Latest Article
Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Pentakosta

Minggu, 15 Mei 2016

Keberagaman dalam Satu Roh

(Kis. 2:1-21; Mzm. 104:24-35; Rm. 8:14-17; Yoh. 14:8-17, 25-27)

Peristiwa pencurahan Roh Kudus terjadi dalam waktu yang khusus, yaitu Pentakosta. Di Kisah Para Rasul 2:1 menyatakan: “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di Yerusalem.” Umat Israel sebagai umat percaya pada hari itu sengaja berkumpul karena sedang merayakan hari raya Shavuot. Demikian pula para murid Yesus juga merayakan hari raya Shavuot di suatu tempat. Hari raya Shavuot merupakan perayaan tujuh minggu yang dirayakan mulai hari ke-15 bulan Nisan sampai hari ke enam bulan Sivan. Hari ke-15 bulan Nisan adalah hari Paskah. Jadi mulai hari Paskah sampai tujuh minggu umat Israel mempersiapkan diri untuk menyambut turunnya Hukum Taurat di Gunung Sinai. Selama tujuh minggu (7×7 hari) umat mempersiapkan diri, dan kemudian merayakan pada hari yang kelima puluh, sehingga disebut dengan Pentakosta. Dengan demikian perayaan Pentakosta atau Shavuot sebenarnya merupakan perayaan turunnya Hukum Taurat di Gunung Sinai.

Perayaan turunnya Hukum Taurat di Gunung Sinai menandai era baru dalam kehidupan umat Israel. Sebab turunnya Hukum Taurat merupakan peristiwa perjanjian Allah dengan umat-Nya, sehingga umat Israel kini disebut sebagai “umat Tuhan” (kahal Yahweh). Mereka bukan lagi orang-orang yang berstatus sebagai budak Mesir, tetapi umat kepunyaan Allah. Karena itu mereka bersedia mengikatkan diri dengan Allah melalui perjanjian-Nya yang dinyatakan dalam Hukum Taurat. Peristiwa turunnya Hukum Taurat merupakan peristiwa penyataan Allah dalam kehidupan umat Israel. Allah yang tersembunyi dan tidak dapat dikenal oleh manusia, berkenan menyingkapkan diri-Nya sebagai Yahweh (Adonai). Itu sebabnya sebagai ucapan syukur, pada hari Shavuot atau Pentakosta umat Israel memberikan persembahan kepada Allah. Di Imamat 23:15-16 menyatakan: “Kemudian kamu harus menghitung, mulai dari hari sesudah sabat itu, yaitu waktu kamu membawa berkas persembahan unjukan, harus ada genap tujuh minggu sampai pada hari sesudah sabat yang ketujuh kamu harus hitung lima puluh hari; lalu kamu harus mempersembahkan korban sajian yang baru kepada TUHAN.” Karena itu dalam perayaan Shavuot atau Pentakosta senantiasa mengandung dua dimensi iman, yaitu perayaan penyataan Allah dalam Hukum Taurat dan ucapan syukur umat yang dinyatakan dalam persembahan kepada Allah.

Di tengah-tengah perayaan Penyataan Allah dengan turunnya Hukum Taurat dan ucapan syukur umat dalam ibadah Shavuot, kitab Kisah Para Rasul 2:2 menyatakan: “Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk.” Pernyataan kalimat “turunlah dari langit” (ek tou ouranou) menunjuk pada peristiwa Allah menyatakan diri-Nya dalam bentuk lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap di setiap orang yang hadir pada waktu itu (Kis. 2:3). Sangat menarik bahwa peristiwa Pentakosta merupakan peristiwa penyataan Allah melalui Roh Kudus-Nya yang terjadi pada perayaan Penyataan Allah dalam ibadah Shavuot. Tujuan Allah menyatakan diri-Nya melalui pencurahan Roh Kudus-Nya adalah menghadirkan umat percaya sebagai jemaat Kristus, yaitu gereja-Nya di tengah dunia. Penyataan Allah dengan Roh-Nya pada hari Pentakosta mengingatkan kita akan peristiwa awal penciptaan alam semesta yang saat itu dalam kondisi tohu wabohu (kacau-balau tanpa bentuk). Kejadian 1:2 menyatakan: “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Di tengah-tengah kekacauan dan daya destruktif itu, Roh Allah hadir untuk menciptakan realitas kehidupan yang baru dan keteraturan. Demikian pula dalam peristiwa Pentakosta di Kisah Para Rasul 2:1-12, Allah menciptakan kehidupan di era baru di tengah-tengah kekacauan melalui jemaat Kristus.

Salah satu sumber kekacauan dalam kehidupan manusia adalah sikap mengilahkan diri dan kebenaran persepsi serta keyakinannya masing-masing sehingga meniadakan yang lain. Dalam kisah pembangunan Menara Babel di Kejadian 11:4 menyatakan: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.” Problem utama yang hendak diketengahkan oleh penulis Kejadian 11:4 bukanlah pembangunan fisik berupa Menara Babel yang puncaknya sampai ke langit. Tetapi motif utama dalam pembangunan Menara Babel bertujuan untuk mencari nama dan jangan terserak ke seluruh bumi. Pertama, makna “mencari nama” adalah mencari popularitas, pemujaan diri, dan memeroleh sanjungan. Karena itu makna “mencari nama” adalah upaya mengilahkan diri dengan menyingkirkan keilahian dan kedaulatan Allah. Dengan pemujaan diri manusia berupaya untuk menggantikan posisi Allah sebagai penguasa dan penyelamat mereka. Kedua, makna “jangan terserak ke seluruh bumi” merupakan suatu upaya manusia agar tercipta suatu kesatuan yang sifatnya geografis sehingga terjadi keseragaman. Apabila manusia terserak maka mereka akan membentuk keberagaman secara budaya, adat-istiadat, keyakinan, dan etnis sesuai wilayah yang mereka tempati. Dalam konteks ini aspek pemujaan diri berkorelasi dengan sikap penyeragaman, sehingga menjadi komunitas yang eksklusif anti relasi yang dialogis. Komunitas yang eksklusif anti relasi yang dialogis tersebut kelak yang menjadi sumber kekacauan dan malapetaka dalam kehidupan manusia yang secara kodrati kita senantiasa beragam dan unik.

Sebaliknya peristiwa Pentakosta merupakan peristiwa penyataan Allah yang mempersatukan umat manusia dari berbagai etnis, budaya, adat-istiadat, kepercayaan dan bahasa sehingga tidak ada yang teralienasi atau terasingkan. Melalui pencurahan Roh Kudus dalam perayaan Shavuot berbagai latar-belakang etnis dari Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab (Kis. 2:9-11) dapat memahami berita firman yang sama. Masing-masing identitas dan keunikan berbagai etnis tersebut tidak melebur menjadi satu. Mereka tetap memiliki identitas diri sebagai orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, orang Kreta dan orang Arab. Tetapi perbedaan, keberagaman, dan keunikan mereka masing-masing tidak menghalangi mereka untuk menjalin komunikasi dan relasi kasih yang inklusif. Karena itu Kisah Para Rasul 2:11 menyatakan: “kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” Kefasihan mereka menggunakan bahasa ibu yang mereka miliki tidak menghalangi mereka untuk mendengar dan memahami bahasa ibu sesama yang berbeda. Dengan perkataan lain, esensi bahasa ibu mereka tidak berubah tetapi mereka juga mampu berkomunikasi dan mendengar makna firman yang sama. Karya Roh Kudus tidak meniadakan esensi perbedaan dan keberagaman namun menciptakan jalinan komunikasi di tengah-tengah realitas perbedaan dan keberagaman tersebut.

Fokus utama peristiwa Pentakosta adalah berita tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah dalam karya penebusan Kristus. Melalui pencurahan Roh Kudus, umat dimampukan untuk memuliakan Allah dalam kehidupan bersama dengan sesama. Sebaliknya dalam peristiwa pendirian Menara Babel di Kejadian 11:1-9 mempersaksikan bagaimana umat manusia begitu antusias mencari nama bagi dirinya sendiri. Kecenderungan umat yang semula mempermuliakan dirinya sendiri dalam peristiwa Menara Babel diubah oleh Allah menjadi peristiwa yang mempermuliakan Kristus. Dari situasi kekacauan relasi dan komunikasi sehingga umat saling terserak diubah menjadi keberagaman umat yang saling membangun dalam kesatuan relasi. Karya pencurahan Roh Kudus pada hakikatnya menghargai dan merawat “bahasa ibu” setiap etnis, namun pada saat yang sama membebaskan umat dari belenggu eksklusivisme etnis dan penghalang komunikasi sehingga terjalin jembatan relasional. Sebab tanpa pencurahan Roh Kudus, identitas dan keunikan bahasa ibu setiap etnis akan menjadi penghalang dan tembok pemisah sehingga setiap pihak akan hidup dalam “benteng pertahanannya” masing-masing. Namun dengan karya Roh Kudus, setiap pihak dimampukan untuk keluar dari “benteng pertahanannya” masing-masing dan membentuk komunitas dengan bahasa kasih dalam kuasa karya penebusan Kristus. Karena itu melalui pencurahan Roh Kudus Allah membebaskan manusia dari situasi keterasingan, belenggu eksklusivisme dan tembok pemisah sebab menciptakan kesetaraan dan kebersamaan.

Komunitas yang dibentuk dalam peristiwa pencurahan Roh Kudus bukanlah “dunia” pada umumnya tetapi jemaat/gereja. Karena itu seharusnya gereja merupakan media komunitas Kristus untuk menghadirkan keberagaman dalam kebersamaan kasih-Nya. Namun realitanya selama berabad-abad gereja lebih suka memilih hidup dalam “benteng pertahanannya” yaitu denominasinya masing-masing daripada menghayati kesetaraan dan kebersamaan. Karena itu kita sering menyaksikan dan mengalami benturan-benturan yang tidak sehat dalam relasi antar gereja yang mirip dengan situasi pendirian Menara Babel di Kejadian 11:1-9. Masing-masing pihak berupaya untuk menyeragamkan denominasi atau aliran gereja lain. Pihak atau aliran yang berbeda dianggap sebagai kelompok yang “sesat” dan perlu bertobat. Luka-luka sejarah “skisma” ratusan tahun yang lalu sering dipelihara dan dijadikan materi pertikaian sampai hari ini, namun anehnya pada hari Pentakosta dengan antusias mereka berkhotbah tentang perlunya keesaan gereja. Praktik hidup kita sering lebih suka merawat perpecahan gereja namun antusias memberitakan firman tentang keesaan gereja sebagai Tubuh Kristus. Kepribadian kita sering mengalami keterpecahan, sebab Roh Kudus belum sepenuhnya diberi ruang untuk membarui dan memulihkan kita. Karena itu perayaan Pentakosta hanya menjadi ajang seremonial ibadah namun belum menjadi ibadah yang mentransformasi kehidupan kita untuk bertekad hidup dalam keberagaman namun satu Roh.

Keberagaman dalam satu Roh seharusnya dinyatakan dalam relasi dan suasana damai-sejahtera Allah. Di Yohanes 14:27 Yesus berkata: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Kegagalan kita untuk menghadirkan kebersamaan dan kesetaraan disebabkan oleh batin yang miskin dengan damai-sejahtera. Kata “damai-sejahtera” berasal dari kata “eirene” yang menunjuk pada situasi keselamatan yang menyeluruh sehingga tercipta realitas sentosa dan aman, jauh dari kemarahan dan kebencian. Karena itu kata “eirene” dalam bahasa Yunani ini sejajar dengan makna kata “syalom” dalam bahasa Ibrani. Makna kata “syalom” mengandung dua dimensi rohaniah yang saling terkait yaitu keselamatan dan damai-sejahtera. Kedua makna kata “eirene” dan “syalom” merupakan karya pendamaian Allah yang menciptakan realitas keselamatan dan damai-sejahtera sehingga realitas “damai sorgawi” menjadi realitas “damai di bumi.” Secara khusus melalui inkarnasi Kristus Allah mewujudkan “rekonsiliasi” dalam kehidupan umat manusia. Makna “rekonsiliasi” dalam konteks ini adalah tindakan Allah yang mendamaikan manusia dengan diri-Nya agar dalam kehidupan manusia mampu berdamai dengan sesama, diri sendiri dan keutuhan ciptaan. Karena itu tindakan rekonsiliatif dari Allah menghasilkan damai-sejahtera, dan sebaliknya damai-sejahtera Kristus yang memungkinkan terjadinya rekonsiliasi. Konflik yang menghasilkan perpecahan gereja, perseteruan dan permusuhan dalam kehidupan komunitas disebabkan karena umat percaya belum mengalami “eirene” atau “syalom” yaitu damai-sejahtera dan keselamatan Allah dalam karya penebusan Kristus.

Pencurahan Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta utamanya adalah menghadirkan “eirene” yaitu damai-sejahtera dan keselamatan yang telah dikerjakan dalam karya penebusan Kristus. Realitas “eirene” tersebut diwujudkan dalam kebersamaan di tengah-tengah keberagaman sehingga setiap pihak dapat memahami berita dan mengalami karya keselamatan Allah yang satu di dalam Kristus. Bila hati setiap umat dipenuhi oleh damai-sejahtera Kristus maka setiap pemikiran, perkataan dan tindakan kita akan menghasilkan keselamatan bagi orang-orang di sekitar. Karena itu keberagaman umat yang telah disatukan dalam satu Roh tersebut akan membentuk komunitas baru bernama “ekklesia” yaitu jemaat yang mampu hidup bersama dalam damai-sejahtera dan keselamatan walau mereka serba beragam. Dengan demikian ciri khas spiritualitas jemaat/umat percaya adalah “eirene” sehingga mereka mampu mengalami rekonsiliasi secara utuh, sebab orientasi hidup mereka dikuasai oleh keinginan Roh. Di Roma 8:15 menyatakan: “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ya Abba, ya Bapa!” Realitas “eirene” bertolak-belakang dengan realitas roh perbudakan dan ketakutan. Manakala kita hidup dalam realitas roh perbudakan dan ketakutan maka kita memiliki potensi untuk menebarkan kecurigaan, antipati, permusuhan, perselisihan dan diskriminasi.

Jadi jikalau dalam komunitas umat masih dipenuhi oleh kecurigaan, antipati, permusuhan, perselisihan dan diskriminasi maka komunitas umat tersebut belum mengalami penyataan Allah dalam peristiwa pencurahan Roh Kudus. Karya pencurahan Roh Kudus hanya menghadirkan damai-sejahtera dan keselamatan yang dinyatakan dengan kemampuan umat untuk saling menghargai, tanpa diskriminasi dan berlaku adil.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono