri-Nya selama empat puluh hari sebelum Dia naik ke sorga (Kis. 1:3). Dengan demikian peristiwa kenaikan Yesus ke sorga adalah terjadi pada hari ke empat puluh. Selama empat puluh hari Yesus yang bangkit menunjukkan dengan banyak cara bahwa Ia hidup. Dengan demikian kitab Injil-injil menegaskan bahwa penampakan Yesus sesudah Ia bangkit kepada para murid-Nya bukanlah peristiwa ilusif atau halusinatif, tetapi pengalaman riil yang eksistensial. Karena itu makna perayaan Yesus naik ke sorga adalah meneguhkan umat dan membuktikan bahwa Ia mulia sehakikat dengan Allah dalam persekutuan Roh Kudus.

Ulasan teologis tentang makna perayaan Kenaikan Yesus ke sorga meliputi: Pencerahan (Yesus membuka pikiran para murid-Nya), Hubungan kesaksian Lukas 24:46-47 dengan Kisah Para Rasul 1:3 tentang makna “Kerajaan Allah,” Sikap para murid yang tertegun saat menyaksikan Yesus naik ke sorga, dan pengutusan Yesus kepada para murid-Nya sebagai saksi.

Lukas 24:44 mengisahkan percakapan terakhir antara Yesus dengan para murid-Nya yang membahas makna nubuat Alkitab yang disampaikan dalam TANAKH (Torah, Ketubim, dan Nebiim). Yesus berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.” Percakapan terakhir menjelang Yesus naik ke sorga merupakan percakapan yang menentukan sebab tanpa percakapan tersebut para murid Yesus tidak akan memahami seluruh makna TANAKH yang terdiri dari Taurat, kitab Nabi-nabi dan Kitab-kitab tentang nubuat Allah yang terjadi dalam diri Yesus.

Kedudukan TANAKH dalam Perjanjian Lama memiliki tempat yang penting bukan hanya karena penyataan Allah yang pernah terjadi dalam sejarah kehidupan umat Israel pada zaman dahulu, tetapi juga terdapat korelasi yang tidak terputus dengan karya keselamatan Allah di dalam diri Yesus. Kehidupan Yesus, karya-karya-Nya, sengsara, wafat, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke sorga dipahami sebagai rencana keselamatan Allah yang terlebih dahulu diberitakan oleh para Nabi Perjanjian Lama. Karena itu penyataan dan nubuat Allah yang diberitakan oleh para Nabi pada zaman dahulu pada akhirnya mencapai puncaknya dalam diri Yesus. Dalam konteks ini Yesus menyatakan: “harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.” Yesus menyadari bahwa Diri-Nya merupakan kulminasi (puncak) seluruh penyataan Allah, sehingga nubuat para nabi Perjanjian Lama digenapi di dalam Dia. Makna “menggenapi” berarti Yesus memulihkan kembali maksud Allah yang sesungguhnya, sebab hati umat terhalang mengenal kebenaran Allah yang membebaskan. Karena itu Yesus membuka mata rohani dan pikiran para murid untuk mengenal makna Kitab Suci yang sesungguhnya. Di Lukas 24:45 menyatakan: “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.”

Para murid Yesus adalah para pewaris tradisi dan pengajaran Yudaisme sehingga secara garis besar mereka memahami isi nubuat TANAKH dalam Perjanjian Lama. Tetapi pewaris tradisi dan pengajaran iman tidak secara otomatis memahami dengan tepat makna yang terkandung sebelum pikiran mereka dibuka oleh Yesus, Sang Penyata Allah. Perspektif yang baru dan original akan dialami oleh para murid apabila pikiran dan hati mereka dibuka dahulu oleh Yesus yang bangkit. Yesus yang bangkit adalah Sang Penyata Allah, sehingga Dialah yang memiliki kunci untuk membuka pikiran dan hati manusia untuk menemukan kebenaran Allah yang menyelamatkan. Di Efesus 1:17 Rasul Paulus memberi nasihat agar umat percaya meminta kepada Allah roh hikmat dan wahyu sehingga dapat mengenal Kristus dengan benar, yaitu: “Meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.” Kristus hanya dapat dipahami melalui penyataan Allah dan hikmat-Nya, dan karena itu setiap umat dipanggil untuk memiliki mata hati yang terang (Ef. 1:18).

Salah satu makna nubuat Allah yang membutuhkan penyingkapan dengan perspektif yang dibarui adalah: “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” (Luk. 24:46-47). Sebab penderitaan dan kematian Yesus selaku Mesias adalah batu sandungan bagi umat manusia untuk percaya kepada-Nya, kebangkitan-Nya dianggap sebagai mitos, dan berita tentang pertobatan serta pengampunan dosa dalam nama-Nya dianggap sekadar doktrin agamawi. Tanpa perspektif dari penyataan Allah umat manusia akan menolak Kristus karena ketiga faktor tersebut. Faktor-faktor tersebut merupakan tolok-ukur dunia, yaitu: 1). Masakan Mesias menderita dan wafat dengan cara yang memalukan dan hina disalibkan, 2). Bagaimana mungkin seseorang yang sudah wafat dapat bangkit dan memiliki tubuh spiritual sehingga mampu mahahadir, 3). Bagaimana mungkin berita pertobatan dan pengampunan dosa terjadi di dalam nama Yesus sebab seharusnya hanya di dalam nama Allah saja. Bandingkan dengan pernyataan Rasul Paulus di Surat 1 Korintus 1:23 yang menyatakan: “Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.”

Kita mengetahui bahwa Injil Lukas dan Kisah Para Rasul ditulis oleh penulis yang sama, yaitu Lukas. Namun terdapat perbedaan penggunaan kata antara Injil Lukas 24:46-47 dengan Kisah Para Rasul 1:3 sebelum Yesus naik ke sorga. Apabila Lukas 24:46-47 topik utamanya adalah wafat, kebangkitan Yesus dan dalam nama-Nya terdapat pengampunan dosa maka Kisah Para Rasul 1:3 mengangkat topik tentang Kerajaan Allah. Topik tentang Kerajaan Allah dinyatakan di Kisah Para Rasul 1:3, yaitu: “Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.” Karena itu respons para murid Yesus juga memaknai perihal kedatangan Kerajaan Allah dengan pemulihan kerajaan bagi Israel, yaitu: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis. 1:6).

Dalam teologi Lukas, realitas Kerajaan Allah dinyatakan di dalam kehidupan dan karya Yesus. Makna realitas Kerajaan Allah bukan realitas “tempat” dan berada di waktu “akhir zaman,” tetapi merupakan realitas yang nyata dalam diri Yesus dan telah berada di masa kini. Di dalam diri Yesus realitas Kerajaan Allah di akhir zaman (eskatologis) tersebut sungguh hadir dalam realitas kehidupan umat di masa kini. Realitas Kerajaan Sorga telah hadir dalam realitas kehidupan umat manusia melalui diri Yesus. Di Lukas 11:20 Yesus berkata: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” Dari Lukas 11:20 terlihat bahwa realitas Kerajaan Allah telah hadir dalam kehidupan dan karya Yesus. Dengan demikian makna topik tentang Kerajaan Allah di Kisah Para Rasul 1:3 jelas menunjuk pada diri Yesus dan seluruh karya-Nya. Karena itu kesaksian Injil Lukas 24:46-47 yang topik utamanya adalah wafat, kebangkitan Yesus dan dalam nama-Nya terdapat pengampunan dosa sesuai dengan makna berita yang disampaikan oleh kitab Kisah Para Rasul 1:3. Makna Kerajaan Allah dalam Kisah Para Rasul 1:3 menunjuk pada pemerintahan Allah di dalam dan melalui Yesus yang sengsara, wafat, bangkit sehingga dalam nama-Nya berita pertobatan serta pengampunan dosa disampaikan ke seluruh penjuru muka bumi. Tetapi tampaknya para murid Yesus belum sepenuhnya memahami makna realitas Kerajaan Allah yang dimaksudkan oleh Yesus. Para murid Yesus masih terobsesi oleh makna pemulihan bagi kerajaan Israel secara politis.

Para murid Yesus dan umat percaya akan memahami secara penuh makna realitas Kerajaan Allah apabila mereka akan memeroleh kuasa yaitu Roh Kudus. Roh Kudus akan turun apabila Yesus telah ditinggikan yaitu naik ke sorga. Untuk itulah Yesus akan ditinggikan Allah dengan terangkat ke sorga kembali kepada Sang Bapa. Kisah Para Rasul 1:9 menyatakan: “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.” Para murid tidak melihat langsung proses Yesus bangkit dari kematian-Nya, tetapi kini mereka diizinkan Yesus untuk melihat Dia dimuliakan Allah dengan naik ke sorga. Para murid Yesus menjadi saksi atas Yesus yang bangkit dari penampakan-penampakan-Nya selama empat puluh hari. Karena itu para murid menjadi saksi, yaitu saksi Yesus yang bangkit melalui penampakan-penampakan-Nya dan saksi dari kenaikan-Nya ke sorga. Para murid melihat bagaimana Yesus ditinggikan Allah dalam kemuliaan ilahi terangkat ke sorga dengan diselubungi awan-awan.

Di Kisah Para Rasul 1:11 para murid Yesus ditegur oleh dua orang di dekat mereka sambil berkata: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” Para murid Yesus tertegun begitu lama sehingga terus memandang ke langit walaupun Yesus telah menghilang dalam kemuliaan Allah. Kedua orang tersebut yaitu para Malaikat mengingatkan akan tugas panggilan mereka yang utama untuk menjadi saksi Kristus, sebab Yesus yang terangkat ke sorga kelak akan datang kembali dengan cara yang sama. Karena itu daripada mereka terus-menerus melayangkan pandangan mata ke atas, mereka kini dipanggil untuk melihat dan terlibat dalam realitas kehidupan yang nyata di depan mata mereka. Dengan demikian para murid dan umat percaya dipanggil untuk berperan sebagai para saksi di antara kedatangan Yesus yang pertama sampai kedatangan-Nya yang kedua. Melalui peristiwa penampakan-penampakan Yesus dan kenaikan-Nya ke sorga merupakan bukti nyata bahwa Yesus hidup dan berkuasa, sehingga di dalam nama-Nya tersedia kehidupan baru dan anugerah pengampunan Allah. Bukti-bukti riil yang telah dialami para murid Yesus tersebut akan meneguhkan mereka untuk menjadi saksi mulai dari Yerusalem, seluruh Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8).

Para murid dan umat percaya sebagai para saksi Kristus dipanggil untuk berperan di tengah dunia dengan gerak sentrifugal, yaitu gerak di titik pusat yang terus melebar ke lingkup yang lebih luas. Yerusalem sebagai titik pusat di mana Yesus wafat dan dibangkitkan, lalu bergerak ke lingkup lebih luas yaitu seluruh Yudea di Israel Selatan, melebar ke wilayah Samaria di Israel Utara, dan akhirnya bergerak ke seluruh penjuru dunia. Dengan gerak sentrifugal tersebut, Kerajaan Allah yang terwujud dalam kehidupan dan karya Yesus berproses secara evolutif dalam seluruh kehidupan umat manusia. Tujuannya adalah di dalam nama Yesus Allah merangkul seluruh umat untuk berada di bawah pemerintah-Nya. Pemahaman teologis kitab Kisah Para Rasul 1:11 tersebut sesuai dengan pemahaman Rasul Paulus di Efesus 1:22, yaitu: “Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” Karena itu makna Kenaikan Yesus ke sorga adalah Dia menarik seluruh umat manusia di bawah kaki-Nya, sehingga Dia menjadi Kepala dari segala yang ada. Setelah tercapai gerak sentrifugal, Kristus menarik kembali semua yang percaya ke dalam persekutuan dengan intim dengan diri-Nya. Karena itu gerak sentrifugal (menyebar) diikuti dengan gerak sentripetal (memusat). Tugas para saksi yaitu umat percaya adalah memberitakan kabar baik kepada dunia di mana mereka tinggal untuk hidup dalam kuasa nama-Nya yang menyelamatkan, sehingga mereka menyerahkan seluruh hidup mereka di bawah kedaulatan kuasa-Nya. Dengan demikian realitas Kerajaan Allah terwujud manakala setiap orang dari berbagai belahan bumi datang dan tunduk kepada kuasa Kristus yang telah menebus mereka dengan sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga.

Realitas Kerajaan Allah yang didirikan oleh Yesus berbeda dengan pemulihan kerajaan bagi umat Israel yang bersifat politis. Kerajaan yang bersifat politis mengandalkan kekuatan militer dan ekonomi, sebaliknya realitas Kerajaan Allah di dalam Kristus utamanya menghadirkan anugerah pengampunan Allah dan pembaruan hidup. Tentunya sebagai umat percaya kita tidak anti dengan pemerintahan sebuah negara. Kita tidak bisa mengabaikan peran dan tanggungjawab sebagai rakyat dan warganegara membangun negara dan bangsa Indonesia. Justru sebaliknya dalam iman kepada Kristus yang bangkit dan dimuliakan sebagai Raja segala raja setiap umat percaya dipanggil untuk berperan mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang dinyatakan dalam kehidupan dan karya Kristus. Di tengah-tengah pluralitas kehidupan bangsa Indonesia, kita dipanggil mewujudkan pikiran dan hati yang telah dibuka oleh Roh Kudus sehingga mampu berperan sebagai agen-agen perubahan yang menghadirkan pembaruan hidup. Dengan kasih kita menjadi saksi-Nya memberitakan bahwa dalam nama Yesus tersedia pengampunan dosa dan anugerah damai-sejahtera serta keselamatan Allah.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono