Latest Article
Refleksi Malam Natal  24 Desember 2016

Refleksi Malam Natal 24 Desember 2016

Sukacita Natal (Lukas 2:8-20)

Kita butuh suasana sukacita khususnya saat kita berada dalam situasi serba tegang, tertekan dan stres. Terakhir muncul fenomena yang menjadi viral di dunia maya yaitu “Om-Telolet-Om.” Remaja, pemuda, pejabat dan artis juga ikut berbaris sambil berteriak meminta agar para pengemudi mau membunyikan klaksos bus, truk atau kereta. Bunyi klakson yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan sesuatu yang mengganggu, bising dan sering dengan nada marah kini dijadikan media untuk tertawa dan bersukacita. Di tengah-tengah ancaman bom dan terorisme, orang-orang menghibur diri dengan menciptakan sukacita dengan bunyi klakson kendaraan.

Di Injil Lukas 2:8 mengisahkan para gembala yang menjaga kawanan domba di padang pada waktu malam. Bukankah berita ini agak janggal? Bukankah pada waktu malam seharusnya mereka memasukkan domba-dombanya ke kandang dan mereka tidur di dalam rumah? Tentu ada berbagai kemungkinan mengapa para gembala tersebut memilih menjaga kawanan domba di padang pada waktu malam daripada tidur di dalam rumah. Salah satunya adalah mereka melepaskan ketegangan dan kesusahan hidup yang menerpa sepanjang hari. Mereka mencari suasana tenang di waktu malam. Angin malam, keheningan, dan langit cerah yang berbintang merupakan suasana yang sering bisa meneduhkan hati yang lara dan jiwa yang penat.

Muncul beberapa spekulasi untuk menentukan waktu, yaitu kapankah para gembala menjaga kawanan domba di padang Efrata yang tidak bisa tidak terkait dengan waktu kelahiran Yesus. Cukup banyak orang yang meragukan waktu kelahiran Yesus tidak terjadi pada tanggal 25 Desember. Karena itu banyak gereja menganggap tidak perlu ketat untuk melaksanakan kebaktian Natal pada tanggal 25 Desember. Perlu diketahui bahwa Gereja Orthodoks merayakan Natal setiap tanggal 6 Januari. Perayaan tanggal 25 Desember dalam konteks ini dianggap berasal dari perayaan dunia kafir. Sebab setiap tanggal 25 Desember pada waktu itu dilaksanakan perayaan yang memuja dewa Matahari yang tidak terkalahkan yang disebut dengan “Sol-Invictus.” Namun pandangan yang mengaitkan hari kelahiran Yesus dengan pemujaan kepada dewa Matahari yang bernama Sol-Invictus kini ditolak oleh banyak ahli tafsir Alkitab dan sejarah gereja. Karena kaisar Kontantinus dalam praktik hidupnya tidak pernah memuja dewa Matahari atau dewa-dewa agama Romawi. Tampaknya ada faktor kebetulan perayaan pemujaan kepada dewa Matahari pada waktu itu dilaksanakan bersamaan dengan tradisi gereja yang merayakan hari kelahiran Yesus setiap tanggal 25 Desember. Tetapi faktor kebetulan yang bersamaan waktunya pada tanggal 25 Desember bukan berarti gereja mengambil alih perayaan keagamaan kafir yang memuja dewa Sol-Invictus untuk merayakan hari kelahiran Kristus.

Gereja melaksanakan perayaan hari kelahiran Kristus didasari pada tradisi iman yang diteruskan secara lisan yaitu perayaan Maria mendapat kabar gembira dari malaikat Gabriel pada tangal 25 Maret (bulan Nissan). Apabila tanggal 25 Maret ditambah 9 bulan, maka akan jatuh pada tanggal 25 Desember (bulan Kislev). Padahal menurut kalender Yudaisme perayaan bulan Desember – Januari merupakan perayaan Hanukah. Makna perayaan Hanukah adalah hari raya penahbisan Bait Allah. Perayaan Hanukah tahun 2016 jatuh pada tanggal 24 Desember – 1 Januari. Setiap bulan Desember – Januari umat merayakan hari raya Hanukah dengan menyalakan 9 kandil yang disebut dengan Menorah (atau disebut dengan: Hanukiyah). Hari raya Hanukah dirayakan umat Israel selama 8 hari.

Hari raya Hanukah dilakukan oleh umat Israel untuk mengenang kepahlawanan yang membebaskan umat Israel dari penindasan dan penjajahan bangsa asing yaitu seorang yang bernama Yudas Makkabe. Kita dapat membaca kisah kepahlawanan Yudas Makabe dalam Kitab 1 dan II Makabe. Dari dokumen sejarah kita mengetahui bahwa Aleksander Agung dari Yunani melakukan ekspansi ke Syria, Mesir dan Palestina. Pada zaman pemerintahannya Aleksander Agung menghargai keberadaan agama-agama yang ada. Tetapi penggantinya yaitu Antiokhus IV Epiphanes dari dinasti Seleucid berlaku sebaliknya. Pada tahun 168 sM, dia menempatkan patung dewa Jupiter di Bait Allah, membakar babi sebagai korban persembahan, dan setiap pemberontakan umat Israel dibasmi sehingga ribuan orang Israel mati demi kepercayaan imannya. Dalam situasi penindasan dan penistaan agama Yudaisme, bangkitlah seorang yang bernama Yudas Makabe. Pada tahun 165 sM, Yudas Makabe berhasil mengalahkan tentara Antiokhus IV Epiphanes walau dia memiliki 40 ribu pasukan. Kemenangan Yudas Makabe tersebut kemudian dirayakan setiap bulan Kislew (Nopember-Desember) dan berpuncak pada bulan Tevet (Desember-Januari) sebagai hari raya Hanukah.

Menurut agama Yudaisme melalui perayaan Hanukah, umat Israel merenungkan 5 prinsip iman, yaitu: 1). Berani untuk menyatakan kebenaran sehingga tidak perlu takut melawan kejahatan, 2). Kerohanian umat harus bertumbuh dari hari ke hari seperti menyalakan 8 kandil Menorah selama 8 hari, 3). Walau cahaya kandil dari Menorah kecil sinarnya tetapi mampu menerangi dalam lingkup yang lebih luas, 4). Terang harus dinyatakan di depan publik/orang banyak seperti kandil Menorah harus diletakkan di dekat jendela/pintu, kadang di tengah pusat kegiatan, 5). Umat tidak boleh malu menyatakan identitas dirinya sebagai umat percaya walau tampil beda dengan orang-orang di sekeliling. Jika demikian, para gembala yang menjaga kawanan domba di padang Efrata tersebut sebenarnya dalam suasana perayaan Hanukah. Para gembala tidak dapat merayakan hari raya Hanukah sebab berada di Betlehem, bukan di Yerusalem. Selain itu karena status sosial sebagai para gembala, mereka kurang diperhitungkan. Di padang Efrata Betlehem juga tidak tersedia kandil Menorah dan makanan khas hari raya Hanukah yang umumnya digoreng pakai minyak.

Namun di tengah-tengah suasana malam yang hening, tiba-tiba mereka melihat cahaya sorgawi. Lukas 2:9 menyatakan: “Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.” Para gembala tersebut mengalami peristiwa epifani, yaitu penyataan Allah melalui para malaikat-Nya. Menurut Rudolf Otto, pengalaman ilahi itu disebut dengan “mysterium tremendum et fascinans.” Arti mysterium adalah manusia disadarkan akan rahasia Allah yang melampau pikiran dan pengertiannya, arti tremendum adalah manusia menjadi takut dan gentar berhadapan dengan Yang Ilahi, dan arti fascinans adalah manusia terpesona dengan kemuliaan dan keagungan Allah. Cahaya kemuliaan Allah tersebut lebih indah daripada cahaya yang terpancar dari kandil Menorah. Cahaya sorgawi tersebut bersifat kekal sedangkan cahaya dari kandil Menorah bersifat temporal. Pada hari raya Hanukah umat Israel merayakan kepahlawanan Yudas Makabe, tetapi dalam kelahiran Yesus umat manusia merayakan kehadiran Juruselamat yang akan membebaskan umat dari kuasa dosa. Karena itu para malaikat berkata kepada para gembala: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk. 2:10-11).

Pada masa kini 5 prinsip iman dalam perayaan Hanukah juga dihayati oleh setiap kelompok agama, termasuk para pelaku radikalisme agama serta teroris, yaitu: 1). Berani untuk menyatakan kebenaran sehingga tidak perlu takut melawan kejahatan, 2). Kerohanian umat harus bertumbuh dari hari ke hari seperti menyalakan 8 kandil Menorah selama 8 hari, 3). Walau cahaya kandil dari Menorah kecil tetapi mampu menerangi dalam lingkup yang lebih luas, 4). Terang harus dinyatakan di depan publik/orang banyak seperti kandil Menorah diletakkan di dekat jendela/pintu, kadang di tengah pusat kegiatan, 5). Umat tidak boleh malu menyatakan identitas dirinya walau tampil beda dengan orang-orang di sekeliling. Artinya banyak orang dari berbagai kelompok agamawan menganggap diri sebagai orang benar dan berkenan kepada Allah, iman mereka terus bertumbuh sehingga bersedia mati demi agamanya, tindakan mereka membawa efek dalam lingkup yang lebih luas, bertindak di depan orang banyak dan tidak malu dengan identitas diri yang khas/khusus. Tetapi satu hal yang tidak mereka miliki adalah damai-sejahtera sorgawi sebagaimana yang dialami oleh para gembala di padang Efrata. Karena tidak memiliki damai-sejahtera dari Sang Juru-selamat yaitu Kristus mereka sibuk menciptakan ketakutan, ancaman dan teror kepada banyak orang.

Fenomena “Om-Telolet-Om” adalah sukacita yang sifatnya di permukaan saja. Kita membutuhkan damai-sejahtera sorgawi yang bersifat abadi dan menyeluruh. Damai-sejahtera tersebut hanya dapat dikaruniakan oleh Kristus. Secara eksplisit peristiwa epifani dari para malaikat Tuhan dinyatakan kepada para gembala di padang Efrata. Mereka bukan kelompok agamawan yang sibuk dengan pakaian keagamaan dan sangat kolot dengan berbagai aturan keagamaan. Mereka adalah kelompok orang-orang yang sederhana dan marginal. Sebagai kelompok marginal mereka dianggap sebagai kelompok minoritas secara ekonomis dan status sosial. Tetapi apa yang dianggap oleh dunia tidak berarti, justru dipandang begitu berarti oleh Allah. Di surat 1 Korintus 1:27-28 Rasul Paulus berkata: “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti.”

Sukacita Natal ditentukan oleh sejauh mana kita mengalami damai-sejahtera sorgawi yang dikaruniakan Kristus. Karena itu ukuran keberhasilan dalam pelayanan dan pekerjaan kita bukanlah berapa banyak tugas yang sudah berhasil kita lakukan, tetapi seberapa luas damai-sejahtera yang kita hadirkan di manapun kita berada. Anugerah Allah dalam damai-sejahtera Kristus dalam peristiwa Natal akan terjadi apabila kita tidak terpaku pada pengudusan yang sifatnya “out-door” (bagian luar) yaitu fisik-jasmaniah kita, tetapi juga pengudusan yang terjadi di ”in-door” (bagian dalam/batin) kita. Pengudusan yang sifatnya jasmaniah telah dilakukan oleh Yudas Makabe, tetapi pengudusan yang sifatnya rohaniah dan menyeluruh dilakukan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Bait Allah bukan hanya tempat/lokasi gedung tetapi seharusnya adalah tubuh-jiwa-roh kita. Kita akan mengalami dan mampu menghadirkan damai-sejahtera apabila hati kita telah dikuduskan oleh Kristus. Tanpa pengudusan, seluruh kegiatan keagamaan dan kesalehan akan menjadi kesombongan yaitu sikap arogan yang gemar menghakimi dan menilai orang lain menurut ukuran yang kita buat. Sayangnya ukuran kita tersebut adalah ukuran yang serba kerdil dan dangkal, sehingga sesama merasa terhimpit dan tertindas oleh sikap kita. Kita membutuhkan ukuran Kristus yang memiliki ruang kasih yang tanpa batas dan damai-sejahtera Allah yang tidak bisa diberikan oleh dunia.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono