Latest Article
Belarasa dengan Mengucap Syukur (Matius 14:13-21)

Belarasa dengan Mengucap Syukur (Matius 14:13-21)

Pengantar
Narasi ini mengisahkan  Yesus menyatakan belarasa-Nya dan umat mengucap syukur dengan mempersembahkan lima roti dan dua ikan. Di dalam Kristus, Allah berbelarasa dan umat memberi respons berupa ucapan syukur. Belarasa adalah tindakan empatik kasih yang bersedia memberikan diri dengan segenap hatinya. Ucapan syukur adalah respons umat yang membalas kasih Allah dengan sukacita. Yesus berbelarasa di tengah-tengah situasi kedukaan yang sedang dialami-Nya. Sebab waktu itu Yohanes Pembaptis telah wafat dengan dipenggal oleh Raja Herodes Antipas. Namun di tengah-tengah kedukaan-Nya Yesus tergerak hati-Nya oleh belas-kasihan saat Ia melihat orang banyak yang terlantar dan membutuhkan pertolongan. Di antara mereka banyak orang-orang sakit namun juga saat itu sedang kelaparan. Matius 14:14 menyatakan perasaan Yesus saat Ia melihat orang banyak, yaitu “tergeraklah hati-Nya oleh belas-kasihan.” Kata “belas-kasihan” berasal dari splagchnizomai menujukkan kepedulian yang dilandasi oleh sikap empatis dengan diwujudkan dalam perilaku untuk memberi pertolongan dan pemulihan (Mat. 9:36; Mat. 15:32; Mark. 6:34). Kekhasan perikop dari Matius 14:13-21 adalah sikap belarasa Yesus terwujud dengan menggandakan makanan yang dibutuhkan melalui respons para murid-Nya yang menyerahkan lima roti dan dua ikan kepada-Nya. Karena itu rumusan tema yang diajukan adalah “Belarasa dengan Ucapan Syukur.”

Dalam kehidupan sehari-hari kita jumpai sikap empatis yang sepihak saja. Karena itu dalam tindakan belarasa yang demikian terdapat pihak subjek dan pihak objek. Pihak subjek berperan sebagai pihak yang melakukan tindakan belarasa untuk menyatakan pertolongan, sedang pihak objek berperan sebagai pihak yang memeroleh bantuan secara pasif. Pola belarasa yang demikian dalam konteks tersebut sering bersifat kurang edukatif. Sebab pihak yang mendapat bantuan, umumnya banyak orang tidak bersedia ambil bagian. Namun tidak demikian dalam narasi Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan. Yesus berbelarasa dan para murid menawarkan untuk memberikan apa yang mereka punya. Mereka memberikan kepada Yesus sebagai ucapan syukur, dan Yesus merespons pula dengan mengucap syukur kepada Allah. Tindakan Yesus dan para murid yang mengucap syukur tersebut membuka ruang bagi karya penciptaan ilahi berupa penggandaan roti dan ikan. Karena itu belarasa yang dipadukan dengan ucapan syukur seharusnya menjadi pola spiritualitas umat dalam menyikapi situasi krisis yang sedang mereka hadapi. Berbagai situasi krisis akan dapat diatasi umat dengan baik, apabila mereka mampu keluar dari gerak sentripetal yang terarah kepada diri sendiri, dan bertindak dalam gerak sentrifugal yang terarah kepada sesama di sekitar.

Refleksi
Perasaan berduka yang sedang bercampur dengan perasaan belarasa kepada sesama tidak mudah terintegrasi pada saat yang sama. Perasaan berduka cenderung larut dalam kesedihan dengan batin yang terluka. Di Matius 14:13 menyatakan bagaimana Yesus yang memilih menyingkir dan mengasingkan diri setelah Dia mendengar berita kematian Yohanes Pembaptis yang telah dipenggal oleh Raja Herodes Antipas. Tindakan Yesus yang menyingkir dan mengasingkan diri ke tempat yang sunyi hendak mengungkapkan perasaan sedih dan dukacita yang mendalam dengan kematian Yohanes Pembaptis. Kedukaan Yesus disebabkan bukan hanya karena Yohanes Pembaptis masih memiliki hubungan kerabat dengan Dia, tetapi juga karena Yohanes Pembaptis memiliki tempat yang khusus dalam pelantikan Yesus sebagai Mesias di Sungai Yordan. Lebih daripada itu kedukaan semakin mendalam karena kematian Yohanes Pembaptis dilakukan dengan keji, yaitu dipenggal kepalanya. Pada pihak lain di tengah-tengah kedukaan yang dialami oleh Yesus, Dia tergerak oleh belas-kasihan saat melihat orang banyak yang tampak terlantar dan sakit. Di Matius 14:14 menyatakan: “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.” Kedukaan Yesus menjadi sirna saat Dia melihat kondisi orang banyak yang membutuhkan pertolongan-Nya.

Mengubah perasaan sedih dan berdukacita menjadi belarasa tidak dapat dilakukan secara otomatis. Perubahan tersebut membutuhkan kapasitas spiritualitas yang sangat luhur. Sebab perasaan sedih dan berdukacita tertuju kepada pergumulan batin dalam dirinya sendiri, namun sikap belarasa adalah sikap batin yang tertuju kepada kepentingan sesama. Perasaan berdukacita adalah sikap batiniah yang tertuju dalam dirinya sehingga cenderung bersikap sentripetal, sedang sikap belarasa senantiasa tertuju kepada sesama sehingga bersikap sentrifugal. Makna gerak sentripetal adalah berpusat pada diri sendiri, sedang gerak sentrifugal adalah bergerak ke lingkup di luar dirinya. Perubahan dari gerak sentripetal ke gerak sentrifugal membutuhkan kapasitas rohani yang mampu mentransendensikan realitas diri ke tingkat rohani dengan nilai-nilai kasih Allah, yaitu belarasa. Karena itu dalam sikap belarasa tersebut Yesus mampu mengubah perasaan duka menjadi perasaan empatis yang mendorong Dia untuk mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan orang-orang di sekitar yang sedang menderita dan sakit.

Belarasa Yesus juga dimotivasi oleh daya tangguh orang-orang banyak yang menanti pertolongan-Nya sampai menjelang malam. Matius 14:15 menyatakan:

“Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Orang banyak tetap menantikan pertolongan Yesus sampai mendekati senja. Tetapi justru para murid yang menjadi panik karena orang banyak tidak segera meninggalkan mereka. Bagi orang banyak tindakan menanti pertolongan Yesus dengan penuh harapan lebih utama sehingga mereka sabar sampai menjelang senja. Tetapi bagi para murid tindakan orang banyak yang menanti dengan penuh pengharapan merupakan suatu gangguan. Para murid terganggu sebab orang banyak tersebut belum memeroleh makanan. Mereka tidak sanggup memikul tanggungjawab untuk menyediakan makanan bagi orang banyak. Itu sebabnya para murid meminta kepada Yesus agar Dia menyuruh orang banyak pergi meninggalkan tempat itu untuk membeli makanan. Di tengah-tengah keengganan para murid untuk peduli terhadap situasi orang banyak itu, Yesus berkata: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan” (Mat. 14:16). Belarasa bukanlah sekadar dorongan perasaan kasihan namun utamanya adalah manifestasi tanggungjawab moril sehingga menghadirkan tindakan pertolongan secara konkret. Tindakan menyuruh pergi orang lain merupakan pekerjaan yang terlalu mudah sebab mengandalkan kekuasaan untuk mengusir orang-orang yang dianggap merepotkan kita. Tetapi tindakan memberi makan kepada orang-orang yang lapar dan membutuhkan pertolongan adalah tindakan tanggungjawab moril yang dilandasi oleh upaya jalan keluar yang kreatif di tengah-tengah situasi keterbatasan diri.

Daya kreatif yang dilakukan Yesus untuk membuat mukjizat didasarkan pada kerelaan dari para murid untuk memberi dari apa yang mereka miliki. Di Matius 4:17 para murid berkata: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Daya kreatif ilahi dimulai dari kesediaan hati umat yang dilandasi oleh kasih yang bersedia memberi. Apabila mereka enggan untuk memberi, maka tidak akan terjadi daya kreatif ilahi berupa karya mukjizat penggandaan roti dan ikan untuk lima ribu orang. Belarasa Allah dan belarasa manusia harus menjadi suatu paduan sinergis yang terwujud dalam realitas kehidupan, barulah akan terjadi karya penyelamatan di tengah-tengah situasi krisis. Betapa sering umat mohon karya kreatif dari Allah yang menyelamatkan, namun mereka enggan untuk mempersembahkan diri sebagai wujud dari sikap belarasa kepada sesamanya. Kita lebih cenderung memiliki orientasi spiritualitas dengan gerak sentripetal tetapi enggan berubah menjadi sentrifugal, yaitu sikap fokus dan cinta diri kepada diri sendiri sehingga enggan berubah menjadi sikap yang peduli kepada sesama. Namun pada saat kita bersedia ambil bagian dalam karya keselamatan Allah dengan mempersembahkan diri, maka dengan belarasa-Nya Allah akan menyatakan karya keselamatan-Nya yang kreatif dalam situasi krisis yang sedang kita hadapi.

Daya kreatif Allah dalam narasi perikop Matius 14:13-21terjadi melalui karya Kristus yang menggandakan roti dan ikan untuk lima ribu orang. Matius 14:19 menyatakan: “Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.” Penggandaan roti dan ikan terjadi melalui lima roti dan dua ikan yang dipersembahkan para murid kepada Yesus. Karya mukjizat Allah diawali melalui persembahan umat-Nya. Dari persembahan para murid berupa roti dan ikan tersebut Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur seraya memecah-mecahkan roti tersebut. Lalu para murid Yesus membagi-bagikan kepada orang banyak, sehingga mereka semua makan sampai kenyang. Dengan demikian penggandaan roti untuk lima ribu orang terjadi karena belarasa Allah yang dilandasi oleh ucapan syukur. Yesus mengucap syukur atas persembahan yang diberikan para murid-Nya. Belarasa yang terintegrasi dengan pengucapan syukur membuka ruang karya kreatif Allah yang memberi kelimpahan bagi umat-Nya. Karena itu setiap umat menerima anugerah dan berkat dari Allah. Di Yesaya 55:1 menyatakan: “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah. Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran.” Belarasa yang dilandasi oleh pengucapan syukur membuka pintu-pintu rahmat ilahi yang semakin lebar sehingga setiap orang yang haus dan lapar memeroleh anugerah keselamatan Allah secara cuma-cuma.

Injil Matius 14:20 melukiskan kelimpahan rahmat Allah tersebut dengan kesaksian: “Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.” Dalam konteks ini terdapat dua dimensi spiritualitas yang hendak diketengahkan, yaitu: “makan sampai kenyang,” dan “potongan-potongan roti yang sisa sebanyak dua belas bakul penuh.” Kelimpahan rahmat Allah mendatangkan kelegaan sehingga setiap umat dapat makan sampai kenyang. Bahkan umat tidak sanggup menerima kelimpahan rahmat Allah tersebut sehingga masih tersisa dua belas bakul penuh. Dengan demikian sisa dua belas bakul bukan suatu “sisa-sisa” yang harus dibuang, tetapi “sisa” yang masih disediakan Allah untuk menjadi saluran berkat bagi umat di masa depan. Makna sisa dua belas bakul menawarkan harapan iman bagi umat Israel. Jumlah dua belas bakul menegaskan pemeliharaan dan penyertaan Allah dengan rahmat-Nya bagi dua belas suku umat Israel. Karena itu kepada “dua belas suku Israel” Allah menyediakan janji rahmat-Nya yang memelihara mereka dengan kelimpahan. Sebab makna “sisa” mengandung penegasan janji Allah bahwa masih tersedia cadangan di masa mendatang. Cadangan pemeliharaan Allah terjadi karena tindakan belarasa-Nya dilandasi oleh ucapan syukur dari umat yang bersedia mempersembahan dirinya.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono