Latest Article
The Great Commission or The Great Ommision (Mat. 28:11-20)

The Great Commission or The Great Ommision (Mat. 28:11-20)

The Great Commission or The Great Ommision

(Amanat Agung atau Kelalaian terbesar) (Matius 28:11-20)

Pengantar

Selaku gereja, kita hidup dalam dunia. Bagaimanakah kita menyikapi dunia? Bagaimanakah relasi antara kita sebagai gereja dengan dunia? Apakah dunia yang membutuhkan gereja, ataukah gereja yang membutuhkan dunia? Pertanyaan pertama berpijak pada keyakinan gereja akan nilai-nilai iman Kristen dan keselamatan yang dimiliki, sehingga tanpa gereja kehidupan dalam dunia akan menjadi buruk. Karena itu dunia membutuhkan gereja. Sebagai yang dibutuhkan oleh dunia, gereja sering merasa dirinya penting, berharga, dan merasa memiliki berbagai kelebihan sehingga cenderung jual mahal. Akibatnya gereja lalai akan tugas panggilannya. Gereja memilih secara pasif menunggu panggilan dan pinangan dari dunia, barulah gereja mau bertindak. Bila dunia berseru dalam kesedihan dan putus-asa karena membutuhkan pertolongan, barulah gereja mau berperan melayani dunia. Dalam situasi yang demikian gereja melakukan the great ommision (kelalaian terbesar).

Pertanyaan yang kedua berpijak pada realitas bahwa gereja berada di dalam dunia, dan karena itu gereja dengan rendah-hati mengakui bahwa ia membutuhkan dunia. Karena gereja membutuhkan dunia, maka gereja terus-menerus menempatkan panggilannya dalam memahami kebutuhan dan permasalahan dunia. Gereja berusaha terus belajar memahami dan menjalin relasinya dengan dunia agar gereja mampu menggarami dunia dengan nilai-nilai Injil Kristus. Dalam konteks ini gereja menempatkan diri hanya sekadar alat dari Allah untuk mengomunikasikan karya keselamatan di dalam Kristus. Dengan spiritualitas yang demikian gereja terpanggil melaksanakan perintah Tuhan Yesus yaitu: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19). Jadi justru kesadaran bahwa gereja membutuhkan dunia, gereja semakin terdorong untuk melaksanakan Amanat Agung (the great commission) dari Tuhan Yesus, yaitu memberitakan Injil ke seluruh penjuru dunia.

Situasi Dunia

Dunia yang dibutuhkan oleh gereja adalah dunia yang kompleks dengan berbagai permasalahan kehidupan. Dunia yang dibutuhkan oleh gereja bukanlah dunia yang ramah dan menyenangkan, tetapi dunia yang penuh dengan berbagai kepahitan, penderitaan, kekerasan, kekejaman, dan kejahatan. Dari segi iman, dunia juga adalah realitas yang sebagian besar tidak percaya kepada Kristus. Dunia yang kita tinggali adalah dunia yang mengolok-olok dan menolak Kristus. Di Matius 28:11-15 yang menjadi konteks Amanat Agung di Matius 28:19-20 mengisahkan bagaimana Imam-imam kepala berunding dengan para Tua-tua Israel dengan memberikan uang sogokan kepada para prajurit yang menjaga kubur Yesus agar mereka tidak mengatakan bahwa Yesus telah bangkit. Pesan para Imam dan Tua-tua kepada para prajurit tersebut adalah: “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur” (Mat. 28:13). Itulah situasi dunia yang mengingkari karya keselamatan Allah di dalam penebusan Kristus. Dunia yang dibutuhkan oleh gereja ternyata adalah dunia yang manipulatif, yaitu dunia yang dengan segala cara memutarbalikkan kebenaran menjadi kesalahan, dan kesalahan menjadi kebenaran. Kita hidup dalam dunia yang menjadikan kesesatan sebagai daya tarik, dan kebenaran sebagai bahan olok-olokan. Tetapi dunia yang manipulatif dan hidup jauh dari Allah tidak boleh dijauhi dan diabaikan oleh gereja. Gereja diutus ke dalam dunia, namun di pihak lain gereja tidak boleh hidup serupa dengan dunia ini.

Situasi dunia juga tampil sebagai sikap orang-orang yang tidak percaya akan kebangkitan Kristus. Mereka menolak peristiwa penyaliban dan kebangkitan Kristus. Karena itu pemberitaan tentang salib adalah suatu kebodohan, dan kebangkitan Kristus hanyalah takhayul belaka. Namun di tengah-tengah ejekan dan cemoohan tersebut, kita dipanggil untuk memberitakan Injil kepada semua mahluk dan bangsa. Tentunya kita membutuhkan hikmat dan kemampuan untuk menjelaskan tentang makna peristiwa salib dan kebangkitan Kristus. Tetapi lebih utama lagi adalah dunia membutuhkan hidup umat Kristen yang benar-benar-benar diresapi oleh kuasa salib dan kebangkitan Kristus. Sebenarnya dunia tidak terlalu membutuhkan penjelasan ilmiah tentang peristiwa salib dan kebangkitan Kristus, tetapi kuasa salib dan kebangkitan Kristus dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kuasa salib dan kebangkitan Kristus dinyatakan dalam sikap orang-orang Kristen yang mampu tabah menghadapi penderitaan dan kematian, orang-orang Kristen yang berani meninggalkan zona aman untuk menyatakan kebenaran dan membela keadilan, serta orang-orang Kristen yang memilih hidup jujur daripada memanipulasi uang alias korupsi. Semakin umat hidup dalam kuasa salib dan kebangkitan Kristus, maka umat diberi kuasa oleh Allah sehingga mereka memiliki wibawa untuk memberitakan Kristus di berbagai tempat dan situasi.

Bersaing dalam Menyampaikan Berita

Di Matius 28:15 menyatakan para Imam dan Tua-tua Israel menyebarkan berita palsu dan berita tersebut terus tersebar sampai saat ini, yaitu: “Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.” Berita palsu tersebut adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja, sistematis dan taktis agar banyak orang mempercayai bahwa Yesus tidak bangkit dari kematian. Di era digital sekarang, kita berulangkali mendengar berita palsu yang disebut hoax. Misalnya mengirim foto dan kisah nyata yang sudah diedit, padahal realitanya tidaklah demikian. Hoax yang berbahaya adalah apabila menyebarkan foto yang sudah diedit atau diberi keterangan yang menyesatkan khususnya tentang pembunuhan suatu etnis atau kelompok agama tertentu. Tujuan hoax tersebut adalah kerusuhan dan pembalasan dari suatu kelompok massa. Misalnya berita tentang pembakaran Mesjid di Tolikara, Papua pada hari raya Idul Fitri pada tanggal 17-18 Juli 2015. Padahal dari hasil penyidikan Mesjid terbakar karena efek pembakaran sebuah kios pedagang. Berita hoax tersebut menjadi lebih panas lagi karena disebarkan berita tentang pelarangan sholat Ied oleh para pemuka gereja di Papua. Kasus Gubernur DKI Jakarta yang perkataannya di Kepulauan Seribu pada tanggal 28 September 2016 diedit sehingga dihilangkan satu kata, yaitu kata “pakai.” Akibatnya tindakan penghilangan satu kata tersebut menimbulkan kemarahan bagi sebagian umat Muslim. Gubernur DKI dituduh oleh menistakan agama Islam.

Di tengah-tengah realita dunia yang saat ini mudah untuk mengirim berita hoax, setiap umat percaya dipanggil untuk memberitakan kebenaran, yaitu berita-berita yang dapat dipercaya (kredibel) dan membangun. Umat percaya dipanggil menggunakan setiap sarana komunikasi digital termasuk percakapan personal dan komunal untuk menyebarkan berita kebenaran yang inspiratif dan motivasional. Khususnya umat percaya dipanggil untuk menyebarkan berita Injil Kristus dalam berbagai bentuk, sehingga banyak orang terdorong untuk mengenal dan percaya kepada Tuhan Yesus. Sayangnya saat ini kita sedang ketagihan dengan media sosial dan komunikasi digital, sehingga kita kehilangan kemampuan untuk berbicara secara personal dengan orang-orang di sekitar kita. Padahal Injil Kristus juga perlu disampaikan dalam percakapan secara personal dari hati ke hati. Tentu melalui dunia maya (dunia digital) Injil Kristus sekarang juga menyebar dan menjangkau orang-orang dari berbagai belahan dunia. Namun berita Injil juga membutuhkan percakapan personal dari para insan yang mau terbuka dan tersentuh oleh kasih Allah. Karena itu setiap jemaat perlu bersaing secara positif dan membangun dalam menyebarkan berita kepada dunia ini. Kita tidak perlu ambil bagian dalam penyebaran berita hoax, tetapi harus proaktif, bijaksana dan cerdik dalam menyebarkan berita kebenaran dan keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya

Seluruh tujuan pemberitaan Injil pada hakikatnya adalah agar umat manusia menyembah Kristus. Dalam kebaktian, penyembahan (worship) merupakan jantung dari liturgi dan kehidupan iman Kristen. Karena itu fokus dan tujuan utama seluruh aspek kehidupan umat percaya adalah diri Kristus. Di Filipi 2:10-11, Rasul Paulus menyatakan: “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Jika demikian, tujuan utama Pemberitaan Injil adalah penyembahan kepada Kristus, bukan keselamatan bagi bangsa-bangsa. Sebab keselamatan adalah anugerah Allah yang dikaruniakan kepada orang-orang yang berkenan kepada-Nya. Hanya orang-orang yang menyembah dan mempermuliakan Kristus saja yang diselamatkan. Namun tugas dan panggilan menyembah dan mempermuliakan Kristus utamanya terhambat oleh kecenderungan manusiawi kita untuk menyembah dan mempermuliakan diri sendiri (self-worship). Kegagalan kita untuk melaksanakan Amanat Agung dari Tuhan adalah keinginan kita untuk dihormati, dikenal, dianggap penting, dan menjadi pusat perhatian.

Senada dengan sikap menyembah dan mempermuliakan diri sendiri adalah kita bisa menjadikan kebaktian sebagai pemuas hasrat spiritualitas yang konsumtif. Bukankah hasrat spiritualitas yang konsumtif adalah cermin egosentrisme yang kuat dalam diri kita masing-masing? Sikap egosentrisme adalah sikap batin seseorang yang menjadikan dirinya sebagai pusat dan ukuran dalam menilai segala sesuatu. Padahal inti kebaktian setiap hari Minggu dan hari raya gerejawi adalah worship, yaitu penyembahan kepada Allah di dalam Bapa-Anak-Roh Kudus. Dalam kebaktian yang berfokus pada worship terdapat keterpaduan semua elemen yaitu: pendeta, umat, musik, suasana dan relasi sehingga menghasilkan suatu ibadah yang melepaskan atau meninggalkan semua egoisme dan sikap konsumtif secara rohaniah. Sebagai gereja reformatoris, GKI terbuka menerima kritik untuk setiap pemberitaan firman. Umat dimotivasi untuk mengkritisi khotbah, namun serentak pada saat yang sama perlu diajukan pertanyaan bagaimana kualitas dan motif hati umat? Apakah hati mereka seperti tanah di pinggir jalan, tanah yang berbatu-batu, tanah yang ditumbuhi semak duri, ataukah tanah yang subur? Pusat kebaktian bukanlah pendeta yang memberitakan firman dan juga bukan umat untuk dipuaskan hasrat rohaninya yang konsumtif, tetapi Kristus yang disembah dan dimuliakan.

Alasan Kristus yang harus disembah dan dimuliakan sangatlah jelas, yaitu karena hanya Dia yang punya segala kuasa di sorga dan di bumi. Di Matius 28:18, Tuhan Yesus berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Kita memberitakan Injil karena Kristus adalah Tuhan dan Juru-selamat yang memiliki kuasa di sorga dan di bumi. Rasul Paulus juga berkata: “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 3:10-11). Jadi kita melaksanakan tugas Amanat Agung adalah karena universalitas kuasa Kristus yang merengkuh seluruh umat manusia dan zaman. Kuasa keselamatan Kristus tidak terbatas pada wilayah dan lingkup kehidupan orang-orang Kristen belaka. Karena itu adalah dosa besar dalam kehidupan gereja apabila menjadikan Kristus hanya secara partikular (lingkup yang terbatas) pada denominasi-denominasi kekristenan belaka.

Menjadikan Sesama sebagai Murid Yesus

Tuhan Yesus berkata di Matius 28:19, yaitu: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Perkataan Tuhan Yesus yang disebut dengan Amanat Agung ini sering menimbulkan kesalahpahaman karena dianggap sebagai pembenaran untuk melakukan kristenisasi. Padahal perkataan Tuhan Yesus tersebut yang utama adalah menjadikan semua bangsa sebagai murid-Nya. Menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus tidak sama dengan “kristenisasi.” Karena makna menjadi “murid” berarti dia bersedia mengikut Yesus, meneladani-Nya dan menerima dengan sepenuh hati semua yang diajarkan serta dilakukan Yesus, sehingga ia menjadi semakin serupa dengan Kristus. Berbeda dengan status menjadi orang Kristen. Status menjadi orang Kristen hanya menunjuk pada keanggotaan gerejawi secara administratif, tetapi tidak secara otomatis melaksanakan nilai-nilai iman Kristen dalam kehidupannya. Sebaliknya seorang murid senantiasa meneladani dan menaati perkataan dan keteladanan gurunya, sedang menjadi seorang Kristen dalam praktik dipahami hanya sebagai anggota jemaat yang terdaftar. Di sinilah letak kegagalan gereja karena para anggotanya sering hanya terdaftar secara administratif sehingga tidak terbeban untuk melaksanakan panggilannya yaitu menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus. Kita harus menjadikan gereja kita sebagai persekutuan umat yang dijiwai oleh api Roh Kudus sehingga setiap umat terbeban untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus.

Sebagaimana telah saya katakan di atas bahwa tujuan utama dari seluruh ibadah dan kehidupan orang Kristen adalah mempermuliakan dan menyembah Kristus. Kita juga tidak menginginkan pertumbuhan jemaat secara kuantitatif yang sifatnya administratif belaka. Kita merindukan umat yang menyembah Kristus dan berkobar-kobar oleh api Roh Kudus untuk memberitakan Injil ke seluruh penjuru dunia. Namun di pihak lain kita juga harus ingat bahwa menyembah dan mempermuliakan Kristus serta memberitakan Injil tidak terlepas dari peran gereja sebagai lembaga. Sebab tugas melayani sakramen adalah tugas gereja sebagai lembaga yang diberi wewenang oleh Kristus. Menurut pendapat saya adalah suatu kesalahan berteologi apabila tugas memberitakan Injil untuk mempermuliakan Kristus dilepaskan dari ikatan dengan kelembagaan gereja. Misal pernyataan: “yang penting umat percaya kepada Kristus, jadi tidak terlalu penting apakah mereka ke gereja atau tidak.” Pernyataan tersebut hanya benar sebagian saja. Karena dalam Pengakuan Iman Rasuli kita mengakui gereja yang kudus dan am. Dalam lingkungan jemaat GKI, sakramen baptisan tidak dapat dilaksanakan oleh orang per-orang atau suatu kelompok tertentu. Sakramen baptisan dan Perjamuan Tuhan senantiasa dilaksanakan oleh gereja. Karena gereja adalah tubuh Kristus, dan Kristus adalah Kepala. Jadi berbicara tentang Kristus sebagai Kepala tidak pernah terlepas dari eksistensi tubuh-Nya yaitu gereja. Karena itu tugas memberitakan Injil dalam lingkungan jemaat kita dinyatakan dalam kesetiaan umat akan prinsip-prinsip pengajaran dan Tata Gereja GKI. Jangan sampai kita berjemaat di Gereja Kristen Indonesia, namun melaksanakan Amanat Agung sebagai tugas Pemberitaan Injil dengan cara yang bertentangan secara teologis dan pengajaran GKI. Sebab GKI adalah jemaat yang peduli dengan pemberitaan Injil dalam pengertian mengerjakan Misi Allah di tengah dunia ini.

Amanat Agung dan Hukum Emas

Prinsip teologis, pengajaran dan Tata Gereja GKI dalam memberitakan Injil adalah berprinsip pada The Golden Rule (Hukum Emas) yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, yaitu: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat. 7:12). Perintah Tuhan Yesus sebagai Amanat Agung di Matius 28:19 bersumber pada Hukum Emas dari Tuhan Yesus di Matius 7:12.

Untuk melaksanakan pemberitaan Injil yang bersumber pada Hukum Emas, kita harus menerapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada setiap agama yang ada. Caranya kita sebagai gereja hanya menyebarkan benih-benih Injil secara inspiratif dan kontekstual. Namun hal seseorang percaya dan bersedia menjadi murid Kristus adalah sepenuhnya pekerjaan Roh Kudus. Karena itu kita selaku gereja menyediakan berbagai macam fasilitas dan media pemberitaan Injil secara bertanggungjawab, dan bukan upaya menjalin persahabatan yang semu dengan “agenda tersembunyi” yaitu pemberitaan Injil. Persahabatan kita harus dilandasi oleh motivasi dan cara yang etis dan tulus, namun identitas kekristenan kita tetap tampil secara alamiah dan berbicara banyak kepada orang-orang di sekitar kita. Karena itu apakah kita telah menjadi sahabat banyak orang sehingga mereka mempercayai perkataan dan tindakan kita, dan terdorong untuk mengikuti jejak kita yaitu menjadi murid Kristus?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono, M.Th.