Latest Article
Kumpulan Renungan II

Kumpulan Renungan II

Persembahan Hana dan Elkana

1 Samuel 1:9-28

Semakin sulit kita mendapatkan sesuatu, semakin sulit kita melepaskan pergi. Namun prinsip ini tidak berlaku bagi Hana dan Elkana. Sebelumnya hati Hana sedih karena ia tidak mendapatkan anak dari perkawinannya dengan Elkana, apalagi dia sering dilukai dan dihina oleh madunya yaitu Penina. Hana disebut mandul. Namun akhirnya Tuhan berkenan mendengarkan doa Hana, sehingga ia dapat mengandung dan melahirkan seorang anak bernama Samuel. Apa yang dilakukan Hana setelah ia memeroleh Samuel? Hana kemudian mempersembahkan Samuel sejak kecil untuk melayani Tuhan di Bait-Nya dalam asuhan Imam Eli. Sikap Hana tersebut mengingatkan kita akan sikap Abraham yang ikhlas mempersembahkan Ishak sebagai korban kepada Tuhan, walaupun Abraham dan Sara memeroleh Ishak setelah puluhan tahun berupaya dan berdoa. Mereka sangat sulit memeroleh anak, namun mereka ikhlas menyerahkan anaknya kepada Tuhan. Lebih daripada itu mereka memberikan anak-anak yang terbaik kepada Tuhan.

Dalam perjalanan sejarah umat Israel dapat dicatat bahwa Samuel kelak menjadi seorang Hakim yang terbesar. Dialah yang menobatkan Saul menjadi raja Israel yang pertama dan Daud sebagai pengganti Saul. Samuel bukan hanya memiliki kemampuan, kepandaian dan kharisma seorang pemimpin, tetapi juga pengabdian yang total kepada Tuhan sehingga melayani Tuhan sampai pada akhirnya. Bila kita menghendaki gereja Tuhan semakin bertumbuh, maka kita membutuhkan anak-anak yang terbaik untuk dipersiapkan menjadi para calon pendeta. Jangan sampai kita mengirim anak-anak yang tidak memiliki komitmen, tidak memiliki karakter untuk melayani Tuhan dan tidak diterima di berbagai perguruan tinggi, lalu terpikir untuk menyuruh mereka mengikuti pendidikan teologi. Sebab pendidikan teologi adalah pendidikan akademis dan spiritualitas yang bersifat khusus sehingga para calon mahasiswa teologi harus memenuhi berbagai persyaratan sebelum ia diterima.

Ke depan kita perlu menyiapkan para calon pendeta secara terencana dan dipersiapkan dengan baik, sebab kebutuhan para calon pendeta semakin tinggi namun dengan tuntutan yang semakin sulit. Sebab tidak setiap orang yang menempuh pendidikan teologi dapat lulus. Seandainya ia lulus belum tentu ia dapat melewati proses bina kader calon pendeta. Kemudian seandainya ia lulus sebagai calon pendeta, belum tentu ia dapat ditahbiskan sebagai pendeta. Situasi dan pergumulan umat manusia semakin kompleks, sehingga pendidikan teologi dan proses bina kader calon pendeta membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang semakin berkualitas tinggi. Kebutuhan SDM ini hanya dapat terwujud apabila setiap anggota jemaat mendidik anak-anaknya dengan disiplin, spiritualitas yang sehat dan lingkungan keluarga yang baik, lalu mendoakan agar salah seorang dari anak-anak mereka dapat menjadi seorang pendeta yang dipakai oleh Tuhan.

Di bulan Keluarga ini kita diajak menghayati peran sebagai anggota Keluarga Allah di dalam Yesus Kristus, dan secara khusus sebagai Keluarga jemaat GKI. Karena itu kecintaan kepada gereja perlu kita pupuk sejak anak-anak kita masih kecil sampai dewasa, sehingga mereka dapat mempersembahkan hidupnya bagi gereja-Nya. Amin.

————————————————————————————

Lebih dari Mukjizat

Yes. 40:21-31; Mzm. 147:1-11; 1Kor. 9:16-23; Mark. 1:29-39

Mukjizat dipahami sebagai kejadian yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum-hukum alam. Suatu peristiwa supernatural yang terjadi di tengah-tengah situasi natural. Tuhan Yesus dalam hidup-Nya ditandai oleh kemampuan mengadakan mukjizat, yaitu menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, meredakan angin badai di danau, menggandakan roti, mengubah air menjadi anggur, membangkitkan orang mati, dan sebagainya. Di Markus 1:30-31, Yesus menyembuhkan mama mertua Petrus yang sakit demam. Sesudah matahari terbenam Injil Markus mempersaksikan “dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan kerasukan setan” (Mark. 1:32-34). Mukjizat terjadi karena kuasa ilahi berada dalam Dia, sehingga: “ada kuasa yang keluar daripada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya” (Luk. 6:19).

Demonstrasi Yesus melakukan mukjizat adalah untuk menyatakan bahwa Allah hadir di tengah-tengah umat-Nya dan karena itu Yesus adalah Sang Mesias, Anak Allah. Umat disembuhkan Yesus adalah agar mereka mengalami pemulihan dan percaya bahwa Dialah Juru-selamat. Mukjizat yang dilakukan oleh Yesus bukan sekedar untuk membuat banyak orang kagum dan memuja Dia, namun agar mereka percaya bahwa Allah telah melawat dalam kehidupan manusia. Karena itu setiap orang dipanggil untuk merespons dengan pola hidup yang benar di hadapan Allah. Setelah ibu mertua Petrus disembuhkan, ia segera melayani Yesus. Jadi penyembuhan yang dilakukan Yesus bukan sekedar orang tersebut dapat pulih dari sakitnya, tetapi memulihkan kembali martabatnya sebagai gambar dan rupa Allah. Yesus hadir bukan sekedar tabib (dokter), tetapi sebagai Juru-selamat. Namun ternyata motif banyak orang hendak menjadikan dia sekedar tabib.

Di Markus 1:37 menyatakan: “semua orang mencari Engkau.” Kata “mencari” dari kata zeteo, yang berarti: “mendapatkan kembali sesuatu yang pernah mereka miliki.” Pernyataan Markus 1:37 menyimpulkan bahwa orang-orang Kapernaum menganggap Yesus sebagai milik mereka pribadi. Mereka hendak menahan Yesus di kota mereka sendiri agar semakin banyak menyembuhkan orang-orang Kapernaum saja. Respons Yesus adalah menolak upaya orang-orang Kapernaum untuk menguasai dan memonopoli diri-Nya. Yesus menegaskan bahwa Dia datang untuk mengabarkan Injil ke seluruh wilayah (Mark. 1:38). Tuhan Yesus bukan hanya milik salah satu denominasi gereja, namun bagi semua gereja, bahkan bagi seluruh umat manusia. Tuhan Yesus adalah Juru-selamat bagi seluruh umat manusia, agama-agama, dan golongan. Karena itu selaku umat percaya kita tidak boleh terjebak hanya berfokus pada pelayanan intern umat, kita juga dipanggil untuk menjadi berkat bagi banyak orang, yaitu masyarakat di sekitar kita.

————————————————————————————

Mempengaruhi, bukan Dipengaruhi

(1Tesalonika 2:1-12)

Tidak setiap tindakan “mempengaruhi” lebih baik dari pada “dipengaruhi” oleh orang lain. Kita akan lebih memilih dipengaruhi oleh hal-hal yang baik, dan membangun daripada mampu mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal-hal yang buruk dan merusak. Karena itu makna tema “mempengaruhi, bukan dipengaruhi” dalam konteks ini harus dilihat dari perspektif nilai-nilai Injil Kerajaan Allah. Kita dipanggil untuk mempengaruhi dunia dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh firman Tuhan, dan sebaliknya kita harus mampu menolak pengaruh dunia untuk berpaling dari kebenaran Kristus. Tindakan mempengaruhi dengan nilai-nilai Injil Kerajaan Allah, dan kemampuan menolak pengaruh dunia tidaklah mudah. Ini merupakan jalan yang panjang, sulit, dan berliku. Kita harus mengakui bahwa tidak setiap langkah dan keputusan kita senantiasa dapat dipertanggungjawabkan secara etis-iman. Kita sering membiarkan diri dipengaruhi oleh dunia, dan mengikuti kehendak daging. Tanpa memiliki integritas, dan kesetiaan kepada Kristus, kita akan mudah berpaling dari kebenaran-Nya dan mengikuti jalan dunia.

Di Surat 1Tesalonika 2:2 Rasul Paulus mempersaksikan sikap imannya untuk berani memberitakan Injil Allah dalam perjuangan yang berat. Rasul Paulus berkata: “Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat.” Keberanian Rasul Paulus tersebut dilandasi oleh integritas dan kesetiaan imannya kepada Kristus. Karena itu penderitaan, aniaya, dan penghinaan yang ia alami di Filipi tidak menyurutkan semangatnya untuk memberitakan Injil. Makna tugas pemberitaan Injil dihayati oleh Rasul Paulus bukan sekedar suatu “profesi” namun suatu panggilan. Secara etimologis, makna profesi sebenarnya suatu panggilan (vocation). Artinya hanya orang-orang yang terpanggil untuk menekuni suatu bidang dan berhasil menguasai bidang tersebut dan mengembangkan dengan segenap hatinya saja yang layak disebut sebagai kaum profesional. Perhatikan pernyataan Rasul Paulus di 1Tesalonika 2:4, yaitu: “Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita.” Dalam ayat ini Rasul Paulus menyatakan: “Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil.” Ini berarti pemberitaan Injil bukan sekedar suatu “profesi” dalam pengertian sekedar suatu pekerjaan, namun suatu panggilan mulia yang harus dilakukan baik dalam situasi yang kondusif, maupun kurang kondusif.

Secara khusus makna “mempengaruhi” sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul Paulus adalah “bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita” (1Tes. 2:4). Pemberitaan Injil yang dilakukan sekedar suatu pekerjaan atau kewajiban belaka akan cenderung untuk menyukakan hati manusia, dan tidak mampu menyukakan hati Allah. Kita akan dimampukan mempengaruhi dunia akan kebenaran Allah yang membebaskan jikalau kita lebih menyukakan hati Allah daripada menyukakan hati manusia. Sikap hidup tersebut membawa konsekuensi yang tidak senantiasa menyenangkan. Kemungkinan yang terjadi adalah kita akan mendapat perlawanan dan tidak memperoleh dukungan. Dengan demikian tindakan kita yang menyukakan hati Allah berarti kita harus bersedia untuk keluar dari zona aman kita. Di Surat 1Tesalonika 2:5 Rasul Paulus berkata: “Karena kami tidak pernah bermulut manis–hal itu kamu ketahui–dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi–Allah adalah saksi.” Jadi makna mempengaruhi nilai-nilai Kerajaan Allah bukan mengutamakan ucapan yang lahir dari mulut manis, tetapi fokus kepada kehendak Allah dan misi-Nya.

Fokus kepada kehendak Allah dan misi-Nya berarti kita memberlakukan karakter kasih Allah dalam hubungan kita dengan sesama. Makna melakukan kehendak Allah dan misi-Nya tidak berarti kita harus menjadi para pribadi yang “fanatik” dan kaku. Setiap orang yang menghargai martabat manusia akan menolak sikap orang-orang yang fanatik, arogan, dan memaksakan kebenaran tertentu. Karena itu sikap yang “fanatik” dan kaku justru akan menjauhkan kita dari kebenaran. Sebaliknya untuk melakukan kehendak Allah dan misi Allah, kita dipanggil untuk serupa dengan Allah yang berlaku seperti ibu yang mengasuh dan merawati anaknya. Semakin kita mampu bersikap seperti Kristus, kita akan dimampukan untuk mempengaruhi dunia dengan kuasa kasih-Nya. Kasih yang tulus dan lahir dari hati-nurani yang murni akan menghasilkan transformasi bagi sesama di sekitarnya. Karena itu marilah kita mempengaruhi dunia dengan nilai-nilai kasih Allah yang berlaku seperti ibu yang merawat anak-anaknya, dan seperti seorang bapa (1Tes. 2:7, 11).

————————————————————————————

Bersyukur dan Berterima-kasih

2Raj. 5:1-3, 7-15c; Mzm. 111; 2Tim. 2:8-15; Luk. 17:11-19

 Pengantar

Hakikat ungkapan terima kasih bersifat universal. Setiap budaya, adat, filsafat, agama dan teologi selalu mengajar kepada setiap orang untuk berterima-kasih saat mereka memperoleh sesuatu. Dengan demikian seharusnya ucapan terima-kasih telah mendarah-daging dalam kehidupan umat manusia. Itu sebabnya ucapan terima kasih seharusnya selalu muncul secara spontan dan tulus saat seseorang memperoleh sesuatu atau pertolongan. Namun dalam praktek hidup ternyata tidaklah demikian. Kita sering menghadapi kendala untuk menyampaikan terima kasih dengan tulus kepada seseorang yang telah membantu dan memberikan sesuatu. Kendala tersebut disebabkan karena kita menganggap bahwa apa yang dilakukan atau diberikan seseorang kepada kita sebagai sesuatu yang seharusnya. Kita sering merasa bahwa kita layak untuk memperoleh sesuatu atau bantuan tertentu dari orang lain. Persepsi tersebut terbentuk karena mungkin kita sejak masih anak-anak sampai dewasa selalu dilayani dan memperoleh apa yang kita inginkan. Sangat berbeda dengan seseorang yang sejak masih kanak-kanak sampai dewasa mengalami hal yang sebaliknya. Dalam perjuangan hidup yang sangat berat, dia beberapa kali telah mengalami bantuan dan pertolongan dari sesama di luar dugaannya. Dia juga mengingat bagaimana di saat yang sulit dan kritis, tiba-tiba dia memperoleh bantuan sehingga mampu keluar dengan selamat. Pengalaman hidup yang demikian telah mengajar dia untuk selalu mampu menghargai dan mengucapkan terima kasih kepada orang-orang di sekelilingnya. Tipe orang yang pertama adalah menghayati hidup secara konsumtif, dan tipe orang yang kedua adalah menghayati hidup secara produktif. Tipe konsumtif adalah sikap yang menghayati bahwa realitas kehidupan sebagai sesuatu yang ditujukan untuk melayani kepentingan dirinya. Sedang tipe produktif adalah sikap yang menghayati bahwa realitas kehidupan harus diolah dan diperjuangkan bersama dengan sesama. Karena itu dalam tipe produktif, seseorang selalu menghargai setiap hal yang dialami sebagai suatu berkat atau karunia. Sikap penghargaan tersebut dinyatakan dalam ungkapan terima kasih dan ucapan syukur.

Kesepuluh Orang Kusta

Injil Lukas menyaksikan bagaimana saat Tuhan Yesus dalam perjalananNya ke Yerusalem, Dia didatangi oleh sepuluh orang kusta yang berseru: “Yesus, Guru, kasihanilah kami” (Luk. 17:13). Sebagai orang-orang yang berpenyakit kusta pada zaman itu, maka kesepuluh orang kusta tersebut tidak diperkenankan untuk mendekat kepada orang-orang yang sehat. Hukum Taurat menyatakan bahwa seseorang yang terkena penyakit kusta akan dinyatakan sebagai najis: “Imam haruslah memeriksa penyakit pada kulit itu, dan kalau bulu di tempat penyakit itu sudah berubah menjadi putih, dan penyakit itu kelihatan lebih dalam dari kulit, maka itu penyakit kusta; kalau imam melihat hal itu, haruslah ia menyatakan orang itu najis” (Im. 13:3). Padahal kondisi najis dianggap dapat menular kepada orang lain yang menyentuhnya. Itu sebabnya Im. 5:3 menyatakan: “Atau apabila ia kena kepada kenajisan berasal dari manusia, dengan kenajisan apapun juga ia menjadi najis, tanpa menyadari hal itu, tetapi kemudian ia mengetahuinya, maka ia bersalah”. Untuk memenuhi hukum Musa itu, orang-orang kusta pada zaman itu harus memberi tanda saat mereka lewat dengan perkataan: “Najis, najis”. Tujuannya adalah agar orang-orang di sekitar dapat segera menghindar dari kemungkinan untuk tersentuh anggota tubuh dari orang yang berpenyakit kusta. Dengan demikian kesepuluh orang kusta tersebut harus berdiri cukup jauh dari Yesus dan para muridNya.

Bukankah sangat menarik, kebiasaan orang-orang yang berpenyakit kusta harus mengucapkan yang memberi tanda, yaitu: “Najis, najis” tiba-tiba berubah saat mereka berjumpa dengan Tuhan Yesus. Kesepuluh orang kusta tersebut tidak lagi mengucapkan kata-kata “Najis-najis” kepada Tuhan Yesus, tetapi mereka mengucapkan permohonan: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Makna ungkapan “najis, najis” yang diucapkan oleh orang-orang kusta selain memberi tanda kepada orang-orang di sekitarnya untuk menjauh, juga merupakan ungkapan yang menyakiti diri mereka sendiri. Sebab ungkapan “najis” tersebut menunjuk kepada keadaan tubuhnya yang sedang mengidap penyakit kusta. Keadaan tubuhnya dianggap mereka sebagai sumber atau asal dari kenajisan yang dapat membahayakan dan menajiskan orang-orang di sekitarnya. Para penderita penyakit kusta selalu menderita secara fisik, tetapi juga secara emosional dan sosial. Secara fisik, penyakit kusta menyebabkan kulit dan beberapa dari organ-organ tubuh dapat terlepas. Secara emosional, mereka menderita dengan kondisi tubuh yang cacat dan tampak mengerikan. Secara sosial, orang-orang berpenyakit kusta selalu dijauhi dan disingkirkan dalam pergaulan. Bahkan mereka juga harus dipisahkan dari keluarga dan tempat tinggalnya. Karena itu tidak mengherankan jikalau para penderita kusta selalu menganggap penyakit tersebut sebagai suatu hukuman dari Allah (bdk. Bil. 12:10). Karena dianggap sebagai bentuk dari hukuman Allah, maka kesembuhan dari penyakit kusta harus melalui proses ritual pentahiran: “Inilah yang harus menjadi hukum tentang orang yang sakit kusta pada hari pentahirannya: ia harus dibawa kepada imam” (Im. 14:2).

Firman Yang Memulihkan

Respon Tuhan Yesus terhadap permohonan kesepuluh orang kusta tersebut adalah: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam” (Luk. 17:14). Ternyata saat mereka di perjalanan menuju ke tempat imam, kesepuluh orang kusta tersebut menyadari bahwa mereka telah sembuh. Tampaknya kesepuluh orang kusta tersebut mengalami kesembuhan saat Tuhan Yesus berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam”. Mereka baru menyadari pemulihan dari penyakit kusta setelah mereka berjalan beberapa saat. Perkataan Tuhan Yesus memiliki daya penyembuh saat kesepuluh orang kusta tersebut percaya dengan pergi ke rumah imam. Dengan demikian, kita dapat melihat kuasa firman dari Kristus dan sikap iman dari kesepuluh orang kusta tersebut. Walaupun Tuhan Yesus tidak menyentuh tubuh kesepuluh orang kusta tersebut, firmanNya mampu memulihkan. Kini kita mengetahui bahwa penyakit kusta disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Bakteri lepra ini termasuk dalam tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas; dan lesi pada kulit. Karena itu penyembuhan kesepuluh orang kusta tersebut memperlihatkan kuasa mukjizat dari Kristus. SabdaNya berkuasa dan mampu menjadikan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Bacaan leksionari memperlihatkan bagaimana terdapat perbedaan pola kerja Tuhan Yesus dengan pola kerja yang dilakukan oleh nabi Elisa. Naaman, panglima dari kerajaan Aram sakit kusta. Namun karena Naaman seorang abdi kerajaan yang setia dan mampu melakukan tugasnya dengan baik, dia sangat disayang oleh raja Aram. Itu sebabnya raja Aram mengabulkan permintaan Naaman untuk pergi ke Israel karena dia mendengar dari abdi di rumahnya seorang gadis Israel, bahwa di Israel terdapat seorang nabi yang akan mampu menyembuhkan penyakit kusta. Saat Naaman pergi ke rumah nabi Elisa, ternyata Elisa tidak menemui dia. Melalui pembantunya, nabi Elisa berpesan: “Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir” (II Raj. 5:10). Semula Naaman ragu dan kecewa dengan sikap nabi Elisa. Namun akhirnya Naaman melaksanakan perintah nabi Elisa, yaitu dengan mandi 7 kali di sungai Yordan. Setelah Naaman mandi, dia melihat seluruh penyakit kustanya telah sembuh. Pemulihan penyakit kusta dari Naaman yang dinyatakan Allah melalui nabi Elisa membutuhkan media, yaitu mandi 7 kali di sungai Yordan. Tetapi pemulihan kesepuluh orang kusta yang dinyatakan Allah melalui Kristus terjadi melalui sabdaNya. Bahkan sangat menarik, karena ternyata Tuhan Yesus tidak pernah mengucapkan perkataan “sembuh atau tahir”. Tetapi Dia menyuruh kesepuluh orang kusta tersebut menghadap imam. Padahal orang kusta yang berani menghadap seorang imam umumnya sangat yakin bahwa dia telah sembuh. Keyakinan seseorang bahwa dia telah sembuh dari sakit kusta itu harus diuji dan dibuktikan kebenarannya oleh seorang imam.   Jadi inti pesan dari Injil Lukas dalam kisah penyembuhan Kristus terhadap sepuluh orang kusta sangat jelas, yaitu Kristus adalah Tuhan dan Anak Allah Yang Maha-tinggi (bdk. Luk. 2:11; 1:32). Konkretnya, melalui kehidupan dan karya Kristus, Allah berkenan menyatakan keselamatanNya secara penuh dalam sejarah kehidupan umat manusia (bdk. Luk. 2:30-32).

Ucapan Syukur Terhadap Karya Keselamatan Allah

Kesepuluh orang kusta tersebut tidak jadi meneruskan perjalanan ke rumah imam untuk membuktikan bahwa mereka telah tahir dari sakit kusta. Mereka mengetahui dengan persis bahwa mereka kini telah sembuh setelah berjumpa dan percaya kepada perkataan Tuhan Yesus. Namun salah seorang dari kesepuluh orang kusta tersebut segera kembali menemui Tuhan Yesus untuk mengucap syukur atas pertolonganNya. Luk. 17:15-16 menyaksikan: “Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria”. Salah seorang dari kesepuluh orang sakit kusta tersebut mengungkapkan rasa syukur dan mempermuliakan Allah dengan tersungkur di dkepan kaki Tuhan Yesus. Orang kusta tersebut bukan hanya sekedar berterima-kasih. Dia mempermuliakan Allah yang telah berkarya di dalam diri Kristus. Tindakan orang kusta yang tersungkur di depan kaki Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa dia mengakui dengan iman ke-Tuhan-an Yesus. Penyembuhannya dari penyakit kusta juga menjadi momen yang membukakan mata-rohaninya terhadap identitas Kristus sebagai Tuhan dan Anak Allah yang maha-tinggi.

Namun sikap iman tersebut tidak dinyatakan oleh sembilan orang kusta lainnya yang telah disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Mereka pergi begitu saja, tanpa sikap bersyukur dan mempermuliakan Allah. Padahal kesembilan orang kusta tersebut adalah umat Israel. Sebab orang kusta yang datang menemui Tuhan Yesus dengan bersyukur dan mempermuliakan Allah dengan sangat jelas disebut: “Orang itu adalah seorang Samaria” (Luk. 17:16). Kita mengetahui bahwa orang-orang Samaria sering dianggap sebagai bangsa yang najis sebab kepercayaan mereka telah bercampur dengan kekafiran bangsa Asyria. Pada pihak lain umat Israel di bagian selatan yakni Yudea menganggap diri mereka sebagai umat kepunyaan Allah dan hidup berdasarkan kemurnian hukum Taurat. Tetapi kini kesembilan orang kusta yang adalah umat Israel di Yudea itu tidak menampakkan rasa syukur dan memuliakan Allah dengan menjumpai Kristus. Sebaliknya orang Samaria yang dianggap kafir dan najis itu justru peka dengan panggilan imannya untuk mempermuliakan Allah di dalam diri Kristus.

————————————————————————————

Memilih Kehidupan

Ul. 30:15-20; Mzm. 119:1-8; 1Kor. 3:1-9; Mat. 5:21-37

Dalam pengajaran Yesus di Matius 5:21-37 kita menjumpai dua pola, yaitu: 1). “Kamu telah mendengar firman,” 2). “Tetapi Aku berkata kepadamu.” Dalam pola pertama menunjuk pada warisan firman yang telah dikaruniakan Allah kepada Musa dalam bentuk Hukum Taurat. Sedang dalam pola kedua menunjuk pada diri dan ucapan Yesus yang melampaui hukum Taurat. Dalam pola pertama Allah memberi 613 hukum Taurat Musa, dan dalam pola kedua Yesus menyempurnakan makna hukum Taurat tersebut. Karena itu makna pengajaran Yesus di Matius 5:21-37 merupakan penyempurnaan (penggenapan) untuk melaksanakan hukum Allah dalam kehidupan ini. Umat akan mengalami keselamatan apabila memilih hukum Allah yang disempurnakan oleh Kristus.

Dalam hukum yang disempurnakan oleh Yesus, Yesus membongkar akar dari semua dosa dan kejahatan. Apabila hukum Taurat berkata: “Jangan membunuh,” maka Yesus menunjuk akar pembunuhan adalah dari hati yang membenci (Mat. 5:21-22). Hukum Taurat menyatakan: “Jangan berzinah,” tetapi Yesus menunjukkan akar perzinahan adalah nafsu birahi yang liar (Mat. 5:27-28). Hukum Taurat menyatakan: “Jangan bersumpah palsu,” tetapi Yesus menunjukkan penyebab dusta adalah hati yang tidak jujur (Mat. 5:33-37). Hukum Kristus menukik ke dalam batin dan sanubari manusia. Akar dosa bukan berasal dari faktor eksternal, tetapi utamanya dari hati manusia. Di Markus 7:21-22 Yesus berkata: “Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri-hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” Karena itu Amsal 4:23 menegaskan: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Jadi apabila hati tidak kita jaga dengan kewaspadaan, kita akan menuai kematian.

Dari pengalaman kita sadar bahwa tidaklah mudah menjaga hati. Lebih mudah kita menjaga harta milik, uang, dan properti daripada menjaga hati. Akal-budi dan kesadaran kita mengetahui apa yang baik dan benar tentang firman Tuhan, tetapi hati kita menolak untuk melakukannya. Kita terbelenggu oleh kuasa dosa. Karena itu tidak seorangpun yang mampu melaksanakan Hukum Kristus. Kita hidup dalam anugerah pengampunan dan kerahiman Allah seraya bersandar pada pertolongan Roh Kudus.        Bagaimanakah sikap etis kita dalam memberlakukan Hukum Kristus? Ada tiga jalan untuk melakukan keputusan etis dalam iman Kristen, yaitu:

  1. Etika Kewajiban (deontologis): Hukum-hukum Allah dihayati sebagai kewajiban/ keharusan. Umat melaksanakan hukum Allah sebagai perintah tetapi bukan didorong oleh kesadaran dan pertobatannya. Kelemahan: umat menjadi orang-orang yang legalistis (sikap picik dan dangkal mentaati Allah).
  2. Etika Akibat (teleologis): Hukum-hukum Allah untuk suatu tujuan (menghasilkan sesuatu yang dianggap baik). Apabila ketaatan kepada hukum Allah tersebut membawa akibat yang tidak baik, maka dianggap bukan kehendak Allah. Kelemahan: hukum Allah menjadi relatif, disesuaikan dengan kebutuhan/persepsi seseorang.
  3. Etika Tanggungjawab: hukum-hukum Allah ditempatkan dalam peristiwa atau realitas kehidupan, sehingga mengutamakan bagaimanakah respons iman umat. Untuk itu umat membuat refleksi teologis, sebab hukum-hukum Allah selain harus ditaati juga perlu direnungkan dalam situasi nyata. Kelemahan: butuh waktu dan proses dalam membuat refleksi padahal umat sedang berada dalam situasi yang urgen.

Ketiga jalan etika iman Kristen tersebut sebaiknya dilakukan sebagai satu-kesatuan yang utuh. Kita memilih untuk memberlakukan Hukum Kristus dengan Etika Kewajiban, Etika Akibat/Tujuan dan Etika Tanggungjawab. Dengan ketiga jalan etika iman Kristen tersebut kita membuka diri terhadap anugerah penebusan Kristus dan bersedia dibimbing oleh Roh Kudus.

Esensi ketiga jalan etika iman Kristen tersebut harus berakar pada relasi personal dengan Kristus dan kerendahan hati diterangi oleh Roh Kudus. Sebab ketiga jalan etika iman Kristen tersebut hanyalah alat, tetapi subjek yang utama adalah iman kepada Allah Trinitaris: “Bapa-Anak-Roh Kudus.” Dalam iman kepada Allah Trinitaris itulah kita dimampukan memilih kehidupan, yaitu kehidupan yang dikaruniakan Allah di dalam Kristus.

Jika demikian, bagaimana dengan kehidupan Saudara? Waspadalah terhadap sikap yang legalistis dan merelatifkan firman Tuhan. Sebab kita harus mengutamakan tanggungjawab etis yang dilandasi oleh kasih dan anugerah keselamatan Allah.

————————————————————————————

Mengusahakan Kesejahteraan Kota

Yer. 29:1-7, Mzm. 66:1-12, II Tim. 2:8-15, Luk. 17:11-19

 Peristiwa eksodus merupakan peristiwa yang begitu bersejarah sebab melalui peristiwa itu umat Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir. Dengan eksodus dari Mesir, berarti pula Israel mengalami pembebasan dan menjadi mereka menjadi umat Allah. Tetapi dalam serangan Babel oleh raja Nebukadnezar tahun 597 s.M dan 586 s.M menyebabkan umat Israel juga mengalami eksodus. Bedanya umat Israel harus eksodus dari kota Yerusalem menuju tanah Babel. Apabila eksodus dari Mesir merupakan karya pembebasan, maka “eksodus” dari Yerusalem ke tanah Babel merupakan peristiwa kekalahan dan pembuangan. Eksodus dari Mesir menuju tanah Kanaan merupakan wujud berkat Allah, sedangkan “eksodus” dari Yerusalem ke Babel merupakan wujud dari hukuman Allah atas dosa-dosa yang telah diperbuat oleh umat Israel. Eksodus dari Mesir disambut dengan sorak-sorai kemenangan; tetapi “eksodus” dari Yerusalem ke Babel ditandai oleh dukacita yang mendalam, kesedihan, rasa putus-asa, depresi massal dan lenyapnya masa depan. Seluruh kebanggaan sebagai bangsa dan umat Allah kini telah lenyap. Bait Allah diruntuhkan dan dibakar. Kini mereka harus berada tinggal di tanah asing dalam jangka waktu yang tidak menentu. Dalam situasi yang demikian, beberapa orang yang menyebut nabi, di antaranya Ahab bin Kolaya dan Zedekia bin Maaseya menubuatkan bahwa umat Israel akan segera kembali ke Yerusalem. Nubuat tersebut tentunya akan membangkitkan pengharapan semu, sebab berulang-kali Allah telah menyatakan bahwa mereka akan berada di pembuangan Babel dalam kurun waktu yang cukup lama. Sehingga dengan nubuat palsu tersebut dapat membuat umat Israel tidak mampu bersikap realistis. Misalnya mereka dapat terdorong untuk memberontak kepada raja Nebukadnezar dengan akibat yang lebih fatal, melalaikan pekerjaan dan mengabaikan upaya-upaya yang konstruktif seperti menata kembali keluarga yang tercerai-berai, serta upaya membangun masa depan yang lebih baik.

Itu sebabnya nabi Yeremia segera mengirim surat kepada tua-tua, imam-imam, nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan di Babel. Surat nabi Yeremia tersebut dikirim dengan perantaraan Elasa bin Safan dan Gemarya bin Hilkia yang diutus oleh raja Zedekia. Isi surat nabi Yeremia tersebut (Yer. 29:5-7) pada prinsipnya merupakan himbauan dan nasihat kepada seluruh umat Israel yang kini tinggal di pembuangan Babel, yaitu:

  1. Agar seluruh umat mendirikan rumah untuk mereka diami.
  2. Membuat dan mengelola kebun untuk dinikmati hasilnya.
  3. Mengambil isteri untuk anak-anak laki-laki dan mencarikan suami untuk anak perempuan mereka agar mereka melahirkan anak-anak sehingga mereka bertambah banyak.
  4. Mengusahakan kesejahteraan kota di mana mereka tinggal dan mendoakan kota tersebut agar kesejahteraan kota tersebut menjadi kesejahteraan umat Israel.

Keunikan isi surat nabi Yeremia tersebut adalah mampu memberikan solusi yang lebih kongkrit, lebih realistis dan lebih positif dibandingkan dengan nubuat palsu yang menyatakan bahwa Allah segera membawa umat Israel kembali ke Yerusalem. Sebab nubuat palsu tersebut hanya akan membangkitkan harapan-harapan semu yang tidak mungkin dapat terwujud. Sebab pada waktu itu raja Nebukadnezar sedang mencapai puncak kejayaannya. Umat Israel telah dikalahkan secara telak. Sehingga apabila umat Israel terpancing untuk melawan atau memberontak, maka pastilah raja Nebukadnezar akan segera membinasakan seluruh umat Israel. Sebaliknya surat nabi Yeremia tersebut mengajak umat Israel untuk segera belajar menyesuaikan diri dengan situasi yang baru. Umat Israel diajak untuk memaknai kehidupan mereka di negeri asing dengan mendirikan rumah untuk didiami, menanam dan mengelola kebun, membangun keluarga yang baru, dan mengusahakan kesejahteraan kota serta mendoakan kota tersebut. Di tengah-tengah situasi umat Israel yang waktu itu sedang putus-asa dan depresi, nabi Yeremia berhasil membangun harapan yang baru agar umat Israel tidak makin terpuruk dan hancur. Sebaliknya umat Israel dapat menata kembali masa depan yang telah disediakan oleh Allah. Di Yer. 29:11, Allah berfirman: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai-sejahera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.

Ketika kita sedang mengalami kegagalan total seperti bisnis yang bangkrut, kehilangan pekerjaan, dan orang-orang yang kita kasihi telah pergi secara tiba-tiba; maka kita segera terperangkap dalam situasi yang depresif. Kita merasa tidak mampu lagi melangkah sedikitpun ke masa depan. Seluruh tenaga atau kekuatan kita menjadi sirna. Masa depan yang semula cerah, kini berubah menjadi gelap. Dalam kondisi yang demikian kita sebenarnya sangat rentan dengan berbagai ajakan atau godaan untuk membangun suatu masa depan yang semu misalnya ajakan untuk cepat kaya dengan mencoba berjudi, menjual obat-obat terlarang, bisnis ilegal, melakukan kejahatan, dan sebagainya. Namun kenyataan membuktikan sebaliknya. Segala upaya tersebut akan senantiasa berakibat fatal dan destruktif. Para pelaku yang terkecoh untuk membangun masa depan yang palsu itu justru akan membuat mereka makin terpuruk. Jadi dalam hal ini kita tidak mungkin membangun masa depan yang lebih baik dengan cara yang salah dan tidak berkenan kepada Tuhan. Kehendak Tuhan justru mengajak kita untuk bersikap lebih realistis dan bijaksana agar keadaan kita yang telah terpuruk tersebut sedikit demi sedikit dapat berubah menjadi masa depan yang penuh harapan. Kita diajak untuk kembali bekerja mulai dari nol. Sebenarnya lebih tepat bukan mulai dari nol, sebab kita mulai kembali berusaha dan bekerja dengan pelajaran yang sangat berharga dari kegagalan di masa yang lampau. Jadi kita diajak untuk kembali bekerja/berkarya dengan roh yang berhikmat, menjadi lebih sabar, lebih terampil dan lebih waspada serta lebih komunikatif. Manakala kita pernah mengalami tragedi karena kehilangan orang-orang yang kita sayangi, kita diajak kembali memaknai hidup ini lebih positif. Kita dapat terlibat secara intensif dalam pelayanan gerejawi untuk menolong orang-orang yang menderita dan kekurangan. Artinya di tengah-tengah situasi yang paling buruk sekalipun, kita selaku umat percaya dipanggil oleh Tuhan untuk ambil bagian secara bersengaja mewujudkan kesejahteraan dan keselamatan bagi orang-orang di sekitar kita.

Dalam suratnya kepada Timotius, yaitu di II Tim. 2:8-15 kita dapat melihat keadaan dari rasul Paulus yang saat itu sedang berada dalam penjara di Roma sekitar tahun 65. Saat itu dia sangat menderita, sebab selain di penjara; rasul Paulus juga sedang dibelenggu seperti seorang penjahat ke manapun dia pergi. Tetapi sangat menarik di II Tim. 2:9-10, rasul Paulus dapat mengungkapkan kesaksikan imannya, yaitu: “Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal”. Di tengah-tengah penderitaannya rasul Paulus tetap mampu memiliki iman yang kokoh kepada Kristus bahwa firman Allah tidak dapat terbelenggu, meskipun saat itu kaki dan tangannya sedang terbelenggu oleh rantai. Dia menghayati penderitaannya tetap bermakna bahkan dia berdoa agar orang-orang yang sudah ditentukan oleh Allah dapat memperoleh keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal. Di tengah-tengah situasi yang sulit dan kritis, ternyata rasul Paulus tetap mampu mengusahakan kesejahteraan dan keselamatan Allah bagi orang-orang yang berada di luar penjara. Lebih dari pada itu rasul Paulus dengan kesaksian imannya mampu mewariskan dari satu generasi ke generasi yang lain selama berabad-abad suatu kesaksikan firman Tuhan yang menyelamatkan banyak orang kepada Kristus. Belenggu dan penderitaan yang ia alami dalam penjara, justru menjadi media dari karya pembebasan Allah yang mampu menyelamatkan banyak umat manusia kepada kuasa kasih Kristus.

Spiritualitas yang disebarkan oleh nabi Yeremia dan rasul Paulus adalah tetap mampu menjadi berkat di tengah-tengah himpitan dan krisis. Padahal pola berpikir kita justru sebaliknya yaitu mau menjadi berkat bagi banyak orang manakala kita diberkati oleh Tuhan dan sukses. Sehingga manakala kita sedang mengalami himpitan dan krisis, kita kehilangan vitalitas dan enersi untuk membangun masa depan bagi diri kita dan berkat bagi banyak orang. Pada saat itu kita cenderung mengharapkan belas-kasihan dan pengertian dari sesama. Apabila ternyata sesama tidak terlalu peduli dengan situasi kita, maka kita membuat tuntutan agar mereka mau peduli, mengerti, berbelas-kasihan dan mendukung kita. Dalam hal ini kita tidak belajar dari “filosofi” kerang mutiara. Kerang tersebut mengeluarkan serat-serat mutiara yang indah karena sebenarnya dia sangat menderita karena sebutir batu yang masuk di dalam tubuhnya. Untuk itu dia mengeluarkan cairan pembungkus agar butiran batu tersebut tidak terus-menerus melukai dirinya, sehingga terbentuklah sebutir mutiara. Demikian pula dengan spiritualitas iman Kristen, seharusnya kehidupan kita seperti kerang mutiara. Ketika kita dilukai dan disakiti, seharusnya kehidupan kita menghasilkan butir-butir mutiara yang indah dan bernilai tinggi; bukan menghasilkan luka-luka batin dalam bentuk rasa putus-asa, kecil-hati dan kehilangan daya hidup. Orang yang fasik bukan hanya ditandai oleh ketidakpercayaan kepada Allah; tetapi juga hidupnya ditandai oleh kebencian, kemarahan dan dendam karena dia merasa Allah telah berlaku tidak adil, memberi nasib malang sehingga dia sering mengalami kegagalan dan penderitaan. Itu sebabnya orang fasik tidak mungkin mampu bersyukur kepada Tuhan atas segala karunia dan berkat yang telah diterimanya.

Di Luk. 17:11-19 menyaksikan karya Kristus yang menyembuhkan sepuluh orang yang menderita sakit kusta. Ketika mereka melihat kehadiran Tuhan Yesus, mereka semua segera berseru: “Yesus, guru, kasihanilah kami!” Selama ini tidak ada orang yang mau berbelas-kasihan terhadap mereka. Sebaliknya semua orang selalu menghindar dan tidak ingin berpapasan apalagi bersentuhan dengan orang yang sakit kusta. Seorang yang berpenyakit kusta dianggap najis dan dihukum oleh Allah. Namun Tuhan Yesus mau peduli dan mengasihani mereka. Untuk itu Tuhan Yesus menyuruh kesepuluh orang kusta tersebut pergi menghadap imam, sebab hanya imam-imam saja yang berhak menentukan apakah seseorang yang sakit kusta telah menjadi tahir dan sembuh. Kesepuluh orang yang sakit kusta tersebut percaya akan perkataan Tuhan Yesus dan terbukti mereka menjadi sembuh dalam perjalanan ke rumah imam. Setelah mereka mengetahui bahwa mereka telah sembuh dari sakit kustanya, maka sembilan orang yang telah sembuh itu segera pergi dengan urusannya masing-masing; dan hanya seorang saja mau pergi kembali kepada Tuhan Yesus untuk mengucapkan terima-kasih. Sembilan orang yang sembuh dari sakit kustanya itu adalah orang-orang Israel, dan yang seorang yang mau kembali mengucapkan terima-kasih kepada Tuhan adalah seorang Samaria. Bukankah keadaan tersebut sungguh mengherankan? Sebab seharusnya sembilan orang yang telah sembuh dari sakit kustanya lebih mengerti makna mengucap syukur kepada Allah karena mereka adalah umat Allah yang beriman; tetapi justru orang Samaria yang dianggap kafir yang lebih tanggap untuk kembali datang mengucapkan terima-kasih atas pertolongan Tuhan Yesus. Dalam hal ini orang Samaria tersebut tetap mampu menghasilkan mutiara kasih setelah lama dia menderita, putus-asa dan dihina oleh banyak orang. Dia memperoleh belas-kasihan dan kemurahan hati dari Tuhan Yesus, sehingga kini dia dapat sembuh dan pulih kembali dari penyakitnya.

Melalui Kristus, Allah menyatakan diriNya dan karyaNya yang menyelamatkan. Sehingga ke manapun Kristus hadir, di situlah karya pemulihan Allah terjadi. Karya Kristus senantiasa menciptakan keselamatan dan kesejahteraan bagi umat manusia, walaupun mungkin para pemimpin agama Yahudi sering menolak, mengecam dan memusuhiNya. Seharusnya kita selaku gereja atau umat Allah hidup seperti Kristus. Ke manapun kita pergi dan hadir, seharusnya kita menciptakan keselamatan dan kesejahteraan bagi banyak orang. Ketika kita hadir, seharusnya orang-orang di sekitar kita merasa tenang, teduh dan sejahtera. Pada sisi yang lain ketika mereka mendengar ucapan, pemikiran dan nasihat-nasihat kita, seharusnya menimbulkan pengharapan dan inspirasi baru yang membuat sesama kita makin bertumbuh dan berkualitas. Tetapi dalam realita hidup kita ternyata tidak demikian. Di mana kita hadir justru sering menimbulkan persoalan bagi orang-orang di sekitar kita. Ketika kita hadir, mereka menjadi ketakutan dan gelisah. Ketika kita berbicara, mereka merasa diri tidak berharga sebab perkataan kita sering mengandung sikap yang sinis dan jauh dari kasih. Ketika kita melayani, mereka melihat bahwa kehidupan kita tidak ditandai oleh sikap pertobatan dan kasih yang tulus. Dengan perkataan lain, kehidupan kita sering menjadi batu sandungan bagi sesama dan tidak dapat menjadi berkat. Itu sebabnya kita gagal melakukan panggilan Tuhan sebagaimana yang telah dibuktikan oleh nabi Yeremia dan rasul Paulus, yaitu mengusahakan keselamatan Allah dan kesejahteraan di manapun kita tinggal dan hidup.

Kegagalan kita untuk mengusahakan keselamatan Allah dan kesejahteraan bagi banyak orang oleh karena hidup kita lebih terarah kepada diri sendiri (sikap egosentrisme). Kita sering lebih mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri sendiri, serta mencoba membangun berbagai harapan semu menurut pola pemikiran dunia ini. Harapan-harapan semu dari dunia ini umumnya mempesona, memikat, dan tampaknya mudah dicapai. Tetapi pada akhirnya, hasil dari harapan semu senantiasa mengecewakan dan kegagalan yang kita alami lebih parah. Sebaliknya Allah menghendaki kita mengenali kehendak dan firmanNya. Kehendak dan firman Allah senantiasa bersikap realistis dan nyata walau tidak mudah dilakukan, tetapi hasilnya selalu membangun dan memberikan keselamatan serta kesejahteraan bagi setiap orang yang melakukannya. Untuk itu kita dipanggil untuk tidak mencari atau minta pertolongan lain seperti paranormal/dukun dan berbagai kuasa dunia yang memberi janji atau jaminan keselamatan, selain bersandar kepada Allah sendiri. Khususnya ketika kita sedang mengalami kesulitan, krisis, kebingungan dan gelisah maka kita akan sangat rentan, dan mudah tergoda untuk mencari pertolongan di luar Allah. Padahal kuasa-kuasa dunia ini hanya akan memberikan pengharapan palsu dan kesejahteraan yang semu. Jadi marilah kita seperti sepuluh orang kusta yang berseru dan meminta pertolongan hanya kepada Tuhan Yesus. Tetapi lebih dari pada itu marilah kita teladani sikap orang Samaria yang telah disembuhkan dari sakit kustanya dengan datang mengucap syukur kepada Tuhan Yesus atas pertolonganNya. Saat itu kita juga mendengar gema perkataan Tuhan Yesus: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk. 17:19). Bagaimana sikap saudara sekarang? Allah telah memulihkan kita, karena itu marilah kita kini terus-menerus mengusahakan kesejahteraan dan keselamatan Allah di setiap tempat di mana kita hadir dan berkarya. Amin.

————————————————————————————

Melayani Tuhan, Melayani Sesama

(Matius 25:31-46)

Terlalu sering kita mendengar panggilan untuk melayani Tuhan dan melayani sesama. Materi tersebut tidak pernah habis-habisnya untuk dibahas, dikemukakan, dan dimaknai secara baru. Karena memang melayani Tuhan dan melayani sesama merupakan panggilan yang begitu esensial dalam kehidupan umat percaya. Bukan hanya dalam kehidupan jemaat, namun dalam kehidupan sehari-hari istilah “melayani” telah menjadi ukuran mutu dan profesionalisme suatu bidang pekerjaan. Semakin seseorang atau lembaga apapun yang mampu melaksanakan pelayanan, maka semakin berkualitas, terpercaya, dan dihargai oleh banyak orang. Karena itu di setiap bank, kantor-kantor pemerintah/swasta, perusahaan-perusahaan, dan industri berlomba-lomba mengedepankan mutu suatu pelayanan kepada masyarakat. Namun ironisnya, dalam kehidupan gereja justru semakin jarang umat mau berlomba-lomba meningkatkan mutu pelayanan. Sebab setiap orang berpikir dan mengharap, “kapan saya mendapat pelayanan.” Namun jarang di antara umat yang berpikir dan memiliki komitmen, “kapan saya memberi pelayanan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama.” Kita tidak dapat membayangkan seandainya setiap umat memiliki beban dan tanggungjawab untuk saling melayani, dan mengembangkan pelayanan tersebut kepada masyarakat dalam lingkup yang lebih luas, pastilah dampak kehadiran gereja akan menjadi signifikan sebagai garam dan terang dunia.

Urgensi pentingnya pelayanan kepada sesama dalam perikop Injil Matius 25:31-46 ditempatkan dalam konteks pengadilan zaman akhir. Pentingnya pelayanan bukan karena mampu menghasilkan keuntungan/profit, namun pelayanan kepada sesama menentukan keselamatan dan hidup kekal. Dalam hal ini kita dapat melihat pentingnya pelayanan kepada sesama dalam konteks pengadilan zaman akhir, yaitu di Matius 25:40, dan Matius 25:31. Di Matius 25:40, setiap umat akan diadili Kristus berdasarkan segala sesuatu yang kamu lakukan kepada sesama, dan di Matius 25:31, mempersaksikan Kristus selaku Raja akan datang dalam kemuliaan bersama para malaikat-Nya untuk mengadili setiap orang seperti gembala yang memisahkan domba dari kambing. Dengan perkataan lain, selaku Raja, Kristus akan menjadi Hakim yang memisahkan manusia dalam kelompok “kambing” atau “domba” berdasarkan perilaku mereka terhadap sesama khususnya sesama yang lemah dan tertindas.

Pada umumnya dunia mengembangkan profesionalisme pelayanan kepada masyarakat dalam rangka bisnis dan sikap humanisme. Namun dalam kesaksian Injil Matius 25:31-46, makna dan hakikat pelayanan kepada sesama ditempatkan lebih mendalam. Sebab perlakuan kita kepada sesama pada hakikatnya kita lakukan kepada Kristus. Apabila kita mengasihi, mempedulikan, menghargai, dan menolong setiap orang pada hakikatnya kita melakukannya kepada Tuhan Yesus. Sebaliknya bila kita berbuat jahat, berlaku sewenang-wenang, mempraktikkan ketidakadilan, menindas, merusak nama baik seseorang, dan mengeksploitasi sesama untuk keuntungan diri sendiri pada hakikatnya kita memperlakukan kepada Tuhan Yesus. Sesama manusia bukan sekedar “orang-orang di sekitar” kita, namun sesama adalah manifestasi dari wajah Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu tidaklah mengherankan jika filsuf Emmanuel Levinas memahami sesama sebagai peristiwa epifani (penampakan Tuhan). Dalam bukunya yang berjudul Totality and Infinity (1979), Levinas menggunakan istilah “wajah” (visage). Makna “wajah” yang dimaksud oleh Levinas bukanlah secara harafiah seperti seseorang yang memiliki kepala yang terdiri dari mata, hidung, mulut, dagu, pipi, dan sebagainya. Makna “wajah” dalam filsafat Levinas dipakai untuk menunjuk pada situasi orang lain muncul di hadapan kita. Kita berhadapan muka dengan muka dengan orang lain. Orang lain dengan wajahnya itu menyapa kita baik dengan ataupun tanpa kata. Wajah orang lain tersebut dipahami Levinas sebagai suatu “epifani” (penampakan), yaitu peristiwa penampakan wajah melalui peristiwa munculnya ‘orang lain’ di hadapan ‘aku’ (fenomena), serta penglihatan sebagai sarana untuk menangkap ‘orang lain’ yang muncul di hadapan ‘aku’ (Levinas 1979, 194-195). Karena itu tanggungjawab setiap orang adalah menghormati dan saling membagi ruang.

Memberitakan Injil berarti kita menghormati, peduli, dan mengasihi sesama dalam konteks hidupnya. Injil Kristus sebagai kabar baik harus menjadi suatu kabar yang meneguhkan harkat dan martabat kemanusiaan. Karena itu kita selaku gereja menolak dengan tegas setiap sikap/tindakan yang melecehkan orang lain, penindasan dalam bentuk apapun, kekerasan fisik atau mental, sikap pengabaian kepada orang yang menderita, dan eksploitasi manusia dalam berbagai sistem. Tugas memberitakan Injil berarti kita membuka setiap sekat dan belenggu, sehingga tercipta suatu ruang kasih yang berbela-rasa. Karena itu kita wajib memperlakukan setiap orang sebagai sahabat-sahabat Kristus. Misi jemaat GKI Perniagaan telah dirumuskan ulang menjadi: “ “Meneladan Kristus yang Menjadi Sahabat bagi Sesama dengan Menabur Kasih Allah dan Memberitakan Injil Kristus kepada Dunia.” Jika demikian, apakah kita telah meneladan Kristus yang menjadi sahabat bagi sesama, sehingga kita terpanggil menabur kasih Allah, dan memberitakan Injil Kristus kepada dunia?

————————————————————————————

Desire and Delighting God

Mzm. 73:25-26; 43:4

Secara harafiah, arti desire (keinginan) menunjuk pada perasaan atau maksud sesorang yang kuat sehingga ingin mencapainya. Arti desire menunjuk sikap seseorang sedang mendambakan sesuatu yang positif atau negatif. Karena itu dalam Alkitab kata desire juga dipakai untuk menyatakan nafsu dan keserakahan. Mazmur 73 yang ditulis oleh Asaf menggambarkan orang-orang fasik memiliki desire kecongkakan, kekerasan dan mengatai-ngatai dengan jahat (Mzm. 73:6-8). Bahkan orang-orang fasik berani membuka mulut melawan langit dan membual di bumi (Mzm. 73:9). Secara harafiah orang-orang fasik bisa menikmati kemakmuran dan kemujuran (Mzm. 73:3-5). Karena itu Asaf hampir tergelincir secara rohani, sebab ia sempat iri (qana) terhadap kehidupan orang-orang fasik itu yang tampak mujur dan makmur (Mzm. 73:2-3). Asaf sempat berkata: “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih” (Mzm. 73:13a).

Keinginan seseorang (desire) yang insani menghasilkan buah iri-hati, sehingga meragukan pola hidup yang saleh dan takut akan Allah. Dalam konteks ini arti desire sinonim dengan “keinginan daging.” Di Roma 8:7 Rasul Paulus berkata: “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Karena itu desire harus ditundukkan dalam sikap taat kepada kehendak Allah sehingga berubah menjadi desire yang mempermuliakan nama Allah. Di Mazmur 73:25 terjadi perubahan desire pada diri Asaf. Semula Asaf memiliki desire yang duniawi dengan bersikap iri-hati, tetapi sekarang di Mazmur 73:25 ia berkata: “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Sekilas ayat ini agak sulit dipahami. Tetapi maksudnya jelas, yaitu: tidak ada seorangpun termasuk mahluk sorgawi di sorga yang dapat menggantikan kedudukan Allah yang bisa memuaskan manusia. Jadi hanya Allah saja yang mampu memuaskan “dahaga” atau “kerinduan” manusia yang terdalam. Bagi Asaf, sorga bukanlah sorga yang sesungguhnya apabila Allah tidak hadir di dalam-Nya. Dengan demikian Asaf telah menemukan desire yang sejati dan abadi, yaitu kerinduan akan Allah yang menyala-nyala.

Selain arti desire, kita bisa juga menjumpai makna delighting di Mazmur 43:4, yaitu: “Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!” Di sini kita menjumpai kata “sukacita” yang diterjemahkan dari kata simchah. NIV (New International Version) menterjemahkan kata “simchah” dengan kata “delight.” Pemazmur menghadap Allah sebagai sumber sukacita dan kegembiraan dengan memberi persembahan kurban di atas mezbah di Bait Allah. Sikap yang sama dikemukakan oleh penulis Kitab Ibrani, yaitu: “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya” (Ibr. 13:15). Dengan demikian makna “delighting” dalam konteks ini merupakan respons iman umat percaya terhadap kebaikan dan kesetiaan Allah. Respons iman tersebut dinyatakan umat dengan mempersembahkan korban dan memuji Allah dengan nyanyian.

Spiritualitas umat beriman ditandai oleh dua aspek yang tidak terpisahkan, yaitu desire (keinginan) yang telah dikuduskan dan delighting (respons iman berupa sukacita dengan persembahan syukur). Melalui keinginan yang telah dikuduskan umat akan memprioritaskan Allah sebagai yang paling utama dalam hidupnya. Lalu dengan sikap sukacita umat mengucap syukur kepada Allah dengan persembahan kepada-Nya. Dengan perkataan lain, apabila umat telah menemukan yang paling utama dalam kehidupan ini yaitu Allah, maka mereka akan mengalami sukacita yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Namun dalam realitanya banyak orang yang tertutup mata hatinya terhadap diri Allah. Mereka disilaukan oleh daya tarik dunia sehingga keinginan (desire) mereka dipenuhi oleh hawa-nafsu. Mereka memilih hidup dalam keinginan daging. Memang melalui keinginan daging mereka bisa mengalami “sukacita” tetapi hanya sesaat. Sebab sukacita itu hanya sebatas nafsu yang dilampiaskan, tetapi secara rohaniah batin mereka hampa dan jauh dari damai-sejahtera Allah. Penyebabnya adalah keinginan (desire) kita tidak tunduk kepada kedaulatan Allah dan kehendak-Nya. Bukankah kita cenderung menonjolkan kehendak dan keinginan insani?

Di hadapan Kristus, kita dipanggil untuk menguduskan desire (keinginan) kita agar menjadi “keinginan Roh” yaitu keinginan yang kudus. Dengan keinginan yang kudus, kita akan menemukan yang utama yaitu Allah sehingga menikmati sukacita dengan sukacita ilahi. Bagaimanakah kondisi spiritualitas Saudara?

————————————————————————————

Komunitas yang Melayani

(Efesus 4:1-16)

Salah satu keluhan yang disampaikan beberapa ibu rumah-tangga kepada penulis adalah mereka sering harus mengerjakan pekerjaan rumah-tangga seorang diri. Sebab suami, dan anak-anak tidak mau membantu pekerjaan mereka misalnya untuk membersihkan rumah (menyapu dan mengepel), mencuci piring dan mencuci pakaian dengan alasan lelah. Padahal mereka tidak memiliki pembantu. Walau berulangkali si ibu rumah-tangga tersebut menyampaikan himbauan dan teguran, tetap saja para anggota keluarga tidak mau memahami dan membantu beban berat yang sedang dipikulnya. Para anggota keluarga tersebut hanya minta dilayani dan bergantung pada jasa pembantu. Berbeda dengan pengalaman penulis yang pernah tinggal dengan suatu keluarga warga-negara Amerika Serikat. Setiap anggota keluarga memiliki tugas dan perannya masing-masing, sehingga semua pekerjaan rumah dapat diatasi dengan baik. Walau masing-masing anggota keluarga tersebut memiliki pekerjaan dan karier yang sangat sibuk, namun mereka konsisten untuk menyelesaikan pekerjaan di rumah mereka dengan sukacita. Bukankah kondisi tersebut dapat dipakai untuk menggambarkan kehidupan jemaat? Ada beberapa gereja yang sangat tergantung pada jasa “para profesional” atau “sukarelawan” untuk melayani mereka, sehingga mereka tidak bersedia ambil bagian “membereskan” pekerjaan rumah/gerejanya. Ada pula beberapa gereja yang benar-benar berperan sebagai komunitas yang saling melayani.

Gereja Tuhan bukan sekedar suatu komunitas, sebab gereja Tuhan adalah Tubuh Kristus. Di Surat Efesus 4:16 Rasul Paulus berkata: “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” Persekutuan umat dimaknai sebagai susunan seluruh tubuh yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota. Kita mengetahui bahwa saat satu bagian tubuh kita sakit, maka seluruh tubuh yang lain juga sakit. Demikian pula saat satu bagian tubuh tertentu tidak berfungsi, maka seluruh tubuh yang lain juga menghadapi problem. Karena itu apabila suatu jemaat hanya sebagian kecil yang berperan dan melayani, maka dapat kita pastikan gereja tersebut kehilangan kemampuan fungsinya yang optimal. Penyebab utama kehilangan fungsi tersebut adalah setiap bagian dari tubuh tersebut tidak bersedia dikendalikan oleh Kristus sebagai Kepala Tubuh (Ef. 4:15). Masing-masing anggota tubuh cenderung melakukan kehendak dan keinginannya masing-masing. Dalam konteks ini setiap umat memiliki “misinya” masing-masing namun tidak bersedia untuk mewujudkan misi bersama sebagai gereja Tuhan di tengah-tengah dunia ini.

Kegagalan kita untuk saling melayani karena kita memiliki “mental dilayani” sebagai suatu filosofi. Kita menganggap tindakan dilayani sebagai wujud perhatian orang lain kepada kita. Saat kita dilayani orang lain, kita juga menganggap diri kita menjadi penting. Tanpa disadari, kita memiliki konsep bahwa diri kita begitu “penting” sehingga orang lain harus memerhatikan kita, atau sebaliknya kita sering merasa “kurang penting” sehingga kita bangga ada orang lain yang memerhatikan dan memedulikan kita. Kita telah terjebak dalam perasaan “penting” dan “tidak penting” di hadapan sesama. Namun kita melupakan satu hakikat yang utama dalam menghayati diri sebagai persekutuan umat Tuhan, yaitu kita masing-masing memiliki panggilan. Perhatikanlah nasihat Rasul Paulus di Surat Efesus 4:1, yaitu: “Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.” Hakikat kita sebagai umat percaya adalah menghayati peran dan tugas kita sebagai panggilan, dan senantiasa hidup berpadanan dengan panggilan hidup yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Nilai-nilai panggilan hidup itu adalah: kerendahan hati, lemah-lembut, sabar, dan kasih yang saling membantu, serta memelihara kesatuan roh oleh ikatan damai-sejahtera (Ef. 4:2-3).

Saat ini kita sebagai gereja telah bertekad memiliki wacana iman yang baru, yaitu pelayanan gerejawi wajib dilakukan oleh setiap anggota jemaat. Tata Gereja yang tertuang dalam Tata Laksana GKI menyatakan: “Pemberdayaan seluruh anggota GKI dan kelompok-kelompok pelayanan dalam Jemaag sebagai pelaku-pelaku pembangunan jemaat, dengan mendayagunakan talenta-talenta yang dikaruniakan oleh Tuhan kepada mereka serta memanfaatkan potensi-potensi dan kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam Jemaat itu” (Tata Laksana GKI pasal 63). Dengan demikian setiap anggota jemaat tanpa terkecuali wajib saling melayani sesuai dengan panggilan dan talenta-talenta yang telah dikaruniakan Tuhan. Tujuannya adalah melalui pelayanan setiap anggota jemaat tersebut, kita dapat mewujudkan proses Pembangunan Jemaat, yaitu Tubuh Kristus dalam realitas kehidupan ini. Dalam konteks ini setiap umat dipanggil untuk menghayati visi-misi GKI Perniagaan. Visi GKI Perniagaan adalah: “Menjadi Jemaat yang Misioner.” Lalu untuk mewujudkan visi tersebut, Majelis Jemaat telah merumuskan misi GKI Perniagaan, yaitu: “Meneladan Kristus yang Menjadi Sahabat bagi Sesama dengan Menabur Kasih Allahdan Memberitakan Injil Kristus kepada Dunia.” Minggu depan pada 29 September 2013 akan diuraikan secara khusus “Visi-Misi” GKI Perniagaan. Untuk itu diharapkan setiap umat memerhatikan ulasan visi-misi yang telah ditetapkan oleh Majelis Jemaat GKI Perniagaan agar kita dapat menjadi komunitas yang saling melayani.

————————————————————————————

Bergumul Bersama Tuhan, Menemukan Identitas Baru

Kejadian 32:22-31

Setiap Lebaran di Jakarta dan kota-kota besar lainnya terjadi tradisi mudik ke kampung halaman. Mereka rindu menjumpai orang-tua, keluarga, dan handai-taulan setelah setahun bekerja di luar kota. Mudik dirayakan dengan suasana gembira dan sukacita. Konteks Kejadian 32:22-31 mempersaksikan Yakub juga hendak mudik menjumpai ayah dan ibunya setelah ia tinggal di Haran selama 20 tahun lebih. Namun sebaliknya suasana hati yang dirasakan oleh Yakub adalah kuatir, perasaan bersalah, dan gelisah. Yakub rindu pulang ke kampung halamannya namun ia takut dan gelisah menghadapi Esau kakaknya. Sebab hak kesulungan kakaknya telah ia rampas dengan tipu-daya. Yakub juga merasa malu sebab ia menipu ayahnya yang buta dengan menyamar sebagai Esau. Berkat Allah yang diperoleh Yakub dengan penipuan dan cara yang licik ternyata tidak membuat dia bahagia.

Walaupun Yakub sudah menyandang “hak kesulungan” yang berarti dia berhak mendapat warisan sebanyak 2/3 bagian (Ul. 21:17) dan pemimpin suku ternyata ia menerima balasannya saat bekerja di rumah Laban. Yakub ditipu Laban untuk memeroleh Rahel sehingga harus bekerja selama 14 tahun, dan perolehan ternak dengan cara yang curang. Yakub akhirnya dapat mengatasi semua penipuan dan kecurangan tersebut. Sejarah kehidupan Yakub sejak keluar dari rumah ayahnya senantiasa diikuti dengan pelarian. Ia lari karena dikejar Esau untuk dibunuh. Yakub juga lari meninggalkan rumah Laban. Namun perubahan hidup yang total terjadi saat Yakub menyeberangi Sungai Yabok. Yakub diserang oleh seorang pria yang kuat. Pria tersebut adalah manifestasi Allah. Hasil pergumulannya adalah Yakub dapat menang dalam pergumulan itu, namun kekuatannya dipatahkan. Pangkal pahanya dipukul Allah sehingga terpelecok. Ia kini tidak bisa lari lagi. Di situlah identitas dirinya berubah dari nama “Yakub” menjadi “Israel.”

Identitas diri kita yang lama dari luar sering tampak penuh dengan keperkasaan, yaitu: pandai, cakap, kaya, dan memiliki pengaruh sosial yang luas. Namun batin terdalam kita dikuasai oleh kekuatiran, rasa bersalah, dan gelisah. Allah mengubah identitas diri kita justru saat Ia memukul kita sehingga kekuatan dan keperkasaan kita patah, namun batin kita dipenuhi oleh rahmat dan karunia sukacita yang melampaui akal. Allah berfirman: “Cukuplah kasih-karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2Kor. 12:9). Jadi luka-luka, kesulitan, kegagalan, dan hambatan justru menjadi media Allah untuk membentuk dan memproses identitas diri kita semakin sempurna.

————————————————————————————

Ambil Bagian dalam Karya Keselamatan Kristus

Ayb. 1:1, 2:1-10; Mzm. 26; Ibr. 1:1-4, 2:5-12; Mark. 10:2-16

Fokus karya keselamatan Kristus pada Minggu 4 Oktober 2015 yang dipilih oleh jemaat-jemaat di bawah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) adalah merayakan Perjamuan Tuhan se-Dunia dan hari Pekabaran Injil di Indonesia. Melalui Perjamuan Tuhan se-Dunia kita merayakan panggilan sebagai gereja yang Am (universal), dan hari Pekabaran Injil di Indonesia untuk mengingatkan kita melaksanakan pemberitaan Injil dalam berbagai aspek kehidupan. Gereja yang Am adalah gereja yang melaksanakan pemberitaan Injil di wilayah lokalnya masing-masing. Di samping itu setiap bulan Oktober umumnya gereja merayakan pula masa Bulan Keluarga. Karena itu pertanyaan penting untuk direnungkan adalah apakah kita yang melaksanakan memberitakan Injil dalam berbagai aspek kehidupan juga telah menyampaikan kabar baik kepada anggota keluarga kita sendiri?

Melaksanakan pemberitaan Injil ke berbagai wilayah dan aspek kehidupan sangat penting. Tetapi apakah para anggota keluarga kita telah mengenal dan bertumbuh di dalam Kristus? Apa artinya kita dipakai oleh Tuhan memberitakan Injil kepada banyak orang tetapi anak-anak kita terhilang dan tidak hidup dalam kuasa Kristus? Ketika para murid menghalangi anak-anak datang kepada-Nya, Tuhan Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” (Mark. 10:14). Lalu di Markus 10:16 mempersaksikan Tuhan Yesus memeluk anak-anak itu dan memberkati mereka. Namun praktiknya kita sering membiarkan anak-anak kita dididik oleh kuasa dunia ini dengan menyerahkan mereka menggunakan gadget tanpa pengawasan. Kita juga sering tidak memiliki waktu yang cukup dan relasi yang sehat dengan anak-anak kita, sehingga mereka menjalin relasi yang tidak sehat dengan pergaulan yang buruk. Akibatnya jiwa anak-anak kita rusak dengan pola pikir yang ketagihan akan seks, narkoba, sikap yang konsumtivisme, dan materialistik.

Karya keselamatan Kristus adalah memulihkan kodrat manusia yang dirusak oleh dosa, sehingga kita kehilangan secara utuh hakikat kemanusiaan kita yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Karena itu dalam Surat Ibrani menyatakan bahwa Kristus yang adalah Cahaya Kemuliaan Allah dan Gambar Wujud Allah (Ibr. 1:3) berkenan merendahkan diri-Nya menjadi manusia (Ibr. 2:9), agar manusia dipulihkan secara utuh. Pemulihan dan pembaruan hidup secara utuh akan kita terima sebagai anugerah Allah apabila kita bersedia bersekutu dengan Kristus. Karena itulah kita saat ini diundang dalam Perjamuan Tuhan. Melalui Tubuh dan Darah-Nya kita dipulihkan dan dibarui dalam karya penebusan-Nya. Pemulihan dan pembaruan hidup melalui persekutuan dengan Tubuh dan Darah-Nya yang dinyatakan dalam Sakramen Perjamuan Tuhan akan memampukan kita untuk menyampaikan kabar baik, yaitu pemberitaan Injil dengan kuasa-Nya. Jadi kita bersekutu dengan Kristus dalam Sakramen Perjamuan Tuhan agar kita mampu berpartisipasi dalam karya keselamatan Kristus, yaitu memberitakan Injil dan membangun kehidupan keluarga Kristen yang dipulihkan oleh karya penebusan-Nya.

Di tengah-tengah dunia yang saat ini sedang mengalami krisis dan kekacauan, kita dipanggil untuk semakin bersekutu dengan Kristus melalui Firman dan Sakramen Perjamuan Tuhan, sehingga kita mampu berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya. Mengapa kita sering tidak mampu berpartisipasi dalam karya keselamatan Kristus? Karena itu kita kurang bersekutu dengan Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

————————————————————————————

Dilema Komunikasi Orang-tua dengan Generasi Remaja

Amsal 22:6

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Ams. 22:6).

Anak-anak muda atau remaja kita adalah generasi yang dianugerahkan Tuhan di tengah keluarga kita. Kehadiran mereka membawa sukacita, semangat dan pengharapan. Namun tidaklah mudah menjalin komunikasi dengan anak-anak muda atau remaja kita. Perubahan zaman juga membawa perubahan pola pikir, sikap, dan tingkah-laku. Karena itu terjadilah jarak komunikasi yang disebut dengan “gap-generation.” Para orang-tua merasa tidak dihormati dan dimengerti oleh anak remaja. Sebaliknya para remaja merasa tidak dipahami oleh orang-tua mereka. Kesalahpahaman dan konflik tidak terelakkan. Padahal anak-anak muda, yaitu remaja kita dipanggil untuk mengenal kasih Allah, keselamatan-Nya, dan hidup baru di dalam Kristus. Jika demikian bagaimanakah kita harus menyampaikan pesan-pesan luhur firman Tuhan kepada para remaja kita? Sementara kita sering kesulitan menjalin komunikasi dengan mereka dalam kehidupan sehari-hari?

Penghalang komunikasi orang-tua dengan remaja tentu melibatkan berbagai faktor, misalnya: kematangan rohani, kualitas kearifan, pola asuh, suasana keluarga, hubungan para anak remaja dengan teman-teman sepergaulan, dan pandangan hidup. Namun juga disebabkan faktor perbedaan generasi dalam menafsirkan realitas. Ada beberapa klasifikasi tipe generasi yang perlu dikenali, yaitu: (1). Generasi Baby-Boomers (1946-1964) dengan ciri-ciri: mengutamakan proses daripada hasil, work-alkoholic (pekerja keras), suka berkomunikasi langsung dan menjalin relasi. (2). Generasi X (1965-1979) dengan ciri-ciri: relasi dengan orang-tua yang baik, mendapatkan pendidikan yang cukup baik, mulai mengenal komputer dan kecanggihan teknologi. (3). Generasi Y (1980-1995) dengan ciri-ciri: teknologi dan internet yang semakin berkembang, sehingga mereka sangat terampil dalam mengoperasikan, lebih optimis dan percaya diri, kurang menghargai peran/otoritas orang tua, dan kreatif-ambisius. (4). Generasi Z (1996-2010) dengan ciri-ciri:

mereka mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik, lebih mengutamakan kepentingan luar dan produk yang bermerk, menganggap generasi orang-tua sebagai generasi yang kolot, terpengaruh dengan media sosial dan kecanduan.

Semakin besar rentang antar generasi semakin besar kemungkinan tingkat kesulitan komunikasi antara orang-tua dengan generasi anak-anak tersebut. Namun tidak berarti tidak ada jalan keluar. Kekuatan kasih dan hikmat dalam pengajaran firman Tuhan yang dinyatakan dalam keteladanan orang-tua adalah cara yang paling efektif. Apapun tipe dan karakter dari generasi anak-anak kita, mereka tetap menghargai keteladanan orang-tua dalam kehidupan sehari-hari. Sebab setiap anak dan generasi keturunan kita membutuhkan model yang konkret sehingga mereka mengikuti pola-pola pendidikan yang diwariskan orang-tua. Mereka pengenalan dan pengalaman berjumpa dengan Allah yang hidup di dalam Kristus melalui kehidupan orang-tua mereka.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono