Latest Article
Kumpulan Renungan III

Kumpulan Renungan III

Hukum Kencana (Mat. 7:12-14)

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat. 7:12).

Hukum kencana biasa disebut dengan “hukum emas” (golden rule). Senada dengan itu Khong Hu Cu merumuskan hukum kencana dengan kalimat negatif, yaitu: “Apa yang engkau tidak kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, janganlah perbuat itu kepada orang lain.” Kalau kita menginginkan sesama memperlakukan diri kita dengan ramah, maka seharusnya kita berlaku ramah kepada sesama. Demikian pula bilamana kita menginginkan sesama memperlakukan kita dengan hormat, maka seharusnya kita bersikap hormat kepada setiap orang.

Hukum kencana Kristus menginspirasi setiap orang untuk mengubah paradigma yang dia miliki. Paradigma merupakan lensa hati untuk melihat dan menilai realitas kehidupan. Bilamana paradigma seseorang berfokus kepada diri sendiri, maka dia akan mengukur dan menilai setiap orang dengan pandangan subjektifnya. Sebaliknya bilamana paradigma kita berfokus di posisi orang lain, maka kita diajak keluar dari lingkaran egoisme dan dimampukan untuk memahami keberadaan sesama secara utuh. Hukum kencana bertujuan membebaskan setiap umat keluar dari belenggu egoisme diri, dan memampukan setiap orang untuk mengasihi sesama dalam posisi dan keberadaannya.

Banyak orang sering tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang menolak dan membenci dirinya sendiri saat membenci orang lain. Mungkin mereka pernah mengalami berbagai peristiwa pahit di masa lalu. Itu sebabnya dalam relasi dengan sesama, mereka mengekspresikan kemarahan dan sikap menindas kepada orang lain. Karena merasa diri mereka tertindas, mereka menindas. Mereka sulit memaafkan kesalahan sesama karena mereka sebenarnya tidak dapat memaafkan kesalahan diri sendiri. Mereka menilai dan menghukum orang lain berdasarkan penilaiannya sendiri. Di Matius 7:1-2, Tuhan Yesus berkata agar umat percaya tidak menghakimi sesama agar mereka tidak dihakimi juga. Setiap orang akan dihakimi dengan ukuran yang mereka pakai. Mengapa kita melihat selumbar di mata sesama, tetapi kita tidak mampu melihat balok yang menutupi mata kita sendiri. Untuk mewujudkan hukum kencana, kita harus terlebih dahulu bersedia dipulihkan oleh Kristus. Kita membutuhkan pengampunan dan anugerah Allah sehingga hati kita dipenuhi oleh kasih, kebajikan dan pengampunan.

Refleksi:

Sebelum menghakimi, tempatkanlah diri Saudara di posisi orang yang akan kita hakimi, maka kita tidak akan pernah menghakimi siapapun.

—————————————————————————————————————

Berlaku Adil Tanpa Memandang Muka (Yak. 2:1-13)

“Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka” (Yak. 2:1).

Penilaian kita dipengaruhi oleh apa yang kita lihat. Apa yang kita lihat dipengaruhi oleh sistem nilai yang telah kita bangun. Sistem nilai kita dipengaruhi oleh kualitas hati, yaitu kepribadian dan spiritualitas iman. Karena itu setiap penilaian kita terhadap orang lain mencerminkan bagaimanakah kualitas hati dan rohani kita. Semakin hati seseorang berkualitas tinggi, maka dia akan memiliki suatu sistem nilai yang jernih dan objektif. Dia tidak akan membuat penilaian yang dipengaruhi oleh apa yang terlihat mata tetapi dia akan melihat dengan hati-nurani. Kehidupan umat percaya seharusnya didasari oleh spiritualitas yang berpusat kepada hati-nurani. Sebab ciri hidup umat percaya adalah nurani yang telah dikuduskan oleh Roh Kudus. Karena itu umat percaya tidak akan membiarkan hati nuraninya dinodai oleh kecemaran, sikap tidak adil dan kepalsuan.

Dalam kehidupan sehari-hari, ternyata umat percaya membiarkan nuraninya dibentuk oleh kuasa dunia ini. Mereka begitu menghormati orang-orang yang dianggap berkuasa, kaya dan berpengaruh. Bahkan mereka memperlihatkan sikap yang menjilat dan mencari muka. Tetapi ketika mereka menjumpai sesama yang dianggap lemah, miskin dan tidak terpandang sikap mereka akan berubah total. Mereka memperlakukan sesamanya tersebut dengan sikap memandang remeh, sebelah mata dan menghina. Surat Yakobus tidak bermaksud menyatakan bahwa orang-orang kaya selalu buruk dan jahat, sedang orang-orang miskin selalu baik dan hidup benar. Walau kita juga sering menjumpai orang-orang kaya yang suka menindas dan memeras sesamanya, tetapi sikap beberapa orang kaya tersebut tidak boleh kita generalisir. Sama seperti cukup banyak orang miskin yang memaknai kemiskinannya untuk membenarkan perilaku yang tidak terpuji. Namun kita tidak dapat menggeneralisir setiap orang miskin berperilaku secara tidak terpuji.

Ajaran iman Surat Yakobus adalah bagaimana umat percaya dipimpin oleh integritas iman yang bersumber kepada hukum kasih Allah. Hukum kasih Allah bertujuan untuk menjaga agar setiap orang mampu mengasihi sesamanya secara bermartabat. Sebab martabat manusia tidak ditentukan oleh kekayaan materi yang dimilikinya, tetapi ditentukan oleh kekayaan rohani dan nuraninya. Karena itu berlaku adil tanpa memandang muka adalah wujud dari kepribadian yang bermartabat. YBM

Refleksi:

Berlaku adil tanpa memandang muka hanya mungkin apabila keluhuran budi menjadi satu-satunya karakter yang bermartabat.

——————————————————————————————————————–

Dikobarkan Oleh Api Kasih (Kidung Agung 8:6-7)

“Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!” (Kid. Ag. 8:6-7)

Dalam kanon Alkitab, mungkin kitab Kidung Agung merupakan satu-satunya kesaksian firman Tuhan yang secara spesifik mengungkapkan perasaan cinta dan kasih-sayang antara seorang pria dengan wanita yang sedang jatuh cinta. Kedua insan yang saling jatuh cinta dan saling mengungkap cinta dalam kitab Kidung Agung adalah tokoh Salomo dengan seorang wanita sederhana bernama “Sulam.” Cinta pertama tersebut begitu dalam dan penuh arti, sehingga cinta Salomo kepada Sulam tidak pernah berubah.

Di Kidung Agung 8:6a, Sulam sebagai mempelai wanita mengungkapkan cintanya dengan pernyataan: “Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu.” Makna dimeteraikan di “hati” pada hakikatnya untuk menunjuk kepada suatu bagian diri yang internal dan sangat pribadi. Sedang yang dimeteraikan di “lengan” pada hakikatnya menunjuk kepada bagian diri yang eksternal sehingga dapat dketahui oleh masyarakat luas.

Cinta yang kokoh dan kekal senantiasa memperhatikan dimensi internal dan eksternal. Sebab tidak mungkin cinta yang kokoh hanya memperhatikan dimensi internal, tetapi tertutup dari publik. Kecenderungan para pasangan yang menikah adalah mereka sering mengedepankan aspek eksternal seperti penampilan fisik, keberhasilan dalam karier, finansial, perhiasan, dan jumlah properti. Keberhasilan rumah tangga sering diukur dari penampilan fisik yang serba oke, sukses dalam pekerjaan atau karier dan mampu memiliki berbagai harta milik atau aset. Padahal apa artinya keberhasilan secara materi dan jasmaniah, tetapi mereka gagal menjalin kasih secara internal? Apa artinya mereka memiliki banyak aset dan properti, tetapi hati mereka dingin dan tidak saling mengasihi?

Ketika kita gagal membangun aspek internal yaitu cinta seharusnya dimeteraikan di dalam hati, maka tiap-tiap pasangan tersebut akan hidup dalam dunianya sendiri. Suami merasa memiliki hak kesenangan yang dia sukai. Demikian pula isteri bertindak menurut kehendak dan kemauannya sendiri. Mereka berdua secara fisik tetap dapat hidup satu atap dan satu rumah, tetapi kasih dan cinta mereka sesungguhnya telah padam. Bahkan tidak jarang dalam realita, kita dapat menjumpai dua orang yang semula saling mencintai telah berubah menjadi orang-orang yang saling membenci. Penyebabnya karena mereka telah kehilangan meterai cinta.

Refleksi:

Meterai cinta dibutuhkan agar setiap insan mampu hidup bermakna. Untuk itu jangan biarkan kita mengejar yang sia-sia tetapi kehilangan permata hidup yaitu cinta.

————————————————————————————————————-

Kasih dan Keadilan (Mikha 3:1-4)

“……..Bukankah selayaknya kamu mengetahui keadilan, hai kamu yang membenci kebaikan dan yang mencintai kejahatan? Mereka merobek kulit dari tubuh bangsaku dan daging dari tulang-tulangnya” (Mikh. 3:1b – 2).

Berita nabi Mikha bagai pukulan godam kepada para pemimpin umat Israel. Teguran nabi Mikha tidak menggunakan bahasa simbolis atau samar-samar. Dia dengan lantang menyebut identitas para pelaku, yaitu para kepala di Yakub dan para pemimpin kaum Israel. Yang dimaksud pemimpin di sini jelas bersifat holistik, sehingga bisa menunjuk kepada pimpinan tertinggi sampai terendah. Juga bisa menunjuk kepada pemimpin politis, militer dan ekonomi sampai kepada pemimpin keagamaan. Semua pemimpin tersebut dianggap telah kehilangan nurani, sehingga mereka membengkokkan keadilan. Dosa mereka tidak lagi bersifat personal, tetapi telah menjadi dosa komunal, bahkan dosa struktural. Disebut sebagai dosa struktural, karena mereka telah menanamkan cakar-cakar yang mematikan ke dalam sistem kehidupan umat. Itu sebabnya umat tidak lagi mampu menikmati kebebasan, keadilan dan perlindungan. Umat diperas dan dieksploitasi sedemikian rupa, sampai tidak ada lagi yang tersisa.

Nabi Mikha melukiskan secara figuratif suasana kanibalisme di mana para pemimpin Israel seakan-akan sedang memakan habis daging umat yang menjadi mangsanya. Eksploitasi dan kekejaman yang dilakukan oleh para pemimpin umat pada sisi lain sangat ironis. Di satu pihak mereka memangsa sesama habis-habisan, dan di pihak lain mereka sangat religius. Mereka berdoa dan berseru kepada Allah, namun mereka berubah watak menjadi para pribadi yang kejam dan tidak kenal ampun. Itu sebabnya Allah tidak pernah menjawab doa-doa mereka (Mikh. 3:4). Allah menyembunyikan wajahNya, walaupun mereka berulang-ulang menyebut nama Allah dan memberikan persembahan. Sebab Allah berpihak kepada keadilan dan membela umat yang ditindas dengan tidak adil.

Setiap umat adalah milik kepunyaan Allah. Eksploitasi dan kekejaman kepada suatu umat berarti suatu bentuk sikap atau tindakan yang secara bersengaja melawan Allah sebagai Sang Pencipta. Yang dikehendaki Allah adalah sikap kasih yang dilandasi oleh keadilan, bukan kata-kata kasih tetapi menginjak-injak keadilan. Para pemimpin umat memberlakukan kasih tanpa keadilan, di mana orang- orang lemah diperdaya dan diperas habis-habisan. Bagaimanakah dengan kehidupan kita, apakah sama dengan perilaku para pemimpin umat Israel tersebut? Kasih hanya dapat terwujud di dalam keadilan. Sebaliknya keadilan menjadi kebenaran apabila dilandasi oleh kasih.

Refleksi:

Kemunafikan terjadi ketika kita berperan dengan dua wajah yang bertolak-belakang, religius namun penindas. Tetapi kasih dan keadilan menghasilkan pribadi yang lurus.

————————————————————————————————————–

Menjalin Ikatan Persekutuan (Gal. 2:1-10)

“Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan” (Gal. 2:9).

Saulus yang kemudian disebut sebagai Paulus setelah pertobatannya diurapi sebagai Rasul Kristus. Sangat menarik, Saulus setelah menjadi seorang Rasul juga dihisabkan sebagai bagian dari sokoguru jemaat yang saat itu diperankan oleh ketiga rasul yaitu: Yakobus, Kefas dan Yohanes. Mereka memperluas ikatan persekutuan dengan ditambah kehadiran rasul Barnabas. Tujuannya adalah agar mereka bersama-sama dapat memberitakan Injil kepada orang-orang bersunat, yakni umat Israel dan orang-orang yang tidak bersunat yaitu seluruh bangsa. Mewujudkan ikatan persekutuan tidaklah mudah. Apalagi jikalau kita harus menjalin ikatan persekutuan dengan seseorang yang memiliki latar-belakang, sejarah, pengalaman dan visi hidup yang berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut sering membuat kita merasa tidak nyaman.

Proses adaptasi butuh kesediaan, ketulusan dan maksud baik serta kesediaan bekerja sama dengan semua pihak. Itu sebabnya dunia lebih mudah menawarkan program kebersamaan kepada orang-orang yang satu etnis, hobi dan minat yang sama, bidang yang pendidikan yang sejenis, bisnis dan karir yang sejalan, dan sebagainya. Semula rasul Yakobus, Kefas dan Yohanes memiliki latar-belakang yang berbeda namun secara historis mereka memiliki ikatan yang kuat sebagai para murid Kristus. Kedudukan mereka sebagai sokoguru jemaat tidak diragukan. Namun kini Petrus, Yakobus dan Yohanes bersedia menjalin ikatan persekutuan dengan Saulus dan Barnabas dengan berjabat-tangan. Peristiwa jabat-tangan di Surat Galatia 2:9 menunjuk suatu ikrar kolegalitas untuk bersama-sama menjalin ikatan persekutuan agar mereka dapat melaksanakan misi Kristus di dunia ini.

Mereka menyatukan diri tanpa memandang kedudukan yang lebih tinggi atau lebih rendah. Mereka mengutamakan misi Allah di tengah dunia ini. Prioritas mereka bukanlah membela haknya sebagai sokoguru, tetapi bagaimana melalui peran mereka bersama tersebut, mereka dapat memberitakan Injil kepada umat Israel dan bangsa-bangsa di dunia ini. Terbukti bahwa pola kerja mereka menghasilkan pemberitaan Injil yang efektif. Bagaimanakah dengan kehidupan Saudara? Apakah kita lebih cenderung bersikap eksklusif dengan kelompok, kalangan atau orang-orang yang memiliki kesamaan? Ataukah kita mengutamakan kesediaan diri untuk menjalin kerja-sama dengan semua pihak untuk mewujudkan misi yang luhur yaitu menghadirkan keselamatan Allah di atas muka bumi ini.

Refleksi:

Keragaman kita disatukan oleh misi Allah. Tetapi misi Allah tidak akan berfungsi dengan efektif ketika kita mengedepankan keragaman dan keunikan masing-masing.

—————————————————————————————————————–

Kasih Yang Tak Terceraikan (Rut 1:1-18)

“Di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (Rut 1:17).

Naomi bersama keluarga pindah ke Moab dengan meninggalkan Betlehem. Kepindahan mereka dengan suatu harapan, yaitu memperoleh kehidupan yang lebih baik. Sebab telah terjadi kelaparan di seluruh tanah Israel. Namun tragisnya saat mereka berada di Moab satu demi satu anggota keluarganya meninggal dunia. Pertama-tama Elimelekh, suaminya. Lalu kedua anaknya Mahlon dan Kilyon. Kini Naomi hidup sebatang kara bersama dengan kedua menantu yang telah ditinggal mati oleh suami-suami mereka. Bagi Naomi, semua peristiwa yang terjadi menorehkan kepahitan yang sangat dalam. Dia menyebut dirinya dengan sebutan “mara” yang artinya: pahit.

Di tengah-tengah berbagai kepahitan itu Naomi menyuruh kedua menantunya untuk kembali kepada keluarga dan bangsanya di Moab. Orpa akhirnya kembali ke Moab, sebaliknya Rut menyatakan tetap akan bersama dengan Naomi, kecuali oleh kematian. Melalui Rut, kita dapat merasakan tekad cinta yang luar-biasa seorang menantu kepada mertuanya. Rut mengetahui bahwa mertuanya kini tidak memiliki apapun, tetapi dia tidak ingin dipisahkan dengan Naomi. Kita tidak menyangkal bahwa Rut seorang wanita yang berhati mulia. Rut lebih memilih Naomi dari pada harus kembali kepada keluarganya di Moab. Dalam penilaian Rut, Naomi bukan hanya sosok seorang wanita yang tegar. Tetapi Naomi juga seorang wanita yang mampu berperan sebagai seorang ibu yang bijaksana. Seandainya Naomi memiliki karakter yang buruk dan gemar melukai hati menantunya, pastilah Rut tidak akan pernah mengikuti Naomi.

Naomi berulang-ulang mengalami kepahitan dan tragedi dalam hidupnya, tetapi kepahitan tersebut tidak disebarkan kepada kedua menantunya, yaitu Orpa dan Rut. Kepahitan itu ditanggung Naomi dalam relasinya dengan Allah. Dia menerima tangan Tuhan teracung kepadanya (Rut 1:13). Karena itu dapat dipahami mengapa Rut begitu mencintai Naomi. Kepahitan Naomi tidak disebarkan dengan sikap hidup yang penuh kemarahan, iri- hati, keluh-kesah dan pikiran yang picik. Ia menanggung dengan tabah bersama dengan Allah. Bagaimanakah sikap kita manakala seringkali mengalami penderitaan dan kepahitan? Apakah kita bersikap dan meneladani Naomi?

Refleksi:

Di dalam Kristus, realita hidup yang pahit dapat diubah menjadi sesuatu yang manis dan membangun sehingga kehadiran kita mendatangkan keselamatan.

——————————————————————————————————————

Kaya Dalam Memberi (Luk. 18:18-30)

“Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya” (Luk. 18:23).

Orang kaya yang dikisahkan oleh Injil Lukas adalah seorang yang sukses. Dia memperoleh kekayaannya secara benar. Lebih dari pada itu dia juga seseorang yang selalu mematuhi seluruh hukum Taurat dengan setia sejak dia masih muda (Luk. 18:20-21). Dengan demikian dia kaya secara materi dan rohani. Lebih dari pada itu perhatian dia yang utama bukanlah kekayaannya, tetapi hidup yang kekal. Karena itu dia datang kepada Tuhan Yesus mengajukan pertanyaan: “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Walaupun dia telah kaya secara materi dan rohani, dia merindukan bagaimana dapat memperoleh hidup yang kekal. Bagaimanakah jawaban Yesus?

Jawaban Tuhan Yesus sangat mengejutkan. Yesus menyuruh dia untuk menjual semua yang dia miliki (Luk. 18:22). Tentunya jawaban Tuhan Yesus tersebut tidak pernah ia bayangkan. Yesus menyuruh dia untuk menjual segala yang dia miliki dan membagikan kepada orang-orang miskin. Siapakah di antara kita yang juga bersedia untuk menjual seluruh harta miliknya, lalu membagi-bagikan kepada orang miskin? Apa arti pengajaran Yesus dalam kisah ini? Secara imaniah seluruh upaya manusiawi tidaklah mungkin mampu membawa manusia kepada hidup yang kekal. Tindakan menjual seluruh harta milik dan membagi-bagikan kepada orang miskin juga tidak dapat membawa kepada hidup yang kekal.

Problem utama dari orang kaya di Injil Lukas tersebut adalah dia ingin tetap kaya dengan dirinya sendiri, dan tidak bersandar kepada kasih-karunia Allah. Kekayaan secara materi dan rohani yang telah dijalani sejak muda membuat dia merasa puas dengan apa yang dia miliki. Jawaban orang kaya terhadap perkataan Tuhan Yesus, yaitu: “Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Ungkapan ini memperlihatkan sikap bangga dengan dirinya sendiri. Tujuan perkataan Tuhan Yesus adalah agar orang kaya tersebut tidak membanggakan apa yang dia miliki. Kita sering melekat dengan semua yang kita miliki sehingga kita sangat tergantung dan mengandalkannya. Dengan sikap demikian, kita kehilangan hidup kekal bersama Allah sebab kita melekat dengan kuasa dunia yang fana.

Refleksi:

Kita lebih suka menjadi kaya karena mendapat daripada kaya dalam memberi. Karena itu kita mudah melekat dengan apa yang kita miliki, sehingga tidak dapat melihat kehadiran Allah di tengah-tengah sesama kita.

——————————————————————————————————————-

Percaya Dan Dilahirkan Kembali
 (Yoh. 3:1-17)

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh. 3:17).

Melalui karya penebusan Kristus, seluruh umat manusia yang telah jatuh di bawah kuasa dosa memiliki harapan dan keselamatan yang pasti. Karena itu umat dipanggil membuka diri dan memiliki iman kepada Kristus, maka pastilah Allah akan mengaruniakan hidup yang kekal. Namun harus dipahami bahwa makna iman kepada Kristus bukanlah sekadar sikap percaya. Menurut Injil Yohanes, sikap iman akan bekerja secara efektif apabila umat bersedia dilahirkan kembali oleh karya Roh (Yoh. 3:7). Umat akan memiliki sikap iman kepada Kristus apabila mereka bersedia diproses dan dibentuk oleh karya Roh Kudus.

Kesediaan untuk diproses dan dibentuk oleh Roh tersebut akan memampukan umat untuk meninggalkan manusia lamanya. Umat akan mengalami transformasi dalam perspektif, karakter yang diubahkan dan roh yang dikuduskan. Karena itu makna “dilahirkan kembali” pada hakikatnya menunjuk kepada suatu pola kepribadian umat yang dikuduskan sehingga memancarkan ketaatan kepada kehendak Allah. Setiap umat percaya harus mampu meninggalkan watak dan kebiasaan lamanya, sehingga kehidupan mereka menjadi lingkup dan wilayah dari Roh Kudus. Tindakan umat yang beriman kepada Kristus bukan sekadar suatu pengakuan percaya yang sifatnya verbal, tetapi menjadi suatu pola hidup yang baru dan dilakukan secara konsisten.

Makna iman kepada Kristus seharusnya memampukan setiap umat percaya mengalami kelahiran baru. Melalui kelahiran baru tersebut, umat percaya dapat keluar dari belenggu dosa. Mereka mampu mengalahkan sebagian besar kebiasaan buruknya dan terarah kepada kehendak Roh. Kelahiran baru menghasilkan paradigma dan spiritualitas yang baru. Dengan kelahiran baru, umat percaya tidak lagi terarah kepada dirinya sendiri tetapi kepada kehendak Allah, yaitu keselamatan umat manusia.

Sebagaimana Allah mengasihi dunia dengan mengaruniakan Kristus, umat percaya juga terpanggil untuk mengasihi sesama tanpa memandang latar-belakang mereka. Karena itu mereka terpanggil untuk memberitakan Kristus sesuai dengan situasi dan konteks hidup sesamanya. Tanpa pengenalan akan situasi dan konteks hidup sesama, kita tidak mungkin mampu mengerti dan mengasihi mereka. Itu sebabnya Allah berkenan berinkarnasi menjadi manusia di dalam Yesus Kristus. Tanpa inkarnasi menjadi manusia, Allah tidak mungkin dapat mengkomunikasikan kasih-Nya secara personal dan kontekstual.

Refleksi:

Iman yang tumbuh dalam kelahiran baru akan menghasilkan perubahan yang signifikan sebab hidupnya dikendalikan oleh kehendak Roh Allah.

————————————————————————————————————-

Beriman Tanpa Kuatir
(Mat. 6:24-34)

 “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat. 6:34).

Akar kekuatiran yang terdalam adalah keterikatan terhadap sesuatu hal atau seseorang yang begitu bernilai dalam hidupnya. Keterikatan terhadap sesuatu hal menyebabkan kita tidak dapat berpikir jernih dan tidak menempatkan iman sebagai pengendali utama dalam kehidupan kita. Masalah kekuatiran yang diulas oleh Injil Matius dilatar-belakangi oleh nasihat Tuhan Yesus tentang sikap kita kepada Allah dan Mamon. Manusia cenderung bersikap mendua, yaitu mengabdi kepada Allah tetapi juga mengabdi kepada Mamon (Mat. 6:24). Seseorang yang mengabdi kepada dua tuan, pastilah akan melebihkan yang satu, dan merendahkan yang lain. Karena itu bila seseorang mengabdi kepada Allah dan Mamon, tidaklah mungkin dia berserah penuh kepada Allah. Kata mamon berasal dari bahasa Aram yang berarti “kepunyaan” atau “hal yang dipercayai dan diandalkan.” Kemudian kata “mamon” dipakai secara khusus kepada “harta benda” yang dalam lingkup tertentu menunjuk kepada apapun milik yang mengikat diri manusia.

Sikap terarah kepada Mamon menyebabkan kita tidak mampu membuat skala prioritas. Kita sering mengalami kekaburan antara hal yang prinsipiil dengan yang tidak utama. Itu sebabnya kita sering mengerahkan seluruh energi dan pikiran kepada hal-hal yang tidak penting, namun kita mengabaikan suatu hal yang penting dan terutama. Di Matius 6:25, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa nilai hidup lebih penting dari pada soal makanan dan pakaian. Kata “hidup” di sini dipergunakan kata psuchē (Yunani) atau kata: ruach (Ibrani) untuk menunjuk nafas hidup atau sumber vitalitas hidup manusia. Pioritas utama setiap orang seharusnya bersumber hidupnya kepada Allah. Memang pakaian dan makanan dari sudut kebutuhan jasmani tergolong sebagai kebutuhan primer. Tetapi kebutuhan primer secara jasmaniah tidak boleh dijadikan yang prioritas dalam keseluruhan hidup.

Barang-barang yang fana tidak boleh menyedot vitalitas hidup yang abadi bersama dengan Allah. Sebab pastilah keseluruhan hidup manusia akan digerogoti oleh kekuatiran dan kesedihan. Kita tidak akan mampu mengalami arti dan tujuan hidup yang sesungguhnya. Selain itu kekuatiran kita juga tidak akan pernah meningkatkan kualitas hidup. Sebaliknya kekuatiran akan memperburuk kesehatan dan melemahkan kemampuan kita untuk hidup secara bermutu di hadapan Allah dan sesama.

Refleksi:

Semakin kita kuatir, semakin kita jauh dari sikap iman. Sebab iman adalah mempercayakan seluruh hidup kita kepada Allah. Dengan iman, kita mengatasi ketakutan secara kreatif dan produktif.

—————————————————————————————————————-

Iman Yang Mengalahkan Dunia (1 Yoh. 5:1-5)

 “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita” (1Yoh. 5:3-4).

Pada zaman modern ini kita dipermudah oleh berbagai akses informasi yang tanpa batas, berbagai peralatan teknologi yang canggih, berbagai bidang ilmu, akses kartu kredit, memiliki banyak property/saham, dan sebagainya. Pertanyaannya adalah dengan cara yang bagaimanakah kita mengalahkan dunia ini? Sejauhmana kita mengandalkan semua peralatan yang ditawarkan oleh dunia tersebut? Sejauhmana kita bersedia mengandalkan Allah yang hidup dan berkarya di dalam diri Kristus? Apabila kita tahu, bahwa seluruh kuasa dunia tersebut terbatas dan bersifat fana, maka kita tidak akan bersandar kepada mereka. Sebaliknya sikap berpaut erat dan percaya kepada Kristus merupakan satu-satunya cara bagi kita untuk mengalahkan kuasa dunia ini.

Umat percaya tidak akan dapat tiba di tanah terjanji, sorgawi apabila mereka berjalan seorang diri dan mengandalkan kekuatannya sendiri. Di Surat I Yohanes 5:5, rasul Yohanes berkata: “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?” Kriteria umat yang mengalahkan dunia harus lahir dari Allah, di mana mereka hidup dalam sikap iman yang percaya Yesus adalah Anak Allah. Dengan demikian kemenangan umat untuk mengalahkan kuasa dunia akan terjadi apabila mereka bersedia berpaut erat dengan Kristus.

Arti “berpaut” jelas menunjuk suatu hubungan atau relasi yang khusus dan personal, sehingga terjadilah hubungan perjanjian kasih di mana mereka taat kepada kehendak dan firman Allah. Prinsip teologis dari SuratI Yohanes 5:5 tersebut telah dinyatakan secara eksplisit di 1 Yohanes 5:2-3, yaitu: “Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.” Jadi iman kepada Kristus sebagai dasar untuk mengalahkan dunia harus dinyatakan dalam sikap kasih, yaitu umat mau melakukan perintah-perintahNya. Dengan melakukan perintah-perintah Allah kita mengelola dengan bijak setiap anugerah Allah. Arti “mengalahkan dunia” bukan berarti membuang realitas dalam dunia tetapi mengelola dengan sikap iman yang mempermuliakan Allah.

Refleksi:

Kita lebih sering dikalahkan oleh dunia sehingga dunia memiliki kita sebab kita jauh dari sikap iman kepada Allah.

————————————————————————————————————–

Hati Yang Baru dan Roh Yang Baru (Yeh. 36:22-32)

 “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (Yeh. 36:26).

Kita akan berupaya untuk membersihkan kain baju yang ternoda oleh suatu kotoran atau kena suatu cairan yang menimbulkan fleg. Apalagi bila baju atau pakaian tersebut begitu berharga karena nilai sejarah tertentu, desain atau harganya yang mahal. Untuk membersihkan suatu fleg karena suatu cairan, kita membutuhkan zat kimia yang mampu membersihkan agar kain baju kita tersebut pulih kembali. Demikian pula Allah merencanakan suatu pemulihan bagi umat-Nya yang telah hidup dalam kenajisan. Untuk itu Allah tidak membuang umat-Nya. Umat Israel yang telah hidup najis tetap dicintai Allah dengan karya pembaruan dan kasih-Nya yang tidak pernah berubah.

Peristiwa pembuangan yang dialami oleh umat Israel ke tengah-tengah bangsa kafir bukan dimaksudkan untuk membuang mereka dari hadapan Allah. Lebih tepat peristiwa pembuangan di Babel bertujuan untuk menyadarkan umat dari dosa-dosa mereka. Melalui proses itu Allah memurnikan dan mentahirkan mereka dengan kasih-karunia-Nya (Yeh. 36:25). Allah bertindak sebagai subjek yang berinisiatif untuk mencurahkan air jernih yang fungsinya untuk mentahirkan dosa-dosa umat. Inisiatif Allah tersebut terjadi karena hanya Allah saja memiliki air jernih yang mampu membersihkan umat dari seluruh kenajisannya. Air jernih yang digunakan dalam nubuat nabi Yehezkiel berfungsi sebagai simbolisasi pengampunan dan pengudusan Allah.

Simbolisasi yang digunakan nabi Yehezkiel tersebut mengingatkan kita kepada makna sakramen baptisan. Melalui sakramen baptisan, umat yang semula terbelenggu oleh kenajisannya ditahirkan oleh rahmat Allah di dalam karya penebusan Kristus. Hasil dari tindakan Allah yang mentahirkan dengan rahmat-Nya akan menghasilkan kehidupan yang diperbarui, sebab Allah mengaruniakan hati yang baru dan roh yang baru. Bagi umat Israel hati sebagai pusat atau inti dari kepribadian manusia. Hati berfungsi sebagai tempat roh manusia berdiam. Karena itu apabila hati dan roh umat diperbarui oleh Allah, maka umat akan mengalami kelahiran baru. Tanda dari pentahiran adalah hati yang taat. Kebenaran yang lahir dari hati dan roh yang baru justru seharusnya dimulai dari hati yang remuk.

Refleksi:

Melalui berbagai peristiwa Allah memanggil dan membentuk karakter kita. Tetapi semua peristiwa tersebut hanya menjadi sejarah belaka apabila kita tidak merespons dengan hati yang terbuka untuk dibarui Allah.

———————————————————————————————————

Reformasi Diri
 (2Raj. 23:1-8, 21-25)

 “Sesudah itu berdirilah raja dekat tiang dan diadakannyalah perjanjian di hadapan TUHAN untuk hidup dengan mengikuti TUHAN, …. Dan seluruh rakyat turut mendukung perjanjian itu” (2Raj. 23:3)

Penemuan hukum Taurat di Bait Allah mendorong suatu reformasi dalam kehidupan umat Israel. Raja Yosia menyikapi berita firman Tuhan dan nubuat nabiah Hulda dengan langkah-langkah yang konkret. Penemuan hukum Taurat tersebut tidak sekedar mendorong raja Yosia agar umat Israel mengerti, tetapi bagaimana umat Israel mengalami reformasi diri seutuhnya. Reformasi kehidupan umat berarti pula pembaruan hidup yang menyeluruh. Tiap-tiap aspek dari kehidupan yang saling berkaitan harus dibenahi untuk menghasilkan suatu sistem kehidupan yang baru. Dalam konteks ini kita diingatkan bahwa kegagalan gereja untuk membarui diri karena sering hanya melakukan suatu reformasi di aras permukaan saja. Upaya reformasi mengandung risiko tinggi. Dalam situasi itu banyak orang bersikap mengikuti arus yang telah terbentuk tanpa mempersoalkan lagi apakah benar atau salah. Standar etis-moral dan teologis kita relatifkan, asalkan kita dapat diterima dan disanjung oleh umat.

Reformasi Yosia dalam kehidupan umat Israel tidak akan membawa efek apapun, jika belum menjadi suatu reformasi diri dalam kehidupan pribadi raja Yosia. Kunci kekuatan dan efektivitas reformasi raja Yosia dalam kehidupan umat terletak pada reformasi internal diri yang telah dialami oleh raja Yosia. Reformasi internal diri raja Yosia tersebut kemudian menjadi reformasi internal diri setiap pejabat, lalu berkembang menjadi reformasi internal diri setiap umat. Itu sebabnya umat Israel kemudian menyambut reformasi yang dikumandangkan oleh raja Yosia tersebut dengan segenap hati (2Raj. 23:3).

Reformasi diri hanya terjadi melalui karya pembaruan Roh Kudus. Pembaruan hidup bukan ditentukan karena kuasa politis, militer, otoritas keagamaan dan ekonomis. Karena itu semakin seseorang dibarui oleh Roh Kudus, dia akan menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan. Seluruh perbuatannya menjadi transparan dan tidak mengandung kelicikan atau kemunafikan. Hidup rohani dan pribadinya dapat dilihat secara terbuka oleh setiap orang. Itu sebabnya Allah akan memakai dia untuk kemuliaan nama-Nya. Pikiran, perasaan dan tindakannya mampu memberi inspirasi yang mencerahkan bagi orang-orang di sekitarnya. Reformasi diri menjadi daya inspiratif yang memotivasi orang-orang di sekitar untuk mereformasi dirinya.

Refleksi:

Kita tidak dapat mengubah dunia sekecil apapun lingkupnya. Tetapi kita bisa mengubah dunia sejauh kita terus mereformasi diri dalam karya pembaruan Roh Kudus.

————————————————————————————————————-

Terang Yang Mencelikkan Hati
 (Yoh. 9:1-41)

“Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu” (Yoh. 9:41)

Perjalanan dengan kereta api dari Jakarta ke Bandung atau sebaliknya dari Bandung ke Jakarta akan melewati lorong yang gelap dari suatu bukit. Walau hanya beberapa menit berjalan dalam lorong yang gelap, para penumpang dalam kereta api beberapa saat merasa sulit mengidentifikasikan tempat. Mereka tidak tahu apakah kereta api tersebut berjalan atau berhenti sebab suasana serba gelap. Namun ketika kereta api mendekati lorong pintu keluar dengan seberkas cahaya, timbullah perasaan lega. Demikian pula seseorang yang bertahun-tahun buta. Dia akan merasa lega saat ada seorang dokter yang mampu mengoperasi sehingga matanya mulai dapat melihat dengan lebih jelas. Namun dalam konteks tertentu, ada pula orang-orang yang justru menyukai kegelapan dan tidak ingin menyaksikan terang. Mereka bukan orang-orang yang buta secara fisik, tetapi mereka adalah orang-orang yang buta secara rohani.

Mereka tidak ingin melihat terang dengan bertobat, sebab ingin tetap hidup dalam kegelapan dosa. Alasan mereka yang utama adalah hidup dalam kegelapan dosa justru merupakan kenikmatan, kesenangan dan hiburan yang memuaskan. Sebaliknya hidup dalam terang Tuhan berarti harus mampu meninggalkan semua hal yang indah, nikmat dan menyenangkan hasrat. Itu sebabnya kebanyakan orang tidak ingin mata hatinya dicelikkan dan mengalami pembaruan dari Tuhan agar mereka tetap dapat menikmati kegelapan dosa.

Pengalaman pencelikkan mata bagi orang yang buta sejak lahirnya itu tentu menjadi suatu pengalaman yang luar-biasa. Orang yang dicelikkan matanya itu memulai hidupnya dengan perspektif yang baru. Perspektif hidup yang baru tersebut diikuti dengan sikap iman yang baru terhadap Kristus. Saat perjumpaan dengan Kristus, ia menyatakan sikap imannya sambil berkata: “Aku percaya, Tuhan!” Lalu ia sujud menyembah-Nya (Yoh. 9:38). Posisi rohani kita saat ini seperti orang yang dicelikkan matanya oleh Tuhan Yesus. Kita juga sering mengaku percaya dan sujud menyembah kepada Kristus. Tetapi setelah kita menyembah Dia, apakah kehidupan kita selanjutnya ditandai oleh pembaruan dengan perspektif yang baru. Apakah kehidupan iman kita ditandai oleh terang Kristus saat melewati lorong kehidupan yang serba gelap dan panjang?

Refleksi:

Pencelikkan rohani adalah anugerah Allah, tetapi juga harus dipertajam dalam relasi dengan Kristus. Tanpa pencelikkan rohani maka kita adalah orang-orang yang buta.

————————————————————————————————————-

Iman Penyingkap Kegelapan (Mat. 9:27-34)

 Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Maka meleklah mata mereka (Mat. 9:28-29a).

Saat Tuhan Yesus berkarya di dunia ini tidak semua orang sakit disembuhkan. Tidak semua orang buta, orang lumpuh dan sakit kusta disembuhkan. Karena tujuan utama Tuhan Yesus bukanlah untuk menyembuhkan semua orang sakit. Tujuan utama kedatangan Tuhan Yesus adalah untuk memulihkan manusia dari belenggu kuasa dosa. Karya penyembuhan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus hanya merupakan tanda bahwa kerajaan Allah di dalam diri-Nya telah datang. Di dalam diri-Nya, Allah telah memenuhi nubuat para nabi bahwa Mesias akan datang untuk membawa pemulihan bagi umat manusia. Orang yang lumpuh akan berjalan, yang bisu akan berbicara, yang buta akan melihat, dan orang yang mati akan dibangkitkan.

Karya-karya mukjizat Tuhan Yesus tidak memiliki tujuan pada diri-Nya sendiri. Melalui karya-karya mukjizat-Nya Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa Kerajaan Allah yang eskatologis itu pada hakikatnya telah hadir secara riil di masa kini. Pada masa kini pemulihan dari kebutaan mata dapat dilakukan oleh teknologi medis. Bila dibandingkan dengan masa silam, umat manusia masa kini memperoleh suatu fasilitas medis yang lebih baik untuk menghadapi masalah di penglihatan fisiknya. Kini kita dapat mengenakan kaca-mata atau dipulihkan melalui operasi laser. Namun pemulihan mata oleh dunia medis tidak berarti suatu jaminan bahwa kualitas hidup rohani seseorang akan menjadi lebih baik. Kita berada di tengah-tengah realitas yang buta secara nurani.

Mata kita tetap dapat melihat, tetapi secara rohani masih buta. Bahkan kepada banyak orang yang merasa dirinya beriman, batin mereka ternyata tetap buta. Dengan demikian iman yang dikehendaki oleh Kristus bukanlah iman yang sekedar percaya kepada kuasa ilahi yang lebih tinggi. Tetapi iman yang dikehendaki oleh Kristus adalah iman yang transformatif di mana umat mengarahkan dan menyandarkan seluruh hidupnya kepada Dia. Sikap iman yang transformatif tersebut yang membuka suatu janji dan jaminan dari Allah, bahwa Allah akan menerangi kehidupan mereka dengan terang yang tidak pernah redup. Janji dan jaminan tersebut yang memampukan umat untuk melihat realitas kehidupan dengan mata iman kepada Kristus. Melalui iman, nurani kita dimurnikan dan pikiran rasional kita dipertajam sehingga menghasilkan tindakan kasih yang berbela-rasa. Melalui kasih Kristus kita menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah.

Refleksi:

Rohani yang dicelikkan memampukan kita untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah yaitu keselamatan, keadilan dan perdamaian.

—————————————————————————————————————

Dicelikkan Kasih-Karunia Allah
 (Ef. 1:3-14)

 “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” (Ef. 1:3).

James Irwin, seorang astronot Amerika Serikat dengan Apollo 15 tahun 1971 berhasil mendarat di Bulan selama 67 hari. Saat dia berada di ruang angkasa, James Irwin merasakan dan mengalami peristiwa keagungan dan kemuliaan Allah yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Muncullah refleksi teologis yaitu, kesadaran yang mencelikkan mata rohaninya akan makna inkarnasi Kristus. James Irwin juga menyatakan bilamana dia dapat mengalami kehadiran dan kemuliaan Allah di ruang angkasa sehingga membuat dia menjadi berarti. Apalagi saat umat manusia menghayati kedatangan dan lawatan Allah melalui inkarnasi Kristus ke dunia.

Pencelikkan mata-rohani (iluminasi) akan Kristus merupakan awal dari ziarah iman yang sesungguhnya. Karena melalui pencelikkan mata-rohani kita dimampukan untuk menyaksikan dan mengalami makna kekayaan kasih-karunia Allah. Sebelum dicelikkan, sebenarnya kita telah dilimpahi oleh kasih-karunia Allah. Namun saat itu kita tidak mampu merasakan dan mengalami kasih-karunia Allah tersebut. Itu sebabnya kita tidak mampu mengucap syukur, bersukacita dan beriman. Kita melihat realita hidup dengan sikap pandang yang pesimistis, suram dan tanpa harapan. Penilaian- penilaian diri kita didasarkan kepada luka-luka batin di masa lalu atau pengalaman-pengalaman traumatis. Luka-luka batin dan pengalaman traumatis kita bersumber kepada dosa secara struktural dan dosa secara personal.

Dosa struktural dan dosa personal membuat kita menjadi buta secara rohani, sehingga hidup dalam kegelapan dan menolak kasih-karunia Allah. Karena itu kekristenan tanpa pencelikkan mata rohani akan menjadi kekristenan yang buta. Mereka tahu akan keselamatan, tetapi tak mampu mengalami anugerah Allah. Mereka dapat memberi pelayanan, tetapi tanpa kegembiraan dan ucapan syukur. Di Efesus 1:3 rasul Paulus mengungkapkan pencerahan iman dan pembaruan hidupnya di dalam Kristus, yaitu: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Dalam konteks ini rasul Paulus mengalami kehidupan yang terberkati (eulogetos) sebab telah diberkati (eulogeo). Rasul Paulus mengalami diberkati Allah dengan segala berkat rohani di dalam sorga yang bersumber kepada Kristus. Tepatnya rasul Paulus mengalami pencelikkan mata-rohani, sehingga dia menyaksikan dan mengalami seluruh kasih-karunia Allah.

Refleksi:

Hati yang dicerahi menghasilkan sukacita dan ucapan syukur sehingga kasih-karunia Allah menjadi realitas dalam kehidupan umat beriman.

————————————————————————————————————-

Roh Yang Memberi Hidup dan Menghidupkan  (Roma 8:1-11)

“Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Rom. 8:2).

Karya Roh yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus pada hakikatnya mengubah dan membarui mindset yang dimiliki oleh manusia. Arti mindset di sini bukan hanya perubahan pola pikir, tetapi juga perubahan pola hidup secara keseluruhan. Rasul Paulus memaknai kata “berpikir” (phronousin) sebagai suatu pemahaman yang selalu diikuti dengan suatu tindakan. Arti “berpikir” (phronousin) di Roma 8:5-6 senantiasa mengandung: “sistem nilai, filosofi, hawa- nafsu/keinginan dan kehendak untuk melakukan sesuatu. Jadi selama manusia berada di bawah perbudakan dosa; maka seluruh sistem nilai, filosofi, hawa-nafsu/keinginan dan kehendaknya masih dikuasai oleh kuasa dosa. Makna iman atau percaya kepada Kristus seharusnya dihayati sebagai tindakan penyerahan diri secara penuh untuk dikuasai oleh anugerah pengampunan Allah. Dengan anugerah pengampunan Allah akan memampukan setiap umat diubahkan (ditransformasikan) menurut kehendak Allah.

Melalui anugerah Allah, kehidupan manusia yang dahulu masih berada di bawah perbudakan dosa yaitu keinginan daging ditransformasikan menjadi umat yang mampu hidup menurut keinginan Roh Allah. Karya penebusan Kristus pada hakikatnya bertujuan untuk membebaskan manusia dari belenggu mindset yang semula hanya terarah kepada keinginan daging. Keinginan daging adalah maut tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai-sejahtera (Rom. 8:6). Timbul pertanyaan mengapa karya Kristus yang sempurna dan telah menebus kehidupan umat manusia dalam praktik kehidupan sehari-hari masih ditandai oleh berbagai keinginan dan praktik hidup yang jahat?

Karya penebusan Kristus dan kehadiran RohNya pada hakikatnya tetap sempurna. Hakikat kesempurnaan dan karya penebusan Kristus tidak dapat diredusir atau ditiadakan oleh realita kehidupan umat manusia yang masih jauh dari harapan. Sebab efektivitas karya penebusan Kristus dan RohNya juga ditentukan respons manusia. Bagaimana sikap manusia memberi respons terhadap karya Kristus yang membarui kehidupan ini. Apakah respons kita mau terbuka untuk terus-menerus dibaharui oleh kehadiran RohNya? Ataukah respons kita justru ditandai oleh berbagai sikap pembenaran diri atau mungkin sikap penolakan kepada Dia dengan semakin mengeraskan hati? Karya pembaruan dan pemulihan Kristus akan menghasilkan kehidupan dengan buah Roh yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal. 5:22-23). YBM

Refleksi:

Sejauh mana hidup kita dibarui oleh Roh Kudus dapat diukur dari sejauh mana kehidupan kita menghasilkan Buah Roh dan bukan keinginan daging.

—————————————————————————————————————

Pengenangan dan Pembaruan  (Kejadian 35:1-15)

 Allah berfirman kepada Yakub: “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu” (Kej. 35:1).

Saat Yakub melarikan diri dari rumah ayahnya di Bersyeba menuju Haran, dia mengalami penyataan diri Allah di kota Lus. Karena penyataan diri Allah tersebut, kota Lus diganti nama menjadi Betel, yang artinya: rumah Allah. Di Betel inilah Yakub memperoleh janji penyertaan dan berkat Allah (Kej. 28:13-15). Janji penyertaan dan berkat Allah terbukti selama Yakub berada di perantauan. Yakub akhirnya berhasil, sehingga dia dikaruniai keluarga dan kekayaan. Yakub juga kemudian mampu berdamai dengan Esau, kakak yang pernah marah dan membencinya. Dalam pergumulan dengan Allah di Pniel, Allah mengganti namanya dari Yakub menjadi Israel (Kej. 32:28), yaitu dari seorang penipu menjadi seorang yang menang berhadapan dengan Allah.

Janji penyertaan Allah di Betel menentukan arah perjalanan kehidupan Yakub selanjutnya. Pada saat itulah Allah berfirman agar Yakub bersama dengan keluarganya melawat kembali kota Betel. Mereka dipanggil Allah untuk mengenang kembali karya keselamatan Allah yang pernah dialami Yakub. Jadi setelah Yakub berhasil dan melewati krisis, dia dipanggil Allah merefleksikan imannya di kota Betel. Dalam konteks ini Betel, menjadi dasar pijak dan bukti dari seluruh berkat dan kasih Allah bagi Yakub.

Bagi Yakub secara khusus pengenangan terhadap kota Betel sekaligus merupakan pembaruan bagi seluruh anggota keluarganya. Karena para istri dan anak-anak Yakub selama tinggal di Haran hidup tanpa pengenalan akan Allah. Itu sebabnya saat Allah memerintahkan Yakub dan keluarganya ke Betel, Yakub segera memerintahkan seluruh anggota keluarga dan semua orang yang bersama-samanya untuk meninggalkan para ilahnya.

Pembaruan hidup di Betel melibatkan seluruh anggota keluarga dan orang-orang yang bersama-sama dengan Yakub, menentukan sejarah hidup mereka. Betel tidak lagi dihayati sebagai rumah Allah pribadi bagi Yakub, tetapi menjadi tempat persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yahweh. Demikian pula melalui karya Kristus, keselamatan Allah terbuka bagi setiap umat manusia dalam satu persekutuan, yaitu Tubuh Kristus. Respons kita seharusnya seperti yang dilakukan oleh anggota keluarga Yakub dan orang-orang yang bersamanya, yaitu: membuang semua illah, mentahirkan diri dan mengganti dengan pola kehidupan yang baru. YBM

Reflesi:

Pengenangan akan karya Allah di masa lalu dibutuhkan sejauh kita memiliki visi ke depan dan pembaruan hidup.

————————————————————————————————————-

Hikmat dan Kemurnian Hidup (Yakobus 3:13-18)

 “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik” (Yak. 3:17).

Arti “hikmat” berhubungan erat dengan kecakapan rohani seseorang untuk membuat pertimbangan yang adil dengan cara-cara yang benar, sehingga menghasilkan suatu keputusan etis yang membangun dan dapat dipertanggungjawabkan. Sikap berhikmat berhubungan erat dengan motif, dasar pertimbangan, cara pengungkapan dan keputusan etis yang didasari kecerdasan rohani tertentu. Unsur utama dari hikmat ternyata bukanlah seberapa luas pengetahuan kognitif seseorang, tetapi seberapa besar kualitas hidup rohaninya. Itu sebabnya definisi dari Yakobus 3:17 tentang hikmat yang dari atas adalah “pertama-tama murni.” Kata “murni” (hagnos) menunjuk kepada pengertian: suci, bersih, sempurna, dan sederhana.

Tanda pertama dan utama dari hikmat adalah kemampuan hidup yang tidak bercacat, apa adanya, memiliki integritas tinggi dan kredibel. Modal dasar dari hikmat tersebut akan memampukan seseorang untuk menjadi pendamai, pemaaf, pemurah, belas- kasihan, tidak memihak dan tidak munafik di hadapan Allah maupun di hadapan sesamanya. Karena itu hikmat dari Allah selalu menghasilkan damai-sejahtera dan keselamatan dalam kehidupan bersama. Kemurnian diri menjadi salah satu basis utama dari hikmat. Yang mana kemurnian diri tersebut berakar dalam relasi dengan Allah, sang sumber kemurnian dan kekudusan. Manakala kita mengabaikan atau menolak anugerah Allah, maka seluruh hikmat yang kita bangun akan menjadi hikmat dunia. Dengan tepat rasul Yakobus menyatakannya: “Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan” (Yak. 3:15).

Ibadah merupakan media relasi manusia dengan Allah. Namun dalam kehidupan sehari-hari ibadah justru sering dimanipulasi menjadi media pembenaran diri. Akibat sikap pembenaran diri melalui ibadah atau keagamaan adalah hidup kita semakin jauh dari kemurnian. Pada hakikatnya ibadah yang benar senantiasa memampukan manusia untuk mengembangkan dan memberdayakan diri semakin berhikmat. Dengan hikmat itu dia menghadirkan firman Tuhan yang membangun kehidupan dan memberkati orang-orang di sekitarnya. Hikmat yang dinyatakan dalam perkataan seharusnya telah dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari melalui kemurnian hidup. Jika demikian, sejauh mana kehidupan kita didasari oleh kemurnian hidup sehingga hikmat kita tersebut mempermuliakan Allah?

Refleksi:

Kemurnian diri menjadi salah satu basis utama dari hikmat. Karena dari kemurnian hidup hikmat menjadi pola hidup yang mempermuliakan Allah.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono